Anda di halaman 1dari 17

JARIMAH MURTAD

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Fiqih Jinayah

Dosen Pengampu : Ilham Sani, M.H.I

OLEH :
NOVI HIDAYAH
NPM : 1810101009

SEKOLAH TINGGI ILMU SYARIAH


MUHAMMADIYAHPRINGSEWU – LAMPUNG
TAHUN AKADEMIK 2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis
telah diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menyelesaikan makalah ini sesuai
waktu yang telah ditentukan.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan dan penulisan makalah ini masih
banyak kekurangan baik dari segi isi maupun bahasa. Untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan
selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca
pada umumnya.

Wassalamu’alikum Wr. Wb.

Pringsewu, Maret 2019


Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang ..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................ 1
C. Tujuan ................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................ 3


A. Pengertian Riddah (Murtad) ................................................. 3
B. Unsur-unsur Jarimah Murtad................................................ 4
C. Dasar Hukum Riddah ........................................................... 7
D. Macam-Macam Murtad ........................................................ 8
E. Hukum untuk Jarimah Riddah .............................................. 10

BAB III PENUTUP .................................................................................. 13


A. Kesimpulan ........................................................................... 13
B. Saran ..................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam itu sebagai jalan yang sempurna dalam kehidupan. Islam sebagai agama
yang sesuai dengan segala zaman, sebagai ibadah, tuntunan, moril, material,
serta berhubunga dengan dunia dan akhirat. Islam tidak mengajarkan hal-hal
yang bertentangan denga fitrah manusia. Islam juga tidak menghambat
jalannya pembangunan manusia, baik di bidang moral, spiritual dan fisik
material. Akan tetapi justru Islam mendorong manusia ke arah kesempurnaan.
Namun dengan bergulirnya waktu, dunia semakin canggih jurtru kerusakan
moral, kerakusan manusia semakin mengakar kuat, kebebasan, keindahan
dunia dan rasio sesatnya yang dijadikan patron dalam hidupnya.

Dengan demikian tak jarang manusia yang lari dari kebenaran agama Islam,
menjadi seorang penghianat terhadap peraturan-peraturan syariat Islam.
Disinilah Islam juga hadir memberikan perhatian serius bagi penghianat baik
laki-laki maupun perempuan. Semua manusia baik warga komunis maupun
kapitalis ataupun yang lainnya, bila ia mengingkari undang-undang negaranya
tentu dituduh sebagai penghianat terhadap negaranya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan riddah?
2. Bagaimana unsur-unsur seseorang melakukan murrtad?
3. Bagaimana hukum dasar seseroang murtad?
4. Apa saja macam-macam riddah?
5. Bagaimana hukuman bagi pelaku riddah?

iv
C. Tujuan
Dalam makalah ini yang menjadi tujuan masalahnya adalah untuk
mengetahui:
1. Pengertian riddah
2. Unsur-unsur riddah
3. Hukum dasar riddah
4. Macam-macam riddah
5. Hukuman bagi pelaku riddah.

v
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Riddah (Murtad)

Riddah dalam arti bahasa adalah‫ه‬ ‫ الرجو ع عن الشئ ا لي غير‬yang artinya


kembali dari sesuatu ke sesuatu yang lain. Ibrahim Unais dan kawan-kawan
dalam kamus Al-Mujam Al-Wasith Jilid I mengemukakan bahwa Murtad

berasal dari kata :‫ معنه وصر فه‬: ‫ رده ردا وردة‬,yang artinya menolak dan
memalingkannya.

Menurut istilah Syara’, pengertian riddah sebagaimana dikemukakan oleh


Wahbah Zuhaili adalah sebagai berikut.

‫وهئ شر عا الر جؤ ع عن د ين االسال م الي الكفر سواء با ا لنية او با لفعل‬


‫المكفر او با لقو ل‬
“Riddah menurut syara’ adalah kembali dari agama islam kepada kekafiran,
baik dengan niat, perbuatan yang menyebabkan kekhafiran, atau dengan
ucapan”
Pengertian yang sama dikemukakan juga oleh Abdul Qadir Audah sebagai
berikut.

‫ الرجوع عن االء سال م او قطع االء سالم‬.....‫الر دة شر عا‬


“Riddah adalah kembali (ke luar) dari agama islam atau memutuskan (ke
luar) dari agama islam.
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapatlah dipahami bahwa
orang yang murtad adalah orang yang ke luar dari agama islam dan kembali
kepada kekafiran.
Riddah merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah yang diancam dengan
hukuman di akhirat,yaitu dimasukkan ke neraka selama-lamanya. Hal ini
dijelaskan oleh Allah dalam Surah Al-Baqarah 217 :

‫ومن يرتدد منكم عن دينه فيمت وهو كافر فأولئك حبطت أعمالهم في الدنيا‬
) 217: ‫واآلخرة وأولئك أصحاب النار هم فيها خالدون ( البقرة‬

vi
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati
dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di
akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
)QS. Al-Baqarah :217)

‫من كفر باهلل من بعد إيمانه إال من أكره وقلبه مطمئن باإليمان ولكن من شرح‬
‫بالكفر صدرا فعليهم غضب من هللا ولهم عذاب عظيم‬
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat
kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap
tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang
melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya
dan baginya adzab yang besar.”(QS. An-Nahl:106)
Di samping al-Qur’an, Rasulullah sawmenjelaskan hukuman untuk orang
murtad ini di dalam sebuah hadits :

: ‫ قال ر سو ل هللا صلئ هللا عليه و سلم‬: ‫و عن ابن عبا س ر ضي هللا عنه قال‬
)‫من بدل د ينه فا قتلوه (رواه البخاري‬
Dari Ibn Abbas ra.Ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Barang siapa
menukar agamanya maka bunuhlah dia.” (Hadits riwayat Bukhari)
Dari ayat dan hadits tersebut jelaslah bahwa murtad termasuk salah satu jenis
tindak pidana yang diancam dengan hukuman mati.

B. Unsur-unsur Jarimah Murtad


Dari definisi tersebut,dapat diketahui bahwa unsur-unsur jarimah riddah itu
ada dua macam,yaitu :
1. Kembali (ke Luar) dari Islam
Unsur yang pertama dari jarimah riddah adalah keluar dari islam.
Pengertian ke luar dari islam itu adalah meninggalkan agama islam itu
setelah mempercayai dan meyakininya. Ke luar dari islam bisa terjadi
dengan salah satu dari tiga cara, yaitu :
a. Dengan perbuatan atau menolak perbuatan;
Keluar dari islam dengan perbuatan terjadi apabila seseorang
melakukan perbuatan yang diharamkan oleh islam dengan

vii
menganggapnya boleh atau tidak haram, baik ia melakukannya dengan
sengaja atau melecehkan islam, menganggap ringan atau menunjukkan
kesombongan. Contohnya seperti sujud kepada berhala, matahari,
bulan, atau binatang, melemparkan mushaf al-Qur’an atau kitab hadis
ke tempat yang kotoratau menginjak-injaknyaatau tidak mempercayai
ajaran yang dibawa oleh al-Quran.Termasuk juga dalam kelompok ini
orang yang melakukan perbuatan haramseperti; zina,pencurian,minum
minuman keras (khamr), dan membunuh dengan keyakinan bahwa
perbuatan-perbuatan tersebut hukumnya halal.

Adapun yang dimaksud dengan menolak melakukan perbuatan adalah


keenggangan seseorang untuk melakukan perbuatan yang diwajibkan
oleh agama (islam), dengan diiringi keyakinan bahwa perbuatan
tersebut tidak wajib. Contohnya seperti enggan melaksanakan
salat,zakat,puasa dan haji.Karena merasa semuanya itu tidak wajib.

b. Dengan ucapan (perkataan);


Keluar dari islam juga bisa terjadi dengan keluarnya ucapan dari mulut
seseorang yang berisi kekafiran. Contohnya seperti pernyataannya
bahwa Allah punya anak,mengaku menjadi nabi, mempercayai
pengakuan seseorang sebagai nabi,mengingkari nabi,malaikat dan lain-
lain.

c. Dengan iktikad atau keyakinan


Disamping itu, ke luar islam juga bisa terjadi dengan i’tikad atau
keyakinan yang tidak sesuai dengan akidah islam. Contohnya seperti
seseorang yang meyakini langgengnya alam, atau keyakinan bahwa
Allah itu makhluk, atau keyakinan bahwa manusia menyatu dengan
Allah, atau keyakinan bahwa Alquran itu bukan dari Allah, atau bahwa
Nabi Muhammad itu bohong, Ali sebagai nabi, atau bahkan

viii
menganggapnya sebagai tuhan dan lain-lain yang bertentangan dengan
al-Quran dan sunah rasul.

Adapun keyakinan semata-mata tidak menyebabkan seseorang menjadi


murtad (kafir), sebelum diwujudkan dalam bentuk ucapan atau perbuatan.
Hal ini berdasarkan hadis yang dirawayatkan empat imam ahli hadis dari
Abu Hurairah bahwa rasulullah saw, bersabda :

‫ان هللا تعا لي تجا وز المتي عما حد ثت به انفسها ما لم تتكلم به او تعمل‬


)‫به (رواه االربعة عن ابي هر يره‬
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengampuni umatku dari apa-apa yang
terlintas dalam hatinya, selama belum diucapkan atau dikerjakan”. (hadis
riwayat yang empat dari Abu Hurairah)
Dengan demikian seseorang yang baru beri’tikad dalam hatinya dengan
i’tikad yang bertentangan dengan islam belum dianggap ke luar dari islam
dan di dunia secara lahiriyah ia tetap dianggap sebagai muslim dan tidak
dikenakan hukuman.

Adapun di akhirat ketentuan dan urusannya diserahkan kepada Allah


SWT. Apabila i’tikadnya itu telah diwujudkan dan dibuktikan dengan
ucapan atau perbuatan maka ia sudah termasuk murtad. Seseorang
dianggap murtad apabila ia berakal sehat. Dengan demikian,orang yang
tidak berakal sehat pernyataan murtadnya tidak sah, seperti orang gila,
orang dalam keadaan tidur, orang yang sakit ingatan,mabuk kareana
barang yang mubah,atau anak kecil yang belum tamyiz yang akalnya
belum sempurna.

Menurut fuqaha Syafi’iyah,murtadnya anak kecil dan islamnya hukumnya


tidak sah. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Zufar dari
pengikut mazhab Hanafi,Zhahiriyahdan Syi’ah Zaidiyah. Meskipun
demikian, kelompok Syafi’iyah tetap mengakui keislaman anak kecil,
karena ia mengakuti kedua orang tuanya atau salah satunya yang masuk
islam.

ix
2. Niat yang melawan hukum
Untuk terwujudnya jarimah riddah disyaratkan bahwa pelaku perbuatan itu
sengaja melakukan perbuatan atau ucapan yang menunjukkan kepada
kekafiran, padahal ia tahu dan sadar bahwa perbuatan atau ucapannya itu
berisi kekafiran. Dengan demikian, apabila seseorang melakukan
perbuatan yang mengakibatkan kekafiran tetapi ia tidak mengetahui bahwa
perbuatan tersebut menunjukkan kekafiran, maka ia tidak termasuk kafir
dan murtad (Akhmad Wardi Muslich, 2015)

C. Dasar Hukum Riddah


Riddah merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah yang diancam dengan
hukuman di akhirat,yaitu dimasukkan ke neraka selama-lamanya. Hal ini
dijelaskan oleh Allah dalam Surah Al-Baqarah 217 :
َ ‫ر فَأ ُ ْو َٰ َٰٓلَئِ َك َح ِب‬ٞ ِ‫َو َمن يَ ۡرتَد ِۡد ِمن ُك ۡم َعن دِينِ ِهۦ فَيَ ُم ۡت َو ُه َو َكاف‬
‫ط ۡت أ َ ۡع َٰ َملُ ُه ۡم‬
َٰٓ
٢١٧ َ‫ار ُه ۡم فِي َها َٰ َخ ِلدُون‬ ُ ‫فِي ٱلد ُّۡن َيا َو ۡٱۡل َٰٓ ِخ َرةِ َوأ ُ ْو َٰلَئِ َك أَصۡ َٰ َح‬
ِ َّ‫ب ٱلن‬
“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati
dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di
akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah :217)

‫ٱإلي َٰ َم ِن َو َٰلَ ِكن‬ ۢ


ِ ۡ ِ‫ٱّللِ ِم ۢن بَعۡ ِد إِي َٰ َمنِ ِ َٰٓهۦ إِ َّال َم ۡن أ ُ ۡك ِرهَ َوقَ ۡلبُهۥُ ُم ۡط َمئِ ُّن ب‬
َّ ِ‫َمن َكفَ َر ب‬
‫يم‬ٞ ‫اب َع ِظ‬ ٌ َ ‫عذ‬ َ ‫ٱّللِ َولَ ُه ۡم‬ َّ َ‫ب ِمن‬ٞ ‫ض‬ َ ‫ص ۡد ٗرا فَعَلَ ۡي ِه ۡم َغ‬ َ ‫َّمن ش ََر َح بِ ۡٱل ُك ۡف ِر‬
١٠٦
“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat
kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap
tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang
melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya
dan baginya adzab yang besar. (QS. An-Nahl:106)

Di samping Al-qur’an, rasulullah saw.menjelaskan hukuman untuk orang


murtad ini di dalam sebuah hadits :

x
Dari Ibn Abbas ra. Ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Barang siapa
menukar agamanya maka bunuhlah dia.” (Hadits riwayat Bukhari)
Dari ayat dan hadits tersebut jelaslah bahwa murtad termasuk salah satu jenis
tindak pidana yang diancam dengan hukuman mati.

D. Macam-macam Murtad
Yang dimaksud dengan keluar dari Islam disebutkan oleh para ulama ada tiga
macam:
1. Murtad dengan perbuatan atau meninggalkan perbuatan.
Keluar dari islam dengan perbuatan terjadi apabila seseorang melakukan
perbuatan yang diharamkan oleh islam dengan menganggapnya boleh
atau tidak haram, baik ia melakukannya dengan sengaja atau melecehkan
islam, menganggap ringan atau menunjukkan kesombongan. Contohnya
seperti sujud kepada berhala, matahari, bulan, atau binatang,
melemparkan mushaf alqur’an atau kitab hadis ke tempat yang kotor,atau
menginjak-injaknya,atau tidak mempercayai ajaran yang dibawa oleh
alquran. Termasuk juga dalam kelompok ini orang yang melakukan
perbuatan haram,seperti zina,pencurian,minum minuman keras (khamr),
dan membunuh dengan keyakinan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut
hukumnya halal.

Adapun yang dimaksud dengan menolak melakukan perbuatan adalah


keenggangan seseorang untuk melakukan perbuatan yang diwajibkan oleh
agama (islam), dengan diiringi keyakinan bahwa perbuatan tersebut tidak
wajib. Contohnya seperti enggan melaksanakan salat, zakat, puasa, atau
haji, karena merasa semuanya itu tidak wajib.

xi
2. Murtad dengan Ucapan
Keluar dari islam juga bisa terjadi dengan keluarnya ucapan dari mulut
seseorang yang berisi kekafiran. Contohnya seperti pernyataannya bahwa
Allah punya anak, mengaku menjadi nabi, mempercayai pengakuan
seseorang sebagai nabi, mengingkari nabi, malaikat, dan lain-lain.

3. Murtad dengan Iktikad atau Keyakinan


Keluar dari islam bisa terjadi dengan iktikad atau keyakinan yang tidak
sesuai dengan akidah islam. Contohnya seperti seseorang yang meyakini
langgengnya alam, atau keyakinan bahwa Allah itu makhluk, atau
keyakinan bahwa manusia menyatu dengan Allah, atau keyakinan bahwa
Alquran itu bukan dari Allah, atau bahwa Nabi Muhammad itu bohong,
Ali sebagai nabi, atau bahkan menganggapnya sebagai tuhan, dan lain-
lain yang bertentangan dengan Alquran dan sunah rasul.

Adapun keyakinan semata-mata tidak menyebabkan seseorang menjadi


murtad (kafir), sebelum diwujudkan dalam bentuk ucapan atau perbuatan.
Hal ini berdasarkan hadis yang dirawayatkan empat imam ahli hadis dari
Abu Hurairah bahwa rasulullah shalallahualaihi wassalam, bersabda :
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengampuni umatku dari apa-apa yang
terlintas dalam hatinya, selama belum diucapkan atau dikerjakan.”
(hadis riwayat yang empat dari Abu Hurairah)
Dengan demikian seseorang yang baru beriktikad dalam hatinya dengan
iktikad yang bertentangan dengan islam, belum dianggap ke luar dari
islam dan di dunia secara lahiriyah ia tetap dianggap sebagai muslim dan
tidak dikenakan hukuman. Adapun di akhirat ketentuan dan urusannya
diserahkan kepada Allah SWT. Apabila iktikadnya itu telah diwujudkan
dan dibuktikan dengan ucapan atau perbuatan maka ia sudah termasuk
murtad.

xii
Seseorang dianggap murtad apabila ia berakal sehat. Dengan demikian,
orang yang tidak berakal pernyataan murtadnya tidak sah, seperti orang
gila,tidur,sakit ingatan,mabuk kareana barang yang mubah,atau anak kecil
yang belum tamyiz, yang akalnya belum sempurna.

Menurut fuqaha Syafi’iyah,murtadnya anak kecil dan islamnya


hukumnya tidak sah. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Zufar
dari pengikut mazhab Hanafi,Zhahiriyah,dan Syi’ah Zaidiyah. Meskipun
demikian,kelompok Syafi’iyah tetap mengakui keislaman anak
kecil,karena ia mengakuti kedua orang tuanya atau salah satunya yang
masuk islam.

E. Hukuman untuk Jarimah Riddah


Didalam jarimah riddah ada tiga macam bentuk hukumannya, yaitu pokok,
pengganti dan tambahan.
1. Hukuman Pokok
Hukuman pokok untuk jarimah riddah adalah hukuman mati dan statusnya
sebagai hukuman had. Hukuman mati ini adalah hukuman yang berlaku
umum untuk setiap orang yang murtad baik laki-laki maupun perempuan,
tua maupun muda. Akan tetapi, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa
perempuan tidak dihukum mati karena murtad, melainkan dipaksa kembali
kepada islam dengan jalan ditahan dan kemudian dikeluarkan setiap hari
untuk diminta bertobat dan ditawari untuk kembali ke dalam islam.

Apabila ia menyatakan islam maka ia dibebaskan.Akan tetapi, apabila ia


tidak mau menyatakan islam maka ia akan tetap ditahan (dipenjara)
sampai ia mau menyatakan islam atau sampai ia meninggal dunia.
Sedangkan para ulama lain tidak membedakan antara laki-laki dan
perempuan dalam penerapan hukuman bagi orang yang murtad.

xiii
Menurut ketentuan yang berlaku, orang yang murtad tidak dapat
dikenakan hukuman mati, kecuali setelah ia diminta untuk bertobat.
Apabila setelah ditawari untuk bertobat ia tidak mau maka barulah
hukuman mati dilaksanakan. Menurut sebagian fuqaha penawaran untuk
bertobat ini hukumnya wajib.

Adapun cara tobat adalah dengan mengucapkan dua kalimat


syahadatdisertai dengan pengakuan-pengakuan dari orang yang murtad
terhadap apa yang diingkarinya dan melepaskan diri dari setiap agama dan
keyakinan yang menyimpang dari agama Islam. Seseorang yang mengakui
dan mempercayai adanya dua Tuhan atau mengingkari kerasulan
Muhammadtobatnya cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Apabila murtadnya karena mengingkari sesuatu yang lain, seperti
pernyataan bahwa Muhammad itu hanya diutus untuk orang atau bangsa
arab sajaatau ia mengingkari suatu kewajiban atau larangan maka tobatnya
disamping mengucapkan dua kalimat syahadatjuga harus disertai dengan
pernyataan pengakuan terhadap substansi yang diingkarinya.

Sebagai akhir dari tobatnya itu, apabila tobatnya diterima maka hukuman
mati menjadi terhapus dan statusnya kembali sebagai orang yang dijamin
keselamatannya. Apabila setelah itu ada orang lain yang membunuhnya
maka pelaku (pembunuh) harus diqishash, karena ia membunuh orang
yang memiliki jaminan keselamatan

2. Hukuman Pengganti
Hukuman pengganti untuk jarimah riddah berlaku dalam dua keadaan
sebagai berikut:
a. Apabila hukuman pokok gugur karena tobat maka hakim
menggantinya dengan hukuman ta’zir yang sesuai dengan keadaan
pelaku tersebut,seperti hukuman jilid (cambuk), penjara atau denda
atau cukup dengan dipermalukan (taubikh).

xiv
b. Apabila hukuman pokok gugur karena syubhat, seperti pandangan
Imam Abu Hanifah yang menggugurkan hukuman mati bagi pelaku
wanita dan anak-anak maka dalam kondisi ini pelaku perbuatan itu
(wanita dan anak-anak) dipenjara dengan masa hukuman yang tidak
terbatas dan keduanya dipaksa untuk kembali ke agama islam.

3. Hukuman Tambahan
Hukuman tambahan yang dikenakan kepada orang murtad ada dua macam,
yaitu:
a. Penyitaan atau Perampasan Harta
Menurut Imam Malik, Imam Syafi’Idan Imam Ahmad, apabila orang
murtad meninggal atau dibunuh maka hartanya menjadi milik bersama
dan tidak boleh diwarisi oleh siapa pun atau dengan kata lain harta
tersebut harus disita oleh Negara.

b. Berkurangnya Kecakapan Untuk Melakukan Tasarruf


Riddah tidak berpengaruh terhadap kecakapan untuk memiliki sesuatu
dengan cara apapun kecuali warisan, tetapi ia berpengaruh terhadap
kecakapan untuk men-tasarruf-kan hartanya, baik harta tersebut
diperoleh sebelum murtad ataupun sesudahnya. Dengan demkian,
tasarruf orang murtadseperti menjual barang, tidak nafidz melainkan
mauquf (ditangguhkan keabsahannya). Apabila ia kembali ke islam
maka tasarruf-nya itu hukumnya sah dan dapat dilangsungkandan
apabila ia mati dalam keadaan murtad maka tasarruf-nya hukumnya
batal.

xv
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Riddah dalam arti bahasa adalah‫ه‬ ‫ الرجو ع عن الشئ ا لي غير‬yang artinya


kembali dari sesuatu ke sesuatu yang lain. Menurut istilah Syara’, pengertian
riddah adalah kembali dari agama islam kepada kekafiran, baik dengan niat,
perbuatan yang menyebabkan kekhafiran, atau dengan ucapan.

Riddah merupakan perbuatan kufur terburuk dan paling berat hukumannya


serta melebur pahala lama, jika terbawa sampai meninggal. Perbuatan tersebut
dinamai riddah, sedangkan pelakunya dinamai murtad atau orang yang keluar
dari islam.

B. Saran
Sebagai mahasiswa perguruan tinggi Agama Islam, maka sepantasnyalah kita
menggali lebih dalam lagi tentang berbagai ilmu pengetahuan tentang agama
dan tidak pernah merasa cukup apalagi puas dengan hasil yang diperoleh, juga
tidak berhenti hanya setelah berhasil menggali, tapi berusaha
mendakwahkannya dan membimbing umat ke arah kemajuan dan kebenaran
hakiki. Sebab, masa kini adalah masa dimana umat Islam mengalami
kemunduran di bidang ilmu pengetahuan, bahkan umat Islam sendiri
mengalami pengikisan keilmuan tentang agama mereka sendiri, dan parahnya
lagi kemerosotan tersebut diindikasi sudah merambat ke berbagai sisi
kehidupan umat Islam. Hal ini dapat dibuktikan dengan kemerosotan akhlak,
penurunan tensi kegiatan-kegiatan keagamaan di berbagai tempat, beralih
fungsinya tujuan ibadah menjadi tujuan duniawi, dan sebagainya. Maka kita
menjadi tonggak yang harusnya paling kuat dalam menahan arus kemunduran
umat ini. Tentu tidak bisa berdiam diri dengan berkutat dengan
ketidakpedulian terhadap kondisi umat.

xvi
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zainuddin, Hukum Pidana Islam. Jakarta: Sinar Grafika, 2009.

Hakim, Rahmat, Hukum Pidana Islam (fiqih Jiayah). Bandung: Pustaka Setia,
2010.

Rasjid, Sulaiman, Fikih Islam. Bandung: Sinar baru Alginsindo, 2009.

Sabiq, Sayyid, Fiqih Sunnah. Jakarta selatan: Darul Fath, 2014.

Zuhaili, Wahbah, Fiqih Imam Syafi’i. Jakarta: Al Mahira, 2010.

xvii