Anda di halaman 1dari 14

REVIEW JURNAL : PENANDAAN DIETIL KARBAMAZIN (DEC) DENGAN

RADIONUKLIDA TEKNESIUM-99m SEBAGAI SEDIAAN DIAGNOSTIK UNTUK


DETEKSI DINI FILARIASIS

Diajukan untuk memenuhi tugas Teori Sintesis dan Radiofarmaka pada Fakultas Farmasi
Universitas Padjadjaran

RANIA AISHA NURALISA 260110170128


FAZRINA PRATIWI 260110170131
NADIRA HASNA PUTRI GUNAWAN 260110170142

SHIFT C 2017

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2019
A. Identitas jurnal

Judul Penandaan Dietil Karbamazin (DEC) dengan Radionuklida


Teknesium-99m sebagai Sediaan Diagnostik untuk
Deteksi Dini FIlariasis

Jurnal Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and


Technolgy

Volume dan Vol 4 No 1 : 36-47


Halaman

Tahun 2015

Penulis Aang Hanafiah ; Nurlaila Z; Nanny Kartini Oekar; Misyetti

B. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini lebih difokuskan pada penetapan kondisi optimasi pembuatan
senyawa bertanda 99mTc-Dietilkarbamazin (99mTc-DEC) dengan mempelajari beberapa
parameter reaksi antara dietil-karbamazin (DEC) yang telah dikenal secara luas sebagai
obat anti-filariasis dengan radionuklida teknesium99m (99mTc) yang diperoleh dari hasil
luruh radioisotop Molibdenum-99 (99Mo).

C. Latar belakang
Filariasis atau lebih dikenal dengan penyakit kaki gajah (elephantiasis), termasuk
salah satu jenis penyakit yang mendapat perhatian khusus di dunia kesehatan karena
akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini berdampak signifikan, terutama di lingkungan
masyarakat yang tengah didera permasalahan ekonomi dan di negara berkembang daerah
tropis maupun sub-tropis.
Deteksi filaria bergantung dengan keberadaan cacing stadium mikrofilaria dalam
darah tepi, atau dikenal dengan istilah periodisitas. Uniknya, periodisitas filaria
ditemukan di antara pukul 10 malam hingga pukul 2 pagi (nocturnal). Hal ini dikarenakan
cacing tersebut berada pada sistem limfatik pada siang hari, dan baru bermigrasi ke
saluran darah pada malam hari. Cacing ini hidup dan berkembang biak dalam darah dan
jaringan penderita. sehingga pengambilan sampel darahpun harus dilakukan malam hari.
Karena itulah deteksi dini penyakit ini agak sulit ditegakkan.Telah teridentifikasi bahwa
penyebab infeksi filariasis yang paling banyak ditemukan di Indonesia yaitu cacing
gelang genus filaria, Wuchereria bancrofti.
Penyakit infeksi atau penyakit menular yang sulit diberantas diakibatkan oleh
terlambatnya penyakit tersebut terdiagnosis atau terdeteksi. Demikian pula halnya dengan
penyakit filariasis, masyarakat tidak sadar bahwa mereka telah terinfeksi cacing filaria.
Karena itulah ketersediaan perangkat diagnosis untuk metode deteksi dini sangat
diperlukan. Teknik nuklir kedokteran dengan menggunakan radiofarmaka, memberi
harapan untuk dapat dijadikan pilihan alternatif memecahkan permasalahan ini.
Dihipotesiskan bahwa DEC-sitrat yang saat ini digunakan sebagai obat filariasis, secara
kimia memungkinkan untuk ditandai dengan nuklida teknesium-99m. Radiofarmaka
99mTc-DEC diperkirakan akan di-uptake oleh mikrofilaria di dalam tubuh orang
terinfeksi. Dengan demikian mikrofilaria yang berikatan dengan 99mTc-DEC ini dapat
dilacak keberadaannya, dan diharapkan deteksi dini dapat ditegakkan.

D. Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan beberapa tahap metode sebagai berikut :
1. Optimasi kondisi penandaan ​Dietilkarbamazin (​ ​DEC)​
Proses penandaan dilakukan dengan metode langsung dan tidak langsung
menggunakan DTPA dan glokoheptonat.
Analisis keberhasilan penandaan, menggunakan proses kromatografi untuk
​ Tc-DEC dengan pengotor yang mungkin terbentuk seperti
memisahkan 99m​
99m​
​ TC-glukoheptonat
Tc-Sitrat,​99m​Tc-DTPA, 99m​
● Kromatografi kertas
Fase diam : kertas Whatman-31ET (1 x 10 cm)
Fase gerak : asetonitril 50%, ITLC-SG/aseton TLC-SG/aseton,
TLC-SG/campuran metanol dan amonia dengan perbandingan
100 : 1,5 dan ITLC-SA/air
● Kromatografi lapis tipis

Metode Proses Penandaan Langsung​, jumlah DEC-sitrat bervariasi 2-6 mg


1. DEC dilarutkan dalam aquadest sebanyak 300 μL lalu tambahkan SnCl2.2H2O
padat, larutkan sempurna
​ Tc-perteknetat, inkubasi pada suku kamar selama 10
2. Ukur pH, tambahkan 99m​
menit
3. Efisiensi penandaan dilakukan dengan KLT

Metode Proses Penandaan Tidak Langsung


1. DEC-sitrat diubah menjadi basanya dengan NaOH, lalu direaksikan dengan
co-lgand​ DTPA atau glukoheptonat
​ Tc-perteknetat.
2. Tambahkan larutan SnCl2.2H2O dan 99m​
3. Inkubasi dalam penangas air mendidih 5-20 menit

Berikut beberapa pengaruh atau variable yang dilakukan dalam metode


A. Jumlah reduktor SnCl2.2H2O
Penandaan dilakukan dengan jumlah DEC sesuai percobaan metode langsung
dengan jumlah SnCl2.2H2O divariasikan dari 0, 50,75, 100,125, 150, 200 hingga 250 μg.
Hasil yang baik jika efisiensi penandaan dan kemurnian radiokimia lebih besar dari 90%.

B. pH
Pada proses penandaan langsung pH yang diukur sejumlah 4, 5, 6 dan 7. Efisiensi
penandaan dilakukan dengan metode KLT

​ Tc-perteknetat
C. Volume larutan 99m​
​ Tc-perteknetat yang digunakan divariasikan mulai dari 1, 2, 3 dan 4 mL.
Larutan 99m​
Efisisensi penandaan yang diperoleh dibandingkan untuk mengetahui korelasi antara
jumlah volume dengan hasil/efisiensi penandaan.

2. Uji stabilitas sediaan


Kestabilan sediaan ditentukan berdasarkan kemurnian radiokimia setelah penambahan
99m​
Tc-perteknetat

E. Hasil dan pembahasan


​ Tc ditemukan tahun 1938 oleh Emilio Segre. Radionuklisda
Radionuklida 99m​
​ Mo. Radioisotop 99m Tc
tersebut didapatkan dari peluruhan radionuklida induk yaitu 99​
adalah senyawa yang memiliki waktu paruh yang cukup pendek yaitu selama 6 jam. 99m
Tc adalah radioisotop yang bersifat metastabil dan meluruh menjadi 99 Tc melalui proses
isomeric transition (Awaludin, 2011).
99m​
Tc hanya memancarkan sinar gamma, sinar gamma yang dipancarkan
mempunyai energi sebesar 140,5 keV. Energi ini sangat cocok untuk radiodiagnostik
karena tidak memberikan dampak buruk yang terlalu besar namun cukup kuat untuk
menembus jaringan dan dapat ditangkap dengan mudah oleh detektor yang berada di luar
tubuh (Awaludin, 2011). Sinar gamma muncul dari inti atom yang tidak stabil karena
atom tersebut memiliki energi yang tidak sesuai dengan kondisi dasar nya. Peluruhan
sinar gamma didapatkan karena atom dalam kondisi terksitasi. Peluruhan ini hanya
mengurangi energi tanpa mengubah susunan inti.
​ Tc dapat dibuat dengan 98​
Prototipe generator 99m​ ​ Mo alam hasil iradiasi neutron.
​ ​Mo, hal ini biasa juga
​ Mo menangkap sebuah neutron maka akan menjadi 99​
Apabila 98​
disebut dengan iradiasi neutron. Iradiasi neutron dilakukan didalam reaktor nuklir.
Mekanisme iradiasi neutron adalah penangkapan neutron oleh inti dari elemen yang stabil
​ Mo mempunyai waktu paruh 65,94
yang akan berubah menjadi sebuah inti radioaktif. 99​
​ Mo meluruh menjadi 99m​
jam. 99​ ​ Tc sebesar 87,5% dan sisanya sebesar 12,5% merupakan
99​
Tc. ​ Mo meluruh menjadi 99m​
Ketika 99​ ​ Tc akan terjadi peluruhan beta. 99m​
​ Tc akan
​ Tc dan memancarkan sinar gamma. Penggunaan 99m​
meluruh menjadi 99​ ​ Tc harus dalam
​ Tc (Solikha ​et al,​
​ Tc akan meluruh menjadi 99​
keaadaan fresh karena dikhawatirkan 99m​
2016)..

​ Tc dengan 99​
Beberapa metode pemisahan 99m​ ​ Mo yaitu kromatografi kolom,
kromatografi ekstraksi, ekstraksi pelarut, presipitasi, sublimasi, termokromatografi,
membrane, dan elektrokimia.
Generator radioisotop yang ideal harus memenuhi beberapa karakteristik seperti
desain sederhana, mudah digunakan, dapat menghasilkan ​yield ​radioisotope tinggi dan
memenuhi persyaratan. Contoh generator yang dipakai :
Salah satu metode yang sering dipakai adalah kromatografi kolom. Faktor
kendali utama yang perlu dipenuhi yaitu ​yield 99m​
​ Tc. ​Yield 99​
​ Mo/​99m​Tc merupakan
​ Tc dalam eluat dan 99m​
perbandingan aktivitas 99m​ ​ Tc secara teoritis dalam kolom generator.
Adsorben yang dipakai yaitu polimer Zirkonium-TEOS-Metanol karena akan
menghasilkan ​yield ​99m​Tc sebesar 96,23% pada penelitian menurut jurnal. Elusi dilakukan
dengan larutan NaOCl, larutan NaOCl ini merupakan oksidator yang dapat memutuskan
​ Tc
ikatan Mo dengan polimer zirconium. Cairan salin digunakan untuk mengeluarkan 99m​
dari kolom alumunium (Solikha ​et al, 2​ 016).
​ Tc dapat digambarkan secara singkat sebagai berikut
Proses pembentukan 99m​
99​
Mo diletakkan dalam sebuah generator lalu dialirkan oleh cairan salin sehingga
99m​
​ Mo tetap pada kolom alumina. Untuk
Tc dapat keluar dari kolom sedangkan 99​
​ Tc
pemisahan dengan ekstraksi pelarut dapat digunakan pelarut yang dapat menarik 99m​
seperti metil etil keton, aseton, dan piridin. Untuk ekstraksi menggunakan metil etil keton
​ Tc dari larutan 99​
(MEK) mengambil 99m​ ​ Mo dalam air. Namun, perlu dipisahkan terlebih
​ Tc dari larutan MEK dengan cara menguapkannya dan dilarutkan dengan salin.
dahulu 99m​
​ Tc dapat dipisahkan. Namun pemisahan 99m​
Sehingga 99m​ ​ Tc dengan larutan MEK jarang
digunakan karena MEK dikhawatirkan dapat memberikan dampak negatif (Awaludin,
20111).
Pada penelitian ini bukan hanya variasi dari bentuk Senyawa DEC yang dikaji,
​ Tc dengan
Cara penandaan secara langsung dan tidak langsung dengan mereakasi kan 99m​
Co ligand DTPA dan Glukoheptonat pun dikaji.
Proses penandaan diperkirakan melalui alur berikut :
1. 99m​
Tc(VII)-perteknetat + SnCl​2 (Reduktor) +Co-Ligan yang sesuai ​
99m​
​ Tc)+ 99m​
Tc-Tereduksi (Sebagai inti 99m​ ​ Tc(VII)-bebas + 99m​
​ Tc-co-Ligand
2. 99m​
Tc-Tereduksi +DEC​ ​ 99m​
​ Tc-DEC + 99m​
​ Tc-Tereduksi bebas

Dari alur reaksi diperkiran bahwa ada pengotor radiokimia berupa


99m​
​ Tc –co-Ligan yang dapat
Tc-Tereduksi bebas,​99m​Tc-Perteknetat bebas, dan 99m​
dipisahkan dengan metode kromatografi.
Teknesium merupakan kelompok logam transisi yang memiliki nomor atom 43 .
Teknesium mempunyai beberapa Oxidation dari +1 hingga + 7, dimana hal tersebut
adalah parameter dari penentuan senyawa-senyawa komplek yang akan terbentuk.
Teknesium memiliki bilangan koordinasi yang cukup beragam mulai dari 4 hingga 7,
sehingga dapat terbentuk Struktur kompleks yang berbeda dengan muatan yang bervariasi
yaitu netral, -1 , dan + 1. Oleh karena itu berbagai jenis ligan dan juga beberapa senyawa
bioaktif dapat berikatan dengan teknesium (Awaludin, 2011).
​ Tc-Dec, 99m​
Pada Struktur molekul 99m​ ​ Tc menjadi inti kompleks khelat yang
berikatan pada gugus sitrat dari molekul DEC. Kondisi dari penandaan harus optimal, jika
​ Tc dengan gugus
kondisi tidak optimal dapat menyebabkan pemutusan ikatan antara 99m​
sitrat pada DEC. Ikatan yang terputus dapat menyebabkan kesalahan diagnosis karena
99m​
Tc-DEC tidak dapat berinteraksi dan berikatan dengan cacing filaria. Jika tingkat
​ Tc-DEC tidak kurang dari 90% maka proses penandaan untuk
kemurnian dari 99m​
diagnosis filariasi dapat dinyatakan berhasil. 99m Tc-DEC Bersifat spesifik terhadap
cacing filaria dimana DEC akan berikatan dengan membran mikrofilia dari cacing filaria.
Penentuan kemurniaan dalam percobaan ini didasari oleh timbunan aktivitas
yang terdapat dari daerah Rf pada sistem kromatografi, dengan aseton kering sebagai fase
gerak dan TLC-SG yang berperan sebagai fase diam. Hasil penandaan dengan perubahan
berbagai parameter ditunjukan pada Tabel 1.
Pada tabel 1 99m Teknesium di tandai dengan DEC -sitrat dengan formula yang
berbeda-beda, dari setiap formula tersebut diuji kemurnian dari senyawa 99m Tc dengan
metode kromatografi. Formula yang terdiri dari DEC-Sitrat memiliki efisiensi penandaan
yang paling baik yaitu 76,21 - (95,07 , 2,13%) dibandingkan 3 formula lainnya dimana
pada formula DEC Sitrat + DTPA memiliki efisiensi penandaan 66,12 %, Formula DEC
(base )+ Non Sitrat memiliki efisiensi penandaan sebesar 4,5 % pada suhu ruangan dan
9,9 % pada air mendidih. Formula DEC + GHA memiliki efisiensi penambahan 38,16 %
pada suhu ruangan dan 72,10 % pada air mendidih. Dapat disimpulkan bahwa Efisiensi
penandaan pada 99Tc- DEC menjadi efisien bila formula ditambahkan sitrat,
penambahan dari co ligan berupa DTPA atau GHA tidak memberikan dampak yang
signifikan untuk menaikan efisiensi penandaan. DTPA diproduksi secara komersial
sebagai pentasodium atau garam kalsium dengan adanya jumlah yang cocok dari
stannous chloride untuk pengurangan ditambahkan technicium. Adapun penambahan
suhu dalam proses penadaan dapat meningkatkan tingkat efisiensi yang cukup tinggi.
Oleh karena itu formula 1 memiliki efisiensi yang paling baik dan memenuhi syarat dari
United State Pharmacopeia yaitu memiliki efisiensi penandaan tidak kurang dari 90 %.
Menurunkan efisiensi dari penanda dan juga kemurnian senyawa dapat disebabkan oleh
ketidaksesuaian pH, Formula, Suhu dan adanya pengotor pada senyawa tersebut.
Secara teoritis, dalam penandaan senyawa dengan suatu radionuklida, volume
dan radioaktivitas yang digunakan dapat mempengaruhi kemurnian radiokimia senyawa
bertanda tersebut. Hal ini dapat disebabkan oleh terjadinya penguraian akibat hidrolisis
maupun radiolisis. Seperti diketahui bahwa pada proses radiolisis, dengan adanya air
akan terbentuk H2O2. Adanya senyawa H2O2 yang bersifat sebagai oksidator, dapat
mengoksidasi Sn(II) yang diperlukan untuk mereduksi 99mTc(VII) ke tingkat oksidasi
yang lebih rendah. Berkurangnya daya reduksi Sn(II) mengakibatkan tingginya pengotor
radiokimia dalam bentuk (99mTcO4)-. Di samping itu, dapat mengakibatkan terlepasnya
99mTc-tereduksi dari senyawa bertanda tersebut.
​ Tc terbentuk dari pereaksian antara 99m​
Pada awalnya 99m​ ​ Tc(VII)-perteknetat
dengan SnCl​2​. 99m​
Tc(VII)-perteknatat memiliki valensi 7 yang bersifat kuat sehingga
menyebabkan senyawa lain sulit bereaksi oleh karena itu diperlukan reduktor untuk
mereduksi Tc ke tingkat yang lebih rendah. Reduktor yang dipilih adalah SnCl​2 karena
memiliki daya reduksi yang cukup kuat dan toksisitas yang rendah. Penambahan dari
​ Tc-DEC. Penambahan reduktor tidak
reduktor mempengaruhi hasil penandaan dari 99m​
boleh terlalu sedikit karena dapat menyebabkan reaksi reduksi tidak sempurna,
penambahan yang berlebihan juga dapat menyebabkan penurunan dari penandaan. Oleh
karena itu jumlah dari reduktor perlu diperkirakan dengan baik. Pada Tabel 2
Penambahan SnCl​2 sebanyak 100 mikrogram memiliki efisiensi penandaan yang paling
tinggi.

Selain jumlah Reduktor, ph Juga berperan cukup penting dalam proses


​ Tc – DEC karena pH dapat berpengaruh terhadap daya reduksi dari
penandaan 99m​
reduktor sehingga dapat menyebabkan perbedaan tingkat oksidasi dari unsur yang akan
direduksi. Pada tabel 3 penandaan DEC paling efisien pada ph 4. Hal tersebut
​ Tc tereduksi dengan baik karena pada suasana asam SnCl​2 yang bersifat
dikarenakan 99m​
​ , sedangkan pada suasana pada SnCl​2 akan
sebagai reduktor akan membentuk Sn 2+​
membentuk ion stannit yang bukan merupakan reduktor sehingga menurunkan efisiensi
dari penandaan. Selanjutnya diamati pengaruh waktu inkubasi terhadap hasil penandaan.
Dari tabel 4 diketahui bahwa waktu inkubasi optimal adalah 10-20 menit.
​ Tc-peteknatat terhadap
Pada penelitian ini dikaji juga pengaruh penambahan 99m​
efisiensi penandaan dengan memvariasikan penambahan volume. Dari data yang
​ Tc-peteknatat menyebabkan pengurangan efisien
diperoleh penambahan volume 99m​
penandaan, namun pengurangan yang terjadi masih memenuhi syarat. Setelah
​ Tc-perteknetat sediaan harus segera mungkin di gunakan , jika tidak
penambahan 99m​
segera digunakan efisiensi penandaan akan berkurang seperti yang tertera pada tabel 6.
Selain itu Sediaan kit yang disimpan terlalu lama sebelum ditandai dapat menyebabkan
berkurangnya efisiensi penandaan.

F. Kesimpulan
Hasil penandaan Dietilkarbamazin sitrat (DEC) dengan radionuklida teknesium-99m
diperoleh tingkat kemurnian >95% dengan menambahkan 99mTc-perteknetat ke dalam
suatu formula yang terdiri dari 4 mg DEC-sitrat, 100 μg SnCl2.2H2O, pH 4, dan waktu
inkubasi pada suhu kamar selama 5-20 menit. Uji kemurnian ditentukan dengan metode
kromatografi menggunakan fase diam TLC-SG dan ITLC-SA, dan aseton kering, serta air
sebagai fase gerak.
​ Tc-DEC harus segera digunakan setelah disiapkan dan jangan disimpan lebih
Sediaan 99m​
dari 1 jam setelah rekonstitusi dengan larutan natrium perteknetat. Penambahan larutan
99m​
Tc-perteknetat sedikit menurunkan efisiensi penandaan oleh karena itu volume
penyuntikkan diupayakan sesedikit mungkin.
​ Tc-DEC telah berhasil namun masih memerlukan
Pembuatan formula sediaan 99m​
kajian non klinis baik itu ​in-vitro maupun ​in-vivo untuk menjamin keamanan pengguna
serta kajian uji klinis terhadap beberapa pasien yang terjangkit filariasis.
DAFTAR PUSTAKA
Aang, H., Nurlaila. Z., Nanny. K., dan Misyetti. 2015. Penandaan Dietil Karbamazin (DEC)
dengan Radionuklida Teknisium-99m Sebagai Sediaan Diagnostik untuk Deteksi Dini
Dilariasis. ​Indonesia Journal of Pharmaceutical Science and Technology​.Vol 4(1) :
36-47.
Awaludi,R. 2011. Radioisotop Teknesium 99m dan kegunaannya. Buletiin Alara. Vol 12 (2 ) :
61-65
Solikha, U., Endang S., Herlina, Hotman L., dan Kadarisman 2016. Karakteristik Polimer
Zirkonium Sebagai Adsorben Generator 99Mo/99mTc Untuk Radiofarmaka Diagnostik.
Widyariset​. Vol 2(1) : 17-26.