Anda di halaman 1dari 6

RESUME ARTIKEL

1. ARTIKEL 1
A. Judul :
DO PLANS GET IMPLEMENTED? A REVIEW OF EVALUATION IN
PLANNING
By Emily Talen
B. Tujuan penelitian :
Untuk mengembangkan dan menyempurnakan metode untuk mengevaluasi
implementasi rencana.
C. Metode :
Melakukan kajian literatur mengenai berbagai teori perencanaan disertai dengan
pemahaman mengenai praktik perencanaan. Tahapannya adalah
1) Berbagai tipe evaluasi perencanaan yang ada di teori-teori perencanaan
dibedakan dan dikategorikan.
2) Tipe-tipe yang masih umum tersebut kemudian dibandingkan dengan evaluasi
yang spesifik mengenai impelementasi rencana sehingga dapat ditemukan
adanya perbedaan.
3) Selanjutnya adalah diskusi mengenai hambatan-hambatan yang bisa
menggagalkan pengembangan metode untuk mengukur keberhasilan
pelaksanaan rencana.
D. Isi :
Untuk mengklarifikasi perbedaan diantara evaluasi implementasi perencanaan
dengan tipe-tipe evaluasi lainnya, maka dikembangkan tipologi sebagai berikut:
1) Evaluasi sebelum melakukan perencanaan
a) Evaluasi alternatif rencana
Evaluasi alternatif rencana menekankan pada dampak yang dihasilkan dari
rencana. Pada tahapan ini, alternatif rencana disandingkan dengan alternatif
rencana lainnya, selanjutnya dinilai dampaknya yang paling kecil. Dampak
lingkungan menjadi salah satu unsur penilaian dalam evaluasi rencana
alternatif, sebagaimana yang dilakukan oleh Negara California. Evaluasi
rencana alternatif adalah fokus pada permodelan matematika dalam evaluasi
perencanaan (Bertuglia dan Rabuno, 1990). Evaluasi terdiri dari permodelan
berbagai variasi subsistem yang digunakan untuk menjelaskan dan
meramalkan suatu kondisi atau memperoleh multiatribut fungsi utilitas untuk
rencana alternatif. Contoh kasus evaluasi dalam hal ekonomi, model
penilaian transportasi dapat digunakan untuk menghitung permintaan
(demand) dan keuntungan.
b) Analisis dokumen perencanaan
Analisis dokumen perencanaan, termasuk teks dan diskursus perencanaan,
merupakan bentuk evaluasi yang ditempatkan sebelum melaksanakan
rencana. Analisis ini, terlepas dari posisinya yang berada sebelum
implementasi rencana, jika dokumen perencanaan tidak menjelaskan
mengenai dampak terhadap lingkungan, maka nilai dokumen tersebut akan
rendah. Evaluasi dokumen perencanaan berisi detail penilaian mengenai apa
yang dapat dianggap sebagai “model” rencana (Keating dan Krumholz,
1991; Hamilton, 1986). Evaluasi terhadap rencana fokus pada intepretasi dari
maksud dan menguraikan nilai yang terkandung dalam teks dokumen
perencanaan.
2) Evaluasi pada praktik perencanaan
Evaluasi pada praktik perencanaan pada umumnya menghasilkan investigasi
mengenai apa yang perencana lakukan dan bagaimana cara melakukannya. Studi
menjelaskan mengenai aspek yang lebih luas, mulai dari cara perencana
melakukan negosiasi dalam proses perizinan penggunaan lahan (Forester, 2987)
sampai dengan studi mengenai perilaku organisasional. Tugas perencana adalah
untuk menerapkan rencana, namun praktek kehilangan relevansi dengan tidak
adanya pemahaman empiris tentang apa yang sebenarnya dicapai melalui
pelaksanaan rencana.
a) Studi mengenai perilaku perencanaan
Evaluasi praktik perencanaan dapat dijelaskan dengan menggunakan
pendekatan mekanisme perilaku perencanaan. Teori ini fokus pada
pemahaman konteks dimana perencana mengoperasikan dan memperoleh
perilaku optimum untuk mencapai konsekuensi yang diharapkan. Teori
strukturisasi mengasumsikan bahwa perumusan perencanaan memerlukan
pemahaman mengenai konsekuensi dari rencana dengan memeriksa struktur
sosiopolitik dimana perencana beroperasi. Kontribusi perencana merupakan
salah satu variabel dalam mempengarui perubahan, terkait dengan
penggunaan lahan dalam konteks proses sosial dan politik. Simmie (1993)
menyebutkan bahwa seringkali muncul premis dalam perencanaan yang
mengatakan tentang perencana sebenarnya bertanggung jawab atas kondisi
perkotaan tertentu, kecuali secara eksplisit terbatas pada perencanaan sebagai
proses.
b) Gambaran mengenai dampak dari rencana dan perencanaan
Impelementasi rencana fisik atau spasial cukup berbeda dengan aktivitas
perencanaan lainnya. Secara khusus, analisis rencana harus dibedakan dari
analisis mekanisme implementasi (cth. land use controls), regulasi spesifik
(cth. kepadatan minimum), dan program-program pemerintah yang
teradministrasi oleh Departemen Perencanaan (cth. program ride-sharing).
Dampak dari perencanaan dapat terlihat jelas dalam kasus pembangunan
perumahan. Dowall (1984) memberikan contoh bahwa dampak dari
perencanaan, terlihat jelas pada pembangunan perumahan, regulasi
penggunaan lahan dipelajari terkait efeknya terhadap nilai rumah,
penyesuaian pasar dan efek lainnya. Keinginan untuk memahami dampak
perencanaan penggunaan lahan lokal telah mengilhami deskripsi empiris,
namun hasilnya sering bertentangan dan meninggalkan kesan variasi acak
dalam tingkat keefektifannya (Rudel, 1989). Analisis semacam itu sering
digeneralisasi karena tingkat agregasi data yang terlibat. Sebagai contoh,
Rudel (1989) menyimpulkan bahwa, diperkirakan dua pertiga keputusan
zonasi dibuat tanpa manfaat dari sebuah rencana, perencanaan pada dasarnya
bersifat ad hoc dan pembuatan rencana tidak efektif.
3) Analisis implementasi kebijakan
Analisis implementasi kebijakan merupakan pembahasan mengenai apa yang
terjadi setelah program atau kebijakan diberlakukan, termasuk apakah
implementasi benar-benar terjadi. Hal itu sama dengan penilaian realitas
implementasi perencanaan. Pada umumnya, analisis fokus pada pelibatan proses
administrasi dan mengapa proses tersebut mungkin atau tidak mungkin menjadi
kacau (Hogwood and Gunn, 1984; Goggin et al, 1990; Younis, 1990). Analisis
implementasi kebijakan mungkin mencakup taktik tingkah laku administrator,
penerimaan kelompok sasaran, dan "jaringan kekuatan politik, ekonomi, dan
sosial langsung dan tidak langsung yang menanggung perilaku semua pihak yang
terlibat" (Mazmanian and Sbatier, 1983,4). Dengan menggunakan penilaian
empiris mengenai keberhasilan, maka keberhasilan/kesuksesan rencana
membutuhkan pendekatan yang berbeda. Perbedaan tersebut terwujud dalam
metode pengumpulan data. Namun, dalam menilai penerapan spasial, rencana
pengembangan fisik memerlukan pengembangan metode unik yang mungkin
belum ditemukan.
4) Evaluasi implementasi rencana
a) Non quantitative
Penelitian mengenai evaluasi non quantitatif pertama kali dilakukan oleh ahli
perencana John Reps. Reps (1965) mencoba untuk mengobservasi rencana
pembangunan kota dengan melihat pola yang telah ditentukan dan diikuti
selama bertahun-tahun. Evaluasi non quantitatif bersifat sangat subyektif dan
sulit untuk menarik kesimpulan yang jelas.
b) Quantitatif
Ada beberapa pendekatan kualitatif tentang penilaian implementasi rencana.
Ada dua pendekatan yang dikembangkan setelah tahun 1970an. Alterman
dan Hill (1978) menggunakan quantitatif dalam memahami kesesuaian dan
deviasi diantara rencana penggunaan lahan dan penggunaan lahan aktual.
Regresi yang digunakan untuk menguji kekuatan politik dan faktor lainnya
yang berpengaruh terhadap implementasi. Adapun pendekatan selanjutnya
adalah dari Calkins (1979). Calkins (1979) menggunakan istilah planning
monitor untuk menjelaskan mengenai evaluasi implementasi rencana.
Planning monitor bertujuan untuk mengukur sejauh mana tujuan dan sasaran
rencana terpenuhi dan untuk menjelaskan perbedaan antara yang
direncanakan dan kondisi aktual. Plannng monitor menggunakan inventori
atribut terukur dalam sistem aljabar di mana perubahan yang direncanakan
dan perubahan yang tidak direncanakan. Rumus yang digunakan adalah
sebagai berikut:
Keterangan :
I : vektor atribut inventori
t+n : inventori final
t : inventori di awal dari periode perencanaan
g dan a : digunakan untuk pembeda antara vektor inventori kondisi
aktual dan vektor inventori kondisi direncanakan
P : Vektor dari tingkat perubahan yang diperkirakan sebagai hasil
dari kebijakan publik
R : Vektor dari tingkat perubahan yang diperkirakan sebagai hasil
dari exogenous faktor

KENDALA DALAM MELAKUKAN EVALUASI KESUKSESAN


IMPLEMENTASI RENCANA
Ada beberapa kendala yang menjadi halangan saat menghubungkan antara rencana
dengan pencapaian dalam evaluasi impelementasi rencana, yang diuraikan sebagai
berikut.
1. Kemampuan perencanaan untuk membuat perubahan
Poin awal dalam evaluasi implementasi rencana adalah menerima gagasan
bahwa pengembangan lahan perkotaan merupakan hasil dari aksi yang disengaja
(deliberate action) dan perencana memiliki potensi untuk melakukan perubahan.
Kostof (1991) pernah mengemukakan hal serupa bahwa kota dibangun dari
tradisi kuno dan berasal dari tindakan yang disengaja. Hal ini menjadi
kontroversi, karena kontras dengan kondisi yang ada saat ini bahwa
pengembangan lahan merupakan hasil dari berbagai keputusan individu yang
didasarkan pada pandangan neoklasik. Meskipun demikian, penulis meyakini
bahwa pembangunan kota merupakan hasil dari suatu tindakan, yang didasari
oleh suatu sejarah, sehingga perencana tidak memiliki kemampuan untuk
menghentikan pembangunan itu dan memaksakan memasukkan konsep mereka
sendiri ke dalam pembangunan kota.
2. Arti Kesuksesan
Arti kesuksesan dalam implementasi suatu rencana harus didefinisikan meskipun
para ahli perencanaan menerima bahwa perencana memiliki kemampuan untuk
mengarahkan perubahan lingkungan kota. Dengan fokus pada tujuan penilaian,
maka hubungan antara rencana dan outcome dapat ditentukan tanpa terbebani
oleh linearitas. Sebagai contoh, sebuah rencana penggunaan lahan mengusulkan
membangun tiga taman lingkungan kecil untuk meningkatkan jumlah area taman
yang dapat diakses ke lingkungan tersebut. Jika, sebaliknya, satu taman yang
lebih besar dikembangkan meliputi wilayah yang sama dengan tiga taman kecil
namun di lokasi yang berbeda, maka hasil dari rencana masih sesuai dengan
tujuan semula. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sukses adalah sepanjang
outcome yang dihasilkan dapat memberikan manfaat dan sesuai dengan tujuan
awal rencana, darimana rencana tersebut berasal bukan merupakan suatu
masalah.
3. Isu-isu multi kausal
Multikausalitas adalah masalah karena perencana mencoba memanipulasi hanya
aspek-aspek tertentu dari pengembangan lahan; mencoba menilai dampak
keputusan perencanaan ekonomi, sosial dan sistem kota lainnya yang
membutuhkan sejumlah “langkah kontroversial”. Multikausalitas membatasi
analisis untuk menyelidiki tingkatan dampak dari sebuah rencana.
4. Kendala evaluasi quantitatif dalam perencanaan
Dalton (1990) menemukan bahwa metode kuantitatif tidak digunakan dalam
ranah evaluasi, namun dalam pemeriksaan proses kognitif dan intelektual yang
berlaku di lembaga perencanaan atau di antara perencana secara individu
(menggunakan kuesioner). Studi quantitatif yang disebut “karakteristik
obyektif” bukan meliputi penilaian kesuksesan, kegagalan, atau outcome dari
suatu perencanaan yang terkait dengan rencana atau kebijakan. Healy (1986)
menemukan sejumlah kesulitan dalam menggunakan metode quantitatif,
diantaranya adalah berkaitan dengan akuisisi data, yaitu kerahasiaan data dan
akses, kurangnya data dalam bentuk kuantitatif, kurangnya konsistens dan
keterseduaan data sistematis yang berkaitan dengan proses. Pendekatan
quantitatif harus memperhatikan kenyataan yang subyektif dan hasil penelitian
quantitatif tidak dapat diambil alih. Kelambatan waktu, ketidakpastian,
multikausal dan masalah definisi semua menghambat evaluasi kuantitatif dan
menimbulkan tantangan signifikan terhadap pengembangan metode yang tepat
dan berguna.