Anda di halaman 1dari 17

Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)

PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

BAB 2 TINJAUAN KEBIJAKAN

2.1 UNDANG-UNDANG NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG


2.1.1 Ketentuan Umum
Undang-Undang No. 26 tahun 2007 mengatur tentang segala hal yang berkaitan dengan penataan
ruang. Penataan ruang merupakan suatu sisten proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang. Di dalam Pasal 2 UUPR N0. 26 Tahun 2007 juga disebutkan
bahwa penataan ruang diselenggarakan berdasarkan azas keterpaduan, keserasian, keselarasan, dan
keseimbangan, keberlanjutan, keberdayagunaan dan keberhasilgunaan, keterbukaan, kebersamaan
dan kemitraan, perlindunan kepentingan umum, kepastian hukum dan keadilan, serta akuntabilitas.
Dalam Pasal 4 disebutkan bahwa penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal berikut
ini:
1. Penataan ruang berdasarkan sistem, terdiri atas sistem wilayah dan sistem internal perkotaan;
2. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan yang terdiri atas kawasan lindung dan
kawasan budidaya;
3. Penataan ruang berdasarkan wilayah administrative yang terdiri atas penataan ruang wilayah
nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan penataan ruang wilayah kabupaten/kota;
4. Penataan ruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan perkotaan
dan penataan ruang kawasan pedesaan.
Dalam Pasal 7 disebutkan bahwa wewenang pelaksanan kegiatan penataan ruang dapat diberikan
pada pemerintah dan pemerintah daerah. Pemerintah yang dimaksud adalah pemerintah pusat,
sedangkan pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, kabupaten, maupun kota. Wewenang
yang diberikan dalam kegiatan penataan ruang tersebut terdiri atas kegiatan pengaturan, pembinaan,
dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang.

2.1.2 Kegiatan Penyelenggaraan Penataan Ruang


Kegiatan penyelenggaraan penataan ruang dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang meliputi
pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang. Penyelenggaraan penataan
ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan
berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan:
1. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
2. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan
memperhatikan sumber daya manusia;
3. Terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan
akibat pemanfaatan ruang.
Sesuai dengan penjelasan di atas, kegiatan penyelenggaraan penataan ruang terdiri atas pengaturan,
pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:

Laporan Akhir II - 1
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

1. Pengaturan, merupakan upaya pembentukan landasan hukum bagi pemerintah, pemerintah


daerah, maupun masyarakat dalam penataan ruang. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan
penetapan ketentuan peraturan perundang-undangan bidang penataan ruang, termasuk
pedoman bidang penataan ruang.
2. Pembinaan, merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan
oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
3. Pelaksanaan, merupakan upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, serta pengendalian pemanfaatan ruang. Kegiatan
yang dilaksanakan dalam pelaksanaan penataan ruang antara lain:
a. Penyusunan dokumen tata ruang, baik rencana umum tata ruang (rencana tata ruang wilayah)
dan rencana rinci tata ruang;
b. Pelaksanaan pemanfaatan ruang melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta
pembiayaannya dengan acuan rencana tata ruang wilayah yang bersangkutan;
c. Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi, perizinan,
pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi.
4. Pengawasan, merupakan upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kegiatan ini dilakukan dengan cara
pengawasan terhadap kinerja pengaturan, pembinaan, dan pelaksanaan penataan ruang. Sesuai
dengan Pasal 55 dijelaskan bahwa kegiatan pengawasan penataan ruang dilakukan oleh
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Lebih lanjut, dijelaskan pula
bahwa masyarakat juga turut berperan dalam pengawasan penataan ruang dengan
menyampaikan laporan dan/atau pengaduan masyarakat kepada pemerintah. Penjelasan lebih
rinci tentang pengawasan penataan ruang duatur dalam Peraturan Pemerintah maupun
Peraturan Menteri terkait lainnya.

2.1.3 Kegiatan Pemanfaatan Ruang


Pemanfaatan ruang merupakan salah satu bagian dari kegiatan pelaksanaan penataan ruang. Sesuai
dengan Pasal 32 UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, pemanfaatan ruang merupakan upaya untuk
mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan
dan pelaksanaan program serta pembiayaannya. Kegiatan pemanfaatan ruang dilaksanakan dengan
pemanfaatan ruang secara vertical dan pemanfaatan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan
standar pelayanan minimal dalam penyediaan sarana dan prasarana.
Kegiatan pemanfaatan ruang harus mengacu pada rencana tata ruang, rencana penatagunaan tanah,
penatagunaan air, penatagunaan udara, serta penatagunaan sumberdaya alam lain. Implementasi
pemanfaatan ruang di wilayah provinsi, kabupaten atau kota dilaksanakan dengan cara:
1. Perumusan kebijakan strategis operasionalisasi RTRW dan rencana tata ruang kawasan strategis;
2. Perumusan program sektoral dalam rangka perwujudan struktur ruang dan pola ruang wilayah
dan kawasan strategis;
3. Pelaksanaan pembangunan sesuai dengan program pemanfataan ruang wilayah dan kawasan
strategis.

Laporan Akhir II - 2
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

2.1.4 Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang


Selain pemerintah dan pemerintah daerah, masyarakat juga harus berperan dalam penataan ruang.
Sesuai dengan amanat UUPR, peran masyarakat dalam penataan ruang adalah partisipasi dalam
penyusunan rencana tata ruang, partisipasi dalam pemanfaatan ruang, dan partisipasi dalam
pengendalian pemanfaatan ruang. Dalam Pasal 60 dalam Undang-Undang Penataan Ruang juga
disebutkan bahwa masyarakat juga memiliki hak dalam kegiatan penataan ruang. Hak masyarakat
dalam kegiatan penataan ruang antara lain:
1. Mengetahui rencana tata ruang;
2. Menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang;
3. Memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan
pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang;
4. Mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan yang tidak sesuai
dengan rencana tata ruang di wilayahnya;
5. Mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang kepada pejabat berwenang;
6. Mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau pemegang izin apabila kegiatan
pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang menimbulkan kerugian.
Sesuai dengan Pasal 61, Dalam pemanfaatan ruang, setiap masyarakat berkewajiban untuk:
1. Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
2. Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang;
3. Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang;
4. Memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan
dinyatakan milik umum.

2.1.5 Konflik dan Pelanggaran dalam Penataan Ruang


Undang-Undang Penataan Ruang juga mengatur tentang penyelesaian sengketa atau konflik dalam
bidang penataan ruang. Sesuai dengan Pasal 67, proses penyelesaian sengketa tata ruang dapat dilalui
melalui 2 tahap, yaitu penyelesaian tahap pertama yang didasarkan pada prinsip musyawarah untuk
mufakat dan apabila penyelesaian tersebut tidak menemui kesepakatan, maka para pihak yang
bersengketa dapat menempuh upaya penyelesaian sengketa melalui pengadilan atau luar pengadilan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Proses penyelesaian sengketa di bidang penataan ruang dilakukan dengan melibatkan penyidik
pegawai negeri sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang penataan ruang
(Pasal 68). Penyidik tersebut bertugas untuk membantu pejabat penyidik kepolisian negara.
Wewenang penyidik pegawai negeri sipil adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang berkenaan dengan tindak
pidana dalam bidang penataan ruang;
2. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana bidang penataan
ruang;
3. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang sehubungan dengan peristiwa tindak pidana
dalam bidang penataan ruang;

Laporan Akhir II - 3
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

4. Melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen yang berkenaan dengan tindak pidana dalam
bidang penataan ruang;
5. Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti dan dokumen lain
serta melakukan penyitaan dan penyegelan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang
dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
6. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dalam
bidang penataan ruang.
Pelanggaran yang berkaitan dengan penataan ruang juga dapat dikenai hukuman pidana. Pelanggar
penataan ruang dapat bersifat individual (perseorangan) dan korporasi (perusahaan). Sesuai dengan
Pasal 69 sampai dengan Pasal 72 Undang-Undang Penataan ruang, ketentuan pidana bagi pelanggar
penataan ruang adalah sebagai berikut:
1. Tidak menaati rencana tata ruang sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang
dapat dikenai hukuman pidana penjara paling lama selama 3 (tiga) tahun sampai dengan 15 (lima
belas) tahun dan denda Rp 500.000.000,00 sampai dengan Rp 5.000.000.000,00.
2. Pemanfataan ruang yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat berwenang
dapat dikenai hukuman pidana penjara selama paling lama 3 (tiga) tahun sampai dengan 15 (lima
belas) tahun dan denda Rp 500.000.000,00 sampai dengan Rp 5.000.000.000,00.
3. Tidak mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang dikenai
hukuman pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00.
4. Tidak memberikan akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan
sebagai milik umum dikenai hukuman pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling
banyak Rp 100.000.000,00.
Jika pelanggar adalah korporasi atau perusahaan, selain pidana penjara dan denda yang dijatuhkan
kepada pengurusnya (individual), pidana juga dapat dijatuhkan terhadap korporasi atau perusahaan
tersebut berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana Pasal
69, Pasal 70, Pasal 71, dan Pasal 72 sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Selain itu, korporasi
atau perusahaan juga dapat dikenakan hukuman pidana tambahan, berupa pencabutan izin usaha
dan/atau pencabutan status badan hukum.

2.2 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN


PENATAAN RUANG

Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 ini memberikan penjelasan yang lebih rinci terkait
dengan penyelenggaraan penataan ruang. Penyelenggaraan penataan ruang terdiri atas kegiatan
pengaturan, pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang. Rincian kegiatan
penyelenggaraan penataan ruang dapat dijelaskan sebagai berikut.

2.2.1 Pengaturan Penataan Ruang


Kegiatan pengaturan penataan ruang disusun dan ditetapkan oleh pemerintah, pemerintah daerah,
baik pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota sesuai dengan kewenangannya. Sesuai dengan Pasal 2
PP No. 15 Tahun 2010 dijelaskan bahwa kegiatan pengaturan penataan ruang diselenggaran dengan
tujuan untuk:

Laporan Akhir II - 4
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

1. Mewujudkan ketertiban dalam penyelenggaran penataan ruang;


2. Memberikan kepastian hukum bagi seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan tugas
dan tanggungjawab serta hak dan kewajibannya dalam penyelenggaraan penataan ruang;
3. Mewujudkan keadilan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam seluruh aspek penyelenggaraan
penataan ruang.
Pemerintah (pemerintah pusat) berhak untuk menyusun dan menetapkan Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional dan peraturan pelaksanaan dari undang-undang yang berkaitan dengan kegiatan
penataan ruang, rencana tata ruang pulau atau kepulauan dan rencana tata ruang kawasan strategis
nasional, serta pedoman bidang penataan ruang yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri. Sedangkan,
pemerintah daerah, baik pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota berhak untuk menyusun dan
menetapkan rencana tata ruang wilayah provinsi/kabupaten/kota, rencana tata ruang kawasan
strategis provinsi/kabupaten/kota, rencana detail tata ruang kabupaten dan kota. Selain itu,
pemerintah daerah juga berhak untuk menetapkan ketentuan tentang perizinan, bentuk dan besaran
insentif dan disinsentif, serta sanksi administrative yang ditetapkan oleh Gubernur atau
Bupati/Walikota. Pemerintah dan Pemerintah Daerah juga berhak untuk menetapkan peraturan lain
di bidang penataan ruang sesuai kewenangan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
serta mendorong peran serta mastarakat dalam penyusunan dan penetapan standard an kriteria
teknis sebagai operasionalisasi peraturan perundang-undangan dan pedoman penataan ruang.

2.2.2 Pembinaan Penataan Ruang


Pembinaan, merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang diselenggarakan
oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dalam Pasal 6 PP No. 10 Tahun 2010, tujuan
pembinaan penataan ruang adalah untuk:
1. Meningkatkan kualitas dan efektivitas penyelenggaraan penataan ruang;
2. Meningkatkan kapasitas dan kemandirian pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan
penataan ruang;
3. Meningkatkan peran masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang;
4. Meningkatkan kualitas struktur ruang dan pola ruang.
Kegiatan pembinaan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah kepada pemerintah daerah (provinsi,
kabupaten, dan kota). Kemudian, pemerintah provinsi melakukan pembinaan terhadap pemerintah
kabupaten dan kota serta masyarakat. Pembinaan penataan ruang dilakukan secara sinergis dan dapat
dilakukan melalui mekanisme dekonsentrasi.
Bentuk-bentuk pembinaan penataan ruang yang diamanatkan oleh PP No. 10 tahun 2010 Pasal 9,
antara lain:
1. Koordinasi penyelenggaraan penataan ruang;
2. Sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pedoman bidang penataan ruang;
3. Pemberian bimbingan, supervise, dan konsultasi pelaksanaan penataan ruang;
4. Pendidikan dan pelatihan;
5. Penelitian dan pengembangan;
6. Pengembangan sistem informasi dan komunikasi penataan ruang;
7. Penyebarluasan informasi penataan ruang kepada masyarakat;

Laporan Akhir II - 5
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

8. Pengembangan kesadaran dan tanggungjawab masyarakat.

2.2.3 Pelaksanaan Penataan Ruang


Pelaksanaan pemanfaatan ruang merupakan upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui
pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, serta pengendalian pemanfaatan ruang.
Pelaksanaan pemanfataan ruang diselenggarakan untuk:
1. Mewujudkan struktur ruang dan pola ruang yang direncanakan untuk menjamin keberlangsungan
kehidupan masyarakat yang berkualitas;
2. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan dilaksanakan secara terpadu.
Pelaksanaan pemanfataan ruang merupakan pelaksanaan pembangunan sektoral dan pengembangan
wilayah, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, harus
mengacu pada rencana tata ruang. Pelaksanaan pemanfataan ruang dilakukan melalui:
a. Penyusunan dan sinkroniasi program pemanfataan ruang;
 Kegiatan untuk menghasilkan program pemanfataan ruang yang meiluputi jangka panjang,
menengah, dan tahunan.
 Dilakukan berdasarkan indikasi program utama yang termuat dalam rencana tata ruang.
 Diwujudkan melalui:
1. program penataan ruang;
2. program pengembangan wilayah;
3. program pengembangan perkotaan, termasuk pengendalian kota besar;
4. program pengembangan pedesaaan;
5. program pengembangan kawasan dan lingkungan;
6. program pengembangan sektoral.
b. Pembiayaan program pemanfataan ruang;
 Meliputi perkiraan biaya pelaksanaan, sumber pembiayaan, dan jangka waktu pembiayaan.
 Pembiayaan program pemanfatan ruang dapat berasal dari pemerintah, pemerintah daerah,
dana tau masyarakat.
c. Pelaksanaan program pemanfataan ruang.
 Merupakan kegiatan pelaksanaan rencana pembangunan, dengan memperhatikan:
1. Standar kualitas lingkungan;
2. Aspek kelayakan ekonomi dan finansial;
3. Aspek kelayakan teknis;
4. Standar pelayanan minimal
 Pelaksanaan program pemanfataan ruang dapat disusun dengan rencana induk masing-
masing sektor sebagai acuan pelaksanaan pembangunan fisik. Pembangunan fisik lokasiharus
mengacu pada fungsi ruang yang telah ditetapkan di dalam rencana tata ruang.

2.2.4 Perencanaan Tata Ruang


Kegiatan pelaksanaan perencanaan tata ruang diselenggarakan dengan tujuan untuk:
1. Menyusun rencana tata ruang sesuai prosedur;
2. Menentukan rencana struktur ruang dan pola ruang yang berkualitas;

Laporan Akhir II - 6
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

3. Menyediakan landasan spasial bagi pelaksanaan pembangunan sektoral dan kewilayahan untuk
mencapai kesejahteraan masyarakat.
Pelaksanaan perencanaan tata ruang meliputi rencana umum tata ruang, rencana rinci tata ruang
serta rencana sektoral.
2.2.5 Pemanfaatan Ruang
Pemanfaatan ruang dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola
ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta
pembiayaannya. Program pemanfataan ruang wilayah merupakan program pembangunan sektoral
dan program pengembangan wilayah atau kawasan, yang dapat dituangkan dalam rencana
pembangunan jangka panjang daerah, rencana pembangunan jangka menengah daerah, dan rencana
pembangunan jangka tahunan pemerintah daerah. Program pemanfataan ruang wilayah dilakukan
dengan:
1. Perumusan kebijakan strategis operasionalisasi rencana tata ruang wilayah
provinsi/kabupaten/kota ke dalam rencana strategis provinsi/kabupaten/kota;
2. Perumusan program satuan kerja perangkat daerah provinsi/kabupaten/kota dalam rangka
perwujudan rencana tata ruang wilayah provinsi dan rencana tata ruang kawasan strategis
provinsi/kabupaten/kota;
Program pemanfataan ruang wilayah provinsi dapat berupa:
 Program pembangunan sektoral wilayah provinsi/kabupaten/kota;
 Program pengembangan wilayah provinsi/kabupaten/kota;
 Program pengembangan kawasan perkotaan yang mencakup 2 atau lebih wilayah
kabupaten/kota;
 Program pengembangan kawasan pedesaan yang mencakup 2 atau lebih wilayah kabupaten atau
kota;
 Program penembangan kawasan dan lingkungan strategis yang merupakan kewenangan
pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota.

2.2.6 Pengendalian Pemanfaatan Ruang


1. Pengaturan zonasi, merupakan acuan yang memuat tentang jenis kegiatan yang diperbolehkan,
diperbolehkan dengan syarat, dan tidak diperbolehkan, intensitas pemanfaatan ruang, prasarana
dan sarana minimum, serta ketentuan lain yang dibutuhkan.
2. Perizinan. Izin wajib dimiliki dan wajib dilaksanakan oleh setiap ketentuan perizinan dalam
pelaksanaan pemanfaatan ruang. Izin pemanfaatan ruang diberikan kepada calon pengguna
ruang yang akan melakukan kegiatan pemanfaatan ruang pada suatu kawasan atau zona
berdasarkan rencana tata ruang, yang diberikan untuk:
3. Menjamin pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang, peraturan zonasi, dan standar
pelayanan minimal bidang penataan ruang;
4. Mencegah dampak negative pemanfaatan ruang;
5. Melindungi kepentingan umum dan masyarakat luas.

Laporan Akhir II - 7
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Izin pemanfaatan ruang terdiri atas izin prinsip, izin lokasi, izin penggunaan pemanfaatan tanah, izin
mendirikan bangunan, serta izin lain berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Pemberian insentif dan disinsentif diselenggarakan untuk meningkatkan upaya pengendalian
pemanfaatan ruang dalam rangka mewujudkan tata ruang sesuai dengan rencana tata ruang,
memfasilitasi kegiatan pemanfaatan ruang agar sejalan dengan rencana tata ruang, dan
meningkatkan kemitraan semua pemangku kepentingan dalam rangka pemanfaatan ruang yang
sejalan dengan rencana tata ruang.
4. Pengenaan sanksi diberikan untuk setiap pelanggaran di bidang penataan ruang. Pelanggaran di
bidang penataan ruang antara lain:
a. Pemanfataan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang;
 Memanfaatkan ruang dengan izin pemanfataan ruang di lokasi yang tidak sesuai dengan
peruntukannya;
 Memanfaatkan ruang tanpa izin pemanfataan ruang di lokasi yang sesuai peruntukannya;
 Memanfaatkan ruang tanpa izin pemanfataan ruang di lokasi yang tidak sesuai
peruntukannya.
b. Pemanfataan ruang yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diberikan oleh
pejabat berwenang;
 Tidak menindaklanjuti izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan; dan/atau;
 Memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan fungsi ruang yang tercantum dalam izin
pemanfaatan ruang.
c. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan izin yang diberikan oleh pejabat
yang berwenang;
 Melanggar batas sempadan yang telah ditentukan;
 Melanggar ketentuan koefisien lantai bangunan yang telah ditentukan;
 Melanggar ketentuan koefisien dasar bangunan dan koefisien dasar hijau;
 Melakukan perubahan sebagian atau keseluruhan fungsi bangunan;
 Melakukan perubahan sebagian atau keseluruhan fungsi lahan; dan/atau;
 Tidak menyediakan fasilitas sosial atau fasilitas umum sesuai dengan persyaratan dalam izin
pemanfaatan ruang.
d. Menghalangi akses terhadap kawasan yang dinyatakan oleh UU sebagai milik umum.
 Menutup akses ke pesisir pantai, sungai, danau, situ, dan sumber daya alam serta prasarana
publik;
 Menutup akses terhadap sumber air;
 Menutup akses terhadap taman dan ruang terbuka hijau;
 Menutup akses terhadap fasilitas pejalan kaki;
 Menutup akses terhadap lokasi dan jalur evakuasi bencana;
 Menutup akses terhadap jalan umum tanpa izin pejabat yang berwenang.

2.2.7 Pengawasan Penataan Ruang


Pengawasan penataan ruang didefinisikan sebagai upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat
diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kegiatan pengawasan
penataan ruang diselenggarakan untuk:
1. Menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan penataan ruang;

Laporan Akhir II - 8
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

2. Menjamin terlaksananya penegakan hukum di bidang penataan ruang;


3. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan penataan ruang.
Sesuai dengan Pasal 199, pihak yang berwenang untuk melakukan pengawasan adalah pemerintah
dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Selain itu, masyarakat juga dapat melakukan
pengawasan terhadap penyelenggaraan penataan ruang melalui penyediaan sarana penyampaian
hasil pengawasan penataan ruang. Sesuai dengan Pasal 201, bentuk pengawasan penataan ruang
terdiri atas:
1. Pemantauan, merupakan kegiatan pengamatan terhadap penyelenggaraan penataan ruang
secara langsung, tidak langsung, dan/atau melalui laporan masyarakat. Pemantauan dilakukan
dalam rangka mengamati kinerja Pemerintah maupun Pemerintah Daerah dalam
penyelenggaraan penataan ruang dan/atau mengidentifikasi permasalahan yang timbil akibat
penyimpangan penyelenggaraan penataan ruang.
2. Evaluasi, merupakan kegiatan penilaian terhadap tingkat pencapaian penyelenggaraan penataan
ruang secara objektif dan terukur;
3. Pelaporan, merupakan kegiatan penyampaian hasil evaluasi.
Tindak lanjut hasil pengawasan penataan ruang sesuai dengan Pasal 205 meliputi:
1. Penyampaian hasil pengawasan kepada pemangku kepentingan terkait;
2. Penyampaian hasil pengawasan yang terdapat indikasi pelanggaran pidana di bidang penataan
ruang kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS);
3. Pelaksanaan hasil pengawasan.

2.3 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 68 TAHUN 2010 TENTANG BENTUK DAN TATA CARA
PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG

Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2010 ini mengatur tentang peran masyarakat dalam penataan
ruang, baik dalam kegiatan perencanaan, pemanfaatan, maupun pengendalian pemanfaatan ruang
baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota. Masyarakat yang dimaksud dalam
Peraturan Pemerintah ini adalah perseorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum adat,
korporasi, dan/atau pemangku kepentingan non-pemerintah lain dalam penataan ruang. Tujuan
pengaturan bentuk dan tata cara peran masyarakat dalam penataan ruang sesuai Pasal 4 adalah:

1. Menjamin terlaksananya hak dan kewajiban masyarakat di bidang penataan ruang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
2. Mendorong peran masyarakat dalam penataan ruang;
3. Menciptakan masyarakat yang ikut bertanggungjawab dalam penataan ruang;
4. Mewujudkan pelaksanaan penataan ruang yang transparan, efektif, akuntabel, dan berkualitas;
5. Meningkatkan kualitas pelayanan dan pengambilan kebijakan penataan ruang.

Laporan Akhir II - 9
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat dilaksanakan dalam kegiatan perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang, serta pengendalian pemanfaatan ruang. Sesuai dengan Pasal 6, bentuk
peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang berupa:
1. Masukan, mengenai persiapam penyusunan rencana tata ruang, penentuan arah pengembangan
wilayah atau kawasan, pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah atau
kawasan, perumusan konsepsi rencana tata ruang, serta penetapan rencana tata ruang.
2. Kerjasama dengan pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur masyarakat dalam
perencanaan tata ruang.

Selain di bidang perencanaan tata ruang, bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang antara
lain:
1. Masukan mengenai kebijakan pemanfataan ruang;
2. Kerjasama dengan pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesame unsur masyarakat dalam
pemanfataan ruang;
3. Kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan rencana tata ruang yang
telah ditetapkan;
4. Peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfataan ruang darat, ruang laut,
ruang udara, dan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan kearifan lokal serta sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
5. Kegiatan investasi dalam pemanfataan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Dalam kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang, masyarakat juga dapat berperan dalam beberapa
hal sebagai berikut:
1. Masukan terkait arahan dan/atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif, dan disinsentif
serta pengenaan sanksi;
2. Keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang yang telah
ditetapkan;
3. Pelaporan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal menentukan dugaan
penyimpangan atau pelanggaran kegiatan pemanfataan ruang yang melanggar rencana tata ruang
yang telah ditetapkan;
4. Pengajuan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang terhdap pembangunan yang
dianggap tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Selain mengatur tentang peran masyarakat dalam setiap kegiatan penataan ruang, ada beberapa tata
cara peran masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian, yang berupa:
1. Tata cara peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang dilaksanakan dengan cara:
a. Menyampaikan masukan mengenai arah pengembangan, potensi dan masalah, rumusan
konsepsi/rancangan rencana tata ruang melalui media komunikasi dan/atau forum
pertemuan;
b. Kerjasama dalam perencanaan tata ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
2. Tata cara peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang dilaksanakan dengan cara:

Laporan Akhir II - 10
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

a. Menyampaikan masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang melalui media komunikasi


dan/atau forum pertemuan;
b. Kerjasama dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
c. Pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
d. Penataan terhadap izin pemanfaatan ruang.
3. Tata cara peran masyarakat dalam pengendalian ruang dilaksanakan dengan cara:
a. Menyampaikan masukan terkait arahan dan/atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian
insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi kepada pejabat yang berwenang;
b. Memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang;
c. Melaporkan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal menentukan
dugaan penyimpangan atau pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang yang melanggar
rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
d. Mengajukan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang terhadap pembangunan
yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Peran masyarakat dalam penataan ruang dapat disampaikan secara langsung, yaitu melalui forum
pertemuan, konsultasi, komunikasi, dan/atau kerjasama. Selain itu, masukan dari masyarakat juga
dapat disampaikan secara tertulis antara lain melalui surat kepada alamat tujuan, alamat pengaduan
melalui nomor telepon, nomor tujuan pesan layanan singkat, laman website, surat elektronik,
dan/atau kotak pengaduan. Syarat penyampaian masukan tersebut adalah harus disertai dengan
alasan dan identitas yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan serta dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Sesuai dengan Pasal 23, Dalam peningkatan peran masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah
membangun sistem informasi dan komunikasi penyelenggaraan penataan ruang yang dapat diakses
dengan mudah oleh masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sistem
informasi dan komunikasi tersebut harus memuat minimal beberapa hal berikut ini:
a. Informasi tentang kebijakan, rencana, dan program penataan ruang yang sedang dan/atau akan
dilakukan, dan/atau sudah ditetapkan;
b. Informasi rencana tata ruang yang sudah ditetapkan;
c. Informasi arahan pemanfaatan ruang yang berisi indikasi program jangka menengah lima
tahunan;
d. Informasi arahan pengendalian pemanfaatan ruang yang berisi arahan/ketentuan peraturan
zonasi, arahan/ketentuan perizinan, arahan/ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan
sanksi.

2.4 PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL
NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

Sesuai dengan Permen ATR/BPN No. 3 tahun 2017 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil, Penyidik
Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bidang Penataan Ruang adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu di
lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang Penataan Ruang
yang diberi wewenang khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor
26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Status PPNS Bidang Penataan Ruang merupakan pegawai

Laporan Akhir II - 11
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

negeri sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Penataan Ruang, pegawai negeri sipil tertentu di
lingkungan pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten atau kota yang
membidangi urusan penataan ruang di daerah, yang mengemban tugas, fungsi, dan wewenang sesuai
ketentuan pasal 6 ayat 1 huruf b KUHAP Tahun 1981, pasal 68 ayat 1 UU No. 26 Tahun 2007, serta
memiliki Kartu Tanda Pengenal PPNS Penataan Ruang yang masih berlaku.
Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam
Undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Wewenang khusus yang
dimaksud dalam definisi PPNS Bidang Penataan Ruang adalag wewenang untuk melakukan penyidikan
terhadap tindak pidana tertentu sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang
menjadi dasar hukumnya. Bentuk kegiatan Penyidikan yang dilakukan oleh PPNS Penataan Ruang
meliputi; Pemberitahuan dimulainya Penyidikan, pemanggilan saksi atau tersangka, penangkapan,
penahanan, penggeledahan, penyitaan, pemeriksaan, rekontruksi atau reka ulang, pengambilan
simpah saksi dan tenaga ahli, pencegahan, penyelesaian berkas perkata, dan penyerahan berkas
perkara.
Wewenang PPNS Penataan Ruang dalam melakukan penyidikan, meliputi:
1. Melakukan pemeriksanaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang berkenaan dengan
tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
2. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana bidang penataan
ruang;
3. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang sehubungan dengan peristiwa tindak pidana
dalam bidang penataan ruang;
4. Melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen yang berkenaan dengan tindak pidana dalam
bidang penataan ruang;
5. Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti dan dikumen lain
serta melakukan penyitaan dan penyegelan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang
dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
6. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dalam
bidang penataan ruang.
Kewajiban PPNS Penataan Ruang meliputi:
1. Memberitahukan tentang penyidikan yang dilakukan kepada Penyidik Polri;
2. Memberitahukan perkembangan penyidikan yang dilakukannya kepada Penyidik Polri;
3. Berkoordinasi dengan Penyidik Polri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
4. Memberitahukan penghentian Penyidikan yang dilakukannya kepada Penyidik Polri; dan
menyerahkan hasil Penyidikan, meliputu berkas perkara, Tersangkanya dan barang bukti kepada
penuntut umum melalui Penyidik Polri.

PPNS Penataan Ruang mempunyai fungsi mewujudkan tegaknya hukum dalam penyelenggaraan
penataan ruang yang menyangkut tindak pidana penataan ruang. Bentuk tanggungjawab PPNS
ada dua macam, yaitu:
1. Administratif, meliputi melaksanakan tugas sesuai perintah tugas, membuat laporan
perkembangan pelaksanaan tugas penyidikan sesuai tahapan penindakan (penyidikan) yang

Laporan Akhir II - 12
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

sedang dilakukan kepada atasan/pimpinan secara berjenjang, membuat laporan selesai


pelaksanaan tugas, berkomunikasi setiap mendapatkan permasalahan yang timbil dalam
pelaksanaan tugas penyidikan, serta mempertanggungjawabkan keuangan negara yang
ditimbulkan akibat kegiatan penyidikan yang dilakukannya.
2. Teknis, antara lain koordinasi dengan Penyidik Polri, melaksanakan tugas dan wewenang penyidik
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, melaksanakan gelar perkara, serta
memantau pelaksanaan proses peradilan perkara.
PPNS dapat melaksanakan kegiatan penyidikan setelah diketahui bahwa sesuatu peristiwa yang terjadi
diduga dan merupakan tindak pidana bidang penataan ruang berdasarkan laporan kejadian, maka
PPNS Penataan Ruang segera melakukan kegiatan penyidikan setelah memperoleh surat perintah
tugas dari pimpinan. Urutan kegiatan penyidikan adalah sebagai berikut:
1. Persiapan penyidikan;
2. Pemberitahuan dimulainya penyidikan, yang dilengkapi dengan Surat Pemberitahuan Dimulainya
Penyidikan, laporan kejadian, dan Berita Acara Tindakan yang telah dilakukan;
3. Pengumpulan bahan bukti dan keterangan (Pulbaket), yang dapat diperoleh dari laporan,
pengaduan, hasil pemeriksaan pelaksanaan penataan ruang, dan hasil audit.
4. Penghentian penyidikan;
5. Pemanggilan tersangka atau saksi;
6. Pemeriksaan saksi, tersangka, dan barang bukti;
7. Penangkapan;
8. Penahanan;
9. Penggeledahan;
10. Penyitaan;
11. Gelar perkara;
12. Pemberkasan;
13. Penyerahan berkas perkara. Penyerahan tanggung jawab tersangka dan barang bukti kepada
Penuntut Umum dilaksanakan melalui Penyidik Polri yaitu setelah berkas perkara dinyatakan
lengkap oleh Penuntut Umum atau setelah 14 (empat belas) hari sejak penyerahan berkas perkara
dari Penyidik Polri kepada Penuntut Umum yang dinyatakan dalam berita acara.
Sesuai dengan Permen ATR/BPN No 3 tahun 2017 juga dijelaskan definisi tentang laporan dan
pengaduan masyarakat, dimana laporan masyarakat tersebut merupakan salah satu bentuk indikasi
terjadinya pelanggaran pemanfaatan ruang. Definisi laporan adalah merupakan pemberitahuan yang
disampaikan oleh seseorang karena hak dan kewajiban berdasarkan UU kepada pejabat yang
berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya tindak pidana penataan ruang.
Laporan tersebut dapat diajukan oleh setiap orang yang mengalami dan/atau hanya melihat karena
hak dan kewajibannya;
Ketentuan sanksi pidana akibat pelanggaran pemanfaatan ruang sebagaimana yang tercantum dalam
Permen ATR/BPN No 3 tahun 201 adalah sebagai berikut:

Laporan Akhir II - 13
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Tabel 2.1 Ketentuan Sanksi Pidana Akibat Pelanggaran Pemanfaatan Ruang


Sanksi
No Pasal Bentuk Pelanggaran Unsur pelanggaran Contoh
Perseorangan Korporasi
1. 69 Setiap orang yang a. memanfaatkan ruang a. Pembangunan Administratif
Ayat tidak menaati dengan izin rumah dengan
(1) rencana tata ruang pemanfaatan ruang di IMB di RTH.
yang telah ditetapkan lokasi yang tidak sesuai b. Membangun
yang mengakibatkan dengan rumah tanpa
perubahan fungsi peruntukkannya; IMB di kawasan
ruang b. memanfaat kan ruang perumahan
tanpa izin pemanfaatan c. Membangun
ruang di lokasi yang rumah tanpa
sesuai peruntukannya; IMB di RTH.
dan
c. memanfaat kan ruang
tanpa izin pemanfaatan
ruang di lokasi yang
tidak sesuai
peruntukannya.
Berubahnya fungsi RTH menjadi  pidana Pidana
ruang perumahan penjara denda
paling lama dengan
3 tahun; pemberata
dan n 3 (tiga)
 denda kali
paling
banyak Rp
500.000.00
0
2. 69 Setiap orang yang a. memanfaat ruang a. Pembangunan
Ayat tidak menaati dengan izin rumah
(2) rencana tata ruang pemanfaatan ruang di denganIMB di
yang telah ditetapkan lokasi yang tidak sesuai RTH.
yang mengakibatkan dengan b. Membangun
perubahan fungsi peruntukkannya; rumah
ruang; dan b. memanfaat kan ruang tanpaIMB
mengakibatkan tanpa izin pemanfaatan dikawasan
kerugian terhadap ruang di lokasi yang perumahan
harta benda atau sesuai peruntukannya; c. Membangun
kerusakan barang dan rumah
c. memanfaat kan ruang tanpaIMB di
tanpa izin pemanfaatan RTH.
ruang di lokasi yang
tidak sesuai
peruntukannya.
Berubahnya fungsi Ruang; RTH menjadi  pidana pidana
dan Timbul kerugian perumahan dan penjara denda
Materiil. ada kerugian paling lama dengan
materiil 8 tahun pemberata
 denda n3
paling (tiga) kali
banyak Rp
1.500.000.0
00

Laporan Akhir II - 14
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Sanksi
No Pasal Bentuk Pelanggaran Unsur pelanggaran Contoh
Perseorangan Korporasi
3. 69 Setiap orang yang a. memanfaat kan ruang a. Pembangun
Ayat tidak menaati dengan izin rumah dengan
(3) rencana tata ruang pemanfaatan ruang di IMB di RTH.
yang telah ditetapkan lokasi yang tidak sesuai b. Membangun
yang mengakibatkan dengan peruntukkan- rumah tanpa
perubahan fungsi nya; memanfaat kan IMB di
ruang dan ruang tanpa izin kawasperumah
mengakibatkan pemanfaatan ruang di an
kematoian orang lokasi yang sesuai c. Membangun
peruntukannya; dan rumah tanpIMB
memanfaat kan ruang di RTH.
tanpa izin pemanfaatan
ruang di lokasi yang
tidak sesuai
peruntukannya.
Berubahnya fungsi ruang; RTH  Pidana
menjadi Pidana
dan hilangnya nyawa perumahan dan penjara denda
seseorang menimbulkan Paling lama Dengan
korban nyawa 15 Tahun Pemberata
(kematian orang)  Denda n 3 (tiga)
paling kali
Banyak Rp
5.000.000.0
00
4. 70 Setiap orang yang Memanfaatkan ruang tidak Memberikan izin Administratif Pidana
Ayat memanfaatkan ruang sesuai dengan izin mendirikan rumah  Pidana denda
(1) tidak sesuai dengan pemanfaatan ruang. tinggal tapi penjara Dengan
izin pemanfaatan membangun Paling lama Pemberata
ruang dari pejabat bengkel. 3 Tahun n 3 (tiga)
yang berwenang Denda kali
paling
 Banyak Rp
500.000.00
0
5. 70 Setiap orang yang Memanfaatkan ruangtidak
Ayat memanfaatkan ruang sesuai dengan Izin
(2) tidak sesuai dengan pemanfaatan ruang.
izin pemanfaatan Berubahnya fungsi ruang. Memperoleh izin  Pidana Pidana
ruang dari pejabat membangun penjara denda
yang berwenang yang kawasan Paling lama dengan
mengakibatkan perumahan, tapi 5 Tahun Pemberata
perubahan fungsi membangun  Denda n 3 (tiga)
ruang kawasan industri. paling kali
Banyak rp
1.000.000.0
0
6. 70 Setiap orang yang Memanfaatkan ruang tidak Administratif
Ayat memanfaatkan ruang sesuai dengan izin
(3) tidak sesuai dengan pemanfaatan ruang.
izin pemanfaatan Timbul kerugian Materiil Memperoleh izin  Pidana Pidana
ruang dari pejabat membangun penjara denda
yang berwenang yang kawasan Paling lama Dengan
mengakibatkan perumahan, tapi 5 Tahun Pemberata

Laporan Akhir II - 15
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Sanksi
No Pasal Bentuk Pelanggaran Unsur pelanggaran Contoh
Perseorangan Korporasi
kerugian terhadap membangun  Denda n 3 (tiga)
harta benda atau kawasan industri, paling kali
kerusakan barang. sehingga Banyak Rp
menimbulkan 1.500.000.0
kerusakan jalan. 00
7. 70 Setiap orang yang memanfaatkan ruang tidak memanfaatkan Administra
Ayat memanfaatkan ruang sesuai dengan izin ruang tidak sesuai tif
(4) tidaksesuai dengan pemanfaatan ruang. dengan izin
izin pemanfaatan pemanfaatan ruang
ruang dari pejabat Hilangnya nyawa Memperoleh izin  Pidana Pidana
yang berwenang yang seseorang membangun penjara denda
mengakibatkan Kawasan Paling lama Dengan
kematian orang. perumahan, tapi 15 Tahun Pemberata
membangun  Denda n 3 (tiga)
kawasan industri, paling kali
sehingga Banyak Rp
menimbulkan 5.000.000.0
korban nyawa 00
(kematian orang).
8. 71 Setiap orang yang a. melanggar batas a. Membangun Administratif Pidana
tidak mematuhi sempadan yang telah rumah  Pidana denda
ketentuan yang ditentukan; melanggar garis Penjara Dengan
ditetapkan dalam b. melanggar ketentuan sempadan paling Lama pemberata
persyaratan izin koefisien lantai bangunan. 3 tahun n 3 (tiga)
pemanfaatan ruang bangunan yang telah b. Membangun  Denda kali
ditentukan; apartemen paling
c. melanggar ketentuan melanggar Banyak Rp
koefisien dasar koefisien lantai 500.000.00
bangunan dan koefisien bangunan. 0
dasar hijau;
d. melakukan perubahan
sebagian atau
keseluruhan fungsi
bangunan;
e. melakukan perubahan
sebagian atau
keseluruhan fungsi
lahan; dan
f. tidak menyediakan
fasilitas sosial
ataufasilitas umum
sesuai dengan
persyaratan dalam izin
pemanfaatan ruang.
9. 72 Setiap orang yang a. menutup akses ke Membangun hotel Administratif Pidana
tidak memberikan pesisir pantai, sungai, dengan menutupi  Pidana denda
akses terhadap danau, situ, dan sumber Akses umum ke penjara Dengan
kawasan yang oleh daya alam serta Pantai. Paling lama pemberat
peraturan prasarana publik 1 Tahun an 3 (tiga)
perundangundangan b. menutup akses  Denda kali
dinyatakan sebagai terhadap sumber air; paling
milik umum Banyak Rp

Laporan Akhir II - 16
Operasionalisasi Pengawasan, Pengamatan, Penelitian, dan Pemeriksaan (Wasmatlitrik)
PPNS Penataan Ruang Pusat di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Sanksi
No Pasal Bentuk Pelanggaran Unsur pelanggaran Contoh
Perseorangan Korporasi
c. menutup akses 100.000.00
terhadap taman dan 0
ruang terbuka hijau;
d. menutup akses
terhadap fasilitas
pejalan kaki;
e. menutup akses
terhadap lokasi dan
jalur evakuasi bencana;
dan
f. menutup akses
terhadap jalan umum
tanpa izin yang
berwenang.
10. 73 Setiap pejabat Izin pemanfaatan ruang Mengeluarkan izin  Pidana
pemerintah yang pada lokasi yang tidak mendirikan SPBU penjara
berwenang yang sesuai rencana tata ruang. di RTH. Paling lama
menerbitkan izin 5 Tahun
tidak sesuai dengan  Denda
rencana tata ruang paling
Banyak Rp
500.000.00
 Pemberhen
tian Secara
tidak
Hormat
dari
Jabatannya
.

Laporan Akhir II - 17