Anda di halaman 1dari 6

PERTANYAAN DISKUSI

PRAKTIK AUDITING

DOSEN PENGAJAR : Rizki Yuli Sari, S.E., Akt, M.Si.

Kelompok 5 :

Almaliyana (RRC1C016011)

Indah Aurelia Novryani (RRC1C016020)

Athiatul Istianah (RRC1C016028)

Suci Novri Yani (RRC1C016042)

Dewi Sutra (RRC1C016063)

FAKULTAS EKONOMI BISNIS

UNIVERSITAS JAMBI
JAMBI
2019
PERTANYAAN DISKUSI

1. Sebutkan tugas utama dari masing-masing posisi pada tim perikatan audit yang
dibentuk oleh KAP Adi Susilo dan Rekan untuk menyelesaikan setiap penugasan
audit (partner, manajer, senior auditor, dan staf auditor) ?
Jawaban : a. Partner (Rekan)
Mengorganisir, mengimplementasikan, dan mengontrol sistem
pengendalian mutu KAP. Proses pengendalian mutu KAP dimulai dari
perekrutan karyawan dan pelatihan awal bagi karyawan baru. Selain itu
Partner juga berperan penting dalam penentuan promosi jabatan
karyawan KAP, memiliki kewenangan atas penunjukan personel
penugasan audit sesuai dengan pengalaman maupun hasil pelatihan.
Area lain dari pengendalian mutu yang menjadi tugas partner adalah
upaya pengembangan kemampuan professional karyawan, penerimaan
dan keberlanjutan klien, hingga penyusunan perikatan audit. Partner
juga melakukan evaluasi terhadap kinerja Manajer.

b. Manajer
Menyusun prosedur audit, membuat draft penugasan dan program audit,
mereview dan melakukan evaluasi terhadap kinerja auditor senior
maupun staf auditor, mereview kertas kerja dan management letter,
melakukan prosedur utama dalam audit, melakukan diskusi dan
pembahasan mengenai temuan audit dengan klien, menyusun draft
laporan keuangan, laporan auditor independen dan management letter,
menjamin terciptanya pengawasan yang memadai, serta menjaga
kompetensi dalam setiap aktivitas audit.

c. Senior Auditor
Melaksanakan prosedur dan program audit yang disusun oleh manajer,
mengawasi kinerja staf auditor dan mereview hasil dari program
auditan staf auditor, melakukan diskusi dengan staf auditor mengenai
temuan-temuan audit dan alternative prosedur, melakukan koordinasi
pelaksanaan program audit dengan manajer, melakukan prosedur utama
dalam audit, menjamin terciptanya pengawasan yang memadai, dan
menjaga kompetensi dalam setiap aktivitas audit

d. Staf Auditor
Menjalankan prosedur dan program audit yang disusun oleh manajer
secara langsung dilapangan, melakukan prosedur utama dalam audit,
mengumpulkan dan mengevaluasi kecukupan bukti audit sesuai dengan
program audit, menyusun kelengkapan kertas kerja, melakukan
konsultasi dengan supervisor maupun manajer, mengusukan koreksi-
koreksi temuan audit, menjamin terciptanya pengawasan yang
memadai, dan menjaga kompetensi dalam setiap aktivitas audit.

2. Sebutkan masing-masing tujuan dari dimilikinya partner-in-charge dan consulting


partner dalam setiap perikatan audit ? Apakah menurut anda merupakan hal yang
penting bagi KAP melakukan rotasi partner untuk setiap klien yang berbeda secara
periodik? Jelaskan pendapat anda!
Jawaban : Tujuan dimilikinya partner in charge adalah untuk mengepalai tim yang
melakukan perikatan audit, tanggung jawab dalam pengambilan keputusan
selama audit berlangsung juga merupakan tanggung jawab partner in
charge. Sedangkan tujuan dimiliknya consulting partner adalah untuk
memberikan nasihat dan review terhadap hasil akhir. Selain itu consulting
partner juga menjamin terciptanya pengawasan yang memadai dan
menjaga kompetensi dalam setiap aktivitas demi terciptanya tujuan audit.

Menurut kami melakukan rotasi partner untuk setiap klien yang berbeda
adalah penting bagi KAP, karena alasan berikut :

Indonesia merupakan salah satu negara yang mewajibkan pergantian


kantor akuntan dari partner audit diberlakukan secara periodik. Peraturan
tentang pergantian ini sudah muncul pada tahun 2002 dalam bentuk
Keputusan Menteri Keuangan no. 423 tahun 2002 tersebut dikatakan
bahwa:

Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas
dapat dilakukan oleh KAP paling lama untuk 5 (lima) tahun buku
berturut-turut danoleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga)
tahun buku berturut-turut.

Selanjutnya di pasal 59 ayat 5 dan 6 dinyatakan bahwa :

(5) KAP yang telah memberikan jasa audit umum untuk 5 (lima) tahun
buku berturut-turut atau lebih dan masih mempunyai perikatan audit
umum untuk tahun buku berikutnya atas laporan keuangan dari suatu
entitas pada saat berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, hanya
dapat melaksanakan perikatan dimaksud untuk 1 (satu) tahun buku
berikutnya

(6) Akuntan Publik yang telah memberikan jasa audit umum untuk 3 (tiga)
tahun buku berturut-turut atau lebih dan masih mempunyai perikatan
audit umum untuk tahun buku berikutnya atas laporan keuangan dari
suatu entitas pada saat berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini,
hanya dapat melaksanakan perikatan dimaksud untuk 1 (satu) tahun buku
berikutnya.

Dalam Sarbanes-Oxley act Seksi 203: Adanya kewajiban rotasi bagi KAP
maupun partner in-charge dari KAP (dibatasi lima tahun) dalam
melakukan auditbagi klien yang sama.
Dengan dilakukan rotasi partner maka diyakini akan meningkatkan
keindependensian auditor dalam hal pelaksaan audit. Apabila terjadi
ketiadaan aturan rotasi maka akan memberi insentif kepada auditor untuk
selama mungkin mempertahankan hubungannya dengan klien,walaupun
mungkin tindakan tersebut mencederai independensi mereka. Namun hal
yang sebaliknya akan terjad apabila adanya aturan rotasi yang membatasi
masa tugas auditor, hal itu akan membuat ketergantungan auditor terhadap
klien menjadi terbatas dan kemungkinan pelanggaran independensi pun
menurun.

3. Menurut anda apakah kegiatan marketing yang dilakukan oleh KAP untuk menambah
akuisisi klien baru tidak bertentangan dengan prinsip independensi ? Haruskah
manajemen menunjuk seorang auditor secara khusus untuk kegiatan akuisisi klien
baru seperti kegiatan marketing tersebut diatas ?
Jawaban : Kegiatan marketing seperti advertensi sudah tidak dilarang oleh IAI, hal ini
sesuai dengan aturan Etika Profesi nomor 502 tahun 2000 yang
memperbolehkan KAP melakukan promosi dan kegiatan pemasaran
lainnya. Independensi itu sendiri dibagi menjadi dua tertera pada Aturan
Etika Kompartemen Akuntan Publik (Iai) No. 100, yaitu:
a) Independensi penampilan : independensi yang terkait dengan
pencitraan yang dilakukan oleh auditor terhadap publik. Pencitraan
ini terkait dengan asumsi dan ekspektasi dari publik mengenai
fungsi audit dan auditor itu sendiri.
b) Independensi fakta : Independensi auditor yang terkait dengan
objektifitas seorang auditor di dalam penentuan audit judgement.
Auditor harus dapat memepertimbangkan fakta yang ada dan dapat
bersikap tidak memihak dalam memberikan pendapatnya. Sikap
ini merupakan sikap yang cenderung personal dan merupakan
sikap mental dari diri pribadi akuntan publik.

Jadi menurut kami, kegiatan marketing yang dilakukan oleh KAP untuk
menambah akuisisi klien baru tidak bertentangan dengan prinsip
indepedensi, dengan syarat kegiatan marketing yang dilakukan oleh KAP
tersebut hanya digunakan untuk meperkenalkan KAP yang bersangkutan
kepada publik dan jasa-jasa apa saja yang dapat dikerjakan oleh KAP
tersebut.

Sesuai dengan ketentuan PSA No. 4 dalam SA Seksi 220 No. 7 mengenai
penunjukan dan independensi auditor, mengatakan “untuk menekankan
indepedensi auditor dari manajemen, penunjukan auditor di banyak
perusahaan dilaksanakan oleh dewan komisaris, rapat umum pemegang
saham, atau komite audit.
4. KAP yang lebih besar (berskala nasional atau internasional) telah mengakuisisi
banyak KAP kecil. Mengapa organisasi besar mempertimbangkan untuk
mengakuisisi KAP seperti KAP Adi Susilo dan Rekan? Apa keuntungan yang
nantinya bisa diperoleh KAP menengah kebawah semacam KAP Adi Susilo dan
Rekan ketika bersedia diakuisisi oleh KAP besar? Apakah menurut anda semua
bentuk penggabungan usaha ini baik untuk profesi audit?
Jawaban : Beberapa factor yang menyebabkan KAP besar mengakuisisi KAP
menengah atau lebih kecil yaitu :
a) Faktor Pengalaman
Kantor Akuntan Publik (KAP) kecil atau menengah mungkin
mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak di dalam proses
pengauditan klien-klien yang bukan merupakan klien bidikan
utama kantor akuntan publik besar. Contohnya UMKM, sehingga
KAP tersebut mempunyai lebih banyak pengalaman di ranah
operasional.
b) Faktor Ekspansi Klien
KAP besar diharapkan pada pilihan untuk lebih membuka diri dan
mengekspansi klien yang jauh lebih luas, tidak hanya dari klien
yang mempunyai ukuran yang besar saja namun juga
mengekspansi klien-klien yang mempunyai unit bisnis kecil tapi
mempunyai kelebihan dalam segi kuantitas perusahaan yang jauh
lebih banyak daripada perusahaan besar. Faktor ini berkaitan
dengan faktor diatas.
c) Faktor Budaya
Kebanyakan KAP yang mempunyai nama besar adalah KAP asing
yang sangat awam dengan budaya di Indonesia, sehingga jalan
termudah untuk bekerja sesuai dengan budaya yang ada di daerah
(Indonesia) adalah dengan mengakuisisi KAP lokal yang mungkin
dari segi ukuran masih kecil atau menengah.

Dampak positif / keuntungan yang diperoleh KAP menengah kebawah


dengan adanya akuisisi adalah sebagai berikut :
 Standarisasi
Yang paling mencolok dengan adanya akuisisi antara KAP besar
dengan menengah kebawah adalah adanya standarisasi yang
dicoba untuk diterapkan oleh KAP besar tersebut di dalam setiap
penugasan audit maupun dari internal KAP yang diakusisi itu
sendiri, sehingga KAP menengah kebawah yang telah diakuisisi
mau tidak mau harus mengikuti syarat-syarat penjaminan mutu
yang dibuat oleh KAP besar.

Selain dampak positif maka pengakuisisian ini juga memiliki dampak


negatif, yaitu :
 Perubahan budaya organisasi KAP karena harus mengikuti syarat-
syarat penjaminan mutu dari KAP yang telah mengakuisisinya
akan mengakibatkan perubahan budaya organisasi yang
berindikasi pada klien-klien KAP itu sendiri.
5. Dalam kasus disebutkan bahwa selama periode sibuk, individu seringkali berpindah
tempat ke area yang berbeda, contohnya dari jasa konsultasi ke jasa audit. Apakah
akan muncul permasalahan akibat aktivitas tersebut di dalam perusahaan?
Jawaban : Perpindahan tersebut menurut kami dapat memberikan dampak positif dan
dampak negatif. Adapun dampak positifnya antara lain adalah :
a) Menambah wawasan dan kemampuan SDM secara umum
Sumber Daya Manusia (SDM) yang melakukan pekerjaan tidak
tetap akan meningkatkan keinginan untuk terus belajar dan
terhindar dari kebosanan.
b) Pemerataan kemampuan SDM
Individu yang terus belajar karena tuntutan pekerjaannya yang
sering berubah. akan meningkatkan kemampuannya dalam
mengerjakan segala urusan.

Sedangkan dampak negatifnya antara lain adalah :

a) Kurang terspesialisasi
Setiap individu yang dituntut untuk mengerjakan semua tugas
audit menyebabkan individu tersebut menjadi kurang
terspesialisasi terhadap pekerjaan yang menjadi core tugasnya.
b) Rendahnya kualitas laporan hasil audit
Hal ini berhubungan dengan point diatas. Karena merasa kurang
terspesialisasi , hal itu menyebabkan laporan audit yang diperoleh
kurang berkualitas.