Anda di halaman 1dari 66

MODUL PERKULIAHAN

Mekanika Fluida
dan Hidraulika
Parameter Fluida

01
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Teknik Perencanaan Teknik Sipil 11017 Gneis Setia Graha, ST., MT.
dan Desain

Abstract Kompetensi
Modul ini menjelaskan mengenai Mahasiswa mampu menjelaskan definisi
definisi fluida, jenis fluida, dan fluida dengan detail dan karakteristiknya
parameter fluida. berdasarkan parameter fluida dan
konsep hidrolika.

‘14
1 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 2
1 PARAMETER FLUIDA ................................................................................................... 3
1.1 Besaran Parameter Fluida ...................................................................................... 3
1.2 Sifat-sifat Fluida ...................................................................................................... 4
1.3 Parameter Fluida .................................................................................................... 4
1.3.1 Rapat massa (mass density) dan Berat jenis (Specific weight) ........................ 4
1.3.2 Rapat relatif (specific gravity) ........................................................................... 5
1.3.3 Fluida Ideal ...................................................................................................... 5
1.3.4 Kekentalan kinematik (Viscosity)...................................................................... 5
1.3.5 Compressibility dan Modulus Elastisitas Fluida ................................................ 6
2 SOAL DAN PENYELESAIAN ......................................................................................... 7
3 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 8

‘14
2 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1 PARAMETER FLUIDA
Fluida adalah zat yang bisa mengalir, yang mempunyai partikel yang mudah bergerak dan
berubah bentuk tanpa pemisahan massa. Fluida mencakup zat cair atau gas.
Zat cair adalah fluida yang non-kompresibel (tidak dapat ditekan) artinya tidak berubah
volumenya jika mendapat tekanan, kecuali untuk fluida yang berhubungan dengan tekanan
transien misalnya pipa. Sedangkan, gas adalah fluida yang kompresibel, artinya dapat
ditekan.

1.1 Besaran Parameter Fluida

Sistem MKS (Metre-Kilogramme-Second) diakui secara internasional untuk satuan system


metric (SI). Semua besaran diturunkan dari sembilan dimensi dasar, yaitu massa, panjang,
waktu, temperature, jumlah suatu zat, arus listrik, intensitas cahaya, sudut bidang, dan sudut
ruang. Pada aplikasi teknik sipil, hanya lima dimensi dasar yang sering digunakan dalam
perhitungan, seperti terlampir di bawah ini.
Tabel 1 Dimensi Dasar dan Satuannya

Besaran Dimensi Satuan SI


Panjang L Meter (m)
Massa M Kilogram (kg)
Waktu T Detik (s)
Temperatur o
Celcius (oc)
Sudut bidang Radian (rad)

Berikut beberapa dimensi turunan yang digunakan di mekanika fluida.


Tabel 2 Dimensi Turunan dan Satuannya (Daugherty, Franzini, & Finnermore, 1985)

Besaran Dimensi Satuan SI


Percepatan (a) LT-2 m/s2
Luas (A) L2 m2
Rapat massa () ML-3 Kg/m3
Debit (Q) L3T-1 m3/s
Frekuensi T-1 Hz (hertz) s-1
viskositas kinematic (ν) L2T-1 m2/s
Power FLT-1 Nm/s
Tekanan (p) FL-2 N/m2 = Pa
Berat jenis () FL-3 N/m3

‘14
3 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Besaran Dimensi Satuan SI
Kecepatan (v) LT-1 m/s
Kekentalan () FTL-2 Ns/m2
Volume (Vol) L3 m3

Dalam perhitungan mekanika fluida, angka yang terlalu besar dan kecil kerap menjadi
masalah dalam penulisannya. Untuk mempersingkat penulisan angka maka dapat
digunakan awalan simbol di depan satuan besaran, seperti 3x105 N menjadi 300 KN. Tabel
berikut melampirkan awalan.
Tabel 3 Awalan-awalan SI

Faktor Pengali Awalan Simbol


1012 Tera T
10 9
Giga G
106 Mega M
103 Kilo k
10-2 Centi c
10 -3
Mili m
10-6 Micro 
10-9 Nano n
10-12 pico p

1.2 Sifat-sifat Fluida

Sifat-sifat zat cair:


1. Mempunyai permukaan bebas.
2. Massa zat cair hanya akan mengisi volume yang diperlukan dalam suatu ruangan.
3. Zat cair tidak melawan perubahan bentuk.
4. Zat cair tidak mengadakan reaksi terhadap gaya geser.
5. Mempunyai rapat massa dan berat jenis.
6. Incompressible (tidak termampatkan).
7. Mempunyai kekentalan (viskositas).
8. Mempunyai kohesi, adhesi, dan tegangan permukaan.

1.3 Parameter Fluida

1.3.1 Rapat massa (mass density) dan Berat jenis (Specific weight)
Rapat massa/massa jenis benda-benda homogen biasa didefinisikan sebagai massa zat cair
tiap satuan volume yang disimbolkan dengan .

‘14
4 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Berat jenis didefinisikan sebagai berat per satuan volume, dengan simbol :

Suatu benda/fluida/gas akan memiliki berat jenis yang berbeda-beda tergantung dari
lokasinya. Di daerah yang memiliki gravitasi yang lebih kecil maka akan memiliki nilai berat
jenis yang lebih kecil, begitupun sebaliknya. Berikut nilai berat jenis fluida pada suhu 20oc.
Tabel 4 Berat Jenis () Fluida pada Suhu 20oc (Daugherty, Franzini, & Finnermore, 1985)

Fluida Berat Jenis ()


[kN/m3]
Carbon tetrachloride 15.6
Ethyl alcohol 7.76
Gasoline 6.6
Glycerin 12.3
Kerosene 7.9
Motor oil 8.5
Water 9.81

Rapat massa dan berat jenis digunakan dalam perhitungan tekanan dan gaya hidrostatis.

1.3.2 Rapat relatif (specific gravity)


Rapat relative didefinisikan sebagai perbandingan antara rapat massa zat dengan rapat
massa air.

Untuk air: 10 ⁄ , 10 9.81 10 ⁄ → 1

1.3.3 Fluida Ideal


Fluida ideal didefinisakan sebagai fluida yang tidak memiliki gesekan, dimana viskositasnya
adalah nol. Sedangakan fluida real, baik gas atau zat cair, gaya tangensial dan geser selalu
ada dalam setiap pergerakan fluida yang menyebabkan kenaikan gaya gesek fluida. Gaya
gesek berlawanan dengan pergerakan partikel satu ke lainnya. Gaya gesek ini diakibatkan
adanya parameter fluida yang dinamakan viskositas.

1.3.4 Kekentalan kinematik (Viscosity)


viskositas adalah sifat zat cair untuk melawan tegangan geser pada waktu
bergerak/mengalir. Sedangkan Viscosity () adalah nilai ketahanan gesekan fluida.

‘14
5 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1.3.5 Compressibility dan Modulus Elastisitas Fluida
Semua fluida adalah kompresibel dan ketika gaya dihilangkan maka fluida tersebut kembali
ke volume awal.
, ⁄



Air dengan modulus 2.1x109 N/m2 pada suhu 20oC adalah 100 kali lebih kompresibel
daripada baja, tetapi kondisi tersebut biasa dianggap sebagai incompresibel.
Tabel 5 Sifat-sifat Air Pada Tekanan Atmosfer (Triatmodjo, 1996)

‘14
6 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2 SOAL DAN PENYELESAIAN
Soal 1:
Rapat massa oli pada suhu 20oC adalah 850 kg/m3.Tentukan rapat relative dan kekentalan
viskositas jika kekentalan dinamiknya adalah 5x10-3 kg/ms.
Solusi:
850
, 0.85
10
5 ∙ 10
, 5.88 10 ⁄
850

Soal 2:
Pada kedalaman 8.5 Km di bawah permukaan laut, tekanannya adalah 90 MN/m2. Berat
jenis air laut pada permukaan adalah 10.2 kN/m3 dan rata-rata modulus elatisitasnya adalah
2.4x106 kN/m2. Tentukan [a] perubahan volume, [b] spesific volume, dan [c] berat jenis air
laut pada kedalaman 8.5 Km.
Solusi:
[a] Perubahan volume
90 ⁄ 9 10 ⁄
2.4 10 ⁄
9 ∙ 10
→ ⁄ 3.75 ∙ 10
⁄ 2.4 ∙ 10
[b] Spesific volume
1 1
9.8 10 ⁄
10.2
[c] Berat jenis air laut pada kedalaman 8.5 Km
3.75 ∙ 10 9.8 ∙ 10 36.75 10 ⁄
9.8 ∙ 10 36.75 10 9.44 10 ⁄
1 1
10.6 ⁄
9.44 10

‘14
7 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
MODUL PERKULIAHAN

Mekanika Fluida
dan Hidraulika
Analisa Dimensi

02
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Teknik Perencanaan Teknik Sipil 11017 Gneis Setia Graha, ST., MT.
dan Desain

Abstract Kompetensi
Modul ini menjelaskan mengenai Mahasiswa mampu untuk menerangkan
prinsip dasar dalam analisis kehomogenan dimensional, menuliskan
dimensional, dimensi dan unit, semua besaran fisik dalam system MLT,
bilangan Buckingham, dan bilangan merumuskan sejumlah besaran yang
Rayleigh. saling terkait menjadi suatu bentuk
persamaan dengan metode Rayleigh
dan Buckingham.

‘14
1 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 2
1 ANALISA DIMENSI ........................................................................................................ 3
1.1 Kehomogenan Dimensi............................................ Error! Bookmark not defined.
1.2 Metode analisa dimensi .......................................................................................... 4
2 SOAL DAN PENYELESAIAN ......................................................................................... 7
3 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 8

‘14
2 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1 ANALISA DIMENSI
Bangunan hidrolis dapat direncanakan menggunakan (a) teoritis, (b) metode empiris, (c)
metode semi-empiris, (d) model fisik, dan (e) model matematik. Pada pekerjaan eskperimen,
analisis dimensi digunakan untuk mengetahui besaran-besaran yang tidak diketahui,
terutama dalam pekerjaan model fisik.
Analisa dimensi adalah teknik matematika yang berhubungan dengan dimensi dari suatu
besaran fisik. Besaran fisik dasar dinyatakan:
– gaya (F) – panjang (L) – waktu (T) → (force – length – time, FLT)
– massa (M) – panjang (L) – waktu (T) → (mass – length – time, MLT)
Besaran FLT dan MLT didasarkan oleh Hukum Newton II, dimana:

= → =

Besaran lain di luar besaran FLT dan MLT, merupakan besaran turunannya, contoh:
percepatan, kecepatan, dll. Besaran turunan ditunjukkan pada table berikut.
Tabel 1 Besaran Turunan

‘14
3 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1.1 Metode analisa dimensi

Tahapan analisa dimensi:


– Tentukan parameter fisik yang berpengaruh
– Kelompokkan parameter-parameter tersebut (dalam satuan tak berdimensi)

Bilangan Euler → =

→ =

→ =

→ =

→ =


→ =

– Analisa dimensi dapat menggunakan metode Rayleigh dan Buckingham

Metode analisa dimensi meliputi:


A. Metode Rayleigh
Metode Rayleigh → fungsi dari beberapa variable diberikan dalam bentuk
persamaan berpangkat yang harus mempunyai kesamaan dimensi.
Prosedur penulisan Metode Rayleigh:
1) Ditulis hubungan suatu fungsi dengan semua variabel yang berpengaruh.
2) Ditulis persamaan dimana variabel yang berpengaruh dipangkatkan dengan
a, b, d, … dan seterusnya.
3) Dibuat persamaan dengan menuliskan semua variabel dalam bentuk dimensi
dasar.
4) Berdasarkan prinsip analisa dimensi dicari nilai pangkat a, b, c, … dengan
menyelesaikan persamaan yang terbentuk secara simultan.
5) Subtitusikan nilai pangkat yang telah didapat pada persamaan utama.
Contoh Soal:
Tuliskan persamaan gaya hambat (FD) dari suatu bola, dengan parameter yang
berpengaruh diameter bola (D), kecepatan (v), rapat massa (), dan viskositas ().
Penyelesaian menggunakan system M-L-T.
Solusi:
1) = ( , , , )
2) =

‘14
4 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
C = konstanta

3) =

4) M: 1=c+d
c=1-d
L: 1=a+b-3c-d
1=a+(2-d)-3(1-d)-d
1=a-1+d
a=2-d
T: -2=-b-d
b=2-d
5) =

= ( )

Sehingga, = ( )

B. Metode Buckingham
Metode Buckingham → penyelesain analisa dimensi jika variabel yang berpengaruh
cukup banyak. Tahapan penggunaan theorema  Buckingham:
1) Tulis persamaan yang mengandung n variabel yang berpengaruh di dalam
permasalahan yang ditinjau.
2) Identifikasi variabel bebas.
3) Tentukan m variabel berulang dan tulis bentuk dari masing-masing nilai .
Setiap bentuk  terdiri dari variabel berulang dan satu variabel lain. Variabel
berulang ditulis dalam bentuk pangkat.
4) Dengan bantuan prinsip kesamaan dimensi dicari nilai a, b, c, … dengan cara
yang sama pada Metode Rayleigh.
5) Masukkan nilai-nilai pangkat tersebut pada persamaan.
6) Sesudah persamaan  ditentukan, tulis hubungan yang dicari.
Contoh Soal:
Tuliskan persamaan gaya hambat (FD) dari suatu bola, dengan parameter yang
berpengaruh diameter bola (D), kecepatan (v), rapat massa (), dan viskositas ().
Penyelesaian menggunakan system M-L-T.
Solusi:
1) ( , , , , )=0

‘14
5 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2) n=5, m=3, =n-m=2
3) ( , ) = 0, variable berulang = , D, v
=
=
4) Penyelesaian 1

M: 0=a+d → a=-d
L: 0=-3a+b+c-d
0=3d+b-d-d → b=-d
T: 0=-c-d → c=-d
=

= → =

Penyelesaian 2

M: 0=a+d → a=-d
L: 0=-3a+b+c+d
0=3d+b-2d+d → b=-2d
T: 0=-c-2d → c=-2d
=

5) ( , )=0→ ( )=

= ( )

Sehingga, = ( )

‘14
6 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2 SOAL DAN PENYELESAIAN
Soal 1:
Tentukan dimensi dari besaran gaya (F), tekanan (p), tenaga (P), dan berat jenis ().
Gunakan system MLT.
Solusi:
a) =

= = = =
( )
b)

= = =

c) =

= =

d) =

= = =

Soal 2:
Tentukan dimensi dari besaran gaya (F), tekanan (p), tenaga (P), dan berat jenis ().
Gunakan system FLT.
Solusi:
a) =
=

= = =

b) =

= = =

c) =

= =

d) =

= = =

‘14
7 Mekanika Fluida dan Hidraulika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
MODUL PERKULIAHAN

Mekanika Fluida
dan Hidrolika
Gaya Tekanan Pada Fluida
Diam

03
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Teknik Perencanaan Teknik Sipil 11017 Gneis Setia Graha, ST., MT.
dan Desain

Abstract Kompetensi
Modul ini menjelaskan mengenai Mahasiswa mampu menuliskan
konsep tekanan pada fluida diam, persamaan dasar statika fluida,
pengenalan tekanan hisrostatis, dan menghitung tekanan di satu titik,
macam manometer. menjelaskan aplikasi Hukum Pascal,
macam manometer dengan prinsip
kerjanya.

‘13
1 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 2
1 FLUIDA DIAM ................................................................................................................ 3
1.1 Tekanan pada Suatu Titik ....................................................................................... 3
1.2 Distribusi Tekanan Pada Zat Cair Diam .................................................................. 5
1.3 Tekanan Atmosfer, Relatif, Absolut ......................................................................... 6
1.4 Tekanan dinyatakan dalam tinggi zat cair ............................................................... 8
1.5 Manometer ............................................................................................................. 9
1.5.1 Bidang dengan tekanan yang sama ................................................................. 9
1.5.2 Piezometer ...................................................................................................... 9
1.5.3 Manometer tabung U ..................................................................................... 11
1.5.4 Manometer diferensial ................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 14

‘13
2 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1 FLUIDA DIAM
Fluida dalam kondisi diam tidak memiliki tegangan geser dan hanya terdapat tekanan
normal. Tekanan fluida pada kondisi diam disebut tekanan hidrostatis. Tekanan didefinisikan
sebagai jumlah gaya pada tiap satuan luas. Tekanan memiliki arah gaya tegak lurus dengan
bidang yang ditinjau. Formula tekanan adalah:

dengan:
p = tekanan [N/m2]
F = gaya [N]
A = luas [m2]
Untuk lebih memahami tekanan dan gaya dalam suatu bidang, berikut diberikan ilustrasi dari
tekanan yang bekerja pada suatu plat.

Apabila di atas plat diberikan gaya F, maka


plat akan memberikan tekanan ke lantai
sebesar .

Apabila suatu benda dengan berat W dan


tampang lintang A, maka akan memberikan
tekanan pada lantai sebesar .

1.1 Tekanan pada Suatu Titik

Konsep umum dari tekanan adalah tekanan pada suatu titik di dalam zat cair pada kondisi
diam adalah sama dalam segara arah. Untuk membuktikan konsep tersebut, maka
dilakukan penurunan rumus tekanan dengan mengambil asumsi suatu elemen zat cair yang
berbentuk prisma segitiga. (Triatmodjo, 1996)

‘13
3 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 1 Elemen Zat Cair Diam(Triatmodjo, 1996)

cos

sin

Berat prisma segitiga zat cair:

1
2 2

Gaya tekanan yang bekerja pada permukaan:


1

Persamaan kesetimbangan untuk arah x:


sin

sin

sin sin

Persamaan kesetimbangan untuk arah y:


cos 0

cos 0
2

cos cos cos 0


2
1
0
2

karena dy mendekati nol, maka:

‘13
4 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tekanan dalam berbagai arah yang bekerja pada
suatu titik dalam zat cair diam adalah sama.

1.2 Distribusi Tekanan Pada Zat Cair Diam

Zat cair yang memiliki kedalaman yang sama, berat jenis zat cair yang sama, dan luas dasar
yang sama; maka akan memiliki tekanan yang sama.

Gambar 2 Tangki Berisi Zat Cair(Triatmodjo, 1996)

Berat zat cair di atas dasar:

Tekanan yang bekerja pada masing-masing dasar tangki:

sehingga,

Dari ketiga tabung di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tekanan berubah terhadap
perbedaan ketinggian. Secara umum persamaan tekanan hidrostatis adalah:

dimana:

‘13
5 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
p = tekanan
h = kedalaman zat cair [m]
 = berat jenis zat cair
 = rapat massa zat cair
Apabila di atas permukaan zat cair terdapat tekanan po, maka tekanan yang bekerja pada
tangki menjadi:

Berikut ilustrasi tekanan hidrostatis pada beberapa tabung yang berbentuk berbeda tetapi
memiliki luas dasar dan kedalaman air yang sama. Sehingga ke empat tabung ini memiliki
tekanan yang sama:

Gambar 3 Distribusi Tekanan pada Dinding dan Dasar Tangki (Triatmodjo, 1996)

1.3 Tekanan Atmosfer, Relatif, Absolut

 Tekanan atmosfer (atmospheric pressure) dapat disebut juga sebagai tekanan


barometik dan nilainya akan bervariasi terhadap ketinggian (diukur dari muka air

‘13
6 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
laut). Tekanan terukur pada permukaan air laut disebut tekanan 1 atm, konversi
satuan tekanan 1 atm adalah (Atmospher (unit)):
≡1.013 25 bar
≡ 101325 pascal (Pa) or 101.325 kilopascal (kPa)
≡ 1013.25 millibars (mbar, also mb)
≈ 760.001 mm-Hg, 0 °C (air raksa)
 Tekanan relatif/terukur (gage pressure) adalah tekanan yang diukur berdasarkan
tekanan atmosfer sebagai dasarnya. Jika tekanan di bawah tekanan atmosfer,
makan akan disebut sebagai tekanan terukur negatif (vakum).

Gambar 4 Gage Pressure

 Tekanan absolut (absolute pressure) adalah tekanan yang diukur relatif terhadap
tekanan nol absolut. Tekanan absolut akan selalu bernilai positif, karena jika bernilai
negatif mengindikasi adanya tarik, yang mana secara normal tidak mungkin terjadi
pada jenis fluida manapun.

dimana:
pabs = Tekanan absolut (absolute pressure)
patm = Tekanan atmosfer (atmospheric pressure)
pgage = Tekanan relatif/terukur (gage pressure)

‘13
7 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 5 Tekanan Atmosfer, Relatif, dan Absolut (Triatmodjo, 1996)

1.4 Tekanan dinyatakan dalam tinggi zat cair

Tekanan zat cair pada suatu titik dengan kedalaman h adalah:

Persamaan di atas dapat ditulis:

Parameter h adalah penting di dalam mekanika fluida dan hidraulika, yang disebut dengan
tinggi tekanan. Tinggi tekanan h menunjukkan kedalaman zat cair yang diperlukan oleh zat
cair dengan berat jenis  untuk menghasilkan tekanan p.

Gambar 6 Venturimeter

‘13
8 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1.5 Manometer

Manometer adalah alat untuk mengukur perbedaan tekanan. Prinsip manometer adalah
apabila zat cair dalam kondisi seimbang, maka tekanan di setiap titik pada bidang horizontal
untuk zat cair homogen adalah sama. Terdapat beberapa macam manometer, diantaranya:

1.5.1 Bidang dengan tekanan yang sama


Tekanan hidrostatis pada suatu titik di dalam zat cair tergantung pada jarak vertikal dari
permukaan zat cair ke titik tersebut. Tekanan pada semua titik terletak pada bidang
horizontal yang terendam di dalam zat cair mempunyai tekanan yang sama. Berikut ilustrasi
untuk tekanan dalam bidang horizontal yang sama

Gambar 7 Tekanan Hidrostatis pada Tangki

1.5.2 Piezometer
Piezometer adalah alat ukur sederhana untuk mengukur tekanan dari fluida. Piezometer
terdiri atas tabung, yang mana zat cair di dalam tabung dapat naik bebas tanpa overflowing.
Ketinggian zat cair pada tabung akan langsung memberikan nilai tinggi tekan. Keterbatasan
penggunaan Piezometer adalah pengukuran untuk zat cair dalam kondisi tekanan tinggi dan
tidak dapat digunakan dengan gas. Berikut gambar dari piezometer.

Gambar 8 Piezometer

Contoh soal:

‘13
9 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1) Glycerin (S=1.26) berasa di dalam pipa yang dihubungan dengan piezometer seperti
terlihat pada gambar di atas. Hitung tekanan di A?
1.26
62.4 ⁄

40.8
1.26 62.4 267.32 ⁄
12
2) Tangki terbuka dengan dua buah piezometer ditempatkan pada sisinya, berisi dua
macam zat cair yang tidak bisa tercampur. Berapakah elevasi permukaan zat cair
pada piezometer A dan B. Hitung pula tekanan pada dinding dan dasar tangki.

Tekanan pada titik A:


0.72
→ 0.72 1000 720 ⁄

720 9.81 2 0.3 12007.4 ⁄ 12007.4 12


Tinggi zat cair B:

‘13
10 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2.36 → 2.36 1000 2360 ⁄

12007.4
0.5186
2360 9.81
Jadi elevasi zat cair B di dalam piezometer B adalah:
0.3 0.5186 0.8186
Tekanan hidrostatis pada dinding dan dasar tangki.
Tekanan pda dinding:
0
720 9.81 2 0.3 12007.4 12
2007.4 2.36 9.81 0.3 18952.9 18.9529
Tekanan pada dasar:
18.9529

1.5.3 Manometer tabung U


Manometer tabung U merupakan manometer yang terdiri dari tabung kaca yang
dihubungkan dengan pipa yang akan diukur tekanannya. Manometer U dapat digunakan
untuk mengukur tekanan tinggi, dimana Piezometer tidak dapat mengukurnya. Dalam
mengukur tinggi tekan, manometer tabung U menggunakan persamaan berikut.

Kondisi 1

‘13
11 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 9 Open-end Manometer(for measuring ⁄ in liquids or gases) (Daugherty, Franzini, & Finnermore, 1985)

Kondisi 2

Kondisi 3

Gambar 10 Negative-pressure Manometer (Daugherty, Franzini, & Finnermore, 1985)

Contoh soal:
Sebuah manometer tabung U dihubungkan ke sebuah tabung pipa, seperti terlihat pada
gambar berikut. Hitung tekanan pada titik A.

‘13
12 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3

20 15
5 15 15
62.4 13.6 62.4 0
12 12
957 ⁄

1.5.4 Manometer diferensial


Pada beberapa kasus jika perbedaan antara dua tekanan diinginkan, maka untuk kebutuhan
ini dapat digunakan manometer diferensial.

‘13
13 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
MODUL PERKULIAHAN

Mekanika Fluida
dan Hidrolika
Gaya Tekanan Pada Bidang
Datar, Miring, dan Lengkung

04
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Teknik Perencanaan Teknik Sipil 11017 Gneis Setia Graha, ST., MT.
dan Desain

Abstract Kompetensi
Modul ini menjelaskan mengenai Mahasiswa mampu menghitung
aplikasi tekanan hidrostatis pada pintu tekanan hidrostatis yang terjadi pada
terendam dan permukaan lengkung. bangunan air.

‘13
1 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 2
1 GAYA TEKANAN PADA BIDANG TERENDAM ............................................................. 3
1.1 Bidang Datar ........................................................................................................... 3
1.2 Bidang Miring .......................................................................................................... 4
1.3 Bidang Lengkung .................................................................................................... 7
2 CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN ........................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 9

‘13
2 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1 GAYA TEKANAN PADA BIDANG
TERENDAM
Tekanan pada fluida adalah rasio antara gaya normal dan luas bidang dimana gaya tersebut
bekerja.

∙ ∙
Dimana :
p = tekanan hidrostatis
F = gaya hidrostatis
A = luas bidang tekanan
γ = massa jenis fluida

1.1 Bidang Datar

Distribusi tekanan hidrostatis adalah sebagai berikut:



∙ ∙
Distribusi tekanan biasa disebut distribusi tekanan segitiga, dapat dilihat pada gambar
berikut:

Gambar 1 Gaya dan Tekanan pada Bidang Datar

‘13
3 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dimana :
hc = jarak vertical antara pusat berat benda (centroid) dan permukaan zat cair
hp = jarak vertical antara pusat tekanan dan permukaan zat cair

1.2 Bidang Miring

 Gaya Hidrostatis pada Benda Miring


∙ ∙
Dimana : sin
sin ∙ ∙

sin sin

Dimana : , momen statis bidang A


sin

 Jarak Pusat Tekanan pada Benda Miring

sin sin

sin

sin sin

Dimana :
p = tekanan hidrostatis
F = gaya hidrostatis
A = luas bidang tekanan

= momen inersia bidang A terhadap sumbu x yang diberi notasi I


= momen inersia bidang A terhadap sumbu x yang diberi notasi S
hc = jarak vertical antara pusat berat benda bidang (centroid) dan permukaan
zat cair

‘13
4 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
yc = jarak searah bidang antara pusat berat bidang dan permukaan zat cair
yp = jarak searah bidang antara pusat tekanan dan permukaan zat cair
Io = momen inersia bidang A terhadap sumbu yang melalui pusat berat bidang

Gambar 2 Gaya dan Tekanan pada Bidang Miring (Daugherty, Franzini, & Finnermore, 1985)

Nilai momen inersia untuk beberapa penampang dapat dilihat pada table berikut:

‘13
5 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tabel 1 Momen Inersia Berbagai Penampang (TutorialCAD.Net, n.d.)

‘13
6 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1.3 Bidang Lengkung

Gaya tekanan pada bidang lengkung dapat ditentukan dengan membagi gaya menjadi
komponen horizontal dan vertical.
Komponen gaya pada arah sumbu x adalah :
sin ∙ ∙ ∙ ∙ ∙ ∙ sin ∙

2
Komponen gaya pada arah sumbu z adalah :
cos ∙ ∙ ∙ ∙ ∙ ∙ cos ∙

Berikut gambar diagram gaya dan tekanan pada bidang lengkung:

Gambar 3 Gaya dan Tekanan pada Bidang Lengkung (Pasche, 2009)

‘13
7 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2 CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN
Soal – Gaya dan tekanan pada benda datar:
Vertical wall terendam air pada kedua sisinya, h1 = 4 m dan h2 = 2 m. Hitung resultan gaya?

Solusi:
 Gaya Hidrostatis:
1
2
1 1
4 1000 9.81 4 1 78.48
2 2
1 1
2 1000 9.81 2 1 19.62
2 2
 Keseimbangan resultant gaya R:

0→ 58.86

 Keseimbangan momen pada ujung pintu:

1 1
4 2
3 3
4 2 4 2
3 3 78.48 3 19.62 3 1.56

‘13
8 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
MODUL PERKULIAHAN

Mekanika Fluida
dan Hidrolika
Kesetimbangan Benda
Terapung

05
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Teknik Perencanaan Teknik Sipil 11017 Gneis Setia Graha, ST., MT.
dan Desain

Abstract Kompetensi
Modul ini menjelaskan mengenai Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip
prinsip kesetimbangan benda kesetimbangan benda terapung
terapung; komponen kesetimbangan berdasarkan prinsip statika fluida.
benda terapung pada benda terapung;
melayang, dan tenggelam; dan
stabilitas benda terapung, melayang,
dan tenggelam.

‘13
1 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 2
1 GAYA PADA BENDA TERAPUNG ................................................................................ 3
1.1 Formula .................................................................................................................. 4
2 STABILITAS BENDA TERENDAM DAN TERAPUNG ................................................... 4
2.1 Benda Terendam .................................................................................................... 4
2.2 Benda Terapung ..................................................................................................... 5
2.3 Titik Metasentrum ................................................................................................... 5
2.3.1 Formula ........................................................................................................... 6
3 CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN ........................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 9

‘13
2 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1 GAYA PADA BENDA TERAPUNG
Hukum Archimedes menyatakan bahwa benda yang terapung atau terendam dalam zat cair
akan mengalami gaya apung yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan
benda tersebut.
Mengacu ke Hukum Archimedes maka gaya-gaya pada benda terapung, sebagai berikut:
• Fx = Gaya horizontal
Gaya horizontal sama dan berlawanan arah sehingga benda tidak bergerak dalam
arah horizontal
• Fd = Berat zat cair di atas permukaan benda
Berat volume zat cair ABCDEA
• Fu = Gaya tekanan ke atas
• FB = Gaya apung, Fu – Fd
Berat zat cair yang dipindahkan oleh benda
• FG = Gaya berat

Gambar 1 Gaya-gaya pada Benda Terapung (Triatmodjo, 1996)

Jika,
 FB > FG, Benda akan naik ke atas permukaan zat cair sampai nilai FB = FG
 FB = FG, W = FB Benda akan terendam melayang
 FB < FG, benda akan turun ke bawah sampai ke dasar

Gambar 2 Benda Terapung (Triatmodjo, 1996)

‘13
3 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Keterangan:
G = pusat berat benda bidang (centroid)
B = pusat apung, pusat berat dari volume zat cair yang dipindahkan
d = draft, kedalaman benda yang terendam

1.1 Formula

Formula yang digunakan pada benda terapung, sebagai berikut:

Dimana :
FB = Gaya apung
Fd = Berat zat cair di atas permukaan benda
Fu = Gaya tekanan ke atas
V = volume air yang dipindahkan
B = lebar benda terapung
L = panjang benda terapung
d = draft
γ = massa jenis fluida

2 STABILITAS BENDA TERENDAM


DAN TERAPUNG
2.1 Benda Terendam

Benda terendam di bawah permukaan zat cair dapat berada dalam tiga kondisi:
1. Keseimbangan stabil
Pusat berat (G) berada di bawah pusat apung (B), lihat Gambar 3a. Apabila benda
dimiringkan sedikit maka gaya apung dan gaya berat akan membentuk momen kopel
yang berusaha untuk mengembalikan benda pada kedudukan semula.
2. Keseimbangan tidak stabil
Pusat apung (B) berada di bawah pusat berat (G), lihat Gambar 3b. Gaya apung dan
gaya berat akan membentuk momen kopel yang berusaha memutar benda sehingga
pusat berat (G) berada di bawah pusat apung (B).
3. Keseimbangan Netral
Pusat apung (B) berimpit dengan pusat berat (G), lihat Gambar 3c.

‘13
4 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 3 Stabilitas Benda Terendam (Triatmodjo, 1996)

2.2 Benda Terapung

Benda terapung dalam keadaan stabil, jika:


 Pusat berat (G) berada di bawah pusat apung (B).
 Pusat apung (B) berada di bawah pusat berat (G), dengan kondisi tertentu yang
ditentukan oleh posisi titik metasentrum.

2.3 Titik Metasentrum

Titik metasentrum adalah titik potong antara garis vertical melalui B dan perpanjangan garis
BG. Tinggi metasentrum merupakan jarak MG, lihat Gambar 4. Titik metasentrum digunakan
sebagai dasar dalam menentukan stabilitas benda terapung.
 Jika MG negatif, maka benda tidak stabil
 Jika MG positif, maka benda akan stabil

Gambar 4 Stabilitas Benda Terapung (Triatmodjo, 1996)

‘13
5 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tinggi metasentrum sangat penting dalam perencanaan kapal, ponton, pelampung
penambat kapal, dan sebagainya.

2.3.1 Formula
 Momen kopel yang terjadi:
tan
tan tan

tan

tan
Dimana : , nilai momen inersia dapat dilihat pada Tabel 1.
 Momen yang ditimbulkan oleh gaya apung terhadap sumbu simetris adalah
(lihat Gambar 4):
sin
sin
tan sin
Untuk nilai α sangat kecil, sehingga tan α dan sin α dapat diabaikan

Dimana:
BM = jarak titik apung (B) ke titik metasentrum (M)
Io = momen inersia
V = volume air yang dipindahkan
 Tinggi metasentrum:

Dimana:
GM = titik metasentrum
BG = jarak titik apung (B) ke titik berat (G)

‘13
6 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Nilai momen inersia untuk beberapa penampang dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 1 Momen Inersia Berbagai Penampang (TutorialCAD.Net, n.d.)

‘13
7 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3 CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN
Soal 1:
Sebuah tongkang memiliki dimensi 10 m x 26.7 m x 3 m. Tongkang memiliki berat 4450 kN
ketika memuat muatan dan memiliki pusat berat 4 m dari dasarnya. Tongkang terendam
dalam air sedalam D.
1. Tentukan tinggi metasentrum?
2. Cek apakah tongkang dalam keadaan stabil?

Solusi:

9,8 10 ∙ 26,7 ∙ 4450
1,702
, 1⁄ 2 1⁄2 1,702 0,851
∙ . ∙
 , ∙ ∙ ,
4,896

4 0,851 3,149
 , 4,896 3,149
1,747

‘13
8 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
MODUL PERKULIAHAN

Mekanika Fluida
dan Hidrolika
Kinematika Fluida

06
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Teknik Perencanaan Teknik Sipil 11017 Gneis Setia Graha, ST., MT.
dan Desain

Abstract Kompetensi
Modul ini menjelaskan mengenai Mahasiswa mampu menjelaskan
kinematika fluida, jenis aliran property prinsip-prinsip kinematika secara umum
fluida, dan persamaan kontinuitas. dan kinematika pada fluida serta
perilaku muka air terhadap gaya
hidrostatik.

‘13
1 Mekanika FLuida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .......................................................................................................................... 2
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................... 3
BAB 1 GARIS ARUS (STREAMLINES) ............................................................................. 4
BAB 2 JENIS ALIRAN........................................................................................................ 4
2.1 Aliran Laminar dan Turbulen ................................................................................... 6
2.2 Aliran Subkritis,kritis, dan Aliran Superkritis ............................................................ 7
2.3 Aliran Langgeng (Steady Flow) dan Aliran Tidak Langgeng (Unsteady Flow) ......... 9
BAB 3 FLOW PROPERTIES ........................................................................................... 11
3.1 Debit Aliran ........................................................................................................... 11
3.2 Kecepatan Aliran .................................................................................................. 11
3.3 Percepatan Partikel Zat Cair ................................................................................. 12
BAB 4 PERSAMAAN KONTINUITAS .............................................................................. 13
4.1 Rumus Kontinuitas ................................................................................................ 13
4.2 Aplikasi Persamaan Kontinuitas pada Pipa Bercabang ......................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 15

‘13
2 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Garis Arus (Streamline) (Triatmodjo, 1996) .......................................................... 4
Gambar 2 Diagram Kecepatan Aliran 1-dimensi, 2-dimensi, dan 3-dimensi (Triatmodjo,
1996) .................................................................................................................................... 5
Gambar 3 Klasifikasi Aliran Langgeng (Steady Flow) (Yudianto, 2005) ................................. 6
Gambar 4 Aliran Laminar (Pasche, 2009) ............................................................................. 6
Gambar 5 Aliran Turbulen (Pasche, 2009) ............................................................................ 7
Gambar 6 Aliran seragam (steady uniform flow) (Yudianto, 2005) ........................................ 9
Gambar 7 Aliran Berubah (Steady Varied Flow) (Yudianto, 2005)....................................... 10
Gambar 8 Aliran seragam tidak langgeng (unsteady uniform flow) (Yudianto, 2005)........... 10
Gambar 9 Aliran berubah tidak langgeng (unsteady varied flow) (Yudianto, 2005) ............. 10
Gambar 10 Diagram Kecepatan pada Zat Cair Ideal ........................................................... 11
Gambar 11 Diagram Kecepatan Aliran Melalui Pipa ........................................................... 11
Gambar 12 Diagram Kecepatan Aliran Melalui Saluran Terbuka ........................................ 12
Gambar 13 Lintasan Gerak Partikel Zat Cair (Triatmodjo, 1996) ......................................... 12
Gambar 14 Tabung Aliran dengan Prinsip Persamaan Kontinuitas ..................................... 13
Gambar 15 Persamaan Kontinuitas pada Pipa Bercabang (Triatmodjo, 1996) .................... 14

‘13
3 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
BAB 1 GARIS ARUS (STREAMLINES)
Garis arus (streamline) adalah kurva khayal yang ditarik didalam aliran zat cair untuk
menunjukan arah gerak di berbagai titik dalam aliran, dengan mengabaikan fluktuasi
sekunder yang terjadi akibat turbulensi. Garis arus tidak akan saling berpotongan atau
bertemu.

Gambar 1 Garis Arus (Streamline) (Triatmodjo, 1996)

BAB 2 JENIS ALIRAN


Klasifikasi dari jenis aliran:
1. Aliran saluran tertutup dan aliran saluran terbuka
Aliran saluran tertutup adalah aliran air bertekanan yang penampangnya terisi
penuh oleh air dan tidak diijinkan udara masuk. Contoh: aliran pipa.
Aliran saluran terbuka adalah aliran pada suatu penampang yang terbuka terhadap
udara. Contoh: aliran sungai.

2. One-dimensional, two-dimensional, and three-dimensional flow (aliran satu dimensi,


dua dimensi, dan tiga dimensi)
Aliran satu dimensi adalah kecepatan aliran berubah terhadap arah aliran. Aliran
dua dimensi adalah kecepatan aliran berubah terhadap arah aliran dan arah tegak
lurus aliran. Aliran tiga dimensi adalah aliran berubah terhadap arah aliran pada
sumbu x, y, dan z.

‘13
4 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 2 Diagram Kecepatan Aliran 1-dimensi, 2-dimensi, dan 3-dimensi (Triatmodjo, 1996)

3. Aliran invisid (zat cair ideal) dan aliran viskos


Aliran invisid (zat cair ideal) adalah aliran dimana kekentalan zat cair () dianggap
nol.
Aliran viskos adalah aliran dimana kekentalan zat cair () diperhitungkan
4. Aliran kompresibel dan tak kompresibel
Kompresibel adalah rapat massa suatu zat berubah dengan perubahan tekanan.
Sedangkan tak kompresibel, jika rapat massa suatu zat adalah konstan.
5. Pressure flow dan gravity flow
Pressure flow diartikan sebagai aliran terjadi di bawah tekanan, contoh: aliran pada
pipa. Gravity flow adalah aliran yang bergerak secara gravitasi dan terjadi pada
aliran dengan permukaan atmosfer.
6. Aliran laminar dan turbulen
Pembahasan lebih lanjut pada sub-bab 2.1.
7. Aliran subkritis dan superkritis
Pembahasan lebih lanjut pada sub-bab 2.2.
8. Aliran langgeng (steady flow) dan aliran tidak langgeng (unsteady flow)
a. Aliran seragam (uniform flow) dan aliran berubah (varied flow)
Pembahasan lebih lanjut pada sub-bab 2.3.

‘13
5 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 3 Klasifikasi Aliran Langgeng (Steady Flow) (Yudianto, 2005)

2.1 Aliran Laminar dan Turbulen

Pada tahun 1883, Osborne reynolds membuat percobaan "Reynold's color-thread-


experiment". Pada percobaan tersebut diperoleh dua kondisi aliran, yaitu kondisi aliran
laminar dan turbulen.
1. Aliran laminar (laminar flow)
Pada kondisi ini, molekul (tinta) mengalir menjadi lapisan dan ahirnya
bercampur karena adanya difusi antar molekul dan bukan karena gerak
aliran.

Gambar 4 Aliran Laminar (Pasche, 2009)

2. Aliran turbulen (turbulent flow)


Pada kondisi ini, arus mengalami pergerakan fluktuatif yang tidak beraturan, yang
menyebabkan percampuran antar molekul.

‘13
6 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 5 Aliran Turbulen (Pasche, 2009)

Klasifikasi aliran di atas didasarkan pada nilai bilangan Reynold, yang ditentukan oleh.


Dimana:
Re = bilangan Reynold
v = kecepatan (m/s)
D = diameter pipa (m)
 = viskositas aliran
Nilai kritis bilangan Reynold adalah Recritical = 2300, jika aliran memiliki:
 Re > Recritical, maka disebut aliran turbulen, sedangkan
 Re < Recritical, maka disebut aliran laminar.

2.2 Aliran Subkritis,kritis, dan Aliran Superkritis

Pada saluran terbuka, terdapat tiga kondisi aliran, yaitu aliran subkritis, kritis, dan superkritis.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kecepatan aliran (v) dan kecepatan rambat gelombang
(c).

Dimana:
Fr = bilangan froude
v = kecepatan aliran
c = kecepatan rambat gelombang
h = kedalaman aliran
Bilangan Froude merupakan bilangan non-dimensional untuk menunjukkan kondisi aliran
yang terjadi. Bilangan Froude tidak berlaku untuk saluran bertekanan.

‘13
7 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1. Kondisi Diam

2. Kondisi aliran subkritis


Jika aliran diasumsi memiliki kecepatan
(v), dimana kecepatan aliran tersebut
lebih kecil dari kecepatan perambatan
c0 gelombang air dangkal (v < c0).
Pada aliran subkritis, aliran dikontrol
dari hilir dan gangguan yang terjadi
akan menyebar ke arah hulu. Sehingga
aliran subkritis kerap menyebabkan
terjadinya efek aliran balik (backwater
effects).

3. Kondisi aliran superkritis


Pada aliran subkritis (v > c0), aliran
dikontrol dari hulu dan gangguan yang
terjadi akan menyebar ke arah hilir.

4. Kondisi aliran kritis

‘13
8 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Aliran transisi dari pergerakan aliran
subkritis menjadi aliran superkritis
ataupun sebaliknya. Pada kondisi
aliran kritis kecepatan aliran sama
dengan kecepatan rambat gelombang.
Gangguan yang terjadi pada
permukaan aliran akan tetap dalam
kondisi diam.

2.3 Aliran Langgeng (Steady Flow) dan Aliran Tidak Langgeng (Unsteady
Flow)

Sistem pembagian aliran pada saluran terbuka didasarkan pada perubahan kedalaman
aliran sesuai dengan ruang dan waktu, , .
1. Aliran langgeng (steady flow) terjadi pada saat kondisi aliran konstan, variabel
debit (Q), terhadap waktu.

Pada kondisi steady flow, kedalaman aliran tidak berubah atau dapat dianggap
konstan selama jangka waktu tertentu.
a. Aliran seragam (steady uniform flow)
Pada kondisi ini, kedalaman aliran sama pada setiap penampang sepanjang
saluran.

0 0

Gambar 6 Aliran seragam (steady uniform flow) (Yudianto, 2005)

b. Aliran berubah (steady varied flow)


Pada kondisi ini, kedalaman aliran berubah di sepanjang saluran tetapi tetap
sepanjang waktu yang ditinjau.
 Aliran berubah lambat laun (steady gradually varied flow)
Kedalaman aliran berubah-ubah di sepanjang saluran.

‘13
9 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
 Aliran berubah tiba-tiba (steady rapidly varied flow)
Kedalaman aliran mendadak berubah pada jarak yang cukup pendek.

Gambar 7 Aliran Berubah (Steady Varied Flow) (Yudianto, 2005)

2. Aliran tidak langgeng (unsteady flow) adalah kondisi aliran yang berubah
terhadap waktu.

Pada kondisi ini, kedalaman aliran berubah sesuai dengan perubahan waktu.
a. Aliran seragam tidak langgeng (unsteady uniform flow)
Kedalaman aliran berubah sesuai dengan waktu akan tetapi permukaan air
tetap sejajar dengan dasar saluran.

Gambar 8 Aliran seragam tidak langgeng (unsteady uniform flow) (Yudianto, 2005)

b. Aliran berubah tidak langgeng (unsteady varied flow)


Kedalaman aliran berubah sepanjang saluran dan berubah pula selama
jangka waktu tertentu.
 Aliran tidak langgeng berubah lambat laun (unsteady gradually varied
flow)
 Aliran tidak langgeng berubah tiba-tiba (steady rapidly varied flow)

Gambar 9 Aliran berubah tidak langgeng (unsteady varied flow) (Yudianto, 2005)

‘13
10 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
BAB 3 FLOW PROPERTIES
3.1 Debit Aliran

Debit aliran adalah jumlah zat cair yang melalui tampang lintang aliran tiap satu satuan
waktu dan berupa notasi Q. Debit aliran biasanya diukur dalam volume zat cair tiap satuan
waktu, sehingga satuannya adalah meter kubik/ detik (m3/d) atau satuan yang lain (liter /
detik, liter/menit, dan sebagainya) (Triatmodjo, 1996).
Apabila tampang aliran tegak lurus pada arah aliran adalah A, maka debit aliran diberikan
bentuk berikut :
/ /

3.2 Kecepatan Aliran

Untuk cairan ideal, dimana tidak terjadi gesekan, kecepatan aliran (v) adalah sama setiap
titik pada tampang lintang. Diagram kecepatan dapat dilihat pada hambar berikut.

Gambar 10 Diagram Kecepatan pada Zat Cair Ideal

Untuk zat cair riil, kecepatan pada dinding batas adalah nol, dan bertambah dengan jarak
dari dinding batas.
 Aliran melalui pipa, kecepatan maksimum terjadi di sumbu pipa.

Gambar 11 Diagram Kecepatan Aliran Melalui Pipa

 Aliran melalui saluran terbuka,

‘13
11 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 12 Diagram Kecepatan Aliran Melalui Saluran Terbuka

3.3 Percepatan Partikel Zat Cair

Percepatan Partikel zat cair didefinisikan sebagai laju perubahan kecepatan. Laju
perubahan tersebut bisa disebabkan oleh perubahan geometri medan aliran atau karena
perubahan waktu. Dan perubahan kecepatan karena adanya perubahan tampang aliran
disebut percepatan konveksi. Apabila tinggi muka air berubah (bertambah atau berkurang)
maka kecepatan aliran di suatu titik dalam curat akan berubah dengan waktu, yang berarti
aliran disuatu titik mengalami percepatan. Maka perubahan yang terjadi karena adanya
perubahan aliran menurut waktu disebut perubahan lokal.

Gambar 13 Lintasan Gerak Partikel Zat Cair (Triatmodjo, 1996)

Selama Gerak tersebut kecepatan partikel tidak konstan, tetapi berubah dengan waktu dan
ruang. Dapat di rumuskan sebagai berikut :
,
Percepatan partikel selama gerak tersebut adalah:
(1)

Diferensial dv ditulis dalam bentuk diferensial parsial:

(2)

‘13
12 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Subtitusi persamaan (2) ke dalam persamaan (1) dan karena v = ds/dt maka didapat:

dimana:
v = kecepatan partikel
/ = percepatan total yang terdiri dari
/ = percepatan lokal
/ = percepatan konveksi

BAB 4 PERSAMAAN KONTINUITAS


Hukum kontinuitas aliran zat cair adalah apabila zat cair tak kompresibel mengalir secara
kontinyu melalui pipa atau saluran terbuka, dengan tampang aliran konstan ataupun tidak
konstan, maka volume zat cair yang lewat tiap satuan waktu sama di semua tampang
(Triatmodjo, 1996).
Untuk aliran 1 dimensi dan steay flow, kecepatan rerata dan tampang lintang pada titik
1(inlet) dan 2 (oulet) adalah v1, A1 dan v2, A2. Ilustrasi dapat dilihat pada gambar berikut.

v1 v2

Gambar 14 Tabung Aliran dengan Prinsip Persamaan Kontinuitas

4.1 Rumus Kontinuitas

Prinsip dari penerapan rumus kontinuitas:


 Berdasarkan persamaan kontinuitas, debit aliran yang menuju titik cabang harus
sama dengan debit yang meninggalkan titik tersebut.

 Persamaan kontinuitas berlaku untuk zat cair tak kompresibel.

‘13
13 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
4.2 Aplikasi Persamaan Kontinuitas pada Pipa Bercabang

Berdasarkan persamaan kontunuitas, debit aliran yang menuju titik cabang harus sama
dengan debit yang meninggalkan titik tersebut.

Gambar 15 Persamaan Kontinuitas pada Pipa Bercabang (Triatmodjo, 1996)

Sehingga untuk gambar di atas berlaku persamaan berikut:

Biasanya debit aliran menuju titik cabang diberi tanda positif dan yang meninggalkan diberi
tanda negatif, sehingga jumlah aliran pada percabangan adalah nol.
0

‘13
14 Pemrograman Komputer
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
MODUL PERKULIAHAN

Mekanika Fluida
dan Hidrolika
KUMPULAN CONTOH SOAL
DAN PENYELESAIAN

07
Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh
Teknik Teknik Sipil 11017 Gneis Setia Graha, ST., MT.

Abstract Kompetensi
Modul ini menjelaskan mengenai soal Mahasiswa mampu menyelesaikan
dan penyelesaian untuk materi analisis soal untuk materi analisis dimensi,
dimensi, tekanan hidrostatis, dan tekanan hidrostatis, dan keseimbangan
keseimbangan gaya apung. gaya apung.

‘15
1 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 2
ANALISIS DIMENSI ................................................................................................................................... 3
FLUID STATIC ........................................................................................................................................... 4
GAYA TEKANAN PADA BIDANG TERENDAM ........................................................................................... 6
KESIMBANGAN BENDA TERAPUNG ........................................................................................................ 8

‘15
2 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
ANALISIS DIMENSI
SOAL 1:
Lakukan analisis dimensi menggunakan metode rayleigh dan buckingham dari kecepatan
perambatan gelombang di laut dalam (C). Analisis dilakukan dalam sistem M-L-T.
C = fungsi(,,)
dimana:
C = kecepatan perambatan gelombang
 = rapat massa
 = panjang gelombang
 = tegangan permukaan
JAWAB:
Metode Rayleigh
, ,

:0
:1 3
: 1 2
Sehingga,
1 1 1
, ,
2 2 2

‘15
3 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
FLUID STATIC
SOAL 2:
Sebuah Manometer mengubungkan sebuah pipa minyak dan pipa air. Tentukan perbedaan
tekanan antara pipa air dengan oli menggunakan pembacaan pada manometer. Sminyak =
0.86; SHg = 13.6; dan Sudara = diabaikan (Catatan: Satuan tinggi diubah ke dalam meter)

JAWAB:
9.8 1000 9800 ⁄ ; ;
Persamaan 1 →
0.04 0.08
Persamaan 2 →
0.06
Persamaan 3:
0.04 0.08 0.06
0.04 0.08 0.06
9800 0.04 13.6 9800 0.08 0.86 9800 0.06 9760 ⁄

‘15
4 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
SOAL 3:
Sebuah manometer dihubungkan ke tangki yang memiliki tiga jenis fluida. Berapakah tinggi
y pada kolom manometer yang berisi raksa? Sudara = diabaikan, Sminyak = 0.82 dan Sraksa =
13.6

JAWAB:
9.8 1000 9800 ⁄ ; ;
30 Kpa = 30000 N/m2
Persamaan 1 →
3 12
3 3
30000 0.82 9800 3 9800 3 13.6 9800
0.627

‘15
5 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
GAYA TEKANAN PADA BIDANG
TERENDAM
SOAL 5:
Vertical wall terendam air pada kedua sisinya, h1 = 4 m dan h2 = 2 m. Hitung resultan gaya?

JAWAB:
Gaya Hidrostatis:
1
2
Keseimbangan resultant gaya R:
1 1
4 1000 9.81 4 1 78.48
2 2
1 1
2 1000 9.81 2 1 19.62
2 2
0→ 58.86

SOAL 6:
Sebuah kolam dilengkapi dengan pintu berbentuk semicircular. Pintu akan terbuka jika tinggi
air dalam kolam terpenuhi. Hitung massa tuas untuk dapat menahan air setinggi ‘h’?
1. Hitung F
2. Hitung yp
3. Hitung MD = 0 → F*yp – m*g*a = 0
4. Jawaban dalam variabel

‘15
6 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
JAWAB:
• Gaya hidrostatis pada pintu:

sin
2
• Pusat gaya tekanan:
′ , ′ ′

• Jarak tekanan pada titik D terhadap pusat:


1

12 64

4
1
2
1 1
′ 12 64 1 12 32 1
1 2 2
2 4 4
1
12 32 1
2
4
• Keseimbangan momen pada titik D:

• Massa yang dibutuhkan agar pintu tertutup pada kedalaman air h:

0
2

sin
2

‘15
7 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
KESIMBANGAN BENDA TERAPUNG
SOAL 7:

Tentukan Vfoam?
JAWAB:

∙ 0,16 10 ∙ 24 ∙ 10 10 ∙ 10

10 0,16 14000

1422,7

SOAL 8:
Berapakah berat kapal tongkang, jika lebar kapal adalah 7m?

JAWAB:

‘15
8 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
9.8 7 14 2.4 2 2.4 2.4⁄2

2359

SOAL 9:
Sebuah tongkang memiliki dimensi 10 m x 26.7 m x 3 m. Tongkang memiliki berat 4450 kN
ketika memuat muatan dan memiliki pusat berat 4 m dari dasarnya. Tongkang terendam
dalam air sedalam D.
1. Tentukan tinggi metasentrum?
2. Cek apakah tongkang dalam keadaan stabil?

JAWAB:

9,8 10 ∙ 26,7 ∙ 4450

1,702

, 1⁄ 2 1⁄2 1,702 0,851

Pilihlah yang terkecil dari Iox dan Ioy

1 1
12 12 ∙ 26.7 ∙ 10 4,896
26,7 ∙ 10 ∙ 1,702

4 0,851 3,149

, 4,896 3,149
1,747

‘15
9 Mekanika Fluida dan Hidrolika
Gneis Setia Graha, ST., MT.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id