Anda di halaman 1dari 12

HIGEIA 2 (2) (2018)

HIGEIA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH


RESEARCH AND DEVELOPMENT
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia

KEJADIAN DEMAM TIFOID DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS


PAGIYANTEN

Farissa Ulfa , Oktia Woro Kasmini Handayani

Epidemiologi dan Biostatistik, Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat,


Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Kasus demam tifoid di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 yaitu sebanyak 11.387 kasus dan
Diterima Februari 2018 Puskesmas Pagiyanten merupakan salah satu puskesmas dengan jumlah kasus demam tifoid
Disetujui Maret 2018 tertinggi yaitu sebanyak 377 kasus. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 dan bertujuan untuk
Dipublikasikan April mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid di Puskesmas
2018 Pagiyanten Kabupaten Tegal. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi case control dengan
________________ sampel sebesar 43 kasus dan 43 kontrol. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner.
Keywords: Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil
Risk Factors, Typhoid yang didapatkan faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid meliputi kebiasaan
Fever, Habit makan di luar rumah (p-value=0,001), kebiasaan mencuci tangan sebelum makan (p-value=0,02),
____________________ kebiasaan mencuci tangan setelah BAB (p-value=0,04), kebiasaan mencuci bahan makanan mentah
(p-value=0,007), dan jamban sehat (p-value=0,04). Simpulan penelitian ini adalah terdapat
hubungan antara kebiasaan makan di luar rumah, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan,
kebiasaan mencuci tangan setelah BAB, kebiasaan mencuci bahan makanan mentah, dan jamban
sehat dengan kejadian demam tifoid di Puskesmas Pagiyanten Kabupaten Tegal.

Abstract
___________________________________________________________________
Typhoid fever in Tegal regency in 2016 were 11,387 cases, and Puskesmas Pagiyanten with the highest
number of cases of typhoid fever of 377 cases. The study was conducted in 2017 and it was purposed to
determine the factors associated with the incidence of typhoid fever in Puskesmas Pagiyanten Tegal regency.
The research used case control study with 43 cases and 43 controls. The instrument used a questionnaire. The
data were analyzed by univariate and bivariate using chi-square test. The results of factors related to the
occurrence of typhoid fever include eating habits outside the home (p-value=0.001), hand washing before eating
habits (p-value=0.02), hand washing habit after defecate (p-value=0.04), the habit of washing raw food (p-
value=0,007), and healthy latrines (p-value=0,04). The conclusion of this research there was a relationship
between eating habits outside the home, the habit of washing hands before eating, habit of washing hands after
defecate, the habit of washing raw food, and healthy latrines with the incidence of typhoid fever in Puskesmas
Pagiyanten Kabupaten Tegal.

© 2018 Universitas Negeri Semarang



Alamat korespondensi:
p ISSN 1475-362846
Gedung F5 Lantai 2 FIK Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229 e ISSN 1475-222656
E-mail: farissa1224@gmail.com

227
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

PENDAHULUAN mengalami kenaikan kasus dari tahun 2015


yaitu 165 kasus. Berdasarkan Profil Kesehatan
Demam tifoid adalah penyakit infeksi Kabupaten Tegal tahun 2015, jumlah penduduk
bakteri yang menyerang sistem pencernaan dengan akses sanitasi layak (jamban sehat)
manusia yang disebabkan oleh Salmonella typhi sebanyak 861.700 orang (62,1%), sedangkan
dengan gejala demam satu minggu atau lebih cakupan rumah sehat sebanyak 103.122 orang
disertai gangguan pada saluran pencernaan dan (31,6%) dan masih dibawah target nasional
dengan atau tanpa gangguan kesadaran yaitu sebesar 85%.
(Rampengan, 2007). Demam tifoid di negara Puskesmas Pagiyanten merupakan salah
maju terjadi mencapai 5.700 kasus setiap satu dari 10 puskesmas rawat inap yang ada di
tahunnya, sedangkan di negara berkembang Kabupaten Tegal. Pada tahun 2014 jumlah
demam tifoid mempengaruhi sekitar 21,5 juta pasien yang menderita demam tifoid dan
orang per tahun (CDC, 2013 dalam Batubuaya, dirawat inap di puskesmas tersebut sebanyak
2017). Secara global diperkirakan setiap 316 pasien. Pada tahun 2015 jumlah pasien
tahunnya terjadi sekitar 21 juta kasus dan rawat inap yang menderita demam tifoid
222.000 menyebabkan kematian. Demam tifoid mengalami peningkatan menjadi 370 pasien dan
menjadi penyebab utama terjadinya mortalitas kembali meningkat di tahun 2016 yaitu
dan morbiditas di negara-negara berpenghasilan sebanyak 377 pasien. Puskesmas tersebut
rendah dan menengah (WHO, 2016 dalam merupakan peringkat ke-5 puskesmas rawat
Batubuaya, 2017). Penelitian Sur (2007) yang inap dengan jumlah kasus suspek demam tifoid
dilakukan di Kolkata, India menyatakan bahwa tertinggi se-Kabupaten Tegal.
daerah dengan risiko tinggi terkena demam Berdasarkan studi pendahuluan yang
tifoid adalah daerah dengan status ekonomi dilakukan di Puskesmas Pagiyanten, sebanyak
rendah. 12 pasien yang menderita demam tifoid berada
Prevalensi demam tifoid di Indonesia pada kelompok umur 5-13 tahun yang terdiri
sebesar 1,60%, tertinggi terjadi pada kelompok dari 7 orang berjenis kelamin perempuan dan 5
usia 5–14 tahun, karena pada usia tersebut anak orang laki-laki. Selain itu didapatkan pula
kurang memperhatikan kebersihan diri serta sebesar 16,6% dari pasien mempunyai anggota
kebiasaan jajan sembarangan yang dapat keluarga yang sebelumnya pernah menderita
menyebabkan penularan penyakit demam tifoid. demam tifoid yang tinggal serumah, sebesar
Prevalensi menurut tempat tinggal paling 100% pasien mencuci alat makan dan minum
banyak di pedesaan dibandingkan perkotaaan, dengan sabun dan air mengalir, dan 58,3%
dengan pendidikan rendah dan dengan jumlah pasien menyimpan makanan atau hidangan
pengeluaran rumah tangga rendah (Depkes RI, dalam keadaan tertutup. Dilihat dari kebiasaan
2008). pasien, sebesar 50% dari pasien mempunyai
Prevalensi demam tifoid di Jawa Tengah kebiasaan mencuci tangan yang belum sesuai
sebesar 1,6%, dan tersebar di seluruh dengan langkah cuci tangan yang baik dan
Kabupaten/Kota dengan rentang 0,2 – 3,5% benar. Dari 12 pasien yang diwawancara
(Depkes RI, 2008). Menurut data SKDR didapatkan sebesar 83,3% mempunyai
(Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon), kebiasaan makan diluar rumah seperti warung,
sepanjang tahun 2016 di Jawa Tengah tercatat rumah makan, jajanan sekolah, ataupun
sebagai provinsi dengan kasus penyakit suspek pedagang keliling serta 33,3% dari pasien tidak
demam tifoid tertinggi yaitu sebanyak 244.071 mencuci bahan makanan mentah yang akan
kasus yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota. langsung dimakan. Hasil observasi mengenai
Dari data tersebut diperoleh Kabupaten Tegal sanitasi lingkungan meunjukkan bahwa sarana
menduduki peringkat ke-5 dengan suspek pembuangan tinja yang memenuhi syarat
demam tifoid tertinggi yaitu sebanyak 11.387 jamban sehat diperoleh sebesar 66,7% rumah
kasus yang tersebar di seluruh kecamatan, responden yang memenuhi syarat.

228
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

Penularan penyakit ini adalah melalui air dominan terjadinya demam tifoid adalah faktor
dan makanan yang terinfeksi Salmonella typhi. lingkungan dan faktor sumber pengolahan
Kuman Salmonella dapat bertahan lama dalam makanan. Selain itu penelitian Malau (2015),
makanan. Dengan adanya penularan tersebut Ramaningrum (2016) dan Nuruzzaman (2016)
dapat dipastikan higyene makanan dan higyene menyebutkan faktor risiko terjadinya demam
personal sangat berperan dalam masuknya tifoid pada anak antara lain umur responden,
bakteri ke dalam makanan (Kusuma, 2015). kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan
Demam tifoid dapat berakibat fatal jika tidak setelah buang air besar yang kurang baik,
dirawat. Penyakit ini dapat berlangsung selama kondisi kuku jari tangan yang kotor, sering jajan
tiga minggu sampai sebulan. Penyebab paling saat dirumah, membeli jajan di pedagang kaki
umum kematian akibat demam tifoid adalah lima, dan kemasan jajan yang terbuka.
perforasi usus atau perdarahan usus, yang Penelitian Pramitasari (2013) juga menyebutkan
selanjutnya menimbulkan peritonitis. Komplikasi beberapa faktor risiko yang berhubugan dengan
ini diramalkan terjadi pada 5% pasien, rata-rata kejadian demam tifoid antara lain adalah jenis
pada hari ke-21 sejak awal penyakit, dengan kelamin laki-laki lebih berisiko daripada
angka kematian kasus 45%. Demam tifoid yang perempuan dengan hasil OR sebanyak 3,84,
berupa syok septik atau komplikasinya berupa selain itu sumber air bersih yang digunakan
koma, juga mempunyai angka kematian tinggi, berasal dari air sumur berisiko sebesar
pasien sering meninggal dalam 3 minggu OR=2,25.
pertama (Tjipto, 2009). Berdasarkan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
yang dilakukan Parry (2014) menyatakan bahwa mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dari 581 orang di Vietnam yang menderita dengan kejadian demam tifoid di Puskesmas
demam tifoid terdapat 90 orang (15,5%) Pagiyanten Kabupaten Tegal.
mengalami komplikasi diantaranya perdarahan
gastrointestinal (43; 7,4%); Hepatitis (29; 5,0%); METODE
Ensefalopati (16; 2,8%); Miokarditis (12; 2,1%);
Perforasi usus (6; 1,0%); Syok hemodinamik (5; Jenis penelitian yang digunakan dalam
0,9%), dan kematian (3; 0,5%). penelitian ini adalah analitik observasional
Terjadinya peningkatan jumlah kasus dengan desain penelitian case-control. Variabel
demam tifoid disebabkan karena demam tifoid bebas dalam penelitian ini adalah adalah umur
merupakan penyakit yang multifaktorial artinya responden, jenis kelamin, keadaan sosial
banyak faktor yang dapat memicu terjadinya ekonomi, kebiasaan makan di luar rumah,
demam tifoid antara lain umur, jenis kelamin, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan,
pendidikan, pekerjaan, sanitasi lingkungan, kebiasaan mencuci tangan setelah buang air
personal hygiene, serta tempat tinggal si penderita besar, kebiasaan mencuci bahan makanan
yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit mentah yang akan dimakan langsung, riwayat
tersebut (Ruztam, 2012). Penelitian yang keluarga yang menderita tifoid, dan sarana
dilakukan Maghfiroh (2016) dan Batubuaya pembuangan tinja (jamban sehat). Variabel
(2017) menyebutkan bahwa faktor yang terikat dalam penelitian ini adalah kejadian
berhubungan dengan kejadian demam tifoid demam tifoid. Variabel perancu dalam
antara lain praktik cuci tangan sebelum makan, penelitian ini adalah riwayat demam tifoid
praktik cuci tangan setelah buang air besar, pasien yang dikendalikan dengan cara retriksi.
kondisi tempat pembuangan sampah, Responden yang dipilih untuk sampel penelitian
pengolahan makanan, kebiasaan makan di luar adalah responden yang tidak memiliki riwayat
rumah, pekerjaan responden, dan tingkat demam tifoid sebelumnya (kasus baru).
pendapatan kepala keluarga. Sedangkan Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja
penelitian yang dilakukan oleh Nadyah (2014) Puskesmas Pagiyanten Kabupaten Tegal dari
menyebutkan bahwa faktor risiko paling tanggal 3 Juli sampai dengan 4 Agustus 2017.

229
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

Populasi kasus dalam penelitian ini adalah mendalam dengan responden, observasi, dan
semua pasien yang dirawat inap dan menderita dokumentasi. Sedangkan data sekunder
demam tifoid yang tercatat dalam rekam medik diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Puskesmas Pagiyanten Kabupaten Tegal pada Tegal dan Puskesmas Pagiyanten yang berisi
tahun 2016 - 2017, sedangkan Populasi kontrol data responden yang menderita demam tifoid.
yaitu semua pasien yang tidak menderita Instrumen yang digunakan untuk
demam tifoid dan pernah berobat di Puskesmas mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah
Pagiyanten Kabupaten Tegal selama tahun 2016 kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan yang
– 2017. Penentuan besar sampel minimal untuk harus dijawab oleh responden dan lembar
kelompok kasus dan kelompok kontrol dokumentasi. Kuesioner yang digunakan dalam
didapatkan berdasarkan pada penelitian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
terdahulu (penelitian yang dilakukan oleh informasi mengenai kondisi responden serta
Artanti, 2013), yaitu OR=3,6; P1=0,62; P2=0,31 faktor-faktor yang berhubungan dengan
dengan tingkat kepercayaan (Zα = 95%) yaitu kejadian demam tifoid. Kuesioner yang
1,96. digunakan sebelumnya dilakukan uji validitas
Berdasarkan perhitungan rumus besar untuk mengetahui apakah alat ukur tersebut
sampel didapatkan jumlah sampel minimal benar-benar mengukur apa yang diukur. Selain
yaitu 43 orang. Penelitian ini menggunakan uji validitas juga dilakukan uji reliabilitas pada
perbandingan kasus dan kontrol 1:1, sehingga kuesioner yang menunjukkan bahwa apakah
didapatkan sampel penelitian ini sebanyak 86 instrument cukup dapat dipercaya untuk dapat
responden yang terdiri dari 43 responden kasus digunakan sebagai alat pengumpul data. Metode
dan 43 responden kontrol. Teknik pengambilan pengujian menggunakan rumus alpha memakai
sampel pada penelitian ini dilakukan dengan program SPSS versi 16.0.
menggunakan Purposive Sampling, yaitu dengan Data yang sudah terkumpul kemudian
memilih beberapa sampel tertentu yang dinilai akan dilakukan pemeriksaan / validasi data,
sesuai dengan tujuan dan masalah dalam pemberian kode dan penyusunan data yang
penelitian. Kriteria inklusi pada kelompok kasus kemudian akan dilakukan analisis statistik yang
penelitian ini yaitu didiagnosis demam tifoid sesuai. Adapaun analisis statistik yang akan
berdasarkan data Puskesmas Pagiyanten, dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis
bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas univariat dan bivariat. Analisis univariat
Pagiyanten, dan pernah dirawat inap di digunakan untuk mendeskripsikan distribusi
Puskesmas Pagiyanten selama bulan Januari frekuensi pada variabel bebas yang disajikan
2016 –Mei 2017, serta kriteria eksklusi pada dalam bentuk tabel dan narasi. Sedangkan
kelompok kasus penelitian ini yaitu mempunyai analisis bivariat dilakukan terhadap variabel
riwayat penyakit demam tifoid dan alamat yang bebas dan variable terikat yang diduga
tidak jelas atau pindah tempat tinggal saat berhubungan atau berkorelasi.
dilakukan penelitian. Sedangkan kriteria inklusi Analisis bivariat dalam penelitian ini
kontrol pada penelitian ini yaitu tidak menggunakan Chi Square dengan uji alternatif
mengalami tanda dan gejala penyakit demam Fisher’s exact test, untuk mengetahui ada tidaknya
tifoid, bertempat tinggal di wilayah kerja hubungan antara dua variabel yaitu variabel
Puskesmas Pagiyanten, berobat di Puskesmas bebas dan variabel terikat. Perhitungan Confidens
Pagiyanten selama bulan Januari 2016 – Mei Internal (CI) digunakan taraf kepercayaan 95%
2017, serta kriteria eksklusi penelitian ini yaitu (α<0,05).
responden yang mempunyai riwayat penyakit
demam tifoid. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sumber data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa
Data primer diperoleh melalui wawancara terdapat hubungan antara kebiasaan makan di

230
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

luar rumah (p=0,001; OR=5,39; 95%CI=1,97- Berdasarkan Laporan RISKESDAS


14,74), kebiasaan mencuci tangan sebelum tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi
makan (p=0,02; OR=3,46; 95%CI=1,30-9,19), demam tifoid di Indonesa terjadi pada
kebiasaan mencuci tangan setelah BAB (p=0,04; kelompok usia 5-14 tahun, dimana pada usia
OR=2,99; 95%CI=1,15-7,73), kebiasaan tersebut anak cenderung kurang memperhatikan
mencuci bahan makanan mentah (p=0,007; kebersihan diri serta kebiasaan jajan
OR=4,97; 95%CI=1,63-15,15), dan jamban sembarangan yang dapat menyebabkan
sehat (p=0,04; OR=2,87; 95%CI=1,13-7,25) penularan demam tifoid (Depkes RI, 2008).
dengan kejadian demam tifoid di Puskesmas Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Pagiyanten Kabupaten Tegal. Sedangkan tidak yang dilakukan oleh Artanti (2013) di wilayah
terdapat hubungan antara umur, jenis kelamin, kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang
keadaan sosial ekonomi, dan riwayat keluarga yang menyebutkan bahwa tidak ada hubungan
dengan kejadian demam tifoid di Puskesmas antara umur responden dengan kejadian demam
Pagiyanten Kabupaten Tegal. tifoid. Pada penelitian tersebut diketahui
Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa proporsi umur berisiko pada kelompok kasus
hasil analisis bivariat antara umur dengan seimbang dengan kelompok kontrol. Hal
kejadian demam tifoid menunjukkan tidak tersebut sama dengan hasil penelitian di
terdapat hubungan yang bermakna antara umur lapangan yang menunjukkan proporsi umur
responden dengan kejadian demam tifoid di berisiko pada kelompok kasus sebesar 86%
Puskesmas Pagiyanten Kabupaten Tegal seimbang dengan kelompok kontrol sebesar
(p=1,00). 86%. Hasil penelitian di lapangan didapatkan

Tabel 1 Distribusi Analisis Bivariat Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Demam Tifoid
Frekuensi (n)
No Variabel Kategori Kasus Kontrol OR (95% CI) p-value
N % N %
Berisiko (≤ 30 tahun) 37 86 37 86
1 Umur Tidak Berisiko (> 30 - 1,00
6 14 6 14
tahun)
Laki-laki 18 41,9 18 41,9
2 Jenis kelamin - 1,00
Perempuan 25 58,1 25 58,1
Keadaan Sosial Rendah 9 20,9 6 14
3 - 0,57
Ekonomi Tinggi 34 79,1 37 86
Sering (≥ 3 kali 5,39
Kebiasaan 36 83,7 21 48,8
seminggu)
4 Makan di Luar 0,001
Jarang (< 3 kali
Rumah 7 16,3 22 51,2 (1,97-14,74)
seminggu)
Kebiasaan Kurang Baik 35 81,4 24 55,8 3,46
5 Mencuci Tangan 0,02
Baik 8 18,6 19 44,2
Sebelum Makan (1,30-9,19)
Kebiasaan Kurang Baik 34 79,1 24 55,8 2,99
6 Mencuci Tangan 0,04
Baik 9 20,9 19 44,2
Setelah BAB (1,15-7,73)
Kebiasaan Kurang Baik 17 39,5 5 11,6 4,97
Mencuci Bahan
7 0,007
Makanan Baik 26 60,5 38 88,4
Mentah (1,63-15,15)
Tidak Memenuhi 2,87
33 76,7 23 53,5
8 Jamban Sehat Syarat 0,04
Memenuhi Syarat 10 23,3 20 46,5 (1,13-7,25)
Riwayat Ada 15 34,9 7 16,3
9 - 0,08
Keluarga Tidak Ada 28 65,1 36 83,7

231
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

bahwa sebagian besar responden kasus terinfeksi Salmonella typhi dibandingkan


mempunyai umur berisiko (≤30 tahun) sebanyak perempuan (Artanti, 2013).
37 orang atau 86% dan responden kasus yang Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa
mempunyai umur tidak berisiko (>30 tahun) hasil analisis bivariat antara keadaan sosial
sebanyak 6 orang atau 14%. Hal ini sesuai ekonomi dengan kejadian demam tifoid
dengan penelitian yang dilakukan oleh Bukhari menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan
(2016) yang juga menunjukkan bahwa distribusi yang bermakna antara keadaan sosial ekonomi
kasus demam tifoid menurut umur dengan dengan kejadian demam tifoid di Puskesmas
risiko tinggi di daerah Taxila, Pakistan yaitu Pagiyanten Kabupaten Tegal (p=0,57).
terletak pada rentang kelompok usia 10-15 Menurut Rejeki (2015), status sosial ekonomi
tahun dan 25-35 tahun. mempengaruhi kemampuan seseorang dalam
Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa memenuhi sarana dan prasarana yang
hasil analisis bivariat antara jenis kelamin digunakan untuk mempertahankan kebersihan
dengan kejadian demam tifoid menunjukkan diri yang sangat mempengaruhi status
tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kesehatannya. Umumnya masyarakat dengan
jenis kelamin responden dengan kejadian status sosial ekonomi rendah tidak
demam tifoid di Puskesmas Pagiyanten mengutamakan perawatan dan kebersihan
Kabupaten Tegal (p=1,00). Jenis kelamin dirinya sendiri sehingga dapat menurunkan
mempengaruhi status kesehatan karena ada status kesehatannya.
penyakit tertentu yang lebih banyak terjadi atau Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan
hanya ditemukan pada jenis kelamin penelitian yang dilakukan oleh Artanti (2013) di
perempuan atau hanya pada laki-laki, seperti wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu Kota
pada wanita terjadi kanker serviks dan pada Semarang yang menyebutkan bahwa ada
laki-laki terjadi kanker prostat (Lidya, 2010 hubungan antara tingkat sosial ekonomi dengan
dalam Wijaya, 2015). Hasil penelitian ini tidak kejadian demam tifoid dengan nilai p= 0,016 <
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh α (0,05) dan nilai OR= 8,800. Pada penelitian
Wijaya (2015) di Puskesmas Bugangan Kota tersebut proporsi responden dengan tingkat
Semarang yang menunjukkan ada hubungan ekonomi rendah pada kelompok kasus sebesar
antara jenis kelamin dengan kejadian demam 61,5% lebih besar dari kelompok kontrol sebesar
tifoid (p=0,037). 15,4%. Sedangkan pada penelitian ini proporsi
Perbedaan hasil penelitian terlihat dari responden dengan tingkat ekonomi rendah pada
karakteristik responden pada kelompok kasus kelompok kasus sebesar 20,9%, hampir
dan kontrol. Hasil penelitian tersebut penderita seimbang dengan kelompok kontrol sebesar
demam tifoid lebih banyak terjadi pada jenis 14%. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan
kelamin laki-laki yaitu sebesar 69,2% bahwa sebagian besar responden kasus berada
dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan pada tingkat sosial ekonomi yang tinggi (79,1%)
yaitu sebesar 30,8%. Sedangkan hasil penelitian sedangkan responden dengan tingkat ekonomi
di lapangan diketahui bahwa proporsi yang rendah lebih sedikit yaitu sebesar 20,9%.
responden kasus sama dengan responden Hal ini menunjukkan adanya perbedaan dari
kontrol. Selain itu sebagian besar kasus demam kebanyakan kasus yang menunjukkan bahwa
tifoid terjadi pada jenis kelamin perempuan demam tifoid lebih banyak terjadi pada
yaitu sebanyak 25 orang (58,1%) dan responden kalangan status ekonomi rendah.
laki-laki hanya 18 orang (41,9%). Hal ini Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa
berbeda dengan kebanyakan kasus demam tifoid hasil analisis bivariat antara kebiasaan makan di
yang lebih sering terjadi pada jenis kelamin laki- luar rumah dengan kejadian demam tifoid
laki dan dikaitkan bahwa laki-laki lebih banyak menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
melakukan aktivitas di luar rumah sehingga bermakna antara kebiasaan makan di luar
memungkinkan laki-laki berisiko lebih besar rumah dengan kejadian demam tifoid di

232
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

Puskesmas Pagiyanten Kabupaten Tegal rasanya enak serta disenangi oleh kalangan
(p=0,001; OR=5,39; 95%CI=1,97-14,74). anak-anak sehingga mereka sering mengabaikan
Menurut Welong (2017) menyatakan bahwa kebersihan dari makanan tersebut. Jajanan
penularan demam tifoid dapat terjadi dimana tersebut biasa dijual oleh pedagang di pinggir
saja dan kapan saja, biasanya terjadi melalui jalan dengan keadaan terbuka sehingga dengan
konsumsi makanan di luar rumah atau di mudah debu dan lalat dapat hinggap. Kuman
tempat-tempat umum, apabila makanan atau Salmonella typhi yang dibawa oleh lalat dapat
minuman yang dikonsumsi kurang terjaga mencemari makanan yang dihinggapi, sehingga
kebersihannya. Selain itu menurut penelitian orang yang mengkonsumsi makanan tersebut
yang di lakukan Erfianto (2017) tentang hygiene dapat berisiko menderita demam tifoid.
personal pada penjual nasi kucing, didapatkan Menurut Maarisit (2014) menyatakan bahwa
hasil bahwa tidak ada penjual yang mencuci kualitas kebersihan makanan yang kurang
tangan sebelum menyajikan makanan dan diperhatikan oleh penjual makanan jajan dapat
hanya 10% yang mencuci alat makan dengan menyebabkan makanan tersebut menjadi
menggunakan sabun dan air yang mengalir. Hal menjadi suatu bibit penyakit dan penyakit yang
ini dapat menjadi media penularan penyakit timbul salah satunya adalah demam tifoid.
demam tifoid karena makanan yang di sajikan Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa
tidak dalam kondisi bersih dan sudah tercemar. hasil analisis bivariat antara kebiasaan mencuci
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian tangan sebelum makan dengan kejadian demam
yang dilakukan Seran (2015) di wilayah kerja tifoid menunjukkan bahwa terdapat hubungan
Puskesmas Tumaratas Kecamatan Lawongan yang bermakna antara kebiasaan mencuci
Barat yang menunjukkan bahwa adanya tangan sebelum makan dengan kejadian demam
hubungan antara kebiasaan makan diluar rumah tifoid di Puskesmas Pagiyanten Kabupaten
dengan kejadi demam tifoid dengan nilai p Tegal (p=0,02; OR=3,46; 95%CI=1,30-9,19).
(0,031) < α (0,05) dan OR=5,00. Hal ini Penularan bakteri Salmonella typhi salah satunya
diperkuat dengan hasil penelitian Alba (2016) melalui jari tangan atau kuku. Jika seseorang
yang menyebutkan bahwa kebiasaan makan di kurang memperhatikan kebersihan dirinya
warung atau restoran merupakan faktor risiko seperti mencuci tangan sebelum makan maka
yang penting dalam penularan demam tifoid di bakteri tersebut dapat masuk ke dalam tubuh
kepulauan Indonesia dengan nilai OR sebesar orang sehat melalui mulut kemudian
6,9. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan menjadikan orang tersebut menjadi sakit
bahwa sebagian besar (66,3%) rsponden (Maghfiroh, 2016). Hasil penelitian ini sejalan
mempunyai kebiasaan makan di luar rumah dengan penelitian Hudayani (2013) di RSUD
yang sering (≥ 3 kali seminggu). Hal ini terjadi Kebumen yang menyatakan bahwa kebiasaan
karena sebagian besar responden (51,2%) dalam mencuci tangan sebelum makan merupakan
penelitian ini merupakan seorang pelajar, faktor risiko terjadinya demam tifoid
dimana mereka lebih sering mengkonsumsi (OR=2,835). Hal ini diperkuat dengan hasil
makanan atau jajanan yang dijual di lingkungan penelitian Paputungan (2016) di wilayah kerja
sekolah yang belum terjamin kebersihannya. Puskesmas Upai Kota Kotamobagu yang
Berdasarkan wawancara dengan responden, menunjukkan bahwa ada hubungan antara
didapat sebagian besar responden mempunyai kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun
kebiasaan makan di luar rumah seperti di sebelum makan dengan kejadian demam tifoid
sekolah, warung makan, dan pedagang keliling. dengan nilai p (0,047) < α (0,05). Hasil
Jenis makanan yang sering dikonsumsi penelitian di lapangan menunjukkan bahwa
beraneka ragam seperti olos, siomay, gorengan, sebagian besar responden kasus mempunyai
sosis bakar, cilok, dan juga es kemasan. kebiasaan cuci tangan sebelum makan yang
Responden lebih menyukai makanan tersebut kurang baik yaitu sebanyak 35 orang (81,4) dan
karena harga yang terjangkau, murah dan lainnya (18,6%) mempunyai kebiasaan mencuci

233
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

tangan yang baik. Hal ini terjadi karena masih buang air besar kurang baik sebanyak 58 orang
banyak responden yang kurang menyadari atau sebesar 67,4% lebih banyak jika
pentingnya mencuci tangan sebelum makan. dibandingkan dengan responden yang
Menurut beberapa responden, mereka lebih mempunyai kebiasaan mencuci tangan setelah
sering makan dengan menggunakan alat makan buang air besar yang baik yaitu hanya 28 orang
jadi tidak perlu mencuci tangan terlebih dahulu. (32,6%). Berdasarkan wawancara yang
Selain mereka juga tidak mengetahui cara atau dilakukan dengan responden didapatkan semua
langkah mencuci tangan yang baik dan benar responden sudah mencuci tangan mereka
yaitu dengan menggunakan sabun dan air menggunakan sabun setelah buang air besar.
mengalir, serta menggosok tangan, sela-sela jari Namun masih banyak di antara mereka masih
dan kuku. belum mengetahui cara atau langkah mencuci
Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa tangan yang baik dan benar. Hal ini
hasil analisis bivariat antara kebiasaan mencuci dikarenakan kurangnya pengetahuan responden
tangan setelah buang air besar dengan kejadian dalam menjaga kebersihan diri khususnya
demam tifoid menunjukkan bahwa terdapat kebersihan tangan, karena tangan merupakan
hubungan yang bermakna antara kebiasaan salah satu media penularan penyakit demam
mencuci tangan setelah buang air besar dengan tifoid.
kejadian demam tifoid di Puskesmas Pagiyanten Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa
Kabupaten Tegal (p=0,04; OR=2,99; hasil analisis bivariat antara kebiasaan mencuci
95%CI=1,15-7,73). Tangan yang kotor atau bahan makanan mentah dengan kejadian
terkontaminasi dapat memindahkan bakteri demam tifoid menunjukkan bahwa terdapat
atau virus patogen dari tubuh, feses atau sumber hubungan yang bermakna antara kebiasaan
lain ke makanan. Oleh karenanya kebersihan mencuci bahan makanan mentah dengan
tangan dengan mencuci tangan perlu mendapat kejadian demam tifoid di Puskesmas Pagiyanten
prioritas tinggi, walaupun hal tersebut sering Kabupaten Tegal (p=0,007; OR=4,97 ; 95%
disepelekan pencucian dengan sabun sebagai CI=1,63-15,15). Bahan makanan seperti daging,
pembersih, penggosokkan dan pembilasan ikan, telur, sayur, dan buah sebelum diolah
dengan air mengalir akan menghanyutkan harus dicuci terlebih dahulu. Terutama pada
partikel kotoran yang banyak mengandung makanan yang akan dikonsumsi langsung atau
mikroorganisme (Maghfiroh, 2016). Hasil dalam keadaan mentah. Bahan-bahan hewani
penelitian ini sejalan dengan penelitian biasanya masih mengandung kuman pathogen
Paputungan (2016) di wilayah kerja Puskesmas sedangkan pada buah dan sayur seringkali
Upai Kota Kotamobagu yang menyebutkan mengandung pestisida atau pupuk. Oleh karena
bahwa ada hubungan antara kebiasaan mencuci itu perlu dilakukan pencucian dengan air bersih
tangan dengan sabun setelah buang air besar dan mengalir. Penelitian ini sejalan dengan
dengan kejadian demam tifoid dengan nilai p penelitian yang dilakukan Seran (2015) di
(0,041) < α (0,05). Pada penelitian tersebut wilayah kerja Puskesmas Tumaratas yang
didapatkan bahwa kejadian demam tifoid lebih menyebutkan bahwa ada hubungan antara
banyak terjadi pada responden yang mempunyai kebiasaan mencuci bahan makanan mentah
kebiasaan mencuci tangan setalah BAB yang yang akan langsung dikonsumsi dengan
kurang baik (57,3%). Berdasarkan hal tersebut kejadian demam tifoid dengan nilai p (0,029) <
penelitian ini memiliki kemiripan karakteristik α (0,05) dan nilai OR sebesar 5,2, sehingga
responden yaitu sebagian besar kejadian demam dapat dikatakan bahwa responden yang
tifoid juga dialami oleh responden yang mempunyai kebiasaan mencuci bahan makanan
memiliki kebiasaan mencuci tangan setelah mentah yang kurang baik lebih berisiko 5,2 kali
BAB yang kurang baik (79,1%). Hasil penelitian menderita demam tifoid daripada responden
di lapangan didapatkan bahwa responden yang yang mempunyai kebiasaan yang baik dalam
mempunyai kebiasaan mencuci tangan setelah mencuci bahan makanan mentah yang langsung

234
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

konsumsi. Penelitian yang dilakukan di Carrier kronis harus diawasi dengan ketat dan
Uzbekistan tahun 2007 juga menyebutkan dilarang melakukan pekerjaan yang dapat
bahwa rutin mencuci sayuran merupakan faktor menularkan penyakit kepada orang lain. Feses
protektif terhadap penyakit demam tifoid penderita merupakan sumber utama bagi
(Srikantiah, 2007). Hasil penelitian di lapangan penularan demam tifoid (Nuruzzaman, 2016).
diketahui bahwa responden yang menderita Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan
demam tifoid sebagian besar mempunyai penelitian Rakhman (2009) pada pasien rawat
kebiasaan mencuci bahan makanan mentah inap di RSUD dr. H Soemarno Sostroatmodjo
yang baik yaitu sebesar 60,5% jika dibandingkan Kabupaten Bulungan Kalimantan Timur yang
dengan responden yang mempunyai kebiasaan menunjukkan bahwa ada hubungan antara
mencuci bahan makanan mentah yang kurang riwayat demam tifoid dalam keluarga dengan
baik (39,5%). Berdasarkan wawancara yang kejadian demam tifoid pada orang dewasa
dilakukan dengan responden didapatkan masih dengan nilai 95% CI = 1,22-4,05 serta nilai
ada sebagian yang tidak mencuci bahan OR=2,24. Hal ini berarti responden dengan
makanan mentah yang akan langsung di makan. riwayat demam tifoid dalam keluarga lebih
Dalam hal ini responden sering mengkonsumsi berisiko 2,24 kali menderita demam tiofid
buah seperti apel, anggur, jambu air, dan pir. daripada responden yang tidak memiliki riwayat
Selain itu juga mereka mengkonsumsi sayuran demam tifoid dalam keluarga. Penelitian Javaid
seperti tomat, mentimu, kubis, dan daun (2008) juga menyebutkan bahwa salah satu
kemangi. Responden setelah membeli sayur dan faktor risiko demam tifoid pada anak adalah
buah tersebut biasanya lansung disimpan di karena kurangnya pengetahuan tentang kontak
lemari pendingin tanpa dicuci terlebih dahulu. langsung dengan penderita demam tifoid. Hasil
Ada juga responden yang lansung penelitian di lapangan menunjukkan bahwa
mengkonsumsi makanan tersebut. Menurut responden kasus yang memiliki riwayat demam
mereka sayur dan buah tersebut terlihat bersih tifoid dalam keluarga sebanyak 15 orang
dan masih segar sehingga tidak perlu dicuci (34,9%) lebih sedikit dibandingkan responden
terlebih dahulu. Namun mereka tidak kasus yang tidak memiliki riwayat demam tifoid
mengetahui bahwa buah dan sayuran yang dalam keluarga yaitu sebanyak 28 orang
dipupuk menggunakan kotoran manusia dapat (65,1%).
terkontaminasi bakteri Salmonella typhi, sehingga Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa
mengkonsumsi buah dan sayur tanpa dicuci hasil analisis bivariat antara jamban sehat
terlebih dahulu dapat meningkatkan risiko dengan kejadian demam tifoid menunjukkan
penyakit demam tifoid. bahwa terdapat hubungan yang bermakna
Berdasarkan tabel 1, diketahui bahwa antara jamban sehat dengan kejadian demam
hasil analisis bivariat antara riwayat keluarga tifoid di Puskesmas Pagiyanten Kabupaten
dengan kejadian demam tifoid menunjukkan Tegal (p=0,04; OR=2,87; 95%CI=1,13-7,25).
bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna Menurut Artanti (2013) menyatakan bahwa
antara riwayat keluarga dengan kejadian tinja dapat menjadi perantara penyakit menular
demam tifoid di Puskesmas Pagiyanten yang biasanya dapat menyerang masyarakat.
Kabupaten Tegal (p=0,08). Riwayat penyakit Proses pemindahan kuman penyakit dari tinja
demam tifoid dalam satu keluarga sangat sebagai pusat infeksi sampai inang baru dapat
berpengaruh karena penularan yang dialami melalui berbagai media perantara, antara lain
akan melalui jalan yang sama dan risiko tertular air, tangan, serangga, tanah, makanan serta
akan semakin cepat. Seseorang mampu menjadi sayuran. Pembuangan tinja dan limbah cair
pembawa penyakit (asymptomatic carrier) demam yang dilaksanakan secara saniter akan
tifoid, tanpa menunjukkan tanda gejala tetapi memutuskan rantai penularan penyakit. Hasil
mampu menularkan ke orang lain. Status carrier penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian
dapat terjadi setelah mendapat serangan akut. Rakhman (2009) yang menyatakan bahwa tidak

235
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

ada hubungan antara kepemilikan jamban yang makan di luar rumah, kebiasaan mencuci
memenuhi syarat dengan kejadian demam tifoid tangan sebelum makan, kebiasaan mencuci
pada orang dewasa dengan nilai p=0,805. tangan setelah buang air besar, kebiasaan
Perbedaan hasil penelitian tersebut terdapat mencuci bahan makanan mentah, dan jamban
pada karakterisitik responden dilihat pada sehat dengan kejadian demam tifoid di
jumlah proporsi responden yang memiliki Puskesmas Pagiyanten Kabupaten Tegal.
jamban yang memnuhi syarat kesehatan sebesar Sedangkan tidak terdapat hubungan antara
58,8%, lebih besar dibandingkan dengan umur responden, jenis kelamin, keadaan sosial
responden yang memiliki jamban yang tidak ekonomi, dan riwayat keluarga dengan kejadian
memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar demam tifoid di Puskesmas Pagiyanten
41,2%. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa Kabupaten Tegal.
sebesar 65,1% dari responden memiliki sarana Saran yang direkomendasikan untuk
pembungan tinja (jamban) yang tidak penelitian selanjutnya adalah perlu adanya
memenuhi syarat kesehatan lebih besar penelitian lebih lanjut dengan memperluas
dibandingkan dengan responden yang memiliki sampel penelitian, jenis desain penelitian dan
sarana pembungan tinja (jamban) yang variabel yang berbeda untuk lebih mengetahui
memenuhi syarat kesehatan yaitu sebesar faktor lain yang berhubungan dengan kejadian
34,9%. Terdapat sebanyak 33 responden yang demam tifoid.
menderita demam tifoid memiliki jamban yang
tidak memenuhi syarat kesehatan. Persyaratan DAFTAR PUSTAKA
sarana pembuangan tinja yang baik antara lain
1) jarak sumber air dengan lubang penampung Alba, S., Bakker, M. I., Hatta, M., Scheelbeek, P. F.
minimal 11 meter; 2) tidak berbau; 3) bebas dari D., Dwiyanti, R., Usman, R., and Smits, H.
serangga maupun tikus; 4) mudah dibersihkan; L. 2016. Risk Factors of Typhoid Infection in
5) dilengkapi dinding dan atap pelindung; 6) the Indonesian Archipelago. PLoS ONE, 11(6):
1–14
pencahayaan dan ventilasi yang cukup; 7) lantai
Artanti. 2013. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan,
kedap air; dan 8) tersedia air, sabun dan alat
Higiene Perorangan, dan Karakteristik Individu
pembersih. Berdasarkan hasil observasi dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja
ditemukan masih banyak jamban yang tidak Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tahun
memenuhi syarat kesehatan seperti letak tangki 2012. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri
septik dan sumber air tidak lebih dari 11 meter. Semarang
Lantai kamar mandi banyak yang rusak, Batubuaya, D., Ratag, B, T., Wariki, W. 2017.
kurangnya ventilasi sehingga pencahayaan Hubungan Higiene Perorangan dan Aspek
kurang, serta masih ditemukan kecoa di Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Demam
Tifoid di Rumah Sakit Tk.III R.W. Mongisidi
beberapa kamar mandi responden. Selain itu
Manado. Jurnal Media Kesehatan, 9(3): 1-8
dari wawancara dengan responden, mereka
Bukhari, N., Saleem, A., Jabbar, A., Noor, Khan, S.,
mengatakan jarang membersihkan kamar Ahmad, B., and Ahmad, K. A. 2016.
mandi, jika dibersihkanpun hanya menyikat Frequency of Typhoid Fever and Its
tanpa menggunakan sabun. Kondisi jamban Association with Seasonal Variations in
yang tidak memenuhi syarat tersebut dan Taxila, Pakistan. Asian Pasific Journal of
disertai dengan keberadaan serangga (lalat dan Tropical Disease, 6(8): 608-610
kecoa) di sekitar jamban dapat berpotensi Depkes RI. 2008. Laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun
sebagai media penularan demam tifoid. 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia
Erfianto, R., dan Koesyanto, H. 2017. Hygiene
PENUTUP Personal pada Penjual Nasi Kucing. HIGEIA,
1(1): 48-51
Simpulan penelitian ini menunjukkan Hudayani, R., Kusnanto, H., Humardewayanti, R.,
bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan and Agung, W. 2013. Risk Factors Analysis of

236
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

Typhoid Fever Occurence of Inpatient in Typhoid Fever in Vietnam. BMC Infection


Kebumen Public Hospital in 2013. Tropical Diseases, 14(73): 1–9
Medicine Journal, 03(02): 103-109 Pramitasari, O, P. 2013. Faktor Risiko Kejadian
Javaid, F., Rizwan, S., Ahmed, Z. 2008. Risk Factors Penyakit Demam Tifoid pada Penderita Yang
for Typhoid Fever in Children Squatter Dirawat Di Rumah Sakit Umum Daerah
Settlements of Karachi: A Nested Case- Ungaran. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2(1): 1-
Control Study. Journal of Infection and Public 10
Health, 1: 113-120 Rakhman, A., Humardewayanti, R., dan Pramono,
Kusuma, B. F., Saleh, I., Selviana. 2015. Faktor D. 2009. Faktor-faktor Risiko yang
Risiko Kejadian yang Berhubungan dengan Berhubungan terhadap Kejadian Demam
Kejadian Demam Tifoid pada Anak di Tifoid pada Orang Dewasa. Jurnal Berita
Wilayah Kerja Puskesmas Sui Kakap dan Kedokteran Masyarakat, 25(4)
Puskesmas Sui Durian. JUMANTIK (Jurnal Ramaningrum, G., Anggraheny, H. D., dan Putri, T.
Mahasiswa dan Penelitian Ilmiah), 2(1): 41-53 P. 2016. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Maarisit, C. L., Sarimin, S., Babakal, A. 2014. Kejadian Demam Tifoid pada Anak di RSUD
Hubungan Pengetahuan Orang Tua tentang Tugurejo Semarang. Jurnal Kedokteran
Demam Tifoid dengan Kebiasaan Jajan pada Muhammadiyah, 5(2): 1-8
Anak di Wilayah Kerja RSUD Mala Rampengan, T. H. 2007. Penyakit Infeksi Tropik pada
Kecamatan Melonguane Kabupaten Anak. Jakarta: EGC
Kepulauan Talaud. Jurnal Keperawatan, 2(2) Rejeki, S. 2015. Sanitasi hygiene dan K3 (Kesehatan &
Maghfiroh, A. E., Siwiendrayanti, A. 2016. Keselamatan Kerja). Bandung: Rekayasa Sains
Hubungan Cuci Tangan, Tempat Sampah, Ruztam, M, Z, A. 2012. Hubungan Karakteristik
Kepemilikan SPAL, Sanitasi Makanan Penderita Dengan Kejadian Demam Tifoid
dengan Demam Tifoid. Jurnal Pena Medika, pada Pasien Rawat Inap di RSUD
6(1): 34-45 Salewangan Maros. Jurnal Ilmiah Kesehatan
Malau, V. M., Budiyono, Yusniar. 2015. Hubungan STRADA, 1(2): 58-63
Higiene Perorangan dan Sanitasi Makanan Seran, E. R., Palandeng, H., dan Kallo, V, D. 2015.
Rumah Tangga dengan Kejadian Demam Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian
Tifoid pada Anak Umur 5-14 Tahun di Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas
Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo Kota Tumaratas. E-Journal Keperawatan (e-Kp), 3(2):
Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 3(1): 1-8
589-598 Srikantiah, P., Vafokulov, S., Luby, S, P., Ishmail,
Nadyah. 2014. Hubungan Faktor-faktor yang T., Earhart, K., Khodjaev, N., Jennings, G.,
Mempengaruhi Insidens Penyakit Demam Crump, J, A., and Mahoney, F, J. 2007.
Tifoid di Kelurahan Samata Kecamatan Epidemiology and Risk Factors for Endemic
Somba Opu Kabupaten Gowa 2013. Jurnal Typhoid Fever in Uzbekistan. Tropical
Kesehatan, 7(1): 305-321 Medicine and International Health, 12(7): 838-
Nuruzzaman, H., Syahrul, F. 2016. Analisis Risiko 847
Kejadian Demam Tifoid Berdasarkan Sur, D., Ali, M., Seidlein, L., Von, Manna, B., Deen,
Kebersihan Diri dan Kebiasaan Jajan di J. L., Acosta, C. J., Bhattacharya, S. K. 2007.
Rumah. Jurnal Berkala Epidemiologi, 4(1): 74- Comparisons of Predictors for Typhoid and
86 Paratyphoid Fever in Kolkata, India. BMC
Paputungan, W., Rombot, D., dan Akili, R, H. 2016. Public Health, 7(289): 1–10
Hubungan Antara Perilaku Hidup Bersih dan Tjipto, B. W., Kristiana, L., Ristrini. 2009. Kajian
Sehat dengan Kejadian Demam Tifoid di Faktor Pengaruh terhadap Penyakit Demam
Wilayah Kerja Puskesmas Upai Kota Tifoid pada Balita Indonesia. Buletin Penelitian
Kotamobagu Tahun 2015. Jurnal Ilmiah Sistem Kesehatan, 12(4): 313-340
Farmasi, 5(2) Welong, S. S., Ratag, B. T., Bernadus, J. 2017.
Parry, C. M., Thompson, C., Vinh, H., Chinh, N. T., Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam
Phuong, L. T., Ho, V. A., Hien, T. T., Wain, Tifoid pada Pasien Rawat Inap di Rumah
J., Farrar, J. J., and Baker, S. 2014. Risk Sakit Advent Manado Tahun 2016. Public
Factors for The Development of Severe Health Journal, 6(3): 1-11.

237
Farissa U., dan Oktia W. K. H./Kejadian Demam Tifoid / HIGEIA 2 (2) (2018)

Wijaya, K., dan Sugiyanto, Z. 2015. Faktor Risiko Tahun 2015. Artikel Ilmiah. Semarang:
yang Berhubungan dengan Kejadian Demam Universitas Dian Nuswantoro
Tifoid di Puskesmas Bugangan Kota Semarang

238