Anda di halaman 1dari 31

LAMPIRAN I

LAPORAN KEGIATAN MINI PROJECT PENYAKIT MENULAR SKABIES

I. Latar belakang
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Skabies
ditularkan melalui kontak fisik langsung (skin-to-skin), maupun tak langsung
(pakaian, tempat tidur yang dipakai bersama).1,2,3
Skabies termasuk penyakit kulit yang endemis di wilayah beriklim tropis dan
subtropis, seperti Afrika, Mesir, Amerika tengah, Amerika selatan, Australia
utara, Australia tengah, Kepulauan karabia, India, dan Asia tenggara. Tungau
skabies dapat menyebar melalui kontak langsung dengan penderita skabies atau
kontak secara tidak langsung dengan menggunakan peralatan atau benda yang
telah terkontaminasi tungau skabies seperti penggunaa handuk bersama, memakai
alas tempat tidur penderita skabies dan lainnya. Penyebaran tungau skabies akan
lebih mudah terjadi pada penduduk yang hidup berkelompok atau padat penghuni
pada suatu lingkungan seperti asrama, kelompok anak sekolah, antar anggota
keluarga pada rumah yang padat penghuni bahkan antar warga di suatu
perkampungan.
Gejala utama adalah pruritus intensif yang memburuk di malam hari atau
kondisi dimana suhu tubuh meningkat. Lesi kulit yang khas berupa terowongan,
papul, ekskoriasi dan kadang-kadang vesikel.4,5
Tungau penyebab skabies merupakan parasit obligat yang seluruh siklus
hidupnya berlangsung di tubuh manusia. Tungau tersebut tidak dapat terbang atau
meloncat namun merayap dengan kecepatan 2.5 cm per menit pada kulit yang
hangat.6

1
II. Judul Kegiatan
Kegiatan ini merupakan sebuah penyuluhan dengan judul “Penyakit Menular Skabies”.

III. Tujuan Kegiatan


Kegiatan ini bertujuan untuk :

1. Menjelaskan dan memberi pemahaman mengenai Penyakit Menular Skabies


2. Memberikan contoh dampak yang terjadi jika penyakit ini tidak diobati.

IV. Waktu dan tempat Kegiatan


Tempat : SD Inti 2 Kuala Batee
Hari/tanggal : Senin / 25 Februari 2019
Waktu : Pukul 09.30 WIB – 11.30 WIB
Peserta : Seluruh Siswa/i SD Inti 2 Kuala Batee
Pelaksana : Dokter Internship Wahana Aceh Barat Daya

V. Metode Penyuluhan
Penyuluhan dilakukan dengan cara pemaparan dalam bentuk edukasi menggunakan
power point dan leaflet tentang Penyakit Menular Skabies.

Tabel 5.1 Metode penyuluhan

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Respons Media


1 Pembukaan  Memberi salam  Siswa/i menjawab
(5 Menit)  Memperkenalkan diri salam
 Menyampaikan tujuan  Siswa/i memahami
penyuluhan maksud dan tujuan
2 Pelaksanaan  Menyampaikan materi  Mendengarkan materi  Power
(90 menit)  Sesi tanya jawab penyuluhan yang Point/
disampaikan leaflet
 Siswa/i
memperhatikan
jalannya penyuluhan
 Siswa/i bertanya
3 Penutup  Menyimpulkan dan  Siswa/i Menjawab
menutup dengan salam salam

2
VI. Materi Penyuluhan
6.1. Definis
Skabies merupakan infeksi ektoparasit pada manusia yang disebabkan
oleh kutu Sarcoptes scabiei var hominis. Infeksi ini terjadi akibat kontak
langsung dari kulit ke kulit maupun kontak tidak langsung (melalui benda
misalnya pakaian handuk, sprei, bantal dan lain - lain).3,5

6.2. Epidemiologi
Diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia
terjangkit tungau skabies. Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa
prevalensi skabies cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak
dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras, umur, ataupun kondisi sosial ekonomi.
Faktor primer yang berkontribusi adalah kemiskinan dan kondisi hidup di
daerah yang padat, sehingga penyakit ini lebih sering di daerah perkotaan.3, 6,7
Terdapat bukti menunjukkan insiden kejadian berpengaruh terhadap
musim dimana kasus skabies lebih banyak didiagnosis pada musim dingin
dibanding musim panas. Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi
epidemi skabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini,
antara lain seperti kebersihan yang buruk, kesalahan diagnosis, dan
perkembangan dermografik serta ekologi. 1,3

6.3. Etiologi
Sarcoptes scabiei adalah parasit manusia obligat yang termasuk filum
Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes.
Bentuknya lonjong, bagian kepala depan kecil dan bagian belakang
thorakoabdominal dengan penonjolan seperti rambut yang keluar dari dasar
kaki.6
Tungau skabies mempunyai empat kaki dan diameternya berukuran 0,3
mm. Sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tungau ini tidak
dapat terbang atau melompat dan hanya dapat hidup selama 30 hari di lapisan
epidermis.3

3
Skabies betina dewasa berukuran sekitar 0,4 mm dengan luas 0,3 mm,
dan jantan dewasa lebih kecil 0,2 mm panjang dengan luas 0,15 mm.
Tubuhnya berwarna putih susu dan ditandai dengan garis melintang yang
bergelombang dan pada permukaan punggung terdapat bulu dan dentikel.9
Terdapat empat pasang kaki pendek, di bagian depan terdapat dua
pasang kaki yang berakhir dengan perpanjangan peduncles dengan pengisap
kecil di bagian ujungnya. Pada tungau betina, terdapat dua pasang kaki yang
berakhir dengan rambut (Satae) sedangkan pada tungau jantan rambut
terdapat pada pasangan kaki ketiga dan peduncles dengan pengisap pada
pasangan kaki keempat.9

Gambar 1 : Gambaran morfologi Sarcoptes scabiei

6.4. Patogenesis

Siklus hidup tungau terjadi setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi


di atas kulit, tungau jantan akan mati. Tapi kadang-kadang masih dapat hidup
beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau
betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum,
dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2
atau 4 butir sehari sampai mencapai 40-50 telur yang dihasilkankan oleh
setiap tungau betina selama rentang umur 4-6 minggu dan selama itu tungau
betina tidak meninggalkan terowongan. Setelah itu, larva berkaki enam akan
muncul dari telur setelah 3-4 hari dan keluar dari terowongan dengan
memotong atapnya.

4
Larva kemudian menggali terowongan pendek (moulting pockets) di
mana mereka berubah menjadi nimfa. Setelah itu berkembang menjadi tungau
jantan dan betina dewasa. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai
bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 – 12 hari.9,10

Gambar 2 : siklus hidup Sarcoptes scabiei

Selama siklus hidup kutu ini, terowongan yang terbentuk meluas dari
beberapa milimeter menjadi beberapa centimeter. Terowongan ini tidak
meluas ke lapisan bawah epidermis, kecuali pada kasus hiperkeratosis
Norwegian Scabies, kondisi dimana terdapat kulit yang bersisik, menebal,
terjadi imunosupresan, atau pada orang-orang tua dengan jumlah ribuan kutu
yang menginfeksi. Telur-telur kutu ini akan dikeluarkan dengan kecepatan 2-
3 telur perharinya dan massa feses (skibala) tersimpan pada terowongan.
Skibala ini dapat menjadi iritan dan menimbulkan rasa gatal.9
Tungau skabies lebih suka memilih area tertentu untuk membuat
terowongannya dan menghindari area yang memiliki banyak folikel
pilosebaseus. Biasanya, pada satu individu terdapat kurang dari 20 tungau di
tubuhnya, kecuali pada Norwegian scabies dimana individu bisa didiami
lebih dari sejuta tungau. Orang tua dengan infeksi virus immunodefisiensi dan

5
pasien dengan pengobatan immunosuppressant mempunyai risiko tinggi
untuk menderita Norwegian scabies.1,6
Reaksi hipersensitivitas akibat adanya benda asing mungkin menjadi
penyebab lesi. peningkatan titer IgE dapat terjadi pada beberapa pasien
skabies, bersama dengan eosinofilia, dan reaksi hipersensitivitas tipe
langsung akibat reaksi dari kutu betina ini. Kadar IgE menurun dalam satu
tahun setelah terinfeksi. Eosinofil kembali normal segera setelah
dilakukannya perawatan. Fakta bahwa gejala yang timbul jauh lebih cepat
ketika terjadi reinfeksi mendukung pendapat bahwa gejala dan lesi skabies
adalah hasil dari reaksi hipersensitivitas.9

6.5 Diagnosis

1. Gambaran Klinis
Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes
scabiei sangat bervariasi. Meskipun demikian kita dapat menemukan
gambaran klinis berupa keluhan subjektif dan objektif yang spesifik.
Dikenal ada 4 tanda utama atau cardinal sign pada infestasi skabies,
yaitu : 7,10
a. Pruritus nocturna
Setelah pertama kali terinfeksi dengan tungau skabies, kelainan kulit
seperti pruritus akan timbul selama 6 hingga 8 minggu. Infeksi yang
berulang menyebabkan ruam dan gatal yang timbul hanya dalam
beberapa hari. Gatal terasa lebih hebat pada malam hari. Hal ini
disebabkan karena meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang
lebih lembab dan panas. Sensasi gatal yang hebat seringkali
mengganggu tidur dan penderita menjadi gelisah.3,6,10

b. Menyerang manusia secara berkelompok

6
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sehingga dalam
sebuah keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu
pula dalam sebuah pemukiman yang padat penduduknya, skabies
dapat menular hampir ke seluruh penduduk. Didalam kelompok
mungkin akan ditemukan individu yang hiposensitisasi, walaupun
terinfestasi oleh parasit sehingga tidak menimbulkan keluhan klinis
akan tetapi menjadi pembawa/carier bagi individu lain.10
c. Adanya terowongan
Kelangsungan hidup Sarcoptes scabiei sangat bergantung kepada
kemampuannya meletakkan telur, larva dan nimfa didalam stratum
korneum, oleh karena itu parasit sangat menyukai bagian kulit yang
memiliki stratum korneum yang relatif lebih longgar dan tipis. (10)

Gambar 3 : terowongan pada penderita skabies

Lesi yang timbul berupa eritema, krusta, ekskoriasi papul dan nodul
yang sering ditemukan di daerah sela-sela jari, pergelangan tangan bagian
depan dan lateral telapak tangan, siku, aksila, skrotum, penis, labia dan
pada areola wanita. Bila ada infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi
polimorfik (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).3,10

7
Gambar 4 : Gambaran klasik skabies

Erupsi eritematous dapat tersebar di badan sebagai reaksi


hipersensitivitas pada antigen tungau. Lesi yang patognomonis adalah
terowongan yang tipis dan kecil seperti benang, berstruktur linear kurang
lebih 1 hingga 10 mm, berwarna putih abu-abu, pada ujung terowongan
ditemukan papul atau vesikel yang merupakan hasil dari pergerakan
tungau di dalam stratum korneum. Terowongan ini terlihat jelas kelihatan
di sela-sela jari, pergelangan tangan dan daerah siku. Namun, terowongan
tersebut sukar ditemukan di awal infeksi karena aktivitas menggaruk
pasien yang hebat.1

8
Gambar 5 : distribusi makro lesi primer skabies pada orang dewasa.

Gambar 6 : distribusi makro lesi primer skabies pada anak

d. Menemukan Sarcoptes scabiei


Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh
kemungkinan besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva,
nimfa maupun skibala dan ini merupakan hal yang paling diagnostik.
Akan tetapi, kriteria yang keempat ini agak susah ditemukan karena
hampir sebagian besar penderita pada umumnya datang dengan lesi
yang sangat variatif dan tidak spesifik. Diagnosa positif hanya
didapatkan bila menemukan tungau dengan menggunakan mikroskop,
biasanya posisi tungau determined dalam liang, dapat menggunakan
pisau untuk teknik irisan ataupun denggan menggunakan jarum steril,

9
tungau ini mayoritas dapat ditemukan pada tangan, pergelangan
tangan dan lebih kurang pada daerah genitalia, siku, bokong dan
aksila. Pada anak – anak tungau banyak ditemukan dibawah kuku
karena kebiasaan menggaruk, pengambilan tungau ini dengan
menggunakan kuret.10,12

Gambar 7 : Telur, nimfa, dan skibala Sarcoptes scabiei

2. Bentuk Klinis
Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk yang
tidak khas, meskipun jarang ditemukan. Kelainan ini dapat menimbulkan
kesalahan diagnostik yang dapat berakibat gagalnya pengobatan. .
Beberapa bentuk skabies antara lain :
a. Skabies pada orang bersih
Klinis ditandai dengan lesi berupa papula dan kanalikuli dengan
jumlah yang sangat sedikit, kutu biasanya hilang akibat mandi secara
teratur. 10

b. Skabies pada bayi dan anak


Pada anak yang kurang dari dua tahun, infestasi bisa terjadi di wajah
dan kulit kepala sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi. Nodul
pruritis eritematous keunguan dapat ditemukan pada aksila dan daerah
lateral badan pada anak-anak. Nodul-nodul ini bisa timbul berminggu-

10
minggu setelah eradikasi infeksi tungau dilakukan. Vesikel dan bula
bisa timbul terutama pada telapak tangan dan jari. Lesi skabies pada
anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher,
telapak tangan, telapak kaki dan sering terjadi infeksi sekunder berupa
impetigo, ektima, sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi,
lesi terdapat di wajah. Lesi yang timbul dalam bentuk vesikel, pustul,
dan nodul, tetapi distribusi lesi tersebut atipikal. Eksematisasi dan
impetigo sering didapatkan, dan dapat dikaburkan dengan dermatits
atopik atau acropustulosis. Rasa gatal bisa sangat hebat, sehingga anak
yang terserang dapat iritabel dan kurang nafsu makan.1,5,10

Gambar 8 : Skabies pada anak

c. Skabies nodular
Skabies nodular adalah varian klinik yang terjadi sekitar 7% dari
kasus skabies dimana lesi berupa nodul merah kecoklatan berukuran
2-20 mm yang sangat gatal. Umumnya terdapat pada daerah yang
tertutup terutama pada genitalia, inguinal dan aksila. Pada nodul yang
lama tungau sukar ditemukan, dan dapat menetap selama beberapa
minggu hingga beberapa bulan walaupun telah mendapat pengobatan
anti skabies.13

d. Skabies incognito
Penggunaan obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan
gejala dan tanda pada penderita apabila penderita mengalami skabies.

11
Akan tetapi dengan penggunaan steroid, keluhan gatal tidak hilang
dan dalam waktu singkat setelah penghentian penggunaan steroid lesi
dapat kambuh kembali bahkan lebih buruk. Hal ini mungkin
disebabkan oleh karena penurunan respon imun seluler.10

Gambar 9 : Lesi krusta terlokalisasi pada penderita dengan


pengobatan regimen imunosupresan.

e. Norwegian scabies (Skabies berkrusta)


Merupakan skabies berat ditandai dengan lesi klinis generalisata
berupa krusta dan hiperkeratosis dengan tempat predileksi pada kulit
kepala berambut, telinga, bokong, telapak tangan, kaki, siku, lutut
dapat pula disertai kuku distrofik bentuk ini sangat menular tetapi
gatalnya sangat sedikit. Dapat ditemukan lebih dari satu juta populasi
tungau dikulit. Bentuk ini ditemukan pada penderita yang mengalami
gangguan fungsi imun misalnya AIDS, penderita gangguan
neurologik dan retardasi mental.1,10

12
Gambar 10 : Norwegian scabies yang bermanifestasi sebagai
kulit yang terekskoriasi, likenifikasi, hiperkeratosis.

6.6 Pemeriksaan Penunjang


Bila gejala klinis spesifik, diagnosis skabies mudah ditegakkan. Tetapi
penderita sering datang dengan lesi yang bervariasi sehingga diagnosis pasti
sulit ditegakkan. Pada umumnya diagnosis klinis ditegakkan bila ditemukan
dua dari empat cardinal sign. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menemukan tungau dan produknya yaitu :
a. Kerokan kulit
Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau
KOH 10% lalu dilakukan kerokan dengan meggunakan skalpel steril
yang bertujuan untuk mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan
pemeriksaan diletakkan di gelas objek dan ditutup dengan kaca penutup
lalu diperiksa dibawah mikroskop.10
b. Mengambil tungau dengan jarum
Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan
kedalam terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke
ujung lainnya kemudian dikeluarkan. Bila positif, tungau terlihat pada
ujung jarum sebagai parasit yang sangat kecil dan transparan. Cara ini
mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian tinggi.10
c. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)

13
Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit.
Setelah tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut
akan kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di sekitarnya karena
akumulasi tinta didalam terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk
gambaran kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk S.10
d. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)
Dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk
kemudian dibuat irisan tipis, dan dilakukan irisan superfisial
menggunakan pisau dan berhati-hati dalam melakukannya agar tidak
berdarah. Kerokan tersebut diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi
dengan minyak mineral yang kemudian diperiksa dibawah mikroskop.10
Biopsi irisan dengan pewarnaan Hematoksilin and Eosin

Gambar 11 : Sarcoptes scabiei dalam epidermis (panah) dengan


pewarnaan H.E.

e. Uji tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam
kanalikuli. Setelah dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet
dari lampu Wood, tetrasiklin tersebut akan memberikan fluoresensi
kuning keemasan pada kanalikuli.10
f. Dermoskopi
Dermoskopi awalnya dipakai oleh dermatolog sebagai alat yang berguna
untuk membedakan lesi-lesi berpigmen dan melanoma. Dermoskopi juga

14
dapat menjadi alat yang berguna dalam mendiagnosis scabies secara in
vivo. Alat ini dapat mengidentifikasi struktur bentuk triangular atau
bentuk-V yang diidentifikasi sebagai bagian depan tubuh tungau,
termasuk kepala dan kaki. Banyak laporan kasus yang didapatkan
mengenai pengalaman dalam mendiagnosis scabies dengan
menggunakan Dermoskopi. Dermoskopi sangat berguna, terutama dalam
kasus-kasus tertentu, termasuk kasus scabies pada pasien dengan terapi
steroid lama, pasien immunocompromised dan skabies nodular.14

Gambar 12 : Skabies yang teridentifikasi dengan Dermoskopi

6.7 Diagnosis Banding


1. Insect bite (gigitan serangga)
Karakteristik lesi berupa urtikaria papul eritematous 1-4 mm
berkelompok dan tersebar di seluruh tubuh, sedangkan tungau skabies
lebih suka memilih area tertentu yaitu menghindari area yang memiliki
banyak folikel pilosebaseus.6,15
Pada umumnya popular urtikaria terjadi akibat gigitan dan sengatan
serangga tetapi area lesinya hanya terbatas pada daerah gigitan dan
sengatan serangga saja sedangkan skabies ditemukan lesi berupa
terowongan yang tipis dan kecil seperti benang berwarna putih abu-abu,
pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel.1,15

15
Gigitan serangga biasanya hanya mengenai satu anggota keluarga
saja, sedangkan skabies menyerang manusia secara kelompok, sehingga
dalam sebuah keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga.10,15

Gambar 13 : Tampak gigitan serangga berupa bulla

2. Prurigo nodularis
Merupakan tanda klinik yang kronis yaitu nodul yang gatal dan
secara histologi ditandai adanya hiperkeratosis dan akantosis hingga ke
bawah epidermis. Sedangkan pada skabies ditemukan Sarcoptes scabiei
di bagian teratas epidermis yang mengalami akantosis. Pada prurigo,
penyebabnya belum diketahui. Namun dalam beberapa kasus, faktor
stress emosional menjadi salah satu pemicu sehingga sulit untuk
ditentukan apakah ini adalah penyebab atau akibat dari prurigo sedangkan
pada skabies disebabkan oleh adanya tungau Sarcoptes scabiei melalui
pewarnaan Hematoksilin-Eosin (H.E).6,16

16
Gambar 14 : Tampak prurigo nodularis di daerah lengan

6.8 Penatalaksanaan
Terdapat beberapa terapi untuk skabies yang memiliki tingkat
efektifitas yang bervariasi. Faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan yang
antara lain umur pasien, biaya pengobatan, berat derajat erupsi, dan faktor
kegagalan terapi yang pernah diberikan sebelumnya.1
Pada pasien dewasa, skabisid topikal harus dioleskan di seluruh
permukaan tubuh kecuali area wajah dan kulit kepala,dan lebih difokuskan di
daerah sela-sela jari, inguinal, genital, area lipatan kulit sekitar kuku, dan area
belakang telinga. Pada pasien anak dan skabies berkrusta, area wajah dan
kulit kepala juga harus dioleskan skabisid topikal.
Pasien harus di edukasi bahwa walaupun telah diberikan terapi skabisid
yang adekuat, ruam dan rasa gatal di kulit dapat tetap menetap hingga 4
minggu. Jika tidak diberikan penjelasan, pasien akan beranggapan bahwa
pengobatan yang diberikan tidak berhasil dan kemudian akan menggunakan
obat anti skabies secara berlebihan. Steroid topikal, anti histamin maupun
steroid sistemik jangka pendek dapat diberikan untuk menghilangkan ruam
dan gatal pada pasien yang tidak membaik setelah pemberian terapi skabisid
yang lengkap.1

17
1. Penatalaksanaan secara umum
Edukasi pada pasien skabies : 4
1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
2. Pengobatan meliputi seluruh bagian dari kulit tanpa terkecuali baik
yang yang terkena oleh skabies ataupun bagian kulit yang tidak terkena.
3. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan
pada malam hari sebelum tidur.
4. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
5. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan
teratur dan bila perlu direndam dengan air panas
6. Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu
walaupun rasa gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari.
7. Setiap orang di yang tinggal dalam satu rumah sebaiknya mendapatkan
penanganan di waktu yang sama.
8. Melapor ke dokter anda setelah satu minggu

2. Penatalaksanaan secara khusus


Ada banyak cara pengobatan secara khusus pada pengobatan skabies dapat
berupa topikal maupun oral antara lain :
a. Permethrin
Permethrin merupakan sintesa dari pyrethtoid, sifat skabisidnya
sangat baik. Obat ini merupakan pilihan pertama dalam pengobatan
skabies karena efek toksisitasnya terhadap mamalia sangat rendah dan
kecenderungan keracunan akibat salah dalam penggunaannya sangat
kecil. Hal ini disebabkan karena hanya sedikit yang terabsorbsi, cepat
dimetabolisme di kulit dan diseksresikan di urin. Tersedia dalam bentuk
krim 5 % dosis tunggal digunakan selama 8-12 jam, digunakan malam
hari sekali dalam 1 minggu selama 2 minggu, apabila belum sembuh
bisa dilanjutkan dengan pemberian kedua setelah 1 minggu. Permethrin
tidak dapat diberikan pada bayi yang kurang dari 2 bulan, wanita hamil,
dan ibu menyusui. Efek samping jarang ditemukan berupa rasa

18
terbakar, perih, dan gatal. Beberapa studi menunjukkan tingkat
keberhasilan permetrin lebih tinggi dari lindane dan crotamiton.
Kelemahannya merupakan obat topikal yang mahal.11,18
b. Presipitat Sulfur 2-10%
Presipitat sulfur adalah antiskabietik tertua yang telah lama
digunakan, sejak 25 M. Preparat sulfur yang tersedia dalam bentuk
salep (2% -10%) dan umumnya salep konsentrasi 6% lebih disukai.
Cara aplikasi salep sangat sederhana, yakni mengoleskan salep setelah
mandi ke seluruh kulit tubuh selama 24 jam tiga hari berturut-turut.
Keuntungan penggunaan obat ini adalah harganya yang murah dan
mungkin merupakan satu-satunya pilihan di negara yang membutuhkan
terapi massal.11,13
Bila kontak dengan jaringan hidup, preparat ini akan membentuk
hidrogen sulfida dan pentathionic acid (CH2S5O6) yang bersifat
germisid dan fungisid. Secara umum sulfur bersifat aman bila
digunakan oleh anak-anak, wanita hamil dan menyusui serta efektif
dalam konsentrasi 2,5% pada bayi. Kerugian pemakaian obat ini adalah
bau tidak enak, mewarnai pakaian dan kadang-kadang menimbulkan
iritasi.11
c. Benzyl benzoate
Benzyl benzoate adalah ester asam benzoat dan alkohol benzil
yang merupakan bahan sintesis balsam peru. Benzyl benzoate bersifat
neurotoksik pada tungau skabies. Digunakan sebagai 25% emulsi
dengan periode kontak 24 jam dan pada usia dewasa muda atau anak-
anak, dosis dapat dikurangi menjadi 12,5%. Benzyl benzoate sangat
efektif bila digunakan dengan baik dan teratur dan secara kosmetik bisa
diterima. Efek samping dari benzyl benzoate dapat menyebabkan
dermatitis iritan pada wajah dan skrotum, karena itu penderita harus
diingatkan untuk tidak menggunakan secara berlebihan. Penggunaan
berulang dapat menyebabkan dermatitis alergi. Terapi ini
dikontraindikasikan pada wanita hamil dan menyusui, bayi, dan anak-

19
anak kurang dari 2 tahun. Tapi benzyl benzoate lebih efektif dalam
pengelolaan resistant crusted scabies. Di negara-negara berkembang
dimana sumber daya yang terbatas, benzyl benzoate digunakan dalam
pengelolaan skabies sebagai alternatif yang lebih murah.4
d. Lindane (Gamma benzene heksaklorida)
Lindane juga dikenal sebagai hexaklorida gamma benzena, adalah
sebuah insektisida yang bekerja pada sistem saraf pusat tungau.
Lindane diserap masuk ke mukosa paru-paru, mukosa usus, dan selaput
lendir kemudian keseluruh bagian tubuh tungau dengan konsentrasi
tinggi pada jaringan yang kaya lipid dan kulit yang menyebabkan
eksitasi, konvulsi, dan kematian tungau, lindane dimetabolisme dan
diekskresikan melalui urin dan feses.4
Lindane tersedia dalam bentuk krim, losion, gel, tidak berbau dan
tidak berwarna. Pemakaian secara tunggal dengan mengoleskan ke
seluruh tubuh dari leher ke bawah selama 12-24 jam dalam bentuk 1%
krim atau losion. Setelah pemakaian dicuci bersih dan dapat
diaplikasikan lagi setelah 1 minggu. Hal ini untuk memusnahkan larva-
larva yang menetas dan tidak musnah oleh pengobatan sebelumnya.
Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan lindane selama 6 jam
sudah efektif. Dianjurkan untuk tidak mengulangi pengobatan dalam 7
hari, serta tidak menggunakan konsentrasi lain selain 1%.10
Efek samping lindane antara lain menyebabkan toksisitas sistem
saraf pusat, kejang, dan bahkan kematian pada anak atau bayi walaupun
jarang terjadi. Tanda-tanda klinis toksisitas SSP setelah keracunan
lindane yaitu sakit kepala, mual, pusing, muntah, gelisah, tremor,
disorientasi, kelemahan, berkedut dari kelopak mata, kejang, kegagalan
pernapasan, koma, dan kematian. Beberapa bukti menunjukkan lindane
dapat mempengaruhi perjalanan fisiologis kelainan darah seperti
anemia aplastik, trombositopenia, dan pansitopenia.4

20
e. Crotamiton krim (Crotonyl-N-Ethyl-O-Toluidine)
Crotamion (crotonyl-N-etil-o-toluidin) digunakan sebagai krim
10% atau losion. Tingkat keberhasilan bervariasi antara 50% dan 70%.
Hasil terbaik telah diperoleh bila diaplikasikan dua kali sehari selama
lima hari berturut-turut setelah mandi dan mengganti pakaian dari leher
ke bawah selama 2 malam, kemudian dicuci setelah aplikasi kedua.
Efek samping yang ditimbulkan berupa iritasi bila digunakan jangka
panjang.10
Beberapa ahli beranggapan bahwa krim ini tidak direkomendasikan
terhadap skabies karena kurangnya efikasi dan data penunjang tentang
tingkat keracunan terhadap obat tersebut. Crotamiton 10% dalam krim
atau losion, tidak mempunyai efek sistemik dan aman digunakan pada
wanita hamil, bayi dan anak kecil.4
f. Ivermectin
Ivermectin adalah bahan semisintetik yang dihasilkan oleh
Streptomyces avermitilis, anti parasit yang strukturnya mirip antibiotik
makrolid, namun tidak mempunyai aktifitas sebagai antibiotik,
diketahui aktif melawan ekto dan endo parasit. Digunakan secara
meluas pada pengobatan hewan, pada mamalia, pada manusia
digunakan untuk pengobatan penyakit filaria terutama oncocerciasis.
Diberikan secara oral, dosis tunggal, 200 ug/kgBB dan dilaporkan
efektif untuk skabies. Digunakan pada umur lebih dari 5 tahun. Juga
dilaporkan secara khusus tentang formulasi ivermectin topikal efektif
untuk mengobati skabies. Efek samping yang sering adalah kontak
dermatitis dan toxicepidermal necrolysis.10
g. Monosulfiran
Tersedia dalam bentuk lotion 25% sebelum digunakan harus
ditambahkan 2-3 bagian air dan digunakan setiap hari selama 2-3 hari.10

21
h. Malathion
Malathion 0,5% adalah dengan dasar air digunakan selama 24
jam, pemberian berikutnya beberapa hari kemudian.(10) Namun saat ini
tidak lagi direkomendasikan karena berpotensi memberikan efek
samping yang sangat tinggi.4

3. Penatalaksanaan skabies berkrusta


Terapi skabies ini mirip dengan bentuk umum lainnya, meskipun
skabies berkrusta berespon lebih lambat dan umumnya membutuhkan
beberapa pengobatan dengan skabisid. Kulit yang diobati meliputi kepala,
wajah, kecuali sekitar mata, hidung, mulut dan khusus dibawah kuku jari
tangan dan jari kaki diikuti dengan penggunaan sikat di bagian bawah
ujung kuku. Pengobatan diawali dengan krim permethrin dan jika
dibutuhkan diikuti dengan lindane dan sulfur. Mungkin sangat membantu
bila sebelum terapi dengan skabisid diobati dengan keratolitik.10

4. Penatalaksanaan skabies nodular


Skabies nodular merupakan salah satu karakteristik skabies yang
kronik mengenai beberapa bagian tubuh seperti genitalia pria dan aksilla.
Skabies seperti ini ditangani dengan anti skabitik disertai dengan
pemberian steroid. (4)

5. Pengobatan terhadap komplikasi


Pada infeksi bakteri sekunder dapat digunakan antibiotik oral
khususnya eritromisin.10

6. Pengobatan simptomatik
Obat antipruritus seperti obat anti histamin mungkin mengurangi
gatal yang secara karakeristik menetap selama beberapa minggu setelah
terapi dengan anti skabies yang adekuat. Pada bayi, aplikasi hidrokortison
1% pada lesi kulit yang sangat aktif dan aplikasi pelumas atau emolien

22
pada lesi yang kurang aktif mungkin sangat membantu, dan pada orang
dewasa dapat digunakan triamsinolon 0,1% untuk mengurangi keluhan.10

Tabel 2. Pengobatan Skabies1

Jenis Obat Dosis Keterangan

Krim Dioleskan selama 8-14 Terapi lini pertama di Amerika


Permethrin jam, diulangi selama 7 Serikat dan kehamilan kategori
5% hari. B.

Losion Dioleskan selama 8 jam Tidak dapat diberikan pada anak


Lindane 1% setelah itu dibersihkan, umur 2 tahun kebawah, wanita
olesan kedua diberikan 1 selama masa kehamilan dan
minggu kemudian. laktasi.

Krim Dioleskan selama 2 hari Memiliki efek anti pruritus tetapi


Crotamiton berturut-turut, lalu efektifitasnya tidak sebaik
10% diulangi dalam 5 hari. topikal lainnya.

Sulfur Dioleskan selama 3 hari Aman untuk anak kurang dari 2


presipitat 5- lalu dibersihkan. bulan dan wanita dalam masa
10% kehamilan dan laktasi, tetapi
tampak kotor dalam
pemakaiannya dan data efisiensi
obat ini masih kurang.

Losion Benzyl Dioleskan selama 24 jam Efektif namun dapat


Benzoat 10% lalu dibersihkan menyebabkan dermatitis pada

23
wajah

Ivermectin Dosis tunggal oral, bisa Memiliki efektifitas yang tinggi


200 υg/kg diulangi selama 10-14 dan aman. Dapat digunakan
hari bersama bahan topikal lainnya.
Digunakan pada kasus-kasus
skabies berkrusta dan skabies
resisten.

Setelah pengobatan berhasil untuk mematikan tungau, rasa gatal dapat


bertahan dan dirasakan selama 6 minggu sebagai reaksi eksematous. Pasien
dapat diobati dengan pengobatan eksema biasa dengan emolien dan
kortikosteroid topikal dengan atau tanpa antibiotik topikal tergantung adanya
infeksi sekunder Staphylocccus aureus. Antipruritus topikal crotamiton sering
membantu jika kulit gatal dengan hanya sedikit reaksi peradangan. Pasien
harus disarankan bahwa erupsi dari skabies membutuhkan waktu untuk
proses penyembuhan dan sebaiknya berhati-hati dengan penggunaan skabisid
yang berlebihan.17

6.9 Komplikasi
Di utara Australia, dilaporkan angka kematian meningkat 50 % selama
lebih dari 5 tahun, dengan penyebab utamanya yaitu infeksi bakterial
sekunder, yang sering disebabkan oleh Streptococcus aureus, Streptococcus
β-hemolitikus grup A, atau peptostreptococci. Beberapa laporan kasus
didapatkan vaskulitis leukositoklastik akibat scabies, dan satu kasus tercatat
adanya antikoagulan lupus. Impegtiginisasi sekunder adalah komplikasi
umum ditemukan dan berespon baik terhadap pemberian antibiotik topikal
ataupun oral, tergantung tingkat piodermanya. Selain itu, limfangitis dan
septiksemia dapat juga terjadi terutama pada Norwegian Scabies.
Glomerulonefritis juga pernah dilaporkan sebagai komplikasi dari scabies.

24
Post-streptococcal glomerulonephritis bisa terjadi karena scabies-induced
pyodermas yang disebabkan oleh Streptococcus pyogens.1,18

6.10 Prognosis
Jika tidak dirawat, kondisi ini bisa menetap untuk beberapa tahun. Pada
individu yang immunokompeten, jumlah tungau akan berkurang seiring
waktu. Investasi skabies dapat disembuhkan. Seorang individu dengan infeksi
skabies, jika diobati dengan benar, memiliki prognosis yang baik, keluhan
gatal dan eksema akan sembuh.1,17

6.11 Pencegahan
Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan skabies, orang-orang
yang kontak langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan
topikal skabisid. Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah
penyebaran skabies karena seseorang mungkin saja telah mengandung tungau
skabies yang masih dalam periode inkubasi asimptomatik.1
Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal,
handuk dan pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih
dan dikeringkan dengan udara panas karena tungau skabies dapat hidup
hingga 3 hari diluar kulit, karpet dan kain pelapis lainnya juga harus
dibersihkan (vacuum cleaner).1
.

25
VII. Dokumentasi

26
27
LEAFLET

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Stone SP, Goldfarb JN, Bacelieri RE. Scabies, other mites, and pediculosis
In: Wolff K, Lowell A, Katz GSI, Paller GAS, Leffell DJ, editors.
Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. 7th ed. United state of
America. McGraw-Hill; 2008. p. 2029-2032.

2. Trozak DJ, Tennenhouse JD, Russell JJ. Herpes Scabies. In: Trozak DJ,
Tennenhouse JD, Russell JJ editors. Dermatology Skills for Primary Care;
An Illustrated Guide: Humana Press; 2006. p. 105-11

3. Currie JB, McCarthy JS. Permethrin and Ivermectin for Scabies. New
England J Med. 2010; 362: p. 718.

4. Karthikeyan K. Treatment of Scabies: Newer Perspectives. Postgraduate


Med J. 2005; 81: p. 8 - 10.

5. Chosidow O. Scabies. New England J Med. 2006; 345: p. 1718-1723.

6. Burns DA. Diseases caused by arthropods and other noxious animals. In:
Rook’s textbook of dermatology. 8th ed. United kingdom. Willey-
blackwell; 2010. p. 38.36 – 38.38.

7. Handoko,PR. Skabies. In: Prof.Dr.dr.Adi Djuanda, editor. Ilmu penyakit


kulit dan kelamin. Ed 6. Jakarta. FK UI; 2010.p.122-123

8. Granholm JM, Olazowaki J. Scabies prevention and control manual.


Michigan department of community health. 2005; 1: p. 10.

29
9. Habif TP. Infestations and bites. In: Habif TP, editor. A clinical
dermatology : a color guide to diagnosis and therapy. 4th ed. London.
Mosby; 2004. p. 500.

10. Amiruddin MD. Skabies. In. Amiruddin MD, editor. Ilmu Penyakit Kulit.
Ed 1. Makassar: Bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin fakultas
kedokteran universitas hasanuddin; 2003. p. 5-10.

11. Oakley A. Scabies: Diagnosis and Management. BPJ journals. 2012; 19:
p. 12-16.

12. William DJ, Timothy GB, Dirk ME. Parasitic infestations, stings, and
bites. In: Sue Hodgson/Karen Bowler, editors. Andrews’ Disease of the
skin: Clinical Dermatology. 10th ed. Canada: Saunders Elsevier; 2006. p.
453

13. Hengge UR, Currie BJ, Jager G, Lupi O, Schwartz RA. Scabies: a
Ubiquitous Neglected Skin Disease. PubMed Med. J. 2006; 6: p. 771

14. Park JH, Kim CW, Kim SS. Scabies: The Diagnosis Accuracy of
Dermoscopy for Scabies. Ann Dermatology. 2012; 24: p. 194-99.

15. Elston DM. Bites and stings. In: Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP,
editors. Bolognia: Dermatology. 2nd ed. USA: Mosby Elsevier; 2008. p. 84

16. Jones JB. Eczema, lichenidentificatio, prurigo and erythroderma. In: Burns
T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rook’s textbook of
dermatology. 8th ed. USA. Willey-blackwell; 2010. p. 23.42 – 22.43.

17. Johnston G, Sladden M. Scabies: Diagnosis and treatment. Bmj journals.


2005; 331: p. 619, 622.

30
18. Leone PE. Scabies and Pediculosis Pubis : An Update of Treatment
Regiments and General Review. CID journals. 2007; 44: p. 153-59.

31

Anda mungkin juga menyukai