Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

Mata Kuliah: Fisiologi Hewan

ANALISIS ENZIM PENCERNAAN PADA USUS IKAN MAS


(Cyprinus carpio)

Oleh:
Kelompok 4
1. Said Muammar Alhadad (416)
2. Sri Putri Laini (4161141057)
3. Tika Handayani (4161141061)
4. Tio Silvia Silitonga (4163141050)
5. Yolinda br Ginting (4163141054)
Jurusan : Biologi
Program : Pendidikan Biologi (S-1)
Kelompok : 4 (Empat)
Tgl. Pelaksanaan : 2019

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
I. JUDUL : ANALISIS ENZIM PENCERNAAN PADA USUS IKAN
MAS (Cyprinus carpio)
II. TUJUAN
1. Untuk mengetahui macam- macam enzim pencernaan yang terdapat pada
saliva dan usus ikan
2. Untuk mengetahui saluran pencernaan pada ikan mas
3. Untuk mengetahui hasil dari cairan empedu ikan mas yang ditambah
dengan aquades dan minyak goreng sesudah dikocok
4. Untuk mengetahui hasil dari cairan empedu Ikan yang ditambah dengan
aquades dan minyak kelapa sesudah dikocok

III. TINJAUAN TEORITIS


Proses pencernaan makanan, makanan yang dicerna dipecah menjadi
molekul-molekul yang lebih sederhana sehingga mudah diserap melalui dinding
usus dan masuk kedalam aliran darah. Pencernaan merupakan proses yang
berlangsung terus menerus. Bermula dari pengambilan pakan dan berakhir dengan
pembuangan sisa pakan (Indira, 2011).
Enzim adalah satu atau beberapa gugus polipeptida (protein) yang
berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis
bereaksi) dalam suatu reaksi kimia. Sebagian besar enzim bekerja secara khas,
yang artinya setiap jenis enzim hanya dapat bekerja pada satu macam senyawa
atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang
bersifat tetap (Campbell, 1995)
Sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu
terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian struktur
alat pencernaan berbeda-beda dalam berbagai jenis hewan, tergantung pada tinggi
rendahnya tingkat organisasi sel hewan tersebut serta jenis makanannya. Pada
hewan invertebrata alat pencernaan makanan umumnya masih sederhana,
dilakukan secara fagositosis dan secara intrasel, sedangkan pada hewan-hewan
vertebrata sudah memiliki alat pencernaan yang sempurna yang dilakukan secara
ekstrasel. Bagian-bagian utamanya terdiri dari mulut, hulu kerongkongan,
kerongkongan, lambung, usus kecil, dan usus besar (Guyton,1995).
Pada hewan tingkat tinggi seperti ikan, makanan dicerna dalam saluran
khusus yang pada umumnya sudah berkembang dengan baik. Jadi, pencernaan
makanan pada hewan ini berlangsung didalam organ gastrointestinal (secara
ekstraseluler). Sistem gastrointestinal tersusun atas berbagai organ yang secara
fungsional dapat dibedakan menjadi empat bagian yaitu daerah penerimaan,
daerah penyimpanan, daerah pencernaan, dan penyerapan nutrien, serta daerah
penyerapan air dan ekskresi (Isnaeni, 2006).
Kelenjar pencernaan pada ikan, meliputi hati dan pankreas. Hati
merupakan kelenjar yang berukuran besar, berwarna merah kecoklatan, terletak di
bagian depan rongga badan dan mengelilingi usus, bentuknya tidak tegas, terbagi
atas lobus kanan dan lobus kiri, serta bagian yang menuju ke arah punggung.
Fungsi hati menghasilkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu untuk
membanfu proses pencernaan lemak. Kantung empedu berbentuk bulat, berwarna
kehijauan terletak di sebelah kanan hati, dan salurannya bermuara pada lambung.
Kantung empedu berfungsi untuk menyimpan empedu dan disalurkan ke usus bila
diperlukan. Pankreas merupakan organ yang berukuran mikroskopik sehingga
sukar dikenali, fungsi pankreas, antara lain menghasilkan enzim – enzim
pencernaan dan hormon insulin (Guyton, 1995).
Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula
(karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan
beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. ada uji benedict pereaksi ini akan
bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali dalam gugus aromatik dan alpha hidroksi
keton oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena
memiliki gugus alpha hidroksi keton maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa
dan maltosa dalam suasana basa memberikan hasil positif (+) dengan pereaksi
benedict. Untuk mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi
dalam makanan sampel makanan dilarutkan dalam air,dan ditambahkan sedikit
pereaksi benedict. Dipanaskan dalam waterbath selama 4-10 menit, selam proses
ini larutan akan berubah menjadi biru (tanpa adanya glukosa),
hijau, kuning, orange, merah dan merah bata/coklat (kandungan glukosa
tinggi) (Winarno,1994).
Uji biuret merupakan uji umum untuk protein (ikatan peptida) tetapi tidak
dapat menunjukkan asam amino bebas. Zat yang akan diselidiki mula-mula
ditetesi larutan NaOH, kemudian larutan tembaga(II) sulfat yang encer. Jika
terbentuk warna ungu, berarti zat itu mengandung protein. Warna violet akan
terbentuk pada larutan CuSO4 alkalis (reagen biuret) dengan 2 atau lebih ikatan
peptide ( CO-NH) yang saling berikat, atau pada atom N yang sama, atau atom C
yang sama. Disamping itu, terdapat 2 atau lebih gugusan karbomil (CONH2), C-
5NH2, CNH NH2, CR NH2. Dipeptida dan asam amino (kecuali histidin, serin dan
treonin) tidak memberi reaksi positif (Almatsier, 2003).

IV. ALAT DAN BAHAN


a. Alat

ALAT JUMLAH
Tabung reaksi 10 buah
Botol warna gelap dan tutup 1 buah
Mortal dan Alu 1 set
Gelas Piala 1 buah
Pembakar spritus 1 buah
Penjepit Kayu 1 buah
Pipet Tetes 1 buah
Rak tabung reaksi 1 buah
Gelas ukur 20 ml 2 buah
Corong kaca 1 buah
Kertas saring Secukupnya
Papan seksi 1 buah
Dissecting set 1 set

b. Bahan

BAHAN JUMLAH
Ikan mas dengan berat 300-350 g 1 ekor
Akuades Secukupnya
Toluen Secukupnya
Larutan kanji matang encer
Maltosa
Albumin/putih telur
Minyak goreng
Gliserin 50%
Reagen biuret
Reagen benedict
Korek api
Kertas karbon

V. PROSEDUR KERJA
a. Membuat Ekstrak Usus
No Prosedur Kerja
1. Membedah ikan mas pada bagian perutnya
Memisahkan usus dari organ lainnya secara berhati – hati. Mengambil
2.
usus halus dengan cara memotongnya dari bagian akhir lambung.
Mengambil kantung empedunya dengan hati-hati dan jangan sampai
3.
pecah.
4. Membuka usus halus dengan cara menyayatnya secara longitudinal.
Membersihkan usus tersebut dengan akuades, kemudian memasukkan ke
5.
dalam mortar.
Mengambil 20 ml gliserin 50% dan memasukkan ke dalam mortar,
menghaluskan ususnya. Mengambbil 4-5 toluene, menghaluskan kembali.
6.
Setelah halus memasukkan usus tersebut ke dalam botol, kemudian tutup
rapat-rapat.Membungkus botol dengan karbon.
7. Menyimpan ekstrak usus tersebut dalam ruang gelap selama 6-7 hari.
8. Setelah 6-7 hari, menyaring ekstrak usus tersebut dengan kertas saring.
Melakukan tes terhadap larutan hasil saringan tersebut yaitu tes
9.
pembuktian adanya amilase, maltase, dan tripsin.

b. Tes Pengaruh Empedu Terhadap Lemak


No Prosedur Kerja
1. Menyediakan 2 tabung reaksi. Beri label kedua tabung A dan B,
menuangkan isi kantung empedu ke dalam tabung A dengan menggunting
sedikit permukaannya.
2. Mengencerkan empedu tersebut dengan akuades sehingga volumenya
menjadi 2ml.
3. Memasukkan 2 ml akuades ke dalam tabung B sebagai kontrol
4. Menambahkan ke dalam kedua tabung tersebut masing-masing 2 ml
minyak goreng. Kocok keduanya kuat-kuat dan membiarkan selama 5-10
menit. Mengamati apa yang terjadi pada kedua larutan dalam tabung
tersebut. Membandingkan besarnya gumpalan lemak dalam masing-masing
tabung.

c. Tes pembuktian adanya Amilase


No Prosedur Kerja
1. Menyediakan dua tabung reaksi dan beri label A dan B. Menuangkan
reagen benedict ke dalam tabung tersebut masing-masing 2 ml.
2. Menyiapkan dua tabung lain dan beri label C dan D.
Memasukkan larutan kanji matang encer masing-masing 2 ml ke dalam
3. tabung C dan D untuk tabung C tambahkan 1 ml ekstrak usus sedangkan
tabung D tambahkan 1 ml akuades. Goyang kedua tabung tersebut selama
5-10 menit.
4. Meneteskan sebanyak 5 tetes larutan dalam tabung C ke tabung A, dan
larutan dalam tabung D ke tabung B.
5. Memanaskan tabung A dan B selama 5 menit dan amati perubahan warna
yang terjadi pada larutan tabung A dan B.

d. Tes pembuktian adanya Tripsin


No Prosedur Kerja
1. Menyiapkan dua tabung reaksi dan beri label A dan B, memasukkan ke
dalam tabung masing-masing 1 ml putih telu yang sudah diencerkan.
Memanaskan kedua tabung tersebut hingga mendidih.
2. Mendinginkan kedua tabung tersebut setelah dingin memasukkan 1 ml
ekstrak usus tabung A dan 1 ml akuades untuk tabung B diamkan 5-10
menit.
Meneteskan masing-masing 5 tetes reagen biuret ke dalam tabung A.
3.
4. Amati perubahan warna yang terjadi pada masing-masing tabung.
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Percobaan Fungsi Empedu Dalam Pencernaan Lemak Ikan Mas
No Perlakuan Sebelum Sesudah
1 Empedu+ Empedu dan aquades Setelah dikocok minyak
Aquades+ langsung bercapur dan dan empedu menyatu dan
Minyak menyatu,namun terhadap membentuk bulir bulir
Goreng minyak membentuk 2 berwarna hiju pekat
fase dimana minyak
diatas dan empedu yang
sudah diencerkan
dibawah dan belum
terdapat bulir-bulir
2 Empedu+aqua Sebelum dikocok Setelah dikocok menjadi
des+minyak empedu dan aquades dan menyatu antara empedu,
kelapa minyak kelapa sedikit minyak kelapa dan
terlihat membentuk 2 aquades lalu membentuk
fase, terpisah minyak bilir-bulir berwarna
diatas dan empedu kekuningan dengan
dibawah dengan dipisah warna empedu hijau
air aquades ditengah pudar.
3 2ml Awalnya membentuk 2 Setelah dikocok minyak
Aquades+10 fase minyak berada dan air aquades
tetes minyak diatas dan air dibawah membentuk bulir-bulir
goreng hanya sementara, lalu
menyebar lagi dan
membentuk 2 fase seperti
sebelum dikocok

Pembahasan :
Langkah awal yang dilakukan pada praktikum ini adalah menyiapkan 3
buah tabung reaksi yang diberi tanda A dan B dan C kemudian isi kantong
empedu dituangkan kedalam tabung reaksi A dan diencerkan dengan akuades
hingga volumenya 2 ml, agar cairan empedu tidak terlalu pekat. Isi kantung
empedu dituangkan dengan cara digunting permukaannya ke dalam tabung reaksi
adalah untuk mengetahui pengaruh empedu terhadap lemak. Selanjutnya pada
tabung B dimasukkan 2 ml akuades (tabung B digunakan sebagai kontrol).
Selanjutnya pada tabung A ditambahkan 10 tetes minyak goreng yang berfungsi
sebagai sumber lemak, pada tabung B ditambahkan 10 tetes minyak kelapa,
sedangkan pada tabung C ditambahkan minyak goreng, 2 ml tetes aquades dan 10
tetes minyak goreng. Pada keadaan awal ini didapatkan dua lapisan cairan pada
tabung reaksi A, pada bagian bawah terdapat cairan empedu yang telah
diencerkan dan pada bagian atas terdapat cairan minyak, pada tabung B juga
didapatkan dua lapisan, pada bagian bawah berisi air dan pada bagian atas berisi
minyak, keadaan ini dikarenakan berat jenis minyak lebih ringan daripada air
sehingga minyak cenderung berada di atas dan zat-zat lain yang mengandung air
berada di bagian bawah dan pada tabung C Setelah dikocok minyak dan air
aquades membentuk bulir-bulir hanya sementara, lalu menyebar lagi dan
membentuk 2 fase seperti sebelum dikocok . Empedu disekresikan oleh hati
berfungsi untuk mengemulsikan pencernaan dan absorbsi lemak bukan karena
adanya enzim pada empedu yang mencerna lemak tetapi adanya asamempedu.
Lebih dari 90% empedu adalah air, yang mengandung (a) senyawa-senyawa
organik, seperti garam-garam empedu, bilirubin, kolesterol, asam lemak, dan
lesitin; (b) senyawa-senyawa anorganik dalam bentuk ion, seperti Na+, K+, Ca2+,
Cl-, dan HCO3-
Garam-garam empedu inilah yang membantu mengemulsikan butir-butir
lemak sehingga mudah dicerna dan membentuk misel dengan asam lemak dan
monosakarida hasil pencernaan sehingga mudah larut. Fungsi dari akuades yang
dituangkan pada tabung reaksi B adalah sebagai kontrol dan akan dibandingkan
dengan empedu hasil yang terbentuk nantinya. Fungsi penambahan minyak
goreng adalah sebagai substrat. Kemudian dibiarkan 5-10 menit untuk
memberikan waktu agar terjadi reaksi. Dari perlakuan tersebut didapatkan hasil
yaitu pada tabung A tampak berwarna hijau tua dan tidak terdapat fase, sedangkan
pada tabung reaksi B tampak adanya 2 fase, pada bagian atas berwarna putih
keruh dan bagian bawah berwarna putih bening. Pada tabung A tampak emulsi
lemak yang merupakan hasil dari suatu proses yang disebut emulsifikasi.
Cairan empedu dibuat oleh hati dan disimpan dalam kantong empedu yang
kemudian dikeluarkan ke dalam duodenum untuk membantu proses pencernaan
makanan. Di dalam cairan empedu terdapat garam-garam empedu yang berfungsi
sebagai emulgator, yaitu sebuah zat yang dapat menyebabkan kestabilan suatu
emulsi. Dengan demikian, garam-garam empedu membantu proses pencernaan
lipid dalam usus. Enzim lipase pankreas menghidrolisis trigliserida menjadi
monogliserida dan asam lemak yang dapat diserap oleh tubuh.

Hasil Percobaan Analisis Enzim Pencernaan Pada Usus Ikan Mas


No Uji Perlakuan Sebelum Sesudah
1 Amilase Benedict Biru Biru (tidak terdapat
+kanji+ekstrak perubahan)
usus
Benedict Biru Biru (tidak terdapat
+kanji+aquades perubahan)
2 Tripsin Putih telur+ Memiliki warna Hijau toska
biuret +ekstrak kuning ataupun
usus kecoklatan
Putih telur+ Putih susu Biru toska
aquades
+ekstrak usus

Pembahasan:
Dari tabel tentang pengamatan analisis enzim pencernaan pada usus ikan
mas, kami melakukan praktikum analisis enzim perncernaan pada usus ikan mas,
kami melakukan dua uji yaitu uji amilase dengan uji tripsin. Dalam uji amilase
terdapat dua perlakuan yaitu yang pertama campuran 2 ml benedict + 2ml kanji+
1 ml ekstrak usus kedalam tabung reaksi menghasilkan warna biru. Setelah itu
tabung digoyang selama 5 – 10 menit, dari perlakuan ini menghasilkan warna biru
juga ataupun tidak terdapat perubahan (percobaan gagal) begitu juga dengan 2 ml
benedict + 2ml kanji+ 1 ml aquades menghasilkan warna biru juga, tidak terdapat
perubahan pada percobaan ini, jadi percobaan ini dikatakan gagal.
Sedangkan untuk uji tripsin untuk perlakuan pertama campuran putih telur
1 ml + 1 ml biuret +1 ml ekstrak usus awalnya berwarna kekuningan ataupun
kecoklatan setelah putih telur didihkan baru ditambahkan 1 ml biuret
menghasilkan warna hijau toska, namun seharusnya uji tripsin tidak menghasilkan
warna hijau toska jadi percobaan dikatakan gagal. Begitu juga dengan perlakuan
kedua penambahan 1 ml putih telur+ aquades +ekstrak usus yang awalnya
berwarna putih susu selanjutnya menghasilkan warna hijau toska, dan percobaan
ini dikatakan gagal karena menurut literatur uji tripsin tidak menghasilkan warna
biru toska jadi percobaan ini dikatakan gagal.

1. Saluran Pencernaan Pada ikan


a. Mulut
Mulut terletak di ujung hidung dan juga diatas hidung, disekitar bibir pada
beberapa ikan berperan sebagai alat peraba atau pendeteksi makanan. Posisi mulut
pada ikan sebenarnya sangat bervariasi disetiap jenis ikan. Hal ini sangat
tergantung dari kebiasaan memakan ikan. Jadi fungsi mulut adalah sebagai alat
untuk memasukan makanan.

b. Rongga mulut
Pada bagian belakang mulut terdapat ruang yang disebut rongga mulut.
Rongga mulut berhubungan langsung dengan faring. Secara anatomis organ
rongga mulut terdiri adalah gigi, lidah dan organ palatin. Fungsi utama dalam
rongga mulut adalah mempermudahkan masuknya makanan, dan terdapat organ
pengecap yang berfngisi menyeleksi makanan.

c. Farings
Lapisan permukaan faring hampir sama dengan rongga mulut, masih
ditemukan organ pengecap. Fungsi faring tempat penyaringan makanan dan
tempat pembuangan makanan yang yang tidak bisa ditelan melalui insang.
d. Esofagus
Esofagus adalah tenggoran dari ikan yang berbentuk seperti pipa, didalam
esofagus mengandung lendir berguna untuk membantu proses penelanan
makanan. Selain itu, berperan juga dalam penyerapan garam melalui difgusi pasif
menyebabkan konsenttarsi garam air laut yang imnum akan menurun ketikan di
lambung dan usus sehingga mempermudahlan penyerapan air oleh usus belakang
dan rectum.

e. Lambung
Lambung pencernaan ikan memiliki diamter relatif besar dibandingkan
dengan organ pencernaan lain. Besar ukuran lambung berkiatan dengan fungsinya
sebagai penampung makanan. Pada ikan yang tidak memiliki lambung digantikan
oleh usus depan yang dimodifiasi menjadi kantong yang membesar. Jadi fungsi
utama lambung adalah tempat penampungan makanan dan tempat pelindung
dinding lambung dari asam klorida.

f. Pilorus
Pilorus terletak di antara lambung dan usus depan. Pilorus memiliki
ukuran yang kecil/menyempit. Fungsi utama pilorus sebagai pengatur pengeluaran
makanan (chyme) dari lambung ke usus.

g. Usus (Intestinum)
Usus merupakan organ yang terpanjang dari saluran pencernaan. Usus
tersusun dari beberapa lapisan sel epitel dan otot. Anatomi usus ikan hampir sama
dengan vertebrata daratan. Didalam usus akan dieksresikan enzim-enzim
pencernaan dari pankreas (amilase, lipase dan tripsin). Fungsi utama usus adalah
tempat penyerapan nutrisi makanan yang terjadi di sepanjang dinding usus halus,
dan zat makanan yang tidak dicerna akan di teruskan ke rektum untuk dibuang
melalui anus.

h. Rektum
Rektum merupakan saluran pencernaan terujung. Secara anatomis sulit
untuk membedakan batas antara usus dengan rektum. Namun secara histologis
batas antara keda tersebut dapat dibedakan berdasarkan katup rektum. Rektum
berfungisi dalam penyerapan air dan ion.
i. Kloaka
Kolaka adalah ruang tempat bermuaranya saluran pencernaan dan saluran
uregenital. Ikan bertulang sejati tidak memiliki kloaka, sedangkan ikan bertulang
rawan memiliki organ kloaka.

j. Anus
Anus adalah ujung dari saluran pencernaan. Pada ikan sejati anus terletak
do sebelah depan saluran genital. Pada ikan yang memiliki bentuk tubuhnya
memanjang, anus terletak jauh dibelakang kepala berdekatan dengan pangkal
ekor. Sedangkan ikan yang tubuhnya membundar, anus terletak jauh di depan
pangkan ekor mendekati sirip dada

2. Fungsi empedu dan kandungannya

- Berperan dalam emulsi lemak, asam empedu membantu mengemulsi partikel-


partikel lemak yang besar menjadi partikel yang lebih kecil dan area
permukaan yang lebih luas untuk kerja enzim.
- Dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah pangkres, Asam
empedu membantu transport dan absorpsi produk akhir lemak yang dicerna
menembus membrane sel.
- Berperan dalam mengeluarkan beberapa produk buangan dari darah antara lain
bilirubin, suatu produk akhir dari penghancuran hemoglobin, dan kelebihan
kolesterol yang di bentuk oleh sel- sel hati. Sedangkan fungsi utama dari
kandung empedu adalah; menyimpan cairan empedu yang secara terus menerus
disekresi oleh hati, mengkonsentrasikan cairannya dengan cara mereabsorpsi
cairan dan elektrolit.

Kandung empedu adalah larutan berwarna kuning kehijauan terdiri dari;


- Air 97 %, pigmen empedu (bilirubin) memberi warna pada urin dan feses, jaunce
warna kekuningan pada jaringan.\
- Garam-garam empedu.

3. Enzim- enzim yang digunakan dalam percobaan ini


Dalam praktikum analisis enzim pencernaan pada usus ikan mas, adalah
enzim amilase, lipase,tripsin. Enzim tripsin, kimotripsin, dan erepsin akan diubah
menjadi asam amino yang berada dilambung yang akan dicerna menjadi pepton.
Fungsi enzim sebagai katalis atau senyawa yang bisa mempercepat terjadinya
proses reaksi tanpa dirinya sendiri habis karena proses reaksi. Zat penting ini
untuk melepaskan molekul uap air dalam tubuh, pelepasan unsur dan zat kimiawi
lainnya, melepaskan molekul-molekul, serta banyak lagi. Semua itu bertujuan
untuk memperlancar proses pencernaan serta metabolisme pada tubuh.

4. Hipotesis kegagalan percobaan


Dalam percobaan ini kami menggunakan literatur untuk pembahasan agar
praktikum yang sudah dilakukan semakin mudah dimengerti.
Jadi menurut literatur :

No Uji Perlakuan Sebelum Sesudah


1 Amilase Benedict Sebelum di namun setelah di
+kanji+ekstrak panaskan warnya panaskan selama 5
usus biru yang di menit warnanya
sebabkan oleh berubah menjadi
benedik hijau tua

Benedict Sebelum di namun setelah di


+kanji+aquades panaskan wananya panaskan selama 5
biru yang di menit warnanya
sebabkan oleh tetap menjadi biru
benedik
2 Tripsin Putih telur+ Sebelum di setelah di panaskan
biuret +ekstrak panaskan warnya dan di beri ekstrak
usus bening keputihan usus dan biuret
setelah di panaskan warnanya menjadi
dan di beri ekstrak kuning kecoklatan
usus dan biuret
warnanya menjadi
kuning kecoklatan .

Putih telur+ Sebelum di setelah di panaskan


aquades panaskan warnya dan di beri ekstrak
+ekstrak usus bening keputihan usus dan biuret
setelah di panaskan warnanya menjadi
dan di beri ekstrak putih keruh
usus dan biuret
warnanya menjadi
putih keruh

Dalam percobaan yang kami lakukan pada tabung A di dapatkan hasil akhir
berwarna hijau itu artinya pada usus ikan tersebut di tidak terdapat enzim amilase.
itu tandanya terjadi kesalahan, yang seharusnya secara literatur di dalam usus
tersebut terdapat enzim amilase dan warna yang dihasilkan adalah merah bata dan
terdapat endapan hal ini mungkin terjadi kerana kesalahan penambahan larutan,
baik sengaja atau tidak. benedict berfungsi untuk menguji adanya karbohidrat.
Dalam percobaan dilakukan pemanasan cairan, hal ini bertujuan untuk
mempercepat reaksi.
Setelah penambahan biuret, seharusnya tabung reaksi A terjadi perubahan
warna menjadi ungu, sedang pada tabung reaksi B seharusnya warna menjadi
merah muda mendekati orange. Warna ungu pada tabung reaksi A timbul karena
reagen Biuret bereaksi dengan gugus amin yang terdapat pada asam amino. Biuret
merupakan reagen yang bersifat basa, sehingga gugus amin dari asam amino
bertindak sebagai asam Dengan membentuk NH4+.
Reaksi menghasilkan senyawa basa NH4OH yang menyebabkan larutan
berwarna ungu. Larutan pada tabung raksi B berwarna orange atau merah muda
karena tidak terjadi reaksi penguraian protein albumin air sehingga hasil reaksi
tidak dapat bereaksi dengan reagen Biuret. Namun pada hasil praktikum yang
kami lakukan terdapat kesalahan ini mungkin karena pemanasan albumin yang
terlalu lama sehingga albumin terlebih dulu menggumpal. Di tambah lagi jumlah
larutan yang tidak memadai sehingga warna yang di hasilkan adalah kuning
kecoklatan dan putih keruh (Nurul, 2015).
VII. Diskusi
1. Mengapa pada percobaan ini harus menggunakan usus ikan yang masih
segar?
 Jawaban: Pada percobaan ini harus menggunakan usus ikan yang masih segar
disebabkan karena keadaan usus ikan mas yang masih segar masih dapat
dijumpai reaksi metabolisme seperti pemecahan zat makanan atau sari-sari
makanan yang masih berlangsung di dalam usus tersebut.

2. Ciri-ciri apa yang dapat anda kemukakan dari hasil percobaan ini
sehinggaterbukti adanya enzim maltase, amilase dan tripsin ?
 Jawaban:
 Enzim Amilase: Terjadi perubahan warna dari biru tua menjadi hijau
kecoklatan dan terdapat adanya endapan yang berwarna merah di dasar
tabung.
 Enzim Maltase: Terjadi perubahan warna dari biru tua menjadi merah
bata serta terdapat endapan di dasar tabung. Perubahan ini terjadi karena
pada usus ikan mengandung enzim maltase yang mengubah maltosa.
 Enzim Tripsin: Terjadi perubahan warna dari warna putih menjadi warna
ungu yang lebih muda. Hal ini dikarenakan karena pada ekstrak usus ikan
mas terdapat enzim tripsin yang mengubah protein (putih telur) menjadi
asam-asam amino.

3. Apa pengaruh cairan empedu terhadap minyak, mengapa proses inipenting


dalam pencernaan lemak ?
 Cairan empedu berwarna kuning kehijauan, 86% berupa air, dan tidak
mengandung enzim. Akan tetapi, mengandungmucin dan garam empedu
yang berperan dalam pencernaanmakanan. Cairan empedu tersusun atas
bahan-bahan berikut: 1) Air, berguna sebagai pelarut utama; 2) Mucin,
berguna untuk membasahi dan melicinkanduodenum agar tidak terjadi iritasi
pada dinding usus; 3) Garam empedu, mengandung natrium karbonat yang
mengakibatkan empedu bersifat alkali. Garam empedujuga berfungsi
menurunkan tegangan permukaan lemakdan air (mengemulsikan lemak).
Proses ini penting dalam pencernaan lemak karena dengan adanya garam
asam empedu sebagai emulgator, maka lemak dalam usus dapat dipecah-
pecah menjadi partikel-partikel kecil sebagai emulsi sehingga luas
permukaan lemak bertambah besar, sehingga proses hidrolisis dapat berjalan
cepat. Dan lemak yang telah dipecah-pecah menjadi partikel yang lebih kecil
dapat diserap oleh organ tubuh lainnya dalam ikan untuk dilanjutkan proses
pencernaan berikutnya.

4. Mengapa ekstrak usus harus disimpan selama 1 minggu sebelum diuji?


 Jawaban: usus yang telah dihaluskan dicampur dengan gliserin. Gliserin
adalah larutan yang mempunyai rasa manis berarti mengandung glukosa
(karbohidrat). Pencampuran ini dilakukan, dan kemudian ekstrak ini
disimpan selama 1 minggu sebelum pengujian agar enzim yang masih
terdapat pada usus ikan mas yang masih segar dapat bekerja, bahkan ekstrak
ini dibungkus dengan kartas karbon dan disimpan di tempat yang gelap.
Perlakuan ini dilakukan untuk membuat suasana seperti tempat (ruangan)
usus yang terdapat pada tubuh ikan mas (diruang tanpa terkena cahaya) yang
berarti enzim tidak akan bekerja apabila suhu tinggi sehingga akan
mengganggu kerja enzim.

5. Uraikan urutan hidrolisa amilum !


 Jawaban:

Secara umum amilum dan air akan menjadi glukosa.


(C6H12O6)n + n H2O n C6H10O6
Amilase

Amilum + H2O maltosa + H2O


(Hidrolisis) (Hidrolisis)

Maltase

Glukosa
VIII. KESIMPULAN
1. Hasil pengamatan enzim yang terdapat pada saliva yaitu enzim ptialin
yang memecah tepung (amylum) menjadi disakarida maltosa dan polimer
glukosa kecil lainnya. Sedangkan hasil enzim pencernaan pada usus ikan
mas terdapat enzim amilase, dan enzim protease.
2. Saluran pencernaan pada ikan mas yaitu rongga mulut, pangkal
tenggorokan (faring), kerongkongan (esofagus), lambung, usus, anus. Ikan
juga mempunyai kelenjar pencernaan yaitu hati.
3. Di dalam sistem pencernaan terdapat empedu yang berfungsi untuk
memperhalus butiran-butiran lemak menjadi emulsi sehingga mudah larut
dalam air dan diserap oleh usus, dan ditemukan adanya enzim lipase yang
berperan penting dalam proses pencernaan.
4. Dari hasil praktikum setelah dikocok minyak dan cairan empedu menyatu
membentuk bulir-bulir (hijau pudar). Aquades dan minyak goreng dapat
menyatu berkat kehadiran cairan empedu. Garam-garam empedu yang
terkandung di dalam cairan empedu berperan melarutkan minyak goreng
dalam aquades, yakni dengan cara membuat stabil emulsi lemak yang
berasal dari minyak goreng.
5. Dari hasil pengeamatan yang sudah dilakukan dapat diketahui bahwa
setelah aquades dikocok dengan minyak minyak kelapa yaitu minyak
kelapa berada di atas air, berwarna keruh tidak ada bulir. Hal ini
dikarenakan tanpa kehadiran cairan empedu minyak kelapa tidak dapat
larut dalam aquades. Minyak kelapa berada di atas aquades, karena massa
jenis minyak kelapa lebih kecil daripada massa jenis aqaudes.
DAFTAR PUSTAKA

Aditya. 2011. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Banda Aceh: Akfar.

Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utara.

Campbell, NA dan JB. Reece. 1995. Biology. Jakarta : Erlangga.

Ethel, Sloane. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.

F. G. Winarno. 1984. Biokimia. Jakarta: UI-Press.

Guyton, D. C. 1995. Fisiologi Hewan, Edisi 2. Jakarta: EGC.

Guyton, Hall. 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.

Indira, Fitriliyani. 2011. Aktifitas Enzim Saluran Pencernaan Ikan Nila


(Oreohromis Niloticus) Dengan Pakan Mengandung Tepung Daun
Lamtoro (Leucaena Leucophala) Terhidrolisis Dan Tanpa Hidrolisis
Dengan Ekstrak Enzim Cairan Rumen Domba. Jurnal BIOSCIENTIAE.
Vol 8. No. 2. Hal: 16-31.

Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius.

Syaifuddin. 2009. Fisiologi Tubuh Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan.


Jakarta: Salemba Medika.

Taryono. 2006. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: EGC.

Medan, 21 Maret 2019


Asisten Laboratorium Praktikan

Melati Nugrahalia Sipahutar Kelompok 4


4153141032