Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Penerapan praktik-praktik GCG yang baik merupakan salah satu langkah penting bagi
perusahaan baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk meningkatkan dan
memaksimalkan nilai perusahaan (corporate value), mendorong pengelolaan perusahaan yang
profesional, transparan dan efisien dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan,
akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggungjawab dan adil sehingga dapat memenuhi
kewajiban secara baik kepada pemegang saham, dewan komisaris, mitra bisnis, serta
stakeholders lainnya.
Beberapa hal yang perlu dilakukan perusahaan dalam rangka program pengembangan
dan penerapan praktik-praktik GCG:
1. Mengembangkan kebijakan dan peraturan yang dapat menciptakan lingkungan yang
kondusif untuk meningkatkan praktek-praktek GCG;
2. Mengembangkan model pengelolaan perusahaan yang mampu mendukung tumbuhnya
profesionalitas, transparansi, akuntabilitas, kesetaraan dan tanggungjawab
3. Mengembangkan sikap dalam melihat implementasi GCG sebagai kebutuhan dan
tuntutan etik, bukan semata sebagai kepatuhan terhadap regulasi.
Sebagai acuan praktik GCG yaitu mengacu pada prinsip yang diterbitkan oleh
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang merupakan salah
satu lembaga yang memegang peranan penting dalam pengembangan Good Governance.
Pertama kali OECD mengeluarkan prinsip-prinsip Corporate governance pada Mei 1999 dan
telah direvisi pada bulan Desember 2004. Prinsip dasar Corporate governance yang
dikeluarkan OECD pada tahun 2004 mencakup:
1. Memastikan kerangka pengembangan Corporate governance yang efektif;
2. Hak Pemegang Saham dan Fungsi Utama Kepemilikan Saham;
3. Perlakuan yang sama terhadap Pemegang Saham;
4. Peranan Stakeholders dalam Corporate governance;
5. Keterbukaan dan Transparasi;
6. Tanggung Jawab Dewan (Komisaris dan Direksi).
Prinsip-prinsip diatas menjadi acuan perusahaan dalam menerapkan sistem tata kelola yang
baik agar tujuan perusahaan dapat tercapai sehingga menguntungkan baik perusahaan,
shareholder maupun stakeholder.
Lebih lanjut, pihak direksi, dewan komisaris, manajemen dan staf berkomitmen untuk
menerapkan praktek-praktek GCG dalam pengelolaan kegiatan usahanya. Kesadaran akan
pentingnya GCG bagi perusahaan adalah karena keinginan untuk menegakkan integritas dalam
menjalankan bisnis yang sehat.
Penerapan praktek-praktek GCG bersama dengan perangkat manajemen lainnya dapat
meningkatkan kinerja perusahaan dan memaksimalkan nilai perusahaan (corporate value).
Praktik GCG antara lain meliputi:
a. Seleksi dan penunjukan Dewan Komisaris dan Direksi
b. Penilaian kinerja Direksi dan Dewan Komisaris
c. Tugas dan tanggungjawab Dewan Komisaris dan Direksi
d. Tatanan hubungan Dewan Komisaris dengan manajemen dan pemegang saham
e. Komite audit
f. Pengelolaan resiko

1.2 TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan paparan pendahuluan diatas, penulisan ini bertujuan untuk mengkaji


tanggung jawab dewan Komisaris dan Direksi pada PT. ANTAM (Persero) Tbk dengan
mengacu prinsip OECD enam serta implementasinya. Sejauh mana pihak direksi dan dewan
komisaris berkomitmen dan bertanggung jawab untuk menerapkan praktek-praktek GCG
dalam pengelolaan kegiatan usahanya
Semakin baik tingkat implementasi ketentuan Good Governance yang dikeluarkan oleh
OECD, maka diharapkan dapat menegakkan integritas dalam menjalankan bisnis yang sehat.

1.3 RUANG LINGKUP PENULISAN

Penulisan ini membatasi ruang lingkup pengkajian pada:


1. Perusahaan PT. ANTAM (Persero) Tbk
2. Prinsip OECD Enam tentang tanggung jawab dewan komisaris
1.4 METODE STUDI

Dalam pelaksanaannya penulisan ini menggunakan metode studi kepustakaan yaitu dengan
melakukan pengumpulan data dan informasi tentang teori mengenai Good Corporate
governance. Melakukan penelaahan kesesuaian antara Prinsip dasar Corporate governance
yang dikeluarkan OECD pada tahun 2004 dan implementasinya di perusahaan PT. ANTAM
(Persero) Tbk
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI CORPORATE GOVERNANCE DAN PERKEMBANGAN KONSEP


CORPORATE GOVERNANCE

2.1.1 DEFINISI CORPORATE GOVERNANCE

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mendefinisikan


corporate governance sebagai berikut: “Corporate governance is the system by wich business
corporations are directed and controlled. The corporate governance structure specifies the
distribution rights and responsibilities among different participants in the corporation, such as
the board, the mangers, shareholders and other stakeholders, and spell out rules and procedure
for making decisions on corporate affairs. By doing this, it also provides the structure through
which the company objectives are set, and the means of attaining those objectives and
monitoring performance”.
Sesuai dengan definisi di atas, menurut OECD corporate governance adalah system yang
dipergunakan untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan bisnis perusahaan. Corporate
governance mengatur pembagian tugas, hak dan kewajiban mereka yang berkepentingan
terhadap kehidupan perusahaan, termasuk pemegang saham, Dewan Pengurus, para manajer,
dan semua anggota the stakeholders non-pemegang saham.

2.1.2 PERKEMBANGAN KONSEP CORPORATE GOVERNANCE

Selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate governance (GCG) kian
populer. Tak hanya populer, tetapi istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat. Hal
itu, setidaknya terwujud dalam dua keyakinan. Pertama, GCG merupakan salah satu kunci
sukses perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus
memenangkan persaingan bisnis global - terutama bagi perusahaan yang telah mampu
berkembang sekaligus menjadi terbuka. Kedua, krisis ekonomi dunia, di kawasan Asia dan
Amerika Latin yang diyakini muncul karena kegagalan penerapan GCG. Di antaranya, Sistem
Regulatory yang payah, Standar Akuntansi dan Audit yang tidak konsisten, praktek perbankan
yang lemah, serta pandangan Board of Directors (BOD) yang kurang peduli terhadap hak-hak
pemegang saham minoritas.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka tidak mengherankan jika selama dasawarsa
1990-an, tuntutan terhadap penerapan GCG secara konsisten dan komprehensif datang secara
beruntun. Mereka yang menyuarakan hal itu di antaranya adalah berbagai lembaga investasi
baik domestik maupun mancanegara, termasuk institusi sekaliber World Bank, IMF, OECD,
dan APEC. Dengan melontarkan beberapa prinsip umum dalam CG seperti fairness,
transparency, accountability, stakeholder concern, dapat disimpulkan bahwa penerapan GCG
diyakini akan menolong perusahaan dan perekonomian negara yang sedang tertimpa krisis
bangkit menuju ke arah yang lebih sehat, maju, mampu bersaing, dikelola secara dinamis serta
profesional. Ujungnya adalah daya saing yang tangguh, yang diikuti pulihnya kepercayaan
investor.
Sangat jelas bahwa perhatian terhadap corporate governance belakangan ini terutama
dipicu oleh skandal spektakuler perusahaan-perusahaan publik di Amerika dan Eropa, seperti
Enron, Worldcom, Tyco, London & Commonwealth, Poly Peck, Maxwell, dan lain-
lain.Cadbury Report (UK) dan Treadway Report (US) secara mendasar menyebutkan bahwa
keruntuhan perusahaan-perusahaan publik tersebut dikarenakan oleh kegagalan strategi
maupun praktik curang dari manajemen puncak yang berlangsung tanpa terdeteksi dalam
waktu yang cukup lama karena lemahnya pengawasan yang independen oleh corporate boards.
Isu corporate governance itu sendiri muncul sejak diperkenalkannya pemisahan antara
kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. Namun istilah corporate governance itu sendiri
secara eksplisit muncul pertama kali pada tahun 1984 dalam tulisan Robert I. Tricker berjudul
“Corporate governance – Practices, Procedures, and Power in British Companies and Their
Board of Directors”. Di dalam bukunya, Tricker memandang corporate governance memiliki
empat kegiatan utama sebagai berikut:
1. Direction, formulating the strategic direction from the future of the enterprise in the long
term;
2. Executive action, involvement in crucial executive decisions;
3. Supervision, monitoring and oversight of management performance, and
4. Accountability, recognizing responsibilities to those making legitimate demand for
accountability.

Sedangkan dalam konsep Corporate governance terdapat dua teori utama yang terkait
yaitu stewardship theory dan agency theory. Stewardship theory dibangun di atas asumsi
filosofis mengenai sifat manusia yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya,
mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab memiliki, integritas, dan kejujuran terhadap
pihak lain. Inilah yang tersirat dalam hubungan fidusia yang dikehendaki para pemegang
saham. Dengan kata lain, stewardship theory memandang manajemen sebagai dapat dipercaya
untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun
shareholders pada khususnya.
Sementara itu, agency theory yang dikembangkan oleh Michael Johnson, seorang
professor dari Harvard, memandang bahwa manajemen perusahaan sebagai ‘agents’ bagi para
pemegang saham, akan bertindak dengan penuh kesadaran bagi kepentingannya sendiri, bukan
sebagai pihak yang arif dan bijaksana serta adil terhadap pemegang saham sebagaimana
diasumsikan dalam stewardship model. Bertentangan dengan stewardship theory, agency
theory memandang bahwa manajemen tidak dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-
baiknya bagi kepentingan publik pada umumnya maupun shareholders pada khususnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, agency theory mendapat respons lebih luas karena
dipandang lebih mencerminkan kenyataan yang ada. Berbagai pemikiran mengenai corporate
governance berkembang dengan bertumpu pada agency theory di mana pengelolaan
perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk memastikan bahwa pengelolaan dilakukan
dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku. Upaya ini
menimbulkan apa yang disebut sebagai agency costs, yang menurut teori ini harus dikeluarkan
sedemikian rupa sehingga biaya untuk mengurangi kerugian yang timbul karena
ketidakpatuhan setara dengan peningkatan biaya enforcement-nya.
Agency costs ini mencakup biaya untuk pengawasan oleh pemegang saham; biaya yang
dikeluarkan oleh manajemen untuk menghasilkan laporan yang transparan, termasuk biaya
audit yang independen dan pengendalian internal; serta biaya yang disebabkan karena
menurunnya nilai kepemilikan pemegang saham sebagai bentuk ‘bonding expenditures’ yang
diberikan kepada manajemen dalam bentuk opsi dan berbagai manfaat untuk tujuan
menyelaraskan kepentingan manajemen dengan pemegang saham.

2.2 PRINSIP-PRINSIP OECD 2004 MENGENAI CORPORATE GOVERNANCE

Prinsip-prinsip OECD 2004 mengenai coporate governance ini menjadi acuan masyarakat
internasional dalam pengembangan corporate governance, namun OECD menjelaskan tidak
satu modal pengembangan corporate governance yang cocok untuk semua negara, masing-
masing negara memiliki karakteristik yang berbeda. Salah satu contoh adalah perbedaan sistem
yang digunakan dalam perusahaan. Beberapa negara menggunakan one tier system dimana
pengawas perusahaan disebut “Board” dan pengurus perusahaan disebut “Key Executives”.
Sementara itu banyak juga negara yang menggunakan two tier system dimana pengawasan
perusahaan dilakukan oleh “Board of Commisoner” dan pengurusan perusahaan dilakukan oleh
“Directors”. Oleh karena itu, penerjemahan yang dilakukan dalam studi ini adalah mengikuti
sistem dimana Indonesia menggunakan two tier system, sehingga istilah “Board” dalam OECD
diartikan sebagai “Dewan Komisaris, dan “Key Executives” sebagai “Direksi”.
Secara umum terdapat enam prinsip corporate governance dalam Prinsip-prinsip OECD
2004 mengenai corporate governance. Keenam prinsip ini menjelaskan hal-hal yang
mencakup, kerangka dasar corporate governance, hak pemegang saham, kesetaraan perlakuan
pemegang saham, peranan stakeholders, keterbukaan dan transparansi, serta tanggung jawab
dewan komisaris. Sedangkan fokus dalam penulisan ini yaitu mengenai prinsip OECD Enam
yaitu Jawab Dewan Komisaris dan Direksi.

2.2.1 PRINSIP ENAM OECD TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS DAN


DIREKSI

Prinsip GCG dari OECD yang terakhir (ke-enam) berkaitan dengan tanggung jawab dewan
komisaris dan direksi perusahaan. Dalam prinsip ini dinyatakan bahwa kerangka kerja tata
kelola perusahaan harus memastikan pedoman strategis perusahaan, monitoring yang efektif
terhadap manajemen oleh dewan, serta akuntabilitas dewan terhadap perusahaan dan
pemegang saham.
Berkaitan dengan adanya dua macam struktur pengawasan dan pengelolaan perusahaan di
antara anggota OECD, yaitu two tier boards dan unitary board, prinsip ini secara umum dapat
diterapkan baik pada perusahaan yang memisahkan fungsi dewan komisaris sebagai pengawas
(non-executive director) dan dewan direksi sebagai pengurus perusahaan (executive director),
maupun pada perusahaan yang menyatukan antara pengawas dan pengurus perusahaan dalam
satu dewan.
Menurut prinsip ini, tanggung jawab dewan yang utama adalah memonitor kinerja
manajerial dan mencapai tingkat imbal balik (return) yang memadai bagi pemegang saham. Di
lain pihak, dewan juga harus mencegah timbulnya benturan kepentingan dan menyeimbangkan
berbagai kepentingan di perusahaan.
Agar dewan dapat menjalankan tanggung jawab tersebut secara efektif, maka dewan perlu
dapat melakukan penilaian yang obyektif dan independen. Selain itu, tanggung jawab lain yang
tidak kalah penting yaitu memastikan bahwa perusahaan selalu mematuhi ketentuan peraturan
hukum yang berlaku, terutama di bidang perpajakan, persaingan usaha, perburuhan, dan
lingkungan hidup.
Dewan perlu memiliki akuntabilitas terhadap perusahaan dan pemegang saham serta
bertindak yang terbaik untuk kepentingan mereka. Dewan juga diharapkan bertindak secara
adil kepada pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya, seperti kepada karyawan, kreditur,
pelanggan, pemasok dan masyarakat sekitar perusahaan.
Secara lebih rinci, prinsip tanggung jawab dewan ini dapat diuraikan menjadi enam sub prinsip,
sebagai berikut:

A. Anggota dewan harus bertindak berdasarkan informasi yang jelas, dengan itikad yang baik,
berdasarkan due diligence dan kehati-hatian, serta demi kepentingan perusahaan dan
pemegang saham.
Sub prinsip ini menyatakan dua elemen penting dari tanggung jawab pengelolaan
(fiduciary duty) dewan, yaitu kewajiban kehati-hatian (duty of care) dan kewajiban
kesetiaan (duty of loyalty). Dalam kewajiban kehati-hatian, dewan diharapkan bertindak
berdasarkan informasi yang cukup, dengan itikad baik dengan seksama (due diligent) dan
hati-hati. Di banyak Negara, telah terdapat suatu standar yang menjadi referensi mengenai
perilaku dewan yang bagaimana yang dapat dianggap merupalan tindakan yang prudent
dalam suatu keadaan tertentu.
Kewajiban kesetiaan merupakan hal yang paling penting karena sangat berpengaruh
terhadap efektifitas penerapan prinsip-prinsip GCG yang lain. Sebagai contoh: pelayanan
yang sama kepada semua pemegang saham, pengawasan terhadap transaksi kepada pihak
terafiliasi, dan penyusunan kebijakan remunerasi bagi dewan dan manajemen perusahaan.
B. Apabila keputusan dewan dapat mempengaruhi suatu kelompok pemegang saham secara
berbeda dengan kelompok pemegang saham lain, maka dewan harus memperlakukan
seluruh pemegang saham secara adil.
Dewan tidak dapat dipandang sebagai suatu organ yang bertindak sendiri-sendiri mewakili
kunstituen mereka masing-masing. Meskipun terdapat anggota dewan yang dinominasikan
oleh pemegang saham tertentu, akan tetapi dalam melaksanakan tugasnya, anggota dewan
harus memperlakukan setiap pemegang saham dengan seimbang.
C. Dewan harus menerapkan standar etika yang tinggi dan memperhatikan kepentingan para
pemangku kepentingan.
Standar etika yang tinggi merupakan kepentingan jangka panjang perusahaan agar
memperoleh kredibilitas dan kepercayaan tidak hanya dalam kegiatan sehari-hari tapi juga
terhadap komitmen-komitnmen jangka panjang yang dibuat perusahaan. Banyak
perusahaan menyusun suatu kode etik (code of conducts) berdasarkan suatu standar
profesional agar tujuan ini dapat dilaksanakan dengan jelas dan operasional. Dalam hal ini
terdapat beberapa perusahaan yang telah menerapkan OECD Guidlines for Multinational
Enterprises yang mencerminkan ke empat prinsip yang terkandung dalam ILO Declaration
on Fundamental Labour Rights.
D. Fungsi-fungsi utama yang harus dimiliki oleh suatu dewan adalah sebagai berikut:
1. Menelaah dan mengarahkan strategi perusahaan, rencana utama, kebijakan mengenai
resiko, anggaran tahunan, dan rencana usaha, menetapkan sasaran kinerja, memonitor
penerapan dan kinerja perusahaan serta memantau belanja modal yang besar, akuisisi
dan divestasi.
2. Memonitor efektifitas praktik tata kelola perusahaan serta membuat perubahan-
perubahan yang diperlukan.
3. Menyeleksi, memberikan kompensasi, memonitor serta bila perlu mengganti pejabat
eksekutif serta mengawasi perencanaan penggantian pejabat.
4. Menyesuaikan remunerasi eksekutif kunci dan dewan dengan kepentingan jangka
panjang dari perusahaan dan pemegang saham.
5. Memastikan proses nominasi dan pemilihan dewan secara transparan dan formal.
6. Memonitor dan mengelola potensi benturan kepentingan dari manajemen, anggota
Dewan serta pemegang saham, termasuk penyalahgunaan aset perusahaan dan
penyelewengan dalam transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
7. Memastikan integritas sistem pelaporan akuntasi dan keuangan perusahaan, termasuk
audit independen, serta memastikan bahwa sistem pengendalian yang tepat telah
diterapkan, khususnya mengenai sistem manajemen resiko, pengendalian keuangan
dan operasional, serta kesesuaian dengan peraturan perundangan serta standard-
standard yang berlaku.
8. Mengawasi proses keterbukaan dan komunikasi.

E. Dewan harus dapat melaksanakan penilaian yang obyektif dan independen dalam
melakukan pengurusan perusahaan.
Prinsip ini diperlukan agar dewan dapat melaksanakan tugasnya dalam memonitor kinerja
manajerial, mencegah benturan kepentingan dan menyeimbangkan kepentingan-
kepentingan dalam perusahaan. Dalam mewujudkan prinsip tersebut, beberapa hal yang
perlu diperhatikan adalah:
1. Dewan komisaris harus mempertimbangkan untuk menugaskan anggota dewan
komisaris dalam jumlah yang cukup yang mampu melakukan penilaian yang
independen untuk tugas-tugas dimana terdapat potensi benturan kepentingan.
2. Apabila komite-komite di bawah dewan komisaris telah terbentuk, mandat, komposisi
dan prosedur kerja mereka harus ditentukan dengan baik dan diungkapkan oleh
Dewan.
3. Anggota dewan harus dapat mengikatkan diri mereka secara efektif kepada tanggung
jawab mereka.
F. Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya, anggota dewan komisaris harus memiliki
akses terhadap infomasi yang akurat, relevan dan tepat waktu.
Informasi yang diperoleh secara akurat, relevan dan tepat waktu dibutuhkan dalam
mendukung tugas pembuatan keputusan-keputusan bagi perusahaan. Anggota dewan
komisaris pada umumnya tidak memiliki akses yang sama sebagaimana yang dimiliki
manajemen perusahaan terhadap informasi mengenai kondisi perusahaan. Untuk itu, peran
dewan pengawas ini dapat ditingkatkan dengan menyediakan akses kepada manajer kunci
tertentu seperti sekretaris perusahaan dan internal auditor ataupun mempekerjakan
penasehat independen dari luar perusahaan.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


3.1.1 SEJARAH PERUSAHAAN
Perusahaan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk didirikan pada tanggal 5 Juli 1968
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1968, dengan nama “Perusahaan Negara (PN)
Aneka Tambang”, dan diumumkan dalam tambahan No. 36, Berita Negara No. 56, tanggal 5
Juli 1968. Pada saat pembentukannya, ANTAM merupakan penggabungan dari Tujuh
perusahaan negara yaitu :
1. BPU Perusahaan-perusahaan Tambang Umum Negara – Jakarta.
2. PN Tambang Emas Cikotok – Banten Selatan.
3. PN Pertambangan Bauksit Kijang – Pulau Bintan
4. PN Logam Mulia – Jakarta.
5. PT (Negara) Pertambangan Nikel Indonesia – Sulawesi Tenggara.
6. Proyek Pertambangan Intan Martaputra – Kalimantan Selatan.
7. Proyek Emas Logas - Pekanbaru, Riau.
Pada tanggal 14 Juni 1974, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1974, status
perusahaan diubah dari perusahaan negara menjadi perusahaan negara perseroan terbatas
(“perusahaan perseroan”) dan sejak itu dikenal sebagai “Perusahaan Perseroan (Persero) Aneka
Tambang”.
Dalam perkembangan selanjutnya, ANTAM memperluas operasinya dengan tambahan
Tiga unit pertambangan lainnya dan Satu unit eksplorasi. Pertambangan Pasir Besi Cilacap
memulai operasinya pada tanggal 10 Juni 1971, sedangkan pertambangan nikel Gebe dimulai
pada tahun 1979. Kegiatan eksplorasi emas di Pongkor dimulai pada tahun 1988 dan mulai
berproduksi pada tahun 1994. karena meningkatnya aktivitas eksplorasi, ANTAM
memutuskan untuk membentuk unit Geologi didirikan pada tanggal 29 Februari 1980 yang
melaksanakan kegiatan eksplorasi. Sejak tahun 1980, aktivitas unit Geologi telah menjangkau
hampir seluruh wilayah Indonesia dan menghasilkan data eksplorasi yang sangat berharga
untuk ANTAM. Pada saat ini ANTAM memiliki Tujuh unit operasi, yaitu :
1. Unit Pertambangan Bauksit Kijang – Kijang, Riau.
2. Unit Pertambangan Nikel Pomalaa – Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
3. Unit Pertambangan Nikel Gebe – P.Gebe, Maluku.
4. Unit Pertambangan Emas Pongkor – Pongkor, Jawa Barat.
5. Unit Pertambangan Pasir Besi Cilacap – Cilacap, Jawa Tengah.
6. Unit Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia – Jakarta, DKI.
7. Unit Geologi – Jakarta, DKI.
Kantor pusat perusahaan berlokasi di Gedung Aneka Tambang Jl. Letjen T.B. Simatupang
No. 1, Lingkar Selatan, Tanjung Barat, Jakarta, Indonesia. Disamping itu, perusahaan juga
memiliki Kantor Perwakilan Makassar yang berada di Jalan DR. Ratulangi No. 60, yang
membantu pembelian persediaan barang dan pendistribusian produk Nikel.
Hasil produksi PT Antam,Tbk adalah Nikel, Emas dan Perak, Bauksit, Pasir Besi, dan
Geologi

3.1.2 VISI DAN MISI PERUSAHAAN


3.1.2.1 VISI PERUSAHAAN
Visi Antam 2030 adalah “Menjadi korporasi global terkemuka melalui diversifikasi dan
integrasi usaha berbasis sumber daya alam”. Adapun arti visi tersebut yaitu:
a. Korporasi
Badan usaha holding yang memberi nilai tambah kepada stakeholder
b. Global Terkemuka
• Jangkauan operasional dan pemasaran di seluruh dunia
• Operasional berstandar kelas dunia
• Perusahaan pengolah mineral terbesar di Indonesia
c. Terdiversifikasi
Bisnis yang pruden melalui pengembangan usaha secara horisontal/multi komoditas
d. Terintegrasi
Bisnis yang saling terkait dari hulu ke hilir
e. Berbasis Sumber Daya Alam
Pengelolaan sumber daya alam yang memberikan nilai tambah pada komonitas inti dan
bisnis pendukungnya

3.1.2.2 MISI PERUSAHAAN


Adapun misi Antam adalah :
a. Menghasilkan produk-produk berkualitas dengan memaksimalkan nilai tambah melalui
praktik-praktik industri terbaik dan operasional yang unggul.
b. Mengoptimalkan sumber daya dengan mengutamakan keberlanjutan, keselamatan kerja
dan kelestarian lingkungan.
c. Memaksimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan.
d. Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan karyawan serta kemandirian ekonomi
masyarakat di sekitar wilayah operasi.

3.1.3 STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN


3.1.3.1 KOMPOSISI DEWAN KOMISARIS
Komposisi dan jumlah anggota Dewan Komisaris ditetapkan oleh RUPS dengan
memperhatikan visi, misi, dan rencana strategis ANTAM untuk memungkinkan pengambilan
keputusan yang efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak secara independen. Komposisi
Dewan Komisaris ANTAM per tanggal 31 Desember 2017 berjumlah 6 (enam) orang, dengan
susunan sebagai berikut:
Dewan Komisaris bertugas mengawasi dan memberikan nasihat kepada Direksi sebagai
pengurus Perusahaan yang pelaksanaan tugas, tanggung jawab dan kewenangannya dilaporkan
kepada RUPS. Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, lingkup pekerjaan Dewan
Komisaris berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan Anggaran Dasar Perusahaan
antara lain:
1. Melakukan pengawasan atas jalannya pengurusan Perusahaan oleh Direksi serta
memberikan persetujuan atas rencana pengembangan Perusahaan, Rencana Jangka
Panjang Perusahaan (RJPP), Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) dan
rencana lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan usaha dan kegiatan Perusahaan;
2. Melakukan tugas, wewenang dan tanggung jawab serta tugas yang secara khusus diberikan
kepada Dewan Komisaris sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perusahaan, keputusan
RUPS dan ketentuan peraturan perundang-undangan serta wajib melaksanakan prinsip
profesionalisme, efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban
serta kewajaran;
3. Melakukan tindakan untuk kepentingan Perusahaan dan bertanggung jawab kepada RUPS;
4. Menunjuk penilai (assessor) independen dalam proses penerapan GCG di Perusahaan
melalui proses sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa yang bilamana
diperlukan dapat meminta bantuan Direksi dalam proses penunjukkannya;
5. Memberikan pendapat dan saran yang sesuai dengan tugas pengawasan Dewan Komisaris
kepada RUPS mengenai setiap persoalan lainnya yang dianggap penting bagi pengelolaan
Perusahaan;
6. Setiap anggota Dewan Komisaris wajib dengan itikad baik, kehati-hatian, dan bertanggung
jawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada Direksi untuk
kepentingan Perusahaan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan, dan tidak
dimaksudkan untuk kepentingan pihak atau golongan tertentu;
7. Mengikuti perkembangan kegiatan Perusahaan, dan dalam hal Perusahaan menunjukkan
gejala kemunduran yang menyolok, segera melaporkan kepada RUPS disertai dengan
saran mengenai langkah perbaikan yang harus ditempuh;
8. Meneliti dan menelaah laporan tahunan yang dipersiapkan oleh Direksi serta
menandatangani laporan tersebut, serta memastikan bahwa Laporan Tahunan Perusahaan
telah memuat informasi mengenai identitas, pekerjaan-pekerjaan utamanya, jabatan
Dewan Komisaris di perusahaan lain, termasuk rapat-rapat yang dilakukan dalam satu
tahun buku (rapat internal maupun rapat gabungan dengan Direksi), serta honorarium,
fasilitas, dan/atau tunjangan lain yang diterima dari Perusahaan;
9. Memberikan tanggapan atas laporan berkala Direksi yang telah dipublikasikan serta pada
setiap waktu yang diperlukan mengenai perkembangan Perusahaan dan melaporkan hasil
pelaksanaan tugasnya kepada Pemegang Saham Seri A Dwiwarna tepat pada waktunya;
10. Memberikan persetujuan atas usulan Direksi tentang Kepala Satuan Pengawas Intern yang
telah melalui mekanisme internal Perusahaan;
11. Memantau efektivitas pelaksanaan fungsi pengawasan internal Perusahaan secara periodik
serta pengawasan lainnya yang ditentukan oleh RUPS;
12. Memberikan arahan atas tata kelola teknologi informasi, kebijakan mutu dan pelayanan,
kebijakan proses pengadaan, termasuk memantau efektivitas pelaksanaannya secara
periodik serta pengawasan terhadap kebijakan pengelolaan Anak perusahaan;
13. Melakukan pengkajian secara berkala atas efektivitas sistem manajemen risiko dan
pengendalian internal Perusahaan;
14. Memberikan arahan mengenai pengawasan dan pemantauan perjanjian pihak ketiga
(pengawasan dan pemantauan kepatuhan Direksi dalam menjalankan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan perjanjian dengan pihak ketiga);
15. Melaksanakan proses penunjukan calon auditor eksternal sesuai dengan ketentuan
pengadaan barang dan jasa di Perusahaan, dan apabila diperlukan dapat meminta bantuan
Direksi dalam proses penunjukkannya, serta menyampaikan kepada RUPS mengenai
alasan pencalonan tersebut dan besarnya honorarium/imbal jasa yang diusulkan untuk
auditor eksternal tersebut;
16. Berkoordinasi dan melakukan evaluasi bersama dengan Akuntan Publik yang akan
melakukan pemeriksaan atas buku-buku Perusahaan, untuk kemudian diajukan sebagai
usulan kepada RUPS;
17. Memastikan bahwa auditor eksternal, auditor internal, dan komite audit serta komite
lainnya jika ada, memiliki akses terhadap catatan akuntansi, data penunjang, dan informasi
mengenai Perusahaan, sepanjang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya;
18. Menentukan sistem nominasi, evaluasi kinerja, remunerasi yang transparan bagi Dewan
Komisaris dan Direksi setelah mempertimbangkan hasil kajian Komite GCG-NR untuk
selanjutnya diajukan agar memperoleh persetujuan RUPS serta melaksanakannya untuk
internal Dewan Komisaris;
19. Menentukan dan menyampaikan kepada Direksi, sistem dan prosedur untuk mengisi
jabatan senior manajemen satu tingkat di bawah Direksi sesuai dengan mekanisme yang
diatur dalam Kebijakan Tata Kelola Perusahaan (CGP) dan Kebijakan Manajemen
berdasarkan hasil kajian Komite GCG-NR;
20. Meningkatkan kompetensi dan pengetahuannya secara bekesinambungan untuk
menjalankan fungsi sebagai Dewan Komisaris secara profesional;
21. Setiap anggota Dewan Komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri, melainkan
berdasarkan keputusan Dewan Komisaris;
22. Setiap anggota Dewan Komisaris ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian
Perusahaan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya;
23. Tanggung jawab berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota Dewan Komisaris
atas kepailitan karena kesalahan dan kelalaian dalam pengawasan terhadap Direksi;
24. Anggota Dewan Komisaris tidak dapat mengemban tanggung jawab atas kerugian yang
terjadi dalam operasional Perusahaan apabila dapat membuktikan bahwa anggota Dewan
Komisaris:
a. Telah melakukan pengawasan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan
Perusahaan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan;
b. Tidak mempunyai kepentingan pribadi baik langsung maupun tidak langsung atas
tindakan pengurusan Direksi yang telah mengakibatkan kepailitan;
c. Telah memberikan nasihat kepada Direksi untuk mencegah timbul atau berlanjutnya
kepailitan tersebut;
d. Kepailitan bukan karena kesalahan atau kelalaian Dewan Komisaris.

3.1.3.2 KOMPOSISI DEWAN DIREKSI


Direksi adalah organ Perusahaan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan
Perusahaan untuk kepentingan dan tujuan Perusahaan serta mewakili Perusahaan baik di dalam
maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan.
Pada tahun 2017, terdapat perubahan komposisi Direksi berdasarkan keputusan RUPS
tahunan tanggal 2 Mei 2017 maka perubahan pembagian tugas Direksi adalah sebagai berikut:
Direksi bertugas dan bertanggung jawab secara kolegial dalam mengelola Perusahaan.
Adapun tugas dan tanggung jawab Direksi sebagai berikut:
1. Memimpin, mengurus, dan mengendalikan Perseroan sesuai dengan tujuan Perseroan dan
senantiasa berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas Perseroan;
2. Menguasai, memelihara, dan mengurus kekayaan Perseroan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku dan Anggaran Dasar Perseroan;
3. Mengkaji Visi dan Misi Perseroan secara berkala dan memberikan persetujuan (apabila
terdapat perubahan);
4. Melaksanakan prinsip pengelolaan GCG, dimana salah seorang anggota Direksi ditunjuk
oleh Rapat Direksi sebagai penanggung jawab dalam penerapan dan pemantauan GCG di
Perseroan termasuk di dalam membangun BUMN yang bersih dan bebas dari gratifikasi,
fraud, dan KKN;
5. Membantu Dewan Komisaris apabila diperlukan dalam proses penunjukan penilai
(assessor) independen dalam proses assessment penerapan GCG di Perseroan dan apabila
dipandang lebih efektif dan efisien, penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan jasa
Instansi Pemerintah yang berkompeten di bidang GCG, yang penunjukannya dilakukan
oleh Direksi melalui penunjukan langsung;
6. Menyelenggarakan suatu sistem pengendalian internal yang efektif untuk mengamankan
investasi dan aset Perseroan;
7. Melaksanakan tugasnya dengan itikad baik untuk kepentingan Perseroan dan sesuai
dengan maksud dan tujuan Perseroan, serta memastikan agar Perseroan melaksanakan
tanggung jawab sosialnya serta memperhatikan kepentingan dari berbagai Pemangku
Kepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
8. Menyampaikan informasi mengenai identitas, pekerjaan-pekerjaan utamanya, jabatan
Dewan Komisaris di anak perusahaan/perusahaan patungan dan/atau perusahaan lain,
termasuk rapat-rapat yang dilakukan dalam satu tahun buku (rapat internal maupun rapat
gabungan dengan Dewan Komisaris), serta gaji, fasilitas, dan/atau tunjangan lain yang
diterima dari Perseroan yang bersangkutan dan anak Perusahaan/Perusahaan patungan
Perseroan yang bersangkutan, untuk dimuat dalam Laporan Tahunan Perseroan;
9. Untuk memenuhi syarat akuntabilitas, keterbukaan, dan tertib administrasi, Direksi wajib:
a. Membuat Daftar Pemegang Saham, Daftar Khusus, Risalah RUPS, dan Risalah Rapat
Direksi;
b. Membuat Laporan Tahunan dan Dokumen Keuangan Perseroan;
c. Memelihara seluruh Daftar, Risalah, dan Dokumen Keuangan Perseroan, dan
dokumen lainnya;
d. Menyimpan di tempat kedudukan Perseroan, seluruh daftar, risalah, dokumen
keuangan Perseroan, dan dokumen lainnya.
10. Mengelola Perseroan dan wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada
Pemegang Saham/Pemilik Modal;
11. Mempertimbangkan risiko-risiko usaha dalam setiap pengambilan keputusan/tindakan;
12. Membangun dan melaksanakan program manajemen risiko korporasi secara terpadu yang
merupakan bagian dari pelaksanaan program GCG. Pelaksanaan program manajemen
risiko dilakukan dengan membentuk unit kerja tersendiri yang ada di bawah Direksi;
13. Menangani risiko-risiko tersebut dengan menggunakan strategi pengendalian dan
pengelolaan risiko Perseroan yang meliputi: Identifikasi dan Penetapan Risiko, Penilaian
dan Pengukuran Risiko, Pengelolaan dan Penanganan Risiko, Pemantauan dan Pelaporan
Risiko;
14. Menyampaikan laporan profil manajemen risiko dan penanganannya bersamaan dengan
laporan berkala Perseroan;
15. Menyelenggarakan pengawasan internal, yakni dengan membentuk Satuan Pengawasan
Internal dan membuat Piagam Pengawasan Internal (Charter Internal Audit);
16. Kepala Satuan Pengawasan Intern diangkat dan diberhentikan oleh Direktur Utama
berdasarkan mekanisme internal Perseroan dengan persetujuan Dewan Komisaris;
17. Menjaga dan mengevaluasi kualitas fungsi pengawasan intern di Perseroan serta secara
periodik menyampaikan laporan pelaksanaan fungsi pengawasan internal di Perseroan
kepada Dewan Komisaris;
18. Menyelenggarakan fungsi Sekretaris Perusahaan (Corporate Secretary) serta menjaga dan
mengevaluasi kualitas fungsi Sekretaris Perusahaan;
19. Menetapkan tata kelola teknologi informasi yang efektif, menjaga dan mengevaluasi
kualitas fungsi tata kelola teknologi informasi di Perseroan, serta secara periodik
menyampaikan laporan pelaksanaan tata kelola teknologi informasi kepada Dewan
Komisaris;
20. Apabila diperlukan atau diminta oleh Dewan Komisaris melalui Komite Audit, Direksi
membantu Dewan Komisaris dalam proses penunjukan calon auditor eksternal sesuai
dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa Perseroan;
21. Bersama-sama dengan Dewan Komisaris memastikan bahwa auditor eksternal, auditor
internal, dan Komite Audit, serta komite penunjang lainnya, memiliki akses terhadap
catatan akuntansi, data penunjang, dan informasi mengenai Perseroan, sepanjang
diperlukan untuk melaksanakan tugasnya;
22. Memastikan bahwa aset dan lokasi usaha serta fasilitas Perusahaan lainnya, memenuhi
peraturan perundang-undangan berkenaan dengan kesehatan dan keselamatan kerja serta
pelestarian lingkungan;
23. Mempekerjakan, menetapkan besarnya gaji, memberikan pelatihan, menetapkan jenjang
karir, serta menentukan persyaratan kerja lainnya, tanpa memperhatikan latar belakang
etnik, agama, jenis kelamin, usia, cacat tubuh yang dipunyai seseorang, atau keadaaan
khusus lainnya yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan;
24. Menyediakan lingkungan kerja yang bebas dari segala bentuk tekanan (pelecehan) yang
mungkin timbul sebagai akibat perbedaan watak, keadaan pribadi, dan latar belakang
kebudayaan seseorang.

3.2 PEMBAHASAN KASUS


Berikut hasil penilaian beberapa lembaga mengenai penerapan GCG pada ANTAM:
ACHIEVMENT ACHIEVMENT
PARAMETER ASSESOR
0F 2016 0F 2017
Indonesian Institute
Corporate Governance Perception Index
of Corporate 88,64 88,69
(CGPI)
Governance (IICG)
Indonesian Institute
ASEAN Corporate Governance Scorecard for Corporate 90,29 95,87
Directorship
PT SINERGI
BUMN Scorecard, SK-16/S-MBU/2012 97,86 97,01
DAYA PRIMA
The
Australian Securities Exchange (ASX) Corporate
PT SINERGI
Corporate Governance Principles and 4,76 Governance
DAYA PRIMA
Recommendation Structure is
Outstanding
PT SINERGI Fully Fully
Pedoman Tata Kelola Perusahaan OJK
DAYA PRIMA Comply Comply

Tetapi disini kami mencoba untuk melakukan penilaian sendiri berdasarkan prinsip OECD
Enam yaitu mengenai implementasi tanggung jawab dewan komisaris. Adapun penilaiannya
sebagai berikut:
A. Anggota dewan harus bertindak berdasarkan informasi yang jelas, dengan itikad
yang baik, berdasarkan due diligence dan kehati-hatian, serta demi kepentingan
perusahaan dan pemegang saham
Kebijakan Keterbukaan Informasi tanggal 27 September 2013, ANTAM secara kredibel
telah melaksanakan pengungkapan informasi yang lengkap, akurat, dan tepat waktu atas
semua informasi atau fakta material kepada pemegang saham, komunitas investasi serta
publik pada umumnya agar para pelaku pasar dapat mengambil keputusan berdasarkan
informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebijakan ini juga memfasilitasi akses
yang adil terhadap informasi atau fakta material melalui komunikasi pengungkapan yang
berimbang dan tidak selektif (non-selective disclosure), melindungi dan menghindarkan
Perusahaan dari penyalahgunaan atau pengungkapan yang tidak tepat atas informasi yang
bersifat rahasia. Kebijakan ini telah menjelaskan jenis informasi, prosedur dan pihak yang
bertanggung jawab atas penyampaian informasi publik. Kewajiban kesetiaan merupakan
hal yang paling penting karena sangat berpengaruh terhadap efektivitas penerapan prinsip-
prinsip GCG yang lain. Pengawasan Antam yang semakin efisien melalui komite
penunjang dewan komisaris juga mendukung kehati-hatian anggota dewan dalam
pengambilan keputusan. Di dalam tugas dan tanggung jawab dewan komisaris tercantum
“Setiap anggota Dewan Komisaris wajib dengan itikad baik, kehati-hatian, dan
bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada
Direksi untuk kepentingan Perusahaan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan,
dan tidak dimaksudkan untuk kepentingan pihak atau golongan tertentu” (Annual Report
Antam, 2016).

B. Apabila keputusan dewan dapat mempengaruhi suatu kelompok pemegang saham


secara berbeda dengan kelompok pemegang saham lain, maka dewan harus
memperlakukan seluruh pemegang saham secara adil.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan ANTAM dan ANTAM’s Articles of Association
menjelaskan bahwa anggota dewan harus bersikap adil terhadap para pemegang
kepentingan.
Tapi penerapan keadilan tersebut belum terpenuhi dimana setiap keputusan harus disetujui
oleh pemegang saham Dwiwarna. Jika tidak disetujui maka keputusan tersebut tidak bisa
dilaksanakan.
C. Dewan harus menerapkan standar etika yang tinggi dan memperhatikan
kepentingan para pemangku kepentingan
PT Antam Tbk telah memiliki Standar Etika Perusahaan atau Code of Conduct (CoC) sejak
tahun 2007 yang disusun untuk mempengaruhi, membentuk, mengatur dan melaksanakan
kesesuaian tingkah laku Insan ANTAM. Sebagai bentuk komitmen Insan ANTAM untuk
selalu mentaati Standar Etika Perusahaan, maka pemberian komitmen wajib dilakukan
setiap tahun, diawali dengan penandatanganan Lembar Pemberlakuan dan Maklumat
Komitmen dari Dewan Komisaris, Direksi serta Jajaran Manajemen ANTAM (pejabat 1
level di bawah Direksi) pada tanggal 5 Juli 2014. Komite GCG-NR juga memastikan
bahwa Standar Etika Perusahaan sudah dimutakhirkan di tahun 2014 untuk mendorong
Insan ANTAM mampu membudayakan nilai-nilai ANTAM sebagai kekuatan dalam
mencapai Visi ANTAM 2020. Komite juga memastikan fungsi pengawasan internal yang
berperan dalam pengawasan terhadap penerapan CGP, MP dan SOP dan Standar Etika
Perusahaan, dan jika terdapat pelanggaran etika akan dapat ditangani oleh Tim
Whistleblowing yang bekerja di bawah kendali Dewan Komisaris. Pada tahun 2017,
presentasi pemberian komitmen atas Standar Etika Perusahaan mencapai 100%, hal ini
membuktikan bahwa seluruh insan ANTAM berkomitmen untuk patuh pada Standar Etika
Perusahaan. Selain itu, sejak tahun 2013 ANTAM telah melakukan pengukuran atas
pemahaman Standar Etika Perusahaan yang menjadi bagian dalam Key Performance
Indicator (KPI) masing- masing Divisi/Unit/Unit Bisnis. Adapun rata-rata nilai tingkat
pemahaman pegawai untuk semua level jabatan pada tahun 2017 sudah diatas rata-rata
score yang ditargetkan. Perusahaan mencapai 100% yang menunjukan komitmen
perusahaan untuk mengimplementasikan GCG dalam seluruh aktivitas bisnis perusahaan.

D. Fungsi-fungsi utama yang harus dimiliki oleh suatu dewan


1) Menelaah dan mengarahkan strategi perusahaan, rencana utama, kebijakan
mengenai resiko, anggaran tahunan, dan rencana usaha, menetapkan sasaran
kinerja, memonitor penerapan dan kinerjaperusahaan serta memantau belanja
modal yang besar, akuisisi dan divestasi.
Fungsi ini telah dilakukan oleh dewan direksi dan dewan komisaris ANTAM pada
tahun 2017 yaitu dengan dilakukannya evaluasi anak perusahaan secara menyeluruh,
melakukan kajian atas usulan divestasi Anak Perusahaan, melakukan evaluasi rencana
jangka panjang perusahaan, melakukan ekspansi bisnis emas dan inovasi produk
logam mulia, serta menyiapkan rencana kerja dan anggaran untuk tahun 2018.
2) Memonitor efektifitas praktik tata kelola perusahaan serta membuat
perubahan-perubahan yang diperlukan.
Sub-prinsip ini telah diterapkan di ANTAM yang dinyatakan dalam tugas dan
tanggung jawab dewan komisaris. Monitoring dilakukan dengan menunjuk assessor
independen untuk menilai penerapan GCG di ANTAM.
3) Menyeleksi, memberikan kompensasi, memonitor serta bila perlu mengganti
pejabat eksekutif serta mengawasi perencanaan penggantian pejabat.
ANTAM mempunyai Komite Good Corporate Governance, Nominasi dan
Remunerasi (GCG-NR). Dibentuk untuk membantu tugas pengawasan dan
penasihatan Dewan Komisaris dalam memantau dan memastikan diterapkannya Good
Corporate Governance termasuk CSR/PKBL/UKM dan Lingkungan dan memberikan
penilaian serta pengarahan yang berhubungan dengan Nominasi, Remunerasi dan
Pengembangan SDM secara efektif dan berkelanjutan di Perusahaan.
Agar Komite GCG-NR dapat berperan secara efisien dan efektif, maka disusun
Pedoman Kerja (Charter) Komite GCG-NR yang dimutakhirkan dan disahkan terakhir
oleh Dewan Komisaris pada tanggal 29 Juli 2016 serta telah dipublikasikan di website
ANTAM. Charter tersebut mencakup struktur keanggotaan, keanggotaan, persyaratan
keanggotaan termasuk persyaratan kompetensi dan independensi, tugas, tanggung
jawab dan wewenang, rapat, pelaporan dan anggaran. Selama tahun 2016, Komite
GCG-NR telah melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai Pedoman Kerja
(Charter) Komite GCG-NR serta Program Kerja Komite GCG-NR 2016.
Selain itu antam mempunyai acuan pada Anggaran Dasar Perusahaan, Peraturan
Menteri BUMN PER-03/MBU/02/2015 tanggal 17 Pebruari 2015 tentang Persyaratan
Tata Cara Pengangkatan, dan Pemberhentian Anggota Direksi Badan Usaha Milik
Negara, serta Peraturan Menteri BUMN PER-02/MBU/02/2015 tanggal 17 Pebruari
2015 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota
Dewan Komisaris dan Dewan Pengawas Badan Usaha Milik Negara.
4) Menyesuaikan remunerasi eksekutif kunci dan dewan dengan kepentingan
jangka panjang dari perusahaan dan pemegang saham.
Renumerasi bagi anggota dewan komisaris dan direksi ditetapkan oleh dewan
komisaris (sesuai dengan pendelegasian wewenang oleh RUPS) dengan basis formula
yang telah disetujui oleh pemegang saham seri A dan mengacu pada surat kementerian
BUMN tentang penetapan gaji/honorium. Pertimbangan dalam penentuan besaran
renumerasi antara lain perbandingan besaran renumerasi antara perusahaan lain yang
sejenis, pencapaian KPI serta tingkat kesehatan perusahaan.
5) Memastikan proses nominasi dan pemilihan dewan secara transparan dan
formal.
Selama tahun 2017, Komite GCG-NR telah melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya sesuai Pedoman Kerja (Charter) Komite GCG-NR serta Program Kerja
Komite GCG-NR 2016. Realisasi pelaksanaan tugas Komite GCG-NR di tahun 2017
di antaranya adalah penilaian kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
6) Memonitor dan mengelola potensi benturan kepentingan dari manajemen,
anggota Dewan serta pemegang saham, termasuk penyalahgunaan aset
perusahaan dan penyelewengan dalam transaksi dengan pihak yang mempunyai
hubungan istimewa.
Sepanjang tahun 2017, tidak terjadi peristiwa terkait benturan kepentingan yang
dilakukan oleh dewan komisaris dan direksi. Hal ini tercantum dalam surat pernyataan
telah bertindak independen selama tahun 2017 dan pubikasi daftar khusus
kepemilikan saham.
Kebijakan yang mensyaratkan dewan komisaris untuk mengkaji transaksi pihak
berelasi yang material terlebih dahulu untuk menentukan apakah transaksi tersebut
memberikan kepentingan terbaik bagi perusahaan.
7) Memastikan integritas sistem pelaporan akuntasi dan keuangan perusahaan,
termasuk audit independen, serta memastikan bahwa sistem pengendalian yang
tepat telah diterapkan, khususnya mengenai sistem manajemen resiko,
pengendalian keuangan dan operasional, serta kesesuaian dengan peraturan
perundangan serta standard-standard yang berlaku.
Salah satu tugas dewan komisaris yang tertuang dalam annual report ANTAM 2017
yaitu berkoordinasi dengan akuntan publik, memastikan bahwa auditor eksternal,
interal da komite audit memiliki akses terhadap catatan akuntansi dan data
penunjangnya serta bertugas untuk melakukan pengujian secara berkala atas
efektivitas sistem manajemen risiko dan pengendalian internal.
8) Mengawasi proses keterbukaan dan komunikasi.
Dalam hal ini dewan mengawasi proses keterbukaan dan komunikasi dapat dilihat dari
website ANTAM dan kemudahan memperoleh semua informasi mengenai informasi
finansial, non finansial, manajemen dan lain sebagainya.
E. Dewan harus dapat melaksanakan penilaian yang obyektif dan independen dalam
melakukan pengurusan perusahaan
1) Dewan komisaris harus mempertimbangkan untuk menugaskan anggota dewan
komisaris dalam jumlah yang cukup yang mampu melakukan penilaian yang
independen untuk tugas-tugas dimana terdapat potensi benturan kepentingan.
Sesuai Peraturan OJK No. 33/POJK.04/2014 Komisaris Independen bukan
merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk
merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau mengawasi kegiatan Emiten atau
Perusahaan Publik tersebut dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir, kecuali untuk
pengangkatan kembali sebagai Komisaris Independen Emiten atau Perusahaan, tidak
mempunyai saham baik langsung maupun tidak langsung pada Emiten atau
Perusahaan Publik tersebut, tidak mempunyai hubungan Afiliasi dengan Emiten atau
Perusahaan Publik, anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, atau pemegang
saham utama Emiten atau Perusahaan Publik tersebut; dan tidak mempunyai
hubungan usaha baik langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan
kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.
Berdasarkan keputusan RUPS Perseroan, ANTAM memiliki 2 (dua) Komisaris
Independen yaitu Prof. Dr. Der Soz Gumilar Rusliwa Somantri dan Ir. Anang Sri
Kusuwardono yang diangkat pada RUPS tanggal 2 Mei 2017, dari total keseluruhan
6 (enam) anggota Dewan Komisaris atau berjumlah 33,33%. Menurut kami karena
jumlah presentase dewan komisaris independen kurang dari 50% maka dianggap tidak
mampu melakukan penilaian yang independen untuk tugas-tugas dimana terdapat
potensi benturan kepentingan.
2) Apabila komite-komite di bawah dewan komisaris telah terbentuk,mandat,
komposisi dan prosedur kerja mereka harus ditentukan dengan baik dan
diungkapkan oleh Dewan.
ANTAM mempunya Pedoman Kerja sebagai pedoman bagi Dewan Komisaris dalam
melaksanakan tugas, tanggung jawab dan wewenangnya untuk memenuhi
kepentingan Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan lainnya. Pedoman Kerja
Dewan Komisaris telah ditandatangani oleh Dewan Komisaris pada tanggal 21 Juni
2016 yang merupakan pengkinian dari Pedoman Kerja Dewan Komisaris tanggal 27
November 2015 dan telah dipublikasikan di website ANTAM. Pedoman Kerja
tersebut dievaluasi secara berkala agar sejalan dengan perubahan peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan disesuaikan dengan kebutuhan Perusahaan.
3) Anggota dewan harus dapat mengikatkan diri mereka secara efektif kepada
tanggung jawab mereka.
Di dalam annual report ANTAM tidak dicantumkan secara jelas bahwa anggota
dewan harus mengikatkan diri mereka secara efektif pada tanggung jawab mereka.
Namun dijelaskan bahwa anggota dewan tidak boleh merangkap jabatan yang dapat
menimbulkan benturan kepentingan. Selama tahun 2017, Dewan Komisaris ANTAM
tidak ada yang merangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (12)
Anggaran Dasar Perusahaan. Selain itu dalam annual report ANTAM tahun 2017
Kehadiran Dewan Komisaris dalam Rapat Dewan Komisaris sebesar 90,10% dari 12
pertemuan dan Kehadiran Dewan Komisaris & Direksi dalam Rapat Dewan
Komisaris yang Mengundang Direksi Tahun 2017 sebesar 94,27% dari 12 pertemuan.
Dengan begitu kita menilai bahwa Anggota dewan telah mengikatkan diri mereka
secara efektif kepada tanggung jawab mereka.

F. Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya, anggota dewan komisaris harus


memiliki akses terhadap infomasi yang akurat, relevan dan tepat waktu.
Dalam Charter of board commissioners and directors, dijelaskan bahwa materi harus
disampaikan kepada peserta yang rapat selambat-lambatnya 5 (lima) hari sebelum rapat
diadakan. Dan jika diadakan rapat di luar jadwal yang telah dijadwalkan, materi
disampaikan paling lambat sebelum rapat dilakukan. Selain itu semua laporan perusahaan
dapat diakses dengan mudah pada website ANTAM. Dimana informasi tersebut
dipublikasikan secara akurat dan tepat waktu.
Pada annual report ANTAM tahun 2016 sekretaris perusahaan telah melaksanakan
tugasnya dengan baik seperti mendokumentasikan risalah rapat, mengelola surat, dan
menyampaikan laporan tepat pada waktunya.
SUB PRINSIP OECD RESULT BUKTI
A Anggota dewan harus bertindak berdasarkan informasi yang jelas, dengan itikad yang YES Annual report 2017
baik, berdasarkan due diligence dan kehati-hatian, serta demi kepentingan perusahaan (page 377 poin 5)
dan pemegang saham
B Apabila keputusan dewan dapat mempengaruhi suatu kelompok pemegang saham NO Anggaran Dasar Perusahaan
secara berbeda dengan kelompok pemegang saham lain, maka dewan harus ANTAM’s Article of Association
memperlakukan seluruh pemegang saham secara adil.
C Dewan harus menerapkan standar etika yang tinggi dan memperhatikan kepentingan YES ANTAM’s Code of Conduct 2016
para pemangku kepentingan.
D Fungsi-fungsi utama yang harus dimiliki oleh suatu dewan adalah sebagai berikut:
1 Menelaah dan mengarahkan strategi perusahaan, rencana utama, kebijakan YES Annual report 2017 page 153
mengenai resiko, anggaran tahunan, dan rencana usaha, menetapkan sasaran
kinerja, memonitor penerapan dan kinerja perusahaan serta memantau belanja
modal yang besar, akuisisi dan divestasi.
2 Memonitor efektifitas praktik tata kelola perusahaan serta membuat perubahan- YES Annual report 2017
perubahan yang diperlukan. Page 510
3 Menyeleksi, memberikan kompensasi, memonitor serta bila perlu mengganti YES Anggaran Dasar Perusahaan
pejabat eksekutif serta mengawasi perencanaan penggantian pejabat. Peraturan Menteri BUMN No. PER-
02/MBU/2015 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pengangkatan dan Pemberhentian
Anggota
Direksi Badan Usaha Milik Negara
Peraturan Menteri BUMN No. PER-
03/MBU/2015 tentang Persyaratan dan Tata
Cara Pengangkatan dan Pemberhentian
Anggota
Dewan Komisaris dan Dewan Pengawas
Badan
Usaha Milik Negara
4 Menyesuaikan remunerasi eksekutif kunci dan dewan dengan kepentingan jangka YES Charter of GCG-NR Commite on antam
panjang dari perusahaan dan pemegang saham. websit
Annual report 2017 page 412-429
5 Memastikan proses nominasi dan pemilihan dewan secara transparan dan formal. YES Charter of GCG-NR Committee on
ANTAM’s website
6 Memonitor dan mengelola potensi benturan kepentingan dari manajemen, anggota YES Annual report 2017 page 397-399
Dewan serta pemegang saham, termasuk penyalahgunaan aset perusahaan dan
penyelewengan dalam transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan
istimewa.
7 Memastikan integritas sistem pelaporan akuntasi dan keuangan perusahaan, YES Annual report 2016
termasuk audit independen, serta memastikan bahwa sistem pengendalian yang Page 377 poin 9
tepat telah diterapkan, khususnya mengenai sistem manajemen resiko,
pengendalian keuangan dan operasional, serta kesesuaian dengan peraturan
perundangan serta standard-standard yang berlaku.
8 Mengawasi proses keterbukaan dan komunikasi. YES ANTAM’s website
E Dewan harus dapat melaksanakan penilaian yang obyektif dan independen dalam melakukan pengurusan perusahaan.
1 Dewan komisaris harus mempertimbangkan untuk menugaskan anggota dewan NO Jumlah dewan komisaris independen
komisaris dalam jumlah yang cukup yang mampu melakukan penilaian yang kurang dari 50%
independen untuk tugas-tugas dimana terdapat potensi benturan kepentingan.
2 Apabila komite-komite di bawah dewan komisaris telah terbentuk, mandat, YES Annual report page 378
komposisi dan prosedur kerja mereka harus ditentukan dengan baik dan
diungkapkan oleh Dewan.
3 Anggota dewan harus dapat mengikatkan diri mereka secara efektif kepada YES Annual reposrt page 382
tanggung jawab mereka.
F Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya, anggota dewan komisaris harus memiliki YES Charter of board commissioners
akses terhadap infomasi yang akurat, relevan dan tepat waktu. Charter of board director
Annual report page 454
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Prinsip OECD 6 yang terpenuhi adalah :
A. Anggota dewan harus bertindak berdasarkan informasi yang jelas, dengan itikad yang
baik, berdasarkan due diligence dan kehati-hatian, serta demi kepentingan perusahaan
dan pemegang saham.
C. Dewan harus menerapkan standar etika yang tinggi dan memperhatikan kepentingan para
pemangku kepentingan.
D. Fungsi-fungsi utama yang harus dimiliki oleh suatu dewan mulai dari poin 1 sampai 8
E. Dewan harus dapat melaksanakan penilaian yang obyektif dan independen dalam
melakuka pengurusan perusahaan
2. Apabila komite-komite di bawah dewan komisaris telah terbentuk, mandat,
komposisi dan prosedur kerja mereka harus ditentukan dengan baik dan
diungkapkan oleh Dewan.
3. Anggota dewan harus dapat mengikatkan diri mereka secara efektif kepada
tanggung jawab mereka.
F. Dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya, anggota dewan komisaris harus memiliki
akses terhadap infomasi yang akurat, relevan dan tepat waktu.

Sedangkan prinsip OECD yang tidak dipenuhi oleh ANTAM adalah :


B. Apabila keputusan dewan dapat mempengaruhi suatu kelompok pemegang saham secara
berbeda dengan kelompok pemegang saham lain, maka dewan harus memperlakukan
seluruh pemegang saham secara adil.
E. Dewan harus dapat melaksanakan penilaian yang obyektif dan independen dalam
melakuka pengurusan perusahaan
1. Dewan komisaris harus mempertimbangkan untuk menugaskan anggota dewan
komisaris dalam jumlah yang cukup yang mampu melakukan penilaian yang
independen untuk tugas-tugas dimana terdapat potensi benturan kepentingan
DAFTAR PUSTAKA

Syakhroza, Achmad, Makalah mengenai Penerapan Corporate governance, 2002.

Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor Kep-117/M-MBU/2002 tanggal 31 Juli 2002 tentang
penerapan praktik GCG pada BUMN

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal

Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan

Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi

Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar
Modal

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Principles of Corporate


governance 2004.

Annual Report PT. ANTAM (Persero) Tbk

http://www.antam.com