Anda di halaman 1dari 13

JOURNAL READING

Serological Screening of TORCH Agents as an Etiology of Spontaneous


Abortion in Dhulikhel Hospital, Nepal
Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat Menempuh Program
Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kandungan dan Kebidanan
di RSI Sultan Agung Semarang

Disusun oleh :
Hannydita Lutfi Buana Adji (12095918)
Arijalu Syaram Putra (30101306883)
Muhammad Bandoro Aji Parwoko (30101307002)
Syafira Rizqi Amalia (30101307086)
Aminah Alaydrus (30101407130)
Eli Nurkhikmah (30101407175)
Erika Putri Muftiarini (30101407178)
Lusy Yulita Sari (30101407227)
Primaswari Annisa F. (30101407285)
Qodrunnada Maulidinawati (30101407289)

Pembimbing :
dr. Gunawan K., Sp. OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNISSULA SEMARANG
RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2018
Skrining Serologis Agen TORCH sebagai Penyebab dari Abortus
Spontan di Rumah Sakit Dhulikel, Nepal
Abstrak :Pengaruh infeksi TORCH terhadap kejadian abortus spontan masih menjadi perdebatan
oleh karena hasil penelitiannya menjadi pederbatan dimana variasi keadaan geografis yang mungkin
berperan besar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara infeksi TORCH pada
wanita yang dideteksi melalui pemeriksaan serologis dengan kejadian abortus spontan.Penelitian ini
merupakan penelitian dengan desain case control yang dilaksanakan dari Januari hingga Desember
2012. Pemeriksaan serologis dilakukan untuk menentukan adanya immunoglobulin spesifik G (IgG)
dan antibodi immunoglobulin M dari Toxoplasma gondii, Rubella, Citomegalovirus (CMV) dan
Herpes Simpleks Virus (HSV) menggunakan metode diagnostik menggunakan teknik Enzyme-
Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Rata-rata umur kelompok penelitian dan kelompok kontrol
yakni 24,8 ± 6,4 tahun dan 23,8 ± 3,8 tahun. Dimana 72,8% dari kelompok penelitian berumur antara
20 sampai 35 tahun dan 23% wanita dengan abortus spontan berumur di bawah 20 tahun. Kasus yang
paling banyak adalah abortus inkomplet (43%) diikuti dengan abortus komplet (26%). Hanya 1,3%
dari keseluruhan IgG dan IgM yang hasil seropositif terhadap agen TORCH yang tercatat pada
subjek penelitian ini dimana kadar IgG seropositif terbanyak terdeteksi pada Rubella (86,8%) diikuti
dengan HSV-I (72,8%). Rasio kemungkinan infeksi pada Toxoplasma gondii sebesar 77,9%, Rubella
sebesar 11,7%, CMV sebesar 51,9%, HSV-I sebesar 36,4% dan HSV-II sebesar 84,4%. Tidak
terdapat perbedaan signifikan antara hubungan umur dan tipe abortus yang serumnya didapatkan
positif antara kelompok studi dan kelompok kontrol. Pada penelitian ini, kemungkinan pertama dari
Nepal, menyatakan bahwa adanya infeksi terkini dari agen TORCH mungkin tidak merupakan
penyebab yang memungkinkan terjadinya abortus spontan. Hasil skrining seroposiitifitas TORCH
mungkin tidak bisa disimpulkan.

Kata kunci :Skrining, agen TORCH,Abortus Spontan, Imunoglobulin, Seropositivitas


1. INTRODUKSI masyarakat memiliki penyebab yang
berbeda pula dan aturan mengenai evaluasi
Infeksi maternal yang dapat diagnostic pada abortus spontan.11
ditransmisikan secara transplacenta pada Berdasarkan program evaluasi skrining
berbagai tahapan kehamilan dapat yang diberlakukan secara nasional di
disebabkan oleh berbagai organisme, yang Nepal, tidak didapatkan adanya data
termasuk dalam TORCH, yakni Toxoplasma serologis mengenai status imun infeksi
gondii, virus Rubella, Citomegalovirus TORCH pada ibu hamil. Meskipun
(CMV), Herpes Simpleks Virus – I (HSV-I), demikian, beberapa rumah sakit yang
Herpes Simpleks Virus - II (HSV-II) yang menjadi pusat pembelajaran di Asia Selatan
menempati urutan pertama. 1,2 Penelitian menunjukkan adanya insiden infeksi akut
sebelumnya menunjukkan bahwa adanya TORCH sebagai penyebab terjadinya
infeksi dari TORCH disertai dengan abortus spontan dan hasil obstetric lain
pengeluaran janin yang tidak diinginkan yang merugikan.5, 12-14
seperti abortus multiple, sterilitas, intra
uterine fetal death, still birth, malformasi Demonstrasi serokonversi pada
kongenital, dan kegagalan reproduktif pasien secara in vitro merupakan metode
lainnya.3,5 Meskipun demikian, penyebab pilihan terkini di negara berkembang untuk
dari pengeluaran janin yang tidak diinginkan memprediksi terjadinya abortus spontan.5
tersebut dapat pula disebabkan dari genetic, Hal ini disarankan oleh penelitian
hormonal, respon imun maternal yang sebelumnya. Dari seluruh belahan dunia
abnormal, atau infeksi maternal. untuk tidak menggunakan serologi TORCH
Kemungkinan pengaruh dari infeksi untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
TORCH tidak dapat disimpulkan, hanya pada wanita dengan riwayat obstetric
sebagian dari penyebab abortus spontan.6-8 buruk, oleh karena hasil dari antibody
spesifik masih diragukan.11,15,16 Hal ini
Abortus spontan yakni adanya menarik bagi kami bahwa tes TORCH
terminasi kehamilan tanpa adanya belum digunakan secara optimal di
intervensi dari luar pada usia kehamilan di lingkungan rumah sakit di Nepal. Sehingga,
bawah 20 minggu, mengenai pada 20% penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
kehamilan dan dibagi menjadi threatened status imun agen TORCH pada wanita yang
abortion, inevitable abortion, incomplete pernah mengalami abortus spontan di
abortion, missed abortion, septic abortion, Dhulikel Hospital, Kathmandu University
complete abortion, dan recurrent Hospital (DH-KUH), Nepal.
9
spontaneous abortion. Bukti terkini yang
menjelaskan tentang penyebab abortus 2. Material dan Metode
masih belum jelas.10 Terlebih lagi, melalui 2.1. Tempat Penelitian
beberapa resiko tinggi mengindikasikan Penelitian deskriptif dengan desain
sebagai penyebab dari abortus spontan, case control ini dilaksanakan dari Januari
namun sepertinya pada kelompok yang hingga Desember 2012 di klinik antenatal
berbeda ras dan berbeda kelompok Departemen Obstetri dan Ginekologi dan
Departemen Mikrobiologi Rumah Sakit Untuk melakukan analisis serologis, 3 ml
Dhulikel, Kathmandu University Hospital, darah vena diambil dari masing-masing
yang berlokasi 30 kilometer dari ibukota subjek penelitian, kemudian disimpan dalam
wadah dengan tutup merah. Serum
Kathmandu. Rumah Sakir Umum ini kini
dipisahkan dan disimpan dalam angka
sudah bertransformasi menjadi Rumah aliquots hingga -200C hingga dilakukan
Sakit pendidikan dari Kathmandu pemeriksaan. Seluruh sampel serum dari
University School of Medical Science kelompok penelitian dan kelompok kontrol
(KUSMS), dan kini melayani populasi dilakukan tes terhadap antibody Toxoplasma
masyarakat di 4 distrik (Kavrepalanchowk, gondii, Rubella virus, CMV, HSV-I, HSV-II
Sindhupalchowk, Ramechhap, dan IgM dan IgG menggunakan alat ELISA
komersial yang bersertifikasi International
Dolakha) dari seluruh bagian. Dengan lebih
Organisation for Standardization (ISO) dan
dari 15 pusat yang tersebar di seluruh terdaftar di Food and Drug Administration
negeri. DH-KUH merupakan salah satu (FDA) (Diagnostic Automation/ Cortez
rumah sakit di wilayah Asia Selatan. Diagnostics, Inc. 23961Craftsman Road, CA
2.2. Subjek Penelitian 91302, USA).). Hasilnya dikalkulasi
Kelompok penelitian ini terdiri atas menggunakan ELISA reader (Lab Life,
151 wanita antenatal dalam usia reproduktif 2007, RFCL, India) berdasarkan petunjuk
manufaktur dan dibandingkan dengan
yang pernah mengalami abortus spontan
kelompok kontrol. Rubella IgG dan IgM
selama masa penelitian. Kelompok kontrol diperiksa menggunakan tekhnik Sandwich
terdiri atas wanita antenatal yang ELISA dimana yang lainnya dilakukan
dimatchkan usianya dengan kelompok menggunakan tekhnik ELISA indirect.
penelitian dengan persalinan normal yang Hasilnya diintepretasikan sebagai positif,
datang ke departemen klinik yang sama equivocal dan negative dengan menentukan
kadar indeks immunoglobulin. Indeks IgG
(rata-rata usia kelompok penelitian dan
atau IgM yakni <0,9 , 0,9-0,99 , dan >1,0
kelompok kontrol : 24,8 ± 6,4 dan 23,8 ± diintepretasikan sebagai hasil negative,
3,8 tahun). Investigator mendatangi klinik equivocal dan positif.
antenatal setiap hari, memilih kelompok 2.4. Analisis Data
penelitian dan melakukan skrining kepada Data dimasukkan ke dalam Microsoft
mereka menggunakan daftar pertanyaan Excel dan dianalisis menggunakan SPSS
pretest yang sebelumnya telah didesain versi 16 (SPSS Inc; Chicago, IL, USA).
sebagai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasilnya diintepretasikan berdasarkan
Wanita dengan abortus spontan yang frekuensi distribusi dan persentase.
disertai dengan hipertensi, diabetes Dilakukan tes Chi Square untuk menentukan
mellitus, sifilis, inkompatibilitas Rh, atau adanya hubungan antar data kategorik.
penyebab fisik dari abortus dilakukan Signifikansi secara statistik diatur sebagai
eksklusi, dimana wanita dengan abortus p<0,05.
spontan yang penyebabnya tidak diketahui 2.5. Persetujuan Etik
dimasukkan ke dalam kelompok inklusi. Seluruh subjek penelitian telah
2.3. Analisis Serologis dimintakan persetujuan mengenai
dilakukannya penelitian ini dan persetujuan
secara verbal telah didapatkan dari seluruh sebesar 77,9% terhadap Toxoplasma gondii,
subjek penelitian. Data didapatkan 11,7% terhadap Rubella, 51,9% terhadap
menggunakan nomor registrasi rumah sakit CMV, 36,4% terhadap HSV-I, dan 84,4%
dan nama pasien. Ethical clearance terhadap HSV-II. Tidak terdapat perbedaan
didapatkan dari Intitutional Rview signifikan yang tercatat diantara rasio
Committee DH-KUH. seropositifitas dari agen TORCH.
3. Hasil Rata-rata umur dari subjek penelitian
Pada periode tahun pertama, terdapat dan kontrol yang berumur 20 hingga 35
151 kasus abortus spontan di DH-KUH yang tahun (72,8% pada kelompok penelitian dan
dilakukan skrining TORCH. Dari 78% pada kelompok kontrol) yang
keseluruhan, hanya terdapat 2 kasus yang merupakan usia ideal untuk kehamilan.
memiliki seropositifitas IgM yang Secara mengejutkan, hampir 23% dari
terdeteksi. Kasus pertama yakni wanita usia wanita pada kelompok penelitian berumur di
27 tahun dengan missed abortion dan bawah 20 tahun, seperti yang tercantum
didapatkan IgM (+) pada Rubella dan kasus dalam tabel 2. Oleh karena ukuran sampel
kedua yakni wanita usia 20 tahun yang pada masing-masing kelompok umur tidak
didapatkan hasil IgM (+) pada Rubella, begitu mencukupi, peneliti tidak melakukan
CMV dan HSV-I. Seropositifitas IgM dari tes statistik berdasarkan strata umur.
agen TORCH tidak terdeteksi pada Kasus abortus spontan dibagi
kelompok kontrol. Meskipun demikian, kedalam 4 kategori klinis yang berbeda.
banyak penelitian yang baik juga Kebanyakan kasus adalah abortus inkomplet
menunjukkan kelompok kontrol (43%), diikuti dengan abortus komplet
menunjukkan seropositifitas IgG yang (26%), missed abortion (19,2%) dan
tercantum dalam tabel 1. Seropositifitas IgG threatened abortion (11,9%). Pada seluruh
dari agen TORCH pada kelompok kontrol kasus abortus, rasio seropositifitas yang
ditemukan pada Toxoplasma gondii 22,1%; paling predominan yakni Rubella, diikuti
Rubella 88,3%; CMV 48,1%; HSV-I 63,6%; dengan HSV-I seperti yang tertera pada
dan HSV-II 15,6% sedangkan pada tabel 3. Rasio seropositifitas terendah yakni
penelitian ini menunjukkan bahwa populasi terlihat pada infeksi HSV-II.
penelitian memiliki kemungkinan infeksi
Tabel 1. Seropositifitas Agen TORCH diantara Kelompok Penelitian dan Kontrol
Agen TORCH Seropositifitas pada Seropositifitas pada kelompok P
kelompok penelitian (N = kontrol (N = 77) value
151)
IgG IgG Total % IgG IgG Total %
& positifitas & positifitas
IgM IgM
Toxoplasma 32 0 21,2 17 0 22,1 0,80
gondii
Rubella 131 2 86,8 68 0 88,3 0,80
Citomegalovirus 97 1 64,2 37 0 48,1 0,20
Herpes 110 NT 72,8 49 NT 63,6 0,17
Simpleks
Virus - I
Herpes 10 1 6,6 12 0 15,6 0,30
Simpleks
Virus – II
NT = Not Tested, * = Terdapat perbedaan yang signifikan

Tabel 2. Hubungan Seropositifitas terhadap Umur Subjek


Agen TORCH Usia (tahun) Kelompok Serum Kelompok Serum
Penelitian Positif Kontrol Positif
yang (%) yang (%)
Dilakukan Dilakukan
Tes Serum Tes Serum
Toxoplasma <20 35 5 (14,3) 16 6 (37,5)
gondii 20-35 110 27 (24,5) 60 11 (18,3)
>35 6 0 (0,0) 1 0 (0,0)
Rubella <20 35 33 (94,3) 16 14 (87,5)
20-35 110 94 (87,5) 60 54 (90,0)
>35 6 4 (66,7) 1 0 (0,0)
Citomegalovirus <20 35 22 (62,9) 16 11 (68,8)
20-35 110 71 (64,5) 60 25 (41,7)
>35 6 4 (66,7) 1 0 (0,0)
Herpes <20 35 24 (68,6) 16 11 (68,8)
Simpleks 20-35 110 82 (74,5) 60 38 (63,3)
Virus – I >35 6 4 (66,7) 1 0 (0,0)
Herpes <20 35 4 (11,4) 16 6 (37,5)
Simpleks 20-35 110 4 (3,6) 60 6 (10,0)
Virus – II >35 6 2 (33,3) 1 0 (0,0)
Tabel 3. Hubungan Seropositifitas terhadap Tipe Abortus
Agen TORCH Abortus Abortus Missed Threatened
complete incomplete abortion abortion
(n = 39) (n = 65) (n = 29) (n = 18)
Positive % Positive % Positive % Positive %
sera sera sera sera
Toxoplasma 8 20,5 16 24,6 6 20,6 2 11,1
gondii
Rubella 37 94,8 51 78,4 26 89,6 17 94,4
Citomegalovirus 29 74,3 36 55,3 19 65,5 13 72,2
Herpes 31 79,4 46 70,6 23 79,3 10 55,5
Simpleks
Virus – I
Herpes 5 12,8 4 6,1 1 3,4 0 0,0
Simpleks
Virus - II

4. Diskusi
Penelitian ini merupakan salah satu dari Hal pertama dan yang sangat
beberapa penelitian yang dilakukan di Nepal mengejutkan dari hasil penelitian ini adalah
untuk mencaritau status imunitas terhadap seropositifitas IgG dan IgM agen TORCH
agen TORCH di antara kategori klinis yang sangat rendah (1,3%) di DH-KUH
terpenting pada wanita hamil dengan untuk mengidentifikasi kemungkinan
imunokompeten. Infeksi TORCH telah adanya infeksi TORCH pada pasien yang
dideklarasikan sebagai penyebab dari pernah mengalami abortus spontan. Rasio
terjadinya pengeluaran kandungan yang terjadinya perubahan serum yang terjadi
hasilnya tidak baik yang merupakan selama kehamilan diperkirakan hanya terjadi
didukung oleh banyak penelitian di seluruh pada hanya 1% kasus.15 Hasil rasio deteksi
dunia.5, 12-14, 17, 18. Kebanyakan virus yang yang sangat rendah seperti ini tidak
pathogen biasanya menyebabkan viremia mengejutkan oleh karena beberapa
primer pada maternal yang kemudian akan penelitian bahkan tidak ditemukan atau
menginfeksi plasenta dan kemudian fetus, ditemukan sangat sedikit sekali yang
kecuali HSV-I dan HSV-II yang dapat terinfeksi TORCH melalui hasil
16,21
menyebabkan infeksi ascendens melalui pemeriksaan. Kadar serum dan deteksi
traktus genitalia ke selaput amnion yang rendah mungkin merupakan alasan
kemudian ke bayi.19, 20Demonstrasi dalam penelitian kami terhadap hasil
dilakukannya konversi serum pada serum seropositifitas IgM pada wanita dengan
pasien yang dilakukan secara in vitro abortus spontan. Pada penelitian kami,
merupakan metode terkini yang telah skrining serologis infeksi TORCH pada
menjadi pilihan di berbagai negara wanita dengan abortus spontan
berkembang5 dan saat ini metode ini menunjukkan seropositifitas IgG 21,2%,
digunakan pada penelitian ini. 86,8%, 62,4%, 72,8%, dan 6,6% pada
Toxoplasma gondii, Rubella, CMV, HSV-I, pada penelitian ini memiliki imunitas yang
HSV-II, dimana seropositifitas pada kuat terhadap agen TORCH. Hal ini dapat
kelompok kontrol yakni 22,1%, 88,3%, ditentukan dengan melakukan penelitian
48,1%, 63,3%, dan 15,6% pada Toxoplasma berbasis komunitas secara ekstensif untuk
gondii, Rubella, CMV, HSV-I, dan HSV-II. menemukan status imunitas pada wanita
Rasio kejadian yang hampir sama pada hamil dengan data seroprevalensi dari agen
seropositifitas pada subjek dalam kelompok TORCH.
studi dan kontrol menunjukkan adanya Seroprevalensi dari infeksi TORCH
imunitas pada wanita terhadap agen spesifik. sebagai indikator dari infeksi akut telah
Dalam laporan yang ada, hampir dilaporkan dalam beberapa penelitian di
separuh dari seluruh penduduk Nepal India yang berfokus terutama pada wanita
memiliki serum Toxoplasma gondii positif usia reproduktif, wanita tanpa riwayat
berdasarkan penelitian yang dilakukan 16 obstetric, atau wanita hamil. 5, 14, 25
tahun yang lalu.22 Beberapa rumah sakit Penelitian yang dilakukan di Eropa dan USA
berbasis pendidikan telah mengeluarkan juga menunjukkan adanya prevalensi agen
rasio seropositifitas dari agen TORCH TORCH yang signifikan pada wanita
dengan hasil yang berbeda-beda.12,13,23Rasio dengan riwayat obstetric jelek. 17, 18 Namun,
serum positif sebesar 80% dari antibody anti penelitian kami tidak sejalan dengan
HSV ditemukan pada masa kanak-kanak penemuan pada penelitian-penelitian ini.
awal (usia 1-4 tahun) yang kemudian Sebagai tambahan, terdapat lebih dari 1
semakin meningkat seiring dengan strain Toxoplasma gondii dengan
bertambahnya usia (96,1% positif pada usia mekanisme virulensi dan hasil yang berbeda
>15 tahun). Sebagai tambahan, antibody anti dalam lingkungan isoalasi di alam. 26
CMV didapatkan positif pada seluruh subjek Adanya perbedaan strain dari agen TORCH
penelitian, yang terlihat dari sebuah mungkin dapat menjadi salah satu
penelitian yang dilakukan pada orang penjelasan mengenai prevalensi. Sedangkan,
Nepal.24 Hasil yang didapatkan pada penelitian genetic untuk mengidentifikasi
penelitian ini tidak menunjukkan data strain spesifik yang didapatkan dari agen
seroprevalensi secara aktual, oleh karena TORCH di Nepal masih penting untuk
penelitian tersebut berorientasi pada kasus mengetahui tidak adanya aturan pada infeksi
daripada berorientasi pada populasi dan TORCH yang dapat menyebabkan hasil
sebagai tambahan yakni penelitian berbasis obstetric yang jelek bahkan terjadinya
rumah sakit. Sedangkan, penelitian ini abortus spontan.
menunjukkan adanya imunitas terhadap Hubungan jumlah seropositif terhadap
agen TORCH pada penduduk Nepal. umur dan jenis abortus tidak begitu
Serokonversi bergantung pada prevalensi signifikan bila dibandingkan antara
organisme diikuti dengan imunitas maternal kelompok penelitian dan kelompok kontrol
pada daerah geografis tertentu. Penelitian pada penelitian ini. Jumlah seropositif HSV-
kami dengan angka positifitas IgG yang I tinggi di antara penduduk dewasa di Nepal
tinggi mungkin menunjukkan bahwa wanita yang dilaporkan pada penelitian
sebelumnya, namun demikian penelitian tidak reliable. Oleh karena sebelumnya telah
tersebut merupakan jumlah di antara diketahui bahwa prevalensi agen TORCH
populasi masyarakat umum bukan pada berbeda pada masyarakat, ras, dan geografis,
wanita yang pernah mengalami abortus kami dapat mengambil kesimpulan dari hasil
spontan.24Riwayat kejadian infeksi Rubella penelitian ini dengan catatan positif, yang
tercatat pada seluruh jenis abortus diikuti menunjukkan bahwa tingkat kondisi
dengan infeksi HSV-I. Jumlah seropositif imunitas terhadap agen TORCH lebih baik
Rubella yang tinggi dilaporkan banyak setidaknya pada populasi penelitian kami.
terdapat pada penduduk India.5, 14, Penelitian ini merupakan penelitian pertama
27
Mungkin dengan adanya amandemen pada di bidangnya di negara ini. Meskipun
peraturan vaksin mengenai jadwal demikian, kami akan merekomendasikan
imunisasi rutin Rubella pada penduduk untuk menggeneralisir hasil penelitian ini ke
Nepal dan India menyebabkan terjadinya dalam populasi masyarakat sebelum
jumlah seropositif IgG yang tinggi yang memasukkan hubungan agen TORCH
menunjukkan telah terjadinya resistensi dengan abortus spontan dan reliabilitas
terhadap timbulnya infeksi. skrining serologis. Hampir tidak ditemukan
Kejadian abortus spontan yang tinggi, seropositif terhadap agen TORCH pada
meskipun tidak ditemukan adanya hubungan wanita dengan riwayat abortus sebelumnya
antara agen TORCH sebagai penyebab berdasarkan penelitian yang dilakukan di
terjadinya infeksi akut (IgM seropositif) negara Arab.28 Tidak semua kasus abortus
pada penelitian ini, dapat merefleksikan disertai dengan adanya agen TORCH dan
faktor penyebab dari abortus yang lain selain Parvovirus B19 pada penelitian yang
infeksi TORCH. Seropositif yang hampir dilakukan oleh Kishor, et. al.27 dan Summer
sama yang didapatkan dari kelompok et. Al.7 menunjukkan bahwa infeksi
kontrol menunjukkan kepada kita bahwa merupakan penyebab sporadis terjadinya
kemungkinan agen TORCH tidak memiliki abortus spontan dan hasilnya konsisten
peran dalam terjadinya abortus spontan. secara statistik. Berdasarkan literatur medis,
5. Kesimpulan terdapat bukti yang terbatas yang
Terdapat 2 hasil yang mungkin dapat menjelaskan hubungan antara infeksi dengan
disimpulkan dari penelitian ini. Pertama, terjadinya terminasi kehamilan berulang
infeksi akut dari agen TORCH mungkin sebelum waktunya pada manusia masih
bukan hanya sebagai satu-satunya penyebab banyak berupa cerita dan tidak dapat
yang memungkinkan terjadinya abortus diwujudkan dalam penelitian prospektif.
spontan. Kedua, skrining serologis TORCH Abnormalitas kromosom, kelainan
mungkin tidak meyakinkan. Hasil dari kongenital dan defek anatomis dapatan dari
penelitian kami sejalan dengan beberapa fundus uteri dan cervix, tukar silang
penelitian sebelumnya yang menyimpulkan kromosom kedua orangtua, mutasi gen,
bahwa skrining TORCH tidak lagi antibodi cardiolipin, dan defek fase luteal
direkomendasikan oleh karena beberapa masing-masing memiliki sedikit kontribusi
alasan, salah satunya yakni hasilnya yang terhadap terjadinya abortus spontan dimana
infeksi mungkin tidak relevan berdasarkan keputusan untuk mengakhiri kehamilan pada
penelitian yang dilakukan oleh Stirrat et al.10 ibu hamil. Sebuah penelitian di AS
Sepertinya pada populasi dengan ras yang menunjukkan bahwa konfirmasi hasil
berbeda dan populasi masyarakat yang laborat serologis, mengkomunikasikan
berbeda memiliki perbedaan penyebab hasilnya, dan intepretasi yang benar dari
pula29 yang mana sejalan dengan penelitian seorang yang ahli di bidangnya kepada
kami yang menunjukkan tidak adanya pasien fisik menurunkan rasio abortus yang
hubungan secara langsung antara infeksi tidak diinginkan sebesar 50% di antara
TORCH terkini dan abortus spontan yang wanita yang memiliki hasil serum positif
tidak sama seperti hasil penelitian yang terhadap IgM Toxoplasma gondii yang telah
dilakukan di India, Cina, dan negara-negara dilaporkan oleh laboratorium.35 Pada
lain di Eropa dan Asia.4, 5, 14, 17, 25 penelitian ini, wanita dengan IgM yang
Di negara-negara yang disebutkan negatif masih dapat terjadi abortus. Hal ini
sebelumnya, beberapa penelitian memungkinkan bahwa masih terdapat
mengemukakan bahwa infeksi secara tekhnik dan tekhnologi yang lebih baik
kongenital yang disebabkan oleh agen untuk menegakkan diagnosis infeksi
TORCH merupakan penyebab terbanyak TORCH. Terdapat metode skrining yang
dari mortalitas neonatus dan morbiditas pada lebih sensitif, spesifik dan reliabel. Untuk
anak-anak di seluruh dunia. Dikarenakan menentukan aviditas IgG untuk melakukan
oleh tidak adanya manifestasi klinis yang tes TORCH secara berpasangan, metode
spesifik dan pentingnya deteksi dini dari molekuler dari identifikasi organisme masih
infeksi uteroplacenta, skrining serologis dari jarang dilakukan.34 Pada penelitian ini, juga
patogen ini disadari sebagai pemeriksan meragukan skrining TORCH dengan
rutin di berbagai daerah di belahan dunia.25 menggunakan pemeriksaan serum tunggal
Meskipun demikian, dicatat pula bahwa seperti yang dilakukan pada penelitian ini.
implementasi dari program skrining
terhadap TORCH yang dilaksanakan di 6. Ucapan Terima Kasih
seluruh dunia masih dipertanyakan oleh Terima kasih kepada Districrt Health
karena beberapa faktor, termasuk Office (DHO), Kavre, Nepal yang telah
penyalahgunaan, metode serologis yang menyediakan informasi yang tersedia
tidak konsisten dan tidak reliabel, biaya mengenai prevalensi penyakit infeksi pada
yang mahal, dan intepretasi hasil yang salah. daerah ini. Kami sangat menghargai
15, 21, 30-32
Pemeriksaan serum tunggal secara kerjasama dari staff Departemen Obstetri
konvensional, tidak menunjukkan perbedaan dan Ginekologi dan Departemen
yang jelas antara infeksi akut dan kronis Mikrobiologi, Dhulikel Hospital-
oleh karena didapatkannya antibodi IgM KathmanduUniversity Hospital/ Penulis
dalam kadar yang tinggi selama periode berterima kasih kepada Prof. David W.
waktu yang lama33-34. Tes serologis mungkin Ussery (Denmark Technical University)atas
tidak akurat atau intrepretasinya yang tidak sarannya terhadap penulisan penelitian ini.
akurat yang mana dapat berdampak pada
7. Referensi management,” The Lancet, vol. 336, pp.
728-733,1990.
[1] J.D. Pizzo, “Congenital infections [11] M.L. Li, C. Hui, T.J. Ping, et al.
(TORCH)”, Pediatrics in Review 2011, vol. “Evaluation of etiologicalcharacteristics of
32(12), pp. 537-542. Chinese women with recurrentspontaneous
[2] V. Kumar,A.K. Abbas, N. Fausto, J. abortion: a single center study,”
Aster, Robbins &Cotran, Pathologic Basis ChineseMedical Journal, vol. 124, pp.
of Disease, Elsevier, 8th ed., 2009. 1310-1315, 2011.
[3] Y. Maruyama, H. Sameshima, M. [12] N. Kumari, N. Morris, R. Dutta, “Is
Kamitomo, et al., “Fetalmanifestations and screening of TORCHworthwhile in women
poor outcomes of with bad obstetric history: anobservation
congenitalcytomegalovirus infections: from Eastern Nepal,” Journal of
possible candidates forintrauterine antiviral HealthPopulation and Nutrition, vol. 29,
treatments,” J Obstet Gynecol, vol. 33,pp. pp. 77-80, 2011.
619-623, 2007. [13] S. Lamichhane, S. Malla, S. Basnyat,
[4] Z. Li, C. Yan, P. Liu, R. Yan, Z. Feng, et al. “Seroprevalenceof IgM antibodies
“The prevalence ofthe serum anti-bodies to against the agents of TORCH
TORCH among women beforepregnancy or infectionamong the patients visiting
in the early period of pregnancy in National Public HealthLaboratory, Teku,
Beijing,”International Journal of Clinical Kathmandu,” Journal of Nepal
Chemistry and DiagnosticLaboratory HealthResearch Council, vol. 2, pp. 1-25,
Medicine, vol. 403, pp. 212-215, 2009. 2007.
[5] D. Turbadkar, M Mathur, M. Rele. [14] N. Thapliyal, P.K. Shukla, B. Kumar,
“Seroprevalence of torchinfection in bad S. Upadhyay, G. Jain,“TORCH infection in
obstetric history,” Indian Journal of women with bad obstetric history—apilot
MedicalMicrobiology, vol.21, pp. 108-110, study in Kumaon region,” Indian Journal of
2003. Pathologyand Microbiology, vol. 48, pp.
[6] M.E. Paul, “Disorders of reproduction,” 551-553, 2005.
Primary Care, vol.21, pp. 367-386, 1994. [15] E. Jauniaux, R.G. Farquharson, O.B.
[7] P.R. Summers, “Microbiology relevant Christiansen,“Evidence based guidelines
to recurrentmiscarriage,” Indian Journal of for the investigation andmedical treatment
Medical Residents, vol. 100,pp. 19-22, of recurrent miscarriage,”
1994. HumanReproduction, vol. 21, pp. 2216-
[8] B.J. Stegmann, J.C. Carey, “TORCH 2222, 2006.
infections.Toxoplasmosis, Other (syphilis, [16] A. Cullen, S. Brown, M. Cafferkey, N.
varicella-zoster, parvovirusB19), Rubella, O’Brien, E. Griffin,“Current use of
Cytomegalovirus (CMV), and TORCH screen in the diagnosis
Herpesinfections,” Current Women’s ofcongenital infection,” Journal of
Health Report, vol. 2, pp.253-258, 2002. Infection, vol. 36, pp. 185-188, 1998.
[9] C.P. Griebel, J. Halvorsen, T.B. [17] B.D. Navolan, I.M. Ciohat, A.E. Tigla,
Golemon, A.A. Day“Management of D. Vasies, V.Dumitrascu, “ Risk
spontaneous abortion,” American assessment for TORCH complexinfection
FamilyPhysician, vol. 72, pp. 1243-1250, agents during pregnancy-preliminary
2005. study,”Timisoara Medical Journal, vol. 22,
[10] G.M. Stirrat, “Recurrent miscarriage pp. 15-19, 2012
II: clinical associations,causes, and
[18] A.M. Alsamarai, Z. Khalil, M. [26] G.M. Bhopale, “Review, pathogenesis
Aljumaili,“Seroepidemiology of of Toxoplasma,”Comparative Immunology,
Toxoplasma, Rubella,Cytomegalovirus and Microbiology and InfectiousDiseases, vol.
Herpes Simplex Virus -2 in women with 26, pp. 213-222, 2003.
bad obstetric history. PART I: Toxoplasma [27] J. Kishor, R. Mishra, A. Paisal, Y.
and Rubellinfections,” Our Dermatology Pradeep, “Adversereproductive outcome
Online, vol. 4, pp. 522-535, 2013. induced by Parvovirus B19 andTORCH
[19] G.O. Ajayi, S.A. Omilabu, “Prenatal infections in women with high-risk
diagnoses ofcytomegalovirus (CMV), pregnancy,”Journal of Infections in
rubella, toxoplasmosis, Developing Countries, vol. 5, pp.868-873,
varicella,parvovirus, herpes simplex and 2011.
syphilis. The Lagos programme [28] A.H. Razzak, S.A. Wais, A.Y. Sayid,
experience,” Clinical and “Toxoplasmosis: theinnocent suspect of
ExperimentalObstetrics and Gynecology, pregnancy wastage in Iraq,”
vol. 37, pp. 37-38, 2010. EasternMediterranean Health Journal, vol.
[20] C. A. Jones, “Vertical transmission of 11, pp. 525-632, 2005.
genital herpes:prevention and treatment [29] A. Garcia-Enguidanos, M.E. Calle, J.
options,” Drugs, vol. 69, pp. 421, 434, Valero, S. Luna, V.Dominguez-Rojas,
2009. “Risk factors in miscarriage: a
[21] D. Leland, M.L. French, M.B. review,”European Journal of Obstetrics &
Kleiman, R.L. Schreiner,“The use of Gynecology andReproductive Biology, vol.
TORCH titers,”Pediatrics, vol 72, pp. 41- 102, pp. 111-119, 2002.[30] S.A. Abdel-
43,1983. Fattah, A. Bhat, S. Illanes, J.L. Bartha,
[22] S.K. Rai, H. Shibata, K. Sumi, D.Carrington, “TORCH test for fetal
“Toxoplasma antibody prevalence in medicine indications:only CMV is
Nepalese pregnant women with bad necessary in the United Kingdom,”
obstetrichistory,” Southeast Asian Jorunal PrenatalDiagnosis, vol. 25, pp. 1028-1031,
of Tropical Medicine andPublic Health, 2005.[31] S.M. Garland, G.L. Gilbert,
vol. 29, pp. 739-743, 1998. “Investigation of congenitalinfection- the
[23] D. Acharya, S. Shrestha, B. Bogati, TORCH screen is not a legitimate
“Immune status ininfection by test,”Medical Journal of Australia, vol. 159,
cytomegalovirus in women with bad pp. 346-348, 1993.[32] N.A. Khan, S.N.
obstetrichistory,” International Journal of Kazzi, “Yield and costs of screeninggrowth
Infection and Microbiology,vol. 2, pp. 3-6, retarded infants for TORCH infections,”
2013. AmericanJournal of Perinatology, vol. 17,
[24] T. Kubo, S.K. Rai, M. Nakanishi, T. pp. 131-135, 2000.
Yamano,“Seroepidemiological study of [33] K. Hedman, M. Lappalainen, I.
herpes viruses in Nepal,”Southeast Asian Seppaia, O. Makela,“Recent primary
Journal of Tropical Medicine and toxoplasma infection indicated by a
PublicHealth, vol 22, pp.323-325, 1991. lowavidity of specific IgG,” Journal of
[25] R.N. Kaur, D. Gupta, M.K. Nair, M.D. Infectious Diseases, vol.159, pp. 736-740,
Mathur, “Screeningfor TORCH infections 1989.
in pregnant women: a report fromDelhi,” [34] W.E. Owen, T.B. Martins, C.M.
Southeast Asian Journal of Tropical Litwins, W.L. Roberts,“Performance
Medicine andPublic Health, vol. 30, pp. characteristics of six IMMUNITE
284-286, 1999. 2000TORCH assays,” American Journal of
Clinical Pathology,vol. 126, pp. 900-905,
2006.
[35] O. Liesenfield, J.G. Montaya, N.J.
Tathineni, “Confirmatoryserologic testing
for acute toxoplasmosis and rate of induced
abortions among women reported to have
positiveToxoplasma IgM antibody titer,”
American Journal ofObstetrics and
Gynecology, vol. 184, pp. 140-145, 2001.