Anda di halaman 1dari 12

TUGAS ILMU BEDAH

“Batu Urethra”

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik

Bagian Ilmu Bedah

disusun oleh:

Hannydita Lutfi B.A

012095918

Pembimbing:

Prof. Dr. dr. Rifki Muslim, Sp.B, Sp.U

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2018
UROLITHIASIS

Definisi

Urolithiasis adalah terbentuknya batu didalam saluran kemih. Batu di dalam


saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di
sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan,penyumbatan aliran
kemih atau infeksi.

Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis, dan dapat terbentuk pada :

1. Ginjal (Nefrolithiasis)
2. Ureter (Ureterolithiasis)
3. Vesica urinaria (Vesicolithiasis)
4. Uretra (Urethrolithiasis).

Etiologi

Secara epidemiologi terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya


pembentukan batu di saluran kemih pada seseorang. Faktor itu meliputi faktor intrinsik,
yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik, yaitu pengaruh
yang berasal dari lingkungan di sekitarnya.

Faktor intrinsik itu antara lain adalah:

1. Herediter
 Dent’s disease yaitu terjadinya peningkatan 1,25 dehidroksi vitamin D
sehingga penyerapan kalsium di usus meningkat, akibat keturunan) :
penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya. Penyakit-penyakit
herediter yang menyebabkan Urolithiasis antara lain:hiperkalsiuria,
proteinuria, glikosuria, aminoasiduria dan fosfaturia yang akhirnya
mengakibatkan batu kalsium oksalat dan gagal ginjal.
 Sindroma Barter, pada keadaan ini terjadi poliuria, berat jenis air kemih
rendah hiperkalsiuria dan nefrokalsinosis.
2. Umur
Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30 – 50 tahun. Hasil penelitian yang
dilakukan terhadap penderita BSK di RS DR Kariadi selama lima tahun (1989-
1993), frekuensi terbanyak pada dekade empat sampai dengan enam.
3. Jenis kelamin
Jumlah pasien laki – laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien
perempuan. Serum testosteron menghasilkan peningkatan produksi oksalat
endogen oleh hati. Rendahnya serum testosteron pada wanita dan anak-anak
menyebabkan rendahnya kejadan batu saluran kemih pada wanita dan anak-anak.

Faktor ekstrinsik diantaranya adalah :

1. Geografi : Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih
yang lebih tinggi dari pada daerah lain, sehingga dikenal sebagai daerah stone belt
(sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai
penyakit batu saluran kemih.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air : Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air
yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
4. Diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya penyakit batu
saluran kemih.
5. Pekerjaan : Sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk dan
kurang aktifitas atau sedentary life.

2.2.3 Proses pembentukan batu saluran kemih

Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama pada
tempat tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (statis urin), yaitu pada
sistem kalises ginjal atau buli-buli. Banyak teori yang menerangkan proses
pembentukan batu di saluran kemih; tetapi hingga kini masih belum jelas teori mana
yang paling benar.
Beberapa teori pembentukan batu adalah :

1. Teori Nukleasi

Batu terdiri atas Kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organic maupun
anorganik yang terlarut di dalam urine. Kristal- kristal tersebut berada dalam keadaan
metastable (tetap terlarut) dalam urine jika tidak ada keadaan-keadaan tertentu yang
menyebabkan terjadinya presipitasi kristal. Kristal- kristal yang saling mengadakan
presipitasi membentuk inti batu (Nukleasi) yang kemudian akan mengadakan agregasi,
dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar. Meskipun
ukurannya cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum cukup mampu
membuntu saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel dan dari sini bahan-
bahan lain mengendap pada pada epitel saluran kemih (membentuk retensi kristal),
agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat saluran
kemih.

2. Teori Matriks

Matriks organik terdiri atas serum/protein urine (albumin, globulin, dan


mukoprotein) merupakan kerangka tempat diendapkannya kristal-kristal batu.

3. Penghambatan kristalisasi

Urine orang normal mengandung zat penghambat pembentuk kristal, antara lain :
magnesium, sitrat, pirofosfat, mukoprotein dan beberapa peptida. Jika kadar salah satu
atau beberapa zat itu berkurang, akan memudahkan terbentuknya batu di dalam saluran
kemih. Ion magnesium (Mg2+) dikenal dapat menghambat pembentukan batu karena
jika berikatan dengan oksalat, membentuk garam magnesium oksalat sehingga jumlah
oksalat yang akan berikatan dengan kalsium (Ca2+) untuk membentuk kalsium oksalat
menurun. Beberapa protein atau senyawa organik lain mampu bertindak sebagai
inhibitor dengan cara menghambat pertumbuhan kristal, menghambat agregasi kristal,
maupun menghambat retensi kristal. Senyawa itu antara lain :

1. Glikosaminoglikan (GAG)
2. Protein Tamm Horsfall (THP) / uromukoid
3. Nefrokalsin
4. Osteopostin.
Jenis-Jenis Batu Saluran Kemih

Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur : kalsium oksalat atau
kalsium fosfat (75%), asam urat (8%), magnesium-amonium-fosfat (MAP) (15%),
xanthyn dan sistin, silikat dan senyawa lain (1%).

1. Batu kalsium

Batu jenis ini paling banyak dijumpai, yaitu kurang lebih 70 -80 % dari seluruh batu
saluran kemih. Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat,
atau campuran dari kedua unsur itu.

Gambar 4 : batu kalsium oksalat

Faktor terjadinya batu kalsium adalah

1) Hiperkalsiuri, yaitu kadar kalsium dalam urine lebih besar dari 250-300 mg/24 jam.
Terdapat 3 macam penyebab terjadinya hiperkalsiuri, antara lain :
 Hiperkalsiuri absorptif, terjadi karena peningkatan absorpsi kalsium melalui
usus.
 Hiperkalsiuri renal, terjadi karena adanya gangguan kemampuan reabsorpsi
kalsium melalui tubulus ginjal.
 Hiperkalsiuri resorptif, terjadi karena adanya peningkatan resorpsi kalsium
tulang, yang banyak terjadi pada hiperparatiroidisme primer atau pada tumor
paratiroid.
2) Hiperoksaluri, adalah ekskresi oksalat urine melebihi 45 gram per hari. Keadaan ini
banyak dijumpai pada pasien yang mengalami gangguan usus passca operatif usus
dan pasien yang banyak mengkonsumsi makanan yang kaya akan oksalat, seperti :
teh, kopi instan, minuman soft drink, arbei, jeruk sitrun, dan sayuran hijau terutama
bayam.
3) Hiperorikosuria, yaitu kadar asam urat dalam urine melebihi 850 mg/24 jam.
4) Hipositraturia. Di dalam urine, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium
sitrat yang bersifat lebih mudah larut, sehingga menghalangi kalsium berikatan
dengan oksalat atau fosfat. Hipositraturia dapat terjadi pada penyakit asidosis
tubulus ginjal, sindrom malabsorpsi, atau pemakaian diuretik golongan thiazid
dalam waktu lama.
5) Hipomagnesuria. Sama seperi sitrat, magnesium bertindak sebagai inhibitor
timbulnya batu kalsium, karena di dalam urine magnesium bereaksi dengan oksalat
membentuk magnesium oksalat, sehingga mencegah ikatan kalsium oksalat.

2. Batu struvit

Batu ini disebut juga batu infeksi karena pembentukannya disebabkan oleh adanya
infeksi saluran kemih. Kuman penyebab adalah kuman golongan pemecah urea atau
urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan mengubah pH urine menjadi
basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini memudahkan garam-
garam magnesium, amonium, fosfat dan karbonat untuk membentuk batu magnesium
amonium fosfat (MAP). Kuman-kuman yang termasuk pemecah urea diantaranya
adalah : Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus.
E.coli bukan termasuk pemecah urea.

Gambar 5 : batu struvit


3. Batu asam urat

Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih. Di antara 75-
80% batu asam urat terdiri atas asam urat murni dan sisanya merupakan campuran
kalsium oksalat. Penyakit ini banyak diderita oleh pasien dengan penyakit gout,
penyakit mieloproliferatif, pasien yang mendapatkan terapi antikanker, dan yang
banyak menggunakan obat urikosurik, seperti sulfinpirazone, thiazide, dan salisilat.
Obesitas, peminum alkohol, dan diet tinggi protein mempunyai peluang besar untuk
mendapatkan penyakit ini. Asam urat relatif tidak larut dalam urine, sehingga pada
keadaan tertentu mudah sekali membentuk kristal asam urat, dan selanjutnya
membentuk batu asam urat.

Gambar 6: batu asam urat

4. Batu jenis lain


Batu sistin, batu xanthin sangat jarang dijumpai. Batu sistin didapatkan karena
kelainan metabolism sistin, yaitu kelainan dalam absorbsi sistin dimukosa usus.
Demikian batu xanthin terbentuk karena penyakit bawaan berupa defisiensi enzim
xanthin oksidase yang mengkatalisis perubahan hipoxanthin menjadi xanthin dan
xanthin menjadi asam urat.

Gambar 7 : batu sistin


Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
ditunjang dengan pemeriksaan radiologis, laboratorium dan penunjang lain untuk
menentukan adanya kemungkinan obstruksi saluran kemih, infeksi, dan gangguan faal
ginjal.
Anamnesis
a. Riwayat penyakit saat ini
Pada pengkajian ini, hal yang perlu ditanyakan adalah keluhan klien seperti nyeri
(lokasi, waktu, penyebaran, intensitas, durasi), pengeluaran batu dalam urin, pola
BAK, terdapat darah dalam urin dan lain-lain. Pasien dengan batu saluran kemih
mempunyai keluhan yang bervariasi mulai dari tanpa keluhan. sakit pinggang
ringan sampai dengan kolik, disuria, hematuria, retensio urin, anuria. Keluhan ini
dapat disertai dengan penyulit berupa demam, tanda-tanda gagal ginjal.
b. Riwayat penyakit terdahulu
Penyakit terdahulu yang perlu ditanyakan pada klien yaitu apakah klien pernah
mengalami penyakit batu sebelumnya, pernah mengalami penyakit infeksi
saluran kemih, riwayat kencing berpasir ataupun penyakit saluran kemih yang
lainnya.
c. Riwayat keluarga
Perlu ditanyakan antara lain : intake cairan, diit (susu, keju, purine), obat-obatan
(analgesic, vitamin D, kemoterapi), immobilisasi yang lama, gout, atau pernah
mengeluarkan batu.
d. Kebiasaan dan gaya hidup
Pada pemeriksaan ini perawat menanyakan kebiasan klien sehari-hari, aktivitas
yang biasa dilakukan klien sebelumnya, serta makanan dan minuman yang
biasa di konsumsi klien.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pasien dengan batu saluran kemih dapat bervariasi mulai tanpa
kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit berat tergantung pada letak batu dan penyulit
yang ditimbulkan.
 Pemeriksaan fisik umum : hipertensi, febris, anemia, syok
 Pemeriksan fisik khusus urologi
a. Sudut kosto vertebra : nyeri tekan, nyeri ketok, pembesaran ginjal
b. Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli penuh
c. Genitalia eksterna : teraba batu di uretra
d. Colok dubur : teraba batu pada buli-buli (palpasi bimanual).

b. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan kemih yang dapat
menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menentukan
sebab terjadinya batu.2
Urin
 pH urin > 7,6 biasanya ditemukan kuman urea splitting organisme dapat
berbentuk batu magnesium ammonium posfat. pH yang rendah menyebabkan
peengendapan batu asam urat (organik)
 Sedimen : Sel darah merah meningkat (905) ditemukan pada penderita dengan
batu, bila terjadi infeksi maka Sel darah putih akan meningkat
 Biakan urin
Darah
 Hb, akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal
 Leukositosis terjadi karena infeksi
 Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal
 Ca, Fosfor dan asam urat

Pemeriksaan Radiologik
 BNO
BNO atau Buik Nier Overzich atau foto abdomen polos adalah pemeriksaan
radioligi pada bagian abdomen yang dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya kelainan konginatal, tumor ginjal atau tumor abdimen, bati saluran
kemih dan tumor kandungan. BNO polos dapat dilakukan oleh siapa saja
dan kapan saja karena tidak memerlukan persiapan. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan posisi supine dengan memiliki batas atas prosesus
xyphoideus, batas bawah simphisis phubis dan batas lateral terlihat seluruh
perut. Pada foto BNO batu yang dapat dilihat sebagai batu radio-opak
sedangkan batu yang tidak tampak disebut sebagai batu radiolusen, berikut ini
adalah urutan batu menurut densitasnya, dari yang paling opak hingga yang
paling bersifat radiolusen; calcium fosfat, calcium oksalat, magnesium
ammonium fosfat, asam urat, xanthin.5

 Foto BNO-IVP

BNO IVP atau BNO intravenous pyelography excertion urography adalah


pemeriksaan BNO dengan menggunakan obat kontras yang dimasukan via.
Pemeriksaan ini menurut Thomas B and James H menggunakan iodine
kontras medium. Indikasi pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan BNO
akan tetapi pemeriksaan ini memberikan pemeriksaan anatomikal yang lebih
baik. Berbeda dengan pemeriksaan BNO polos, BNO IVP tidak dapat
dilakukan pada semua orang karena pemeriksaan ini hanya boleh dilakukan
jika kadar ureum < 60mg, creatinin < 2 mg, telah menjalani Discharge
planningpemeriksaan BNO dan skin test terhadap obat kontras. Kontra
indikasi dari pemeriksaan ini adalah alergi obat kontras, penurunan fungsi
ginjal, infeksi saluran kemih akut dan retensi cairan berlebihan. Persiapan yang
dilakukan untuk melakukan pemeriksaan ini antara lain makan-makanan
rendah sisa yaitu bubur kecap dan mengurangi minum 24 jam sebelum
pemeriksaan, puasa 8 jam sebelum pemeriksaan, dan makan garam inggris
30 gram malam sebelum pemeriksaan.
 Retrograde pyelograph
Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan yang dilakukan jika pemeriksaan
menggunakan BNO IVP tidak baik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk
mengetahui letak, panjang tinggi dan etiologi dari obstruksi yang terjadi.
Pemeriksaan ini, tidak boleh dilakukan pada klien dengan infeksi saluran kemih
akut. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan kontras melalui
kateter ureter
 CT Scan Urologi
T Scan adalah pemeriksaan yang menggunakan kombinasi X- Ray dan
komputer 3D sehingga dapat menghasilkan gambar yang lebih jelas. CT Scan
melibatkan obat khusus yang disebut dengan medium kontras. Posisi yang
digunakan pada pemeriksaan ini adalah terlentang. Pemeriksaan ini
dilakukan untuk menunjukkan posisi batu dan kondisi yang mungkin
diakibatkan oleh keberadaan batu tersebut seperti
hidrouretra ataupun hidronefrosis

Pemeriksaan Ultrasonografi
Pemeriksaan USG merupakan pemeriksaan yang non invasive yang sangat membantu,
dapat dipakai untuk melakukan antegrad pielografi.5 USG dikerjakan bila pasien tidak
mungkin menjalani pemeriksaan IVU, yaitu pada keadaan-keadaan : alergi terhadap
bahan kontras, faal ginjal yang menurun, dan pada wanita yang hamil. Pemeriksaan
USG untuk menilai adanya batu diginjal atau buli-buli, hidronefrosis, pionefrosis atau
pengerutan ginjal.

Gambaran klinis.
Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya

 Batu ginjal
o Sakit pada sudut CVA, sakit berupa pegal (akibat distensi parenkim dan kapsul
ginjal), kolik (hiperperistaltik otot polos pada kaliks dan pelvis ginjal)
o Nausea, muntah-muntah disertai distensi abdomen disebabkan oleh ilius
paralitik.
o Hematuria makroskopik (5-10%), hematuria makroskopi (90%).
o Infeksi, bila terjadi sepsis penderita akan demam, menggigil dan apatis
Tanda-tanda
Biasanya tidak ditemukan kelainan, kadang-kadang dapat ditemukan adanya nyeri
tekan, nyeri ketok pada sudut CVA, bila terjadi hidronephrosis dapat teraba adanya
massa.

 Batu Ureter
o Rasa sakit yang mendadak disebabkan batu yang lewat, rasa sakit berupa pegal
disudut CVA (distensi parenkhim dan kapsul ginjal) atau kolik (hiperperistaltik
otot polos), kolik ini menjalar ke perut bagian bawah sesuai dengan batu lokasi
batu dalam ureter, pada pria rasa sakit sampai ke testis (batu ureter proksimal),
pada wanita rasa sakit terasa sampai vulva dan pada pria rasa sakit pada skrotum
(batu ureter distal)
o Gejala traktus digestifus seperti pada batu ginjal
o Bila batu sudah menetap di uterer hanya ditemukan rasa pegal pada sudut CVA
karena bendungan.
Tanda-tanda
o Pada saat akut penderita tampak gelisah, kulit basah dan dingin, kadang-kadang
terdapat tanda-tanda syok ringan.
o Nyeri tekan pada CVA, spasme otot-otot abdomen, testis hipersensitif (batu
ureter proximal), skrotum hipersensitif (batu ureter distal

 Batu Buli-buli
o Kencing lancar tiba-tiba terhenti terasa sakit yang menjalar ke penis bila pasien
merubah posisi dapat kencing lagi, pada anak-anak mereka akan berguling-
guling dan menarik-narik penis
o Kalau terjadi infeksi ditemukan tanda sistitis, kadang-kadang terjadi hematuria
Tanda-tanda
o Adanya nyeri tekan suprasimpisis karena infeksi atau teraba adanya urin yang
banyak retensi.
o Hanya pada batu yang besar dapat diraba secara bimanual
o Pada pria di atas 50 tahun biasanya ditemukan pembesaran prostat.

 Batu Urethra
o Kencing lancar tiba-tiba berhenti disertai rasa sakit yang hebat (gland penis,
batang penis, perineum dan rectum) terjadi retensi urin (total atau parsial)
Tanda-tanda
Rasa sakit pada tempat batu berada :

o Glands penis  fossa navikularis


o Urethra anterior  pars bulbosa maupun pendularis
o Perineum dan rektum  bulbus urethra pars prostatika (dapat diraba dengan
RT)