Anda di halaman 1dari 4

Nia : “ menurut bapak, bagaimana pandangan bapak mengenai profesi dokter gigi?

Narasumber : “ yaa.. kalau saya sih pernah mengalami periksa gigi di puskesmas, kurang
bagus. “

Nia : “kurang bagusnya seperti apa pak? Bisa diceritakan? “

Narasumber : “ saya kan cabut gigi di puskesmas, sudah empat kali, di bandung pernah, di
semarang pernah. Saya batalkan semua, karena rasanya sakit. Tangan dokternya sampai saya
pegangin. Sampai saya pindah tempat ke puskesmas lain, ya begitu juga. Akhirnya saya
memilih untuk ke tempat praktik dokter spesialis dekat rumah saya. Ya mungkin memang
puskesmas untuk kalangan masyarakat ke bawah.“

Nia : “ bagaimana pelayanannya pak? “

Narasumber : “ ya bagus, karena mahal. Kalau dokter gigi sudah dengan biaya mahal, untuk
kelas-kelas yang praktik dirumah, untuk masyarakat yang kurang mampu itu berat sekali
masih terlalu mahal, tapi memang ya bagus pelayanannya “

Nia : “ oh begitu.. menurut bapak, dokter gigi yang baik itu seperti apa pak? “

Narasumber : “ya.. kalau orang jualan brambang dulu bilangnya harus ramah, murah,
meriah.. “

Nia : “ menurut Anda, seberapa pentingkah menjaga kesehatan gigi dan mulut? “

Narasumber : “ Kesehatan gigi dan mulut itu nomerouno, nomor satu. Sangat penting, karena
menurut saya gigi itu mahkota tubuh yang paling penting, kalau rambut botak tidak masalah. “

Nia : “ Apakah bapak pernah memberikan edukasi kepada anak bapak tentang
pentingnya menjaga kesehata gigi dan mulut? “

Narasumber : “ Iya pasti. Saya memberikan contoh kepada mereka, agar rutin menyikat gigi
tiga kali sehari. Seperti bangun tidur, setelah makan, dan sebelum tidur. Tidak asal ngomong
saja, tapi ya kok saya dari kecil sudah rutin menyikat gigi setelah dewasa kok ya rusak… tidak
tahu kenapa bisa begini. “

Nia : “ Bisa diceritakan pengalaman bapak pertama kali mengapa gigi bapak bisa
bermasalah? “

Narasumber : “ Awalnya kan begini, gigi saya kan copot satu, terus saya pasang gigi palsu,
kan pakai kawat ditaruh di gigi kiri dan kanan di gigi yang masih utuh, nah gigi yang utuh itu
terknena gesekan kawat. Lalu semuanya rusak, sampai sekarang tinggal empat saja. “

Nia : “ jika boleh tahu, siapa yang melakukan tindakan pemasangan gigi palsu pada
bapak? “

Narasumbe : “ Saya ke tukang gigi waktu itu. Soalnya saya punya dugaan, dokter gigi tu kalo
disuruh membuatkan gigi palsu pasti dilemparkan ke tukang gigi dipinggir jalan itu. Kalo di
dokter gigi lama, jadinya bisa sebulan. Kalau ditukang gigi cepat, satu jam langsung jadi. “

Nia : “ bagaimana upaya menjaga kesehatan gigi yang sudah bapak lakukan saat ini?

Narasumber : “ya rutin saja menggosok gigi tiga kali sehari. Tadi pagi sebelum berangkat
kerja juga tidak lupa menggosok gigi. Yang jelas mau tidur dan bangun tidur itu wajib. Tapi
nyatanya tetap keropos, bolong, tambal. cabut dan habis gigi saya. Dan kalau menggunakan
tusuk gigi untuk membersihkan makanan itu harus ekstra hati-hati, karena saya pernah gusi
saya kesenggol dan berdarah hingga bengkak. Bolak-balik “

Nia : “ mungkin bapak seharusnya rutin untuk melakukan periksa gigi ke dokter gigi
6 bulan sekali dan lebih hati-hati dalam melakukan tindakan untuk menjaga kesehatan gigi
dan mulut bapak “

Narasumber : “ Ya mungkin ya “

Nia : “ Ohya pak, apa harapan bapak untuk profesi dokter gigi kedepannya?”

Narasumber : “ harapannya bisa melayani masyarakat dengan ikhlas dan tidak memberikan
beban-beban yang berat kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak takut dengan beban-
beban seperti biaya dan rasa sakit. Karena puskesmas kalau memberikan pelayanan itu sakit
menurut saya, dan semoga masyarakat bisa lebih sadar unntuk menjaga kesehatan gigi dan
mulut, tidak hanya dibiarkan saja. “

Dedengan gojek
Nia : ” Selamat siang bapak. Bisakah saya minta waktunya sebentar? “

Narasumber : “ Selamat siang. Bisa, monggo “

Nia : “ Sebelumnya, perkenalkan nama saya Nia Damayanti dan teman saya
Damayanti Diah mahasiswa kedokteran gigi fakultas kedokteran universitas Dipongeoro 2018.
Kami ingin mewawancarai bapak mengenai pentingnya kesehatan gigi dan mulut, serta peran
dokter gigi yang diharapkan oleh masyarakat. Apakah bapak bersedia? “

Narasumber : “ Boleh “

Nia : “ Saya ingin bertanya identitas bapak terlebih dahulu, nama bapak siapa? “

Narasumber : “ Nama saya Robeth hartono Wiri “

Nia : “ Usia bapak berapa? Lalu pekerjaan bapak sehari-hari apa? “

Narasumber : “ Usia saya 49 tahun. Saya sehari-hari bekerja menjadi go-jek. “

Nia : “ Baik bapak, bisa dimulai ya. Apa pandangan bapak mengenai profesi dokter
gigi? “

Narasumber : “ Profesi dokter gigi khususnya di negara Indonesia pastinya sangat penting di
masyarakat karena dokter gigi itu sangat menolong masyarakat. Terutama agar kesehatan gigi
masyarakat Indonesia dapat terjaga dengan baik. Dan bila ada kelainan-kelainan pada gigi dan
mulut bisa ditangani sedini mungkin. “

Nia : “ menurut bapak, dokter gigi yang baik itu seperti apa pak? “

Narasumber : “ yang pertama ramah, ramah didalam menangani pasien. Yang kedua cekatan,
dan terampil menggunakan alat-alat kedokteran khusunya alat-alat kedokteran di bidang
kedokteran gigi, kemudian tepat sasaran dalam mendiagnosa keluhan pasien, dan pasien
seharusnya setelah melakukan pengobatan di dokter gigi terdapat perubahan yang signifikan
dan sembuh. “

Nia : “ bagaimana persepsi bapak mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan
mulut? “

Narasumber : “ menurut persepi saya, sangat penting sekali. Karena bila kesehatan gigi dan
mulut tidak dijaga dengan baik dapat terjadi komplikasi penyakit. Itu pandangan secara
umum menurut saya, sehingga kesehatan gigi dan mulut itu sangat penting, perlu dijaga ole
masyarakat, dan disinilah peran dokter gigi sangat penting dalam memberikan edukasi
tentang bagaimana cara menjaga kesehatan gigi dan mulut, cara merawatnya, sehingga dapat
meminimalisir penyakit atau masalah-masalah khususnya di gigi dan mulut. “

Nia : “ apakah bapak pernah memiliki pengalaman saat berobat ke dokter gigi? “

Narasumber : “ pernah, dulu saya waktu itu giginya lubang, ditambal sama dokter gigi, gigi
bagian geraham belakang, selang berapa kurun waktu mungkin 3 minggu, tambalannya
sempat lepas lagi. Saya gatau kenapa bisa begitu, apa mungkin kualitas tambalannya kurang
bagus, atau dookternya kurang teliti dalam menangani “

Nia : “ apakah bapak rutin memeriksan gigi bapak ke dokter gigi? “

Narasumber : “ tidak. Karena terbenturnya sibuk dengan pekerjaan. “


Nia : “ apakah bapak sudah memberikan edukasi kepada anak-anak bapak mengenai
pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut? Edukasi seperti apa yang diberikan bapak? “

Narasumber : “ sudah, saya memberikan edukasi kepada anak agar menjaga kesehatan gigi
dan mulut sedini mungkin sehingga dengan gigi yang sehat itu tentunya dapat menjamin
kesehatan gigi secara keseluruhan. “

Nia : “ apa harapan bapak untuk profesi dokter gigi yang akan datang? “

Narasumber : “ harapan saya, tercipta dokter gigi yang ramah, cekatan, pintar dalam
emnggunakan fasilitas-fasilitas kedokteran gigi, dan tentunya didukung dengan ilmu
pengetahuan dibidang kedokteran gigi yang memadai sehingga tepat sasaran dalam
mediagnosa pasien. “

Nia : “ baik bapak. Terimakasih atas waktunya ya pak. Semoga bapak sehat selalu “

Narasumber : “ sama-sama, sukses selalu buat kedokteran gigi undip “

Dengan pak satpam FK