Anda di halaman 1dari 37

CASE REPORT SESSION (CRS)

*Kepaniteraan Klinik Senior/Tahun 2019


**Pembimbing

INSOMNIA NON ORGANIK

Oleh

Sherly Anggelina, S.Ked (G1A218063)


Fatmiati Ariska, S.Ked (G1A218079)

Pembimbing: dr. Fatmawati, Sp.KJ**

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA RUMAH SAKIT JIWA DAERAH
PROVINSI JAMBI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019

i
HALAMAN PENGESAHAN

Case Report Session (CRS)

INSOMNIA NON ORGANIK

DISUSUN OLEH

Sherly Anggelina, S.Ked (G1A218063)


Fatmiati Ariska, S.Ked (G1A218079)

Telah diterima dan dipresentasikan sebagai salah satu tugas


Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi
Program Studi Kedokteran Universitas Jambi

Laporan ini telah diterima dan dipresentasikan


Jambi, Februari 2019

PEMBIMBING

dr. Fatmawati, Sp.KJ

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas segala limpahan kasih dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan
Case Report Session ini dengan judul “Insomnia Non Organik”. Laporan ini
merupakan bagian dari tugas Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan
Jiwa Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi.
Terwujudnya laporan ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan
dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada dr. Fatmawati, Sp.KJ selaku pembimbing yang telah memberikan arahan
sehingga laporan Case Report Session ini dapat terselesaikan dengan baik dan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan Case Report
Session ini.
Penulis menyadari laporan ini masih banyak kekurangannya, untuk itu saran
dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis.Sebagai
penutup semoga kiranya laporan Case Report Session ini dapat bermanfaat bagi kita
khususnya dan bagi dunia kesehatan pada umumnya.

Jambi, Februari 2019

Penulis

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Setiap manusia memiliki kebutuhan khusus yang harus dipenuhi, baik


secara fisiologis maupun psikologis. Terdapat banyak kebutuhan fisiologis
manusia, salah satunya adalah istirahat dan tidur. Tidur merupakan kebutuhan
penting bagi setiap orang, karena dengan tidur seseorang dapat memulihkan
stamina tubuh dan pembentukan daya tahan tubuh. Kebutuhan tidur bervariasi pada
setiap individu, umumnya dibutuhkan 6-8 jam perhari untuk mendapatkan kuantitas
dan kualitas tidur yang efektif.1
Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan
pada penderita yang berkunjung ke poliklinik ataupun praktek. Gangguan tidur
dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan
tinggi dan rendah maupun orang muda, serta yang paling sering ditemukan pada
usia lanjut.2
Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering dialami oleh
seluruh orang di dunia. Insomnia dapat didefinisikan sebagai gangguan maupun
gejala. Insomnia sebagai gangguan merupakan keadaan di mana seseorang
mengalami kesulitan tidur, kesulitan dalam mempertahankan tidur maupun kualitas
tidur buruk dan disertai keadaan penyulit.3
Insomnia berdampak pada kehidupan sosial penderita, psikologis dan fisik.
Selain itu dampak ekonomi yang disebabkan insomnia juga cukup berat,
diantaranya adalah hilangnya produktivitas dan biaya pengobatan pada pelayanan
kesehatan. Selain meningkatkan risiko penyakit generatif seperti hipertensi dan
jantung, depresi dan stres ternyata juga merupakan manifestasi gangguan tidur ini.
Insomnia juga meningkatkan risiko terjatuh pada lansia serta keinginan bunuh diri
dan penyalahgunaan obat.4
Insomnia merupakan suatu gejala, bukan merupakan suatu diagnosis, maka
terapi yang diberikan adalah secara simtomatik. Walaupun insomnia merupakan
suatu gejala, namun gejala ini bisa menjadi sangat mengganggu aktivitas dan

iv
produktivias penderita, terutama penderita dengan usia produktif. Oleh karena itu,
penderita berhak mendapatkan terapi yang sewajarnya.4
Tanpa pengetahuan yang komprehensif, strategi pengobatan yang efektif,
yaitu dengan farmakologi ataupun non-farmakologi sulit diaplikasikan.
Berdasarkan penelitian, terapi non-farmakologi menjadi pilihan karena biaya yang
lebih murah dan lebih efektif dibandingkan dengan pemberian medikamentosa.
Efek samping dari obat dan kemungkinan terjadinya kekambuhan setelah
pengobatan dihentikan harus diperhatikan secara seksama supaya tidak
memperburuk kondisi penderita.4

v
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 RIWAYAT PSIKIATRI


Pemeriksaan dilakukan tanggal 07 Februari 2019 pukul 10.15 di Poli RSJD
Jambi. Riwayat psikiatri diperoleh dari autoanamnesis serta heteroanamnesis
dengan Tn.AR (suami pasien).

2.2 IDENTITAS PASIEN


1. Nama : Ny. LA
2. Tanggal Lahir/Umur : Kerinci, 16 Februari 1985/34 tahun
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Alamat : Jl. Lingkar Selatan RT 28 Kel. Paal Merah, Jambi
5. Suku/Bangsa : Melayu/Indonesia
6. Agama : Islam
7. Status Perkawinan : Menikah
8. Pekerjaan : Wirausaha
9. Pendidikan : S1
10. MRS tanggal : 07 Februari 2019

2.3 IDENTITAS HETEROANAMNESA


1. Nama : Tn. AR
2. Tanggal Lahir/Umur : 20 Mei 1982 / 37 tahun
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Alamat : Jl. Lingkar Selatan RT 28 Kel. Paal Merah, Jambi
5. Suku/Bangsa : Melayu/Indonesia
6. Agama : Islam
7. Status Perkawinan : Menikah
8. Pekerjaan : Wirausaha
9. Pendidikan : SMA
10. Hubungan dengan pasien: Suami

vi
2.4 ANAMNESIS
2.4.1 Keluhan Utama
Tidak bisa tidur
2.4.2 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi
diantar oleh suaminya. Pasien mengeluhkan tidak bisa tidur sejak ± 1
minggu SMRS.
Keluhan ini bermula dari sekitar 1 bulan yang lalu, pasien sudah
mulai mengalami kesulitan tidur dan kualitas tidur yang menurun, mudah
terbangun saat tidur, dan jika sudah terbangun tidak bisa tidur lagi. Durasi
rata-rata tidur malam hari os adalah 2-3 jam. Os juga tidak bisa tidur pada
siang hari. Sebelumnya pasien bercerita bahwa belakangan ini pasien
mempunyai masalah dengan kinerja para karyawan di tempat usahanya
yang semakin hari semakin menurun. Menurut pasien, banyak karyawannya
yang kerjanya kurang maksimal, lebih sering bermalas-malasan dan datang
tidak tepat waktunya. Terkadang ini membuat pasien sedikit khawatir
dengan kemajuan dari usahanya. Namun pasien mengaku bahwa ini
bukanlah masalah yang besar karena pasien mempunyai pemikiran bahwa
yang namanya usaha pasti ada masalah da nada pasang surutnya. Pasien
merasa itu bukan lah suatu beban yang berat buatnya.
. 10 hari sebelumnya MRS os pernah dirawat karena Infeksi Saluran
Pernafasan Atas (ISPA) selama 3 hari . Saat itu os juga mengeluhkan nafsu
makannya berkurang, dan susah tidur serta sering terbangun tengah malam
lalu sulit untuk tidur kembali.
Semenjak setelah keluar dari rumah sakit, os benar-benar tidak dapat
tidur pada malam hari. Os mulai merasa cemas, merasa lemas dan
jantungnya berdebar-debar akibat tidak dapat tidur. Os segera berinisiatif
mengkonsulkan masalah tidurnya ke RSJD pada hari Kamis, 07 Februari
2019.

vii
2.4.3 Riwayat Penyakit Dahulu
1. Gangguan Mental dan Emosi
Riwayat gangguan mental dan emosi sebelumnya tidak ditemukan
2. Gangguan Psikosomatis
Tidak didapatkan adanya riwayat asma, nyeri lambung, eksim, rematik
atau penyakit psikosomatis lainnya
3. Kondisi Medik
10 hari yang lalu pasien dirawat inap karena ISPA selama 3 hari.
4. Riwayat Penggunaan Zat Psikotik dan Alkohol
Riwayat penggunaan zat psikotik dan alkohol tidak ditemukan.
5. Gangguan Neurologi
Riwayat demam, muntah-muntah, penglihatan ganda sebelumnya tidak
ada. Riwayat trauma kepala, kejang dan kehilangan kesadaran tidak ada.

2.4.4 Riwayat Keluarga


Pasien merupakan anak kedua dari 3 bersaudara. Pasien memiliki 2
orang saudara laki-laki. Riwayat penyakit keluarga dengan keluhan serupa
tidak ada.

Struktur keluarga yang tinggal serumah saat ini


No Nama L/P Usia Hubungan Sifat
1. Tn. AR L 37 thn Suami pasien Tegas
2. Ny. LA P 34 th Pasien Ramah, Mudah bergaul
3. An. A L 10 th Anak pasien Pemalu
4. An. P L 7 th Anak pasien Periang

viii
Genogram

Ket:

: Lk : Pr

: sudah meninggal : sudah meninggal

: pasien
f
2.4.5 Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal dan perinatal
Pasien lahir cukup bulan, merupakan kehamilan yang diharapkan dan
direncanakan. Pasien lahir di bidan. Pasien lahir dengan berat badan
cukup dan tidak ada kelainan fisik.
2. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pasien lupa mengenai riwayat masa kanak-kanak awal
3. Riwayat masa kanak-kanak menengah (3-11 tahun)
Pasien pergi ke sekolah dengan berjalan bersama teman-temannya.
Pasien merupakan anak yang sering menghabiskan masa kecilnya
dengan bermain bersama teman-teman seusianya, rajin belajar, dan
sudah terbiasa membantu orangtuanya berjualan gorengan.
4. Masa pubertas hingga dewasa

ix
a. Hubungan sosial
Pasien merupakan pribadi yang mudah bergaul. Pasien memiliki
cukup teman baik laki-laki maupun perempuan. Pasien lebih banyak
dekat dengan temannya.
b. Riwayat sekolah
Pasien lulusan S1 jurusan Ekonomi dan sekarang mempunyai usaha
sendiri yaitu ekspedisi yang ia rintis dari awal bersama suami.
c. Perkembangan kognisi dan motorik
Pasien lupa mengenai perkembangan kognisi dan motorik
d. Masalah emosi dan fisik
Masalah emosi dan fisik disangkal
e. Riwayat Psikoseksual
Pasien pertama kali tertarik dengan lawan jenis saat usia 14 tahun.
Pasien pacaran dengan suaminya selama 2 tahun dan merupakan
perjodohan dari kedua orangtua mereka.
f. Latar belakang agama
Pasien mendapatkan agama yang cukup dari orang tuanya. Saat
masih kecil, pasien sering pergi mengaji ke masjid.
g. Riwayat pekerjaan
Pasien ikut membantu suami mengelola usaha ekspedisi.
h. Aktivitas sosial
Pasien bila ada masalah terbuka untuk bercerita terutama kepada
suami, Hubungan pasien dengan tetangganya cukup baik.
i. Kehidupan seksual
Orientasi seksual pasien terhadap lawan jenis.
j. Riwayat pernikahan
Pasien menikah pada tahun 2008.
k. Riwayat militer dan masalah hokum
Pasien tidak pernah melakukan pendidikan militer. Pasien tidak
pernah terlibat dengan masalah hukum dan kepolisian.

x
2.5 Status Internistik
1. Pemeriksaan Tanda Vital
 Kesadaran : Compos mentis
 TD : 120/70 mmHg
 Nadi : 80 x/menit
 Suhu : 36,5º C
 RR : 20 x/menit
2. Status Gizi
 Tinggi Badan : 148 cm
 Berat Badan : 51 kg
 IMT : 23,28 kg/m2 (normal)
3. Status Generalisata
Kulit : Turgor baik
Kepala : Normochepal, rambut hitam, tidak mudah dicabut
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), pupil bulat
isokor (+/+).
Hidung : Deformitas (-), epistaksis (-)
Telinga : Serumen (-), Nyeri tekan (-)
Leher : Pembesaran KGB (-), Trakea terletak ditengah
Thorax
Paru
 Inspeksi : Simetris kanan dan kiri, pergerakan dada simetris,
retraksi dinding dada (-), sikatriks (-)
 Palpasi : Fremitus dada kanan = kiri
 Perkusi : Sonor pada kedua paru
 Auskultasi : Vesikuler (+/+) normal, Ronkhi (-/-), Wheezing
(-/-)
Jantung
 Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
 Palpasi : Ictus cordis teraba
 Perkusi : Batas atas : ICS II linea parastenalis sinistra

xi
Batas bawah : ICS V linea midclavicularis sinistra
Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra
Batas kiri : ICS V linea midclavicularis sinistra
 Auskultasi : BJ1- BJ2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
 Inspeksi : Abdomen datar, distensi (-), ikterik (-), sikatriks (-)
 Auskultasi : Bising usus normal
 Palpasi : Supel
 Perkusi : Timpani di keempat kuadran, pekak alih (-)

Ekstremitas
 Superior : Akral hangat, edema (-/-), CRT 2detik
(kanan=kiri)
 Inferior : Akral hangat, edema (-/-), CRT 2detik
(kanan=kiri)
Pemeriksaan Neurologis
 GCS :15 (E4 V6 M5)
Pemeriksaan Psikometrik :Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Pemeriksaan Penunjang Lainnya :
a. Laboratorium darah rutin : Tidak dilakukan pemeriksaan

2.6 Status Psikiatri


a. Keadaan Umum
1. Penampilan : Pasien datang dalam keadaan tenang, penampilan
sesuai usianya, kondisi fisik terlihat sehat namun seperti tidak
bersemangat dan lemas, pakaian cukup rapi.
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor : Kooperatif dan
hipokinesia(hipoaktif)
4. Pembicaraan
a. Kuantitas: Terjadi peningkatan kuantitas pembicaraan

xii
b. Kualitas: Koheren
c. Tidak ada hendaya berbahasa.
d. Sikap terhadap pemeriksa :Pasien kooperatif, kontak mata
adekuat.
5. Orientasi
 Tempat :baik, pasien dapat mengetahui bahwa ia sedang
berada di Poli Jiwa RSJD Jambi
 Waktu :baik, pasien mengetahui bahwa pemeriksaan
berlangsung di pagi hari
 Orang :baik, pasien mengenal orang yang mendampinginya
saat pemeriksaan
6. Sikap dan tingkah laku :Pasien kooperatif dengan pemeriksa, kontak
mata dengan pemeriksa terarah, serta pasien mampu menjawab
pertanyaan.
b. Gangguan berpikir
1. Bentuk pikir : Realistik
2. Arus pikir : Relevan
3. Isi pikir : Waham (-) Preokupasi (+) terhadap
kinerja karyawan yang menurun di
tempat usaha miliknya
c. Alam perasaan
1. Mood : Cemas
2. Afek : Appropriate
d. Persepsi
1. Halusinasi : (-)
2. Ilusi : (-)
e. Fungsi intelektual
1) Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
a. Taraf pendidikan :Pasien lulusan S1 Ekonomi
b. Pengetahuan umum :Mudah dinilai, karena pasien
menjawab saat diajukan pertanyaan

xiii
2) Daya konsentrasi dan perhatian
a. Konsentrasi dan perhatian pasien baik.
3) Orientasi
a. Waktu: Baik, pasien mengetahui saat wawancara saat pagi hari
b. Tempat: Baik, pasien mengetahui dia sedang berada di rumah
sakit jiwa jambi
c. Orang : Baik, pasien mengetahui dengan siapa ia berobat, siapa
saja yang tinggal serumah dengannya, dan mengetahui sedang
diwawancara oleh siapa.
4) Daya Ingat
a. Daya ingat jangka panjang : Baik, pasien dapat mengingat
b. Daya ingat jangka menengah : Baik, pasien dapat mengingat
c. Daya ingat jangka pendek : Baik, pasien dapat mengingat
d. Daya ingat segera : Baik, pasien dapat mengingat
5) Kemampuan baca tulis : Baik
6) Pikiran abstrak : Baik
f. Pengendalian impuls : Baik
g. Daya nilai : Baik
h. Tilikan : Derajat 4
i. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya

2.7 Diagnosis Banding


a. F51.0 Insomnia non organik
b. G47 Insomnia Organik
c. F43.0 Reaksi stress akut
d. F41.1 Gangguan Cemas Menyeluruh
e. F43.2 Gangguan Penyesuaian

2.8 Diagnosis Multiaksial


Aksis I : F51.0 Insomnia non organik
Aksis II : Z03.2 Tidak ada diagnosis

xiv
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah psikososial dan lingkungan lain
Aksis V : GAF 70-61

2.9 Penatalaksanaan
Terapi farmakologi yang diberikan pada pasien ini adalah:
Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi menjadi dua golongan
yaitu benzodiazepine dan non-benzodiazepine.

a. Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)


b. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital)

Pemilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur yaitu initial insomnia (sulit
masuk ke dalam proses tidur). Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep
inducing anti-insomnia” yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting).

- Psikoterapi
 Memberikan edukasi tentang penyakit yang diderita pasien
 Memberikan edukasi kepada pasien untuk kontrol ulang jika obat yang
dikonsumsi habis
 Memberikan edukasi kepada pasien mengenai sleep hygiene
 Pasien tidak boleh tidur siang
 Harus melakukan aktivitas yang melelahkan seperti olahraga pada siang
hari
 Malam hari tidak boleh meminum kopi dan alkohol
 Tidak boleh nonton film yang menyeramkan seperti dunia lain pada
malam hari
 Tidak boleh melakukan sesuatu yang mengharuskan untuk berpikir seperti
bermain catur pada malam hari
 Tidak boleh berolahraga sebelum tidur
 Tidak boleh mengkonsumsi makanan yang mengiritasi lambung pada
malam hari atau sebelum tidur
 lampu kamar tidak boleh terlalu terang
 Suhu kamar tidak boleh terlalu dingin ataupun terlalu panas Dsuhu optimal
Tempat tidur harus rata

xv
IX. PROGNOSIS
1) Prognosis ke arah baik
 Pasien menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya
 Pasien rutin untuk kontrol dan minum obat
 Respon terhadap pengobatan baik
 Keluarga mendukung untuk sembuh
 biaya pengobatan dibantu oleh BPJS.

2) Prognosis ke arah buruk


 Jika berhenti minum obat pasien tidak dapat tidur
 Gangguan ini sudah berlangsung kronis sekitar 13 tahun yang lalu

Berdasarkan data-data diatas dapat disimpulkan prognosis pasien ini


adalah :
 Ad vitam : dubia ad bonam
 Ad functionam : dubia ad bonam
 Ad sanationam : dubia ad bonam

xvi
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Fisiologi Tidur


Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan
beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola
dunia disebut sebagai irama sirkadian.5,6
Tidur tidak dapat diartikan sebagai menifestasi proses deaktivasi sistem
Saraf Pusat. Saat tidur, susunan saraf pusat masih bekerja dimana neuron-
neuron di substansia retikularis ventral batang otak melakukan sinkronisasi.
Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak
pada substansia ventrikulo retikularis batang otak yang disebut sebagai pusat
tidur (sleep center). Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan
sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral batang otak disebut
sebagai pusat penggugah (arousal center).

Tidur dibagi menjadi 2 fase yaitu:

1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)

2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)

Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu
diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM
terjadi secara bergantian antara 4-6 kali siklus semalam.

Tidur NREM yang meliputi 75% dari keseluruhan waktu tidur, dibagi dalam
empat stadium, antara lain:

a. Stadium 1, berlangsung selama 5% dari keseluruhan waktu tidur. Stadium


ini dianggap stadium tidur paling ringan. EEG menggambarkan gambaran
kumparan tidur yang khas, bervoltase rendah, dengan frekuensi 3 sampai 7
siklus perdetik, yang disebut gelombang teta.

xvii
b. Stadium 2, berlangsung paling lama, yaitu 45% dari keseluruhan waktu
tidur. EEG menggambarkan gelombang yang berbentuk pilin (spindle
shaped) yang sering dengan frekuensi 12 sampai 14 siklus perdetik, lambat,
dan trifasik yang dikenal sebagai kompleks K. Pada stadium ini, orang dapat
dibangunkan dengan mudah.
c. Stadium 3, berlangsung 2% dari keseluruhan waktu tidur. EEG
menggambarkan gelombang bervoltase tinggi dengan frekuensi 0,5 hingga
2,5 siklus perdetik, yaitu gelombang delta. Orang tidur dengan sangat
nyenyak, sehingga sukar dibangunkan.
d. Stadium 4, berlangsung 13% dari keseluruhan waktu tidur. Gambaran EEG
hampir sama dengan stadium 3 dengan perbedaan kuantitatif pada jumlah
gelombang delta. Stadium 3 dan 4 juga dikenal dengan nama tidur dalam,
atau delta sleep, atau Slow Wave Sleep (SWS)
Sedangkan tidur REM meliputi 25% dari keseluruhan waktu tidur. Tidak
dibagi-bagi dalam stadium seperti dalm tidur NREM.5,4

Pola siklus tidur dan bangun adalah bangun sepanjang hari saat cahaya
terang dan tidur sepanjang malam saat gelap. Jadi faktor kunci adalah adanya
perubahan gelap dan terang. Stimulasi cahaya terang akan masuk melalui mata dan
mempengaruhi suatu bagian di hipotalamus yang disebut nucleus supra chiasmatic

xviii
(NSC). NSC akan mengeluarkan neurotransmiter yang mempengaruhi
pengeluaran berbagai hormon pengatur temperatur badan, kortisol, growth
hormone, dan lain-lain yang memegang peranan untuk bangun tidur. NSC bekerja
seperti jam, meregulasi segala kegiatan bangun tidur. Jika pagi hari cahaya terang
masuk, NSC segera mengeluarkan hormon yang menstimulasi peningkatan
temperatur badan, kortisol dan GH sehingga orang terbangun. Jika malam tiba,
NSC merangsang pengeluaran hormon melatonin sehingga orang mengantuk dan
tidur. Melatonin adalah hormon yang diproduksi oleh glandula pineal. Saat hari
mulai gelap, melatonin dikeluarkan dalam darah dan akan mempengaruhi
terjadinya relaksasi serta penurunan temperatur badan dan kortisol. Kadar
melatonin dalam darah mulai meningkat pada jam 9 malam, terus meningkat
sepanjang malam dan menghilang pada jam 9 pagi.7

3.2 Definisi Insomnia

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk
tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu. The
International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia sebagai kesulitan
memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malam/minggu selama
minimal satu bulan. Menurut The International Classification of Sleep Disorders,
insomnia adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak
nyaman setelah episode tidur tersebut. Jadi, Insomnia adalah gejala kelainan dalam
tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun
ada kesempatan untuk melakukannya. Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi
merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai penyebab, seperti kelainan
emosional, kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Insomnia dapat
mempengaruhi tidak hanya tingkat energi dan suasana hati tetapi juga kesehatan,
kinerja dan kualitas hidup.6,11

xix
3.3 Epidemiologi

Keluhan gangguan tidur sebenarnya dapat terjadi pada berbagai usia tetapi,
prevalensi insomnia sendiri cenderung makin meningkat pada lansia, hal ini juga
berhubungan dengan bertambahnya usia dan adanya berbagai penyebab lainnya.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 5886 lansia berusia 65 tahun ke atas,
didapatkan bahwa lebih dari 70% lansia diantaranya mengalami insomnia. Faktor
lain yang berhubungan dengan peningkatan prevalensi gangguan tidur adalah jenis
kelamin wanita, adanya gangguan mental atau medis dan penyalahgunaan
zat.Dilaporkan juga bahwa, kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut
mengalami hal ini.

3.4 Etiologi

1. Stres. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga


dapat membuat pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga sulit untuk
tidur. Peristiwa kehidupan yang penuh stres, seperti kematian atau penyakit
dari orang yang dicintai, perceraian atau kehilangan pekerjaan, dapat
menyebabkan insomnia.
2. Kecemasan dan depresi. Hal ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan
kimia dalam otak atau karena kekhawatiran yang menyertai depresi.
3. Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur,
termasuk beberapa antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat
alergi, stimulan (seperti Ritalin) dan kortikosteroid.
4. Kafein, nikotin dan alkohol. Kopi, teh, cola dan minuman yang
mengandung kafein adalah stimulan yang terkenal. Nikotin merupakan
stimulan yang dapat menyebabkan insomnia. Alkohol adalah obat
penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur, tetapi mencegah
tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun di tengah
malam.

xx
5. Kondisi Medis. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan
bernapas dan sering buang air kecil, kemungkinan mereka untuk
mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa gejala
tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis, kanker,
gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux disease
(GERD), stroke, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
6. Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan jauh
atau pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya irama
sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur. Ritme sirkadian bertindak
sebagai jam internal, mengatur siklus tidur-bangun, metabolisme, dan suhu
tubuh.
7. 'Belajar' insomnia. Hal ini dapat terjadi ketika Anda khawatir berlebihan
tentang tidak bisa tidur dengan baik dan berusaha terlalu keras untuk jatuh
tertidur. Kebanyakan orang dengan kondisi ini tidur lebih baik ketika
mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang biasa atau ketika mereka
tidak mencoba untuk tidur, seperti ketika mereka menonton TV atau
membaca.8,9

3.5 Patofisiologi insomnia

1. Perspektif kognitif dan behaviour

Saat ini belum ada model kognitif-behaviour tunggal pada


patofisiologi insomnia, namun tersedia beberapa model yang saling tumpang
tindih. Hal ini menunjukkan bahwa insomnia adalah kondisi yang terjadi dari
waktu ke waktu, terkait dengan perilaku maladaptif dan kognisi, dan akan
menjadi kronis kecuali dilakukan terapi agresif pada fase akutnya. Spielman
dkk mencetuskan model 3-P insomnia,yang merupakan model diathesis-
stres. Model ini mengatakan bahwa : (1) Individu dapat mengalami insomnia
akibat karakteristik predisposisi individual, seperti berbagai bentuk
hyperarousal dan atau kecenderungan untuk khawatir, (2) Faktor presipitasi,
seperti keadaan kehidupan yang membuat stres, penyakit baru, (3) Faktor

xxi
predisposisi seperti perilaku yang salah, misalnya tidur sebentar di siang hari
atau tidur-tiduran di ranjang lebih lama dari kebiasaan waktu tidur yang biasa
selain dari kurang tidur, bisa mengakibatkan arousal yang terkondisikan dan
insomnia kronis. Semua hal diatas semakin meyakinkan bahwa ada banyak
faktor etiologi insomnia yang menjadi target dari cognitive behavioral
therapy (CBT). 6,9

2. Perspektif Fisiologis

Keadaan hyperarousal, disritmia sirkadian dan disregulasi


homeostatik tidur masing-masing dipikirkan terkait dengan terjadinya
insomnia. Aktivitas tubuh yang sebagian besar terjadi pada hyperarousal
adalah peningkatan level basal atau kegagalan menurunkan regulasi saat
malam hari dan lebih lanjut memperjelas dimensi somatik/fisiologis,
kognitif dan kortikal/neurofisiologis. Dalam terminologi arousal fisiologis,
pasien dengan insomnia menunjukkan peningkatan detak jantung, respon
kulit galvanik, arousal simpatis (yang dilihat dari variabillitas detak
jantung), dan peningkatan aktivitas aksis Hipotalamik Pituitari Adrenal.6,9

Pada terminologi arousal kognitif, pasien dengan insomnia lebih


rentan terhadap rasa khawatir secara umum, khawatir dengan pola tidurnya,
dan cenderung meningkatkan perhatian pada gejala insomnia. Pada
terminologi kortikal, arousal neurofisiologis, pasien dengan insomnia
menunjukkan peningkatan frekuensi aktivitas EEG pada saat tidur atau di
sekitar onset waktu tidur dan pada fase tidur non REM, adanya peningkatan
seluruh proses metabolisme otak saat terbangun dan fase tidur non REM
dan sedikit penurunan metabolisme dibandingkan dengan orang normal
pada ARAS, hipokampus, amigdala dan korteks singuli anterior saat transisi
dari bangun ke tidur. Secara keseluruhan, ada bukti yang menunjang adanya
hubungan antara hyperarousal dan insomnia.6,9

xxii
Akibat adanya disregulasi sirkadian, studi menyarankan agar
abnormalitas kronobiologi, dalam bentuk pergeseran fase ritme temperatur
inti tubuh, terkait dengan proses mengawali tidur atau menjaga tetap
tertidur. Pergeseran ini hampir serupa dengan yang terjadi pada gangguan
irama sirkardian tidur yang lengkap. Abnormalitas ini mungkin sebagian
disebabkan atau dieksaserbasi oleh sikap/perilaku. Beberapa pasien
mengganti jadwal tidurnya dan aktivitas saat bangun secara dramatis
sehingga merubah waktu mereka terpapar sinar matahari dan sering
ditemukan mereka berusaha tidur sebelum adanya penurunan suhu inti
tubuh yang terkait dengan onset tidur. Perilaku seperti ini dapat merubah
jam biologis seseorang dan dapat berakibat pergeseran fase temperatur inti
tubuh.6,9

Seperti yang dikatakan oleh penelitian lain, ada beberapa bukti yang
terbatas bahwa homeostasis tidur mungkin dapat menjadi predisposisi,
presipitasi dan perpetuasi insomnia. Terutama pada pasien dengan insomnia
primer, dibandingkan dengan orang yang kualitas tidurnya baik, cenderung
mengalami abnormalitas homeostatik.6,9

Pertama, kecenderungan tidur diukur dengan multiple sleep latency


test (MSLT) dimana waktu untuk jatuh tertidur setelah beberapa
kesempatan tidur siang berturut-turut menggambarkan tingkat mengantuk
yang obyektif atau sleep drive. Pasien dengan insomnia cenderung memiliki
total waktu tidur yang kurang dibandingkan orang yang tidur dengan baik,
mereka akan memiliki latensi tidur yang lebih pendek pada MSLT.
Sebagian besar studi MSLT menunjukkan pasien dengan insomnia memiliki
latensi tidur yang normal atau memanjang. Hal ini berarti ada penurunan
sleep drive dan disimpulkan sebagai hemostat tidur yang salah.6,9

Kedua, pasien dengan insomnia memiliki gelombang tidur lambat


(slow wave sleep) yang lebih sedikit dibanding orang normal. Hilangnya
SWS tidak secara langsung melibatkan disregulasi homeostatik. Ketiga,
pasien insomnia dengan sleep deprivation (kurang tidur), menunjukkan

xxiii
SWS yang menghilang, suatu respon homeostatik kardinal pada hilangnya
tidur. Akhirnya, mengikuti intervensi yang mentargetkan homeostasis tidur,
pasien dengan insomnia menunjukkan peningkatan SWS pada tingkat pra
terapi.6,9

Penting untuk diingat bahwa beberapa dari temuan ini mungkin


dapat dijelaskan oleh beberapa faktor selain homeostasis tidur. Sebagai
contoh, regulasi penurunan suhu tubuh saat awal tidur mungkin penting
untuk inisiasi SWS, sehingga termoregulasi mengalami disregulasi. Sebagai
tambahan hiperarousal dapat terjadi lebih lama daripada latensi tidur yang
diharapkan pada tes MSLT dan berpotensi membuat barier konsisten pada
SWS. Diatas semuanya, ada interaksi antara hyperarousal, disritmia
sirkadian dan proses homeostasis yang berkontribusi pada patofisiologi
insomnia. Di poin mana insomnia itu terjadi tetap belum terjawab, tetapi
bagaimana dan kapan pun insomnia itu terjadi, insomnia menyebabkan
banyak konsekuensi.6,9

3.6 Tanda dan Gejala klinis


1. Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari
2. Sering terbangun pada malam hari
3. Bangun tidur terlalu awal
4. Kelelahan atau mengantuk pada siang hari
5. Iritabilitas, depresi atau kecemasan
6. Konsentrasi dan perhatian berkurang
7. Peningkatan kesalahan dan kecelakaan
8. Ketegangan dan sakit kepala
9. Gejala gastrointestinal 7,8,10

3.7 Diagnosis
Kriteria Diagnostik Insomnia Non-Organik berdasarkan PPDGJ III
 Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:

xxiv
a. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau
kualitas tidur yang buruk
b. Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1
bulan
c. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan
terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari
d. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan
penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial
dan pekerjaan
 Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak menyebabkan
diagnosis insomnia diabaikan.
 Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya
gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama gangguan yang
tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient insomnia”) tidak
didiagnosis di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43.0) atau
gangguan penyesuaian (F43.2).10

3.8 Tatalaksana
2. Non Farmakoterapi
a. Terapi Tingkah Laku
Terapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur yang
baru dan mengajarkan cara untuk menyamankan suasana tidur. Terapi
tingkah laku ini umumnya direkomendasikan sebagai terapi tahap
pertama untuk penderita insomnia.

Terapi tingkah laku meliputi :

 Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.


 Teknik Relaksasi.
Meliputi merelaksasikan otot secara progresif, membuat
biofeedback, dan latihan pernapasan. Cara ini dapat membantu

xxv
mengurangi kecemasan saat tidur. Strategi ini dapat membantu Anda
mengontrol pernapasan, nadi, tonus otot, dan mood.

 Terapi kognitif.
Meliputi merubah pola pikir dari kekhawatiran tidak tidur
dengan pemikiran yang positif. Terapi kognitif dapat dilakukan pada
konseling tatap muka atau dalam grup.
 Restriksi Tidur.
Terapi ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu yang
dihabiskan di tempat tidur yang dapat membuat lelah pada malam
berikutnya.8,11
 Kontrol stimulus
Terapi ini dimaksudkan untuk membatasi waktu yang
dihabiskan untuk beraktivitas.

Instruksi dalam terapi stimulus-kontrol:

1) Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur, tidak untuk membaca,


menonton televisi, makan atau bekerja.
2) Pergi ke tempat tidur hanya bila sudah mengantuk. Bila dalam waktu
20 menit di tempat tidur seseorang tidak juga bisa tidur, tinggalkan
tempat tidur dan pergi ke ruangan lain dan melakukan hal-hal yang
membuat santai. Hindari menonton televisi. Bila sudah merasa
mengantuk kembali ke tempat tidur, namun bila alam 20 menit di
tempat tidur tidak juga dapat tidur, kembali lakukan hal yang membuat
santai, dapat berulang dilakukan sampat seseorang dapat tidur.
3) Bangun di pagi hari pada jam yang sama tanpa mengindahkan berapa
lama tidur pada malam sebelumnya. Hal ini dapat memperbaiki jadwal
tidur-bangun (kontrol waktu).
4) Tidur siang harus dihindari.12

b. Gaya hidup dan pengobatan di rumah


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia :

xxvi
 Mengatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari libur
 Tidak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.
 Tidak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa.
 Hanya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
 Relaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, membaca, latihan
pernapasan atau beribadah.
 Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan
tidur pada malam hari.
 Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur, seperti
menghindari kebisingan.
 Olahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama 20 hingga 30 menit
setiap hari sekitar lima hingga enam jam sebelum tidur.
 Menghindari kafein, alkohol, dan nikotin
 Menghindari makan besar sebelum tidur
 Cek kesehatan secara rutin
 Jika terdapat nyeri dapat digunakan analgesic.5,8,11
3. Farmakologi
Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi menjadi dua golongan
yaitu benzodiazepine dan non-benzodiazepine.
a. Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)
b. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital)

xxvii
Pemilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur :

xxviii
- Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep inducing anti-insomnia”
yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting)
Misalnya pada gangguan anxietas
- Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk
kembali ke proses tidur selanjutnya)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Prolong latent phase Anti-
Insomnia”, yaitu golongan heterosiklik antidepresan (Trisiklik dan
Tetrasiklik)
Misalnya pada gangguan depresi
- Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan
terpecah-pecah menjadi beberapa bagian (multiple awakening).
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep Maintining Anti-
Insomnia”, yaitu golongan phenobarbital atau golongan benzodiazepine
(Long acting).
Misalnya pada gangguan stres psikososial.

Pengaturan Dosis

- Pemberian tunggal dosis anjuran 15 sampai 30 menit sebelum pergi


tidur.
- Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan
dipertahankan sampai 1-2 minggu, kemudian secepatnya tapering off
(untuk mencegah timbulnya rebound dan toleransi obat)
- Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih
perlahan-lahan, untuk menghindari oversedation dan intoksikasi
- Ada laporan yang menggunakan antidepresan sedatif dosis kecil 2-3
kali seminggu (tidak setiap hari) untuk mengatasi insomnia pada usia
lanjut
Lama Pemberian

xxix
- Pemakaian obat antiinsomnia sebaiknya sekitar 1-2 minggu saja, tidak
lebih dari 2 minggu, agar resiko ketergantungan kecil. Penggunaan lebih
dari 2 minggu dapat menimbulkan perubahan “Sleep EEG” yang
menetap sekitar 6 bulan lamanya.
- Kesulitan pemberhetian obat seringkali oleh karena “Psychological
Dependence” (habiatuasi) sebagai akibat rasa nyaman setelah gangguan
tidur dapat ditanggulangi.
Efek Samping

Supresi SSP (susunan saraf pusat) pada saat tidur

Efek samping dapat terjadi sehubungan dengan farmakokinetik obat anti-


insomnia (waktu paruh) :

- Waktu paruh singkat, seperti Triazolam (sekitar 4 jam)  gejala


rebound lebih berat pada pagi harinya dan dapat sampai menjadi panik
- Waktu paruh sedang, seperti Estazolam  gejala rebound lebih ringan
- Waktu paruh panjang, seperti Nitrazepam  menimbulkan gejala “hang
over” pada pagi harinya dan juga “intensifying daytime sleepiness”.

Penggunaan lama obat anti-insomnia golongan benzodiazepine dapat terjadi


“disinhibiting effect” yang menyebabkan “rage reaction” Interaksi obat :

- Obat anti-insomnia + CNS Depressants (alkohol dll) menimbulkan


potensiasi efek supresi SSP yang dapat menyebabkan “oversedation and
respiratory failure”
- Obat golongan benzodiazepine tidak menginduksi hepatic microsomal
enzyme atau “produce protein binding displacement” sehingga jarang
menimbulkan interaksi obat atau dengan kondisi medik tertentu.
- Overdosis jarang menimbulkan kematian, tetapi bila disertai alkohol
atau “CNS Depressant” lain, resiko kematian akan meningkat.
- Kontraindikasi :
o Sleep apneu syndrome

xxx
o Congestive Heart Failure
o Chronic Respiratory Disease
- Penggunaan Benzodiazepine pada wanita hamil mempunyai risiko
menimbulkan “teratogenic effect” (e.g.cleft-palate abnormalities)
khususnya pada trimester pertama. Juga benzodiazepine dieksresikan
melalui ASI, berefek pada bayi (penekanan fungsi SSP).5,3,4,9
-
3.9 Komplikasi

Tidur sama pentingnya dengan makanan yang sehat dan olahraga yang teratur.
Insomnia dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik.

Komplikasi insomnia meliputi

 Gangguan dalam pekerjaan atau di sekolah.


 Saat berkendara, reaksi reflex akan lebih lambat. Sehingga meningkatkan
reaksi kecelakaan.
 Masalah kejiwaan, seperti kecemasan atau depresi
 Kelebihan berat badan atau kegemukan
 Daya tahan tubuh yang rendah
 Meningkatkan resiko dan keparahan penyakit jangka panjang, contohnya
tekanan darah yang tinggi, sakit jantung, dan diabetes.6,13

xxxi
3.10 Prognosis

Prognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi
pada gangguan lain seperti depresi dll. Lebih buruk jika gangguan ini disertai
skizophrenia.9

xxxii
BAB IV
ANALISA KASUS

Pada kasus ini diagnosis insomnia non organik ditegakkan berdasarkan


anamnesa dan status psikiatri. Pada kasus ini dilaporkan Ny.LA (34 tahun) datang
ke poli jiwa RSJD Provinsi Jambi bersama dengan suaminya dengan keluhan
mengalami gangguan tidur malam hari sejak 1 bulan belakangan, yaitu sulit
mencapai tidur, mudah terbangun saat tidur, dan jika sudah terbangun tidak bisa
tidur lagi. Durasi rata-rata tidur malam hari os adalah 2-3 jam. Os juga tidak bisa
tidur pada siang hari. Sebelum mengalami gangguan tidur tersebut, os mempunyai
masalah dengan kinerja karyawan di tempat usahanya yang mengakibatkan rasa
cemas os timbul dan dirasakan makin lama makin meningkat.
10 hari sebelumnya os pernah dirawat karena Infeksi Saluran Pernafasan
Atas (ISPA) selama 3 hari . Saat itu os juga mengeluhkan nafsu makannya
berkurang, dan susah tidur serta sering terbangun tengah malam lalu sulit untuk
tidur kembali.
Semenjak setelah keluar dari rumah sakit, os benar-benar tidak dapat tidur
pada malam hari. Os mulai merasa cemas, merasa lemas dan jantungnya berdebar-
debar akibat tidak dapat tidur. Os segera berinisiatif mengkonsulkan masalah
tidurnya ke RSJD pada hari Kamis, 07 Februari 2019.
Dari hasil observasi didapatkan kesadaran pasien kompos mentis, pasien
datang dengan pakaian rapi dan sesuai usianya, sikap terhadap pemeriksa
kooperatif. Raut wajah pasien datar. Mood pasien sesuai dengan afek sesuai. Tidak
terdapat gangguan dalam bentuk pikir dan arus pikir. Pasien tidak mengalami
gangguan persepsi baik berupa halusinasi ataupun ilusi. Orientasi waktu, tempat
dan orang baik, konsentrasi baik, daya ingat baik. Pasien menyadari sepenuhnya
tentang situasi dirinya disertai motivasi untuk mencapai perbaikan.
Gambaran klinis pasien memenuhi kriteria diagnosis insomnia non organik
menurut PPDGJ III yaitu :
 Hal tersebut dibawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti :

xxxiii
1. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau
kualitas tidur yang buruk
2. Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu
bulan
3. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur (sleppness) dan peduli yang
berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari
4. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan
penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial
dan pekerjaan.
 Adanya gejala gangguan jiwa lain seperti depresi, anxietas, atau obsesi tidak
menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. Semua ko-morbiditas harus
dicantumkan karena membutuhkan terapi tersendiri.
 Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya
gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak
memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient insomnia”) tidak didiagnosis
di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43.0) atau gangguan
penyesuaian (F43.2).

Diagnosis multiaksial pada pasien ini:


a) Aksis I : Insomnia non organik
b) Aksis II : Tidak ada diagnosis
c) Aksis III : Tidak ada diagnosis
d) Aksis IV : Masalah psikososial dan lingkungan lain
Dari anamnesis yang dilakukan, keluhan pasien bermula sejak adanya masalah
terhadap kinerja karyawan yang menurun di tempat usahanya.
e) Aksis V : GAF 70-11
Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara
umum masih baik.
Diagnosis banding insomnia organik, reaksi stress akut, gangguan cemas
menyeluruh, dan gangguan penyesuaian dapat disingkirkan.

xxxiv
Terapi farmakologi yang diberikan pada pasien ini adalah:
Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi menjadi dua golongan
yaitu benzodiazepine dan non-benzodiazepine.

a. Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)


b. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital)

Pemilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur yaitu initial insomnia (sulit
masuk ke dalam proses tidur). Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep
inducing anti-insomnia” yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting).

- Psikoterapi
 Memberikan edukasi tentang penyakit yang diderita pasien
 Memberikan edukasi kepada pasien untuk kontrol ulang jika obat yang
dikonsumsi habis
 Memberikan edukasi kepada pasien mengenai sleep hygiene
 Pasien tidak boleh tidur siang
 Harus melakukan aktivitas yang melelahkan seperti olahraga pada siang
hari
 Malam hari tidak boleh meminum kopi dan alkohol
 Tidak boleh nonton film yang menyeramkan seperti dunia lain pada
malam hari
 Tidak boleh melakukan sesuatu yang mengharuskan untuk berpikir seperti
bermain catur pada malam hari
 Tidak boleh berolahraga sebelum tidur
 Tidak boleh mengkonsumsi makanan yang mengiritasi lambung pada
malam hari atau sebelum tidur
 lampu kamar tidak boleh terlalu terang
 Suhu kamar tidak boleh terlalu dingin ataupun terlalu panas Dsuhu optimal
 Tempat tidur harus rata

xxxv
DAFTAR PUSTAKA

1. Dewi, P.A., Ardani, I.G. (2013). Angka Kejadian serta Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Gangguan tidur (Insomnia) Pada Lansia di Panti Sosial
Tresna Werda Wana Seraya Denpasar Bali Tahun 2013, Denpasar: Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Udayana.
2. Japardi, I. (2002). Gangguan Tidur. Medan: Bagian Bedah Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3. Sayekti, N.W. & Hendrati, L.Y. (2015). Risk Analysis of Depression, Sleep
Hygiene Level and Chronic Disease with Insomnia in Elderly. Surabaya:
Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Airlangga.
4. Ghaddafi, M. (2013). Tatalaksana Insomnia dengan Farmakologi atau
Non-Farmakologi. Denpasar: Bagian SMF Ilmu Psikiatri Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana / Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah
Denpasar.
5. Kaplan, B. J., Sadock V. A. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry 11th edition. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins; 2015.
6. Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri Ed 6. Jakarta: EGC
7. Sudoyo. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
8. Zeidler, M.R. 2011. Insomnia. Editor: Selim R Benbadis.
(http://www.emedicina.medscape.com/article/1187829.com)
9. Gelder, Michael G, etc. 2003. New Oxford Textbook of Psychiatry.
London: Oxford University Press.
10. Muslim,Rusdi. Buku saku Diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dai
PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: Bagian ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atma Jaya,2013.

xxxvi
11. Insomnia.(http://www.mayoclinic.com/health/insomnia/DS00187/DSECTIO
=alternative-medicine)
12. Maslim, Rusdi. 2001. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat
Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.
13. American Academy of Sleep Medicine. ICSD2 - International.
Classification of Sleep Disorders. American Academy of Sleep Medicine
Diagnostic and Coding Manual . Diagnostik dan Coding Manual. 2nd. 2.
Westchester, Ill: American Academy of Sleep Medicine; 2005:1-32.

xxxvii