Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL

SEMINAR EVIDENCE BASED NURSING PENGARUH COLD COMPRESSION


THERAPY TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN PASIEN PASCA OPEN
REDUCTION INTERNAL FIXATION (ORIF) EKSTREMITAS BAWAH
DI RS. PERTAMINA BALIKPAPAN

Disusun oleh :
1. Dewi Intan
2. Desy Ariyani
3. Endang Sulistyawati
4. Ketty Ane Manalu
5. Masdono
6. Rachmad Hidayat
7. Rachmawaty
8. Wiwik Nurhabibah
9. Vika Yolanda

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA JAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perawatan fase pasca operasi ortopedi merupakan upaya untuk menanggulangi
efek operasi dan meningkatkan penyembuhan. Paska bedah ortopedi dapat
menimbulkan berbagai masalah diantaranya trauma pada berbagai jaringan
musculoskeletal. Permasalahan pasca bedah ortopedi berkaitan dengan nyeri,
perfusi jaringan, promosi kesehatan, mobilitas fisik dan konsep diri.

Trauma akibat pembedahan pada tulang, otot, jaringan atau sendi akan
mengakibatkan nyeri secara signifikans. Pembedahan dapat menimbulka trauma
jaringan lunak dan struktur yang sebelumnya tidak mengalami cidera. Nyeri pasca
pembedahan ekstremitas bawah memiliki intensitas nyeri hebat dengan kejadian
sampai 70% dengan durasi 3 hari (Smeltzer&Bare,2005). Nyeri pada pasca bedah
ortopedi saat berada diruang perawatan adalah 4-7 dengan menggunakan skala 0
sampai 10 dan nyeri berkontribusi terhadap paska operasi (Morris,et al,2010).

Trauma jaringan menyebabkan perdarahan dan menimbulkan reaksi inflamasi


sebagai mekanisme pertahanan tubuh yang berpotensi menimbulkan komplikasi.
Perfusi jaringan diakibatkan sebagai adanya edema dan perdarahan yang
menghasilkan adanya gangguan sirkulasi dan kompartmen sindrom. Inaktivitas
berkontribusi terhadap statis vena dan berkembang menuju DVT
(Bare&Smeltzer,2006). Tambahan………………….

Keterbatasan rentang gerak sendi terjadi karena cedera pada otot, spasme otot, dan
reaksi pasien karena merasa nyeri saaat digerakkan. Keterbatasan rentang gerak
sendi berpengaruh terhadap kemampuan mobilisasi pasien yang pada akhirnya
menimbulkan ketidakberdayaan dan ketergatungan. Homeostasis, bengkak, nyeri,
rasa tidak nyaman, peningkatan mobilisasi dini dan rencana pulang merupakan
fokus utama pada periode akut paska operasi (Smith, Stevens, Taylor & Tibbey,
2002). Pendekatan farmakologis perlu dikombinasikan dengan pendekatan non
farmakologis untuk meningkatkan penyembuhan pasien sehingga mempersingkat
lama hari rawat.

Perawatan fase paska operasi ortopedi merupakan upaya untuk menanggulangi


efek operasi dan meningkatkan penyembuhan. Manajemen trauma jaringan lunak
meliputi proteksi, istirahat, dingin kompres dan elevasi. Cold Compression
Therapy merupakan terapi modalitas yang digunakan pada berbagai manajemen
operasi dengan berbagai variasi prosedur ortopedi dimana pembedahan
menghasilkan kerusakan jaringan yang sama tetapi berat ringannya tergantung
gejala (Block, 2010).

Cold Compression Therapy secara langsung ditujukan untuk bengkak, inflamasi


dan nyeri berkaitan dengan cidera dengan berbagai mekanisme (Block, 2010).
Cold Compression akan mengakibatkan efek secara lokal menurunkan tingkat
metabolisme jaringan lunak sehingga mereduksi aktivitas enzimatik mencegah
kerusakan jaringan yang diakibatkan hipoksia. Lokal hipertermia merangsang
vasokontriksi dan penurunan mikrosirkulasi lebih dari 60% sehingga mereduksi
ekstravasasi darah melingkupi jaringan,inflamasi local dan produksi edema.

Penurunan formasi edema akan menurunkan konduksi saraf sensorik dan motorik
sehingga nyeri menurun. Reduksi aliran darah dan bengkak akan tercapai dengan
kompresi pada area yang bengkak dan cidera. Kompresi akan meningkatkan
tingkat, besaran dan kedalaman reduksi temperature yang akan mempercepat
vakuasi limfe. Dingin meningkatkan rentang gerak sendi dengan mengurangi
nyeri, menghambat spasme otot dan mengurangi tegangan otot. Penelitian yang
dilakukan Smith, Steven, Taylor & Tibey (2002) menunjukkan bahwa kompres es
dengan elastic bandage mengurangi nyeri, edema, meningkatkan rentang gerak
sendi dan mempersingkat lama hari rawat pada pasien total knee arthroplasty.
Cold Compression merupakan aplikasi yang paling sederhana dan murah. Terapi
ini dapat diterapkan diruangan yaitu dengan menggunakan ice cold pack dan
kompresi dengan menggunakan elastic verban dengan rentang waktu yang tepat
untuk mendapatkan efek yang kompleks dan menghindari terjadinya efek
samping.
fenomena

B. Tujuan
Tujuan dari penerapan evidence based practice adalah mengidentifikasi pengaruh
Cold Compression Therapy terhadap proses penyembuhan dengan indikator
proses penyembuhan nyeri, edema dan rentang gerak sendi lutut.
BAB II
ANALISA JURNAL

A. Jurnal Utama
1. Judul Jurnal
Pengaruh Cold Compression Therapy terhadap Proses Penyembuhan Pasien
Pasca Open Reduction Internal Fixation (ORIF) Ekstremitas Bawah
2. Peneliti
Candra Bagus Ropyanto
3. Populasi, sampel dan tehknik sampling
Populasi adalah pasien yang dirawat pasca bedah orthopedi yang dirawat di
lantai 1 Gedung Prof Soelarto RSUP Fatmawati Jakarta yang memenuhi
kriterian inklusi selama EBN berlangsung, sampel terdiri dari 5 orang, teknik
sampling menggunakan nilai f
4. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan yaitu Quasy Eksperiment dengan one group
pretest-posttest.
5. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian Ice Cold Pack, tissue, alkohol dan chlorhexidine
2 %.
6. Uji Statistik
Uji yang digunakan yaitu Paired T-test dengan membandingkan selisih
tingkat nyeri, tingkat edema, dan rentang gerak sendi sebelum dan sesudah
dilakukan tindakan cold compression.

B. Jurnal Pendukung
1. Pengaruh Terapi Kompres Dingin Terhadap Nyeri Post Operasi ORIF (Open
Reduction Internal Fixation) pada Pasien Fraktur di RSD Dr. Koesnadi
Bondowoso
Peneliti : Amanda Putri Anugerah, Retno Purwandari, Mulia Hakam
Hasil : dari penelitian menunjukkan bahwa da pengaruh yang signifikan dari
terapi kompres dingin terhadap nyeri post operasi ORIF dimana rerata nilai
nyeri responden sebelum diintervensi qadalah 3,7 dan nilai setelah intervensi
adalah 2,9.
2. Pengaruh Pemberian Kompres Dingin Terhadap Nyeri pada Pasien Fraktur
Ekstremitas Tertutup di IGD RSMH Palembang tahun 2012
Peneliti : Devi Mediarti, Rosnani, Sosya Mona Seprianti
Hasil : dari hasil penelitian didapatkan nilai rata – rata nyeri sebelum
dilakukan kompres dingin adalah 6,40 dengan standar deviasi 0,99 dan rata –
rata skala nyeri setelah dilakukan kompres dingin adalah 3,53 dengan standar
deviasi 1,30. Hasil analisa data menggunakan uji T berpasangan atau Paired
T-test ada perbedaan antara nyeri sebelum dan sesudah pemberian kompres
dingin terhadap nyeri pada pasien fraktur ekstremitas tertutup.
3. Efektifitas Kompres Dingin terhadap Intensitas Nyeri pada Pasien Fraktur
Tertutup di Ruang Dahlia RSUD Arifin Achmad
Peneliti : Andi Nurchairiah, Yesi Hasneli, Ganis Indriati
Hasil : dari hasil penelitian didapatkan sebelum diklakukan kompres dingin
rata – rata intensitas nyeri sebesar 7,00 dan setelah diberikan kompres dingin
intensitas nyeri turun menjadi 5,47. Maka dapat disimpulkan bahwa
pemberian kompres dingin efektif dalam mengurangi intensitas nyeri pada
pasien fraktur tertutup di Ruang Dahlia RSUD Arifin Achmad Pakanbaru.

C. Analisa PICO
1. Problem
Efek pasca pembedahan orthopedi yaitu nyeri, perfusi jaringan, promosi
kesehatan, mobilitas fisik dan konsep diri.
2. Intervention
Cold compression therapy merupakan kompres dengan menggunakan ice cold
pack serta kompresi dengan elastis verban dilakukan 3 x sehari dengan durasi
15 menit selama 24 – 48 jam pasca operasi.
3. Comparasion
Jurnal Pembanding
a. Therapeutic touch dan nyeri pasca pembedahan
Peneliti: Mumpuni, Uun Nurulhuda, Elsa Roselina.
Hasil: hasil dengan uji Wilcoxon Signed Rank menunjukkan adanya
perbedaan yang signifikan antara skala nyeri sebelum dan sesudah
tindakan baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol (nilai
p = 0, 000). Hasil uji Mannwhitney adanya perbedaan pada penurunan
skala nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (nilai p =
0,000)
b. Pengaruh slow deep breathing terhadap intensitas nyeri pasien post ORIF
di RS Telogorejo Semarang
Peneliti : Ismonah, Dian Ayu Cahyaningrum, M. Syamsul Arif
Hasil: hasil analisis uji wilcoxon didapatkan p value 0,000 ada pengaruh
slow deep breathing terhadap intensitas nyeri pada pasien post ORIF di
SMC Rumah Sakit Telogorejo.

4. Outcome
Hasil pengukuran setelah diberikan cold compression therapy, pasien merasa
cukup nyaman dengan suhu ice cold pack serta menyatakan nyeri berkurang
(nyeri pre CCT 6,6 dan nyeri post CCT 3,2), edema berkurang (edema pre
CCT 49,3 cm sedangkan edema post CCT 48,2cm), sirkulasi lebih lancar dan
otot – otot nya berkurang ketegangannya (rentang gerak sendi pre CCT 25º
sedangkan rentang gerak sendi post CCT 44º).
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi)


1. Definisi
ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi) adalah sebuah prosedur bedah medis,
yang tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang,
seperti yang diperlukan untuk beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu
pada fiksasi sekrup dan piring untuk mengaktifkan atau memfasilitasi
penyembuhan (Brunner & Suddarth, 2003).

ORIF adalah suatu tindakan untuk melihat fraktur langsung dengan tehnik
pembedahan yang mencakup di dalamnya pemasangan pen, skrup, logam,
atau protesa untuk memobilisasi fraktur selama penyembuhan. (Depkes,
1995)

2. Tujuan
Beberapa tujuan dilakukannya ORIF (Open Reduksi internal Fiksasi), antara
lain :
a. Memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas.
b. Mengurangi nyeri
c. Klien dapat melakukan ADL dengan bantuan yang minimal dan dalam
lingkup keterbatasan klien.
d. Sirkulasi yang adekuat dipertahankan pada ekstremitas yang terkena.
e. Tidak ada kerusakan kulit
3. Indikasi / Kontraindikasi
Indikasi ORIF meliputi:
a. Fraktur yang tidak stabil dan jenis fraktur yang apabila ditangani dengan
metode terapi lain, terbukti tidak memberikan hasil yang memuaskan.
b. Fraktur leher femoralis, fraktur lengan bawah distal, dan fraktur intra-
artikular disertai pergeseran
c. Fraktur avulsi mayor yang disertai oleh gangguan signifikan pada struktur
otot tendon

Kontraindikasi ORIF:
a. Tulang osteoporotic terlalu rapuh menerima implant
b. Jaringan lunak diatasnya berkualitas buruk
c. Terdapat infeksi
d. Adanya fraktur comminutied yang parah yang menghambat rekonstruksi.

4. Keuntungan dan Kerugian ORIF


Keuntungan ORIF yaitu:
a. Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar
b. Ketelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur
c. Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf disekitarnya
d. Stabilisasi fiksasi yang cukup memadai dapat tercapai
e. Perawatan di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi
f. Potensi untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta
kekuatan otot selama perawatan fraktur.

Kerugian ORIF yaitu :


a. Setiap anastesi dan operasi mempunyai resiko komplikasi bahkan
kematian akibat dari tindakan tersebut.
b. Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan
pemasangan gips atau traksi.
c. Penggunaan stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu
sendiri.
d. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak, dan
struktur yang sebelumnya tak mengalami cidera mungkin akan
terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi.

5. Perawatan Post Operasi


Dilakukan untuk meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan pada bagian
yang sakit. Dapat dilakukan dengan cara :
a. Mempertahankan reduksi dan imobilisasi.
b. Meninggikan bagian yang sakit untuk meminimalkan pembengkakan.
c. Mengontrol kecemasan dan nyeri (biasanya orang yang tingkat
kecemasan tinggi, akan merepon nyeri dengan berlebihan)
d. Latihan otot
Pergerakan harus tetap dilakukan selama masa imobilisasi tulang,
tujuannya agar otot tidak kaku dan terhindar dari pengecilan massa otot
akibat latihan yang kurang.
e. Memotivasi klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap dan
menyarankan keluarga untuk selalu memberikan dukungan kepada
klien.

B. KOMPRES DINGIN
1. Definisi
Kompres dingin adalah suatu metode dalam penggunaan suhu rendah
setempat yang dapat menimbulkan beberapa efek fisiologis. Aplikasi kompres
dingin adalah mengurangi aliran darah ke suatu bagian dan mengurangi
perdarahan serta edema. Diperkirakan bahwa terapi dingin menimbulkan efek
analgetik dengan memperlambat kecepatan hantaran saraf sehingga impuls
nyeri yang mencapai otak lebih sedikit (Mubarak, Indrawati, & Susanto,
2015).
Terapi kompres dingin merupakan penggunaan es atau cold gel pack secara
aman pada sisi anatomis dengan balutan elastis (Block,2010). Terapi kompres
dingin memiliki variasi metode, yang paling modern adalah penggunaan cryo-
pad dan yang paling sederhana adalah kompres dingin es atau cold pack
dikombinasikan dengan elastis perban.

2. Manfaat Kompres Dingin


Menurut Mubarak, Indrawati, dan Susanto (2015), secara umum tujuan dari
penggunaan kompres dingin adalah:
a. Menurunkan suhu tubuh pada kasus hipertermi
b. Mencegah peradangan meluas
c. Mengurangi kongesti
d. Mengurangi perdarahan lokal
e. Mengurangi rasa sakit lokal
f. Agar luka menjadi bersih

Beberapa kondisi yang dapat ditangani dengan terapi dingin adalah:


a. Cedera (sprain, strain, dan kontusi)
b. Sakit kepala
c. Suhu tinggi
d. Radang
e. Memar
f. Nyeri sendi dan lutut
g. Pasca tonsillectomy
h. Batuk/muntah darah
i. Luka tertutup atau terbuka

Terapi kompres dingin berperan mempercepat proses penyembuhan dengan


berbagai indicator. Indicator proses penyembuhan antara lain nyeri, edema,
rentang gerak sendi, dan lama hari rawat. Terapi kompres dingin secara
langsung ditujukan untuk bengkak, inflamasi, dan nyeri berkaitan dengan
cedera dengan berbagai mekanisme (Block, 2010).

3. Mekanisme Kompres Dingin


Aplikasi dingin dapat mengurangi sensitivitas dari akhiran saraf yang
berakibat terjadinya peningkatan ambang batas nyeri. Respon neurohormonal
terhadap terapi dingin adalah pelepasan endorphine, penurunan transmisi saraf
sensoris, penurunan aktivitas badan sel saraf, penurunan iritan yang
merupakan limbah metabolisme sel, dan peningkatan ambang nyeri (Arovah,
2010).

Prasetyo (2010) menjelaskan bahwa stimulasi kutaneus termasuk kompres


dingin, akan merangsang serabut-serabut saraf perifer untuk mengirimkan
impuls melalui dorsal horn pada medulla spinalis, saat impuls yang dibawa
oleh serabut A-Beta mendominasi maka mekanisme gerbang akan menutup
sehingga impuls nyeri tidak dihantarkan ke otak. Hal ini sesuai dengan teori
gate control. Keuntungan teknik ini adalah mudah untuk diimplementasikan
pada klien, dan mudah untuk diajarkan pada klien dan keluarga.

Menurut Arovah (2010), secara fisiologis pada 15 menit pertama setelah


pemberian aplikasi dingin pada suhu 100 C terjadi vasokontriksi arteriola dan
venula secara lokal. Vasokontriksi ini disebabkan oleh aksi reflek dari otot
polos yang timbul akibat stimulasi system saraf otonom dan pelepasan
epinephrine dan norepinephrine. Walaupun demikian apabila aplikasi dingin
tersebut terus diberikan selama 15-30 menit akan timbul fase vasodilatasi
yang terjadi intermitten selama 4 sampai 6 menit.
Periode ini dikenal sebagai respon hunting. Respon hunting terjadi untuk
mencegah terjadinya kerusakan jaringan akibat dari jaringan mengalami
anoxia jaringan. Pada 5-12 menit pemberian aplikasi dingin akan
menimbulkan respon anastesi relatif pada kulit.

4. Jenis Aplikasi Kompres Dingin


Beberapa jenis aplikasi kompres dingin yang sering digunakan adalah:
a. Pijat es
Pijat es akan menghasilkan sensasi dingin yang signifikan dari kulit dan
akan meningkatkan aliran darah ke daerah tersebut. Dalam teknik ini
dibutuhkan es, lalu di gosokkan dengan gerakan melingkar bolak-balik
selama 5 sampai 10 menit. Dengan pijat es, rasa sakit akan hilang 1-2
menit (Utami & Istanti, 2015). Hajiamini (2012) dengan penelitiannya
yang berjudul “Comparing The Effects of Ice Massage and Acupressure
on Labor Pain Reduction” menemukan bahwa pijatan es lebih efektif
menurunkan nyeri saat melahirkan jika dibandingkan dengan akupresur.

b. Ice Pacs
Ice pacs adalah kantong es yang murah dan mempertahankan suhu
dengan konstan, sangat efektif untuk mendinginkan jaringan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sulistiyani, Rustina, dan
Mulyono (2009) yang berjudul “Pengaruh Pemberian Kompres Es Batu
Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Pada Anak Usia Sekolah yang
Dilakukan Prosedur Pemasangan Infus”, ditemukan bahwa kompres es
batu mampu menurunkan nyeri akibat prosedur invasif seperti
pemasangan infus.

Seperti hal nya dengan penelitian yang berjudul “Effect of Application of


Ice Pack on Reducing Pain During The Arterial Puncture” yang
menemukan bahwa ice pack efektif menurunkan nyeri pada tindakan
pungsi arteri untuk pemeriksaan analisa gas darah (Khalil, 2017).
c. Contras Bath
Contras bath menggunakan air dingin dan panas, berfungsi untuk
vasokontriksi dan vasodilatasi sehingga dapat menurunkan edema dan
cidera kronik. Pada penelitian ini, terapi contras dilakukan selama 7 hari.
Terapi contras dilakukan dengan menggunakan handuk dan diletakkan
mengelilingi daerah yang nyeri. Tindakan ini dilakukan dua kali sehari
(pagi dan sore). Setiap kali melakukan terapi ini, waktu yang digunakan
adalah 20 menit, 4 menit dikompres air hangat, 1 menit tidak dikompres,
dan 2 menit dikompres air dingin dan siklus ini diulangi sebanyak 3 kali
(Utami & Istanti, 2015).

d. Ice Gel Pacs


Ice Gel Pacs mengandung gelatin yang tersimpan di dalam kantong
plastik. Suhu paket ini adalah 50C. Karena kantong ini hampir berada
disuhu 00C, maka dapat menyebabkan radang jika digunakan dengan
tidak tepat. Handuk atau baju basah sebaiknya diletakkan diantara
kantong dan kulit untuk mencegah peradangan dan menjaga kebersihan
kantong. Hal ini dilakukan selama 15 – 20 menit (Utami & Istanti, 2015).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ramdhanie & Nugraha (2018)


yang berjudul “Kompres Dingin Menggunakan Cool Pack Efektif
Menurunkan Nyeri Saat Tindakan Pungsi Vena Pada Anak Usia Sekolah”
mendapatkan kesimpulan bahwa sebagian besar anak mengalami sedikit
nyeri setelah diberikan cool pack yang berisi gel.

5. Kontra Indikasi Terapi Dingin


a. Raynaud’s Syndrome yang merupakan kondisi dimana terdapat
hambatan pada arteri terkecil yang menyalurkan darah ke jari tangan dan
kaki ketika terjadinya dingin atau emosi. Pada keadaan ini timbul
sianosis yang apabila berlanjut dapat mengakibatkan kerusakan anggota
tubuh perifer.
b. Vasculitis (peradangan pembuluh darah)
c. Gangguan sensasi saraf misal neuropathy akibat diabetes mellitus
maupun leprosy.
d. Cryoglobulinemia yang merupakan kondisi berkurangnya protein dalam
darah yang menyebabkan darah akan berubah menjadi gel bila kena
dingin.
e. Paroxysmal cold hemoglobinuria yang merupakan suatu kejadian
pembentukan antibody yang merusak sel darah merah bila tubuh dikenai
dingin.

6. Resiko Terapi Dingin


Bila terapi dingin akan dilakukan dalam jangka waktu yang lama, hal ini akan
menyebabkan :
a. Hypotermia yang merupakan suatu kondisi medis dimana suhu tubuh
menurun secara cepat di bawah suhu normal, sehingga merusak
metabolisme tubuh.
b. Excema kulit dapat terjadi pada pendinginan kulit selama 1 jam pada suhu
00C – 90C. Excema ini dapat bertahan selama sampai dengan 24 jam.
c. Frosbite yang merupakan kondisi medis dimana kulit dan jaringan tubuh
rusak karena suhu dingin. Frostbite (rusaknya anggota tubuh perifer)
dapat terjadi pada suhu -30 s/d 40C.
BAB IV
ANALISA SWOT

A. Analisa Situasi
Analisis situasi Pengaruh Cold Compression Therapy terhadap Proses Penyembuhan
Pasien Pasca Open Reduction Internal Fixation (ORIF) di ruang Tulip RS. Pertamina
Balikpapan menggunakan pendekatan analisis SWOT (Strength, Weakness,
Opportunities, Threats) sebagai berikut :
1. Strength
Kekuatan dalam program inovasi yang akan dilaksanakan di ruang Tulip RS.
Pertamina Balikpapan antara lain :
a) Pendidikan perawat minimal DIII keperawatan, sebagian besar pendidikan
Sarjana keperawatan.
b) RS. Pertamina Balikpapan mendukung kegiatan Evidence Based Nursing
(EBN).
c) Perawat di ruangan mendorong partisipasi aktif pasien dan keluarga dalam
proses pemberian asuhan keperawatan demi tercapainya kemandirian pada
pasien post ORIF.
d) RS. Pertamina Balikpapan memberikan kesempatan bagi mahasiswa Ners
STIKes Pertamedika untuk melakukan presentasi / pemaparan tentang ilmu-
ilmu / inovasi baru yang dapat diterapkan di Rumah Sakit.

2. Weakness
a) Sudah pernah dilaksanakan Cold Compression Therapy terhadap Proses
Penyembuhan Pasien Pasca Open Reduction Internal Fixation (ORIF) di ruang
Tulip RS Pertamina Balikpapan, tetapi jarang dilakukan karena belum semua
petugas kesehatan mengetahui tentang ilmu tersebut.
b) Pasien dan keluarga tidak mengetahui manfaat dan cara melakukan Cold
Compression Therapy terhadap Proses Penyembuhan Pasien Pasca Open
Reduction Internal Fixation (ORIF).
c) Cold Compression Therapy terhadap Proses Penyembuhan Pasien Pasca Open
Reduction Internal Fixation (ORIF) belum familier di gunakan di masyarakat.
3. Opportunities
a) Mahasiswa Ners STIKes diberikan kesempatan untuk mempresentasikan /
memaparkan EBN tentang Cold Compression Therapy terhadap Proses
Penyembuhan Pasien Pasca Open Reduction Internal Fixation (ORIF).
b) Terdapat pasien dengan kasus Pasien Pasca Open Reduction Internal Fixation
(ORIF) di ruang Tulip RS. Pertamina Balikpapan.

4. Threats
a) Adanya tuntutan masyarakat akan pelayanan yang maksimal dan lebih
profesional.
b) Adanya RS.Kompetitor yang juga mulai meningkatkan mutu layanan dan
juga kelengkapan peralatan medis dan penunjang.
c) Keluarga menolak karena tidak mengerti tentang prosedur yang akan
dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA

Arovah, N. I. (2010). Terapi Dingin (Cold Therapy) Dalam Penanganan Cedera


Olahraga. Diakses pada tanggal 15 Maret 2019 , dari
https://www.scribd.com/doc/94897557 .

Block, J.E. (2004). Orthopaedic Nursing : Caring for Patients with musculoskeletal
disorders. Brockton : Western Schools.

Hajiamini, (2012). Comparing the effects of ice massage and acupressure on labor pain
reduction. Clinical Practice, 18, 169-172.

Khalil, N. S. (2017). Effect of application of ice pack on reducing pain during the
arterial puncture. Clinical Practice, 14 (4), 214-218.

Mubarak, W. I., Indrawati, L., & Susanto, J. (2015). Buku Ajar Ilmu Keperawatan
Dasar. Jakarta : Salemba Medika.

Prasetyo, S. N. (2010). Konsep Dan Proses Keperawatan Nyeri. Yogyakarta : Graha


Ilmu.

Purnamasari, E. (2014). Efektivitas Kompres Dingin Terhadap Penurunan Intensitas


Nyeri Pada Pasien Fraktur Di RSUD Ungaran. Diakses pada tanggal 16 Maret
2019, dari http://182.253.197.100 .

Smeltzer, S., & Bare, B. (2009). Brunner and Suddarth’s : Text book medical surgical
nursing. St. Louis Missouri : Elsevier Saunders.

Sulistiyani, E., Rustina, Y., & Mulyono, S. (2009). Pengaruh pemberian kompres es
batu terhadap penurunan tingkat nyeri pada anak pra sekolah yang dilakukan
prosedur pemasangan infus di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Prima, 1 (1). 77-87.

Utami, M. P., & Istanti, Y. P. (2015). Pengembangan terapi dingin sebagai tindakan
mandiri perawat dalam mengurangi nyeri pada klien. Jurnal Keperawatan
Notokusumo, 3 (1), 49-55.