Anda di halaman 1dari 33
i
i
i
i
i
i
i
i

DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………

i

Daftar Isi ………………………………………………………………

……

ii

PENDAHULUAN …………………………………………………………

1

PETUNJUK BELAJAR ……………………………………

1

CAPAIAN PEMBELAJARAN ………

2

SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN

2

URAIAN MATERI……………………………

2

A. Pengertian Bencana …………………………………………………………

2

B. Jenis-jenis Bencana……………………………………………………………

7

1. Gempa Bumi………………………………………………………………

7

2. Tsunami……………………………………………………………………. 9

3. Gunung Api…………………………………………………………………

11

4. Banjir………………………………………………………………………

12

5. Kekeringan…………………………………………………………………. 14

6. Angin topan ………………………………………………………………

16

18

19

19

7. Tanah longsor………………………………………………………………

C. Manajemen dan Mitigasi Bencana Alam

1. Manajeman Bencana. ……………………………………………………….

2. Mitigasi Bencana……………………………………………………………

RANGKUMAN …………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………

21

31

32

ii

BIDANG KAJIAN :

LITOSFER DAN DINAMIKANYA

MODUL 12 : BENCANA ALAM

PENDAHULUAN Berbagai bencana alam telah terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Gempa bumiyang disertai tsunami di Aceh pada tahun 2004 yang menelan korban iwa sekitar 200.000 orang menunjukkan bahwa bencana alam perlu memperoleh perhatian secara khusus. Besarnya korban jiwa pada peristiwa tersebut menunjukkan rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap potensi ancaman bencana yang ada di wilayahnya. Akibatnya ketika terjadi bencana, masyarakat tidak siap untuk mengantisipasinya. Bencana alam akan terus terjadi dan pada umumnya tidak bisa dicegah. Oleh karena itu pengetahuan mengenai berbagai macam bencana alam perlu dipahami agar upaya pengurangan resiko bencana dapat diminimalisir. Modul 12 ini membahas mengenai bencana alam dan usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko yang mengkin terjadi. Di daam modul ini juga memuat tugas untuk mengobservasi dan menganalisis bentuk-bentuk bencana alam yang berpotensi menjadi ancaman di wilayah Anda. Selanjutnya rumuskanlah usaha mitigasi yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan resiko yang mungkin ditimbulkannya. Pada akhir modul terdapat tes formatif yang harus dikerjakan. Skor yang diperoleh dari soal-soal formatif tersebut menggambarkan penguasaan materi modul 12 mengenai bencana alam.

PETUNJUK BELAJAR

1. Bacalah modul ini sebaik-baiknya dengan cermat

2. Untuk memperkaya penguasaan materi, sebaiknya Anda mengkaji materi yang relevan dari sumber-sumber yang lain.

3. Setelah membaca kerjakan latihan soal pada bagian akhir modul ini dan cocokkan dengan kunci jawaban yang tersedia. Belajar Anda diangap tuntas jika minimal skor yang saudara peroleh 70 (minimal 7 soal harus dijawab dengan benar).

1

4.

Jika Saudara mendapatkan skor kurang dari 70 maka saudara dinyatakan belum tuntas.

5. Jika belum tuntas dalam belajar modul ini, jangan beralih ke modul berikutnya

CAPAIAN PEMBELAJARAN Dalam substansi keilmuan, setiap guru Geografi wajib menguasai pengetahuan Geografi yang setara dengan pengetahuan Geografi yang dikuasai oleh Sarjana Geografi.

SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN Peserta mempunyai pengetahuan tentang bencana dan usaha-usaha mitigasi untuk mengurangi resiko bencana.

URAIAN MATERI

A. Pengertian Bencana Berdasarkan Undang–undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, didefinisikan bahwa bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Berdasarkan definisi tersebut ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan, yaitu sebagai berikut. (1) Bencana merupakan peristiwa yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda , dan dampak psikolologis. (2) Bencana dapat ditimbulkan oleh faktor alam, faktor nonalam, dan faktor manusia. Korban jiwa dan dampak yang lain sebagai akibat bencana bukan saja oleh kekuatan bencana itu sendiri, namun juga oleh faktor manusia yang tinggal di daerah yang terdampak oleh bencana tersebut. Berbagai bencana yang telah terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih belum memiliki pengetahuan yang memadahi terhadap potensi bencana yang secara karakteristik ada diwilayahnya. Korban yang diakibatkan gempabumi yang disertai tsunami yang sedemikian banyak, demikian juga

2

dengan tanah longsor yang setiap musim hujan selalu menelan korban, baik jiwa maupun harta menunjukkan bukti mengenai hal itu. Beberapa tahun terakhir serangkaian gempa dan tsunami telah melanda wilayah Indonesia. Gempa yang disertai tsunami, secara berturut-turut terjadi di Flores tahun 1992, Banyuwangi tahun 1994, Biak tahun 1996, Halmahera tahun 1998, Aceh tahun 2004, Nias 2005, dan Pangandaran 2006. Seluruh kejadian tsunami selalu menelan korban jiwa. Bahkan tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 diperkirakan menelan korban jiwa mencapai 200.000 orang. Banyaknya korban jiwa akibat bencana tsunami menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat tentang tsunami masih kurang, sehingga kewaspadaan terhadap bencana tersebut masih rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Poniman dan Suprajaka (2005) yang menyatakan bahwa orang Indonesia yang memiliki pengetahuan atau informasi mengenai tsunami masih jarang. Penelitian yang telah dilaksanakan oleh Prasetyo dan Warsono (2000) di daerah yang pernah dilanda tsunami, yaitu di Pantai Pancer, kabupaten Banyuwangi, menunjukkan bahwa penduduk yang tinggal di wilayah tersebut tidak mengenal tsunami. Mereka baru mengenal tsunami setelah wilayah mereka dilanda bencana tsunami, yaitu pada tahun 1994. Oleh karena itu tidak mengherankan jika bencana yang terjadi pada saat itu menelan korban yang cukup banyak, yaitu sebanyak 377 orang. Tsunami di Aceh tidak akan mencapai 200.000 jika penduduk Banda Aceh telah memahami tsunami, atau menyadari bahwa mereka tinggal di wilayah yang potensial mengalami bencana tsunami. Sejalan dengan penelitian Prasetyo dan Warsono, pendapat Poniman dan Suprajoko, penelitian Daryono, dkk (2009), menunjukkanhasil yang serupa. Sebagian besar penduduk (91,4 %) di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek yang tinggal di teluk yang rawan terhadap bencana tsunamimenyatakan bahwa daerah mereka aman terhadap ancaman tersebut. Alasan yang dikemukakan oleh sebagian besar responden adalah bahwa sepengetahuan mereka selama ini dan sebelumnya daerah mereka tidak pernah mengalami tsunami. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan penduduk mengenai potensi ancaman bencana tsunami di wilayahnya masih sangat kurang.

3

Gambar : 1. Sistem Peringatan Dini Bencana Tsunami di desa Watulimo (Daryono, 2009). Pengetahuan penduduk

Gambar : 1. Sistem Peringatan Dini Bencana Tsunami di desa Watulimo (Daryono, 2009).

Pengetahuan penduduk terhadap potensi ancaman/bahaya bencana akan

mempengaruhi persepsi mereka terhadap bencana tersebut. Perasaan aman tinggal

di daerah yang sebenarnya rawan terhadap ancaman bencana mengandung

resiko yang sangat besar. Karena dengan perasaan aman masyarakat akan

kehilangan kewaspadaan terhadap kemungkinan timbulnya bencana yang

sewaktu-waktu bisa terjadi di wilayah tersebut.

Di Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek telah terpasang system

peringatan dini untuk bencana tsunami. Ironisnya tidak satupun warga yang

mengenali alat sesuai fungsinya. Warga hanya mengenal alat tersebut sebagai

stasiun pasang surut sebagai mana yang tertulis, tetapi tidak tahu untuk apa

fungsinya. Mereka tidak paham arti tulisan tsunami early warning system pada

bangunan tersebut.

Dampak suatu bencana diukur berdasarkan jumlah korban jiwa, kerusakan,

atau kerugian yang ditimbulkannya. Resiko suatu bencana ditentukan oleh

variabel-variabel sebagai berikut (1) ancaman/ bahaya (hazard), (2)kerentanan

(vulnaribility), dan (3) kapasitas (capacity).

4

1. Ancaman/bahaya (Hazard) Ancaman atau bahaya merupakan kondisi atau situasi yang memiliki potensi yang menyebabkan gangguan atau kerusakan terhadap orang, harta benda, fasilitas, maupun lingkungan.

2. Kerentanan (Vulnaribility) Kerentanan merupakan suatu kondisi yang menyebabkan menurunnya kemampuan seseorang atau masyarakat untuk menyiapkan diri, bertahan hidup, atau merespon potensi bahaya. Kerentanan masyarakat anatara lain dipengaruhi oleh keadaan infrastruktur dan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang antara lain meliputi tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, kepercayaan. Jeleknya infra struktur, rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya tingkat kemiskinan akan menyebabkan tingkat kerentanan suatu wilayah akan semakin tinggi.

3. Kapasitas (Capacity) Kapasitas merupakan kekuatan dan sumber daya yang ada pada tiap individu dan lingkungan yang mampu mencegah, melakukan mitigasi,

siap menghadapi dan pulih dari akibat bencana dengan cepat. Berdasarkan tiga variabel di atas, resiko bencana (Risk) dapat diperkirakan. Risiko bencana merupakan interaksi antara tingkat kerentanan dengan bahaya yang ada. Ancaman bahaya yang berasal dari alam sifatnya tetap karena merupakan proses yang terjadi secara alamiah. Oleh karena itu untuk memperkecil resiko bencana yang ditimbulkan adalah dengan cara meningkatkan kemampuan untuk menghadapi ancaman bencana dengan cara mengurangi tingkat kerentanan. Berdasarkan tiga variabel di atas, penilaian resiko bencana di suatu wilayah dapat diformulasikan sebagai berikut.

R = H x V

C

Keterangan:

R

= Risk (Resiko)

H

= hazard (Ancaman)

V

= Vulnaribility(kerentanan)

5

C = Capacity (Kapasitas) Kapasitas memiliki peranan yang sangat penting dalam mengurangi resiko. Hal ini dibuktikan ketika pada tahun 1976 gempa dengan kekuatan 7,2 skala Richter melanda kota San Fransisco yang padat penduduk. Pada saat itu korban yang jatuh sebanyak 62 orang jiwa. Pada tahun 1990, Iran diguncang gempa dengan kekuatan 7,3 skala Ricter, namun korban yang jatuh jauh lebih besar daripada gempa di San Fransisco, yaitu sebayak 50.000 jiwa. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat di San Fransisco telah menyadari bahwa wilayah mereka rawan terhadap ancaman bencana gempa bumi, sehingga bangunan tempat tingal mereka telah dirancang untuk mengantisipasi bencana yang mungkin akan terjadi. Ada dua kondisi yang menyebabkan bencana dapat terjadi, yaitu adanya peristiwa yang mengancam dan merusak (hazard) dan kerentanan (vulnerability) masyarakat. Bencana tidak akan muncul ketika peristiwa/ ancaman tersebut terjadi tetapi masyarakat dalam kondisi tidak rentan,sehingga dapat mengatasi sendiri peristiwa yang mengganggu tersebut. Bencana juga tidak akan terjadi meskipun kondisi masyarakat rentan tetapi tidak terjadi peristiwa yang mengancam.

B. Jenis-jenis Bencana Dalam UU No 24 Tahun 2007 dinyatakan ada tiga jenis bencana, yaitu meliputi bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. Masing-masing jenis bencana didefinisikan sebagai berikut. (1) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. (2) Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. (3) Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror. Menurut United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN – ISDR), bahaya terdiri atas bahaya alam dan bahaya karena ulah manusia, yang dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi, bahaya hidrometeorologi, bahaya

6

biologi, bahaya teknologi, dan penurunan kualitas lingkungan.Sesuai judul modul ini, yang akan dibahas adalah khusus bencana alam. Menurut UU No 24 Tahun 2007,bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

1. Gempa Bumi. Pengertian, faktor-faktor penyebab, dan konsep-konsep yang terkait dengan gempa bumi telah dijelaskan pada Modul 10 mengenai Tenaga Endogen. Terkait dengan gempa bumi sebagai salah satu ancaman bencana, keberadaannya tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi (unpredictable). Oleh karena itu dampak yang ditimbulkan pada umumnya lebih serius dibandingkan dengan bencana alam lain yang kejadiannya bisa diprediksi sebelumnya. Beberapa bencana gempa bumi yang banyak menelan korban antara lain gempa di Tangshan Cina yang terjadi pada tahun 1976 menelan korban sebanyak 240.000 jiwa, gempa di Iran pada tahun 1968 sebanyak 12.000 jiwa dan pada tahun 1990 sebanyak 50.000 jiwa, Peru pada tahun 1970 sebanyak 70.000 jiwa. Dampak yang ditimbulkan oleh gempa dapat dibedakan menjadi dampak primer, skunder, dan dan tertier. Dampak primer adalah dampak yang terjadi akibat proses bencana secara langsung, yaitu berupa getaran kuat yang menghancurkan bangunan atau merusak infrastruktur. Dampak sekunder merupakan dampak lebih lanjut akibat dampak primer misalnya gempa menyebabkan terjadinya tsunami, tanah longsor, kebakaran hebat, hancurnya pusat tenaga listrik, kebocoran reaktor nuklir, dll. Dampak tersier merupakan dampak jangka panjang misalnya hancurnya habitat pantai atau rusaknya air tanah akibat tsunami.

7

Gambar 2: Akibat gempa di Yogyakata pada tahun 2006 ( https://blog.act.id/kata-sultan-hb-x-tentang-sesar-opak-

Gambar 2: Akibat gempa di Yogyakata pada tahun 2006

(https://blog.act.id/kata-sultan-hb-x-tentang-sesar-opak-

pemicu-gempa-jogja-mei-2006)

San Fransisco, sebuah kota di Amerika Serikat dikenal sebagai wilayah

yang rawan terhadap ancaman bencana gempa bumi. Para ahli di sana

berusaha untuk meneliti patahan San Andreas yang menjadi penyebab

ancaman gempa di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil penelitiannya, para ahli

kemudian merancang instrumen yang diharapkan dapat meberikan peringatan

dini ketika gempa akan terjadi. Namun ternyata alat peringatan dini yang

telah dirancang tidak berfungsi ketika gempa tiba-tiba terjadi. Sampai saat ini

para ahli belum mampu merancang alat yang dapat digunakan untuk

mendeteksi secara dini terhadap ancaman bencana tsunami. Oleh karena itu,

kapan dan dimana gempa akan terjadi masih merupakan misteri yang belum

dapat diprediksi. Pada tahun 2006 Daerah Yogyakarta dilanda gempa bumi

yang banyak menimbulkan korban jiwa dan harta (Gambar No. 2)

2. Tsunami

Pengertian, faktor-faktor penyebab, dan konsep-konsep yang terkait

dengan tsunami telah dijelaskan pada Modul 10 mengenai Tenaga Endogen.

Meskipun ada beberapa faktor penyebab terjadinya tsunami, namun yang

paling sering terjadi, termasuk di Indonesia, diakibatkan oleh gempabumi.

8

Beberapa tsunami yang terjadi di Banyuwangi (1994), Biak (1996), Flores

(2002), Aceh (2004), Nias (2005), dan Pangandaran (2006), secara keseluruhan

disebabkan karena adanya aktivitas seismik. Tsunami di aceh menimbulkan

korban jiwa yang sangat banyak, diperkirakan mencapai 200.000 orang dan

sebagian besar bangunan yang dekat pantai rata dengan tanah (Gambar No 3)

Bagi Indonesia, terjadinya tsunami sangat erat kaitannya dengan

gempabumi. Hal ini disebabkan karena secara geologis Indonesia berada

dalam zone aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Indo

Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Batas antar lempeng ini

menyebabkan deformasi yang mengakibatkan terjadinya aktivitas tenaga

endogen. Salah satu bentuk aktivitas tenaga endogen yang ditimbulkan oleh

aktivitas tumbukan lempeng tersebut adalah terjadinya gempa bumi.

tumbukan lempeng tersebut adalah terjadinya gempa bumi. Gambar 3: Tsunami di Aceh tahun 2004, hanya bangunan

Gambar 3: Tsunami di Aceh tahun 2004, hanya bangunan masjid yang tersisa

(https://www.thenational.ae/world/asia/how-indonesian-mosques-

survived-the-tsunami-1.636974)

Meskipun ada beberapa faktor penyebab terjadinya tsunami, namun yang

paling sering terjadi, termasuk di Indonesia, diakibatkan oleh gempabumi.

Beberapa tsunami yang terjadi di Banyuwangi (1994), Biak (1996), Flores

(2002), Aceh (2004), Alor (2004), Nias (2005), dan Pangandaran (2006), secara

keseluruhan disebabkan karena adanya aktivitas seismik.

9

Bagi Indonesia, terjadinya tsunami sangat erat kaitannya dengan gempabumi. Hal ini disebabkan karena secara geologis Indonesia berada dalam zone aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Indo Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Batas antar lempeng ini menyebabkan deformasi yang mengakibatkan terjadinya aktivitas tenaga endogen, salah satu di antaranya gempa bumi. Oleh karena itu wilayah pantai Indonesia yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik secara keseluruhan rawan terhadap ancaman bencana tsunami. Lempeng Indo-Australia terus bergerak kearah lempeng Eurasia dengan kecepatan 7 cm/tahun (Simanjuntak, 2004:28). Karena gerakan tersebut terjadi secara terus menerus, maka suatu saat tidak lagi dapat ditoleransi oleh kelenturan kerak bumi. Jika ini yang terjadi, maka akan timbullah deformasi atau patahan pada kerak bumi. Deformasi pada kerak bumi ini dapat menimbulkan terjadinya gempa bumi yang diantaranya ada yang berpotensi menimbulkan tsunami. Secara keseluruhan kejadian tsunami di Indonesia telah menimbulkan korban manusia baik meninggal, hilang maupun luka-luka. Tsunami juga menyebabkan kerugian materiil berupa rusaknyanya berbagai bangunan dan infrastruktur seperti hancurnya pelabuhan, sekolah, rumah, prasarana jalan, jembatan, jaringan telpon, listrik, saluran air bersih dan berbagai harta benda.

3. Gunung Api Gunung api adalah permukaan bumi yang lebih tinggi dari sekitarnya sebagai hasil akumulasi material yang dikeluarkan oleh gnung api saat bererupsi. Ketika gunung api meletus ada tiga jenis material yang dihasilkan, yaitu material padat, cair dan gas. Secra lebih mendalam mengenai konsep- konsep yang terkait dengan gunung api telah dijelaskan pada Modul 10 mengenai Tenaga Endogen. Bagi manusia, keberadaan gunung api dapat memberikan berkah dan sekaligus merupakan ancaman bencana bagi kehidupan manusia. Mendatangkan berkah karena erupsinya akan menghasilkan tanah yang subur, berbagai macam bahan tambang, sebagai kawasan tangkapan hujan,

10

mepciptakan panorama alam yang indah sehingga menarik sebagai daerah wisata, dan lain-lain. Di balik itu, keberadaan gunung apiyang masih aktif memiliki potensi sebagai sumber ancaman bencana, karena sewaktu-waktu bisa bererupsi. Bencana akibat letusan gunung apitelah memiliki sejarah yang panjang dan banyak diantaranya yang menimbulkan korban jiwa dan hartabenda yang sangat besar. Letusan gunung Visuvius di Itali pada tahun 79 menimbulkan korban yang sangat besar. Seluruh penduduk yang tinggal di kota Pompeii tewas terkubur oleh material yang dikeluarkan saat bererupsi. Di Indonesia, bencana letusan gunung api yang menelan korban banyak antara lain Tambora (tahun 1815), menelan korban lebih dari 71.000 jiwa, Krakatau (1883) sekitar 30.600 jiwa, Kelud (1919) dengan letusan yang menghasilkan lahar panas menewaskan lebih 5000 jiwa. Material yang dihasilkan gunung saat bererupsi tidak hanya menimbulkan korban jiwa manusia, tetapi juga merusak infastruktur, merusak lahan pertanian dan sebagainya. Letusan gunung api yang muncul dari dasar laut, ketika meletus dapat memicu munculnya bencana tsunami. Korban dari letusan gunung kelud bukan karena akibat langsung dari letusan tersebut, tetapi karena tsunami yang ditimbulkan.

4. Banjir

Banjir

adalah

peristiwa

tergenangnya

daratan

oleh

aliran

air

yang

berlebihan.Banjir dapat terjadi ketika sungai atau saluran tidak lagi mampu menampung air yang ada di suatu wilayah sehingga terjadi genangan.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya banjir, antara lain karena

adanya curah hujan yang tinggi, penebangan hutan di daerah tangkapan hujan, jeleknya sistem drainase, permukiman di bantaran sungai, tata ruang wilayah yang tidak baik, bendungan yang jebol, dan lain-lain. Dari faktor-faktor penyebab tersebut dapat diketahui bahwa banjir tidak hanya disebabkan oleh faktor alam tetapi juga oleh faktor manusia. Banjir dapat merupakan bencana karena dapat menyebabkan terjadinya korban secara langsung seperti yang terjadi pada banjir bandang. Banjir yang

11

berupa genanga n dapat menyebabkan rusaknya lahan pertan ian, rusaknya infra struktur, menyeb arnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

air di bumi merupakan salah sat u kunci adanya

kehidupan.Tum buh-tumbuhan, hewan dan manusia semu anya memerlukan

air.Bagi manusi a, kebutuhan air lebih penting daripada makl uk hidup yang lain.

Air bagi manusi a dibutuhkan dalam hampir setiap aspek keh idupan, yaitu untuk

memenuhi kebu tuhan minum, mandi, mencuci, usaha pert anian, industri, dan

juga menjadi s arana transportasi. Daerah-daerah pedalam an di Kalimantan

Keberadaan

masih banyak

menggunakan jalur lalu lintas air/sunga i sebagai sarana

transportasi. Di

Banjarmasin Kalimantan Selatan, sungai

digunakan sebagai

tempat untuk be rjual beli yang dikenal dengan Pasar Apung.

Air juga da pat dimanfaatkan sebagai pembangkit energi , yaitu pembangkit

listrik tenaga a ir (PLTA). Keuntungan dari pembangkit li strik tenaga air ini

adalah murah,

menjadi ancam an bagi kehidupan manusia jika keberadaann ya berlebih. Banjir

Langkat Sumatera

orang, di Jember,

sisi lain, air bisa

bersih dan tidak menimbulkan polusi.Di

bandang di beb erapa tempat antara lain di Bukit Lawang,

utara tahun 200 3 menelan korban jiwa sebanyak sekitar 129

Jawa Timur 20 16 sebanyak 51 orang, Wasior Papua 20 10 sebanyak 158

orang, dan di T angse, Aceh menelan korban sebanyak 24 ji wa.

dan di T angse, Aceh menelan korban sebanyak 24 ji wa. Gamba r 4: Banjir di

Gamba r 4: Banjir di Garut pada tahun 2016, akib at rusaknya DAS Cimanuk.

(https://www.winnetnews.com/post/ini- penyebab-

utama-banjir-bandang-dahsyat-di-garut )

12

Banjir tidak hanya terjadi di wilayah-wilayah yang berda jauh dari pusat kota. Jakarta sebagai ibukota Indonesia, setiap tahun selalu mengalami musibah banjir. Banjir yang sangat serius dialami Jakarta terjadi pada tahun 2007, wilayah genangannya sangat luas dan di beberapa tempat terendam air lebih dari 3 meter. Menurut Mulayaningsih (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kerusakan akibat banjir meliputi hal-hal sebagai berikut.

Tata guna lahan pada areal dataran banjir.

Magnitud (kedalaman dan kecepatan air, serta frekuensinya).

Ketinggian rata-rata durasinya.

Musim (masa tanam, masa panen, atau masa menyiangi).

Volume sedimen terikut.

Di samping menimbulkan korban jiwa, bencana banjir juga mengakibatkan kerusakan lingkungan antara lain sebagai berikut.

Rusaknya pemukiman penduduk

Rusaknya infra struktur.

Rusaknya lahan pertanian

Terganggunya transportasi

Sulitnya memperoleh air bersih

Timbulnya berbagai macam penyakit

5. Kekeringan Air yang berlebih dapat menimbulkan bencana banjir yang menimbulkan petaka bagi manusia. Sebaliknya, kekurangan air juga akan menimbulkan hal yang sama, yaitu bencana yang mengancam kehidupan. Bencana yang ditimbulkan oleh kekurangan air disebut bencana kekeringan.Kekeringan terjadi ketika pasokan air tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan dalam jangka waktu yang panjang. Mengacu pada UU No 24 tahun 2007, kekeringan dapat disebut bencana ketika peristiwa tersebut menyebabkan terancamnya kehidupan dan

13

penghidupan masyarakat sehingga menibulkan korban korban jiwa manusia,

harta benda, kerusakan lingkungan, dan dampak psikologis bagi masyarakat.

Menurut Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan

Bencana Indonesia, Sutopo Purwo Nugroho, pada saat ini di Indonesia terdapat

lebih dari dari 3,9 juta jiwa yang bermukim pada 2.726 desa di 715 kecamatan

dan 105 kabupaten dan kota di Jawa dan Nusa Tenggara mengalami

kekeringan.Kekeringan yang dialami sejumlah wilayah tersebut terjadi hampir

setiap tahun (http://www.koran-jakarta.com/-defisit-air-dan-kekeringan-sudah-

jadi-isu-global-/).

Ketersediaan air yang ada di suatu wilayah antara lain dipengaruhi oleh

variabel-variabel curah hujan, jenis batuan, struktur geologi, kondisi

lingkungan, dan kebutuhan manusia. Pada daerah vulkan, air hujan yang jatuh

dapat diserap oleh bahan piroklastik dan kemudian menjadi air tanah dan

sebagian akan muncul sebagai mata air. Akibatnya pada musim kemarau, di

daerah vulkanik, kebutuhan air masih bisa dipenuhi. Sebaliknya, di daerah yang

berbatuan kapur, air hujan yang jatuh akan langsung hilang masuk ke dalam

lapisan batuan melalui diaklas-diaklas. Oleh karena itu pada daerah karst pada

umumnya lebih rentan terhadap ancaman bencana kekeringan dibandingkan

daerah vulkanik. Untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau,

masyarakat yang tinggal di daerah karst banyak yang membuat bak untuk

menampung air hujan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air di

musim kemarau.

digunakan untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau. Gambar 5: Kekeringan di Banjarnegara, sedikitnya 18 ribu

Gambar 5: Kekeringan di Banjarnegara, sedikitnya 18 ribu jiwa di 29 desa mengalami krisis air bersih.

(https://news.okezone.com/read/2017/09/20/512/1779291/bencan

a-kekeringan-18-ribu-warga-banjarnegara-mengais-air-bersih)

14

Kerusakan lingkungan di wilayah hulu suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat penggundulan, alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi kawasan pertanian, kawasan ruang terbuka hijau menjadi ruang terbangun, dan lain-lain akan mengakibatkan terganggunya sistem resapan air. Akibatnya cadangan air tanah akan menyusut dan banyak mata air yang kemudian mengering. Wilayah Indonesia dipengaruhi oleh angin muson. Angin muson barat akan menimbulkan musim hujan di Indonesia, terutama untuk wilayah di sebelah selatan katulistiwa. Sebaliknya ketika bertiup angin moson timur Indonesia mengalami musim kemarau. Kekeringan pada umumnya terjadi saat musim kemarau panjang.Rusaknya kawasan resapan air juga menjadi faktor penyebab terjadinya kekeringan.Lereng-lereng gunung yang gundul menyebabkan air hujan yang jatuh diatasnya tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk meresap ke dalam tanah/batuan.Akibatnya cadangan air yang bisa tersimpan di dalam pori-pori batuan sangat terbatas.Rusaknya hutan di lereng-lereng gunung seperti yang sekarang terjadi menyebabkan banyak mata air yang kering.Akibatnya terjadi banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Adanya fenomena El Nino dapat mengakibatkan parahnya kekeringan di Indonesia.Kekeringan yang panjang akan berdampak sangat signifikan terhadap merosotnya produksi hasil pertanian. 6. Angin topan Angin topan adalah angin yang bertiup dengan kecepatan 250 km/jam ataulebih yang sering terjadi di wilayah tropis di antara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan garis khatulistiwa.Istilah/ nama angin topan, berasal dari typhoon, yaitu sistem pusaran angin yang terdapat di Samudera Pasifik. Di samudera Hindia angin tersebut dinamakan cyclone, di Amerika disebut hurricane, dan di Indonesia sendiri sering disebut sebagai badai. Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem. Bencana yang ditimbulkan oleh angin topan ini, di samping karena kuatnya tiupan juga terjadi karena daya hisap oleh angin berputar secara memusat

15

dengan kecepatan yang sangat tinggi.Bangunan-bangunan yang tidak kokoh

misalnya rumah yang terbuat dari papan, atap rumah, papan reklame akan

dihisap dan diterbangkan ke angkasa. Di beberapa tempat pusaran angin topan

mampu mencabut pepohonan dari tempatnya.

Sebagian besar angin topan terbentuk melalui proses selama beberapa jam

atau hari yang perkembangannya bisa diikuti melalui satelit cuaca. Hasil dari

pemantauan satelit cuaca ini kemudian digunakan untuk mempridiksi jalur

mana yang akan dilewati oleh angin tersebut. Namun demikian prediksi yang

benar-benar akurat masih sulit dilakukan, karena perubahan cuaca sifatnya

sangat kompleks.Di beberapa tempat, angin topan bisa terbentuk secara cepat,

sehingga asyarakat tidak punya kesempatan untuk mengantisipasinya.

asyarakat tidak punya kesempatan untuk mengantisipasinya. Gambar 6: Bencana angin topan di Philipinatahun 2014 (

Gambar 6: Bencana angin topan di Philipinatahun 2014

(http://www.kembangpete.com/2014/09/04/14-topan-paling-

dahsyat-yang-menghancurkan-filipina/)

7. Tanah Longsor

Tanah longsor (landslide) adalah suatu gerakan massa tanah/batuan dengan

cara meluncur menuruni lereng (Mulyaningsih, 2010). Tanah longsor

merupakan salah satu bentuk dari gerakan massa batuan yang dapat

menimbulkan bencana bagi masyarakat yang tinggal di suatu wilayah. Pemicu

16

terjadinya tanah longsor antara lain disebabkan oleh aspek geologis,

morfologis, atmosferik, dan campur tangan manusia.Ancaman bahaya longsor

terjadi di daerah yang secara morfologis berupa pegunungan/ gunung dengan

lereng yang curam.Pada tempat ini, bagian lahan yang relatif datar sulit

ditemukan, sehingga permukiman penduduk terpaksa memilih tempat-tempat

sempit yang relatif datar ditepi-tepi lereng yang curam.Tempat semacam ini

merupakan bagian dari permukaan bumi yang memiliki potensi tinggi terhadap

ancaman bencana longsor.

Gempa bumi yang kuat dapat menyebabkan gerakan massa batuan antara

lain berupa jatuhan (rock fall) atau longsor (landslide). Lonsor di Indonesia

sebagian besar terjadi pada musim hujan.Dari sini terlihat bahwa peran kondisi

atmosfer sangat penting sebagai pemicu terjadinya longsor pada wilayah-

wilayah yang secara geologis, morfologis, dan ekologis memiliki potensi

terjadinya peristiwa tersebut.Salah satu akibat tanah longsor dapat dilihat pada

Gambar No 7.

satu akibat tanah longsor dapat dilihat pada Gambar No 7. Gambar 7: Longsor di Ponorogo tahun

Gambar 7: Longsor di Ponorogo tahun 2017, 28 orang dinyatakan hilang.

(https://www.jawapos.com/read/2017/04/04/120881/daftar-

25-nama-korban-longsor-ponorogo-yang-belum-ditemukan)

Batuan yang terletak pada lereng yang curam lama kelamaan akan

mengalami pelapukan dan membentuk tanah. Tanah hasil pelapukan batuan ini

ketika hujan akan menyimpan air. Jika tanah tersebut telah jenuh air dan batuan

17

di bagian baw ah belum lapuk, maka dapat berperan seb agai bidang lincir.

Akibat adanya

gravitasi, tanah yang jenuh air tersebut akan bergerak menuruni

lereng. Salah

satu gerakan massa tanah tersebut dapat

meluncur drngan

kecepatan tingg i sehingga menimbulkan bencana longsor.

C. Manajemen da n Mitigasi Bencana Alam 1. Manajeman Bencana Manaje men penanggulangan bencana merupakan

upaya peningkatan

usaha penan ggulangan berbagai macam bencana m elalui pengamatan secara sistem atis dan analisis yang meliputi tindakan pe ncegahan, mitigasi, kesiap siaga an, tanggap darurat dan rehabilitasi (Car ter (1992), Dalam

membahas

bencana ya ng meliputi kegiatan-kegiatan penc egahan, mitigasi, kesiapsiagaa n, tanggap darurat dan pemulihan. Siklus m anajemen bencana tersebut dapa t dilihat pada Gambar No 8.

manajemen bencana dikenal adanya siklu s penanggulangan

8. manajemen bencana dikenal adanya siklu s penanggulangan Gambar 8: Siklus Managemen Benc ana Pelaksa naan

Gambar 8: Siklus Managemen Benc ana

Pelaksa naan manajemen bencana dilaksanakan mel alui tiga fase, yaitu berupa ke giatan-kegiatan Pra-bencana, saat Kejadian bencana, dan Pasca bencana.

akan

a. Masa

menyeluruh

untuk mengurangi

Prabencana

disebut

juga

sebagai

fase

penyadaran

dan

bencan asecara terencana, terkoordinasi, terpadu sebelu m bencana tersebut terjadi. Penekanannya

18

risiko yang kemungkinan terjadi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut. 1) Perencanaan 2) Pencegahan

3)

4) Pendidikan

5) Pelatihan

6) Penelitian

7)

8) Mitigasi

9)

10) Kesiapsiagaan b. Masa Kejadian bencana (tanggap darurat)menekankan pada upaya untuk mengurangi jumlah kerugian dan korban serta penanganan pengungsi secara terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh pada saat terjadinya bencana. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan

Pengurangan Risiko

Penaatan Tata Ruang

Peringatan Dini

antara lain berupa hal-hal sebagai berikut.

1)

Kajian Cepat

2)

Status Keadaan Darurat

3)

Penyelamatan & Evakuasi

4)

Pemenuhan Kebutuhan Dasar

5) Perlindungan 6) Pemulihan

c. Pasca bencana menekankan padarekonstruksi dan rehabilitasi untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup setelah terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana secara terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh. Kegiatan berupa rehabilitasi dan rekonstruksi, antara lain dalam bidang hal-hal sebagai berikut. 1) Prasarana dan Sarana 2) Sosial 3) Ekonomi

19

4) Kesehatan 5) Keamanan dan ketertiban 6) Lingkungan

2. Mitigasi Bencana Menurut UU No 24 Tahun 2007 dinyatakan bahwa mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.Hendrajaya (2005), Puspito (2005) menyatakan bahwa mitigasi bencana alam adalah upaya manusia agar jika terjadi bencana alam kerugian yang diakibatkan tidak signifikan. Mitigasi dilakukan dengan tujuanmeningkatkan ketahanan dan kesiap siagaan masyarakat dalam menghadapi bencana alam sehingga resiko bencana alam dapat dikurangi. Terkait dengan tujuan tersebut, maka diperlukan usaha untuk mengenali karakteristik setiap jenis bencana alam geologis dan mengantisipasi akibatnya yang mungkin ditimbulkan. Mitigasi bencana dapat dilakukan melalui usaha fisik maupun non fisik. Usaha yang bersifat fisik dapat berupa berbagai macam bentuk, tergantung dari jenis bencana alam, lokasi bencana, kepadatan penduduk, kondisi sarana dan prasarana yang tersedia. Upaya-upaya mitigasi bencana alam dapat dideskripsikan sebagai berikut.

a. Gempa bumi Gempa bumi merupakan bencana alam yang sama sekali belum bisa diprediksi kapan akan terjadi. Namun demikian, secara umum wilayah- wilayah yang rawan terhadap ancaman bencana gempabumi telah dapat diidentifikasi. Oleh karena itu mitigasi yang dapat dilakukan pada wilayah yang rawan terhadap ancaman gempa yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut. 1) Penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai potensi ancaman bencana gempabumi di wilayah mereka.

20

2) Peningkatan pengetahuan kepada masyarakat mengenai karakteristik bencana gempabumi. 3) Memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara menyelamatkan diri dari bencana gempabumi. 4) Memberikan pelatihan, misalnya dengan simulasi bagaimana cara menyelamatkan diri ketika ada bencana. 5) Mendirikan bangunan dengan bahan dan konstruksi yang tahan gempa. 6) Pembuatan zonasi daerah rawan bencana.

b. Tsunami Tsunami diartikan bencana alam yang berupa gelombang air laut yang menimpa daerah pantai. Faktor penyebab terjadinya tsunami adalah karena kegiatan seismik, meletusnya gunung api, longsoran bawah laut, dan tubrukan meterorit dengan samudera. Dari sejumlah faktor penyebab, yang paling sering terjadi adalah tsunami akibat gempa bumi. Gempa bumi sampai saat ini belum dapat diramalkan kapan akan terjadi. Oleh karena itu tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi juga sangat sangat sulit diprediksi. Bencana tsunami merupakan ancaman bagi wilayah pantai yang secara geologis rawan terhadap gempa bumi. Namun ancaman bencana tsunami baru dapat diprediksi setelah gempa bumi terjadi. Satu hal yang menyulitkan adalah jeda waktu antara gempa dan tsunami yang ditimbulkan sangat singkat. Akibatnya usaha untuk menyelamatkan diri dari tsunami waktunya sangat terbatas.

21

Gambar 9: Peta Kawasan Rawan Bencana Tsunami di Kec. Watulimo (Daryono dkk 2009) Jika ancaman

Gambar 9: Peta Kawasan Rawan Bencana Tsunami di Kec. Watulimo (Daryono dkk 2009)

Jika ancaman tsunami tidak disadari oleh masyarakat yang tinggal di

daerah rawan bencana tersebut, maka resiko yang dapat ditimbulkannya

akan sangat serius. Oleh karena itu untuk mengurangi resiko terhadap

bencana yang mungkin terjadi, maka diperlukan mitigasi bencana

tsunami.

Mitigasi terhadap ancaman bencana tsunami antara lain dapat dilakukan

sebagai berikut.

1) Pemetaan wilayah-wilayah yang rawan terhadap ancaman bencana

tsunami (Gambar No 9).

2) Penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai potensi

ancaman bencana tsunami di wilayah mereka (Gambar No. 10)

3) Peningkatan pengetahuan kepada masyarakat mengenai

karakteristik bencana tsunami.

4)

5) Memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara

Mengenali tanda-tanda akan datangnya bencana tsunami.

menyelamatkan diri dari bencana tsunami.

6) Memberikan pelatihan, misalnya dengan simulasi bagaimana cara

menyelamatkan diri ketika ada tsunami.

7) Membuat jalur-jalur penyelamatan yang harus dilalui untuk menuju

tempat yang aman dari bencana tsunami.

22

8) Tidak mendirikan bangunan-bangunan fasilitas umum seperti

kantor-kantor pelayanan pemerintah, pasar, dan lain-lain pada

kawasan yang rawan terhadap ancaman bencana.

9) Penamanan pepohonan di sepanjang pantai untuk mematahkan

gelombang tsunami.

10) Mengadakan alat peringatan dini (early warning system) terhadap

ancaman bencana tsunami.

( early warning system ) terhadap ancaman bencana tsunami. Gambar 10: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai

Gambar 10: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bencana sebagai salah satu bentuk mitigasi (Daryono, 2009)

c. Gunung Meletus

Salah satu akibat Indonesia terletak di antara pertemuan tiga lepeng

tektonik yang besar di dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan

Pasifik adalah bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan

jumlah gunung api terbanyak di dunia. Keberadaan gunungapi tersebut

tersebar di sepanjang pulau-pulau yang terletak di sepanjang sisi subduksi

antara lempeng samudera terhadap lempeng benua, yaitu Sumatera,

Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Halmahera, dan Ambon. Pada saat

ini terdapat sebanyak 84 buah gunungapi yang masih menunjukkan

kegiatannya. Gunung api tersebt antara lain sebagai berikut.

23

1) Di Sumatera: gunung api Seulawah Agam Aceh Besar, Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara,Sorik Merapi di Tapanuli Selatan, Merapi di Agam Sumatera Barat, Dempo di Kabupaten Lahat Sumatera Selatan, Krakatau di Selat Sunda. 2) Di Jawa: gunung Gede di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Tangkubanperahu, Kab Bandung, Galunggung Kabupaten Tasikmalaya dan Garut, Salak Kabupaten Sukabumi dan Bogor Jawa Barat, Slamet di Kabupaten Banyumas, Brebes, dan Purbalingga, Dieng Kabupaten Wonosobo, Sundoro Kabupaten Temanggung, Wonosobo, dan Sukabumi, Merapi di Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Magelang, Boyolali, dan Klaten Propinsi Jawa Tengah, Kelud di Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang, Semeru di Kabupaten Lumajang dan Malang, Raung di Kabupaten Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi, Ijen di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso. 3) Di Bali: Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Abang di Kabupaten Bangli, Batukaru, Catur dan Adeng di Kabupaten Tabanan. 4) Nusa Tenggara: Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Sangeang Api di Pulau Sangeang, Nusa tenggara Barat, Kalimutu di Flores dan Rokatenda atau Gunung Paluweh terletak di Pulau Palu-e, Nusa Tenggara Timur. 5) Sulawesi: Gunung Colo di sebuah pulau kecil di tengah Teluk Tomini, bagian utara Sulawesi, Gunung Soputan terletak di provinsi Sulawesi Utara,Gunung Lokon dekat Kota Tomohon, Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang BiaroProvinsi Sulawesi Utara. 6) Maluku: Gunung Gamalama di Ternate, Gamkonora dan Ibu di Halmahera Barat, Dukono di Halmahera Utara, dan Gunung Kie Besi di Halmahera Selatan. Bedasarkan sejarah letusannya, gunung api dapat dibedakan 3 tipe, yaitu sebagai berikut.

24

Tipe A: sedikitnya telah bererupsi magmatik satu kali sejak tahun

1600.

Tipe B: memperlihatkan gejala pasca vulkanik, namun sejak tahun

1600 belum pernah mengalami erupsi magmatik.

Tipe C: memperlihatkan gejala pasca vulkanik yang lemah.

Peringatan dini sehubungan dengan status gunung api ditetapkan sebagai

berikut.

Normal (level 1): gunung api dalam keadaan normal tidak ada

tanda-tanda adanya aktivitas magma.

Waspada (level 2): terdapat tanda-tanda peningkatan aktivitas

magma, misalnya adanya aktivitas seismik dan meningkatnya

suhu di daam kawah.

Siaga (level 3): terdapat tanda-tanda yang menujukkan ke arah

letusan dengan tanda-tanda semakin meningkatnya kegiatan

seismik dan suhu di dalam kawah.

Awas (level 4): terdapat letusan asap dan abu yang menadakan

letusan yang sesungguhnya akan segera terjadi.

menadakan letusan yang sesungguhnya akan segera terjadi. Gambar 11: Peta Zonasi Bahaya dari Puncak Gunung Merapi

Gambar 11: Peta Zonasi Bahaya dari Puncak Gunung Merapi

(https://geologi.co.id/2010/11/05/sampai-dimana-letusan-

merapi/)

25

Mitigasi terhadap ancaman bencana gunung meletus antara lain dapat dilakukan sebagai berikut. 1) Pemetaan wilayah-wilayah yang rawan terhadap ancaman letusan gunung api. 2) Penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai potensi ancaman bencana gunung api di wilayah mereka. 3) Peningkatan pengetahuan kepada masyarakat mengenai karakteristik bencana gunung api.

4)

5) Memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana cara menyelamatkan diri dari bencana gunung api. 6) Memberikan pelatihan, misalnya dengan simulasi bagaimana cara menyelamatkan diri ketika terjadi letusan gunung api. 7) Mengadakan alat peringatan dini (early warning system) terhadap ancaman letusan gnung api yang akan terjadi. 8) Mengeringkan danau kawah agar letusan tidak menghasilkan lahar

Mengenali tanda-tanda akan datangnya bencana letusan gunung api.

panas. Membuat dam-dam untuk mengendalikan aliran lahar.

9)

10) Membuat bunker untuk menyelamatkan diri ketika terjadi letusan dengan tiba-tiba.

d. Banjir Setiap tahun saat musim hujan, di Indonesia selalu ada wilayah yang mengalami banjir.Banjir terjadi karena air yang jatuh dan mengalir jauh melebihi kapasitas sistem drainase yang ada. Kerusakan hutan, alih fungsi lahan, misalnya dari hutan menjadi lahan perkebunan/pertanian, industri, permukiman, dan sebagainya akan mengurangi kemampuan tanah/batuan untuk menyerap air. Akibatnya aliran permukaan akan semakin banyak dan banjirpun tidak bisa dihindari.

26

Gambar 12 : Sosialisasi menggunakan banner untuk mnegantisipasi bencana banjir (

Gambar 12 : Sosialisasi menggunakan banner untuk mnegantisipasi bencana banjir

(https://twitter.com/infojogja/status/744208845828816896)

Terjadinya banjir bandang sangat dipengaruhi oleh kerusakan hutan di

kawasan hulu. Salah satu bukti adalah ketika terjadi banjir bandang

hampir selalu terdapat potongan-potongan kayu (log) yang ikut hanyut.

Banjir yang selalu hadir setiap tahun di Jakarta merupakan akibat dari

semakin sempitnya daerah tangkapan hujan di wilayah Bogor.

Banjir juga bisa disebabkan oleh pasang Seiring dengan semakin

meningkatnya suhu di permukaan bumi karena pemanasan global, banjir

bukan saja disebabkan oleh hujan, tetapi juga oleh pasang air laut yang

27

tinggi. Pasang laut ini bisa disebabkan oleh badai dan atau akibat pemanasan global yang menyebabkan pasang lebih tinggi dari sebelumnya.Akibat pasang tersebut aliran sungai menjadi terhambat sehingga menggenangi daratan di sekitarnya. Mitigasi yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.

1)

Membuat peta wilayah yang rawan terhadap ancaman becana banjir.

2)

Memberi penyuluhan kepada masyarakat.

3)

Mengadakan reboisasi di kawasan hulu daerah aliran sungai.

4) Membuat biopori agar air yang bisa meresap ke dalam tanah menjadi lebih banyak. 5) Meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya memelihara lingkungan.

6)

Membuat tanggul penahan banjir.

7)

Membuat sistem peringatan dini.

e. Longsor Kondisi geologis di Indonesia menyebabkan wilayah Indonesia yang reliefnya bergunung-gunung sangat luas. Dipadu dengan musim kemarau yang kering dan musim hujan dengan curah hujan yang tinggi, menyebabkan di beberapa kawasan rawan terhadap ancaman bencana

longsor. Hampir setiap musim hujan longsor ini selalu terjadi. Untuk mengurangi resiko bencana yang ditimbulkan perlu ada mitigasi. Mitigasi yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.

1)

Membat peta wilayah rawan terhadap ancaman becana longsor

2) Tidak mendirikan bangunan pada kawasan yang rawan terhadap ancaman longsor. 3) Relokasi permukiman yang rawan terhadap ancaman bahaya longsor. 4) Penanaman pad lereng dengan jenis tanaman yang sistem perakarannya dalam sehingga mampu menhan gerakan tanah. 5) Membuat terasering dengan sistem drainase yang dapat mengurangi resapan ke dalam tanah.

28

6) Selalu diadakan pemantauan terhadap tanda-tanda kemungkinan

terjadinya longsor, misalnya seperti munculnya rekahan, munculnya

rembesan air, pohon-pohon yang miring searah kemiringan lereng,

dan sebagainya.

yang miring searah kemiringan lereng, dan sebagainya. Gambar 13: Sosialisasi mengenai gejala-gejala tanah longsor.

Gambar 13: Sosialisasi mengenai gejala-gejala tanah longsor. (http://mitigasibencana.bpbd.kotabogor.go.id/)

RANGKUMAN

Bencana alam merupakan kejadian yang mengancam dan mengganggu

kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkanoleh faktor alam sehingga

menimbulkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan

dampak psikologis.Bencana alam tidak bisa dicegah kehadirannya, usaha yang dapat

dilakukan manusia adalah mengurangi kemungkinan resiko yang ditimbulkannya.

Resiko suatu bencana ditentukan oleh tiga variabel, yaitu (1) ancaman/ bahaya

(hazard), (2) kerentanan (vulnaribility), dan (3) kapasitas (capacity). Untuk

memperkecil resiko bencana yang ditimbulkan adalah dengan cara meningkatkan

kapasitas dan mengurangi tingkat kerentanan.

Bencana alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus,

banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.Gempa bumi merupakan bencana

alam yang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya.Gempa bumi yang diikuti

terjadinya tsunami telah banyak menelan korban di berbagai belahan bumi. Meskipun

gempa bumi tidak bisa diprediksi, namun tempat-tempat yang rawan terhadap

ancaman bencana tersebut telah dapat diidentifikasi, antara lain di sepanjang zone

subduksi.

Keberadaan gunung api memberikan dampak yang positif bagi kehidupan

manusia, namun dibalik itu tersimpan potensi ancaman gunung meletus yang

sewaktu-waktu dapat terjadi. Banjir dan tanah longsor memiliki kesamaan waktu

29

terjadinya, yaitu pada musim hujan. Semakin lama hujan dan tanah longsor semakin

sering terjadi. Hal ini terutama karena adanya kerusakan lingkungan yang semakin

parah. Rusaknya lingkungan juga menyebabkan keringnya mata air dan cadangan air

tanah yang ada di suatu wilayah.

Dalam penanganan bencana diperlukan sebuah manajemen yang disebut

manajemen bencana, yang meliputi kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan,

tanggap darurat dan pemulihan.Mitigasi bencana alam adalah upaya manusia agar jika

terjadi bencana alam kerugian yang diakibatkan tidak signifikan, yaitu dengan

meningkatkan ketahanan dan kesiap siagaan masyarakat dalam menghadapi bencana

alam sehingga resiko bencana alam dapat dikurangi.

DAFTAR PUSTAKA

Adjat Sudradjat. TT.Seputar Gunungapi dan gempabumi.Jakarta: Adjat Sudradjat

Alzwar. M, H. Samodra, J.I. Tarigan. Pengantar Dasar Ilmu Gunung Api. Bandung:

Nova.

Bryiant, Edward.2007. Tsunami Bahaya yang Diabaikan Pakar Raya.

(Terjemahan). Bandung:

Carter. N.W., Disaster Management: A Disaster Asian Development Bank.

manager’s Hand Book. Manila:

Daryono, Wiwik Sri Utami, Ketut Prasetyo. 2009. Mitigasi Bencana Tsunami di Kecamatan Watulimo Kabupaten Trengalek. Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Surabaya.

Hendrajaya, Lilik, Antisipasi Penanganan Bencana Alam, Makalah disampaikan pada workshop Kontribusi Ahli Kebumian pada Pembangunan Wilayah Nagroe Aceh Darusalam dan Sumatra Utara Pasca Bencana Gempa dan Tsunami pada 19 Februari 2005.Yagyakarta: Fakultas Geografi UGM

Lange,O,M.Ivanova, N.Lebedeva. TT.General geology. Moscow: Foreign Languages Publishing House.

Martha, Sukendra. 2005. Kontribusi Ilmu Geografi dalam Pengembangan Wilayah NAD dan Sumut Pasca Bencana Tsunami. Makalah disampaikan pada Workshop Kontribusi Ahli Kebumian Pada Pembangunan Wilayah Nangroe Aceh Darrusalam dan Sumatera Utara Pasca Bencana Gempa dan Tsunami pada 19 Februari 2005.Yagyakarta: Fakultas Geografi UGM

30

Mulyaningsih, Sri. 2010. Pengantar Geologi Lingkungan. Yogyakarta.: Panduan.

Munir.Moch. 1996. Geologi dan Mineralogi Tanah. Jakarta: Pustaka Jaya

Poniman, Aris dan Suprajoko. 2005. Data, Informasi dan Pengetahuan Geografis untuk Mendukung Pembangunan Pasca Bencana Gempabumi dan Tsunami Wilayah Nanggrroe Darussalam dan Sumatera Utara. Makalah disampaikan pada Workshop Kontribusi Ahli Kebumian Pada Pembangunan Wilayah Nangroe Aceh Darrusalam dan Sumatera Utara Pasca Bencana Gempa dan Tsunami pada 19 Februari 2005.Yagyakarta: Fakultas Geografi UGM

Puspito, Nanang T. 2005. Simulasi Tsunami di Daerah-Daerah Rawan tsunami. Makalah disampaikan pada Workshop Kontribusi Ahli Kebumian Pada Pembangunan Wilayah Nangroe Aceh Darrusalam dan Sumatera Utara Pasca Bencana Gempa dan Tsunami pada 19 Februari 2005.Yagyakarta:

Fakultas Geografi UGM

Saroso. 1996. Bencana

Tsunami, Makalah dalam Lokakarya Mitigasi Bencana

Gempabumi dan Dampaknya, Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Jawa

Timur di Hotel Utami Surabaya tanggal 14-17 September 1996.

Sutikno dan Winaryo. 1996. Evaluasi Kerusakan Lingkungan Akibat Gempa dan Tsunami di NAD dan Sumatera Utara Sebagai Dasar untuk Rehabilitasi dan Rekonstrusi. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengenalan dan Mitigasi Akibat Gempa Tektonik dan Tsunami yang diselenggarakan Badan penelitian dan Pengembangan PU di Ujungpandang pada 21 – 22 Mei 1996.

Sukandarrumidi, Herry Zadrak Kotta, FW. Maulana.2014. Geologi Umum Bagian Pertama. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

31