Anda di halaman 1dari 32

Nama Tugas : Penyusunan Skema Ringkas Peneitian

Diketahui judul penelitian seperti berikut : “Efektifitas Peta Pemikiran (Mind


Map) terhadap Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMAN-X

1. Tuliskan dua judul lain yang berbeda dari judul di atas tetapi yang sesuai
dengan penelitian dimaksud (penelitian yang sama)
Jawab :
 Judul 1 : Efisiensi Penggunaan Mind Map dalam Meningkatkan Prestasi
Belajar Matematika Siswa
 Judul 2 : Ketidakefektifan Mind Map dalam Meningkatkan Aspek
KOgnitif pada Kemampuan Belajar Siswa
2. Susun skema untuk pendahuluan (latar belakang masalah, identifikasi
masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan, kegunaan dan
manfaat penelitian). Tuliskan pokok-pokok yang harus ada pada latar
belakang!
Jawab : (Terlampir pada Lembar Penelitian dibawah)
Dalam suatu penelitian ilmiah, latar belakang masalah dapat diartikan sebagai
suatu informasi yang tersusun secara sistematis berkenaan dengan fenomena,
masalah, atau problematika yang menarik untuk menjadi bahan sebuah penelitian.
Timbulnya gejala tersebut karena ketidak sesuaian antara harapan dengan realitas di
lapangan. Masalah akan menjadi fenomenal yang menarik untuk diteliti saat
mengundang perhatian banyak orang dan menjadi bahan pembicaraan dalam
kehidupan bermasyarakat.
Latar belakang yang sistematis dan terstruktur berusaha menjelaskan mengapa
masalah dalam penelitian itu perlu diteliti dan upaya-upaya dalam penyelesaiannya
baik secara teoritis maupun secara praktis.
Dalam sebuah penelitian ilmiah, latar belakang masalah yang ditulis harus
memuat :
1. Alasan rasional yang membuat penelitian itu menarik untuk diteliti, dasarkan
fakta, data, referensi atau temuan dari penelitian sebelumnya.
2. Gejala-gejala kesenjangan yang terdapat di lapangan. Hal ini harus terungkap
dengan jelas untuk memunculkan permasalahan dan bagaimana penelitian
mengatasi kesenjangan yang ada.
3. Kompleksitas masalah. Jika permasalahan yang ditemukan dibiarkan begitu
saja, khawatir akan menimbulkan permasalahan yang baru dan akan
menghambat, mengganggu, atau mengancam suatu proses untuk mencapai
tujuan.
4. Pendekatan untuk mengatai masalah.
5. Penjelasan singkat tentang kedudukan atau posisi masalah yang akan diteliti
dalam lingkup studi yang ditekuni peneliti.
Seperti tulisan pada umumnya, penulian latar belakang masalah terbagi menjadi 3
bagian. Bagian pembuka yang memuat gambaran umum tentang masalah yang akan
diangkat. Bagian isi yang memuat fakta, fenomena, data-data, dan pendapat ahli
berkenaan pentingnya masalah dan efek negatifnya jika tetap dibiarkan.Bagian
penutup yang memuat alternative penyelesaian masalah yang bisa ditawarkan.
Berikut contoh kutipan latar belakang masalah dari sebuah judul tesis program studi
teknologi pendidikan.
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat kita
semakin mudah mengakses berbagai sumber belajar. Hal ini membuat guru harus
lebih meningkatkan wawasan, kemampuan mendidik dan memberikan inovasi serta
pemanfaatan secara positif media dalam proses pembelajaran. Sehingga siswa
mampu memaknai pengetahuan, termotivasi dan timbul keinginan untuk terus
membentuk pengetahuan dengan berbagai sarana yang telah bermunculan.

3. Susun skema untuk Landasan teori, penelitian relevan, kerangka berpikir dan
pengajuan hipotesis (mencakup variabel yang terlibat dengan memberikan
definisi, penelitian orang lain tentang atau yang sesuai serta hasilnya,
kerangka berpikir, pengajuan hipotesis)
(Terlampir pada Lembar Penelitian dibawah)
4. Susun skema untuk metodologi penelitian (waktu dan tempat, jenis dan
metode penelitian, populasi dan teknik sampling, disain penelitian, data dan
teknik pengambilan data, instrument penilaian dan validasi-reliabilitas, teknik
analisis data, hipotesis statistic)
(Terlampir pada Lembar Penelitian dibawah)
5. Susun kesimpulan penelitian (sesuai dengan rumusan masalah)
(Terlampir pada Lembar Penelitian dibawah)
EFEKTIFITAS PETA PIKIRAN (MIND MAP) TERHADAP
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS X
SMAN-X

Tugas Kelompok 4
Mata Kuliah : Metodologi Pendidikan
Dosen Pengampu :
Drs. Kerdid Simbolon, M.Pd.

Disusun Oleh:

Adenia Lestari 1613150006

Yuni Magdalena 1613150007

Daniel Jeremy 1613150008

Priambodo Ardi Saputro 1613150020

Hana Elisabeth 1613150022

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan mengalami dinamika yang semakin lama semakin


berkembang dan berusaha beradaptasi dengan gerak perkembangan yang
dinamis tersebut. Oleh karenanya pendidikan yang diterapkan pada waktu
sekarang tidak akan sama dengan pendidikan pada masa yang lalu ataupun
masa yang akan datang. Sehingga akan selalu ada perubahan yang mengarah
pada kemajuan pendidikan yang lebih baik. Hal ini seharusnya diikuti
keberhasilan kegiatan pembelajaran, baik berupa peningkatan prestasi,
motivasi, dan aktivitas peserta didik. Sesuai dengan Undang-Undang RI No.
20 Tahun 2003 tentang Fungsi Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3 yang
berbunyi:

“Pendidikan merupakan masalah yang sangat menarik untuk dibahas


karena melalui usaha pendidikan diharapkan tujuan pendidikan akan
segera tercapai. Pendidikan tidak terlepas dari proses pembelajaran. Pada
jenjang Sekolah Menengah Pertama, siswa diajarkan sejumlah pelajaran,
salah satunya adalah matematika. Matematika adalah ilmu mempelajari
tentang besaran, struktur, bangun ruang, dan perubahan-perubahan yang
pada suatu bilangan. Orientasi pembelajaran matematika di tingkat
SMP.”

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi dalam mewujudkan


tujuan tersebut. Salah satunya faktor guru dan siswa dalam melaksanakan
pembelajaran. Pembelajaran merupakan proses belajar antara guru dan siswa,
hubungan interaksi antara guru dan siswa terlihat jelas dalam kegiatan belajar
mengajar di kelas. Kegiatan pembelajaran akan berhasil apabila terjadi
perubahan tingkah laku pada peserta didik dan sesuai dengan tujuan yang
akan dicapai. Perubahan tingkah laku pada anak terjadi apabila dalam proses
pembelajaran siswa melakukan aktivitas.
Aktivitas belajar siswa adalah sebuah proses yang dilakukan oleh siswa
di dalam kelas dengan cara mendengar, membaca, menulis, memberikan
pandangan, mengamati, dan berpikir yang kesemuanya itu dilakukan di dalam
kelas. Belajar yang berhasil akan melalui beberapa aktivitas, baik aktivitas
fisik maupun psikis. Aktivitas fisik ialah peserta didik giat-aktif dengan
anggota badan, membuat sesuatu, bermain ataupun bekerja. Sedangkan
aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak-
banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pengajaran.

Aktivitas inilah yang akan menentukan keberhasilan siswa dalam belajar,


sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah
tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada
aktivitas. Ketika aktivitas siswa dalam belajar itu rendah, yaitu merasa bosan,
malas mencatat, malu bertanya, takut mengemukakan pendapat dan malas
mengerjakan soal yang diberikan oleh guru, maka hasil belajar siswa tersebut
cenderung akan rendah. Tetapi sebaliknya ketika aktivitas siswa tinggi maka
hasil belajarnya akan baik.

Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2011), membagi aktivitas belajar


menjadi 8 kategori, yaitu: 1) visual activities, 2) oral activities, 3) listening
activities, 4) writing activities, 5) drawing activities, 6) motor activities,
7) mental activities, 8) emotional activities.

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar siswa, yaitu


faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor
jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Selanjutnya faktor
eksternal terdiri dari faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
Di dalam faktor sekolah, terdapat satu faktor yang sangat mempengaruhi
aktivitas belajar siswa, yaitu metode mengajar yang dipilih guru.

Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui di dalam
mengajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Metode mengajar guru
yang efektif, dapat membantu meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan
mengingkatkan aktivitas siswa untuk belajar. Sebaliknya metode mengajar
guru yang tidak efektif kurang meningkatkan aktivitas belajar siswa.
Guru harus dapat memilih dan menggunkan metode mengajar yang
efektif sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Salah satu
metode yang efektif yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa adalah
metode mind map.

Mind map merupakan salah satu metode pembelajaran aktif dan cara
termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil
informasi ke luar dari otak, yang merupakan cara mencatat yang kreatif dan
efektif”. Dengan Mind map siswa dapat menghasilkan gagasan, mencatat apa
yang mereka pelajari atau merencanakan tugas baru. Sehingga siswa dapat
mengidentifikasi dengan jelas dan kreatif apa yang telah mereka pelajari atau
apa yang tengah mereka rencanakan. Dengan memetakan gagasannya sendiri,
siswa lebih mudah dalam belajar dan lebih aktif dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi awal yang telah dilakukan penulis di kelas X


SMAN-X, terdapat beberapa masalah yang muncul, salah satunya yaitu masih
rendahnya aktivitas siswa dalam belajar, khususnya dalam mata pelajaran
Matematika. Rendahnya aktivitas belajar siswa terlihat dari beberapa
indikator, seperti visual activities seperti siswa malas untuk membaca buku
pelajaran maupun buku catatan dan kurang memperhatikan penjelasan guru,
oral activities seperti keberanian dan inisiatif siswa untuk bertanya pun masih
sangat rendah, listening activities seperti siswa kurang menyimak penjelasan
guru, emotional activities dan mental activities seperti siswa cenderung
terlihat sangat jenuh dalam proses pembelajaran, sehingga ditemukan siswa
yang mengantuk, mengobrol dengan teman lainnya, tidak fokus dalam
mengikuti proses pembelajaran yang sedang berlangsung yang
mengakibatkan siswa mudah lupa dengan materi yang telah diajarkan.
Rendahnya aktivitas belajar siswa tersebut disebabkan metode yang
digunakan guru kurang efektif, sehingga kurang menimbulkan aktivitas
belajar siswa.pada saat proses pembelajaran.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk


mengadakan penelitian di kelas X SMAN-X dengan judul ”Efektifitas Peta
Pikiran (Mind Map) Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa
Kelas X SMAN-X”.

B. Identifikasi Makalah
Dari latar belakang diatas, penulis mengidentifikasikan beberapa masalah
yang akan dijadikan bahan penelitian selanjutnya, antara lain :
1. Rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran, khususnya dalam
mata pelajaran Matematika.
2. Siswa malas untuk membaca buku pelajaran maupun buku catatan dan
kurang memperhatikan penjelasan guru.
3. Keberanian dan inisiatif siswa untuk bertanya khususnya dalam
pelajaran Matematika masih sangat rendah.
4. Siswa kurang menyimak penjelasan guru.
5. Siswa cenderung terlihat sangat jenuh dalam proses pembelajaran,
sehingga ditemukan siswa yang mengantuk, mengobrol dengan teman
lainnya, tidak fokus dalam mengikuti proses pembelajaran yang
sedang berlangsung yang mengakibatkan siswa mudah lupa dengan
materi yang telah diajarkan.
6. Metode yang digunakan guru kurang efektif, sehingga kurang
menimbulkan aktivitas belajar siswa.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi area dan fokus penelitian yang telah diuraikan
sebelumnya, maka penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
1. Rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran, khususnya dalam
mata pelajaran Matematika.
2. Metode yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa
ialah metode mind map.
3. Aktivitas belajar yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan
aktivitas belajar siswa Matematika yang meliputi beberapa aspek,
yaitu memperhatikan, bertanya, mendengarkan, mencatat,
menggambar, mengingat, mengambil keputusan, menanggapi dan
emosional.
4. Materi pelajaran Matematika pada penelitian ini meliputi keragaman
kenampakan alam dan buatan serta pembagian wilayah waktu di
Indonesia dan keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka dapat
dirumuskan masalah, yaitu “Adakah perbedaan hasil belajar antara belajar
mind map dan konvensional pada kelas X SMAN-X?”.

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar
matematika saat menggunakan metode mind map dan konvensional
pada siswa kelas X SMAN-X.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian adalah:
1. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan masukan
dalam pemilihan metode pembelajaran bagi siswa, sehingga selain
materi dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh siswa
diharapkan penyampaian materi dapat dilakukan dengan cara yang
lebih menarik, serta meningkatkan kreativitas siswa.

2. Bagi Universitas Kristen Indonesia


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai
metode mind map yang digunakan untuk proses penyampaian materi,
serta pengaruhnya terhadap hasil belajar dan tingkat kepuasan siswa.
Disamping itu, penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi
bagi mahasiswa serta menambah koleksi perpustakaan.
3. Bagi Penulis
Dalam penelitian ini penulis diharapkan dapat menerapkan ilmu yang
diperoleh selama masa perkuliahan terutama di bidang pendidikan
matematika.
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kajian Variabel
1. Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2005), hasil belajar kemampuan yang dimiliki
siswa setelah menerima pengalaman belajar. Lalu menurut Sudjana,
hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Sudjana (2016:22)
mengutip Horward Kingsley yang membagi tiga macam hasil belajar,
yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian,
(c) sikap dan cita-cita. Masing- masing jenis hasil belajar dapat diisi
dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan
Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi
verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan
(e) keterampilan motoris. Sudjana (2016 : 22-33) menguraikan
pembagian hasil belajar menurut Benyamin Bloom. Secara garis besar
hasil belajar terbagi menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotorik. Faktor yang mempengaruhi hasil
belajar adalah:
a. Faktor internal
1) Kecerdasan/intelegensi
2) Bakat
3) Minat
4) Motivasi
b. Faktor eksternal
1) Keadaan lingkungan keluarga
2) Keadaan lingkungan sekolah
3) Keadaan lingkungan masyarakat
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik
tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan hasil
belajar dari Benyamin Bloom. Maka dalam penelitian ini peneliti
menggunakan klasifikasi hasil belajar menurut Benyamin Bloom.
Berikut adalah penjelasan dari ketiga ranah menurut Benyamin
Bloom.
1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang
terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Dua aspek
pertama disebut kognitif tingkat rendah dan empat aspek
berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
2. Ranah Efektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli
mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan
perubahannya, bila seseorang telah memiliki penguasaan
kognitif tingkat tinggi. Penilaian hasil belajar afektif kurang
mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak memilih
ranah kognitif semata-mata. Tipe hasil belajar afektif tampak
pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya
terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru
dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
Ada beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar.
Kategorinya dimulai dari tingkat yang dasar atau sederhana
sampai tingkat yang kompleks diantaranya adalah
Reciving/attending, Responding atau jawaban, Valuing
(penilaian), Organisasi, dan karakteristik nilai atau internalisasi
nilai.
3. Ranah Psikomotoris
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan
(skill) dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan
keterampilan yaitu gerakan refleks, keterampilan pada gerakan-
gerakan dasar, kemampuan perseptual, kemampuan di bidang
fisik, gerakan-gerakan skill, dan kemampuan yang berkenaan
dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan
interpretatif.
Tipe hasil belajar ranah psikomotoris berkenaan dengan
keterampilan atau kemampuan bertindak setelah ia menerima
pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ini sebenarnya tahap
lanjutan dari hasil belajar afektif yang baru tampak dalam
kecenderungan-kecenderungan untuk berperilaku. Jika ingin
mendapatkan hasil belajar siswa yang maksimal, maka
diperlukan metode pembelajaran yang tepat agar mendapatkan
hasil belajar yang maksimal. Metode pembelajaran dapat
diartikan sebagai cara dalam pelaksanaan belajar mengajar.
Metode pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, jika materi
yang akan diajarkan dirancang terlebih dahulu. Dengan
rancangan yang sudah tersusun dapat ditentukan metode
mengajar yang tepat. Salah satu metode pembelajaran yang
mampu membantu tujuan tersebut adalah metode mind map.
2. Mind Map
Mind Map adalah proses memetakan pikiran untuk menghubungkan
konsep-konsep permasalahan tertentu dari cabang-cabang sel saraf
membentuk korelasi konsep menuju pada suatu pemahaman dan
hasilnya dituangkan langsung di atas kertas dengan animasi yang
disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya (Buzan dan Buzan
: 1993). Mind map sendiri dapat membantu kita dalam banyak hal
seperti merencakan sesuatu, mengingat segala hal dengan lebih baik,
belajar dengan cepat dan efisien, dan lebih menghemat waktu dalam
berbagai hal. Dalam hal ini, mind map juga dapat melihat unsur otak
kanan dan otak kiri bekerja satu sama lain. Otak kiri berfungsi untuk
tulisan, urutan penulisan, dan hubungan antarkata. Otak kanan
berfungsi untuk warna, gambar, dan dimensi tiga (tata ruang). Sangat
terlihat disini bahwa otak kanan dan otak kiri terlibat secara aktif
untuk mengatasi permasalahan-permasalahan belajar dengan
menggunakan metode mind map karena mind map sangat banyak
menggunakan gambar dan menggunakan kedua belah otak secara
bersamaan dan seimbang.
Menurut Michael Michalko dalam Buzan (2009:6), ada beberapa
kegunaan metode mind map dalam bidang pendidikan diantaranya
adalah memberi pandangan menyeluruh pokok masalah,
memungkinkan kita merencanakan rute atau kerangka pemikiran suatu
karangan, mengumpulkan sejumlah besar data di suatu tempat, dan
mendorong pemecahan masalah dengan kreatif. Sedangkan menurut
Buzan (2009:54-130), metode mind map dapat bermanfaat untuk
merangsang bekerjanya otak kiri dan otak kanan secara sinergis,
membebaskan diri dari seluruh jeratan aturan ketika mengawali
belajar, membantu seseorang mengalirkan diri tanpa hambatan,
membuat rencana atau kerangka cerita, mengembangkan sebuah ide,
membuat perencanaan sasaran pribadi, memulai usaha baru,
meringkas isi sebuah buku, fleksibel, dapat memusatkan perhatian,
meningkatkan pemahaman, dan menyenangkan karena mudah diingat.
Terdapat tujuh langkah dalam membuat mind map menurut Buzan
(2005:15-16). Ketuju langkah tersebut adalah sebagai berikut.
a. Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya
diletakkan mendatar, karena memulai dari tengah memberi
kebebasan kepada otak untuk menyebar ke segala arah dan untuk
mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami.
b. Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral, karena sebuah
gambar bermakna seribu kata dan membantu menggunakan
imajinasi. Sebuah gambar sentral akan lebih menarik, membuat
berkonsentrasi, dan mengaktifkan otak.
c. Gunakan warna, karena bagi otak warna sama menariknya dengan
gambar, warna membuat mind map lebih hidup, menambah
energi kepada pemikiran kreatif dan menyenangkan.
d. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan
hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu
dan dua, dan seterusnya. Hal ini dikarenakan otak bekerja
menurut asosiasi. Otak senang mengaitkan dua (atau tiga, atau
empat) hal sekaligus. Bila kita menghubungkan cabang-cabang,
akan lebih mudah mengerti dan mengingat. Penghubungan
cabang-cabang utama akan menciptakan dan menetapkan struktur
dasar atau arsitektur pikiran. Ini serupa dengan cara pohon
mengaitkan cabang-cabangnya yang menyebar dari batang utama.
Jika ada celah-celah kecil di antara batang sentral dengan cabang-
cabang utamanya atau diantara cabang-cabang utama dengan
cabang dan ranting yang lebih kecil, alam tidak akan bekerja
dengan baik. Tanpa hubungan dalam mind map, segala sesuatu
akan berantakan, jadi buatlah hubungan.
e. Buatlah garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus, karena
garis lurus akan membosankan otak, cabang-cabang yang
melengkung dan organis, seperti cabang-cabang pohon, jauh lebih
menarik bagi mata.
f. Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis, karena kata kunci
tunggal memberi lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada mind
map. Setiap kata tunggal atau gambar adalah seperti pengganda,
menghasilkan sederet asosiasi dan hubungannya sendiri. Bila kita
menggunakan kata tunggal, setiap kata ini akan lebih bebas dan
karenanya lebih bisa memicu ide dan pikiran baru. Kalimat atau
ungkapan cenderung menghambat efek pemicu ini. Mind map
yang memiliki lebih banyak kata kunci seperti tangan yang semua
sendi jarinya bekerja. Mind map yang memiliki kalimat atau
ungkapan adalah seperti tangan yang semua jarinya diikat.
g. Gunakan gambar, karena seperti gambar sentral, setiap gambar
bermakna seribu kata, jadi bila hanya mempunyai sepuluh gambar
dalam mind map kita, mind map sudah setara dengan 10.000 kata
catatan.
Dari tujuh langkah-langkah dalam membuat mind map di atas, dapat
disimpulkan bahwa metode mind map ini dapat mempersingkat
catatan pelajaran, dan catatan tersebut dapat bervariasi karena banyak
gambar dan warna sesuai yang disukai.
3. Langkah-langkah Pembelajaran Mind Map
Dalam pembelajaran metode mind map terdapat langkah-langkah
pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran dalam metode mind
map ini sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau
untuk menemukan alternatif jawaban.
Hamdayana (2016) menguraikan langkah-langkah pembelajaran
metode mind map. Dalam skripsi ini peneliti memodifikasi langkah-
langkah tersebut menjadi sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi
oleh siswa dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai
alternatif jawaban.
3. Membentuk kelompok yang beranggotakan lima sampai enam
siswa untuk membuat suatu ringkasan materi dengan cara
memetakan pikiran.
4. Guru membagikan LKS (Lembar Kerja Siswa) dan tiap kelompok
mengiventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi.
5. Kelompok, yang dipilih guru secara acak, membaca hasil
diskusinya dan guru mencatat di papan serta mengelompokkan
sesuai kebutuhan guru.
6. Dari data di papan, siswa diminta membuat kesimpulan atau guru
memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan oleh guru.

B. Hasil Penelitian Relevan


Untuk mendukung penelitian ini, berikut disajikan beberapa penelitian
yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian tersebut
akan dipaparkan sebagai berikut:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Samsurizal, Program S1 Jurusan


Pendidikan Matematika. Penelitian berjudul “Penerapan Metode
Pembelajaran Mind Map Dalam Meningkatkan Hasil Belajar
Matematika”. Penelitian dilaksanakan di SMAN X. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dalam penerapan metode mind map siswa
sangat senang mengikuti pembelajaran dan membuat mereka aktif
dan kreatif yang dinyatakan dari hasil penghitungan angket sebesar
52,5%. Sedangkan dari segi hasil pembelajaran dengan metode mind
map mengalami peningkatan dari siklus1 dengan N-Gain 0,6 dan N-
Gain siklus II 0,7. Dari data tersebut maka pembelajaran dapat
dikatakan cukup efektif dan telah memenuhi kriteria ketuntasan
minimum (KKM) belajar karena sudah tidak ada siswa yang
mendapatkan nilai 60.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Evie Widya Surya Putri, Program S1
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan
di Universitas Negeri Surabaya. Penelitian berjudul “Penerapan
Metode Mind Map untuk Meningkatkan Kemampuan Mengingat di
Sekolah Dasar”. Penelitian dilaksanakan di SDN Kendal Sewu Tarik
Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan
metode mind map dapat meningkatkan keterlaksanaan dan skor
ketercapaian aktivitas guru pada siklus I sebesar 91,66% dan 79,86,
siklus II sebesar 100% dan 87,15, siklus III sebesar 100% dan 94,44.
Ketercapaian siswa pada siklus I yaitu 66,75, siklus II sebesar 78,5,
dan siklus III sebesar 88,63. Selain itu, dari hasil penelitian juga
menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mengingat siswa
yang terlihat dari hasil belajar siswa dengan rata-rata nilai dan
presentase ketuntasan klasikal yang diperoleh pada siklus I sebesar
74,93 dan 78,38%, siklus II sebesar 84,55 dan 94,6% kemudian
untuk siklus III sebesar 89,35 dan 100%. Respon siswa juga
meningkat dari siklus I 78%, siklus II 96,3 dan siklus III 100%.
Dapat disimpulkan bahwa kemampuan mengingat dengan metode
mind map dapat mendapatkan hasil yang lebih baik.

C. Kerangka Berpikir
Pada pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode mind map,
siswa diharapkan dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik
dibandingkan sebelumnya. Pembelajaran dengan metode mind map
memfokuskan pada kegiatan kreatif siswa dan keaktifan berfikir siswa,
yang akan meningkatkan pemahaman konsep yang kuat, sehingga
memperoleh hasil belajar yang maksimal. Selain kegiatan belajar mengajar
yang lebih menyenangkan, siswa akan lebih termotivasi dalam kegiatan
belajar, karena dengan metode mind map ini, siswa merasakan
pembelajaran yang tidak membosankan.

Berikut adalah bagan kerangka berpikir dalam penelitian ini:

OBSERVASI

Pengambilan nilai pada keseluruhan nilai kelas X MIPA


SMAN-X pada materi sebelumnya untuk mengambil kesetaraan
nilai

Kelompok Kelompok
Kontrol Eksperimen

PRETEST PRETEST

Pembelajaran dengan Pembelajaran dengan


metode diskusi metode Mind Map

POSTTEST POSTTEST

Keterlaksanaan pembelajaran
dengan metode mind Map

Analisis Pengaruh Hasil Belajar


dengan Statistika

Uji mann-whitney dan uji normalitas

Ada pengaruh penerapan metode mind map terhadap


hasil belajar siswa pada kelompok eksperimen
D. Pengujian Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pemikiran di atas, maka
hipotesis tindakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Tidak adanya perbandingan hasil belajar matematika antara kelas


yang menggunakan peta pikiran (mind map) dengan kelas
konvensional pada kelas X MIPA SMAN-X.
BAB III

PENGUJIAN FAKTA

1. Waktu dan Tempat


Penelitian ini dilakukan di SMAN-X dengan subjek siswa kelas X.
Kelompok kontrol pada kelas X MIPA 1 dan kelompok eksperimental
pada kelas X MIPA 2. Waktu penelitian ini adalah bulan Maret-April
2018. SMAN-X adalah sekolah yang memiliki fasilitas pembelajaran yang
lengkap dan kegiatan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler.

2. Jenis dan Metode Penelitian


Penelitian ini termasuk dalam jenis Penelitian Eksperimental Sungguhan
yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab
akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok
eksperimental, satu atau lebih kondisi perlakuan dari membandingkan
hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai
kondisi perlakuan (Achmadi, 2007:51) Penelitian ini memiliki populasi
dan sampel. Populasi pada penelitian ini adalah kelas X SMAN-X
dan sampel pada penelitian ini adalah kelas X MIPA 1 dan X MIPA 2
SMAN-X.
Dipilih dua kelompok yaitu kelompok pertama diberi perlakuan sedangkan
kelompok kedua tidak. Kelompok pertama diberi perlakuan oleh peneliti
kemudian dilakukan pengukuran, sedangkan kelompok kedua yang
digunakan sebagai kelompok pengontrol tidak diberikan perlakuan tetapi
hanya dilakukan pengukuran saja. Kedua kelompok tersebut hasilnya
dibandingkan. Secara garis besar, penelitian ini melibatkan dua buah
variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam
penelitian ini adalah metode pembelajaran yang dikenakan pada kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Variabel terikat dalam penelitian ini
adalah hasil belajar matematika siswa kelas X di SMAN-X.
3. Populasi – Sampel
a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MIPA 1
dan MIPA 2 SMAN-X yang berjumlah 157 siswa.
b. Sampel
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 siswa, dengan masing-
masing 20 siswa pada kelas eksperimen dan 20 siswa pada kelas
kontrol.

4. Desain Penelitian

x r y

Keterangan:
x = Mind Map
y = Hasil belajar
r = perbandingan
Desain penelitian ini menggunakan “Pretest – Posttest Control Group
Design” . Desain ini menggunakan satu kali pengukuran di depan (pretest)
sebelum adanya perlakuan (treatment) dan setelah itu dilakukan
pengukuran lagi (posttest).

5. Teknik Pengambilan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini
adalah pengumpulan data melalui teknik simple random sampling dengan
siswa dan guru matematika kelas X MIPA 1 dan X MIPA 2 dan pemberian
tes yang berupa pretest dan posttest.
6. Instrumen Penelitian dan Validasi-Reliabilitas
1. Instrumen Soal Pretest dan Posttest
a. Soal Pretest
Soal pretest diberikan kepada siswa pada awal pembelajaran untuk
mengetahui nilai atau hasil belajar awal siswa sebelum
menerapkan pembelajaran dengan metode mind map. Pretest ini
diberikan untuk mengecek kesetaraan kemampuan siswa. Jika hasil
yang diperoleh siswa mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal) maka dapat dikatakan siswa sudah memahami materi
awal yang akan dipelajari.
b. Soal Posttest
Posttest dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa secara
keseluruhan dalam pembelajaran statistika dengan menggunakan
metode mind map. Peneliti melakukan posstest pada pertemuan
terakhir atau pertemuan keempat. Posttest dilaksanakan dengan
alokasi waktu satu Jam Pelajaran (JP). Soal ulangan terdiri dari
empat soal, dimana terdapat soal dalam kategori mudah, sedang,
dan sulit. Jika hasil yang diperoleh siswa mencapai KKM (Kriteria
Ketuntasan Minimal) maka siswa tersebut dinyatakan lulus dan
tidak melakukan perbaikan.
Soal pretest dan posttest divalidasi dengan validasi pakar yaitu
dengan mengonsultasikan kepada dosen ahli dan guru matematika
yang mengajar di kelas X MIPA 1 dan X MIPA 2.
2. Validasi
Validasi adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana tes
telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Validasi sebuah tes
dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu validasi logis dan validasi
empiris. Untuk mengetahui tingkat kevalidan soal tes berupa soal
uraian yang akan. Digunakan untuk mengambil data, peneliti
menggunakan validasi logis. Validasi logis sama dengan analisis
kualitatif terhadap sebuah soal, yaitu untuk menentukan berfungsi
tidaknya suatu soal berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, yang
dalam hal ini adalah kriteria materi, konstruksi dan bahasa. Bentuk
dari validasi logis diantaranya validasi isi, validasi konstruk, validasi
prediktif dan validasi konkruen. Keempat bentuk validasi tersebut
sangat tepat sesuai dengan tujuannya.
Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, peneliti menggunakan
validasi isi. Validasi isi (content validity) sering pula dinamakan
validasi kurikulum yang mengandung arti bahwa suatu alat ukur
dipandang valid apabila sesuai dengan isi kurikulum yang hendak
diukur. Pengujian validasi isi dapat dilakukan dengan meminta
pertimbangan ahli (expert judgement). Sehingga sebelum penelitian
dilakukan, peneliti menggunakan validitas logis dari beberapa ahli
untuk menilai kevalidan dari soal tes yang akan diberikan.
3. Reliabilitas
Reliabilitas soal merupakan ukuran yang menyatakan tingkat keajegan
atau kekonsistenan suatu soal tes. Suatu soal disebut konsisten apabila
soal tersebut menghasilkan skor yang relatif sama meskipun diujikan
berkali-kali. Pengujian atau pengukuran soal tes merupakan proses
untuk memperoleh skor perorangan sehingga attribute atau instrument
soal yang diukur benar-benar menggambarkan kemampuan mereka.
Reabilitas atau keajegan suatu skor adalah hal yang sangat penting
dalam menentukan apakah tes telah menyajikan pengukuran yang
baik. Pada penelitian ini akan digunakan reliabilitas koefisien alpha
(α) yang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:

Interpretasi terhadap nilai r11 adalah sebagai berikut:

0,80 € rsy ≤ 1,00 : reabilitas sangat tinggi

0,60 € rsy ≤ 0,80 : reabilitas tinggi

0,40 € rsy ≤ 0,60 : reabilitas cukup

0,20 € rsy ≤ 0,40 : reabilitas rendah

rsy ≤ 0,20 : reabilitas sangat rendah

Untuk mempermudah uji reabilitas pada penelitian ini, peneliti menggunakan

bantuan SPSS 16. Berdasarkan hasil output SPSS 16 diperoleh nilai

Cronbhach’s Alpha sebesar 0, 409. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa soal

yang digunakan oleh peneliti memiliki reabilitas yang cukup. Karena nilai

Cronbhach’s Alpha berada antara 0,40 — 0,60.

7. Teknik Analisis Data


Analisis data ini diperlukan untuk mempermudah menginterpretasikan
sehingga laporan yang dihasilkan mudah dipahami. Teknik analisis data
yang digunakan adalah :
1. Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran Metode Mind Map
Hasil dari keterlaksanaan pembelajaran metode mind map dianalisis
dengan cara dihitung lalu di rata-rata pada setiap pertemuan. Jika
rata- rata dari keterlaksanaan pembelajaran dengan metode mind
map tersebut lebih dari 80% maka penerapan metode mind map
sudah terlaksana dengan baik.
2. Analisis Pretest dan Posttest
Hasil pretest dan posttest ini dianalisis untuk mengetahui perbedaan
hasil belajar siswa sebelum diberikan perlakuan dan sesudah
diberikan perlakuan. Hasil belajar dianalisis menggunakan uji Mann
Whitney untuk melihat tidak ada perbedaan nilai pretest materi
statistika yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen dan ada perbedaan nilai posttest materi statistika yang
signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
3. Penyajian Data Penelitian
Data penelitian yang diperoleh selama penelitian berupa data
pengamatan keefektifan pembelajaran dengan metode Mind Map
terhadap peningkatan hasil belajar. Berikut ini merupakan hasil
penelitian yang diperoleh peneliti, meliputi.
Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan regresi
linier sederhana dengan uji hipotesis menggunakan uji t.
Jadi, persamaan regresinya adalah 𝑦̂ = 109,42 − 0,645 (𝑥). Dari
persamaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa setiap
perubahan nilai variabel X setiap satu satuan maka akan
mempengaruhi perubahan nilai variabel Y sebesar 0,645 satuan.
Artinya, apabila nilai X mengalami kenaikkan sebesar satu satuan
maka nilai Y akan mengalami penurunan sebesar 0,645. Sebaliknya
apabila nilai X mengalami penurunan maka nilai Y akan mengalami
kenaikkan sebesar 0,645. Berdasarkan perhitungan tersebut maka
regresi variabel X dan variable Y bernilai negatif dan tidak searah.
langkah selanjutnya adalah menguji kelinearan persamaan regresi.
Pengujian kelinearan regresi dilakukan dalam rangka menguji model
persamaan regresi suatu variabel Y atas suatu variabel X.
persyaratan uji kelinearan diperlukan untuk melakukan analisis
inferensial dalam uji asosiasi (Suseno, 2013:115).
Dari tabel uji linearitas regresi diatas diketahui bahwa nilai maka
tolak H0 dan terima H1 artinya persamaan regresi berpola linear dan
signifikan atau Terdapat hubungan yang linear antara adiktif game
online dan prestasi belajar dan Signifikan
2. Penghitungan koefisien korelasi
Korelasi adalah istilah statistik yang menyatakan derajat hubungan
linear antara dua variabel atau lebih. Kegunaan korelasi adalah untuk
mencari arah dan kuatnya hubungan antara variabel X dan variabel
Y. Koefisien korelasi adalah pengukuran statistik kovarian atau
asosiasi antara dua variabel. Besarnya koefisien korelasi berkisar
antara +1 s/d .koefisien korelasi menunjukkan hubungan linear dan
arah hubungan dua variabel acak. Jika koefisien korelasi positif
maka kedua variabel memiliki hubungan yang searah. Artinya jika
nilai variabel X tinggi maka nilai variabel Y akan tinggi pula.
Sebaliknya, jika koefisien korelasi negatif maka kedua variabel
memiliki hubungan terbalik atau tidak searah. Artinya jika variable
X mengalami kenaikkan maka variabel Y akan mengalami
penurunan. Korelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
korelasi product moment karl pearson dengan rumus sebagai berikut
:.
Koefisien korelasi dinyatakan dalam lambang r. nilai r terbesar
adalah +1 dan nilai r terkecil adalah -1, sehingga dapat dinyatakan
dengan (−1 ≤ 𝑟 ≤ +1)artinya apabila r = -1 disebut hubungan
negatif sempurna dengan hubungan tidak langsung (indirect) sangat
tinggi, dan disebut inverse. Sebaliknya apabila r = +1 disebut
hubungan positif sempurna dan hubungannya linear langsung sangat
tinggi. Sedangkan harga r akan dikonsultasikan dengan tabel
interpretasi nilai r sebagai berikut :

Dari penghitungan yang telah dilakukan di atas dapat


diketahui bahwa nilai 𝑟 = −0,834 hal ini menunjukkan bahwa
hubungan antara variabel X dan variabel Y adalah tinggi dengan arah
hubungan negatif (tidak searah). Artinya jika variabel X mengalami
kenaikkan maka variabel Y akan mengalami penurunan, dan
sebaliknya.

3. Uji signifikasi

Pengujian hipotesis penelitian dilakukan untuk mencari arti


hubungan variabel agar mendapatkan kesimpulan, maka hasil
korelasi (rxy) diuji melalui uji-t dengan rumus :

Kaidah pengujian :

Jika 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 berarti Tolak Ho berarti signifikan

Jika 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 berarti Terima Ho berarti Tidak signifikan

Kriteria pengambilan keputusan dengan menggunakan angka


pembanding 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 diatas hanya berlaku untuk nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 yang
bertanda positif (+). Selain cara diatas kita juga dapat menggunakan
cara pengujian lainnya yaitu dengan menggunakan kurva,
penggunaan kurva bermanfaat sekali jika nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 bertanda
negatif ( - ) . Jika nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 negatif maka pengujian dilakukan
disisi kiri, sedangkan bila nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 bertanda positif (+) maka
pengujian dilakukan disisi kanan. Bilangan negatif pada 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 tidak
bermakna minus (hitungan) tetapi memiliki makna bahwa pengujian
hipotesis dilakukan disebelah kiri.

Dengan ketentuan tingkat "kesalahan" 𝛼 = 0,05 dan 𝑑𝑏 = 𝑛 – 2


dengan 𝑛 = 40 maka akan diperoleh hasil 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 2,024 atau kita
dapat diperoleh dari proses interpolasi sebagai berikut :

Tahap selanjutnya adalah membuat kurva untuk mendapatkan


kesimpulan hasil pengujian hipotesis.

Kurva di atas menunjukkan bahwa jatuh di area H0 ditolak, dengan


demikian H1 diterima. Jadi kesimpulannya adalah terdapat
keefektifan peta pikiran (mind map) terhadap peningkatan hasil
belajar matematika di kelas X SMAN-X yang berarti Ho di tolak dan
signifikan.
8. Hipotesis Statistik
a. Hipotesis Statistik

H0 = Tidak Terdapat Pengaruh Kefektifan Peta Pikiran Terhadap


Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMAN X.

H1 = Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel


Pengaruh Kefektifan Peta Pikiran Terhadap Peningkatan Hasil Belajar
Matematika Siswa Kelas X SMAN X.

b. Kriteria penolakan atau penerimaan H0


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey
expost facto. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25% dari
jumlah populasi 157 siswa yaitu sebanyak 40 siswa kelas X MIPA 1-2
SMAN-X. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik Simple
random sampling, yaitu merupakan metode pengambilan sampel yang
dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam
populasi tersebut. Teknik analisis data yang digunakan adalah
menggunakan regresi linier sederhana dengan uji hipotesis
menggunakan uji t.
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan deskripsi dan pembahasan data hasil penelitian dalam penerapan


metode mind map untuk peningkatan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran
Matematika di SMAN X, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran
aktif metode mind map dapat meningkatkan hasil belajar Matematika. Hasil
penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar Matematika siswa dari hasil
skala aktivitas belajar siswa.

Berdasarkan hasil pengujian dan analisis keefektifan peta pikiran terhadap


peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas X SMAN-X dapat disimpulkan
sebagai berikut:

1. Dari perhitungan regresi sederhana diperoleh nilai 𝑏 = −0,645 dan nilai


𝑎 = 109,42. Sehingga membentuk persamaan regresi 𝑦̂ = 109,42 −
0,645(𝑥). Dari persamaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa setiap
perubahan nilai variabel X setiap satu satuan maka akan mempengaruhi
perubahan nilai variabel Y sebesar 0,645 satuan. Artinya, apabila nilai X
mengalami kenaikkan sebesar satu satuan maka nilai Y akan mengalami
penurunan sebesar 0,645. Sebaliknya apabila nilai X mengalami penurunan
maka nilai Y akan mengalami kenaikkan sebesar 0,645. Berdasarkan
perhitungan tersebut maka regresi variabel X dan variabel Y bernilai negatif
dan tidak searah.
2. Dari tabel uji linearitas regresi dengan menggunakan Fhitung diketahui bahwa
nilai Fhitung ≤ Ftabel, maka terima H0 dan tolak H1 artinya persamaan regresi
berpola linear atau Terdapat hubungan yang linear antara keefektifan peta
pikitan dan peningkatan hasil belajar.
3. Berdasarkan hasil analisis koefesien kolerasi dari penghitungan yang telah
dilakukan diatas dapat diketahui bahwa nilai 𝑟 = 0,834 hal ini menunjukkan
bahwa hubungan antara variabel X dan variabel Y adalah tinggi dengan arah
hubungan negatif (tidak searah). Artinya jika variabel X mengalami
kenaikkan maka variabel Y akan mengalami penurunan, dan sebaliknya.
4. Hasil penelitian uji t diperoleh thitung sebesar -9,32 dengan taraf signifikan 5%
(a = 0.05) dan dk = n - 2 = 40 – 2 = 38, maka ttabel = 2,03. Karena nilai thitung
bertanda negatif maka uji t dilakukan dengan cara pengujian menggunakan
kurva, dan pengujian dilakukan disisi kiri kurva. Bilangan negatif pada ttabel
tidak bermakna minus (hitungan) tetapi memiliki makna bahwa pengujian
hipotesis dilakukan disebelah kiri. Kurva diatas menunjukkan bahwa thitung
jatuh di area H0 ditolak, dengan demikian H1 diterima. Jadi kesimpulannya
adalah Terdapat pengaruh keefektifan peta pikiran terhadap peningkatan hasil
belajar matematika siswa kelas X SMAN-X yang berarti Ho di tolak dan
signifikan.