Anda di halaman 1dari 3

ANAMNESIS

Untuk menentukan etiologi diperlukan anamnesis yang komprehensif tentang faktor risiko dan
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang hanya dilakukan sesuai dengan kemungkinan etiologi dari
anamesis dan pemeriksaan fisik yang didapat.

1. Keluhan Utama
2. Riwayat Penyakit Sekarang
3. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat mondok
b. Riwayat trauma, khususnya trauma neurologi
c. Riwayat infeksi, khususnya infeksi intracranial
d. Riwayat kejang demam
4. Riwayat Penyakit Keluarga
a. Sakit serupa
b. Sakit lainnya
c. Kelainan herediter
5. Riwayat prenatal dan persalinan
a. Tempat melakukan pemeriksaan selama kehamilan dan ANC: rumah sakit, puskesmas,
rumah bidan
b. Tenaga medis yang menangani selama kehamilan dan ANC: bidan, dokter, dukun bayi
c. Frekuensi pemeriksaan kehamilan tiap trimester kehamilan
d. Keluhan selama kehamilan
e. Usia ibu saat hamil
f. Obat-obatan dan suplemen yang diminum selama kehamilan
6. Riwayat perinatal
a. Berat badan lahir bayi
b. Panjang bayi lahir
c. Cara melahirkan: spontan, section caesaria
d. Kecukupan bulan saat lahir (usia kehamilan terakhir)
e. Spontanitas napas bayi setelah lahir
f. Penolong persalinan
7. Riwayat Postnatal
a. Status Imunisasi Dasar
8. Milestone perkembangan
a. Tanda bahaya perkembangan motor kasar

Gerakan yang asimetris atau tidak seimbang misalnya antara anggota tubuh bagian
kiri dan kanan.

Menetapnya refleks primitif (refleks yang muncul saat bayi) hingga lebih dari usia 6
bulan

Hiper / hipotonia atau gangguan tonus otot

Hiper / hiporefleksia atau gangguan refleks tubuh

Adanya gerakan yang tidak terkontrol

b. Tanda bahaya perkembangan motor halus


i. Bayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan
ii. Adanya dominasi satu tangan (handedness) sebelum usia 1 tahun
iii. Eksplorasi oral (seperti memasukkan mainan ke dalam mulut) masih sangat
dominan setelah usia 14 bulan
iv. Perhatian penglihatan yang inkonsisten

c. Tanda bahaya bicara dan bahasa (ekspresif)


i. Kurangnya kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan terhadap
suatu benda pada usia 20 bulan
ii. Ketidakmampuan membuat frase yang bermakna setelah 24 bulan
iii. Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan

d. Tanda bahaya bicara dan bahasa (reseptif)


i. Perhatian atau respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi, misalnya
saat dipanggil tidak selalu member respons
ii. Kurangnya join attention atau kemampuan berbagi perhatian atau ketertarikan
dengan orang lain pada usia 20 bulan
iii. Sering mengulang ucapan orang lain (membeo) setelah usia 30 bulan

e. Tanda bahaya gangguan sosio-emosional


i. 6 bulan: jarang senyum atau ekspresi kesenangan lain
ii. 9 bulan: kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah
iii. 12 bulan: tidak merespon panggilan namanya
iv. 15 bulan: belum ada kata
v. 18 bulan: tidak bisa bermain pura-pura
vi. 24 bulan: belum ada gabungan 2 kata yang berarti
vii. Segala usia: tidak adanya babbling, bicara dan kemampuan bersosialisasi / interaksi

f. Tanda bahaya gangguan kognitif


i. 2 bulan: kurangnya fixation
ii. 4 bulan: kurangnya kemampuan mata mengikuti gerak benda
iii. 6 bulan: belum berespons atau mencari sumber suara
iv. 9 bulan: belum babbling seperti mama, baba
v. 24 bulan: belum ada kata berarti
vi. 36 bulan: belum dapat merangkai 3 kata

9. Riwayat kebutuhan dasar terutama tentang stimulasi


a. Pola asuh keluarga
b. Status anak dalam keluarga