Anda di halaman 1dari 21

SPESIFIKASI TEKNIS

KEGIATAN : PEMBANGUNAN GEDUNG SEKOLAH


PEKERJAAN : PEMBANGUNAN UGB TK N PEMBINA PECALUNGAN
LOKASI : KECAMATAN PECALUNGAN KABUPATEN BATANG
TAHUN : 2018
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

BAB VI
SPESIFIKASI TEKNIS

A. SYARAT- SYARAT UMUM UNTUK PELAKSANAAN

1. PERATURAN UMUM
1.1 Untuk pelaksanaan pekerjaan sipil umumnya dipakai peraturan umum yang
lazim disebut A.V./SU/41 ( syarat-syarat umum untuk pelaksanaan bangunan
umum yang dilelangkan ).
1.2. Peraturan bangunan adalah peraturan yang dimaksud dinyatakan berlaku
dan mengikat kecuali dinyatakan lain dalam rencana kerja dan syarat –
syarat ini. Peraturan tersebut adalah :
- PUBI - 1982 (Peraturan Umum untuk Bangunan di Indonesia)
- Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung - 1983
- Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan pondasi batu belah untuk
bangunan sederhana (SNI 03-2836-1992 / SKSNI T-01-1991-03)
- Standar Nasional Indonesia Tahun 2008 tentang Tata Cara Perhitungan
Harga Satuan Pekerjaan Cipta Karya
- Peraturan Menteri PU & Perumahan Rakyat No 28/PRT/M/2016 tentang
Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Cipta Karya
- Peraturan Bupati Batang Nomor …. Tahun 2017 tanggal …………..
tentang Standarisasi Indeks Biaya Pemerintah Kabupaten Batang Tahun
2018.
1.3. Peraturan-peraturan lain yang harus dipenuhi adalah peraturan-peraturan
setempat dan peraturan yang berhubungan dengan pekerjaan ini.

2. PELAKSANAAN DAN GAMBAR PELAKSANAAN


2.1. Kontraktor / Pelaksana wajib meneliti semua gambar, peraturan-peraturan
dan syarat-syarat sebelum pekerjaan dilaksanakan dan dianggap sudah
mempelajari / memahami maksud dan tujuan pekerjaan.
2.2. Apabila ada persyaratan yang tidak lazim dilaksanakan, atau bila
dilaksanakan akan menimbulkan bahaya, maka Kontraktor diwajibkan untuk
mengadakan perubahan seperlunya dengan terlebih dahulu memberitahukan
secara tertulis kepala Direksi Teknis / Konsultan Pengawas dan
Pelaksanaannya harus mendapat ijin tertulis dari Direksi Teknis / Konsultan
Pengawas.
2.3. Pelaksana pekerjaan / Kontraktor harus menyediakan di lokasi pekerjaan 1
(satu) Dokumen Kontrak Lengkap termasuk gambar bestek, RKS, berita
acara rapat penjelasan pekerjaan dan time schedule yang telah disetujui
oleh PPK dan konsultan pengawas / direksi dalam masa pelaksanaan
pekerjaan
2.4. Rekanan/Kontraktor tidak boleh mengubah atau menambah gambar tanpa
persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas /Direksi. Gambar-gambar
tersebut tidak boleh diberikan kepada pihak lain yang tidak ada hubungannya
dengan pekerjaan Kontraktoran ini atau dipergunakan untuk maksud-maksud
lain.
2.5. Bila Direksi menganggap perlu maka Konsultan Perencana harus membuat
tambahan gambar detail (gambar penjelasan) yang diperiksa dan disyahkan
oleh Direksi dan gambar-gambar tersebut menjadi milik Direksi.

Spesifikasi Teknis 1
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

2.6. Untuk semua pekerjaan yang belum terdapat dalam gambar bestek baik
penyimpangan atau perubahan atas perintah Pemberi Tugas atau tidak,
Rekanan/Kontraktor harus membuat gambar kerja atau gambar penjelasan
(Shop Drawing) untuk mendapatkan persetujuan dari Pemberi
Tugas/PPK/konsultan pengawas/direksi.
2.7. Kontraktor harus membuat gambar yang sesuai dengan apa yang
dilaksanakan ( As Built Drawing ) yang jelas, memperhatikan perbedaan atau
perubahan antara gambar-gambar dalam Dokumen Kontrak dan pekerjaan
yang dilaksanakan. Gambar-gambar tersebut harus diserahkan dalam
rangkap 3 (tiga) sebelum Serah Terima Pekerjaan Tahap I ( PHO ).

3. PENJELASAN RKS DAN GAMBAR


3.1. Bila terdapat perbedaan antara gambar rencana dan gambar detail, maka
gambar detail yang dipakai/diikuti.
3.2. Bila terdapat skala gambar dan ukuran dalam gambar tidak sesuai, maka
ukuran dengan angka dalam gambar yang dipakai/diikuti.
3.3. Bila ukuran-ukuran jumlah yang diperlukan dan bahan-bahan/barang yang
dipakai dalam RKS tidak sesuai dengan gambar, maka RKS yang
diikuti/dipakai.
3.4. Sebelum melaksanakan pekerjaan Rekanan/kontraktor diharuskan menelitii
kembali semua dokumen yang ada untuk disesuaikan dengan Berita Acara
Rapat Penjelasan Pekerjaan.

4. PRE-CONSTRUCTION MEETING ( PCM ) DAN SERAH TERIMA LAPANGAN

4.1 PRE-CONSTRUCTION MEETING ( PCM )


Rapat persiapan pelaksanaan ( Pre Construction Meeting / PCM ) adalah
pertemuan yang diselenggarakan oleh unsur-unsur yang terkait dengan
pelaksanaan proyek seperti unsur Pengguna Barang/Jasa dan atau PPK
sebagai unsur pengendalian, Konsultan Pengawas sebagai pengawas teknis
dan Kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan serta unsur perencana untuk
menyatukan pengertian terhadap seluruh Dokumen Kontrak dan membuat
kesepakatan terhadap hal-hal penting yang belum terdapat dalam dokumen
kontrak maupun kemungkinan-kemungkinan kendala yang akan terjadi dalam
pelaksanaan pekerjaan. Dalam pertemuan ini akan menyatukan pengertian-
pengertian terhadap seluruh Dokumen Kontrak, dan membuat kesepakatan
terhadap hal-hal penting yang belum terdapat dalam Dokumen Kontrak
maupun kemungkinan-kemungkinan kendala yang terjadi dalam pelaksanaan
pekerjaan.
Prosedur ini dimaksudkan sebagai pedoman untuk mendapatkan
kesepakatan bersama di dalam menyelesaikan masalah-masalah yang
diperkirakanakan akan timbul di lapangan saat pelaksanaan, sebagai
tahapan awal dari tindakan pengendalian oleh PPK terhadap pelaksanaan
kontrak/ pekerjaan. Dalam prosedur ini juga memuat proses
penyelenggaraan rapat persiapan pelaksanaan kontrak/pekerjaan ( Pre
Construction Meeting / PCM ) yang dapat diselenggarakan segera setelah
kontrak ditanda tangani atau selambat-lambatnya 7 ( tujuh ) hari setelah
diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja ( SPMK ) .
Hasil rapat dituangkan dalam Berita Acara.

4.2. SERAH TERIMA LAPANGAN


Sebelum pekerjaan dilaksanakan, dilakukan Serah Terima Lapangan paling
lambat satu minggu setelah diterbitkan Surat Perintah Mulai Kerja ( SPMK ),
antara Pejabat Pembuat Komitmen ( PPK ) dengan pihak Kontraktor dalam
bentuk Berita Acara Serah Terima Lapangan.

Spesifikasi Teknis 2
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

5. KEWAJIBAN KONTRAKTOR
Secara Umum kewajiban Kontraktor meliputi beberapa hal, antara lain :
5.1. Kontraktor berkewajiban untuk meneliti RKS, Gambar – gambar pelaksanaan
dan Dokumen lain yang berhubungan dengan pekerjaan ini, memeriksa
kebenaran dari kondisi pekerjaan, meninjau lokasi pekerjaan, melakukan
pengukuran dan mempertimbangkan seluruh lingkup pekerjaan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan.
5.2. Kontraktor harus mengerjakan seluruh pekerjaan sesuai dengan RKS,
Gambar – gambar pelaksanaan dan dokumen lain yang berhubungan dengan
pekerjaan ini termasuk juga untuk menyediakan alat dan bahan – bahan
yang diperlukan dalam melaksanakan pekerjaan dengan mendapat
persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan Pengawas / Direksi.
5.3. Kontraktor harus menyediakan alat – alat yang diperlukan sesuai dengan
kebutuhan dan sebanding dengan volume pekerjaan dan batasan waktu
pelaksanaan dalam kondisi yang baik serta menyediakan tenaga kerja yang
ahli/cakap dan menunjuk seorang wakil yang harus selalu berada ditempat
untuk mempertanggung jawabkan pekerjaan yang dilaksanakan sehari –
harinya.
5.4. Kontraktor harus memperbaiki kerusakan lingkungan di sekitar lokasi
pekerjaan yang diakibatkan oleh pelaksanaan pekerjaan ini dan harus
bersedia melakukan penggantian baik biaya maupun bahan.
5.5. Kontraktor harus menjamin kesejahteraan dan menjaga keselamatan kerja
pegawainya selama masa pelaksanaan pekerjaan
5.6. Kontraktor harus menyerahkan seluruh hasil pekerjaan dalam keadaan
selesai dan baik termasuk kebersihan lokasi / lingkungannya.
5.7. Kontraktor harus membayar pajak-pajak dan retribusi sesuai dengan
peraturan yang berkenaan dengan pekerjaan ini, seperti Astek, Galian Gol C,
IMB dan ijin-ijin lainnya

6. PEKERJAAN PERSIAPAN DI LAPANGAN


6.1. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus melakukan pekerjaan
persiapan guna menunjang kelancaran pekerjaan, yang meliputi antara lain :
mobilisasi peralatan, penyiapan sarana pekerjaan, pembuatan pagar dan
jaring pengaman pekerjaan, pembuatan kantor direksi dan gudang
penyimpanan serta pekerjaan persiapan lainnya.
6.2. Rekanan/Kontraktor diwajibkan membuat bouwkeet / Bangunan Sementara
untuk kantor pegawainya dan keperluan rapat ( Direksi Keet ) dan gudang
untuk bahan-bahan yang diperlukan agar terhindar dari kerusakan atau
hujan. Biaya pembuatan beserta perlengkapannya menjadi beban Kontraktor.
6.3. Jalan masuk ke tempat pekerjaan yang telah ditetapkan harus diadakan oleh
Rekanan/Kontraktor bilamana diperlukan disesuaikan dengan kebutuhan dan
kepentingan pekerjaan tanpa dimasukkan di dalam anggaran biaya/kontrak.
6.4. Rekanan/Kontraktor segera membuat Time Schedule/ Rencana Kerja yang
telah disetujui Direksi dan selalu terpampang di tempat pekerjaan (direksi
keet) sebagai acuan perkembangan dan evaluasi pekerjaan.

7. LOS KERJA / DIREKSI KEET DAN GUDANG


7.1. Kontraktor wajib menyediakan Direksi Keet / Kantor Direksi Teknis, tempat
para staf Direksi Teknis melakukan tugasnya. Biaya pembuatan beserta
perlengkapannya menjadi beban Kontraktor.
7.2. Bangunan yang dimaksud terdiri dari kantor Direksi dan Gudang Peralatan /
Barang atau menyesuaikan kondisi di lokasi. Pada prinsipnya dapat
dipergunakan sebagai kantor kerja pelaksana / direksi

Spesifikasi Teknis 3
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

7.3. Perlengkapan Kantor ( Direksi Keet )meliputi antara lain :


- 1 (satu) meja rapat ukuran (1 x 2) m, dengan 8 (delapan) buah kursi lipat.
- 2 (dua) meja kerja dengan 2 (dua) buah kursi.
- 1 (satu) unit lemari kayu dari multipleks ( 50 x 200 ) cm, panjang
disesuaikan dengan kebutuhan sebagai tempat penyimpanan contoh bahan
/ material dan peralatan lainnya.
- 1 (satu) buah white board (180 x 120) cm, beserta alat tulis dan
penghapus.
- 1 (satu) buah mesin tik portable
- Kotak PPPK ( Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan ).
- Helm, sarung tangan dan sepatu proyek sebanyak 5 unit untuk Direksi,
konsultan pengawas dan tamu dari instansi yang terkait.
- Tabung pemadam kebakaran minimal 6 kg sebanyak 1 unit
Perlengkapan tersebut di atas adalah perlengkapan ideal yang harus
tersedia di direksi keet untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Dalam
pelaksanaan pada prinsipnya terdapat peralatan yang mendukung kegiatan
di direksi keet.

8. PAPAN NAMA PROYEK / KEGIATAN


8.1. Kontraktor wajib memasang papan nama proyek/kegiatan di tempat lokasi
pekerjaan dan dipancangkan di tempat yang mudah terlihat umum.
8.2. Pemasangan papan nama proyek/kegiatan dilakukan pada saat dimulainya
pelaksanaan pekerjaan dan dicabut kembali setelah pekerjaan selesai
setelah mendapatkan persetujuan Pemberi Tugas / Direksi Teknis.
8.3. Bentuk, ukuran dan redaksi akan ditentukan kemudian oleh Direksi Teknis
secara tertulis.

9. JADWAL PELAKSANAAN
9.1. Sebelum mulai pekerjaan nyata di lapangan pekerjaan, Kontraktor wajib
membuat Rencana Kerja Pelaksanaan. ( Network Planning dan Kurva-S ).
9.2. Rencana Kerja tersebut harus sudah mendapat persetujuan terlebih dahulu
dari Direksi / Konsultan Pengawas. Rencana Kerja yang telah disetujui oleh
Konsultan Pengawas, akan disahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen.
9.3. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja tersebut kepada
Konsultan Pengawas dan Direksi, satu salinan Rencana Kerja harus ditempel
pada dinding di bangsal Kontraktor di lapangan yang selalu diikuti dengan
grafik kemajuan pekerjaan ( prestasi kerja ).
9.4. Direksi / Konsultan Pengawas akan menilai prestasi pekerjaan Kontraktor
berdasarkan Rencana Kerja tersebut sebagai dasar untuk menentukan
segala sesuatu yang berhubungan dengan kemajuan, kelambatan dan
penyimpangan pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor.

10. ALAT-ALAT PELAKSANAAN DAN PENGUKURAN


10.1. Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan, harus mendatangkan alat-alat
dan bahan-bahan bantu sesuai dengan rencana kerja, kecuali jika terpaksa
menyimpang karena sesuatu hal, akan tetapi harus dipertimbangkan lebih
dahulu dan disetujui secara tertulis oleh Direksi Teknis
10.2. Selama pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus menyediakan/menyiapkan
alat-alat baik untuk sarana/peralatan pekerjaannya maupun peralatan-
peralatan yang diperlukan untuk memenuhi kwalitas hasil pekerjaan antara
lain : Mesin pengaduk beton, mesin penggetar beton, mesin pemadatan
tanah, pompa air dan alat-alat lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan
tersebut.

Spesifikasi Teknis 4
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

10.3. Penentuan titik duga letak bangunan, siku-siku bangunan maupun level
(elevasi ± 0,00) dan tegak lurusnya bangunan harus ditentukan memakai alat
yang tepat atau alat ukur ( waterpass / theodolite ).
10.4. Penentuan atau batasan pekerjaan menyesuaikan gambar atau menurut
instruksi Direksi/Konsultan Pengawas

11. JAMINAN DAN KESELAMATAN BURUH / TENAGA KERJA


11.1. Air Minum dan Air Kerja.
a. Kontraktor harus senantiasa menyediakan air minum yang cukup bersih
ditempat pekerjaan untuk para pekerjanya.
b. Kontraktor harus mengadakan air kerja untuk keperluan pekerjaan
selama pelaksanaan dapat mempergunakan atau menyambung pipa air
yang telah ada dengan meteran air sendiri ( guna memperhitungkan
pembayarannya) atau air sumur yang bersih/jernih dan air tawar, bila hal
ini meragukan harus diperiksa di laboratorium.
11.2. Kecelakaan Kerja.
a. Apabila terjadi kecelakaan pada tenaga kerja pada waktu melaksanakan
pekerjaan, kontraktor harus segera mengambil tindakan yang perlu untuk
keselamatan si korban. Biaya pengobatan dan lain-lain menjadi tanggung
jawab Kontraktor dan harus segera melaporkan kepada Instansi yang
berwenang dan Direksi.
b. Di lokasi pekerjaan harus disediakan kotak obat-obatan untuk PPPK yang
selalu tersedia setiap saat dan berada ditempat Direksi Keet/Bouwkeet.
c. Semua tenaga kerja diwajibkan ikut asuransi tenaga kerja dengan biaya
ditanggung oleh Kontraktor.

12. PENJAGAAN KEAMANAN LAPANGAN PEKERJAAN


12.1 Kontraktor wajib menjaga keamanan lapangan terhadap barang-barang milik
kegiatan/proyek, direksi/pengawas dan milik pihak ketiga yang ada di
lapangan.
12.2. Bila terjadi kehilangan bahan – bahan bangunan yang telah disetujui
Pengawas/direksi baik yang telah dipasang maupun yang belum, menjadi
tanggung jawab kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya
pekerjaan tambah.
12.3. Apabila terjadi kebakaran, kontraktor bertanggung jawab atas akibatnya baik
yang berupa barang – barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu kontraktor
diwajibkan menyediakan alat – alat pemadam kebakaran yang siap dipakai
yang ditempatkan di tempat – tempat yang akan ditetapkan oleh Konsultan
Pengawas/direksi.

13. KETENTUAN-KETENTUAN LAIN


Selain Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini, ketentuan-ketentuan lain yang
mengikat di dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
13.2 Gambar, yaitu :
- Gambar-gambar yang dilampirkan pada Rencana Kerja dan Syarat-syarat
pekerjaan ini.
- Gambar detail yang diserahkan oleh Pemberi Tugas/Direksi Teknis.
13.2. Petunjuk, yaitu :
- Petunjuk ataupun keterangan yang diberikan dalam rapat penjelasan
(Aanwijzing), yang tercantum dalam Berita Acara Rapat Penjelasan.
- Petunjuk, syarat-syart tertulis yang diberikan dalm masa pelaksanaan oleh
Pemberi Tugas / Direksi Teknis Lapangan.

Spesifikasi Teknis 5
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

13.3. Peraturan, yaitu :


- Semua Undang-undang dan Peraturan Pemerintah yang berlaku untuk
semua Pelaksanaan Pemborongan.
- Syarat-syarat umum untuk pelaksanaan Pemborongan dari Pekerjaan
Umum di Indonesia yang disahkan dengan SK. Pemerintah Tanggal
28 Mei 1941 (A.V.) kecuali dinyatakan lain dalam Rencana Kerja dan
Syarat-syarat ini.

B. SYARAT-SYARAT BAHAN DAN MATERIAL

14. AIR (PUBI / NI-3)


14.1 Untuk seluruh pelaksanaan pekerjaan dipakai air yang tidak boleh
mengandung minyak, asam,alkali, garam, bahan-bahan organis, atau bahan-
bahan lain yang merusak bangunan, dalam hal ini harus dinyatakan dengan
hasil tes dari laboratorium yang berkompeten.
14.2 Khusus untuk beton jumlah air yang akan digunakan untuk membuat adukan
disesuaikan dengan jenis pekerjaan beton dapat ditentukan dengan ukuran
isi atau ukuran berat serta harus dilakukan setepat-tepatnya.

15 PASIR (PUBI 1970 / NI-3, PBI 1971 / NI-2 )


15.1 Pasir Urug
Pasir untuk pengurugan, peninggian dan lain-lain tujuan, harus bersih dan
keras.
15.2 Pasir Pasang
Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran, dan beton bitumen, harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- Butiran-butiran harus tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan dengan
jari.
- Kadar lumpur tidak boleh melebihi batas peraturan / persyaratan teknis.
- Butiran-butirannya harus dapat melalui ayakan berlubang persegi 3 mm.
- Pasir laut tidak boleh dipergunakan.
15.3 Pasir Beton
Pasir untuk pekerjaan beton harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
dalam PBI 1971 (NI-2) diantaranya yang paling penting :
- Butir-butir harus tajam dan keras, tidak dapat dihancurkan dengan jari
dan pengaruh cuaca.
- Kadar lumpur tidak boleh lebih dari batas peraturan / persyaratan.
- Pasir harus terdiri dari butiran-butiran yang beraneka ragam besarnya,
apabila diayak dengan ayakan 150, maka sisa butiran-butiran diatas
ayakan 4 mm minimal 2% dari berat, sisa butiran-butiran diatas ayakan
1 mm minimal 10% dari berat, sisa butiran-butiran diatas ayakan
0.25 mm, berkisar 80% sampai dengan 90%dari berat.
- Pasir laut tidak boleh dipergunakan.
- Pasir beton yang digunakan dari pasir Muntilan.

16 BATU BELAH (BATU KALI)


16.1 Batu belah ( batu kali ) harus keras, padat dan tidak boleh mengandung
padas atau tanah.
16.2. Batu belah untuk keperluan yang nampak ( pasangan batu muka atau muka
atau pasangan tanpa plesteran ) bentuk atau muka batu dipilih atau tidak
boleh memperlihatkan tanda-tanda lapuk dan berpori.

Spesifikasi Teknis 6
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

17 KERIKIL DAN BATU PECAH


17.1 Kerikil adalah butiran-butiran mineral yang harus dapat melalui ayakan
berlubang persegi 76 mm tertinggal di atas ayakan berlubang 5 mm.
17.2. Batu pecah adalah butiran-butiran mineral hasil pecahan batu alam yang
dapat melalui ayakan berlubang persegi 76 mm dan tertinggal diatas ayakan
berlubang pesegi 2 mm.
17.3. Kerikil dan batu pecah untuk beton harus memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan dalam PBI 1971 (NI-2) dan PUBI 1970 (NI-3) diantaranya : harus
terdiri dari butir-butir yang keras, tidak berpori, tidak hancur / pecah oleh
pengaruh cuaca.
17.4. Kerikil dan batu pecah harus keras, serta sesuai beda butirannya dan
gradasinya tergantung pada penggunaannya.
17.5. Kerikil / batu pecah tidak boleh mengandung lumpur lebih dari batas
peraturan / persyaratan.

18 SPLIT / KERIKIL
18.1 Split adalah batu pecah yang harus dapat melalui ayakan berlubang persegi
25 mm dan tertinggal diatas ayakan berlubang persegi 2 mm.
18.2 Split Beton harus memenuhi syarat yang dibutuhkan dalam PBI 1971 (NI-2)
diantaranya : harus terdiri dari butir-butir keras, tidak berpori, tidak
pecah/hancur oleh pengaruh cuaca.
18.3 Split harus cukup bersih tidak boleh mengandung lumpur melebihi batas
peraturan.
18.4 Ukuran Split untuk pekerjaan ini ditentukan 2 - 3 cm.

19 PORTLAND CEMENT (NI-8, PBI 1976 / NI – 2)


19.1. Porland Cement (PC) yang digunakan harus PC sejenis ( NI-8 ) dan dalam
kantong utuh / baru. Dalam pekerjaan ini semen yang digunakan adalah
semen setara “Tiga Roda, Gresik, Holcim”
19.2. Dalam pengangkutan PC ke tempat pekerjaan harus dijaga agar tidak
menjadi lembab, begitu pula penempatannya harus ditempatkan yang kering.
19.3. PC yang sudah membatu dan sweeping tidak boleh dipakai.

20 BAJA TULANGAN BETON DAN TULANGAN SENGKANG (PUBI 1970 / NI-3 )


20.1 Jenis baja besi tulangan harus dihasilkan dari pabrik baja yang dikenal dan
yang berbentuk batang-batang polos atau batang ulir / yang diprofilkan.
Semua ukuran adalah standart.
20.2 Mutu baja besi tulangan yang dipakai adalah U-24 dan U-32, yang harus
dinyatakan oleh laboratorium berkompeten dengan ongkos-ongkos dipikul
oleh Kontraktor.
20.3 Tulangan sengkang harus terbuat dari baja besi lunak dengan diameter
minimum 6 mm.

21 BETON (PUBI 1971 / NI-2)


21.1 Mutu beton yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga menghasilkan
kekuatan karateristik yang disyaratkan untuk beton yang bersangkutan. Yang
dimaksud dengan kekuatan karateristik ialah kekuatan tekan dari sejumlah
besar hasil-hasil pemeriksaan benda uji.
21.2 Kekuatan Beton ialah kekuatan tekan yang diperoleh dari benda uji kubus
bersisi 15 cm sesuai ketentuan yang berlaku.

Spesifikasi Teknis 7
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

21.3 Benda-benda kubus harus dibuat cetakan-cetakan yang paling sedikit


mempunyai dua dinding yang berhadapan terdiri dari bidang-bidang yang
rata betul dari plat baja, atau plat alumunium ( kayu tidak boleh dpakai ).
Untuk silinder digunakan dari pipa baja yang berukuran diameter 15 cm dan
tinggi 30 cm, bidang-bidangnya harus rata dan licin. Cetakan disapu
sebelumnya dengan vaselin dan lemak atau minyak, agar dapat dilepaskan
dari betonnya, kemudian dicetakkan di atas bidang yang alasnya rata tapi
tidak menyerap air.
21.4 Adukan beton untuk benda-benda uji harus diambil langsung dari pengaduk
dengan menggunakan ember atau lainnya yang tidak menyerap air.
21.5 Kubus-kubus / silnder uji yang telah dicetak, harus disimpan ditempat yang
bebas dari getaran dan ditutupi dengan karung basah selama 24 jam setelah
kubus-kubus / silinder diberi tanda seperlunya dan disimpan disuatu tempat
dengan suhu yang sama dengan suhu udara luar.
21.6 Kubus / silinder uji pada umur yang disyaratkan diuji oleh laboratorium yang
berkompeten dengan biaya dipikul oleh Kontraktor.
21.7 Campuran Beton :
Campuran adukan beton dengan menggunakan mutu beton K-100 dan K-175
atau sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya.
21.8 Kekentalan adukan beton.
Kekentalan adukan beton harus diperiksa dengan pengujian slump dengan
sebuah kerucut terpancung abrams. Nilai-nilai slump untuk berbagai
pekerjaan beton harus menurut tabel 441 PBI-1971 (NI-2).

C. SYARAT-SYARAT TEKNIS PELAKSANAAN

22 URAIAN UMUM
22.1. Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Pembangunan UGB TKN Pembina
Pecalungan, yang berlokasi di Kecamatan Pecalungan Kabupaten Batang
Volume dan bagian – bagian yang dikerjakan sesuai dengan gambar kerja
dan RAB/BOQ atau apabila ada perubahan harus sesuai petunjuk Direksi /
Konsultan Pengawas.
22.2 Pekerjaan yang akan dilaksanakan terletak di Kecamatan seperti di atas
yang merupakan wilayah Kabupaten Batang sebagaimana tercantum dalam
gambar situasi dan untuk lebih jelasnya akan ditunjukkan dalam Aanwijzing
lapangan.
22.3. Pemborong harus bertanggung jawab atas keadaan lapangan pekerjaan
dimulai sampai dengan akhir pekerjaan, yang pada waktunya pemborong
menyerahkan pekerjaan dengan sempurna sesuai dengan kontrak termasuk
pembersihan halaman dan sebagainya.
22.4. Secara terinci jelas pekerjaan yang dilaksanakan dapat dilihat lampiran RAB,
dan menerima keadaan tempat bangunan / pekerjaan seperti pada waktu
pelelangan.
22.5 Pekerjaan harus dikerjakan menurut syarat-syarat yang diuraikan dalam RKS
ini, gambar-gambar bestek, dan Berita Acara Aanwijzing serta petunjuk
Direksi.
22.6. Apabila ada hal-hal yang disebutkan kembali pada bagian / bab / gambar
lain, maka harus diartikan bukan untuk menghilangkan satu terhadap yang
lain, melainkan untuk mengesahkan masalahnya.
22.7. Kalau terjadi hal-hal yang saling bertentangan antara gambar atau terhadap
spesifikasi teknis, maka pemborong wajib berkonsultasi dengan Direksi /
Konsultan Pengawas.

Spesifikasi Teknis 8
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

22.8 Perbedaan-perbedaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan bagi pemborong


untuk mengadakan klaim pada waktu pelaksanaan, norma kelayakan
hendaknya dijadikan dasar dalam memutuskan.

23 PAPAN NAMA PROYEK / KEGIATAN


23.1 Pemborong wajib memasang papan nama proyek/kegiatan di tempat lokasi
proyek dan dipancangkan di tempat yang mudah terlihat umum.
23.2. Pemasangan papan nama proyek dilakukan pada saat dimulainya
pelaksanaan proyek dan dicabut kembali setelah mendapatkan persetujuan
Pemberi Tugas / Direksi Teknis.
23.2 Bentuk, ukuran dan redaksi akan ditentukan kemudian oleh Direksi Teknis
secara tertulis.

24 UKURAN DUGA/PEIL
24.1 Sebagai referensi adalah titik BM yang telah ada di lokasi (site lokasi ) atau
ditentukan oleh Direksi Teknis.
24.2 Patok-patok tetap dan sumbu-sumbu bangunan atau sumbu utama akan
ditetapkan oleh Direksi Teknis bersama-sama pemborong.
24.3 Patok-patok harus dijaga dan dipelihara oleh pemborong selama pekerjaan
berlangsung.
24.4 Bahan-bahan dan alat-alat berikut tenaga pembantu ukur seluruhnya
disediakan pemborong.
24.5 Pengukuran bangunan selanjutnya harus dikerjakan oleh pemborong atas
dasar sumbu-sumbu dan patok-patok tetap yang telah ditentukan.
24.6 Pekerjaan pematokan yang telah selesai dilakukan pemborong, lalu
dimintakan persetujuan dari Direksi Teknis. Hanya hasil pengukuran yang
telah disetujui tertulis Direksi Teknis yang dapat digunakan sebagai dasar
pelaksanaan selanjutnya.
24.7 Bila terdapat penyimpangan dasar gambar pelaksanaan, pemborong harus
mengajukan 3 (tiga) gambar penampang dari daerah yang dipatok yang
terjadi penyimpangan.
24.8 Direksi Teknis akan membubuhkan tanda tangan persetujuan pada salah
satu lembar gambar penyimpangan tersebut dan pengembaliannya kepada
pemborong. Gambar ini merupakan gambar pelengkap dan merupakan
kesatuan dengan gambar kerja.
24.9 Apabila terdapat revisi, hasil revisi diajukan kembali untuk medapatkan
persetujuan tertulis Direksi Teknis.

25 LOS KERJA / DIREKSI KEET


25.1 Pemborong wajib menyediakan Direksi Keet / Kantor Direksi Teknis, tempat
para staf Direksi Teknis melakukan tugasnya. Biaya pembuatan beserta
perlengkapannya menjadi beban pemborong.
25.2 Bangunan yang dimaksud seluas minimal 12 m² pada masing-masing lokasi
pekerjaan, terdiri dari kantor Direksi dan Gudang Peralatan / Barang atau
menyesuaikan kondisi di lokasi. Pada prinsipnya dapat dipergunakan
sebagai kantor kerja pelaksana / direksi
25.3 Perlengkapan Kantor ( Direksi Keet )meliputi antara lain :
- 2 (dua) meja kerja dengan 2 (dua) buah kursi.
- 1 (satu) unit lemari kayu dari multipleks ( 50 x 200 ) cm, panjang
disesuaikan dengan kebutuhan sebagai tempat penyimpanan contoh bahan
/ material dan peralatan lainnya.

Spesifikasi Teknis 9
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

- 1 (satu) buah white board (180 x 120) cm, beserta alat tulis dan
penghapus.
- 1 (satu) buah mesin tik portable
- Kotak PPPK ( Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan ).
- Helm, sarung tangan dan sepatu proyek sebanyak 5 unit untuk Direksi,
konsultan pengawas dan tamu dari instansi yang terkait.
- Tabung pemadam kebakaran minimal 6 kg sebanyak 1 unit
Perlengkapan tersebut di atas adalah perlengkapan ideal yang harus
tersedia di direksi keet untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Dalam
pelaksanaan pada prinsipnya terdapat peralatan yang mendukung kegiatan
di direksi keet.
25.4 Gudang bahan-bahan serta penimbunan material harus terlindung, seperti :
Pasir, koral, besi beton, dan lain-lain dibuat secukupnya dan berkunci. Lantai
gudang semen (PC) agar dibuat bebas dari kelembaban udara, minimal
30 cm di atas permukaan lantai.

26 PEKERJAAN UITZEET DAN BOUWPLANK


26.1 Bouwplank harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak terganggu
sewaktu pelaksanaan pekerjaan.
26.2 Bouwplank harus dibuat dari papan kayu kelas II sekeliling pondasi ukuran
2.5 x 20 cm diserut / disugu bagian atasnya dan dipakukan kepada patok-
patok kayu ukuran 5/7 cm yang dipancangkan kuat kedalam tanah sedalam
minimum 75 cm.
26.3 Penguraian ukuran-ukuran sumbu-sumbu utama pada bouwplank harus
dilakukan sepengetahuan Direksi dengan memberikan tanda-tanda yang
jelas, dibuatkan gambar dan Berita Acaranya.
26.4 Tanda-tanda tersebut harus dijaga dan dipelihara selama pekerjaan
berlangsung dan menjadi tanggung jawab pemborong.

27 PEKERJAAN GALIAN DAN URUGAN TANAH


Lingkup pekerjaan ini meliputi : galian tanah, urugan tanah, urugan pasir dan
pemadatan tanah

27.1 Pekerjaan Galian


a. Pekerjaan galian untuk semua lobang baru boleh dilaksanakan setelah
papan patok ( bouwplank ) dengan penandaan sumbu ke sumbu telah
diperiksa dan disetujui oleh Konsultan Pengawas / Direksi.
b. Galian tanah untuk pondasi dan lain – lain harus dilaksanakan sesuai
dengan yang ditentukan dalam gambar. Dalamnya semua galian harus
sesuai dengan gambar kerja dan mendapat persetujuan dari Direksi
Pekerjaan.
c. Dalam keadaan penggalian cukup dalam dan memungkinkan tanah dapat
longsor, Kontraktor harus memasang turap sesuai persyaratan yang
disertai perhitungan kekuatan dan diperiksa oleh Direksi.
d. Kontraktor harus melaporkan hasil pekerjaan galian tanah yang selesai
dan menurut pendapatnya sudah dapat digunakan untuk pemasangan
pondasi kepada Direksi untuk dimintakan persetujuannya. Semua
pekerjaan pondasi yang dilaksanakan tanpa persetujuan Direksi dapat
mengakibatkan dibongkarnya kembali pekerjaan tersebut. Pekerjaan
pembongkaran dan pemasangan pondasi kembali adalah menjadi
tanggungan Kontraktor.

Spesifikasi Teknis 10
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

e. Semua kelebihan tanah galian atau tanah lumpur harus dikeluarkan dari
lapangan ke lokasi yang disetujui oleh Direksi, Kontraktor bertanggung
jawab untuk mendapatkan tempat pembuangan yang diperlukan.
f. Jika lubang – lubang galian tersebut banyak air tergenang karena air
tanah dan air hujan, maka sebelum pemasangan dimulai, terlebih dahulu
air harus dipompa keluar dan dasar lubang harus dikeringkan.

27.2 Pekerjaan Pengurugan Tanah


a. Pekerjaan untuk urugan mencapai titik peil yang dikehendaki dapat
digunakan tanah urug sejenis tanah padas, sirtu atau sisa tanah
keprasan ( bukan humus ) dari tanah lahan yang ada di dalam lokasi atau
mendatangkan dari lokasi lain, disesuaikan dengan penjelasan dari BOQ.
b. Urugan kembali lubang pondasi hanya boleh dilakukan seijin Pengawas
setelah dilakukan pemeriksaan pondasi.
c. Setiap tanah urug harus dibersihkan dari tunas tumbuh – tumbuhan dan
segala macam sampah atau kotoran, tanah urug harus berjenis tanah
berbutir ( tanah ladang ) atau berpasir dan tidak terlalu basah, tidak
mengandung bahan organik dan brangkal.

27.3 Pekerjaan Urugan Pasir


a. Pekerjaan urugan pasir dilakukan di bawah pondasi dan di bawah lantai.
Ketinggian urugan sesuai dengan gambar kerja
b. Urugan pasir dimaksudkan sebagai bantalan untuk memperoleh
permukaan yang rata dan berfungsi untuk mencegah air dari bawah naik
secara kapiler.
c. Urugan pasir ini harus dipadatkan (ditimbris) dengan disiram air sampai
kenyang/jenuh.

27.4 Pekerjaan Pemadatan Tanah


a. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan memadatkan kembali tanah yang selesai
diurug dalam rangka pelaksanaan pekerjaan konstruksi maupun non
konstruksi
b. Urugan tanah harus dipadatkan dengan mesin pemadat ( stamper ) dan
tidak dibenarkan hanya menggunakan timbris kecuali pada bagian –
bagian tertentu.

28 PEKERJAAN PONDASI

28.1 PONDASI BATU BELAH ( MENERUS )


Pekerjaaan pondasi yang dikerjakan meliputi pondasi batu kosong
(aanstamping) dan pondasi batu kali belah dengan campuran adukan
1 Pc : 6 Psr. Pelaksanaan disesuaikan dengan gambar dan volume pada
BOQ
Prosedur Pengerjaan Pondasi lajur batu kali meliputi :
- Sebelum pondasi dipasang, jika parit tergenang air maka air tersebut
harus dikuras atau dipompa keluar dahulu sehingga parit menjadi kering.
- Sebelum Aanstamping dipasang, bekas dasar galian diurug pasir setebal
5 cm, ditimbris dan disiram air sampai kepadatan maksimum.
- Lantai kerja pondasi / Aanstamping dibuat dari batu belah kosongan yang
dipasang berdiri ( diatur tegak ) dan rapat sehingga merupakan jaringan
ceracah setebal 20 cm. Ditimbris pasir atau batu pecah hingga kokoh.
- Material batu belah yang keras, bermutu baik dan tidak cacat dan tidak
retak. Batu kapur, batu berpenampang bulat atau berpori besar dan
terbungkus lumpur tidak boleh dipakai.

Spesifikasi Teknis 11
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

- Adukan yang dipakai untuk pasangan pondasi batu belah adalah adukan
1 Pc : 6 Ps.
- Air yang digunakan harus bersih, tawar dan bebas dari bahan kimia yang
dapat merusak pondasi, begitu juga asam alkali atau bahan organik
lainnya.
- Pasir pasang harus bersih, tajam dan bebas lumpur tanah liat, kotoran
organik dan bahan yang dipakai terlebih dahulu diayak lewat ayakan
dengan diameter lubang sebesar 10 mm. Apabila kondisi tanah tidak
stabil harus ada perlakuan khusus.

Penggalian untuk pondasi lajur ( batu belah ) dilakukan dengan terlebih


dahulu menetapkan lay out, titik as pondasi tersebut dan ditentukan dengan
teliti sesuai gambar dan disetujui oleh Direksi / Pengawas.
Pemeriksaan tiap galian pondasi dilaksanakan terhadap betulnya
penempatan kedalaman, besaran, lebar, letak dan kondisi dasar galian.
Sebelum pemasangan pondasi dimulai, ijin dari Direksi mengenai hal
tersebut harus didapat secara tertulis.

29 PEKERJAAN BETON BERTULANG

29.1 Lingkup pekerjaan, meliputi :


a. Pasang bekisting dan baja tulangan
b Pelaksanaan Pengecoran dan Pemeliharaan

29.2 Syarat umum untuk pekerjaan beton bertulang ini adalah berlaku PBI 1971,
SNI serta peraturan untuk pemeriksaan bahan NI3-PU PBI 1971.
29.3 Konstruksi beton harus memenuhi mutu beton K-100 dan K-175 serta mutu
baja U- 24 ( penulangan sesuai dengan gambar).
29.4 Pekerjaan beton bertulang meliputi :sloof, kolom struktur, kolom praktis,
balok, plat atap, konsol beton, topi beton, ringbalok dan meja dapur beton.
Digunakan campuran adukan Beton dengan mutu beton K-100, dan K-175.
29.5 Bahan bekisting menggunakan bahan kayu klas II yang cukup kering dan
keras ( kaku ), hal ini supaya bekisting dapat untuk menahan getaran dan
kejutan gaya yang diterima tanpa berubah bentuk. Begitu juga kerapian dan
ketelitian pemasangan bekisting harus diperhatikan agar setelah bekisting
dibongkar memberikan bidang – bidang yang rata. Sebelum pengecoran
maka bekisting harus dibersihkan dari semua kotoran.
29.6 Sebelum pemasangan bekisting, baja tulangan dipasang dengan ketentuan
– ketentuan PBI-1971 dan gambar konstruksi. Baja tulangan harus diikat
dengan kuat untuk menjamin tulangan tersebut tidak berubah tempat
selama pengecoran dan harus bebas dari papan acuan atau lantai kerja
dengan memasang beton deking. Ukuran baja tulangan harus sama
sebagaimana tersebut dalam gambar. Penggantian dengan diameter lain
hanya diperkenankan atas persetujuan tertulis dari Pengawas. Pengecoran
harus dilaksanakan terus menerus dan memperoleh adukan yang rata
disarankan agar memakai beton molen. Selama pengecoran dan sebelum
beton menjadi padat, beton tersebut harus digetarkan dan disarankan
dengan mesin penggetar serta harus dihindari terjadinya cacat beton,
seperti keropos dan sarang – sarang kerikil.
29.7 Diameter dan berat tulangan harus dipasang sesuai dengan ketentuan,
dalam hal ini mengacu pada SNI 07-2025-2002 tentang Baja Tulangan
Beton. Pemakaian dan pemasangan baja tulangan apabila ada
ketidaksesuaian dengan gambar atau RAB masih dapat diberikan toleransi
sepanjang memenuhi persyaratan sebagaimana pada tabel berikut :

Spesifikasi Teknis 12
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

Tabel Toleransi diameter baja tulangan

Diameter (d) Toleransi Penyimpangan


No
( mm ) ( mm ) Kebundaran ( % )
1 6 ± 0,3
2 8 ≤ d ≤ 14 ± 0,4
Maksimum 70 dari
3 16 ≤ d ≤ 25 ± 0,5
batas toleransi
4 28 ≤ d ≤ 34 ± 0,6
5 d >346 ± 0,8
Catatan :
1. Penyimpangan kebundaran adalah perbedaan antara diameter maksimum
dan minimum dari hasil pengukuran pada penampang yang sama dari baja
tulangan beton
2. Untuk baja tulangan beton sirip, d = diameter dalam

29.8 Tulangan lengkung tidak boleh menempel pada papan cetakan atau
tumpuan lain. Untuk itu harus dibuat beton tahu dengan tebal 2 cm dan
pemasangan sesuai dengan Peraturan yang berlaku.
29.9 Semen yang dipakai harus portland cement dari merk dan mutu yang baik
atau memenuhi standar (SNI).
29.10 Agregat halus dan kasar dapat menggunakan agregat alami atau buatan,
asal memenuhi syarat menurut PBI 1971 ( NI – 2 ). Agregat tidak
mengandung bahan yang dapat merusak beton dan ketahanan tulangan
terhadap karatan.

29.11 Pelaksanaan :
a. Sewaktu pengecoran beton balok sloof, stek untuk tulangan kolom telah
disiapkan sesuai dengan gambar konstruksi
b. Pekerjaan beton di atas dilaksanakan sesuai ketentuan – ketentuan
gambar bestek/konstruksi dan apabila terjadi perbedaan ukuran agar
dibicarakan dengan Pengawas/Direksi
c. Ketentuan – ketentuan lain berlaku seperti pada ketentuan – ketentuan
yang tercantum dalam pekerjaan beton, PBI-1971 dan Peraturan Beton
SNI
d. Ukuran / dimensi pada pekerjaan ini adalah sesuai dengan gambar kerja.

29.12 Pemeliharaan :
a. Apabila pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan pada hari
berikutnya, maka tempat/batas penghentian harus disetujui Pengawas /
Direksi.
b. Beton setelah dicor selama dalam masa pengecoran harus selalu
dibasahi selama 2 minggu. Selama proses pengerasan, beton harus
dihindarkan dari pembebanan yang akan mempengaruhi struktur beton
itu sendiri.
c. Setelah umur beton dianggap cukup, bekisting dibongkar dan harus
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas / Direksi

Spesifikasi Teknis 13
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

30 PEKERJAAN PASANGAN BATU BATA

30.1 Permukaan yang akan dipasang batu bata harus bersih dan basah,
sedangkan batu bata sebelum dipasang harus dicelup / dibasahi dengan air,
batu bata yang pecah tidak boleh lebih dari 10 %
30.2 Seluruh pasangan tembok dibuat dari pasangan bata merah setebal ½ batu,
sebelum dipasang bata merah harus direndam didalam air terlebih dulu
hingga jenuh.
30.3 Pasangan bata merah dengan adukan 1 PC : 6 Ps dipergunakan pada
pekerjaan trasraam/rollag sedangkan selain trasraam digunakan pasangan
bata merah dengan adukan 1 PC : 6 Psr
30.4 Mengerjakan pasangan bata merah dilakukan secara bertahap, setiap tahap
ditunggu sampai kuat minimal 1 hari untuk pasangan berikutnya, tidak boleh
lebih dari 1 m dan pengakhirannya harus dibuat bertangga menurun untuk
menghindari keretakan dinding di kemudian hari.
30.5 Pasangan bata yang digunakan harus memakai bata merah yang utuh,
mempunyai rusuk – rusuk yang tajam dan siku, bidang – bidang sisinya
harus datar, tidak menunjukkan retak – retak, pembakarannya harus merata
dan matang.
30.6 Didalam pemasangan batu bata harus tegak lurus dan tidak boleh ada siar
vertikal yang menerus. Tebal siar tidak boleh kurang dari 2 cm.
30.7 Pekerjaan pasangan dinding bata harus terkontrol baik arah vertikal maupun
horisontal. Untuk pemasangan setengah batu yang luasnya melebihi 12 m 2
harus diberi kerangka penguat dari beton bertulang.

31 PEKERJAAN PLESTERAN & ACIAN


31.1 Semua pasangan dinding bata merah yang kelihatan harus diplester dengan
ketentuan :
a. Pasangan dinding bata merah campuran 1 Pc : 6 Ps diplester dengan
menggunakan adukan yang sama.
31.2 Semua pekerjaan beton bertulang yang kelihatan harus diplester dengan
campuran 1 PC : 6 Ps dan permukaan beton yang akan diplester
permukaannya harus dikasarkan terlebih dahulu.
31.3 Sebelum pekerjaan plesteran dilakukan, bidang – bidang yang akan diplester
harus dibersihkan lebih dulu, kemudian dibasahi dengan air agar plesteran
tidak cepat kering dan tidak retak – retak.
31.4 Plesteran dinding dan sponing / plesteran sudut semua dinding yang
diplester harus bersih dari kotoran dan disiram dengan air. Tebal plesteran
paling sedikit 1,5 cm dan paling tebal 2 cm. Plesteran yang baru saja selesai
tidak boleh langsung difinish / diselesaikan. Selama proses pengeringan
plesteran harus disiram dengan air agar tidak terjadi retak rambut akibat
proses pengeringan yang terlalu cepat, dan kemudian plesteran diperhalus
dengan acian semen.
31.5 Pekerjaan plesteran terakhir harus lurus, rata, vertikal dan tegak lurus
dengan bidang lainnya.
31.6 Finishing dari pekerjaan plesteran adalah acian. Sebelum
pelaksanaan acian, plesteran disiram air terlebih dahulu. Pekerjaan acian
harus lurus, rata, vertikal dan tegak lurus dengan bidang lainnya.

Spesifikasi Teknis 14
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

32 PEKERJAAN PENUTUP LANTAI DAN DINDING

32.1 Bahan lantai untuk pekerjaan ini terdiri dari bermacam jenis, diantaranya
menggunakan Keramik 40 x 40 cm warna putih pada ruang kelas dan ruang
guru. Keramik 40x40 cm warna pada teras sekualitas Mulia/IKAD/ROMAN.
Keramik 20 x 20 cm unpolish pada lantai KM/WC dan Keramik 20 x 25 cm
pada meja dapur sekualitas Mulia/IKAD/ROMAN. Sedang Untuk ruang
lainnya dan teras keliling menggunakan rabat beton mutu K-100. Untuk lebih
lengkap pekerjaan disesuaikan dengan RAB atau BOQ
32.2 Keramik yang akan dipasang terlebih dahulu harus mendapat persetujuan
dari Direksi / Konsultan Pengawas.
32.3 Keramik dipasang sesuai dengan gambar. Tebal pasir harus sesuai dengan
gambar dan dipadatkan dengan baik.
32.4 Lantai dan Dinding Keramik dipasang dengan adukan 1 Pc : 6 Ps ditambah
bahan perekat.
32.5 Celah antara lantai lebarnya maksimal 3 mm dan diisi bahan pengisi
berwarna yang sesuai dengan warna keramik.
32.6 Setelah keramik terpasang nat – natnya harus betul – betul lurus. Bidang
permukaan lantai keramik harus rata waterpass dan tidak ada bagian yang
bergelombang.
32.7 Keramik yang cacat, retak tepinya, noda – noda atau cacat warna tidak boleh
dipasang, jika sudah dipasang harus dibongkar dan diganti.

33 PEKERJAAN KUSEN, DAUN PINTU DAN JENDELA

33.1 Kusen untuk pintu, jendela maupun boven menggunakan kayu Kalimantan
jenis Kampas dengan kualitas baik dan sudah kering. Ukuran kusen adalah
6/15
33.2 Daun pintu yang dikerjakan adalah pintu panil menggunakan bahan kayu
kampas finishing cat kayu. Kwalitas bahan harus baik dengan ukuran sesuai
dengan gambar detail
33.3 Daun jendela menggunakan bahan kayu kampas, kwalitas baik dengan
ukuran sesuai dengan gambar detail.
33.4 Pintu KM/WC menggunakan Pintu Alumunium. Ukuran sesuai gambar atau
ukuran sesuai dengan pabrikasi. W arna sesuai petunjuk Direksi
33.5 Pelaksanaan
a. Semua bahan terlebih dahulu harus diperiksa dan diterima baik oleh
Konsultan Pengawas / Direksi
b. Pemasangan kusen harus tegak lurus dan waterpas.

34 PEKERJAAN KACA
34.1 Untuk daun jendela kaca dan kaca pada pintu panil menggunakan kaca
bening tebal 5 mm, tidak bergelombang maupun tergores. Pemasangannya
harus dilakukan dengan baik serta diberi toleransi untuk kemungkinan
menyusut dan mengembang
34.2 Sebelum dipasang, kaca yang terpakai harus sudah mendapat persetujuan
dari Direksi. Pemasangan disesuaikan dengan denah pemasangan kusen
sesuai pada gambar kerja.
34.3 Pemberian tanda pada kaca memakai kapur dan tidak boleh menggunakan
tempelan kertas.

Spesifikasi Teknis 15
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

35 PEKERJAAN PENUTUP ATAP

35.1 Bahan penutup atap menggunakan Genteng Palentong Besar (Gambek) eks
JTW yang berkualitas baik serta telah disetujui oleh Direksi dan unsur proyek
secara tertulis. Pemasangannya menyesuaikan dengan gambar
35.2 Untuk bubungan harus menggunakan bubungan dengan kualitas sejenis
( nok genteng bulat ), dipasang rapi dan rata.

36 PEKERJAAN LISTPLANK
36.1 Listplank dibuat dari Woodplank sekualitas elephant/nusaboard, dipasang
dengan lebar 20 cm dan pemasangannya sesuai dengan gambar.
36.2 Woodplank yang dipasang adalah woodplank dengan motif kayu.
36.3 Pemasangan listplank dibawah genteng harus menghasilkan bidang yang
rata dan dijamin kekuatannya, sambungannya rapi dan tidak ada bagian
yang bergelombang.
36.4 Listplank diberi warna seperti warna pada kosen pintu dan jendela atau
sesuai petunjuk Direksi.

37 PEKERJAAN BESI, PENGGANTUNG DAN PENGUNCI


37.1 Semua kunci tanam pintu menggunakan kunci tanam yang baik dan dapat
mengunci 2 kali setara merk ‘Muller’ dan diberi handle pintu. Kunci dipasang
sedemikian rupa sehingga kuat, kokoh dan berfungsi dengan baik.
37.2 Untuk setiap daun pintu dipasang engsel nylon 3 ( tiga ) buah ukuran 10 cm
pada daun pintu dan kusen.
37.3 Untuk setiap daun jendela dipasang engsel nylon 2 ( dua ) buah ukuran 8 cm
pada daun jendela dan kusen.
37.4 Sebelum penyerahan pertama, semua peralatan tersebut diatas harus diberi
minyak oli supaya dapat berfungsi dengan baik.

38 PEKERJAAN INSTALASI AIR DAN SANITASI


38.1. Pekerjaan Sanitasi :
a. Saluran air bersih sebagai sumber air bersih berasal dari sumur gali
dengan pompa air menuju kran pada KM/WC dan wastafel dengan ukuran
¾". Saluran pembagi ( air kotor ) pada bangunan KM/WC menggunakan
pipa PVC dengan ukuran 3” dan 4" menuju septictank dan peresapan.
Ukuran septiktank & peresapan disesuaikan dengan gambar detail.
b. Saluran pembuang dari washtafel ( air kotor ) menggunakan pipa PVC
dengan ukuran 1"
c. Untuk saluran pembuang dari KM/W C menggunakan pipa PVC dengan
ukuran 4".
d. Closed menggunakan Kloset jongkok sekualitas INA pada KM/W C
( warna ditentukan kemudian )
e. Washtafel menggunakan washtafel gantung bulat sekualitas INA
( warna ditentukan kemudian )
f. Assesoris lainnya ( tempat sabun keramik tanam, kran air dari besi dan
floor drain dari plastik) menyesuaikan volume pada BOQ

Spesifikasi Teknis 16
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

39 PEKERJAAN LISTRIK

39.1 Lingkup pekerjaan :


a. Penyambungan Listrik Baru dengan Daya 1300 VA.
b. Pemasangan Instalasi siap menyala.
c. Pemasangan Lampu – lampu penerangan.
d. Pemasangan Stop Kontak, Skakelar dan lain – lain.

39.2 Pekerjaan Instalasi Listrik :


a. Pemasangan Instalasi listrik harus dilaksanakan oleh Instalatur listrik
yang telah mempunyai Surat Ijin / mendapat pengesahan dari PLN.
b. Pekerjaan listrik pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan –
ketentuan yang tercantum VDE / DIN dan Peraturan Umum Instalasi
Listrik yang dikeluarkan oleh PLN.
c. Penilaian baik terhadap hasil pekerjaan diputuskan oleh hasil
pemeriksaan Direksi.
d. Pemborong wajib menyediakan gambar kerja ( shop drawing ) dan
gambar hasil akhir pemasangan, gambar revisi sesuai dengan standart
PLN setelah terlebih dahulu disetujui Direksi.
e. Untuk instalasi listrik / titik lampu, stop kontak dan skakelar digunakan
kabel jenis NYM merk Supreme/Eterna atau sekualitas dan memenuhi
persyaratan untuk tegangan 220 volt.
f. Stop kontak dan skakelar menggunakan merk “ Broco “ atau sekualitas
yang baik dan disetujui oleh Direksi. Dipasang pada ketinggian 1,5 m dari
permukaan lantai.
g. Semua titik lampu dan stop kontak dilengkapi dengan arde kawat,
pengawatan arde dilakukan untuk setiap grup pasang dengan ukuran
minimal 1,5 m. Arde dari panel utama ditanam kira – kira 6 m mencapai
muka air tanah dengan menggunakan pipa besi 1,5” serta kawat BC 16
mm dan dilengkapi dengan bak kontrol.
39.3 Pekerjaan Lampu, terdiri dari :
a. Lampu SL 18 Watt setara Phillips ( sesuai gambar kerja )
b. Pemasangan instalasi listrik dan lampu menyesuaikan gambar atau
petunjuk direksi/konsultan pengawas. Adapun jumlah disesuaikan dengan
BOQ

40 PEKERJAAN BAJA

40.1. LINGKUP PEKERJAAN


Termasuk di dalam lingkup pekerjaan konstruksi ini adalah juga pekerjaan-
pekerjaan persiapan guna pelaksanaan rangka atap, penyediaan tenaga,
bahan material, dan peralatan. Secara keseluruhan lingkup pekerjaan
konstruksi rangka atap ini meliputi :
-. Pekerjaan Konstruksi Baja Ringan

40.2. PEKERJAAN KONSTRUKSI RANGKA ATAP


40.2.1. Lingkup Pekerjaan.
Termasuk di dalam lingkup pekerjaan konstruksi baja atap ini adalah
penyediaan tenaga, bahan material dan peralatan untuk pelaksanaan
pekerjaan konstruksi baja atap.

Spesifikasi Teknis 17
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

40.2.2. Bahan.
1. Bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini :
a. Rangka Atap Baja Ringan
b. Bahan baja ringan terbuat dari Zincalum
c. Dimensi atau profil yang digunakan sesuai pada brosur yang
diajukan oleh rekanan saat memasukkan penawaran sebagai
dokumen pendukung lelang.
d. Konstruksinya harus tahan terhadap kekuatan angin dan tahan
terhadap karat.
e. Adanya dukungan dari pabrik, perhitungan struktur dan
garansi minimal 10 tahun yang masuk dalam berkas
penawaran.

Seluruh bahan baja ringan yang akan digunakan harus memenuhi standar
baja minimum yaitu G550 ( kuat leleh 550 Mpa ) dan diberikan contohnya
terlebih dahulu untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan Pengawas /
Direksi, sebelum boleh didatangkan dilapangan pekerjaan.

40.2.3. Pelaksanaan.
1. Bentuk dan dimensi kuda-kuda serta dimensi batang-batang dan
plat simpulnya harus dilaksanakan sesuai gambar rancangan
pelaksanaan serta sesuai dengan keadaan bentang
kedudukannya di lapangan pekerjaan. Untuk itu Kontraktor
Pelaksana harus membuat "gambar-gambar pelaksanaan" lebih
dahulu. Pekerjaan kuda-kuda baja ini tidak diperkenankan
dilaksanakan sebelum "gambar pelaksanaan" disetujui Direksi.
2. Pembuatan kuda-kuda baja harus dilaksanakan di tempat yang
datar dengan lantai kerja yang keras. Bila dilaksanakan di luar
lapangan pekerjaan, Kontraktor harus meminta ijin secara tertulis
kepada Direksi dan menunjukkan bengkel tempat dikerjakannya
konstruksi untuk mendapatkan persetujuan dari Direksi sebelum
pekerjaan ini dilaksanakan.
3. Pemotongan harus dilaksanakan dengan mesin standard.
Pelubangan harus menggunakan bor. Tepian yang tajam akibat
pemotongan maupun pemboran harus ditumpulkan dengan
gerenda.
4. Pemasangan kuda-kuda hanya boleh dilaksanakan bila kolom-
kolom dan balok beton penumpunya telah berumur paling sedikit
14 (empat belas) hari dan baut-baut pengikatnya telah terpasang
dengan benar.
5. Pengangkatan kuda-kuda harus dilaksanakan secara hati-hati
hingga tidak menimbulkan puntiran-puntiran pada bidang kuda-
kuda.
6. Untuk itu sebelum diangkat batang-batang pejepit sebagai klem
pengaku bidang kuda-kuda harus dipasang lebih dahulu dan tidak
boleh dilepas sebelum trek stang dipasang serta konstruksi
kudakuda telah benar-benar dalam keadaan diam.

41. PERSONIL INTI, ALAT PENDUKUNG DAN SURAT DUKUNGAN


41.1 Personil inti minimal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan ini adalah :
1. 1 orang berijasah SMK jurusan Bangunan ( ber SKT ) Bangunan Gedung
2. 1 orang berijasah SMK/SMA sebagai administrasi proyek

Spesifikasi Teknis 18
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

41.2 Peralatan minimal yang digunakan :


1. Beton Molen = 1 buah
2. Stamper = 1 buah
3. Pick Up = 2 buah

Yang dilengkapi dengan bukti kepemilikan / dukungan sewa. Untuk bukti


kepemilikan kendaraan bermotor yang sah adalah BPKB dan STNK kendaraan
tersebut.

41.3 SURAT DUKUNGAN DAN ATAU SURAT PERNYATAAN/KETERANGAN.


1. Surat Pernyataan dari calon Penyedia Barang/Jasa (rekanan) bersedia
untuk menyelesaikan dan membayar semua biaya yang masuk/include
dalam harga penawaran, seperti ASTEK, Galian Gol. C, IMB dan ijin-ijin
lainnya.

42 PENUTUP
42.1 Sebelum penyerahan pertama, pemborong wajib meneliti semua bagian
pekerjaan. Pekerjaan yang belum sempurna harus diperbaiki, halaman
harus ditata rapi dan semua yang tidak berguna harus disingkirkan dari
proyek.
42.2 Meskipun telah ada pengawas dan unsur – unsur lainnya, semua
penyimpangan dari ketentuan bestek dan gambar menjadi tanggungan
pelaksana, untuk itu pelaksana harus menyelesaikan pekerjaan sebaik
mungkin.
42.3 Selama masa pemeliharaan, pemborong wajib merawat, mengamankan dan
memperbaiki segala cacat yang timbul, sehingga sebelum penyerahan ke II
dilaksanakan, pekerjaan benar – benar telah sempurna.
42.4 Segala sesuatu yang belum tercantum dalam RKS ini dan yang masih
termasuk dalam lingkup pelaksanaan pekerjaan, maka Pemborong /
Kontraktor harus menyelesaikan sesuai dengan petunjuk atau perintah dari
Direksi, sesudah atau selama berjalannya pekerjaan serta perubahan –
perubahan diatur dalam Berita Acara Aanwijzing.
42.5 Hal yang timbul dalam pelaksanaan dan diperlukan adanya
penyelesaiannya di lapangan, maka akan dibicarakan dan diatur oleh
Konsultan Pengawas, namun demikian harus membuat suatu Surat Tertulis
yang disahkan oleh Direksi
42.6 Pemborong / Kontraktor diharuskan menyiapkan dengan jumlah yang cukup
peralatan penunjang maupun bahan bangunan yang digunakan untuk
pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

42.7 Pelaksanaan seluruh pekerjaan harus sesuai dengan Gambar Pelaksanaan


dan mendapat persetujuan dari konsultan pengawas / Direksi terlebih
dahulu.
42.8 Pekerjaan lain – lain yang merupakan komponen pelengkap fasilitas fisik
bangunan harus dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi dalam pasal –
pasal di atas.
42.9 Apabila didalam spesifikasi teknis ini tidak disebutkan hal – hal yang
dipasang, dibuat, dilaksanakan dan disediakan, tetapi dalam pelaksanaan
pekerjaan hal ini menjadi bagian yang nyata dilaksanakan dan diselesaikan,
maka harus dianggap bagian tersebut telah dimuat dalam spesifikasi ini,
jadi tidak terhitung sebagai pekerjaan tambah.
42.10 Pekerjaan harus selesai dilaksanakan dalam jangka waktu …… ( ………….
….. ) hari kalender sejak tanggal penerbitan SPMK dan diserahkan untuk
yang pertama kalinya.

Spesifikasi Teknis 19
Pembangunan UGB TK N Pembina Pecalungan

42.11 Sebelum pekerjaan diserahkan, bangunan harus dirawat dan dibersihkan


dari segala kotoran dan dirapikan kekurangan – kekurangan yang ada,
termasuk merapikan, membersihkan dan merawat pekarangan/halaman
sehingga bangunan dapat difungsikan.

42.12 Rekanan / Kontraktor Pelaksana dianggap sudah mempelajari / memahami


maksud dan tujuan perencana. Rekanan/Kontraktor Pelaksana harus
membuat gambar yang sesuai dengan apa yang dilaksanakan ( As Built
Drawing ) yang jelas, memperhatikan perbedaan atau perubahan antara
gambar-gambar dalam Dokumen Kontrak dan pekerjaan yang dilaksanakan.
Gambar-gambar tersebut harus diserahkan dalam rangkap 2 (dua) sebelum
Serah Terima Tahap I ( STT I ).
42.13 Hal – hal lain yang belum diatur dalam spesifikasi ini yang dianggap perlu,
akan ditentukan kemudian dalam naskah Berita Acara Penjelasan / Kontrak.

Batang, 2 Juli 2018


CV. PELAWANGAN

Pejabat Pembuat Komitm


MUFTI YUDIYA MARANTIKA
Direktur

Spesifikasi Teknis 20