Anda di halaman 1dari 18

Anemia Defisiensi Besi pada Kehamilan

Tugas Kelompok Obstetric and Gynecology

KELOMPOK 9 :

1. Anggita D. Bunthu Madika (20150811014022)


2. Claudya Rebecca Lidya (20150811014027)
3. Harry A.P. Sinaga (20150811014036)
4. Mufliha Ulfa Dyadra (20150811014046)
5. Nurul Mukarromah (20150811014049)
6. Sri Nurwajada (20150811014053)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih dan
pertolongan-Nya sehingga penyusunan makalah dengan judul “Anemia Defisiensi
Besi pada Kehamilan” dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun guna
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan.
Keberhasilan penyusunan makalah ini tidak lepas dari kerjasama dan kekompakan
seluruh anggota kelompok 9 sendiri. Namun, tentu kami menyadari bahwa masih
banyak ketidak sempurnaan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan kritik serta saran dari pembaca.
Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat terutama untuk
menambah wawasan kita menyenai Anemia Defisiensi Besi pada Kehamilan.

Jayapura, 02 Maret 2019

Kelompok 9

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i

DAFTAR ISI ......................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisa ................................................................................ 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi ............................................................................................ 3
2.2 Etiologi ............................................................................................ 3
2.3 Insiden dan Penyebab Anemia ......................................................... 4
2.4 Klasifikasi......................................................................................... 4
2.5 Patofisiologi ..................................................................................... 5
2.6. Faktor-faktor yang mempengaruhi Anemia pada Kehamilan .......... 6
2.7 Tanda dan Gejala Anemia pada Ibu Hamil ...................................... 8
2.8 Pengaruh Anemia pada Kehamilan .................................................. 9
2.9 Diagnosis Anemia pada Kehamilan ................................................. 10
2.10 Tata laksana ..................................................................................... 11
2.11 Pengaruh Anemia Defisiensi Besi .................................................... 11
2.12 Pencegahan ....................................................................................... 12

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan....................................................................................... 14
3.2 Saran ................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Anemia adalah suatu keadaan dimana tubuh memiliki jumlah sel darah merah
(eritrosit) yang terlalu sedikit, yang mana sel darah merah itu mengandung
haemoglobin yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Menurut WHO (2018), secara global prevalensi anemia pada ibu hamil di seluruh
dunia adalah sebesar 41,8%. Prevalensi anemia pada ibu hamil diperkirakan di
Asia sebesar 48,2%, Afrika 57,1%, Amerika 24,1%, dan Eropa 25,1%.
Berdasarkan data hasil Riset Keseharan Dasar (Riskesdas) tahun 2013,
prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia sebesar 37,1%. Pemberian tablet
Fe di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 85%. Presentase ini mengamai
peningkatan dibandingkan pada tahun 2011 yang sebesar 83,3%. Meskipun
pemerintah sudah melakukan program penganggulangan anemia pada ibu hamil
yaitu dengan memberikan 90 table Fe kepada ibu hamil selama periode
kehamilan dengan tujuan menurunkan angka anemia ibu hamil, tapi kejaadian
anemia masih tinggi.
Anemia dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti asupan zat gizi yang
tidak memadai, perubahan fisiologi tubuh selama hamil, sosial ekonomi rendah,
akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan rendah, serta mengalami infeksi dan
penyakit kronis.
Berdasarkan latar belakang di atas, kami hendak membuat makalah dengan
judul “Anemia Defisiensi Besi pada Kehamilan”

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan anemia defisiensi besi pada kehamilan?
2. Apakah etiologi anemia defisiensi besi pada kehamilan?
3. Bagaimanakah insiden dan penyebab anemia?
4. Bagaimanakah klasifikasi anemia defisiensi besi pada kehamilan

4
5. Bagaimanakah patofisiologi terjadinya anemia defisiensi besi pada
kehamilan?
6. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada kehamilan?
7. Apakah tanda dan gejala anemia pada Ibu Hamil?
8. Bagaimanakah pengaruh anemia pada kehamilan?
9. Bagaimanakah diagnosis anemia pada kehamilan?
10. Bagaimanakah tata laksana anemia pada kehamilan?
11. Bagaimanakah pengaruh anemia defisiensi besi pada kehamilan?
12. Bagaimanakah pencegahan terhadap terjadinya anemia defisiensi besi pada
kehamilan?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini untuk membahas lebih lanjut dan
menambah wawasan pembaca tentang Anemia Defisiensi Besi pada Kehamilan
dan untuk memenuhi persyaratan tugas mata kuliah Ilmu Kebidanan dan
Penyakit Kandungan.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Anemia defisiensi besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat
berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoesis, karena cadangan besi kosong
(depleted iron store) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan
hemoglobin berkurang. ADB ditandai dengan anemia hipokromik mikrositer dan
hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi kosong. Berbeda dengan
ADB, pada anemia akibat penyakit kronik penyediaan besi untuk eritropoesis
berkurang karena pelepasan besi dari sistem retikuloendotelial berkurang,
sedangkan cadangan besi masih normal. Pada anemia sideroblastik penyediaan
besi untuk eritropoesis berkurang karena gangguan mitokondria yang
menyebabkan inkorporasi besi ke dalam heme terganggu. Oleh karena itu ketiga
jenis anemia ini digolongkan sebagai anemia dengan gangguan metabolisme besi
(Setiati, 2017).

2.2. Etiologi
Dua penyebab tersering anemia pada kehamilan dan masa nifas adalah
defisiensi besi dan kehilangan darah akut. Centers for Disease Control and
Prevention (1989) memperkirakan bahwa 8 juta wanita Amerika usia subur
mengalami defisiensi besi. Pada gestasi tunggal yang khas, rerata kebutuhan ibu
akan besi mendekati 1.000 mg. Dari jumlah ini, 300 mg untuk janin dan plasenta;
500 mg untuk ekspansi massa hemoglobin ibu; dan 200 mg yang dibuang secara
normal melalui usus, urin, dan kulit. Jumlah total 1.000 mg jauh melebihi
simpanan besi pada sebagian besar wanita dan menyebabkan anemia defisiensi
besi, kecuali jika yang bersangkutan diberi suplemen besi.
Pada peningkatan volume darah selama trimester kedua, defisiensi besi
seringkali termanifestasi sebagai penurunan hemoglobin yang cukup bermakna.
Di trimester ketiga, penambahan suplemen besi dibutuhkan untuk meningkatkan

6
hemoglobin ibu dan dibawa ke janin. Karena jumlah besi yang dialihkan ke janin
tetap sama baik pada ibu yang normal maupun ibu dengan anemia defisiensi besi,
maka neonatus yang lahir dari ibu dengan anemia defisiensi besi berat tidak
mengalami defisiensi besi (Cunningham, 2012).

2.3. Insiden dan Penyebab Anemia


Frekuensi anemia selama kehamilan bergantung terutama pada status besi
sebelumnya dan suplementasi pranatal. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada
wanita miskin dan dipengaruhi oleh kebiasaan makan (American College of
Obstetricians and Gynecologists, 2008). Sebagai contoh, Ren dkk., (2007)
mendapatkan bahwa 22 persen dari 88.149 wanita Cina mengalami anemia pada
trimester pertama. Pada studi-studi dari Amerika Serikat, Taylor dkk., (1982)
melaporkan bahwa kadar hemoglobin rerata pada aterm adalah 12,7 g/dL pada
wanita yang mendapat suplemen besi dibandingkan dengan 11,2 g/dL pada
mereka yang tidak. Bodnar dkk., (2001) mempelajari kohort 59.248 kehamilan
dan mendapatkan prevalens 27 persen untuk anemia pascapartum. Meskipun hal
ini berkorelasi erat dengan anemia pranatal, 20 persen wanita dengan kadar
hemoglobin pranatal normal mengalami anemia pascapartum yang disebabkan
oleh perdarahan saat melahirkan (Cunningham, 2012)

2.4. Klasifikasi
Klasifikasi Anemia dalam kehamilan menurut Tarwoto,dkk, (2007) adalah
sebagai berikut:
1. Anemia Defesiensi Besi: Anemia defesiensi besi merupakan jenis anemia
terbanyak didunia, yang disebabkan oleh suplai zat besi kurang dalam
tubuh.
2. Anemia Megaloblastik: Anemia yang disebabkan karena defesiensi
vitamin B12 dan asam folat.

7
3. Anemia Aplastik: Terjadi akibat ketidaksanggupan sumsum tulang
membentuk sel-sel darah. Kegagalan tersebut disebabkan kerusakan
primer sistem sel yang mengakibatkan anemia.
4. Anemia Hemolitik: Anemia Hemolitik disebabkan karena terjadi
peningkatan hemolisis dari eritrosit, sehingga usianya lebih pendek.
5. Anemia Sel Sabit: Anemia sel sabit adalah anemia hemolitika berat dan
pembesaran limpa akibat molekul Hb.

2.5. Patofisiologi
Perubahan hermatologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena
perubahan sirkulasi yang semakin meningkat terhadap plasenta dan pertumbuhan
payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester II
kehamilan dan maksimum terjadi pada bulan ke-9 dan meningkat sekitar 1000
ml, menurun sedikit menjelang atern serta kembali normal 3 bulan setelah partus.
Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasma, yang
menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron (Rukiah, 2010).
Selama kehamilan kebutuhan tubuh akan zat besi meningkat sekitar 800-1000
mg untuk mencukupi kebutuhan seperti terjadi peningkatan sel darah merah
membutuhkan 300-400 mg zat besi dan mencapai puncak pada usia kehamilan 32
minggu, janin membutuhkan zat besi sekitar 100-200 mg dan sekitar 190 mg
terbuang selama melahirkan. Dengan demikian jika cadangan zat besi sebelum
kehamilan berkurang maka pada saat hamil pasien dengan mudah mengalami
kekurangan zat besi (Riswan, 2003).
Gangguan pencernaan dan absorbs zat besi bisa menyebabkan seseorang
mengalami anemia defisiensi besi. Walaupun cadangan zat besi didalam tubuh
mencukupi dan asupan nutrisi dan zat besi yang adikuat tetapi bila pasien
mengalami gangguan pencernaan maka zat besi tersebut tidak bisa diabsorbsi dan
dipergunakan oleh tubuh (Riswan, 2003).
Anemia defisiensi besi merupakan manifestasi dari gangguan keseimbangan
zat besi yang negatif, jumlah zat besi yang diabsorbsi tidak mencukupi

8
kebutuhan tubuh. Pertama-tama untuk mengatasi keseimbanganyang negatif ini
tubuh menggunakan cadangan besi dalam jaringan cadangan. Pada saat cadangan
besi itu habis barulah terlihat tanda dan gejala anemia defisiensi besi (Riswan,
2003).
Berkembangnya anemia dapat melalui empat tingkatan yang masing-masing
berkaitan dengan ketidaknormalan indikator hematologis tertentu. Tingkatan
pertama disebut dengan kurang besi laten yaitu suatu keadaan dimana banyaknya
cadangan besi yang berkurang dibawah normal namun besi didalam sel darah
merah dari jaringan tetap masih normal. Tingkatan kedua disebut anemia kurang
besi dini yaitu penurunan besi cadangan terus berlangsung sampai atau hampir
habis tetapi besi didalam sel darah merah dan jaringan belum berkurang.
Tingkatan ketiga disebut dengan anemia kurang besi lanjut yaitu besi didalam sel
darah merah sudah mengalami penurunan namun besi dan jaringan belum
berkurang. Tingkatan keempat disebut dengan kurang besi dalam jaringan yaitu
besi dalam jaringan sudah berkurang atau tidak ada sama sekali (Kusharto,
1992).

2.6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Anemia Pada Kehamilan


Anemia pada kehamilan yang terjadi pada trimester pertama sampai ketiga
dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
Status gizi ibu pada saat hamil mempengaruhi berat badan janin dalam
kandungan, apabila status gizi buruk, baik sebelum kehamilan dan selama
kehamilan akan menyebabkan berat badan lahir rendah (BBLR), disamping itu
akan mengakibatkan terhambatnya otak janin, anemia pada bayi baru lahir. Bayi
baru lahir akan mudah terkena infeksi (Supariasa, 2001).
Asupan gizi sangat menentukan kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya.
Kebutuhan gizi pada masa kehamilan akan meningkat sebesar 15 %
dibandingkan dengan kebutuhan wanita normal, peningkatan gizi untuk
(mammae), volume darah, plasenta,air ketuban dan pertumbuhan janin. Makanan
yang dikomsumsi ibu hamil akan digunakan untuk pertumbuhan janin sebesar

9
40% dan sisanya 60% digunakan untuk pertumbuhan ibunya. Secara normal ibu
hamil akan mengalami kenaikan berat badan sebesar 11-13Kg. Hal ini terjadi
karena kebutuhan asupan makanan ibu hamil meningkat seiring dengan
bertambahnya usia kehamilan (Huliana, 2001).
Faktor umur ibu hamil berkontribusi terhadap kejadian anemia selama hamil,
Ibu hamil yang berusia kurang dari 20 tahun masih membutuhkan zat besi lebih
untuk keperluan kebutuhan pertumbuhan diri sendiri dan juga untuk janinnya.
Oleh karena itu, hamil di usia 20 tahun dengan asupan gizi yang tidak adekuat
memiliki resiko anemia defisiensi besi penelitian Nelwanti (2005) menemukan
bahwa ibu hamil yang menderita anemia paling bayak pada usia resiko yaitu
kurang dari 20 tahun sebesar 58% (Nelwanti, 2005).
Paritas secara luas mencakup gravid/jumlah kehamilan yaitu kehamilan yang
berulang atau jumlah partus yang banyak lebih meningkat kejadian anemia akibat
banyaknya darah yang keluar selama proses persalinan, angka kejadian pada
kehamilan makin tinggi dengan semakin tingginya paritas (Hasibuan, 1997
dalam Sidabuke, 2003).
Penelitian Sidabuke (2003) menjelaskan bahwa terjadi peningkatan anemia
pada ibu hamil dengan paritas ≥ 5 sebesar 36,23%. Jarak antara kehamilan yang
pendek (kurang dari 2 tahun) mempunyai resiko untuk menderita anemia
menurut anjuran yang dikeluarkan oleh badan koordinasi keluarga berencana
(BKKBN) jarak kelahiran yang ideal adalah 2 tahun atau lebih karena jarak
kelahiran yang pendek akan menyebabkan seorang ibu belum cukup untuk
memulihkan kondisi tubuhnya setelah melahirkan sebelumnya. Maka semakin
pendek jarak kehamilan resiko terjadi anemia makin meningkat (Hasibuan, 1997
dalam Sidabuke, 2003).
Faktor yang menggambarkan tingkat sosio ekonomi salah satunya adalah
tingkat pendidikan dan pekerjaan. Tingkat sosio ekonomi yang rendah dapat
mempengaruhi kejadian anemia. Angka kejadian anemia pada ibu-ibu dengan
kelompok pekerjaan suami (petani, nelayan, pekerja lepas) lebih tinggi dari
kelompok pekerjaan suami (pegawai negeri, swasta dan dagang). Hal ini

10
mencakup kemampuan dalam hal membeli dan memenuhi makanan bergizi dan
suplemen tambahan yang dibutuhkan pada saat hamil (Hasibuan, 1997 dalam
Sidabuke, 2003). Ibu hamil yang berpendidikan rendah menderita anemia
sebanyak 60%, sedangkan ibu hamil yang berpendidikan tinggi menderita
sebanyak 17,4% (Fishkar dkk, 1993 dalam Nelwanti, 2004).
Pemeriksaan Antenatal Care, pada pemeriksaan antenatal dilakukan
pemantauan dan pemeriksaan terhadap keadaan anemia pada ibu hamil sehingga
apabila ibu menderita gejala anemia dapat dideteksi sedini mungkin dengan
pemeriksaan antenatal yang secara teratur untuk diberi penanganan segera. Pada
pemeriksaan ini tablet penambahan darah (tablet Fe) juga diberikan pada ibu
yang tidak mengalami anemia untuk mencegah terjadinya anemia. Pada beberapa
penelitian yang sudah dilakukan bahwa jumlah penderita semakin menurun pada
kelompok yang sering mengunjungi klinik antenatal dan meningkat pada
kelompok yang tidak melakukan pemeriksaan antenatal (Hasibuan, 1997 dalam
Sidabuke, 2003).

2.7. Tanda Dan Gejala Anemia Pada Ibu Hamil


Gejala yang khas pada anemia jenis ini adalah kuku menjadi rapuh dan
menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok, gejala seperti ini disebut
koilorika. Selain itu, anemia jenis ini juga mengakibatkan permukaan lidah
menjadi licin, dinama hal ini karena adanya peradangan pada sudut mulut dan
nyeri pada saat menelan. Gejala anemia pada ibu hamil yang paling sering
dijumpai yaitu cepat lelah, sering pusing, mata berkunang–kunang , malaise,
lidah luka, nafsu makan turun, konsentrasi hilang dan nafas pendek jika sudah
parah. Bila kadar Hb < 7gr% maka gejala dan tanda anemia akan jelas. Nilai
ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil
berdasarkan kriteria WHO 2001 ditetapkan 3 kategori yaitu:
a. Normal : ≥11 gr/dl
b. Anemia ringan : 9-10 gr/dl
c. Anemia sedang : 7-8 gr/dl

11
d. Anemia berat : < 7 gr/dl
Menurut Proverawati (2007) banyak gejala anemia selama kehamilan,
meliputi: merasa lelah atau lemah, kulit pucat progresif, denyut jantung cepat,
sesak napas, dan konsentrasi terganggu. Keluhan anemia yang paling umum
dijumpai pada masyarakat adalah yang lebih dikenal dengan 5 L yaitu letih, lesu,
lemah, lelah dan lalai. Disamping itu penderita kekurangan zat besi akan
menurunkan daya tahan tubuh yang mengakibatkan mudah terkena infeksi.

2.8. Pengaruh Anemia Dalam Kehamilan


Pengaruh anemia kehamilan pada ibu dapat menyebabkan resiko dan
komplikasi antara lain: anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah
secara normal, dan terkena penyakit infeksi (Lubis, 2003). Resiko meninggal
dalam proses persalinan 3,6 kali lebih besar dibanding ibu hamil yang tidak
anemia terutama karena pendarahan dan atau sepsis. Dari beberapa penelitian di
Asia disimpulkan bahwa anemia memberikan kontribusi minimal 23% dari total
kematian ibu di Asia (Ross & Thomas dalam Lubis, 2003).
Pada saat proses persalinan, masalah yang timbul adalah persalinan sebelum
waktunya (prematur), pendarahan setelah persalinan dengan operasi cenderung
meningkat (Lubis, 2003). Anemia pada ibu hamil juga mempengaruhi proses
pertumbuhan janin. Akibat yang ditimbulkan seperti keguguran, abortus, bayi
lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi asfiksia
intrapartum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan rendah (BBLR)
(Lubis, 2003). Hal penelitian Lubis (2003) pada analisa bivariat anemia batas 9
gr/dl dan anemia berat secara statistik tidak ditemukan nyata melahirkan bayi
BBLR. Namun untuk melahirkan bayi mempunyai resiko 3,081 kali. Sedangkan
dari hasil analisa multivariate dengan memperhatikan masalah riwayat kehamilan
sebelumnya menunjukkan bahwa ibu hamil penderita anemia berat memperoleh
resiko untuk melahirkan BBLR 4,2 kali lebih tinggi dibanding dengan yang tidak
menderita anemia berat.

12
2.9. Diagnosis Anemia Pada Kehamilan
a. Pemeriksaan Fisik
Manifestasi klinis dari anemia pada kehamilan yang disebabkan karena
kekurangan zat besi sangat bervariasi walaupun tanpa gejala, anemia dapat
menyebabkan tanda gejala seperti letih, sering mengantuk, malaise, pusing,
lemah, nyeri kepala, luka pada lidah, kulit pucat, konjungtiva, bantalan kuku
pucat, tidak ada nafsu makan, mual dan muntah (Varney, 2006).
Menentukan seseorang mengalami anemia melalui pemeriksaan fisik
sangatlah sulit karena banyak pasien yang asintomatis. Oleh karena itu perlu
dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan anemia pasti.
b. Pemeriksaan Laboratorium
Hemoglobin adalah parameter yang dingunakan secara luas untuk menetapkan
prevalensi anemia (Nyoman, 2002). Keuntungan metode pemeriksaan Hb adalah
mudah, sederhana dan penting bila kekurangan besi tinggi, seperti pada
kehamilan sedangkan keterbatasan pemeriksaan Hb adalah spesifitasnya kurang
yaitu sekitar 65-99% dan sensifitasnya 80-90% (Riswan, 2003).
Anemia pada ibu hamil berdasarkan pemeriksaan dan pengawasan Hb dengan
Sahli dapat digolongkan berdasarkan berat ringannya terbagi menjadi : anemia
berat jika Hb 7gr %, anemia sedang jika kadar Hb antara 7 sampai 8 gr % dan
bila anemia ringan jika kadar Hb antara 9 sampai 10 gr % (Manuaba, 2001).
Metode yang paling sering digunakan di laboratorium dan paling sederhana
adalah metode Sahli dan sampai saat ini baik di Puskesmas maupun di beberapa
Rumah sakit. Pada metode sahli, hemoglobin dihidrolisis dibentuk dengan HCL
menjadi forroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme
yang segera bereaksi dengan ion CL membentuk Ferrihemechlorid yang juga
disebut hematin atau hemin yang berwarna coklat. Warna yang terbentuk ini
dibandingkan dengan warna standard, karena membandingkan pengamatan
dengan mata secara langsung tanpa menggunakan alat, maka subjektivitas hasil
pemeriksaan sangat berpengaruh hasil pembacaan (Supariasa dkk, 2001).

13
2.10 Tatalaksana
Terapi Non-medikamentosa (Arifputera, 2014)
 Konsumsi makanan yang mengandung banyak zat besi : hati, daging
merah, sayuran hijau. Selain itu meningkatkan konsumsi enhancer
penyerapan besi : buah-bahan dan sayuran (vitamin C)
 Menghindari penghambat penyerapan besi, seperti kopi dan teh
Terapi Medikamentosa (Arifputera, 2014)
 Pemberian preparat besi oral ; fero sulfat, fero fumarat, atau glukonat.
Sediaan dan dosis preparat besi dapat dilihat pada table dibawah ini.
Frekuensi pemberian 1 kali sehari, dilanjutkan sampai 3 bulan setelah
melahirkan untuk mengembalikan cadangan besi.
Sediaan Kandungan Besi Dosis Mengandung 60 mg
Elemental (%) Besi Elemental (mg)
Fe fumarat 30 200
Fe glukonat 11 550
Fe sulfat 20 300

 Apabila preparat oral tidak bisa ditoleransi, dapat diberikan secara IV :


fero sukrosa/fero dekstran. Preparat intravena juga diberikan pada pasien
anemia berat (Hb<8 gr/dL)
 Pemberian tablet vitamin C

2.11 Pengaruh Anemia Defisiensi Besi


Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu dan juga
bayi dalam kandunggan. Penyulit- penyulit yang timbul akibat anemia adalah :
keguguran (abortus), persalinan preterm, persalinan lama akibat kelelahan otot
Rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan
karena tidak adanya konraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat
bersalin maupun pasca bersalin, serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat

14
menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksis akibat anemia dapat
menyebabkan syok dan kematian ibu pada persaianan (Saifudin, 2006)
Pengaruh anemia pada kehamilan. Resiko pada masa antenatal berat badan
kurang, plasenta previa, eklampsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa
intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intracranial,
syok, dan masa pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan komplikasi
yang dapat terjadi pada neonates antara lain premature, apgar score rendah,
gawat janin. Bahaya pada trimester II dan trimester III, anemia dapat
menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan antepartum, gangguan
pertumbuhan janinndalam Rahim, asfiksis intrapartum sampai kematian,
gestosis dan mudah terkena infeksi dan dekompensai kordis hingga kematian
ibu. Bahaya anemia pada saat persalinan, dapat menyebabkan gangguan his-
kekuatan pengejan, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan
tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan
operatif (Mansjoer, 2008)

2.12 Pencegahan
Upaya yang dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi kurang zat besi
pada ibu hamil menurut Departemen Kesehatan 2001 adalah :
1. Meningkatkan konsumsi zat besi dan sumber alami, terutama makanan
sumber hewani (hem iron) yang mudah diserap seperti hati, daging, ikan.
Selain itu ditingkatkan juga makanan yang banyak mengandung vitamin
C dan vitamin A (buah-buahan dan sayuran) untuk membantu penyerapan
zat besi dan membantu proses pembentukan Hb.
2. Fotifikasi bahan makanan yaitu menambahkan zat besi, asam folat,
vitamin A dan asam amino esensial pada bahan makanan yang dimakan
secara luas oleh kelompok sasaran. Penambahan zat besi ini umumnya
dilakukan pada bahan makanan hasil produksi industry pangan.
3. Suplemenatsi besi-folat secara rutin selama jangka waktu tertentu,
bertujuan untuk meningkatkan kadar Hb secara cepat. Dengan demikian

15
suplemen zat besi hanya merupakan salah satu upaya pencegahan dan
penaggulangan kurang besi yang perlu diikuti dengan cara lain.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu dan juga
bayi dalam kandunggan. Penyulit- penyulit yang timbul akibat anemia adalah :
keguguran (abortus), persalinan preterm, persalinan lama akibat kelelahan otot
Rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan
karena tidak adanya konraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat
bersalin maupun pasca bersalin, serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat
menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksis akibat anemia dapat
menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan.
Pengaruh anemia pada kehamilan. Resiko pada masa antenatal berat badan
kurang, plasenta previa, eklampsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa
intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intracranial,
syok, dan masa pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan komplikasi
yang dapat terjadi pada neonates antara lain premature, apgar score rendah,
gawat janin. Bahaya anemia pada saat persalinan, dapat menyebabkan
gangguan his-kekuatan pengejan, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan
tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu
tindakan operatif

3.2 Saran
Saran dari penulis agar petugas kesehatan dapat melakukan pemeriksaan ADB
pada ibu hamil dengan tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ibu
dengan seimbang.

17
DAFTAR PUSTAKA

Arifputera, 2014. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Aesculapius.


Mansjoer, 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Aesculapius.
Saifudin, 2016. Buku Acuan Nasional Pelayanan Maternal & Neonatal, Edisi I
Cetakan Keempat. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarurono Prawirohardjo.
USU. (n.d.). Chapter II. Diakses dari:
https://www.google.co.id/url?q=http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123
456789/33643/Chapter%2520II
Sinta. (n.d.). UNUD. Diakses dari:
https://www.google.co.id/url?q=http://sinta.unud.ac.id/uploads/dokumen_dir/e4
7b79d83bcb5fcb40ebbc29fc76f2fe.
Berbagi Info. (n.d.). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter. Diakses dari:
http://ppkdokter2014.blogspot.com/2016/11/anemia-defisiensi-besi-pada-
kehamilan.html?m=1
Setiati et al., 2017. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Internal Publishing
Cunningham, F.Gary. 2012. Obsterti Williams. Jakarta : EGC

18