Anda di halaman 1dari 6

1.

Definisi, Etiologi dan Faktor Resiko Malnutrisi

Malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak mendapat asupan gizi yang cukup,
malnutrisi dapat juga disebut keadaaan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan di
antara pengambilan makanan dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan
kesehatan. Ini bisa terjadi karena asupan makan terlalu sedikit ataupun pengambilan
makanan yang tidak seimbang. Selain itu, kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat
terjadinya malabsorpsi makanan atau kegagalan metabolik.

Malnutrisi sebenarnya adalah gizi salah, yang mencakup gizi kurang atau lebih. Di
Indonesia dengan masih tinggi angka kejadian gizi kurang, istilah malnutrisi lazim
dipakai untuk keadaan ini. Secara umum gizi kurang disebabkan oleh kurangnya
energy atau protein. Namun keadaan ini di lapangan menunjukkan bahwa jarang
dijumpai kasus yang menderita deferensiasi murni. Anak yang dengan defisiensi
protein biasanya disertai pula dengan defisiensi energi. Oleh karena itu istilah yang
lazim dipakai adalah malnutrisi Energi Protein (Markum dkk, 1991) dan Nelson
membuat sinonim Malnutrisi Energi Protein dengan kekurangan kalori protein
(Nelson, 1992).

Sumber gizi dapat dibagi kepada dua jenis, yaitu makronutrien dan mikronutrien.
Makronurien adalah zat yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang besar untuk
memberikan tenaga secara langsung yaitu protein sejumlah 4 kkal, karbohidrat
sejumlah 4 kkal dan lemak sejumlah 9 kkal. Mikronutrien adalah zat yang penting
dalam menjaga kesehatan tubuh tetapi hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit
dalam tubuh yaitu vitamin yang terbagi atas vitamin larut lemak , vitamin tidak larut
lemak dan mineral.

Etiologi
Malnutrisi merupakan masalah yang menjadi perhatian internasional serta memiliki
berbagai sebab yang saling berkaitan. Penyebab malnutrisi menurut kerangka
konseptual UNICEF dapat dibedakan menjadi penyebab langsung (immediate
cause), penyebab tidak langsung (underlying cause) dan penyebab dasar (basic
cause).
Penyebab langsung malnutrisi yang paling penting. Penyakit, terutama penyakit
infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh.
Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah
makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara
pemberian makanan yang salah.

Penyebab tidak langsung yang dapat menyebabkan malnutrisi adalah kurangnya


ketahanan pangan keluarga, kualitas perawatan ibu dan anak, pelayanan kesehatan
serta sanitasi lingkungan. Ketahanan pangan dapat dijabarkan sebagai kemampuan
keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan makanan. Sebagai tambahan, perlu
diperhatikan pengaruh produksi bahan makanan keluarga terhadap beban kerja ibu
dan distribusi makanan untuk anggota keluarga. Sanitasi lingkungan berpengaruh
terhadap kesehatan, produksi serta persiapan makanan untuk dikonsumsi serta
kebersihan. Pelayanan kesehatan bukan hanya harus tersedia, namun juga harus dapat
diakses dengan mudah oleh ibu dan anak. Status pendidikan dan ekonomi perempuan
yang rendah menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memperbaiki status gizi
keluarga.

Penyebab dasar berupa kondisi sosial, politik dan ekonomi negara.

Etiologi Lain :
a. Marasmus
Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut:
Pemasukan kalori yang tidak cukup. Marasmus terjadi akibat masukan kalori
yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan
akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak. Kebiasaan makan yang tidak tepat.
Seperti mereka yang mempunyai hubungan orang tua – anak terganggu.
Kelainan metabolik. Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia,
galactosemia, lactose intolerance. Malformasi kongenital. Misalnya: penyakit
jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas palatum, palatoschizis,
micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis
pankreas.
b. Kwashiorkor
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang
berlangsung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan kwashiorkor antara lain.

1. Pola makan
Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk
tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang
cukup, tidak semua makanan mengandung protein/ asam amino yang
memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI
yang diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari
sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan.

2. Faktor sosial
Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan
sosial dan politik tidak stabil ataupun adanya pantangan untuk menggunakan
makanan tertentu dan sudah berlangsung turun-turun dapat menjadi hal yang
menyebabkan terjadinya kwashiorkor.

3. Faktor ekonomi
Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat
dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.

4. Faktor infeksi dan penyakit lain


Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi.
Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP,
walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap
infeksi.

Faktor-faktor risiko
Ada banyak faktor risiko untuk malnutrisi, yaitu:
 Lansia, terutama yang dirawat di rumah sakit atau berada di institusi
perawatan dalam jangka panjang
 Individu yang terisolasi secara sosial
 Orang dengan penghasilan minim
 Orang dengan kelainan makan kronis, seperti bulimia atau anorexia nervosa
 Orang yang dalam masa pemulihan setelah penyakit atau kondisi yang serius.

Asupan makanan
Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak
tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup atau salah mendapat makanan
bergizi seimbang, dan pola makan yang salah.2 Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan
balita adalah air, energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.Setiap gram
protein menghasilkan 4 kalori, lemak 9 kalori, dan karbohidrat 4 kalori.Distribusi
kalori dalam makanan balita dalam keseimbangan diet adalah 15% dari protein, 35%
dari lemak, dan 50% dari karbohidrat.Kelebihan kalori yang menetap setiap hari
sekitar 500 kalori menyebabkan kenaikan berat badan 500 gram dalam seminggu.

Sebagian besar balita dengaan gizi buruk memiliki pola makan yang kurang beragam.
Pola makanan yang kurang beragam memiliki arti bahwa balita tersebut
mengkonsumsi hidangan dengan komposisi yang tidak memenuhi gizi seimbang.
Berdasarkan dari keseragaman susunan hidangan pangan, pola makanan yang meliputi
gizi seimbang adalah jika mengandung unsur zat tenaga yaitu makanan pokok, zat
pembangun dan pemelihara jaringan yaitu lauk pauk dan zat pengatur yaitu sayur dan
buah

Status sosial ekonomi


Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah
segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran
hidup. Sosial ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial
ekonomi keluarga dilihat dari variabel tingkat pekerjaan.Rendahnya ekonomi
keluarga, akan berdampak dengan rendahnya daya beli pada keluarga tersebut. Selain
itu rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung
dari kekurangan gizi pada anak balita. Keadaan sosial ekonomi yang rendah berkaitan
dengan masalah kesehatan yang dihadapi karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan
untuk mengatasi berbagai masalah tersebut.Balita dengan gizi buruk pada umumnya
hidup dengan makanan yang kurang bergizi.

Pendidikan ibu
Kurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan pangan dan nilai
pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan
persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang
gizi.Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan
yang rendah. Adanya pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan seseorang
kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupan.
Tingkat pendidikan terutama tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi derajat
kesehatan karena pendidikan ibu berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan anak.
Tingkat pendidikan yang tinggi membuat seseorang mudah untuk menyerap informasi
dan mengamalkan dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan adalah usaha yang
terencana dan sadar untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi diri dan ketrampilan yang diperlukan oleh
diri sendiri, masyarakat, bangsa,dan negara

Kelengkapan imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yaitu resisten atau kebal. Imunisasi terhadap suatu
penyakit hanya dapat memberi kekebalan terhadap penyakit tersebut sehingga bila
balita kelak terpajan antigen yang sama, balita tersebut tidak akan sakit dan untuk
menghindari penyakit lain diperlukan imunisasi yang lain. Infeksi pada balita penting
untuk dicegah dengan imunisasi. 13 Imunisasi merupakan suatu cara untuk
meningkatkan kekebalan terhadap suatu antigen yang dapat dibagi menjadi imunisasi
aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi juga dapat mencegah penderitaan yang
disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian, menghilangkan
kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit, memperbaiki tingkat
kesehatan,dan menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan
pembangunan negara

ASI
Hanya 14% ibu di Indonesia yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada
bayinya sampai enam bulan. Rata-rata bayi di Indonesia hanya menerima ASI
eksklusif kurang dari dua bulan. Hasil yang dikeluarkan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia periode 1997-2003 yang cukup memprihatinkan yaitu bayi yang
mendapatkan ASI eksklusif sangat rendah.Sebanyak 86% bayi mendapatkan makanan
berupa susu formula, makanan padat, atau campuran antara ASI dan susu formula