Anda di halaman 1dari 14

RESIKO POLITIK

Makalah ini Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Individu Pada Mata Kuliah
Manajemen Resiko Investasi Pada prodi Perbankan Syariah 4

OLEH:
HAMELISA
NIM. 01165103

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI


IAIN BONE
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah senantisa memberkati
dalam menyelesaikan makalah ini, sehingga kami bisa menyelesaikannya tepat pada
waktunya. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Qawaidul Fiqiyah.
Selaku penulis, saya menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kami membutuhkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan pembuatan makalah selanjutnya. Kami berharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua yang membacanya, khususnya dibidang pendidikan
komputer. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca.

Watampone, Desember 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Pengertian Resiko Politik 3
B. Manajemen Risiko 5
C. Risiko Politik di Indonesia 9
BAB III PENUTUP 10
A. Kesimpulan 10
B. Saran 10
DAFTAR PUSTAKA 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata “Resiko” dan
sudah biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang. Resiko
merupakan bagian dari kehidupan kerja individual maupun organisasi. Berbagai
macam resiko, seperti resiko kebakaran, tertabrak kendaraan lain di jalan, resiko
terkena banjir di musim hujan dan sebagainya, dapat menyebabkan kita
menanggung kerugian jika resiko-resiko tersebut tidak kita antisipasi dari awal.
Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat
mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Sebagaimana kita pahami
dan sepakati bersama bahwa tujuan berwirausaha adalah membangun dan
memperluas keuntungan kompetitif dalam organisasi.
Aktivitas suatu badan usaha atau perusahaan pada dasarnya tidak dapat
dilepaskan dari aktivitas mengelola resiko. Operasi suatu badan usaha atau
perusahaan biasanya berhadapan dengan resiko usaha dan resiko non usaha.
Imam Ghazali dalam Kasidy, Manajemen Resiko (2010) menyatakan bahwa,
resiko usaha adalah resiko yang berkaitan dengan usaha perusahaan untuk
menciptakan keunggulan bersaing dan memberikan nilai bagi pemegang saham.
Sedangkan resiko non usaha adalah resiko lainnya yang tidak dapat dikendalikan
oleh perusahaan.
Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi karena kurang atau
tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu yang
tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Menurut
Wideman, ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan
dikenal dengan istilah peluang (opportunity), sedangkan ketidakpastian yang
menimbulkan akibat yang merugikan disebut dengan istilah resiko (risk). Dalam

1
beberapa tahun terakhir, manajemen resiko menjadi trend utama baik dalam
perbincangan, praktik, maupun pelatihan kerja. Hal ini secara konkret
menunjukkan pentingnya manajemen resiko dalam bisnis pada masa kini.
Secara umum resiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi
seseorang atau perusahaan di mana terdapat kemungkinan yang merugikan.
Bagaimana jika kemungkinan yang dihadapi dapat memberikan keuntungan yang
sangat besar, dan walaupun mengalami kerugian sangat kecil sekali. Misalnya
membeli lotere. Jika beruntung maka akan mendapat hadiah yang sangat besar,
tetapi jika tidak beruntung uang yang digunakan membeli lotere relatif kecil.
Apakah ini juga tergolong resiko? Jawabannya adalah hal ini juga tergolong
resiko. Selama mengalami kerugian walau sekecil apapun hal itu dianggap
resiko.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Resiko Politik?
2. Bagaimana Manajemen Risiko?
3. Bagaimana Risiko Politik di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Pengertian Resiko Politik
2. Untuk mengetahui Manajemen Risiko
3. Untuk mengetahui Risiko Politik di Indonesia

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Resiko Politik


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resiko adalah akibat
yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan
atau tindakan. Resiko dalam Webster’s Desk Dictionary resiko didefinisikan
sebagai suatu potensi adanya kehilangan.
Manajemen resiko merupakan desain prosedur serta implementasi
prosedur untuk mengelola suatu resiko usaha. Manajemen resiko merupakan
antisipasi atas semakin kompleksnya aktivitas badan usaha atau perusahaan yang
dipicu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
Definisi lain yang menjelaskan tentang pengertian resiko adalah
kemungkinan terjadinya penyimpangan dari harapan yang dapat menimbulkan
kerugian. Resiko adalah suatu kemungkinan terjadinya peristiwa menyimpang
dari apa yang diharapkan, namun penyimpangan ini baru terlihat bila sudah
berbentuk kerugian.
Pendapat lain juga diutarakan oleh Abbas Salim dalam Kasidy (2010)
Resiko adalah ketidakpastian yang mungkin melahirkan kerugian (loss). Sehingga
dari beberapa definisi yang telah diutarakan, dapat diambil kesimpulan bahwa
resiko adalah sesuatu yang belum pasti namun apabila tidak ditangani dengan
tepat akan menimbulkan kerugian bagi usaha tersebut.

B. Manajemen Risiko
Proses manajemen risiko politik dimulai dengan identifikasi risiko,
kemudian pengukuran risiko, mitigasi risiko dan akhirnya secara menyeluruh
dilakukan pengendalian risiko. Pada identifikasi risiko, langkah pertama yang
perlu dilakukan adalah menyusun taksonomi jenis-jenis risiko politik dan faktor

3
risiko yang berdampak pada perusahaan. Sehingga diperoleh peta risiko yang
signifikan mempengaruhi perusahaan, baik pengaruh negatif maupun positif yang
membuka peluang perusahaan memperoleh keuntungan (return). Hasil identifikasi
risiko harus mampu menjawab bagaimana faktor risiko dapat mempengaruhi
pencapaian tujuan dan target perusahaan. Langkah pengukuran risiko dilakukan
dengan menggunakan analisis berbagai skenario risiko politik, yang jenis dan
faktor risikonya berasal dari hasil identifikasi dan pemetaan risiko. Setiap
skenario diuji dan dilakukan simulasi berapa besarnya dampak kerugian bisnis
yang diderita pada setiap skenario. Penilaian dan pengukuran dilakukan secara
kuantitatif dan kualitatif. Metode sederhana yang lazim digunakan adalah analisis
arus kas yang dihitung nilai saat ini (net present value). Hasil analisis digunakan
untuk menetapkan toleransi risiko perusahaan.
Kemudian, bila identifikasi dan pengukuran risiko telah dilakukan,
perusahaan melanjutkan dengan proses pengendalian risiko, berupa sistem yang
efektif untuk mengeksekusi manajemen risiko politik secara aktif. Tahap pertama
adalah pencocokan metode manajemen risiko potensial dengan risiko-risiko
prioritas yang telah diidentifikasi perusahaan. Seperti kita ketahui bahwa prioritas
penanganan risiko dilakukan berdasarkan pada peluang terjadinya risiko
(frekuensinya rendah atau tinggi) dan dampak kerugian terjadinya risiko (kecil
atau besar). Tahapan selanjutnya, penetapan tindak lanjut proses manajemen
risiko yang berupa mitigasi risiko yang telah teridentifikasi dan terukur. Berbagai
program mitigasi risiko yang dihasilkan adalah berupa tindak lanjut identifikasi
risiko dan pengukuran risiko. Dimulai dengan yang paling sederhana dan dapat
dilakukan oleh perusahaan sendiri, yaitu pertama program penanganan risiko
politik secara ad-hoc. Program mitigasi risiko ini dibuat bila perusahaan telah
terlanjur menanamkan investasinya di suatu negara, padahal kebijakan
pemerintah host country berubah secara drastis. Manajemen perlu menyiapkan
strategi cut loss dan exit strategy yang tepat, karena opsi yang tersedia dalam

4
situasi ini tidak banyak. Kedua, program diversifikasi risiko politik mengacu pada
filosofi manajemen risiko bahwa “jangan menaruh seluruh telur anda pada satu
keranjang”, tepat digunakan untuk melakukan diversifikasi risiko politik. Setiap
negara memiliki profil risiko politik yang unik dengan peluang keuntungan
(return) tertentu. Sebagai contoh, negara berkembang dengan praktik demokrasi
dan kompetensi berpolitik yang masih rendah (country risk yang tinggi), memiliki
profil risiko politik yang tinggi.
Namun demikian, negara dengan risiko politik tinggi tidak jarang
memiliki profil struktur biaya investasi yang lebih murah. Misalnya biaya buruh
dan tenaga kerja, sumberdaya alam yang melimpah, perizinan yang mudah. Oleh
karena itu, analisis kelayakan investasi, lengkap dengan stress test dan simulasi
opsi strategic business unit untuk setiap negara tujuan investasi menjadi suatu
keharusan. Ketiga, pembelian polis asuransi risiko politik guna mentransfer risiko
politik perusahaan kepada pihak asuransi dan reasuransi yang handal, serta
berpengalaman menjamin kerugian jenis risiko politik yang teridentifikasi
memiliki frekuensi kejadian yang jarang namun dengan dampak kerugian yang
sangat tinggi. Perlindungan yang diberikan berupa penggantian fasilitas,
infrastruktur dan komponen neraca perusahaan yang dipilih, ketika risiko politik
benar-benar terjadi.

C. Risiko Politik di Indonesia


Dalam situasi pemilihan umum, seperti di Indonesia sekarang ini, wajar
saja bila ada negara dan perusahaan yang menunda kerjasama diplomatik atau
kerjasama bidang ekonomi, seperti investasi dan penanaman modalnya. Mereka
cenderung menghindari risiko politik yang mungkin terjadi karena menganggap
situasi demikian penuh dengan risiko ketidakpastian, kerawanan keamanan,
konflik dan gesekan massa pendukung capres tertentu. Risiko politik adalah
kerugian yang diderita oleh suatu negara, industri, perusahaan, atau investor yang

5
disebabkan karena terjadinya faktor risiko seperti perubahan situasi politik dan
keputusan strategis suatu negara yang terkait dengan faktor ideologi, politik,
ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Terdapat dua tingkatan risiko
politik, yaitu risiko politik mikro dan makro. Risiko politik mikro hanya terjadi
dan terfokus pada risiko suatu industri, perusahaan, investasi, atau proyek tertentu
saja. Risiko ini merupakan bagian dari risiko operasional dari perubahan
lingkungan bisnis mereka.
Manajemen risiko politik mikro lebih sederhana daripada manajemen
risiko politik makro. Risiko politik mikro dapat dikendalikan dengan cara
mengubah dan mengalihkan investasi ke tempat dan bentuk lain, atau mencari
mitra kerja lokal yang menguasai peraturan dan kebijakan, serta lingkungan
setempat. Bila industri tertentu yang terkena risiko politik mikro, alternatif yang
tersedia adalah mencari industri dengan tingkat risiko politik yang dapat diterima.
Bila perusahaan tetap masih terekspos risiko politik yang tinggi, maka membeli
polis asuransi risiko politik adalah solusinya, guna mengurangi tingkat kerugian.
Risiko politik makro lebih sulit dikendalikan dan dimitigasi, karena bila negara
tujuan investasi tertimpa kejadian politik yang ekstrem (seperti aksi terorisme,
atau pergantian kepemimpinan nasional yang mengubah kebijakan politik luar
negeri) maka kejadian-kejadian tersebut hanya menyisakan investor dan pemodal
dengan strategi keluar (exit strategy) yang terbatas. Risiko politik makro nyaris
memiliki dampak yang sama terhadap seluruh pelaku/organisasi di suatu negara.
Selain mencakup country risk, risiko politik makro juga bersumber dari
akumulasi dan gabungan kejadian politik di tingkat lokal, nasional, dan kawasan
yang saling terkait. Kejadian politik di tingkat lokal dapat pula merembet dan
mempengaruhi pemangku kepentingan di tingkat makro.
Risiko politik sangat terkait dengan risiko-risiko lainnya, terutama risiko
bisnis, hukum, reputasi, dan risiko stratejik, sehingga para ahli menyarankan agar
manajemen risiko politik diintegrasikan dalam sistem pengendalian risiko

6
perusahan yang terpadu (Enterprise Risk Management/ERM). Tujuannya agar
seluruh dampak risiko dapat diantisipasi dengan baik. Selain itu bertujuan agar
limit risiko dapat ditetapkan dengan tepat sehingga tidak ada risiko prioritas yang
tertinggal dan tidak ada pula risiko yang dihitung ganda. Juga agar dapat
menghemat premi asuransi, karena polis yang diterbitkan oleh asuradur menjamin
jenis risiko yang lebih tepat (risk-based coverage). Tujuan selanjutnya, khusus
buat perusahaan yang baru mulai (start up company), agar bisa tetap beroperasi di
lokasi dengan risiko politik yang signifikan, karena telah memiliki mitigan yang
tepat. Dengan menetapkan kerangka manajemen risiko politik yang sistematis,
menyeluruh, terpadu dalam ERM, perusahaan diharapkan memperoleh
kepercayaan pasar yang lebih baik. Manajemen risiko politik yang tepat dan yang
diintegrasikan ke dalam ERM membuka peluang suatu negara atau perusahaan
meraih berbagai manfaat. Antara lain proses pengambilan keputusan yang lebih
efektif, proteksi nilai investasi, peningkatan kinerja keuangan dan non-keuangan
sesuai yang ditargetkan sehingga nilai perusahaan pun akan meningkat. Akhirnya,
kita bisa mengambil analogi hasil penelitian “penerapan tata kelola yang baik”
dengan “penerapan manajemen risiko yang baik”. Perusahaan yang menerapkan
Good Corporate Governance (GCG) yang konsisten, terbukti memperoleh nilai
saham yang lebih baik (premium), walau pun kinerja keuangan mereka hampir
sama. Dengan demikian penerapan manajemen risiko politik yang tepat dapat
menjadi faktor pembeda antara perusahaan satu dengan lainnya.
Tantangan yang dihadapi oleh perusahaan yang beroperasi di tingkat
global tentu akan berbeda dengan perusahaan yang beroperasi hanya di dalam
negeri atau beroperasi di tingkat domestik. Tantangan perusahaan yang beroperasi
di tingkat global akan lebih rumit jika dibandingkan dengan perusahaan yang
beroperasi di tingkat domestik. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan peraturan
dan perbedaan lingkungan ekonomi di setiap Negara. Dengan adanya tantangan
yang lebih rumit dalam bisnis ditingkat global, perlunya pengetahuan khusus bagi

7
manajer internasional dalam memutuskan untuk beroperasi di tingkat global atau
di suatu negara.
Dengan mengambil keputusan untuk beroperasi di suatu Negara, maka
secara tidak sadar perusahaan tersebut perlu menyelidiki risiko politik (politic
risk) yang mungkin terjadi serta dampak terhadap kinerja bisnis perusahaan. Yang
dimaksud dengan risiko politik adalah tindakan pemerintah atau suatu kejadian
bermotif politik yang dapat mempengaruhi profitabilitas dan nilai dari suatu
perusahaan.
Selain itu, ada beberapa hal yang dapat mengancam keberadaan
perusahaan yang beroperasi di Negara lain seperti nasionalisasi (nationalization)
dan pengambil – alihan (expropriation). Yang dimaksud dengan nasionalisasi
adalah suatu keadaan di mana pemerintah suatu Negara memaksa MNC (Multi-
National Corporation) untuk dijual (forced sale) kepada pembeli dalam negeri
atau pemilik modal lokal dengan menyisakan saham kepemilikan yang minim
bagi MNC. Ada pun yang dimaksud dengan pengambil – alihan adalah pengambil
– alihan suatu MNC oleh Negara di mana pembayaran kompensasi dinilai tidak
memadai sebagai ganti rugi atas porsi aset asing yang awalnya dimiliki oleh
MNC. Jika ganti rugi tidak diberikan sama sekali oleh Negara yang melakukan
penyitaan maka tindakan tersebut dinamakan penyitaan (confiscation).
Shreeve (1984) menyusun daftar risiko politik yang paling sering
menimpa MNC di dunia saat itu hingga sekarang:
1. Expropriation atas aset perusahaan
2. Forced Sale atas aset perusahaan di bawah nilai depresiasi
3. Diskriminasi atas perusahaan asing melalui ketentuan hukum serta aturan
perdagangan yang memihak Negara
4. Hambatan dalam pengiriman balik (repatriation) dana milik MNC, baik yang
berasal dari laba (profit) maupun modal (equity)
5. Kehilangan hak milik atas teknologi serta kekayaan intelektual

8
6. Campur tangan pemerintah atas keputusan – keputusan manajerial MNC
7. Ketidakjujuran pejabat – pejabat pemerintah yang memutus perjanjian secara
sepihak, pemerasan dengan berbagai dalih, serta dana pungutan tidak resmi
Untuk meminimalisir kerugian secara finansial yang akan terjadi pada
MNC, maka perlu dilakukan penilaian (assessment) dalam atas risiko politik guna
mengelola risiko kerentanan perusahaan. Terdapat ada dua cara dalam melakukan
penilaian atas risiko politik yaitu:
1. Menggunakan jasa pakar (experts) atau konsultan yang menguasai seluk –
beluk perpolitikan di negeri atau zona tempat MNC beroperasi.
Seorang pakar dapat memberikan analisis terhadap kecenderungan
pergolakan politik dalam negeri secara berkala, kemudian menjabarkan
beberapa scenario yang dapat terjadi dengan segala konsekuensinya, lalu
mendeskripsikan kondisi perpolitikan yang dapat terbentuk setelah gejolak
politik tersebut berlalu.
2. Membentuk serta mengembangkan staf internal maupun mempekerjakan
pakar di dalam perusahaan MNC secara tetap.
Selain risiko politik, risiko ekonomi juga perlu menjadi perhatian
khusus bagi MNC dalam melakukan operasinya di suatu Negara. Kemampuan
suatu Negara dalam memenuhi kewajiban-kewajiban finansialnya merupakan
tolak ukur terpenting risiko ekonomi Negara tersebut. Dalam beberapa tahun
terakhir, terdapat beberapa Negara yang tidak dapat memenuhi kewajiban-
kewajiban finansialnya yang tentunya dapat menyebabkan krisis di Negara
tersebut. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan kerugian bagi MNC yang
sedang beroperasi di Negara yang terkena krisis tersebut. Kerugian tersebut
dapat terlihat dari menurunnya nilai perusahaan tersebut karena terjadinya
penurunan profit.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Terdapat dua tingkatan risiko politik, yaitu risiko politik mikro dan makro.
Risiko politik mikro hanya terjadi dan terfokus pada risiko suatu industri,
perusahaan, investasi, atau proyek tertentu saja. Risiko ini merupakan bagian dari
risiko operasional dari perubahan lingkungan bisnis mereka. Manajemen risiko
politik mikro lebih sederhana daripada manajemen risiko politik makro. Risiko
politik mikro dapat dikendalikan dengan cara mengubah dan mengalihkan
investasi ke tempat dan bentuk lain, atau mencari mitra kerja lokal yang
menguasai peraturan dan kebijakan, serta lingkungan setempat. Bila industri
tertentu yang terkena risiko politik mikro, alternatif yang tersedia adalah mencari
industri dengan tingkat risiko politik yang dapat diterima.

B. Saran
Demikianlah makalah ini saya persembahkan. Tentunya masih banyak
kekurangan dan kesalahan dalam penyususnan makalah ini mengingat
keterbatasan penulis sebagai manusia biasa yang tidak biasa terlepas dari skhilaf
dan salah. Kritik dan saran dari pembaca yang konstruktif sangat penulis
harapkan sebagai bahan evaluasi agar selanjutnya dapat menjadi lebih baik lagi.

10
DAFTAR PUSTAKA

Handaru, A. W. 2012. Bisnis Internasional. Sebuah pendekatan kultural. Jakarta:


Mitra Wacana Media

Committee of Sponsoring Organization (COSO) of the Treadway Commission. What


is COSO: Background and Events Leading to Internal Control-Integrated
Framework. 1992

Simmons, Mark. COSO Based Auditing. The Internal Auditor, December 1997 The
Institute of Internal Auditors. Internal C

Vaughan, Emmet. Fundamental of Risk and Insurance. 2nd, John Willey, 1978

11