Anda di halaman 1dari 24

STATUS RESPONSI

MALARIA

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Responsi Kepanitraan di


Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Disusun Oleh :
Ghiffari Al Ashafaahary Gumelar
4151151431

Perseptor :
Yudith Yunia K, dr., Sp.PD.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
MEI 2016
1

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


RUMAH SAKIT DUSTIRA/FAK KEDOKTERAN UNIVERSITAS
JENDRAL ACHMAD YANI
CIMAHI

Nama Penderita : Tn.D Ruang :XI No.Cat. Med : 467018


Jenis kelamin : Laki-laki Umur : 40 tahun Agama : Islam
Jabatan/Pekerjaan : TNI
Alamat : ASR PD passus batujajar Bandung

Dikirim oleh : UGD Tgl.Dirawat : 26 Agustus 2016 jam: 03.00


Tgl. Diperiksa (Co-Ass) : 29 Agustus 2016
Tgl. Keluar : 29 Agustus 2016 Jam : -
Keadaan waktu pulang : sembuh/perbaikan /pulang paksa/lain-lain
Penderita meninggal pada tgl. : Jam :

Diagnosa/Diagnosa Kerja :
Dokter : suspek malaria
Co-Ass : Malaria ovale

A. ANAMNESA (Auto/Hetero)

KELUHAN UTAMA : Demam

ANAMNESA KHUSUS :
Pasien mengeluhkan demam sejak 2 hari SMRS. Keluhan demam didahului
menggigil dan berkeringat. Demam pasien mendadak tinggi. Keluhan disertai
2

lemas, pusing, mual muntah 3 x berisi cairan dan makanan. Pasien mengeluh nyeri
ulu hati. Pasien mengaku kurang nafsu makan dan sulit tidur.
.Pasien tidak batuk dan pilek dan tidak mengalami gangguan buang air kecil dan
buang air besar seperti buang air besar yang berdarah atau berwarna hitam. Tidak
ada pendarahan gusi atau mimisan. Tidak ada bintik-bintik merah dikulit. Tidak ada
gejala mata kuning. Pasien mengaku baru pertam kali terkena penyakit ini, tidak
memiliki riwayat penyakit keluarga dan riwayat alergi. Pasien mengaku bahwa
beberapa bulan yang lalu pasien berangkat ke TImika. Dilingkungan sekitar tempat
tinggal pasien tidak ada yang menderita keluhan yang sama.

a. Keluhan Keadaan Umum


Panas Badan : Ada d. Keluhan Organ Thorax
Tidur : Ada Sulit tidur Sesak Nafas : Tidak ada
Edema : Tidak ada Nyeri Dada : Tidak ada
Ikterus : Tidak ada Nafas Berbunyi : Tidak ada
Haus : Tidak ada Batuk : Tidak ada
Nafsu Makan : Menurun Jantung Berdebar : Tidak ada
Berat Badan : Normal
e. Keluhan Organ Perut
b. Keluhan Organ Kepala Nyeri Lokal : Ada, Epigastrium
Penglihatan : Tidak ada Nyeri Tekan : Ada, Epigastirum
Hidung : Tidak ada Nyeri Seluruh Perut : Tidak ada
Lidah : Tidak ada Nyeri berhubungan dengan
Ggn Menelan : Tidak ada Makan : Tidak ada
Pendengaran : Tidak ada b.a.b : Tidak ada
Mulut : Tidak ada haid : Tidak ada
Gigi : Tidak ada Perasaan Tumor di perut : Tidak
Suara : Tidak ada ada
Muntah-muntah : Tidak ada
c. Keluhan Organ Leher Diare : Tidak ada
Rasa sesak di leher : Tidak ada Obstipasi : Tidak ada
Pembesaran Kelenjar : Tidak ada Tenesmi ad ani : Tidak ada
Kaku Kuduk : Tidak ada
3

Perubahan dalam BAK : Tidak Luka/bekas luka : Tidak ada


ada Bengkak : Tidak ada
Perubahan dalam BAB : Tidak
ada g. Keluhan – keluhan Lain :
Perubahan dalam haid : - Kulit : Tidak ada
Ketiak : Tidak ada
f. Keluhan tangan dan kaki Keluhan kelenjar limfe : Tidak
Rasa kaku : Tidak ada teraba
Rasa lelah : Ada Keluhan kelenjar endokrin :
Nyeri otot/sendi : Tidak ada Haid : Tidak ada
Claudicatio Intermitten : Tidak DM :Tidak ada
ada Tiroid : tidak ada
Kesemutan/baal : Tidak ada Lain-lain : tidak ada
Nyeri tekan : Tidak ada

Anamnesis Tambahan :
a. Gizi Kualitas : Cukup
Kuantitas : Cukup
b. Penyakit menular : tidak ada
c. Penyakit turunan : tidak ada
d. Ketagihan : tidak ada
e. Penyakit venerik : tidak ada
4

B. STATUS PRAESEN
I. KESAN UMUM
a. Keadaan Umum
Kesadaran : Composmentis
Watak : Kooperatif
Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
Pergerakan : Tidak terbatas
Tidur : Terlentang dengan 1 bantal
Tinggi Badan : 166 cm
Berat Badan : 62 Kg
Keadaan Gizi : IMT 22,50
Gizi Kulit : Cukup
Gizi Otot : Cukup
Bentuk Badan : Atletikus
Umur Yang ditaksir : Sesuai
Kulit : Sawo matang

b. Keadaan Sirkulasi
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Suhu : 37,0 C
Keringat Dingin : Tidak ada
Sianosis : Tidak ada

c. Keadaan Pernafasan
Tipe : Abdominalthoracal
Frekuensi : 20 x/menit
Corak : Normal
Hawa/bau Nafas : Normal
Bunyi Nafas : Tidak ada bunyi tambahan (mengi -)

II. PEMERIKSAAN KHUSUS


a. Kepala
5

1. Tengkorak
- Inspeksi : Simetris, normosefal
- Palpasi : Simetris
2. Muka
- Inspeksi : Ikterik (-)
- Palpasi : Tidak dilakukan pemeriksaan
3. Mata
- Letak : Simetris
- Kelopak Mata : Edema -
- Kornea : Tidak ada kelainan
- Refleks Kornea : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Pupil : Bulat, Isokor
- Reaksi konvergensi : +/+
- Lensa Mata : Tidak ada kelainan
- Sklera : Ikterik -/-
- Konjungtiva : Anemi -/-
- Iris : Tidak ada kelainan, sinekia -/-
- Pergerakan : Normal ke segala arah
- Reaksi Cahaya : Direk +/+, Indirek +/+
- Visus : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Funduskopi : Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Telinga
- Inspeksi : Simetris, massa (-), fistula (-)
- Palpasi : Tidak ada kelainan
- Pendengaran : Tidak ada gangguan
5. Hidung
- Inspeksi : Rhinore -/-, PCH -/-
- Sumbatan : Tidak ada
- Ingus : Tidak ada
6. Bibir
- Sianosis : Tidak ada
- Khelitis : Tidak ada
- Stomatitis Angularis : Tidak ada
- Rhagaden : Tidak ada
6

- Perlecha : Tidak ada


7. Gigi dan Gusi : Perdarahan Gusi (-)
8. Lidah
- Besar : Normal, tidak ada kelainan
- Bentuk : Tidak ada kelainan
- Pergerakan : Tremor (-)
- Permukaan : Mukosa basah, tepi tidak hiperemis
9. Rongga Mulut
- Hiperemis : Tidak ada
- Lichen : Tidak ada
- Apthea : Tidak ada
- Bercak : Tidak ada
10. Rongga Leher
- Selaput lendir : Tidak ada kelainan
- Dinding belakang pharinx : Tidak hiperemis
- Tonsil : T1/T1 tenang

b. Leher
1. Inspeksi
- Trakhea : Tidak terlihat deviasi –
- Kelenjar tiroid : Tak terlihat membesar
- Pembesaran Vena : Tidak ada pembesaran
- Pulsasi Vena : Tidak terlihat
2. Palpasi
- KGB : Tidak teraba
- Kelenjar tiroid : Tidak teraba
- Tumor : Tidak ada
- Otot Leher : Tidak ada kelainan
- Kaku Kuduk : Tidak ada
3. Pemeriksaan Tekanan Vena jugularis : 5 + 2 cmH2O
Hepato jugular refluks : Tidak ada

c. Ketiak
1. Inspeksi
7

- Rambut ketiak : tidak dilakukan pemeriksaan


- Tumor : tidak dilakukan pemeriksaan
2. Palpasi
- KGB : Tidak dilakukan pemeriksaaan
- Tumor : Tidak dilakukan pemeriksaan

d. Pemeriksaan Thorax
Thorax depan
1. Inspeksi
- Bentuk Umum : Simetris, tidak ada deformitas
- Sela Iga : Tidak ada pelebaran/penyempitan
- Sudut Epigastrium : < 90 derajat
- Diameter Frontal Sagital : diameter frontal < diameter sagital
- Pergerakan : Simetris
- Muskulatur : Tidak ada kelainan
- Kulit : Tidak ada kelainan
- Tumor : Tidak ada
- Ictus Kordis : Tidak terlihat
- Pulsasi lain : Tidak ada
- Pelebaran Vena : Tidak ada

2. Palpasi
- Kulit : Tidak ada kelainan
- Muskulatur : Tidak ada kelainan
- Mamame : Tidak ada kelainan
- Sela Iga : Tidak ada pelebaran/penyempitan
- Thorax/Paru Kanan Kiri
- Pergerakan : Simetris
- Vokal Fremitus : Normal
- Ictus Cordis : Tidak teraba
- Lokalisasi :-
- Intensitas :-
- Pelebaran :-
- Thrill :-
8

3. Perkusi
- Paru-Paru Kanan Kiri
- Perkusi Perbandingan : Sonor Sonor
- Batas paru Hepar : ICS V, linea midklavikularis dextra
- Peranjakan : Satu sela iga
- Jantung
Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra
Batas kiri : ICS V linea midklavikularis sinistra
Batas Atas : ICS II Linea sternalis sinistra
4. Auskultasi
- Paru-Paru Kanan Kiri
Suara pernafasan : VBS Kanan = Kiri
Suara tambahan : Ronkhi -/-, Wheezing -/-
Vocal Resonance : Kanan = Kiri
- Jantung
Irama : Reguler
Bunyi Jantung : M1 > M2 P1 > P2
T1 > T2 A1 > A2 A2 > P2
Bunyi Jantung tambahan : Tidak ada
Bising Jantung : Tidak ada
Bising gesek jantung : Tidak ada

Thorax Belakang
1. Inspeksi
- Bentuk : Simetris, deformitas –
- Pergerakan : Simetris
- Kulit : Tidak ada kelainan, lesi –
- Muskulatur : Tidak ada kelainan

2. Palpasi Kanan Kiri


- Sela Iga : Tidak ada pelebaran/penyempitan
- Muskulatur : Tidak ada kelainan
- Vocal fremitus : Normal Kanan = Kiri
9

3. Perkusi Kanan Kiri


Perkusi Perbandingan : Sonor Sonor

4. Auskultasi
- Pernafasan : VBS Kanan = Kiri
- Suara tambahan : Ronkhi -/-, Wheezing -/-
- Vocal Resonance : Normal, Kanan = Kiri

e. Abdomen
1. Inspeksi
- Bentuk : Datar
- Otot dinding perut : Tidak tegang
- Kulit : Tidak ada kelainan
- Umbilicus : Tidak menonjol
- Pergerakan Usus : Tidak terlihat
- Pulsasi : Tidak terlihat
- Venektasi : Tidak ada

2. Auskultasi
- Bising usus : (+) Frekuensi normal
- Bruit : Tidak ada
- Lain-lain : Tidak ada

3. Perkusi
- Suara Perkusi : Tympani
- Pekak Samping : Tidak ada
- Pekak Pindah : Tidak ada
- Fluid Wave : Tidak ada

4. Palpasi
- Dinding Perut : Tidak tegang
- Nyeri tekan lokal : Tidak ada
- Nyeri tekan difus : Tidak ada
10

- Nyeri lepas : Tidak ada


- Defans muscular : Tidak ada
- Hepar Tidak teraba
Besar :
Konsistensi :
Permukaan :
Tepi :
Nyeri tekan :
- Lien Tidak teraba
Pembesaran :
Konsistensi :
Permukaan :
Insisura :
Nyeri tekan :

- Tumor/massa : Tidak teraba


- Ginjal : Tidak teraba
- Pemeriksaan balottemen : -/-

f. CVA : nyeri ketok -/-

g. Lipat Paha
1. Inspeksi
Tumor : tidak dilakukan pemeriksaan
KGB : tidak dilakukan pemeriksaan
Hernia : tidak dilakukan pemeriksaan

2. Palpasi
Tumor : tidak dilakukan pemeriksaan
KGB : tidak dilakukan pemeriksaan
Pulsasi A. Femoralis: tidak dilakukan pemeriksaan

3. Auskultasi
11

A. Femoralis : tidak dilakukan pemeriksaan

h. Genitalia : tidak dilakukan pemeriksaan


i. Sakrum : tidak ada kelainan
j. Anus dan rektum : tidak dilakukan pemeriksaan
k. Ekstremitas atas-bawah
1. Inspeksi Atas Bawah
- Bentuk : Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
- Pergerakan : Tidak terbatas Tidak terbatas
- Kulit : Ruam -, Ptekie - Ruam -, Ptekie -
- Otot : Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
- Edema : Tidak ada Tidak ada
- Clubbing finger : Tidak ada Tidak ada
- Palmar eritem : Tidak ada Tidak ada
- Rumpel leed : - -

2. Palpasi
- Nyeri tekan : Tidak ada Tidak ada
- Tumor : Tidak ada Tidak ada
- Edema : Tidak ada Tidak ada
- Pulsasi arteri : Teraba Teraba
l. Sendi-sendi
1. Inspeksi
- Kelainan bentuk : Tidak ada
- Tanda radang : Tidak ada
- Lain-lain : Tidak ada
2. Palpasi
- Nyeri tekan : Tidak ada
- Fluktuasi : Tidak ada
- Lain-lain : Tidak ada
m. Neurologik : Tidak dilakukan pemeriksaan

III. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


DARAH (26 Agustus 2016)
12

- Hb : 14.9 g/dL Basofil : 0.6 %


-
Eritrosit : 7,1 x 106/mm2 Eosinofil : 5,9 %
- Leukosit : 5,3 x 103/mm2 Segmen : 67,6 %
- Hematokrit : 44,8 % Limfosit : 14.9 %
3 2
- Trombosit : 261 x 10 /mm Monosit : 11 %
- MCV : 84,4 %
- MCH: 29,3 %
- MCHC: 34.7 %
- RDW : 12.9 %
-
PEMERIKSAAN TETES DARAH TEBAL
(+) P.Falciarum

RESUME

Seorang laki-laki berusia 30 tahun mengeluhkan demam sejak 2 hari SMRS.


Keluhan demam disertai menggigil dan berkeringat. Demam mendadak tinggi..
Keluhan disertai lemas, pusing, mual dan muntah 3 x berisi cairan dan makanan.
Pasien mengeluh nyeri ulu hati. Pasien mengaku kurang nafsu makan. Pasien tidak
batuk dan pilek dan tidak mengalami gangguan buang air kecil dan buang air besar.
Tidak ada riwayat pendarahan pada pasien. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit
terdahulu, riwayat penyakit keluarga dan riwayat alergi. Pasien mengaku bahwa
beberapa bulan yang lalu pasien berangkat ke Timika.

Pemeriksaan Fisik
Kesadaran umum: Kesadaran composmentis, kesan sakit sedang
Status gizi : Cukup
Tanda vital
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Nadi : 70 kali/menit, regular, equal, isi cukup
- Respirasi : 20 kali/menit, cepat dangkal
- Suhu : 38,4oC
13

Kepala
- Mata : Konjungtiva anemis +/+
Sklera ikterik -/-
- Hidung : Rinorea -/-, PCH -/-
- Bibir : Sianosis (-)
Leher
- KGB teraba membesar
- JVP meningkat 5+2 cmH2O
Thorax
Cor:
Iktus kordis tidak terlihat dan tidak teraba. Batas jantung normal. Bunyi jantung S1-
S2 murni reguler, murmur (-)
Pulmo:
- Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris
- Palpasi : Vokal Fremitus kanan = kiri, sela iga normal
- Perkusi : Sonor kanan = kiri
- Auskultasi : VBS kanan = kiri. Ronki -/-, Wheezing -/-
Vocal resonance kanan = kiri
Abdomen
- Inspeksi : Cembung, striae (-), venektasi (-)
- Auskultasi : BU (+) normal, bruit (-)
- Palpasi : Soepel, Hepar/Lien tidak teraba, nyeri tekan di epigastrium
- Perkusi : Tympani
Ekstremitas
Akral hangat, CRT < 2 detik, edema -, Rumpel leed -

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan:


DARAH : Hitung jenis leukosit: eosinofil meningkat, monosit
meningkat.

DDR : (+) P.Falciparum


14

IV. Diagnosis Kerja


Malaria Falciparum

V. Pengobatan
Nonfarmakologi:
1. Tirah baring (Rawat inap, indikasi : demam tinggi)
2. Edukasi (apa itu malaria, bagaimana proses terjadinya, cara mencegah
penularannya, cara minum obat, dan tempat endemis)
3. Pemberian obat pencegahan terhadap keluarganya
Farmakologi:
1. Obat kombinasi artesunat+amodiakuin selama 3 hari dan primakuin selama
sehari
- 4 tablet DHP @ 360 mg
- 2 tablet primakuin @ 25 mg
2. Paracetanol tab 500 mg (PRN)

Prognosis
Quo ad Vitam : Dubia Ad Bonam
Quo Ad Functionam : Dubia Ad Bonam
15

TINJAUAN PUSTAKA
MALARIA

DEFINISI
Malaria merupakan penyakit yang diakibatkan infeksi dari parasit plasmodium
didalam darah (eritrosit) atau jaringan. Penyakit malaria dapat memberikan gejala
berupa menggigil, anemia dan splenomegali. Pada pasien yang imun dapat
berlangsung tanpa dengan gejala. Penyakit ini dapat berlangsung secara akut atau
kronis. Penyakit ini dapat berlangsung tanpa komplikasi ataupun mengalami
komplikasi sistemik atau dapat disebut malaria berat.
Penyakit malaria merupakan infeksi yang ke-3 teratas dalam jumlah kematian.
Penyakit malaria dapat ditemukan pada daerah tropik seperti Afrika, sebagian besar
Asia dan sebagian besar Amerika. Di Indonesia malaria merupakan penyakit infeksi
yang menjadi perhatian khusus dari para kementrian kesehatan. Beberapa bagian
endemis malaria di Indonesia seperti Papua dan Kalimantan.

KLASIFIKASI
Penyakit malaria berdasarkan peneyebab parasit yang menginfeksi manusia
terbagi menjadi 4, yaitu:
A. Malaria Tertiana/vivax
Malaria tartiana merupakan penyakit malaria yang diinfeksi oleh
Plasmodium vivax. Penyakit ini menyebar sebanyak 52% di Asia. Masa
inkubasi dari parasit tersebut 12-17 hari atau bisa lebih panjang hingga 20
hari. Pada hari pertama panas ireguler, kadang-kadang remitten atau
intermitten, pada saat tersebut menggigil jarang terjadi. Pada akhir minggu
tipe demam menjadi intermitten dengan gejala trias malaria. Serangan
paroksismal terjadi pada sore hari. Pada minggu kedua limpa teraba. Pada
akhir minggu ke lima panas mulai turun.
B. Malaria Malariae/quartana
16

Malaria yang disebabkan oleh Plasmodium malariae ini dapat dijumpai


di Afrika, Amerika latin, dan Asia. Masa inkubasi dari parasit ini 18-40 hari.
Manifestasi klinis berlangsung lebih ringan daripada p.vivax. Splenomegali
dapat ditemukan namun ringan dan serangan paroksismal dapat terjadi tiap
3-4 hari.
C. Malaria Ovale
Malaria ovale yang disebabkan oleh Plasmodium ovale merupakan jenis
malaria yang paling ringan. Masa inkubasi malaria ini 11-16 hari. Serangan
paroksismal terjadi pada 3-4 hari di malam hari dan tidak lebih dari 10 kali.
P.ovale tidak dapat ditemukan pada pemeriksaan darah tepi apabila terdapat
infeksi campuran. Serangan menggigil jarang terjadi dan splenomegali
jarang teraba.
D. Malaria Tropika/Falciparum
Malaria jenis ini merupakan malaria yang paling berat. Ditandai dengan
panas irreguler, anemia, splenomegali, parasitemia sering dijumpai. Masa
inkubasi 9-14 hari. Malaria tropika yang disebabkan oleh Plasmodium
falciparum mempunya perjalanan klinis yang cepat dan menyerang semua
bentuk eritrosit. Gejala prodormal yang sering dijumpai sakit kepala, nyeri
punggung/nyeri tungkau, lesu, perasaan dingin, mual, muntah, dan diare.
Demam pada pasien terjadi secara irreguler. Gejala berkeringat yang banyak
pun dapat ditemukan. Apabila infeksi memberat maka nadi cepat, nausea,
muntah, diare menjadi berat dan diikuti kelainan paru (batuk). Splenomegal
dijumpai lebih sering dari hepatomegali dan nyeri pada perabaan, dapat
disertai ikterus. Pada pemeriksaan urin rutin dapat dijumpai albuminuria,
hialin dan kristal yang granular. Anemia lebih menonjol disertai leukopeni
dan monositosis.

PATOFISIOLOGI
Infeksi parasit malari bermula ketika nyamuk anopheles yang membawa parasit
tersebut menggigit manusia dan melepaskan sporozoit ke dalam pembuluh darah,
dalam watku 45 menit akan menuju hepar dan sebagian kecil sisanya akan mati.
17

Didalam parenkim paru parasit tersebut berkembang dalam bentuk skizon


intrahepatik atau skizon pre eritrosit. Setelah menginfeksi parenkim hati, terbentuk
skizon hepar yang apabila pecah maka akan mengeluarkan 10.000-30.000 merozoit
dan akan beredar ke sirkulasi darah. Parasit tumbuh setelah memakan hemoglobin
dan dalam metabolismenya membentuk pigmen yang disebut hemozoin yang dapat
dilihat secara mikroskopik. Eritrosit yang berparasit mejadi lebih elastik dan
dinding berubah lonjong. Di dalam darah sebagian parasit akan membentuk gamet
jantan dan gamet betina, dan bila nyamuk menghisap darah manusia yang sakit
malaria akan terjadi siklus seksual dalam tubuh nyamuk. Setelah terjadi perkawinan
akan terbentuk zigot dan menjadi lebih bergerak menjadi ookinet yang menembus
dinding perut nyamuk dan akhirnya menjadi bentuk oocyst yang akan menjadi
masak dan mengeluarkan sporozoit yang akan bermigrasi ke kelenjar ludah nyamuk
dan siap menginfeksi manusia.
Plasmodium akan melepaskan 24 merozoit ke dalam sirkulasi setelah melewati
jaringan hepar. Mereozoit yang dilepaskan akan masuk ke dalam sel RES di limpa
dan mengalami fagositosis serta filtrasi. Merozoit yang lolos dari filtrasi dan
fagositosis akan menginvasi eritrosit. Lalu parasit tersebut akan berkembang di
eritrosit. Eritrosit yang berpotensi (EP) akan mengalami 2 stadium, yaitu cincin
pada 24 jam pertma dan stadium matur pada 24 jam ke 2. Permukaan EP stadium
cincin akan menampilkan antigen RESA (Ring-erythtocyte surgace antigent) yang
menghilang setelah parasit masuk stadium matur. EP stadium matur akan
mengalami penonjolan dan membentuk knob dengan Histidin Rich-protein-1
(HRP-1). Selanjutnya EP akan berubah menjadi merozoit dan akan melepaskan
toksin malaria berupa GPI (glikosifosfatidilinositol) yang merangsang pelepasan
TNF∝ dan interlukin -1 (IL-1) dari makrofag. Sitoaderensi adalah perlekatan EP
stadium matur pada permukaan endotel vaskular. EP tidak beredar kembali di
sirkulasi maka EP akan menumpuk di endotel vaskuler. Eritrosit non parasit akan
mengelilingi EP sehingga akan menimbulkan obstruksi lokal.

ETIOLOGI
18

Etiologi terjadinya infeksi malaria ini adalah parasit plasmodium. Parasit ini
dapat menginfeksi eritrosit dan mengalami pembiakan di jaringan hepar dan di
eritrosit. Parasit ini memiliki empat jenis yaitu P.vivax, P.ovale, P. Falciparum, P.
Malariae.

MANIFESTASI KLINIS
Gambaran karakteristik demam malaria adalah demam periodik, anemia dan
splenomegali. Masa inkubasi bervariasi tergantung pada jenis plasmodium yang
menginfeksi. Keluhan prodormal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa
kelesuan, malaise, sakit kepala, sakit punggung, merasa dingin punggung, nyeri
sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia, sakit perut, diare ringan, dan kadang-
kadang dingin. Gejala ini sering terjadi pada pasien yang diinfeksi oleh
P.vivax/ovale.
Trias malaria yang merupakan gejala klasik dari malaria pun terjadi secara
berurutan, yaitu periode dingin (15-60 menit) : mulai mengigil, periode panas:
muka penderita merah, nadi cepat, dan suhu badan tetap tinggi beberapa jam, diikuti
dengan keadaan berkeringat, periode berkeringat: penderita berkeringat banyak dan
temperatur turun, dan penderita merasa sehat. Serangan primer: keadaan mulai dari
akhir masa inkubasi dan mulai terjadi serangan paroksismal. Periode latent : periode
tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadinya infeksi, biasanya terjadi
diantara dua keadaan paroksismal. Rekrudesensi: berulangnya gejala klinik dan
parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan primer.
Rekrudesensi dapat terjadi berupa berulangnya gejala klinik sesudah periode laten
dari serangan primer. Rekurens: yaitu berulangnya gejala klinik atau parasitemia
setelah 24 minggu, berakhirnya serangan primer. Relaps atau reacute: berulangnya
gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama (jarak 5 tahun dari serangan primer)

PEMERIKSAAN FISIK
Pada malaria, kelainan yang didapat yaitu pembesaran limpa. Pembesaran limpa
biasa ditemukan setelah 3 hari setelah serangan. Limpa menjadi bengkak, nyeri dan
hiperemis. Gejala anemia pun akan ditemui, seperti konjunctiva anemis.
19

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Tetes darah
a. Tetesan preparat darah tebal
Tetesan darah tebal lebih banyak tetesan darah tipis. Ketebalan tersebut
perlu untuk mengidentifikasi parasit. Pemeriksaan parasit dilakukan selama 5
menit. Preparat dinyatakan negatif apabila setelah diperiksa 200 lapang
pandangan dengan pembesaran kuat tidak ditemukan parasit. Hitung parasit
dapat dilakukan pada tetes tebal dengan menghitung jumlah parasit per 200
leukosit. Bila leukosit 10.000/ul maka hitung parasitnya ialah jumlah parasit
dikalikan 50 merupakan jumlah per mikro liter darah
b. Hapusan darah tipis
Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium. Bila jumlah parasit >
100.000/ul darah menandakan infeksi yang berat..
2. Tes Antigen
Tes antigen terbagi menjadi dua jenis tes, yaitu Histidine Rich Protein II
mendeteksi antigen dari P.falciparum dan antigen terhadap LDH yang terdapat
pada Plasmodium lainnya. Tes antigen ini dapat bermanfaat untuk menyaring
dan sebagai tes deteksi parasite untuk pemberian obat malaria ACT.
3. Tes Serologi
Tes serologi ini memakai teknik immuno fluorescent. Tes ini berguna
mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap malaria.
4. Tes Diangnosa Molekular
Pemeriksaan ini sangat peka dengan teknologi amplifikasi DNA. Keunggulan
tes ini walaupun jumlah parasit sangat sedikti dapat memberikan hasil positif.
Tes ini hanya digunakan untuk penelitian belum dilaukan untuk pemeriksaan
rutin.

PENATALAKSANAAN
20

Pengobatan pada penyakit malaria Malaria falciparum selama 3 hari dan malaria
vivax dapat dilakukan selama 14 hari, karena kegagalan pengobatan jarang terjadi
selama 14 hari. Apabila terdapat kegagalan, tergigitnya kembali hospes oleh
nyamuk A.Anopheles merupakan faktornya
Prinsip penanganan malaria seperti berikut
1. Penderita tergolong malaria tanpa komplikasi diobati dengan
ACT(Artemisinin base Combination Therapy).
2. Penderita malaria berat diobati dengan Artesunate intravenous
3. Pemberian pengobatan dengan ACT harus berdasarkan hasil pemeriksaan
darah mikroskopik positif atau RDT yang positif.
4. Pengobatan harus radikal dengan penambahan primakuin
WHO telah menetapkan pegobatan malaria tanpa komplikasi dengan memakai
obat ACT. Pemakaian obat artemisin sangat berguna untuk membunuh semua jenis
spesies. Obat-obatan ini berkerja sangat cepat dengan waktu paruh 2 jam. ACT
merupakan kombinas obat yang dapat:
 Efek samping yang minimal
 Menurunkan pemawa gamet
 Belum ada resistensi terhadap artemisin
 Efektif terhadap semua spesies
 Menghilangkan simptom dengan cepat
 Menurunkan biomass parasite degan cepat.
Beberapa ACT yang direkomendasikan oleh WHO, yaitu:
1. Arthemeter + Lumefantrine
2. Artesunate +mefloquine
3. Artesunate+amodiaquine
4. Artesunate+sulfadoksin-pirimetamine
5. Dihidroartemisinin+piperakuine
Dari kombinasi obat di atas yang tersedia di indonesia saat ini ialah kombinasi
Artesunate+amodiakuin dan kombinasi ke dua yang terdiri dari dihydroartemisinin
+ piperakuin (DHP). Obat kombinasi ke dua tersebut telah beredar luas di seluruh
fasilitas kesehatan di Indoneisa karena kombinasi obat tersebut merupakan obat
21

program eliminasi malaria dari pemerintah. Kombinasi ke tiga adalah artemether


dan Lumefantrine. Kombinasi obat inin tersedia di Indonesia bukan sebagai obat
program tetapi untuk obat swasta (tersedia di Apotek) dan juga termasuk obat dalam
daftar ASKES.

Tabel 1. Penanganan lini pertama Malaria Falciparum dengan


Artesunat+amodiakuin
Jumlah tablet per hari menurut umur
0-1 2-11 1-4 5-9 10-14 >15
Hari Jenis obat
bulan bulan tahun tahun tahun tahun
0-4 kg 4-10 kg 10-20kg 20-40kg 40-60kg >60kg
Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
1 Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4
Primakuin - - ¾ 1½ 2 2-3
Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
2
Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4
Artesunat ¼ ½ 1 2 3 4
3
Amodiakuin ¼ ½ 1 2 3 4

Tabel 2. Penanganan lini pertama Malaria Falciparum dengan


Dihidroartemisinin+piperakuine
Jumlah tablet per hari menurut umur
0-1 2-11 1-4 5-9 10-14 >15
Hari Jenis obat
bulan bulan tahun tahun tahun tahun
0-5 kg 6-10 kg 11-17kg 18-30kg 31-60kg >61kg
22

DHP ¼ ½ 1 1½ 2 3-4
1
Primakuin - - ¾ 1½ 2 2-3
2-3 DHP ¼ ½ 1 1½ 2 3-4

Tabel 3. Dosis penggunaan artemeter-lumefantrine (A-L) untuk malaria


falciparum

Hari Jenis obat Jam <3 tahun > 3-8 tahun > 9-14 tahun >14tahun
5-14kg 15-24kg 25-34kg 34kg
A-L 0 jam 1 2 3 4
1 A-L 8 jam 1 2 3 4
Primakuin 12 jam ¾ 1½ 2 2-3
A-L ½ 1 2 3 4
2
A-L ½ 1 2 3 4
A-L ½ 1 2 3 4
3
A-L ½ 1 2 3 4

Departemen kesehatan RI merekomendasikan pedoman pengobatan malaria di


Indonesia agar pada lini pertama selalu menggunakan ACT dan primakuin. Untuk
penggunaan ACT harus dipastikan bahwa pasien terbukti menderita penyakit
malaria dengan pemeriksaan mikroskopik atau diagnosis cepat. Malaria berat
disaranakn memakai derivat artemisinin dan yang disipakan ialah obat injeksi
artesunate dan artemeter, dan apabila obat tersebut tidak tersedia maka diganti
dengan kina HCI injeksi.

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Guidelines For The Treatment of Malaria. Edisi


III. Italy; 2015. Hal. 59-70.
2. Paul N, Harijanto. Malaria. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi VI. Jakarta:
interna Publishing; 2014. Hal. 595-611.
23