Anda di halaman 1dari 10

Identifikasi Alga Merah (Rhodophyta)

Drs.Sulisetjono, M.Si

Ainun Nikmati Laily, M.Si

1.1 Latar Belakang

Indonesia dikenal sebagai Negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Sebagai Negara
dengan luas wilayah lebih dari 70 %, salah satu kekayaan alam yang bisa kita manfaatkan adalah
sumber daya alam hayati. Selain ikan, alternatif hasil laut yang bisa diolah adalah alga meskipun
tidak semua alga bisa digunakan.

Pada umumnya, alga yang memilki zat kapur terbagi dalam tiga kelas, yaitu Chlorophyta, Phaeophyta
dan Rhodophyta. Kelas-kelas ini mengandung jenis-jenis alga yang hampir terdapat di seluruh
perairan pantai di dunia. Salah satunya adalah kelas Rhodophyta, kehadiran jenis-jenis kelas ini
merupakan pelopor dari rumput laut berzat kapur yang sejati karena mempunyai kandungan zat
kapur sangat tinggi. Hampir semua komunitas alga berzat kapur didominasi oleh divisi Rhodophyta.
Ia banyak dijumpai pada rataan terumbu karang terutama tumbuh pada substrat karang mati,
moluska dan benda-benda yang tenggelam di dasar laut.

Pantai Kondang Merak merupakan tempat yang ideal untuk pertumbuhan makroalga sebab
perairannya yang masuk daerah pasang surut sampai daerah subtidal.Subtratnya berupa batu
karang, pasir serta intensitas cahanya yang relatif tertutup dari masyarakat pesisir pantai.

Oleh karena itu, praktikan melakukan kegiatan kuliah kerja lapangan (KKL) di pantai Kondang Merak,
Malang. Karena kondisi di pantainya yang masih sangat alami dan jauh dari keramaian. Sehingga di
mungkinkan ditemukannya berbagai macam jenis alga di pantai ini.

1.2 Tujuan

Tujuan diadakannya pengamatan makroalga ini adalah:

1. Untuk mempelajari organisasi thallus divisi alga merah (Rhodophyta) di pantai Kondang Merak,
Malang Selatan

2. Untuk mengetahui morfologi divisi alga merah (Rhodophyta) di pantai Kondang Merak, Malang
Selatan

3. Untuk mengetahui siklus hidup atau reproduksi alga merah (Rhodophyta) di pantai Kondang
Merak, Malang Selatan.

1.3 Manfaat

Manfaat yang bisa diperoleh dari diadakannya penelitian ini adalah:


1. Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai divisi alga merah (Rhodophyta) dan
spesiesnya, khususnya spesies yang ditemukan di pantai Kondang Merak, Malang Selatan.

2. Memberikan informasi pada masyarakat tentang beberapa spesies dari divisi alga merah
(Rhodophyta) yang ditemukan di pantai Kondang Merak Malang Selatan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rhodophyta (Alga merah)

Alga merupakan tumbuhan talus yaitu tumbuhan yang struktur organ tubuhnya belum dapat
dibedakan dengan jelas (Puty,2001). Tubuhnya memiliki sel tunggal dan juga sel banyak, yang
berpigmen dan berklorofil.Umumnya tumbuhan ganggang hidup di tempat yang lembab, baik di air
tawar maupun air laut. Semua alga mengandung klorofil tetapi ada pigmen lain yang ,menyusun
yang terkandung dalam plastid (Campbell, 1992).

Alga merah atau Rhodophyta adalah salah satu divisi alga berdasarkan zat warna atau
pigmentasinya. Warna merah pada alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak
dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil. Alga ini pada umumnya banyak sel
(multiseluler) dan makroskopis. Panjangnya antara 10 cm sampai 1 meter dan berbentuk berkas
atau lembaran. Beberapa alga merah memiliki nilai ekonomi sebagai bahan makanan (sebagai
pelengkap minuman penyegar ataupun sebagai bahan baku agar-agar). Alga merah sebagai bahan
makanan memiliki kandungan serat lunak yang baik bagi kesehatan usus (Tjitrosoepomo, 2005).

Rhodophyta (ganggang merah) Umumnya hidup di laut dan beberapa jenis di air tawar, mengandung
pigmen klorofil a, klorofil d, karoten, fikoeritrin, fikosianin.Tubuh bersel banyak menyerupai benang
atau lembaran.Reproduksi vegetatif dengan spora (Bold, 1978).

Alga merah berbentuk lembaran. Susunan Sel Rodophyta Rhodophyta berwarna merah sampai
ungu, kadang-kadang juga lembayung atau pirang kemerah-merahan.kromatofora berbentuk
cakram atau suatu lembaran, mengandung klorofil-a dan karotenoid, tetapi warna itu tertutup oleh
zat warna merah yang mengadakan fluoresensi, yaitu fikoeritrin. Pada jenis-jenis tertentu terdapat
fikosianin. Sebagai hasil asimilasi terdapat sejenis karbohidrat yang disebut tepung floride, yang juga
merupakan hasil polimerisasi glukosa, berbentuk bulat, tidak larut dalam air, seringkali berlapis-lapis,
jika dibubuhi yodium berwarna kemerah-merahan. Tepung ini sifatnya lebih dekat kepada glikogen,
dan tidak terdapat dalam kromatofora, melainkan pada permukaannya. Selain tepung floride
terdapat juga floridosida (senyawa gliserin dan galaktosa) dan tetes-tetes minyak. Pirenoid kadang-
kadang juga terdapat. Selain beberapa perkecualian, rhodophyta selalu bersifat autotrof. Yang
heterotrof tidak mempunyai kromatofora dan hidup sebagai parasit pada lain ganggang. Dinding sel
terdiri atas dua lapis, yang dalam terdiri atas selulosa, yang luar terdiri atas pectin yang berlendir
(Bold,1978).

Rhodophyceae berwarna merah sampai ungu, kadang-kadang juga lembayung atau pirang
kemerahmerahan. Kromatofor mengandung klorofil-a dan karotenoid, tetapi warna itu tertutup oleh
zat warna merah yang mengandung fluoresensi, yaitu fikoeretin. Sebagai hasil asimilasi terdapat
sejenis karbohidrat yang disebut tepung floride, yang juga merupakan hasil polimerisasi glukosa
berbentuk bulat, tidak larut dalam air, seringkali berlapis-lapis, jika dibubuhi yodium berwarna
kemerahmerahan. Rhodophyceae selalu bersifat autotrof dan heterotrik, hidup dalam air laut,
hidupnya sebagai bentos, melekat pada suatu substrat dengan benang-benang pelekat atau cakram
pelekat (Bold,1978).

2.2 Ciri-ciri Rhodophyta

Adapun cici-ciri Rhodophyta secara spesifik dipaparkan sebagai berikut (Bold,1978):

1) Mengandung kloroplas berisi fikoeretrin lebih banyak dibandingkan klorofil, ada karotenoid,
sedikit fikosianin.

2) Kebanyakan hidup di air laut, yaitu laut dalam yang hanya dapat dicapai oleh cahaya
bergelombang pendek. Hidup sebagai bentos, melekat pada substrat dengan benang/cakram
pelekat.

3) Bersifat autotrof, tetapi ada yang heterotrof. Yang heterotrof tidak berkromatofora dan hidup
sebagai parasit pada ganggang lain.

4) Hasil asimilasi berupa tepung floridae (mirip glikogen) dan floridosida (senyawa gliserin dan
galaktosa) serta tetes minyak. Kadang terdapat pirenoid.

5) Dinding sel ganggang merah terdiri atas selulosa (sebelah dalam) dan pektin berlendir (sebelah
luar).

6) Bentuk talus beranekaragam dengan jaringan tubuh yang belum bersifat parenkim tetapi hanya
berupa plektenkim.

7) Reproduksi aseksual dengan spora, dan seksual dengan cara oogami. Spora atau gamet tidak
berflagel, jadi tidak dapat bergerak aktif.

2.3 Habitat Rhodophyta

Sebagian besar alga merah hidup di laut, banyak terdapat di laut tropika. Sebagian kecil hidup di air
tawar yang dingin dengan aliran deras dan banyak oksigen. Selain itu ada pula yang hidup di air
payau. Alga merah yang banyak ditemukan di laut dalam adalah Gelidium dan Gracilaria, sedang
Euchema spinosum menyukai laut dangkal. Rhodophyta yang ada di habitat air tawar dan tanah
adalah spesies dari genus Audouinella, Bangia, Batrachospermum, Chroodactylon,Hildenbrandia,
Lemanea dan Porphyridium. Beberapa genus, misalnya Bangia, Bostrychia dan Hildenbrandia,
memuat spesies kelautan maupun air tawar. Beberapa ganggang merah bersifat parasit pada
ganggang lainnya, seperti Choreocolax dan Holmsella (Nontji, 1993).

Spesies kelautan biasanya berwarna kemerahan, sementara spesies air tawar biasanya hijau
kebiruan, hijau kekuningan, coklat atau abu-abu. Ganggang merah mengandung klorofil a, dan
sebagian juga mengandung klorofil d; tilakoid tunggal (tidak berasosiasi) dan mengandung
pikobilisoma yang memuat pikoeritrin dan/atau pikosianin. Banyak karotenoid, misalnya xantofil dan
beta karoten, juga ada. Produk hasil fotosintesis antara lain pati floridean dan floridosida (Nontji,
1993).

2.4 Sistem reproduksi Rhodophyta

Alga merah berkembangbiak secara vegetatif dan generatif. Perkembangbiakan vegetatif ganggang
merah berlangsung dengan pembentukan spora haploid (n) yang dihasilkan oleh sporangium atau
thalus ganggang yang diploid. Spora ini selanjutnya tumbuh menjadi ganggang jantan atau betina
yang sel-selnya haploid (n). Perkembangbiakan generatif ganggang merah dengan oogami,
pembuahan sel kelamin betina (ovum) oleh sel kelamin jantan (spermatium). Alat
perkembangbiakan jantan disebut spermatogonium yang menghasilkan spermatium yang tak
berflagel. Sedangkan alat kelamin betina disebut karpogonium, yang menghasilkan ovum. Hasil
pembuahan sel ovum oleh spermatium adalah zigot yang diploid. Selanjutnya, zigot itu akan tumbuh
menjadi ganggang baru yang menghasilkan aplanospora dengan pembelahan meiosis. Spora haploid
akan tumbuh menjadi ganggang penghasil gamet. Jadi pada ganggang merah terjadi pergiliran
keturunan antara sporofit dan gametofit (Aslan,1991).

Perkembangbiakan dapat secara aseksual, yaitu dengan pembentukan spora, dapat pula secara
seksual (oogami) (Ferdinant, 2002).

a). Reproduksi seksual terjadi melalui pembentukan dua anteridium pada ujung-ujung cabangtalus.
Anteridium menghasilkan gamet jantan yang disebut spermatium.Gametangium betina disebut
karpogonium yang terdapat pada ujung cabang lain.Karpogonium terdiri dari satu sel panjang.
Bagian karpogonium bawah membesar seperti botol, sedangkan bagian atasnya membentuk gada
atau benang dan dinamakan trikogen. Inti sel telur terdapat di bagian bawah yang membesar
seperti botol. Spermatium mencapai trikogen karena terbawa air (pergerakan secara pasif).
Spermatium kemudian melekat pada trikogen. Setelah dinding perlekatan terlarut,seluruh
protoplasma spermatium masuk dalam karpogonium. Setelah terjadi pembuahan, terbentuklah
sumbat di bagian bawah. karpogonium. Sumbat itumemisahkan karpogonium dan trikogen. Zigot
hasil pembuahan akan membentuk benang-benang sporogen. Dalam sel-sel di ujung benang
sporogen itu, terbentuk spora yang masing-masing memiliki satu inti dan satu plastida; spora
tersebutdinamakan karpospora. Karpospora akhirnya keluar dari sel-sel ujung benangsporogen
sebagai protoplasma telanjang berbulu cambuk. Karpospora ini mula-mula berkecambah menjadi
protalium yang akhirnya tumbuh menjadi individu baru lengkap dengan alat-alat generatifnya.

b) Reproduksi aseksual terjadi dengan membentuk tetraspora. Tetrasporaakan menjadi


gametangium jantan dan gametangium betina. Gametangium jantann dan betina akan bersatu
membentuk karposporofit. Karposporofit kemudian menghasilkan tetraspora, Contoh anggota-
anggota Rhodophyta antara lain: Corrallina, Palmaira, Batrachospermum moniliforme, Gelidium,
Gracilaria, Eucheuma,dan Scicania furcellata.

2.5 Klasifikasi Rhodophyta

Menurut Smith (1955), divisi Rodophyta hanya mempunyai satu kelas, yaitu Rhodophyceae. Ordonya
antara lain (Tjitrosoepomo, 2005).:

a) Bangiales (contohnya Bangia, Porphyra)

b) Ceramiales (contohnya Bostrychia; Ceramium, Griffithsia, Polysiphonia)

c) Compsopogonales (contohnya. Compsopogon)

d) Cryptonemiales (contohnya Choreocholax, Corallina, Gloiopeltis, Hildenbrandia, Holmsella,


Lithophyllum)
e) Gigartinales (contohnya. Chondrococcus, Chondrus, Eucheuma, Furcellaria, Gardneriella,
Gigartina,Gracilaria, Iridaea)

f) Nemalionales (contohnya Audouinella, Batrachospermum, Gelidium, Lemanea);

g) Palmariales (contohnya Palmaria)

h) Porphyridiales (contohnya Chroodactylon, Cyanidium, Porphyridium)

i) Rhodochaetales (contohnya Rhodochaete)

j) Rhodymeniales (contohnya Coeloseira, Rhodymenia).

2.6 Manfaat Rhodophyta

Manfaatnya antara lain sebagai bahan makanan dan kosmetik.misalnya Eucheuma spinosum , selain
itu juga dipakai untuk mengeraskan atau memadatkan media pertumbuhan bakteri. Berwarna
merah sampai ungu, kromotofora berbentuk cakram atau sesuatu lembaran, sebagai hasil asimilasi
terdapat sejenis karbohidrat yang disebut tepung floride, hidupnya diair laut, da berkembang biak
secara aseksual, yaitu dengan pembentuka spora dan seksual atau oogami (Ferdinant, 2002).

Penyebaran alga atau rumput laut di Indonesia ada beberapa jenis yaitu rumput laut penghasil agar-
agar (Agarophyte) diantaranya adalah Gracillaria sp, Gelidium, Gelediupsis, Hypnea, dan rumput laut
penghasil keraginan yaitu spinosum, Euchema catini dan Eucheuma striatum. Selain itu juga rumput
laut penghasil algin yaitu sargasum, Marcocystis, dan lessonia (Supriyono, 2007).

Alga merah dapat menyediakan makanan dalam jumlah banyak bagi ikan dan hewan lain yang hidup
di laut. Jenis ini juga menjadi bahan makanan bagi manusia misalnya Chondrus crispus (lumut
Irlandia) dan beberapa genus Porphyra. Chondrus crispus dan Gigortina mamilosa menghasilkan
karagen yang dimanfaatkan untuk penyamak kulit, bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut.
Alga merah lain seperti Gracilaria lichenoides, Euchema spinosum, Gelidium dan Agardhiella
dibudidayakan karena menghasilkan bahan serupa gelatin yang dikenal sebagai agar-agar. Gel ini
digunakan oleh para peneliti sebagai medium biakan bakteri dan fase padat pada elektroforesis gel,
untuk pengental dalam banyak makanan, perekat tekstil, sebagai obat pencahar (laksatif) atau
sebagai makanan penutup (Nontji, 1993).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan tempat

Praktikum pengamatan makroalga ini dilaksanakan pada hari sabtu sampai minggu tanggal 11-12
Oktober 2014, di pantai Kondang Merak di daerah Bantur Malang bagian selatang.

3.2 Alat dan bahan

3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada saat pengamatan makroalga di Kondang Merak antara lain:

1. Kamera digital 1 buah

2. Alat tulis menulis 1 buah

3. Senter 1 buah

4. Penggaris 1 buah

5. Kantong plastik besar 1 buah

3.1.2 Bahan

Bahan-bahan yang diperlukan dalam pengamatan antara lain:

1. Objek makroalga Rhodophyta Kondang Merak 2 buah

2. Buku tentang identifikasi alga 1 buah

3.3 Cara Kerja

Langkah kerja dalam pengamatan ini antara lain:

1. Dicari alga merah pada saat air laut surut yaitu pada sore hari dan esok paginya

2. Dimasukkan plastik sampel alga merah yang telah ditemukan

3. Diambil gambar spesies alga merah dengan kamera yang telah dibawa

4. Diidentifikasi dan dideskripsikan alga yang telah ditemukan dengan menggunakan buku literatur
tentang alga.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Scinaia complanata

Gambar pengamatan

Gambar literatur

(Goeman, 2012)
Klasifikasi (Goeman, 2012):

Kingdom: Plantae

Divisi : Rhodophyta

Class : Nemaliales

Ordo : Galaxauraceae

Family : Scinaea Biv

Genus : Scinaea

Spesies : Scinaia complanata

Sciania complanata biasanya tumbuh dalam rumpun daun kecil dengan struktur yang semakin luas
semakin dekat dengan puncak dari percabangan. Daun ini seperti struktur juga akan memiliki bentuk
agak tidak konsisten . Scinaia complanata bisa tumbuh lebih besar 5 inci dan 4 sampai 5 inci.
Morfologinya bewarna merah tua, ditemui menempel pada karang dan batuan dalam bentuk koloni
atau rumpun, helaian daunnya pipih, bercabang atau dikotom, antara blade atau helaian dan stipe
dapat dibedakan dan terlihat thalus menempel pada substrat.

Rumpun scinaia hidup dengan menempel pada batu atau benda lain di pantai. Scinaia hidup pada
zona sublitoral pada jarak 8 meter dari bibir pantai.. Untuk kondisi air, Sciania hidup pada laut
dengan konsentrasi nitrat sekitar 5 ppm. Sciania tersebar di sekitar pantai barat Kepulauan Inggris
termasuk Shetlands, Isle of Man dan Channel Islands, namun tak ada di pantai timur Inggris dan
Skotlandia. Eropa: Mediterania, Azores, Portugal, pantai Atlantik Spanyol dan Perancis, selatan
Norwegia. Pantai Atlantik Amerika Utara: Kanada, dari Massachusetts ke Connecticut, Canary dan
Maroko.

Manfaat Scinaia complanata dalam kehidupan manusia antara lain dapat dimanfaatkan untuk
pewarna alami untuk makanan, selain itu Scinaia complanata juga dapat dimanfaatkan sebagai
hiasan dalam aquarium. Sedangkan dalam habitatnya sendiri, Scinaia complanata menjadi sumber
makanan bagi sejumlah hewan laut, misalnya kepiting, lobster dan pemakan mikroalga lainnya.

4.2 Chindrus crispus

Gambar pengamatan

Gambar literatur

(Iqbal, 2008)
Keterangan :

1. Panjang 2 inci atau 4 sampai 5 cm

2. Terlihat adanya holdfast

3. Warna merah tua

4. Percabangan dikotom pendek

Klasifikasi (Iqbal, 2008):

Kingdom: Plantae

Divisi: Rhodophyta

Kelas : Rhodophyceae

Ordo: Gigatrinales

Famili: Gigartinaceae

Genus : Chondrus

Spesies: Chondrus cripcus

Berdasarkan hasil pengamatan pada tugas kuliah kerja lapangan di pantai Kondang Merak, setelah
dilakukan identifikasi diketahui adanya spesies Chondrus cripcus. Tergolong dalam divisi Rhodophyta
dengan warna merah, ditemukan di tepi pantai, terlihat adanya holdfast, blade dan percabangan
dikotom.

Chondrus cripcus termasuk golongan dalam divisi Rhodophyta. Bentuk talus silindris pipih. Bentuk
merumpun yang terbentuk oleh berbagai percabangan ada yang sederhana dan ada pula yang
kompleks. Menurut (Birsyam, 1992), ciri-ciri Chondrus cripcus adalah sebagai berikut:

 Daur hidup terdiri dari dua fase


 Banyak mengandung zat pektin, disamping zat floredian
 3. Thallus pipih
 4. Percabangan dikotom pendek, elastis seperti tulang rawan
 5. Warna merah keunguan (bila segar) dan putih ketika mengering
 Chondrus cripcus merupakan sumber industri carragenean, yang biasa digunakan sebagai
pengental dan penstabil dalam produk susu seperti es krim dan makanan olahan. Dapat
juga digunakan sebagai pengental dalam calico pencetakan dan denda bir atau anggur
(Yudianto,2006).
 Chondrus cripcus mengalami siklus hidup dengan dua tahap yang berbeda: seksual haploid
gametofit panggung dan aseksualterjadi pada tahap diploid sporophyte. Selain itu, ada
sepertiga panggung carposporophyte, yang dibentuk pada gametofit perempuan setelah
pembuahan. Para gamethophytes pria dan wanita menghasilkan gamet yang sekering
untuk membentuk karposporophyte diploid, yang menbentuk karpospores, yang
berkembang menjadi saprofit. Sporophyte kemudian mengalami meiosis untuk
menghasilkan tetraspores haploid (laki-laki atau perempuan), yang berkembang menjadi
gametofit. Tiga tahap ( laki-laki, perempuan dan sporophite) sulit untuk membedakan
ketika mereka tidak subur, namun gametophytes sering menunjukkan permainan warna
biru (Yudianto, 2006).
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut.

1. Bentuk thalus dari spesies alga merah (Rhodophyta) adalah helaian atau seperti tumbuhan.

2. Morfologi dari spesies divisi Rhodophyta yang ditemukan antara lain, hidup berkoloni atau
membentuk rumpun, thalus bersel banyak (multiseluler), bewarna merah, antara blade dan
stipe dapat dibedakan dengan jelas, untuk holdfastnya ada dan menempel pada substrat di
batuan dan karang air laut zona pasang surut.

3. Siklus hidup dari spesies divisi Rhodophyta yang ditemukan di tempat pengamatan adalah
memiliki dua cara reproduksi yakni aseksual dan seksual. Reproduksi aseksualnya adalah dengan
pembentukan spora haploid yang dihasilkan oleh sporangium atau thalus ganggang yang diploid,
sedangkan reproduksi seksualnya dengan oogami, yaitu pembuahan sel kelamin betina (ovum)
oleh sel kelamin jantan (spermatium).

5.2 Saran

Pengamatan makroalga khususnya divisi Rhodophyta di Kondang Merak ini membawa banyak
manfaat, karena mahasiswa dapat secara langsung terjun ke lapangan melihat habitat asli dari
makroalga divisi Rhodophyta di air laut tersebut. Akan tetapi dengan minimnya pengalaman dan
referensi maka ditemukan adanya banyak kendala terutama dalam hal pengidentifikasian. Oleh
karena hal tersebut, maka diharapkan pada kuliah kerja lapangan selanjutnya dipersiapkan
dengan lebih matang agar tidak mengganggu jalannya kuliah kerja lapangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta

Birsyam, Inge.L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung: ITB Bandung

Bold. 1978. Introduction To The Algae, Structure and Reproduction. New Delhi :

Prentice Hall Of India.

Campbell, Neil A. 1992. Biologi jilid 2. Jakarta: Erlangga

Ferdinand,Fiktor, 2002. Praktis Belajar Biologi. Jakarta : Visindo

Iqbal, Ali. 2008. Sistematika Tumbuhan Cryptogamae. Jakarta: Erlangga

Nontji, A. 1993. Laut Nusantara.Jakarta: Djambatan.

Sulisetjono. 2009. Bahan Serahan Alga. Malang : UIN Press

Supriyono, Agus. Aktivitas Antioksidan Beberapa Spesies Rumput Laut dari Pulau Sumba dalam
jurnal sains dan teknologi indonesiaVol. 9 No. 1 april 2007 hlm. 34-38
Tjitrosoepomo, Gembong.2005. Taksonomi Tumbuhan Rendah. Yogyakarta: UGM Press

Yudianto, Suroso Adi. 2006. Penuntun Praktikum Botani Cryptogami. Bandung: UPI