Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN “INTEGRASI
NASIONAL”

Dosen Pembimbing
PRAYETNO, S.IP., M.Si.

Disusun Oleh:
KELOMPOK 2
CINDI CHAIRANI LUBIS ( 6173510005 )
SILVIA FAUZIAH NASUTION ( 6173510025 )

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
ILMU KEOLAHRAGAAN
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun
mampu menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidika
Kewarganegaraan.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi
ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-
kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
Integrasi Nasional, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
informasi, referensi, dan berita.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa. Kami sadar
bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,
kepada dosen pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan makalah di masa
yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

Medan, Februari 2019

Penyusun Kelompok 2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan negara kesatuan yang penuh dengan kenekaragaman, yang
terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan
kepercayaan, dan lain-lain. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak
dapat dipungkiri keberadaannya. Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia
mampu hidup secara berdampingan, saling mengisi. Hubungan-hubungan antar
kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkai ”Bhinneka Tunggal Ika” .
Namun seiring berjalannya waktu, kemajemukan masyarakat cenderung menjadi
beban bangsa Indonesia. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai masalah yang
sumbernya berbau kemajemukan, saat ini makna bhineka Tunggal Ika semakin luntur.
Sudah tampak kecondongan terpecah belah. Semangat “Bhinneka Tunggal Ika” perlu
untuk disosialisasikan lagi.
Saat ini pula bangsa Indonesia, masih mengalami krisis multidimensi yang
menggoncang kehidupan kita. Sebagai salah satu masalah utama dari krisis besar itu
adalah ancaman disintegrasi bangsa yang hingga saat ini masih belum mereda.
Kesadaran akan pentingnya kerukunan antar agama, suku, ras, dan budaya harus selalu
di wujudkan melalui pemahaman integrasi nasional.
Dewasa ini masih banyak masyarakat yang belum mempunyai toleransi yang
baik dengan banyaknya perbedaaan yang ada. Mereka masih belum menerima
perbedaan tersebut. Padahal untuk menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa, masyarakat
harus menempatkan dan menerapkan sistem integrasi nasional tersebut.
Semoga dengan makalah ini, kita lebih bisa memahami tentang pentingnya
integrasi nasional dan toleransi dalam mengatasi masalah yang memicu perpecahan. kita
bisa bersikap lebih apresiatif terhadap integrasi dan mempertahankan ciri khas
kebudayaan masing-masing daerah/suku, serta berusaha untuk dapat bereksplorasi akan
keilmuwan yang menunjang dalam segala aspek pendidikan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah ada, maka rumusan permasalahan yang terkait
dengan Integrasi Nasional diantaranya :
1. Apakah definisi dari Integrasi Nasional ?
2. Pentingnya integrasi dalam masyarakat indonesia yang plural ?
3. Apa Maksud dari Pluralitas Masyarakat Indonesia ?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi integrasi nasional?
5. Strategi integrasi yang tepat bagi bangsa indonesia ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui Pengertian Integrasi Nasional.
2. Untuk mengetahui Pentingnya Integrasi Nasional.
3. Untuk mengetahui Maksud dari Pluralitas Masyarakat Indonesia.
4. Untuk mengetahui Proses dalam Integrasi Nasional.
5. Untuk mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendorong Integrasi
Nasional.
6. Untuk mengetahui upaya yang harus dilakukan dalam membangun integrasi.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan makalah ini diantaranya :
1. Memperluas cakrawala berfikir kita mengenai masalah-masalah yang ada di
Indonesia.
2. Sebagai media informasi Mahasiswa dalam dunia pendidikan kewarganegaraan
3. Memperluas Cakrawala berpikir kita mengenai masalah-masalah yang ada di
Indonesia.
4. Memnumbuhkan sikap kritis dalam menghadapi keadaan di lingkungan sekitar,
lebih luas lagi di wilayah kesatuan Republik Indonesia.
5. Membentuk Individu yang memahami dan memiliki sikap mental, pengetahuan,
nilai-nilai, dan perilaku yang menjungjung tinggi demokrasi, Hak Asasi
Manusia, dalam rangka mewujudkan masyarakat madani.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Integrasi Nasional


Integrasi nasional berasal dari dua kata, yaitu “Integrasi” dan “Nasional”.
Integrasi berasal dari bahasa inggris, Integrate artinya menyatu padukan,
menggabungkan, mempersatukan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Integrasi
artinya pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Sedangkan kata
Nasional berasal dari bahasa Inggris, nation yang artinya bangsa. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, integrasi nasional mempunyai arti politis dan antropologis.
a) Secara Politis
Integrasi nasional secara politis berarti penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial
dalam kesatuan wilayah nasional yang membentuk suatu identitas nasional.
b) Secara Antropologis
Integrasi nasional secara antropologis berarti proses penyesuaian di antara unsur-unsur
kebudayaan yang berbeda sehingga mencapai suatu keserasian fungsi dalam kehidupan
masyarakat.
Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar baik
dari kebudayaan ataupun wilayahnya. Di satu sisi hal ini membawa dampak positif bagi
bangsa karena kita bisa memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bijak atau
mengelola budaya budaya yang melimpah untuk kesejahteraan rakyat, namun selain
menimbulkan sebuah keuntungan,hal ini juga akhirnya menimbulkan masalah yang
baru. Kita ketahui dengan wilayah dan budaya yang melimpah itu akan menghasilkan
karakter atau manusia manusia yang berbeda pula sehingga dapat mengancam keutuhan
bangsa Indonesia.
Intergasi nasional dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur
yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi.
Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan
tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial.
Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan berbagai aspek
perbedaan sosial budaya yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian
dan keselarasan secara nasional dalam mencapai tujuan bersama sebagai suatu bangsa..
Dengan demikian Integrasi nasional dapat diartikan penyatuan bagian-bagian yang
berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh, atau
memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu
bangsa.
Tentang integrasi, Myron Weiner (1971) memberikan lima definisi mengenai
integrasi yaitu:
1. Integrasi menunjuk pada proses penyatuan berbagai kelompok budayadan sosial
dalam satu wilayah dan proses pembentukan identitas nasional,membangun rasa
kebangsaan dengan cara menghapus kesetiaan padaikatan-ikatan yang lebih
sempit.
2. Integrasi menunjuk pada masalah pembentukan wewenang kekuasaan nasional
pusat di atas unit-unit sosial yang lebih kecil yang beranggotakankelompok-
kelompok sosial budaya masyarakat tertentu.
3. Integrasi menunjuk pada masalah menghubungkan antara pemerintahdengan
yang diperintah. Mendekatkan perbedaan perbedaan mengenai aspirasi dan nilai
pada kelompok elit dan massa.
4. Integrasi menunjuk pada adanya konsensus terhadap nilai yang minimum
yangdiperlukan dalam memelihara tertib sosial.
5. Integrasi menunjuk pada penciptaan tingkah laku yang terintegrasi dan
yangditerima demi mencapai tujuan bersama.
Sejalan dengan definisi tersebut, Myron Weiner membedakan 5 (lima) tipe
integrasi :
1. Integrasi nasional
2. Integrasi wilayah
3. Integrasi nilai
4. Integrasi elit-elit massa
5. Integrasi tingkah laku(tindakan integratif)
Kelima pendekatan yang selanjutnya kami sebut sebagai faktor yang
menentukan tingkat integrasi suatu negara adalah:
1. Adanya ancaman dari luar
2. Gaya politik kepemimpinan
3. Kekuatan lembaga-lembaga politik,
4. Ideologi nasional, dan
5. Kesempatan pembangunan ekonomi
Hampir senada dengan pendapat di atas, Sunyoto Usman (1998) menyatakan
bahwa suatu kelompok masyarakat dapat terintegrasi apabila:
1) Masyarakat dapat menemukan dan menyepakati nilai-nilai fundamental yang
dapat dijadikan rujukan bersama
2) Masyarakat terhimpun dalam unit sosial sekaligus memiliki “croos
cuttingaffiliation” sehingga menghasilkan “croos cutting loyality”
3) Masyarakat berada di atas saling ketergantungan di antara unit-unit sosial yang
terhimpun di dalamnya dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi.

2.2 Pentingnya Integrasi


Masyarakat yang terintegrasi dengan baik merupakan harapan bagi setiap
negara, salah satunya Indonesia. Sebab masyarakat yang terintegrasi diperlukan bagi
negara untuk membangun kejayaan nasional demi mencapai tujuan yang diharapkan.
Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan belum terupaya dengan baik untuk
mengintegrasikan masyarakat. Seperti halnya pada era reformasi tahun 1998, berbagai
macam perbedaan suku,budaya dan agama bahkan kepentingan pribadi membuat
Indonesia tidak dapat mencapai tujuannya sehingga dengan adanya integrasi usaha
untuk menyatukan berbagai macam perbedaan dapat dilakukan.
Integrasi masyarakat yang sepenuhnya memang sesuatu yang tidak mungkin
diwujudkan, karena setiap masyarakat disamping membawakan potensi integrasi juga
menyimpan potensi konflik atau pertentangan. Persamaan kepentingan, kebutuhan
untuk bekerja sama, serta konsensus tentang nilai-nilai tertentu dalam masyarakat,
merupakan potensi yang mengintegrasikan. Sebaliknya perbedaan-perbedaan yang ada
dalam masyarakat seperti perbedaan suku, perbedaan agama, perbedaan budaya, dan
perbedaan kepentingan adalah menyimpan potensi konflik, terlebih apabila perbedaan-
pebedaan itu tidak dikelola dan disikapi dengan cara dan sikap yang tepat.
Indonesia sangat dikenal dengan keanekaraganm suku,budaya dan agama. Oleh
sebab itu, adanya pengaruh globalisasi yang masuk ke Indonesia membuat masyarakat
Indonesia lebih memilih untuk suatu yang trend walaupun hal tersebut membuat upaya
integrasi tidak terwujud. Masyarakat Indonesia belum sadar akan pengaruh globalilasi
yang ternyata tidak baik bagi masyarakat Indonesia. Selain pengaruh globalisasi,
masyarakat Indonesia bertindak atas wewenang sendiri maupun kelompok sehingga
konflik terjadi dimana-mana seperti pertengkaran antar suku, pembakaran tempat-
tempat ibadah dan lain sebagainya. Konflik tersebutlah yang membuat integrasi
nasional susah diwujudkan. Upaya integrasi terus dilakukan agar Indonesia menjadi satu
kesatuan yang mana disebutkan dalam semboya bhinneka tunggal ika.
Integrasi nasional penting untuk diwujudkan dalam kehidupan masyrakat
Indonesia dikarenakan Indonesia merupakan negara yang masih berkembang atau dapat
dikatakan negara yang masih mencari jati diri. Selain itu, integrasi nasional sangat
penting untuk diwujudkan karena integrasi nasional merupakan suatu cara yang dapat
menyatukan berbagai macam perbedaan yang ada di Indonesia.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Integrasi Nasional


Di dalam Integrasi Nasional memiliki berbagai faktor yang dapat mempengaruhi
Integrasi Nasional itu sendiri, berikut faktor-faktor integrasi nasional :
1. Faktor Pendorong Integrasi
a) Ada beberapa faktor pendorong integrasi nasional yaitu sebagai berikut:
b) Adanya rasa senasib seperjuangan yang diakibatkan oleh faktor-faktor sejarah
c) Keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia sebagaimana dinyatakan
dalam Sumpah Pemuda Tanggal 28 Oktober 1928
d) Rasa cinta tanah air di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana dibuktikan
perjuangan merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan.
e) Rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara, sebagaimana
dibuktikan oleh banyak pahlawan bangsa yang gugur di medan perjuangan.
f) Kesepakatan atau konsensus nasional dalam perwujudan Proklamasi
Kemerdekaan, Pancasila dan UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu kebangsaan
Indonesia Raya, bahasa kesatuan bahasa Indonesia.
g) Adanya simbol kenegaraan dalam bentuk Garuda Pancasila, dengan semboyan
Bhinneka Tunggal Ika
h) Pengembangan budaya gotong royong yang merupakan ciri khas kepribadian
bangsa Indonesia secara turun temurun.
i) Adanya ideologi nasional yang tercermin di dalam simbol negara yakni Garuda
Pancasila dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
j) Adanya sikap tekad dan keinginan untuk kembali bersatu di dalam kalangan
Bangsa Indonesia seperti yang telah dinyatakan di dalam Sumpah Pemuda.
k) Adanya ancaman dari luar yang menyebabkan adanyadan munculnya semangat
nasionalisme dalam kalangan Bangsa Indonesia

2. Faktor Penghambat Integrasi


a) Ada beberapa faktor penghambat integrasi nasional yaitu sebagai berikut:
b) Masyarakat Indonesia yang heterogen (beraneka ragam) dalam faktor-faktor
kesukubangsaan dengan masing-masing kebudayaan daerahnya, bahasa daerah,
agama yang dianut, ras dan sebagainya
c) Wilayah negara yang begitu luas, terdiri atas ribuan kepulauan yang dikelilingi
oleh lautan luas.
d) Besarnya kemungkinan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang
merongrong keutuhan, kesatuan dan persatuan bangsa, baik yang berasal dari
dalam maupun luar negeri.
e) Masih besarnya ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan dan hasil-hasil
pembangunan menimbulkan berbagai rasa tidak puas dan keputusasaan di
masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan) , gerakan separatisme
dan kedaerahan, demonstrasi dan unjuk rasa.
f) Adanya paham “etnosentrisme” di antara beberapa suku bangsa yang
menonjolkan kelebihan-kelebihan budayanya dan menganggap rendah budaya
suku bangsa lain.
g) Lemahnya nilai-nilai budaya bangsa akibat kuatnya pengaruh budaya asing yang
tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, baik melewati kontak langsung maupun
kontak tidak langsung.
h) Kurangnya toleransi antargolongan
3. Faktor Pendukung Integrasi
a) Ada beberapa faktor pendukung integrasi nasional yaitu sebagai berikut:
b) Penggunaan bahasa Indonesia.
c) Semangat persatuan serta kesatuan di dalam Bangsa, Bahasa dan Tanah Air
Indonesia.
d) Adanya Kepribadian dan pandangan hidup kebangsaan yang sama yakni
Pancasila.
e) Adanya jiwa dan rasa semangat dalam bergotong royong, solidaritas serta
toleransi keagamaan yang sangat kuat.

2.4 Problematika dan Solusi dalam integrasi nasional


1. Problematika
Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan multidimensional.
Disintegrasi bangsa dapat terjadi karena adanya konflik vertikal dan horizontal sebagai
akibat tuntutan demokrasi yang melampaui batas, konflik antara elite politik, lambatnya
pemulihan ekonomi, lemahnya penegakan hukum dan HAM serta kesiapan pelaksanaan
Otonomi Daerah
Problematika dalam integrasi nasional dapat dilihat dari berbagai aspek sebagai
berikut :
a) Geografi
Letak Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dan kepulauan memiliki karakteristik
yang berbeda-beda. Daerah yang berpotensi untuk memisahkan diri adalah daerah
yang paling jauh dari ibu kota, atau daerah yang besar pengaruhnya dari negara
tetangga atau daerah perbatasan, daerah yang mempunyai pengaruh global yang
besar, seperti daerah wisata, atau daerah yang memiliki kakayaan alam yang
berlimpah.
b) Demografi
Pengaruh (perlakuan) pemerintah pusat dan pemerataan atau penyebaran penduduk
yang tidak merata merupakan faktor dari terjadinya disintegrasi bangsa, selain masih
rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan SDM.
c) Kekayaan Alam
Kekayaan alam Indonesia yang sangat beragam dan berlimpah dan penyebarannya
yang tidak merata dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya disintegrasi bangsa,
karena hal ini meliputi hal-hal seperti pengelolaan, pembagian hasil, pembinaan
apabila terjadi kerusakan akibat dari pengelolaan.
d) Ideologi
Akhir-akhir ini agama sering dijadikan pokok masalah didalam terjadinya konflik di
negara ini, hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap agama yang
dianut dan agama lain. Apabila kondisi ini tidak ditangani dengan bijaksana pada
akhirnya dapat menimbulkan terjadinya kemungkinan disintegrasi bangsa, oleh
sebab itu perlu adanya penanganan khusus dari para tokoh agama mengenai
pendalaman masalah agama dan komunikasi antar pimpinan umat beragama secara
berkesinambungan.
e) Politik
Masalah politik merupakan aspek yang paling mudah untuk menyulut berbagai
ketidak nyamanan atau ketidak tenangan dalam bermasyarakat dan sering
mengakibatkan konflik antar masyarakat yang berbeda faham apabila tidak
ditangani dengan bijaksana akan menyebabkan konflik sosial di dalam masyarakat.
Selain itu ketidak sesuaian kebijakan-kebijakan pemerintah pusat yang diberlakukan
pada pemerintah daerah juga sering menimbulkan perbedaan kepentingan yang
akhirnya timbul konflik sosial karena dirasa ada ketidak adilan didalam pengelolaan
dan pembagian hasil atau hal-hal lain seperti perasaan pemerintah daerah yang
sudah mampu mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat,
konflik antar partai, kabinet koalisi yang melemahkan ketahanan nasional dan
kondisi yang tidak pasti dan tidak adil akibat ketidak pastian hukum
f) Ekonomi
Krisis ekonomi yang berkepanjangan semakin menyebabkan sebagian besar
penduduk hidup dalam taraf kemiskinan. Kesenjangan sosial masyarakat Indonesia
yang semakin lebar antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin dan adanya
indikasi untuk mendapatkan kekayaan dengan tidak wajar yaitu melalui KKN.
g) Sosial Budaya
Pluralitas kondisi sosial budaya bangsa Indonesia merupakan sumber konflik
apabila tidak ditangani dengan bijaksana. Tata nilai yang berlaku di daerah yang satu
tidak selalu sama dengan daerah yang lain. Konflik tata nilai yang sering terjadi saat
ini yakni konflik antara kelompok yang keras dan lebih modern dengan kelompok
yang relatif terbelakang.
h) Pertahanan Keamanan
Bentuk ancaman terhadap kedaulatan negara yang terjadi saat ini menjadi bersifat
multi dimensional yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri, hal ini
seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,informasi
dan komunikasi. Serta sarana dan prasarana pendukung didalam pengamanan bentuk
ancaman yang bersifat multi dimensional yang bersumber dari permasalahan
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya.

2. Solusi
Untuk mewujudkan integrasi nasional diperlukan keadilan kebijakan yang
diterapkan oleh pemerintah dengan tidak membedakan ras, suku, agama, bahasa,
gender, dan sebagainya. Sebenarnya upaya membangun keadilan, kesatuan, dan
persatuan bangsa merupakan bagian dari upaya membangun dan membina stabilitas
politik disamping upaya lain seperti banyaknya keterlibatan pemerintah dalam
menentukan komposisi dan mekanisme parlemen.
Adapun kebijakan yang diperlukan guna memperkukuh upaya integrasi nasional
adalah sebagai berikut :
a) Menanamkan nilai-nilai Pancasila, jiwa sebangsa dan setanah air dan rasa
persaudaraan, agar tercipta kekuatan dan kebersamaan di kalangan rakyat
Indonesia.
b) Menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya tindakan KKN.
c) Meningkatkan ketahanan rakyat dalam menghadapi usaha-usaha
pemecahbelahan dari ancaman luar.
d) Penyebaran dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan dan implementasi butir-
butir Pancasila, dalam rangka mele starikan dan menanamkan kesetiaan kepada
ideologi bangsa.
e) Menumpas setiap gerakan separatis secara tegas dan tidak kenal kompromi.
f) Membentuk satuan sukarela yang terdiri dari unsur masyarakat, TNI dan Polri
dalam memerangi separatis.
2.5 Strategi Integrasi
Masalah integrasi nasional merupakan persoalan yang dialami oleh
semuanegara, terutama adalah negara-negara berkembang. Dalam usianya yang masih
relatif muda dalam membangun negara bangsa (nation state), ikatan antara kelompok-
kelompok yang berbeda dalam negara masih rentan dan mudah tersulut untuk terjadinya
pertentangan antar kelompok. Di samping itu masyarakat di negara berkembang
umumnya memiliki ikatan primordial yang masih kuat. Kuatnya ikatan primordial
menjadikan masyarakat lebih terpancang pada ikatan-ikatan primer yang lebih sempit
seperti ikatan keluarga, ikatan kesukuan, ikatan sesama pemeluk agama, dan
sebagainya. Dengan demikian upaya mewujudkan integrasi nasional yang notabene
mendasarkan pada ikatan yang lebih luas dan melawati batas-batas kekelua rgaan,
kesukuan, dan keagamaan menjadi sulit untuk diwujudkan.
Dalam rangka mengupayakan terwujudnya integrasi nasional yang mantap ada
beberapa strategi yang mungkin ditempuh,yaitu:
1. Stategi Asilmilasi
2. Strategi Akulturasi
3. Strategi Pluralis
Ketiga strategi tersebut terkait dengan seberapa jauh penghargaan yang
diberikan atas unsur-unsur perbedaan yang ada dalam masyarakat.Strategi asimilasi,
akulturasi, dan pluralisme masing-masing menunjukkan penghargaan yang secara
gradual berbeda dari yang paling kurang, yang lebih, dan yang paling besar
penghargaannya terhadap unsur-unsur perbedaan dalam masyarakat, di dalam upaya
mewujudkan integrasi nasional tersebut.
1. Strategi Asimilasi
Asimilasi adalah proses percampuran dua macam kebudayaan atau lebih
menjadi satu kebudayaan yang baru, di mana dengan percampuran tersebut maka
masing-masing unsur budaya melebur menjadi satu sehingga dalam kebudayaan yang
baru itu tidak tampak lagi identitas masing-masing budaya pembentuknya. Ketika
asimilasi ini menjadi sebuah strategi integrasi nasional, berarti bahwa negara
mengintegrasikan masyarakatnya dengan mengupayakan agar unsur-unsur budaya yang
ada dalam negara itu benar-benar melebur menjadi satu dan tidak lagi menampakkan
identitas budaya kelompok atau budaya lokal.
Dengan strategi yang demikian tampak bahwa upaya mewujudkan
integrasinasional dilakukan tanpa menghargai unsur-unsur budaya kelompok atau
budaya lokal dalam masyarakat negara yang bersangkutan. Dalam konteks perubahan
budaya, asimilasi memang bisa saja terjadi dengan sendirinya oleh adanya kondisi
tertentu dalam masyarakat. Namun bisa juga hal itu merupakan bagian dari strategi
pemerintah negara dalam mengintegrasikan masyarakatnya, yaitu dengan cara
melakukan rekayasa budaya agar integrasi nasional dapat diwujudkan. Dilihat dari
perspektif demokrasi, apabila upaya yang demikian itu dilakukan dapat dikatakan
sebagai cara yang kurang demokratis dalam mewujudkan integrasi nasional.

2. Strategi Akulturasi
Akulturasi adalah proses percampuran dua macam kebudayaan atau lebih
sehingga memunculkan kebudayaan yang baru, di mana ciri-ciri budaya asli
pembentuknya masih tampak dalam kebudayaan baru tersebut. Dengan demikian berarti
bahwa kebudayaan baru yang terbentuk tidak “melumat” semua unsur budaya
pembentuknya. Apabila akulturasi ini menjadi strategi integrasi yang diterapkan oleh
pemerintah suatu negara, berarti bahwa negara mengintegrasikan masyarakatnya dengan
mengupayakan adanya identitas budaya bersama namun tidak menghilangkan seluruh
unsur budaya kelompok atau budaya lokal.
Dengan strategi yang demikian tampak bahwa upaya mewujudkan integrasi
nasional dilakukan dengan tetap menghargai unsur-unsur budaya kelompok atau budaya
lokal, walaupun penghargaan tersebut dalam kadaryang tidak terlalu besar.
Sebagaimana asimilasi, proses akulturasi juga bisa terjadi dengan sendirinya tanpa
sengaja dikendalikan oleh negara. Namun bisa juga akulturasi menjadi bagian dari
strategi pemerintah negara dalam mengintegrasikan masyarakatnya. Dihat dari
perspektif demokrasi, strategi integrasi nasional melalui upaya akulturasi dapat
dikatakan sebagai cara yang demokratis dalam mewujudkan integrasi nasional karena
masih menunjukan pengharhaan terhadap unsur kelompok budaya lokal.
3. Strategi Pluralis
Paham Pluralis merupakan paham yang menghargai terdapatnya perbedaan
dalam masyarakat. Paham Pluralis pada prinsipnya mewujudkan integrasi nasional
dengan memberi kesempatran pada segala unsur perbedaan yang ada dalam masyarakat
untuk hidup dan berkembang. Ini berarti bahwa dnegan strategi pluralis dalam
mewujudkan integrasi nasional negara memberi kesempatan kepada semua unsur
keragaman dalam negara. Baik suku, agama, buaya daerah, dan perbedaan-perbedaan
lainnya untuk tumbuh dan berkembang serta hidup berdampingan secara damai. Jadi
Integrasi nasional diwujudkan dengan tetap ,menghargai terdapatnya perbvedaan-
perbedaan dalam msyarakat. Hal ini sejalan dengan pandangan multikulturalisme bahwa
setiap unsur perbedaan memiliki nilai dan kedudukan yang sama, sehingga masing-
masing berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

2.6 Pluralitas Masyarakat Indonesia


Masyarakat indonesia merupakan masyarakat pluralis atau masyarakat majemuk
merupakan suatu hal yang sudah sama-sama di mengerti. Menurut Clifford Geertz,
masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam sub-sub sistem
yang kurang lebih berdiri sendiri-sendiri,dalam mana masing-masing sub sistem terkait
ke dalam oleh ikatan-ikatan yang bersifat primordial
Sedangkan menurut Pierre L.Van den Berghe memiliki karakteristik:
a) Terjadinya sigmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang sering kali
memiliki sub-kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
b) Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang
bersifat non komplementer.
c) Kurang mengembangkan konsensus di antara para anggotannya terhadap nilai-
nilai yang bersifat dasar.
d) Secara relatif sering kali mengalami konflik di antara kelompok yang satu
dengan kelompok yang lain.
e) Secara relatif integrasi sosial tumbh di atas paksaan(coercion) dan saling
ketergantungan dalam bidang ekonomi
f) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang
lain
Dalam dimensi horizontal kemajemukan masyarakat indonesia dapat dilihat dari
adanya berbagai macam suku bangsa seperti suku bangsa jawa, suku bangsa sunda, suku
bangsa batak, suku bangsa minangkabau, suku bangsa dayak, dll. Tentang berapa
jumlah suku bangsa yang ada di indonesia, ternyata terdapat perbedaan yang cukup
signifikan diantara para ahli tentang indonesia. Hildred geertz misalnya menyebutkan
adanya lebih dari 300 suku bangsa di indonesia dengan bahasa dan identitas kulturalnya
masing-masing. Sedangkan skinner menyebutkan lebih dari 35 suku bangsa di indonesia
dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda satu sama lain. Perbedaan yang mencolok
dari jumlah suku bangsa yang disebutkan oleh masing-masing, dapat dikatakan bahwa
masyarakat indonesia adalah masyarakat yang majemuk.
Suku-suku bangsa ini biasa dinamakan bangsa, seperti bangsa melayu, bangsa
jawa, bangsa bugius dan sebagainya. Masing-masing suku bangsa memiliki wilayah
kediaman sendiri, daerah tempat kediaman nenek moyang suku bangsa yang
bersangkutan yang pada umumnya dinyatakan melalui mitos yang meriwayatkan asal-
usul suku bangsa yang bersangkutan. Anggota masing-masing suku bangsa cenderung
memiliki identitas tersendiri sebagai anggota suku bangsa yang bersangkutan, sehingga
dalam keadaan tertentu mereka mewujudkan rasa setiakawan, solidaritas dengan sesama
suku bangsa asal. (bachtiar, 1992: 12).
Berkaitan erat dengan keragaman suku sebagaimana dikemukakan diatas adalah
keragaman adat istiadat, budaya, dan bahasa daerah. Setiap suku bangsa yang ada di
indonesia masing-masing memiliki adat istiadat, budaya, dan bahasanya yang berbeda
satu sama lain, yang sekarang dikenal sebagai adat istiadat, budaya, dan bahasa daerah.
Kebudayaan suku selain terdiri atas nilai-nilai dan aturan-aturan tertentu, juga terdiri
atas kepercayaan-kepercayaan tertentu, pengetahuan tertentu, serta sastra dan seni yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa sebanyak
suku bangsa yang ada di indonesia, setidak-tidaknya sebanyak itu pula dapat dijumpai
keragaman adat istiadat, budaya serta bahasa daerah indonesia.
Disamping suku-suku bangsa tersebut, yang bisa dikatakan sebagai suku bangsa
asli, di indonesia juga terdapat kelompok-kelompok warga mayarakat yang lain yang
sering dikatakan sebagai warga peranakan. Mereka itu seperti warga cina, arab, dan
india. Kelompok warga masyarakat tersebut juga memiliki kebudayaanya sendiri, yang
tidak mesti sama dengan budaya suku-suku alsi di indonesia, sehingga muncul budaya
orang-orang china, budaya orang-orang arab, budaya orang-orang india. Dan lain-lain.
Kadang-kadang mereka juga menampakkan diri dalam kesatuan tempat tinggal,
sehingga dikota-kota besar di indonesia dijumpai adanya sebutan kampung pecinan,
kampung arab, dan lain-lain.
Keberagaman suku bangsa di indonesia sebagaimana diuraikan diatas terutama
disebabkan oleh keadaan geografis indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan
jumlah pulau yang sangat banyak dan letaknya yang saling berjauhan. Dalam kondisi
yang demikian nenek moyang bangsa indonesia yang kira-kira 2000 tahun SM secara
bergelombang datang dari daerah yang sekarang dikenal sebagai daerah tiongkok
selatan, mereka harus tinggal menetap di daerah yang terpisah satu sama lain. Karena
ionisasi geografis antara satu pulau dengan pulau yang lain, mengakibatkan masing-
masing penghuni pulau itu dalam waktu yang cukup lama mengembangkan
kebudayaannya sendiri-sendiri terpisah satu sama lain. Disitulah secara perlahan-lahan
identitas kesukuan itu terbentuk, atas keyakinan bahwa mereka masing-masing berasal
dari satu nenek moyang, dan memiliki kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan suku
yang lain.

2.7 Toleransi
1. Pengertian Toleransi
Kata toleransi dalam bahasa Belanda adalah “tolerantie” dan kata kerjanya
adalah “toleran”. Dalam bahasa Latin, “tolerare” artinya menahan diri, bersikap sabar
membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-or ang yang
memiliki pendapat berbeda.
Toleran mengandung pengertian bersikap mendiamkan, adapun toleransi adalah
suatu sikap tenggang rasa kepada sesamanya. Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-
macam suku yang mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri, memeluk agama dan
menganut kepercayaan yang berbeda-beda akan tetapi mereka tetap satu bangsa
memiliki satu tanah air dan memiliki bahasa persatuan. Semboyan kita yaitu Bhinneka
Tunggal Ika. Sifat dasar bangsa Indonesia yang amat menonjol adalah sifat-sifat
kekeluargaan, musyawarah, percaya dan taat beriba dah kepada Tuhan, sifat ramah
tamah, gotong royong, suka menolong, dan toleransi adalah sifat yang harus kita miliki
macam-macam Toleransi.
Kebahagiaan dalam kehidupan manusia akan tercapai apabila didasarkan atas
keselarasan dan keseimbangan. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia sikap hormat
menghormati antarpemeluk agama perlu dikembangkan sehingga keruku nan antarumat
beragama dapat terjalin dengan baik. Macam-macam toleransi, antara lain sebagai
berikut :
1.1 Toleransi dalam pluralisme beragama
Agama merupakan suatu anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, diperuntukkan
bagi kemaslahatan, kebaikan, dan kesejahteraan umat beragama. Pluralitas adalah
kenyataan yang diciptakan oleh Tuhan. Namun demikian, umat manusia harus
menyadari dan menerima kenyataan ini untuk saling melengkapi dan memperkaya
pengalaman kehidupan bagi umat manusia. Oleh karena itu, hidup rukun adalah tidak
bertengkar namun saling mengho rmati. Suasana seperti ini sangat kita butuhkan dalam
masyarakat dan menghindari sikap menang sendiri.
1.2 Toleransi dalam pluralisme budaya
Kebudayaan menunjuk kepada sederetan sistem pengetahuan yang dimiliki
bersama, kebiasaan, nilai-nilai, peraturan, dan simbol yang berkaitan dengan tujuan
seluruh anggota masyarakat yang berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan
fisik. Interaksi antara seni dan agama sudah lama menjadi kenyataan. Agama
merupakan sumber etika dan moralitas, seni adalah salah satu wahana yang paling tepat
untuk mempromosikan kehidupan beragama
1.3 Toleransi dalam pluralisme suku
Pluralisme dapat dikatakan merupakan pengejewantahan moto Bhinneka
Tunggal Ika. Mengembangkan pluralisme terbantahkan bahwa bangsa Indonesia terdiri
dari banyak suku, banyak pula subsuku pedalaman. Pluralisme akan tumbuh subur dan
mewarnai kehidupan bangsa Indonesia jika kedepannya prinsip-prinsip toleransi,
persamaan di muka hukum dan lain-lain ditetapkan seksama tanpa perduli asal dan
warna terutama solidarita s terhadap mereka yang lemah.
1.4 Toleransi mayoritas melindungi minoritas
Masyarakat kita sejak dulu biasa hidup dalam alam yang memiliki aneka ragam
kepercayaan. Sejak awal perkembangan peradabannya sudah tumbuh kepercayaan
kepada Tuhan, secara berturut-turut datanglah agama-agama yang sekarang banyak kita
kenal. Kedatangan agama tersebut tidak berarti kepercayaan dan agama yang sudah ada
sebelumnya hilang, tapi masih terus hidup dan berkembang. Semua agama dan
kepercayaan mengajark an kebaikan supaya mereka saling menghormati dan mencintai.
1.5 Toleransi manusia dalam hidup bermasyarakat
Manusia hanya akan mempunyai arti apabila bersama-sama dengan manusia
lainnya di dalam masyarakat. Tidak dapat dibayangkan jika manusia hidup sendiri tanpa
orang lain. Secara kodrati manusia disamping mempunyai kekuatan juga dilengkapi
dengan kelemahan manusia juga memiliki sifat yang baik dan kurang baik. Demi
kelangsungan dan kesejahteraan hidupnya manusia perlu mendapat bantuan atau
kerjasama dengan orang lain. Oleh sebab itu, manusia perlu hidup bermasyarakat.

2. Perilaku Toleran Sebagai Bentuk Nilai (Jati Diri) Kebangsaan


Perilaku toleransi berarti sikap yang rela menerima dan menghargai perbedaan
dengan kelompok lain. Empati adalah sikap yang secara ikhlas mau merasakan pikiran
dan perasaan orang lain. Sikap toleransi dan empati ini sangat penting
ditumbuhkembangkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia multikultural. Dengan
pengembangan sikap toleransi dan empati sosial, maka masalah-masalah yang berkaitan
dengan keberagaman sosial budaya akan dapat dikendalikan, sehingga tidak mengarah
pada pertentangan sosial yang dapat mengancam disintegrasi n asional
Adapun cara untuk menerima dan menghargai orang lain atau suku bangsa lain
yang berbeda latar belakang budaya dapat dilakukan sebagai berikut:
a) Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai dari
bangsa Indonesia
b) Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai
makhluk pribadi dan makhluk sosial c iptaan Tuhan Yang Maha Esa
c) Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai
manusia yang memiliki kelebihan dan keterbatasan dalam hal-hal tertentu.
d) Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai
manusia yang memiliki persamaan kedudukan, harkat, martabat, dan derajat,
serta hak dan kewajiban asasi.
e) Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai
pemilihan dan penghuni tanah air Indonesia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
f) Kita perlu menerima dan menghargai orang lain/suku bangsa lain sebagai
manusia yang memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda dalam
ras, suku bangsa, bahasa, adat istiadat, profesi, golongan politik dan sebagainya.

2.8 Ancaman, Tantangan, dan Gangguan


1. Ancaman
Ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik dari dalam maupun luar negeri
yang dinilai membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan
keselamatan segenap bangsa.
Ancaman dibedakan menjadi ancaman militer dan ancaman nonmiliter
A. Ancaman militer adalah Ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata serta
terorganisir dan sangat berbahaya. Bentuk ancaman militer :
 Perang saudara
 Agresi wilayah
 Sabotase untuk merusak instalasi militer
 Pemberontakan militer
 Pelanggaran wilayah oleh negara lain
B. Ancaman nonmiliter adalah ancaman yang tidak bersenjata tetapi jika dibiarkan
itu akan membahayakan bangsa. Bentuk ancaman nonmiliter :
 Penyalahgunaan narkoba
 Korupsi, kolusi, nepotisme (KKN)
 Perusakan lingkungan
 Kemiskinan
 Kebodohan
 Lunturnya kesatuan dan persatuan bangsa
Selain itu ancaman juga dibedakan menjadi ancaman yang berasal dari dalam negeri dan
dari luar negeri.
A. Ancaman dari dalam negeri berupa:
 kerusuhan
 pemaksaan kehendak
 pemberontakan bersenjata

 keinginan untuk mengubah ideology


B. Ancaman dari luar negeri berupa
 Penguasaan wilayah indonesia
 Pencurian kelayaan alam
 Penyelundupan barang
 Masuknya pesawat asing ke wilayah indonesia

2. Tantangan Dalam Menjaga Keutuhan NKRI


Tantangan di lingkungan internal Indonesia adalah mengawal NKRI agar tetap
utuh dan bersatu. Di sisi lain, ancaman terhadap kedaulatan masih berpotensi terutama
yang berbentuk konflik perbatasan, pelanggaran wilayah, gangguan keamanan maritim
dan dirgantara, gangguan keamanan di wilayah perbatasan berupa pelintas batas secara
illegal, kegiatan penyelundupan senjata dan bahan peledak, masalah separatisme,
pengawasan pulau-pulau kecil terluar, ancaman terorisme dalam negeri dan sebagainya.
Dengan demikian, berdasar tantangan tersebut di atas, maka sebagai masyarakat
yang berada dalam NKRI wajiblah menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI
serta keselamatan bangsa. Sedangkan dalam perumusannya, kebijakan umum
pertahanan negara dilaksanakan oleh Menteri Pertahanan Negara dan proses
penetapannya dilaksanakan di tingkat Dewan Keamanan Nasional selaku Penasehat
Presiden RI.
Tujuan nasional merupakan kepentingan nasional yang abadi dan menjadi acuan
dalam merumuskan tujuan pertahanan negara, yang ditempuh dengan tiga strata
pendekatan yaitu pertama, strata mutlak, dilakukan dalam menjaga kedaulatan negara,
keutuhan wilayah negara dan keselamatan bangsa Indonesia ; kedua, strata penting,
dilakukan dalam menjaga kehidupan demokrasi politik dan ekonomi, keharmonisan
hubungan antar suku, agama, ras dan golongan (SARA), penghormatan hak asasi
manusia dan pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup ; dan ketiga, strata
pendukung, dilakukan dalam upaya turut memelihara ketertiban dunia. Untuk mencapai
tujuan pertahanan negara tersebut, salah satunya diperlukan input sumberdaya TNI yang
bagus dan optimal. Masyarakat menuntut TNI untuk menjaga dan memelihara stabilitas
keamanan nasional tetapi jika input SDM secara intelektual, moral dan mental lemah
akan sangat kesulitan untuk mewujudkannya.
Kita kesulitan merekrut para sarjana muda untuk menjadi anggota TNI, yang
dibutuhkan misal 10 orang, terkadang yang mendaftar dua pun sudah syukur. Kemudian
kalau para sarjana sudah menjadi anggota TNI hendaknya berperilaku disiplin dan
bekerja dengan baik, khususnya sebagian dokter muda yang menjadi anggota TNI
terkadang tidak disiplin bekerja. Hal inilah yang menjadi kajian khusus TNI di masa
depan, perlunya perekrutan SDM yang unggul untuk mencapai hasil maksimal. TNI
tidak bisa berjalan sendirian dalam mewujudkan visi dan misi pertahanan negara. Saat
ini, sedang dalam pembahasan DPR RI, RUU Keamanan Nasional dan RUU Komponen
Cadangan agar diperlukan partisipasi dan peran serta masyarakat sebagai komponen
cadangan dan turut serta dalam mewujudkan keamanan nasional bersama. Semoga input
SDM yang baik bisa menyelesaikan masalah keamanan nasional dan pertahanan NKRI
lebih baik dan mengawalnya agar tetap utuh dan bersatu.

3. Gangguan Integrasi Nasional


a. Geografi
Letak Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau dan kepulauan memiliki karakteristik
yang berbeda-beda. Daerah yang berpotensi untuk memisahkan diri adalah daerah yang
paling jauh dari ibu kota, atau daerah yang besar pengaruhnya dari negara tetangga atau
daerah perbatasan, daerah yang mempunyai pengaruh global yang besar, seperti daerah
wisata, atau daerah yang memiliki kakayaan alam yang berlimpah.
b. Demografi
Pengaruh (perlakuan) pemerintah pusat dan pemerataan atau penyebaran penduduk
yang tidak merata merupakan faktor dari terjadinya disintegrasi bangsa, selain masih
rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan SDM.
c. Kekayaan Alam
Kekayaan alam Indonesia yang sangat beragam dan berlimpah dan penyebarannya yang
tidak merata dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya disintegrasi bangsa, karena
hal ini meliputi hal-hal seperti pengelolaan, pembagian hasil, pembinaan apabila terjadi
kerusakan akibat dari pengelolaan.
d. Ideologi
Akhir-akhir ini agama sering dijadikan pokok masalah didalam terjadinya konflik di
negara ini, hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman terhadap agama yang
dianut dan agama lain. Apabila kondisi ini tidak ditangani dengan bijaksana pada
akhirnya dapat menimbulkan terjadinya kemungkinan disintegrasi bangsa, oleh sebab
itu perlu adanya penanganan khusus dari para tokoh agama mengenai pendalaman
masalah agama dan komunikasi antar pimpinan umat beragama secara
berkesinambungan.
e. Politik
Masalah politik merupakan aspek yang paling mudah untuk menyulut berbagai ketidak
nyamanan atau ketidak tenangan dalam bermasyarakat dan sering mengakibatkan
konflik antar masyarakat yang berbeda faham apabila tidak ditangani dengan
bijaksana akan menyebabkan konflik sosial di dalam masyarakat. Selain itu ketidak
sesuaian kebijakan-kebijakan pemerintah pusat yang diberlakukan pada pemerintah
daerah juga sering menimbulkan perbedaan kepentingan yang akhirnya timbul konflik
sosial karena dirasa ada ketidak adilan didalam pengelolaan dan pembagian hasil atau
hal-hal lain seperti perasaan pemerintah daerah yang sudah mampu mandiri dan tidak
lagi membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat, konflik antar partai, kabinet koalisi
yang melemahkan ketahanan nasional dan kondisi yang tidak pasti dan tidak adil akibat
ketidak pastian hukum.
f. Ekonomi
Krisis ekonomi yang berkepanjangan semakin menyebabkan sebagian besar penduduk
hidup dalam taraf kemiskinan. Kesenjangan sosial masyarakat Indonesia yang semakin
lebar antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin dan adanya indikasi untuk
mendapatkan kekayaan dengan tidak wajar yaitu melalui KKN.
g. Sosial Budaya
Pluralitas kondisi sosial budaya bangsa Indonesia merupakan sumber konflik apabila
tidak ditangani dengan bijaksana. Tata nilai yang berlaku di daerah yang satu tidak
selalu sama dengan daerah yang lain. Konflik tata nilai yang sering terjadi saat ini yakni
konflik antara kelompok yang keras dan lebih modern dengan kelompok yang relatif
terbelakang.
h. Pertahanan Keamanan
Kemungkinan disintegrasi bangsa dilihat dari aspek pertahanan keamanan dapat terjadi
dari seluruh permasalahan aspek asta gatra itu sendiri. Dilain pihak turunnya wibawa
TNI dan Polri akibat kesalahan dimasa lalu dimana TNI dan Polri digunakan oleh
penguasa sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya bukan sebagai alat
pertahanan dan keamanan negara.

2.9 Potensi Konflik Dalam Masyarakat Indonesia


Dalam kondisi masyarakat Indonesia yang diwarnai oleh berbagai
keanekaragaman, harus disadari bahwa masyarakat indonesia menyimpan potensi
konflik yang cukup besar yaitu konflik yang bersifat vertikal maupun bersifat
horizontal.Konflik vertikal dimaksudkan sebagai konflik antara pemerintah dengan
rakyat termasuk konflik antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Sedangkan
konflik horizontal adalah konflik antar warga masyarakat atau antar kelompok yang
terdapat dalam masyarakat.
Menurut Hans Kelse, 2007 dalam buku General Theory of law and State, penyebab
konflik kedaerahan adalah :
1) Krisis pemerintahan nasional,baik karena persoalan suksesi maupun jatuh
bangunnya pemerintahan karena lemahnya konstitusi.
2) Kegagalan lmbaga-lembaga negara menengahi konflik,baik yang melibatkan
unsur-unsur masyarakat mauoun lembaga-lembaga negara.
3) Pembatasan partisipasi politik warga negara di daerah-daerah.
4) Ketidakakadilan distribusi sumber daya ekonomi nasional dan sulitnya akses
masyarakat di daerah terhadap sumber daya tersebut.
5) Rezim yang tidak responsif terhadap tuntutan warga negara dan tidak
bertanggung jawab terhadap rakyat.

2.10 Upaya Pembangunan Integrasi Sosial


Menurut Liddle, suatu integrasi nasional yang tangguh hanya dapat berkembang
apabila :
1. Sebagian besar anggota Masyarakat bangsa bersepakat tentang batas – batas
territorial dari Negara sebagai suatu kehidupan politik dimana mereka menjadi
warganya.
2. Sebagian anggota masyarakat bangsa bersepakat mengenai struktur pemerintahan dan
aturan-aturan dari pada proses politik yang berlaku bagi seluruh masyarakat diatas
wilayah Negara.
3. Kesadaran dari sejumlah orang bahwa mereka bersama-sama merupakan warga dari
suatu bangsa.
4. Konsensus nasional mengenai bagaimana suatu kehidupan bersama sebagai bangsa
harus diwujudkan atau diselenggarakan.
Konsensus nasional mengenai bagaimana kehidupan bangsa harus diwujudkan
atau diselenggarakan untuk sebagian harus kita temukan dalam proses pertumbuhan
pancasila sebagai dasar falsafah atau ideology Negara. Secara yuridis-formal, pancasila
sebagai dasar falsafah Negara. Pada tingkat yang sangat umum telah diterima sebagai
kesepakatan nasional serta lahir bersamaan dengan kelahiran Negara republic Indonesia
sebagai Negara yang merdeka, bebas dari penjajahan bangsa lain. Di dalam kenyataan,
pancasila menjadi akar dalam sejarah pertumbuhan gerakan nasionalisme.
Bangsa Indonesia sebetulnya dapat belajar dari pengalaman negara-negara lain
dan dari negara kita sendiri tentang akibat menguatnya primordialisme, sehingga
keberadaan dan penguatan lembaga-lembaga integrative seperti sistem pendidikan
nasional, birokrasi sipil dan militer, partai-partai politik (ideology nasionalisme yang
dapat menjembatani perbedaan etnik yang tajam, Sedangkan partai etnik tidak berhasil)
harus tetap dilaksanakan dengan mengingat bahwa hal ini adalah sebagai konsekuensi
dari masyarakat kita yang majemuk.
Perlunya lembaga-lembaga pemersatu melalui state building. Adapun uraian
secara singkat tentang lembaga pemersatu yang dimaksud tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Birokrasi Sipil dan Militer
Lembaga integrative yang paling dominant dan paling penting yang mutlak
diperlukan adalah kekuatan militer (TNI), yang jika diperlukan dapat memakai
penguasaan dan monopolinya atas alat-alat kekerasan (alat peralatan perang – alat
utama sistem persenjataan) untuk mempertahankan dan bahkan untuk membangun
negara bangsa. Dalam kerangka pemikiran tradisional bahkan gejala universal kaum
militer di dunia, peranan militer sebagai benteng terakhir (mean of the last resort)
mempertahankan kebutuhan negara bangsa. Hal ini dapat dilihat sikap keras dari militer
terhadap gerakan-gerakan separatis maupun kedaerahan (primodialisme).
Selain birokrasi militer, proses state building juga mencakup birokrasi sipil yang
mempunyai tugas utama menarik pajak dan menyediakan bahan Pokok khususnya
bahan Makanan (aparatur pajak sebagai bentuk yang paling tradisional dari demokrasi).
Penyediaan bahan Makanan harus tersedia dengan cukup untuk mencegah terjadinya
“huruhara kelaparan pangan” atau food riots. Indonesia juga pernah mengalami food
riots yang menyebabkan runtuhnya pemerintahan orde baru tahun 1998 akibat krisis
moneter Sejak tahun 1997. Krisis pangan dan moneter juga meruntuhkan pemerintahan
di Muangthai dan Korea Selatan, Sedangkan yang selamat hanya Malaysia di bawah
PM Mahathir Mohammad.
Birokrasi militer dan sipil di Indonesia sudah berkembang pesat dan mengalami
kemajuan baik dari segi jumlah, kualitas, jenjang pangkat maupun penempatan jabatan
eselon Pimpinan serta sumber etnik rekrutmen. Dari segi etnik, baik TNI maupun Polri
dan PNS baik Pusat maupun daerah sudah meliputi semua etnik group yang ada,
sehingga melambangkan Bhineka Tunggal Ika.
2. Partai Politik
Dalam sejarahnya Partai Politik merupakan alat mobilisasi vertical yang lebih
cepat dibandingkan dengan birokrasi nasional baik birokrasi sipil maupun militer.
Dengan sistem Pemilu di Indonesia sekarang merupakan gabungan dari sistem distrik
dan sistem proposional, sehingga perwakilan daerah dan etnik terwakili. Maka partai
politik mampu menjadi alat integrasi bangsa untuk menekan perlawanan etnik yang
minoritas).
3. Sistem Pendidikan Nasional
Sistem pendidikan nasional menjadi alat integrasi nasional terutama karena
sifatnya yang menciptakan elite nasional yang kohesif. Pendidikan nasional mulai dari
SD sampai Perguruan Tinggi, menjadi alat pemersatu baik melalui kurikulum nasiional,
bahasa pengantar maupun sistem rekrutmen siswa, mahasiswa maupun tenaga pengajar
yang bersifat nasional. Dalam suasana otonomi daerah sekarang ini diusahakan adanya
ujian lokal tetapi yang berstandar nasional, demikian juga walaupun ada ide untuk
menambah muatan kurikulum lokal/kedaerahan, namun tetap kurikulum inti
mengajarkan ilmu sosial dan humaniora yang bersifat integratif dan nasional.
Sifat integratif lainnya adalah pemakaian bahasa pengantar yakni bahasa
Indonesia sebaga bahasa nasional disamping penggunaan bahasa lokal/daerah yang
diberlakukan untuk pendidikan tingkat SD/SLTP. Cara ini akan memudahkan integrasi
ke dalam sistem nasional dan sosialisasi yang sama untuk seluruh warga negara.
Sedangkan alat integrasi yang lain adalah rekrutmen siswa, mahasiswa dan
tenaga pengajar yang bersifat nasional dan multi etnik, sehingga terjadi proses
komunikasi, sosialisasi, asimilasi dan kulturasi dari berbagai etnik di kalangan siswa,
mahasiswa dan tenaga pengajar.
4. Kemajuan Komunikasi dan Transportasi
Peranan media masa nasional seperti koran, majalah, TVRI, RRI cukup penting
di Indonesia sebagai alat integrasi nasional. Banyak koran maupun media masa lainnya
yang terbit di Jakarta tetapi penyebarannya menjangkau sampai ke seluruh kabupaten-
kabupaten, begitu juga koran lokal yang mampu menembus pasar ke daerah lainnya.
Alat komunikasi lainnya adalah telepon, yang mengalami perkembangan pesat sejak
pemerintahan orde baru sampai sekarang.
Perkembangan yang cepat dalam bidang transportasi mengakibatkan terjadinya
mobilitas geografis penduduk dapat lebih cepat, aman, nyaman, dan murah. Bentuk
mobilitas penduduk dapat transmigrasi, migrasi maupun turisme baik antar daerah,
nasional, regional bahkan global. Meningkatnya kegiatan mobilitas penduduk dan
turisme nasional maupun lokal membawa dampak memperkuat rasa kesatuan dan
kebangsaan.

2.11 Upaya yang Dapat Dilakukan Untuk Memperkukuh Integrasi Bangsa


a) Membangun dan menghidupkan komitmen yang menjadikan perjalanan
panjang Indonesia untuk menyatukan dirinya. Dimulai dari Kebangkitan
Nasional pada 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945
harus terus dihadirkan hakikat dan maknanya dalam hati sanubari dan alam
pikiran bangsa Indonesia.
b) Menciptakan kondisi dan membiasakan diri untuk membangun konsensus.
Kompromi dan kesepakatan adalah jiwa demokrasi. Penghormatan dan
pengakuan terhadap mayoritas diperlukan, tetapi perlindungan terhadap
minoritas tetap tidak boleh diabaikan.
c) Membangun kelembagaan (Pranata) yang berakarkan nilai dan norma yang
menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kelembagaan itu diharapkan
mampu membangun mekanisme peleraian konflik untuk mencegah
kecenderungan tindakan represif dalam menyelesaikan konflik.
d) Merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret. Tegas dan tepat dalam segala
aspek kehidupan dan pembangunan bangsa, yang mencerminkan keadilan bagi
semua pihak, juga semua wilayah.
e) Pentingnya memiliki kepemimpinan yang arif dan efektif dalam pembinaan
integrasi nasional.

2.12 Kebhinekaan Bangsa Indonesia


Kalimat Bhinneka Tunggal Ika terdapat dalam buku Sutasoma, karangan Mpu
Tantular pada masa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Dalam buku Sutasoma
(Purudasanta), pengertian Bhinneka Tunggal Ika lebih ditekankan pada perbedaan
bidang kepercayaan juga keanekaragam agama dan kepercayaan di kalangan
masyarakat Majapahit.
Secara harfiah, Bhinneka Tunggal Ika Adalah Berbeda-Beda Tetapi Satu Jua.
Adapun makna Bhinneka Tunggal Ika adalah meskipun berbeda-beda tetapi pada
hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk
menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa,
agama dan kepercayaan.
Kata Bhineka Tunggal Ika dapat pula dimakna bahwa meskipun bangsa dan
negara Indonesia terdiri atas beraneka ragam suku bangsa yang memiliki kebudayaan
dan adat-istiadat yang bermacam-macam serta beraneka ragam kepulauan wilayah
negara Indonesia namun keseluruhannya itu merupakan suatu persatuan yaitu bangsa
dan negara Indonesia. Keanekaragaman tersebut bukanlah merupakan perbedaan yang
bertentangan namun justru keanekaragaman itu bersatu dalam satu sintesa yang pada
gilirannya justru memperkaya sifat dan makna persatuan bangsa dan negara Indonesia.
Bagi bangsa Indonesia semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan dasar untuk
mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia. Perwujudan semboyan Bhineka
Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari dilakukan dengan cara hidup saling
menghargai antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya tanpa memandang suku
bangsa,agama,bahasa,adat istiadat, warna kulit dan lain-lain. Seperti di ketahui
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau dimana
setiap daerah memiliki adat istiadat,bahasa,aturan,kebiasaan dan lain-lain yang berbeda
antara yang satu dengan yang lainnya tanpa adanya kesadaran sikap untuk menjaga
Bhineka tunggal Ika pastinya akan terjadi berbagai kekacauan di dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika kita harus membuang
jauh-jauh sikap mementingkan dirinya sendiri atau daerahnya sendiri tanpa perduli
kepentngan bersama. Bila hal tersebut terjadi pastinya negara kita ini akan terpecah
belah. Oleh sebab itu marilah kita jaga bhineka tunggal ika dengan sebaik-baiknya agar
persatuan bangsa dan negara Indonesia tetap terjaga.

2.13 Membangun Integrasi dalam Bhineka


Semboyan bhinneka tunggal ika dalam membangun integrasi nasional Dalam
pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dituangkan dalam sila ketiga, yakni “persatuan
indonesia” yang merupakan landasan hukum dalam hal integrasi bangsa dan negara,
serta sebagai motivasi perbuatan baik di kehidupan masyarakat. Semangat Bhinneka
Tunggal Ika sangat diperlukan untuk memperkukuh persatuan indonesia merupakan
syarat terpenting untuk menjadi indonesia negara yang kaya akan potensi dan
meningkatkan semangat bhinneka tunggal ika. Implementasi prinsip bhinneka tunggal
ika dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut:
a) Mengakomodasi sifat pluralistik
b) Tidak mencari menangnya sendiri
c) Membudayakan musyawarah untuk mencapai mufakat
d) Mengembangkan rasa kasih sayang dan rela berkorban
e) Senantiasa toleran terhadap setiap perbedaan
f) Mengembangkan semangat kekeluargaan kebiasaan sederhana yang perlu kita
lakukan setiap hari untuk mengembangkan semangat kekeluargaan adalah
membudayakan bertegur sapa dengan teman, tetangga, atau yang lainnya.

2.14 Strategi yang Digunakan untuk Menciptakan Integrasi Bangsa Indonesia


a) Menanamkan nilai-nilai Pancasila, jiwa sebangsa dan setanah air, dan rasa
persaudaraan supaya tercipta kekuatan dan kebersamaan di kalangan rakyat
Indonesia.
b) Menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primordialisme sempit pada
setiap kebijaksanaan dan kegiatan, sehingga mencegah terjadinya KKN.
c) Meningkatkan ketahanan rakyat dalam menghadapi usaha-usaha pemecah
belahan dari pihak luar dan kaki tangannya.
d) Penyebaran dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan dan implementasi butir-
butir Pancasila dalam rangka melestarikan dan menanamkan kesetiaan kepada
ideologi bangsa.
e) Menumpas setiap gerakan separatis secara tegas dan tidak kenal kompromi

2.15 Peran Serta Warga Negara Dalam Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Peran serta rakyat dalam keutuhan NKRI dapat dilakukan diberbagai
lingkungan kehidupan, baik lingkungan keluarga , masyarakat dan juga sekolah dengan
cara berbacam-macam dari yang paling mudah diterapkan hingga yang paling sulit
untuk diterapkan.
1. Di lingkungan keluarga
Contoh partisipasi di lingkungan keluarga antara lain sebagai berikut:
a) Melaksanakan kegiatan sehari-hari secara tertib dan teratur
b) Senantiasa rajin belajar bagi anggota keluarga yang masih bersekolah
c) Ikut menjaga harta benda keluarga
d) Patuh dan taat terhadap tata krama dan aturan keluarga
2. Di lingkungan masyarakat
Contoh partisipasi di lingkungan masyarakat antara lain sebagai berikut:
a) Melaksanakan kerja bhakti yang diadakan oleh kampung sesuai kemampuan
b) Melaksanakan kegiatan ronda malam bagi warga yang sudah dewasa
c) Membuang sampah pada tempatnya
d) Hidup rukun dengan semangat kekeluargaan dalam lingkungan keluarga
3. Di lingkungan sekolah
Contoh partisipasi di lingkungan sekolah antara lain sebagai berikut:
a) Menaati tata tertib yang berlaku di sekolah
b) Menggalang kerjasama antar teman tanpa memandang latar belakang agama,
suku, ras dan golongan
c) Hidup rukun dengan warga sekolah
d) Tidak membeda-bedakan teman dalam bergaul

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masalah integrasi nasional merupakan persoalan yang dialami hampir semua
negara, terutama negara-negara yang usianya masih relatifmuda, termasuk Indonesia.
Hal ini disebabkan karena mendirikan negara berarti menyatukan orang-orang dengan
segala perbedaan yang ada menjadi satu entitas kebangsaan yang baru menyertai
berdirinya negara tersebut. Begitu juga negara Indonesia yang usianya masih relatif
muda. Sejak proklamasi kemerdekaan sampai sekarang negara Indonesia masih
menghadapi persoalan bagaimana menyatukan penduduk Indonesia yang didalamnya
terdiri dari berbagai macam suku, memeluk agama yang berbeda-beda, berbahasa
dengan bahasa daerah yang beranekaragam, serta memiliki kebudayaan daerah yang
berbeda satu sama lain, untuk menjadi satu entitas baru yang dinamakan bangsa
Indonesia.
Pengalaman menunjukkan bahwa dalam perjalanan membangun kehidupan
bernegara ini, kita masih sering dihadapkan pada kenyataan adanya konflik atar
kelompok dalam masyarakat, baik konflik yangberlatarbelakang kesukuan, konflik antar
pemeluk agama, konflik karenakesalahpahaman budaya, dan semacamnya. Hal itu
menunjukkan bahwa persoalan integrasi nasional Indonesia sejauh ini masih belum
tuntas perlu terus dilakukan pembinaan. Walaupun harus juga disadari bahwa integrasi
nasional dalam arti sepenuhnya tidak mungkin diwujudkan, dan konflik di antara
sesama warga bangsa tidak dapat dihilangkan sama sekali. Tulisan ini akan memaparkan
kondisi masyarakat Indonesia yang diwarnai oleh berbagai macam perbedaan dan upaya
mewujudkan integrasi nasional dengan tetap menghargai terdapatnya perbedaan-
perbedaan tersebut.
Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut mempunyai peran terhadap
bangsa Indonesia yaitu agar menjadi bangsa yang berhasil mewujudkan integrasi
nasional di tengah masyarakatnya yang majemuk. Dengan semboyan Bhinneka Tunggal
Ika tersebut juga diharapkan sebagai landasan atau dasar perjuangan untuk mewujudkan
persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia agar dikenal di mata dunia sebagai bangsa
yang multikulturalisme

3.2 Saran
Bagi pembaca diharapkan agar mengetahui apakah Integrasi Nasional serta
berbagai faktor yang mempengaruhi dan pentingnya Integrasi Nasional Bagi Bangsa
Indonesia. Dengan mengetahui pentingnya Integrasi Nasional Bagi Bangsa Indonesia.,
diharapkan kita bisa menjadi warga negara yang baik dan mampu melaksanakan proses
pemersatuan perbedaan perbedaan yang ada pada negara kita sehingga terciptanya
keserasian dan tidak adanya konflik dalam negara ini.
DAFTAR PUSTAKA

Wibowo, I, 2000, Negara dan Mayarakat : Berkaca dari Pengalaman Republik Rakyat
Cina, gramedia, Jakarta.
Winarno. 2007, Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan Di Perguruan Tinggi.
Bumi aksara, jakarta.
Buku Panduan Kewarganegaraan Tahun 2014. Universitas Sriwijaya. UPT Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian.
Nikolas, (2007). Pentingnya integrasi nasional indonesia. (http://www.education-
penteingnya-integrasi-nasional.org/wiki)
Wibowo, I, 2000, Negara dan Mayarakat : Berkaca dari Pengalaman Republik Rakyat
Cina, gramedia, Jakarta.
Winarno. 2007, Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan Di Perguruan Tinggi.
Bumi aksara, jakarta.
Buku Panduan Kewarganegaraan Tahun 2014. Universitas Sriwijaya. UPT Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian.
Bohlan, (2005). Integrasi nasional. (http://www.basic-integrasi-nasional.org)
Nikolas, (2007). Pentingnya integrasi nasional indonesia. (http://www.education-
penteingnya-integrasi-nasional.org/wiki)