Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

DEPARTEMEN SURGICAL

Meningioma (Tumor Serebri)


Ruang 12 Rumah Sakit Saiful Anwar Malang

Oleh :

Ma’rifatul Kisabana
Nim. 105070201111004

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
Laporan Pendahuluan Meningioma

1. Definisi
 Meningioma adalah tumor pada meninx, yang merupakan selaput pelindung
yang melindungi otak dan medulla spinalis. Meningioma dapat timbul pada tempat
manapun di bagian otak maupun medulla spinalis, tetapi, umumnya terjadi di
hemisphere otak di semua lobusnya. Kebanyakan meningioma bersifat jinak
(benign). Meningioma malignant jarang terjadi.
 Meningioma adala tumor otak jinak yang berasal dari sel-sel yang terdapat pada
lapisan meningen serta derivat-derivatnya. Di antara sel-sel meningen itu
belum dapat dipastikan sel mana yang membentuk tumor tetapi terdapat hubungan
erat antara tumor ini dengan villi arachnoid. Timbulnya meningioma kebanyakan di
tempat ditemukan banyak villi arachnoid.
 Tumor otak adalah lesi intra kranial yang menempati ruang dalam tulang
tengkorak. Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna)
ataupun ganas (maligna), membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra
cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada
jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase.
Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri, disebut tumor otak
primer dan bila berasal dari organ-organ lain (metastase) seperti ; kanker paru,
payudara, prostate, ginjal dan lain-lain, disebut tumor otak sekunder.

2. Etiologi
 Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma, namun beberapa
teori telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang jelek yang
meyebabkan timbulnya meningioma. Faktor-faktor terpenting sebagai penyebab
meningioma adalah trauma, kehamilan, dan virus. Pada penyelidikan dilaporkan
1/3 dari meningioma mengalami trauma, Pada beberapa kasus ada hubungan
langsung antara tempat terjadinya trauma dengan tempat timbulnya tumor.
Sehingga disimpulkan bahwa penyebab timbulnya meningioma adalah trauma.
Beberapa penyelidikan berpendapat hanya sedikit bukti yang menunjukkan
adanya hubungan antara meningioma dengan trauma.
 Dilaporkan juga bahwa meningioma ini sering timbul pada akhir kehamilan,
mungkin hal ini dapat dijelaskan atas dasar adanya hidrasi otak yang meningkat
pada saat itu. Teori lain menyatakan bahwa virus dapat juga sebagai penyebabnya.
Pada penyelidikan dengan light microscope ditemukan virus like inclusion bodies
dalam nuclei dari meningioma. Tetapi penyelidikan ini kemudian dibantah
bahwa pemeriksaan electron misroscope inclusion bodies ini adalah proyeksi
cytoplasma yang berada dalam membran inti.

3. Klasifikasi
Gambaran mikroskopik meningioma amat bervariasi, macam-macam
klasifikasi diusulkan, natnun Orville Bailey (1940) menganggap klasifikasi
meningioma tidak diperlukan. Pandangan ini didasarkan secara biologis karena
variasi-variasi histologis tersebut tidak banyak kaitannya dengan perangai biologi
kelompok tumor ini.
Klasifikasi menurut Kernohan dan Sayre, yaitu Meningioma
meningotheliomatosa (syncytial, eiidothclimatous), Meningioma fibroblastic dan
Meningioma angioblastik. Yang terakhir ada yang menggolongkan sebagai
haemangioperisitoma. Tipe transisional atau tipe campuran digolongkan ke dalam
kelompok meningioma meningotheliomatosa.
WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah
diketahui, termasuk meningioma. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan derajat
pada hasil biopsi yang dilihat di bawah rnikroskop. Penatalaksanaannya pun
berbeda-beda di tiap derajatnya.
a. Grade I
Meningioma tumbuh dengan lambat . Jika tumor tidak menimbulkan gejala,
mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara
periodic. Jika tumor semakin bverkembang, maka pada akhirnya dapat
menimbulkan gejala, kemudian penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan.
Kebanyakan meningioma grade I diterapi dengan tindakan bedah dan observasi
yang continue.
b. Grade II
Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Jenis ini tumbuh lebih
cepat dibandingkan dengan grade I dan mempunyai angka kekambuhan yang
lebih tinggi juga. Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe ini.
Meningioma grade II biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan.
c. Grade III
Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma
malignant atau meningioma anaplastik. Meningioma malignant terhitung kurang
dari 1 % dari seluruh kejadian meningioma. Pembedahan adalah
penatalaksanaan yang pertama untuk grade III diikuri dengan terapi radiasi. Jika
terjadi rekurensi tumor, dapat dilakukan kemoterapi.
Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtype berdasarkan lokasi dari tumor.

1. Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus menlngioma). Falx


adalah selaput yang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer
kiri dan kanan. Falx cerebri mengandung pembuluh darah besar. Parasagital
meningioma terdapat di sekitar falx
2. Meningioma Convexitas (20%). Tipe meningioma ini terdapat pada
permukaan atas otak.
3. Meningioma Sphenoid (20%) Daerah Sphenoidalis berlokasi pada daerah
belakang rnata. Banyak terjadi pada wanita.
4. Meningioma Olfactorius (10%). Tipe ini terjadi di sepanjang nervus yang
menghubungkan otak dengan hidung.
5. Meningioma fossa posterior (10%). Tipe ini berkembang di pemukaan
bawah bagian belakang otak.
6. Meningioma suprasellar (10%). Terjadi di bagian atas seila tursica, sebuah
kotak pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitary.
7. Spinal meningioma (kurang dari 10%). Banyak terjadi pada wanita yang
berumur antara 40 dan 70 tahun. Akan selalu terjadi pda medulla spinalis
setingkat thorax dan dapat menekan spinal cord. Meningioma spinalis
dapat menyebabkan gejala seperti nyeri radikuler di sekeliling dinding
dada, gangguan kencing, dan nyeri tungkai.
8. Meningioma Intraorbital (kurang dari 10%). Tipe ini berkembang pada atau
di sekitar mata cavum orbita.
9. Meningioma Intraventrikular (2%). Terjadi pada ruangan yang berisi
cairan di seluruh bagian otak.

4. Manifestasi Klinik

Gejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada otak
dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh terganggunya fungsi
normal dari bagian khusus dari otak atau tekanan pada nervus atau pembuluh darah).
Secara umum, meningioma tidak bisa didiagnosa pada gejala awal.

Meningioma tumbuhnya perlahan-lahan dan tanpa memberikan gejala-gejala dalam


waktu yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Ini khas untuk meningioma tetapi tidak
pathognomonis. Diperkirakan meningioma intrakranial yang merupakan 1,44% dari seluruh
otopsi sebagian besar tidak menunjukkan gejala-gejala dan didapatkan secara kebetulan.
Dari permulaan sampai timbulnya gejala-gejala rata-rata ± 26 bulan, dilaporkan juga
gejala-gejala yang lama timbulnya yaitu antara 20 — 30 tahun. Walaupun demikian
gejala-gejala yang cepat tidak menyingkir kan adanya meningoma.

Gejala-gejala umum, seperti juga pada tumor intracranial yang lain misalnya sakit
kepala, muntah-muntah, perubahan mental atau gejala-gejala fokal seperti kejang-
kejang, kelumpuhan, atau hemiplegia. Gejala umum ini sering sudah ada sejak lama
bahkan ada yang bertahun-tahun sebelum penderita mendapat perawatan dan
sebelum diagnosa ditegakkan.

Gejala-gejala yang paling sering didapatkan adalah sakit kepala. Gejala Minis lain
yang paling sering adalah berturut-turut sebagai berikut:

1) kejang-kejang (±48%)
2) gangguan visus (± 29%)
3) gangguan mental (± 13%)
4) gangguan fokal (± 10%)

Tetapi timbulnya tanda-tanda dan gejala-gejala ini tergantung pada letak tumor dan
tingginya tekanan intrakranial, Tanda-tanda fokal sangat tergantung dari letak tumor,
gejala-gejala bermacam-macam sesuai dengan fungsi jaringan otak yang ditekan atau
dirusak, dapat perlahan-lahan atau cepat. Menurut Leaven gangguan fungsi otak ini
penting untuk diagnosa dini. Gejala-gejala ini tirnbul akibat hemodynamic steal dalam
satu hemisfer otak, antara hemisfer atau dari otak kedalam tumor.

1) Sakit Kepala
Merupakan gejala yang paling sering, sakit kepala ini tidak khas, dapat umum atau
terlokalisir ada daerah yang berlainan. Hal ini sudah lazim walaupun tidak dikaitkan
dengan meningkatnya tekanan intracranial. Meningioma Intra Ventrikuler seringkali
mengalami sakit kepala dan peningkatan tekanan intrakranial, karena meningioma di
tempat tersebut dapat bergerak dan dapat mengadakan penyumbatan pada aliran
cairan serebrospinalis. Sakit kepala tersebut bersifat unilateral dan gejala-gejala ini
mungkin hilang timbul. Selain sakit kepala juga disertai mual dan muntah-muntah.
2) Kejang
Didapati 48% dari kasus meningioma mengalami kejang-kejang terutama pada
meningioma parasagittal dan lobus temporalis, Adanya kejang-kejang ini akan
memperkuat diagnosa.
3) Gangguan Mata
Gangguan mata yang terjadi pada meningioma dapat berupa :
a) penurunan visus
b) papil oedema
c) nystagmus
d) gangguan yojana penglihatan
e) gangguan gerakan bola mata
f) exophthalmus.
4) Hemiparese
Lebih sering didapatkan pada meningioma dibandingkan dengan tumor-tumor
intrakranial yang lain. 10% dari kasus meningioma didapati kelumpuhan fokal, Crose
dkk mendapatkan tiga dari 13 kasusnya dengan hemi parese disertai gangguan
sensoris dari N V.
5) Gangguan mental
Sering juga didapatkan gangguan mental, tentunya berhubungan pula dengan lokalisasi
dari tumor. Dilaporkan 13% dari kasus-kasus RAAF (29) dengan gangguan mental.
Gejala mental seperti: dullness, confusion stupor merupakan gejala-gejala yang paling
sering. Disamping gejala-gejala tersebut di atas juga sering didapatkan gangguan saraf
otak (nervus cranialis) terutama yang paling sering dari kasus-kasus Grouse yaitu N II,
V, VI, IXdan X. Gejala yang menarik adalah adanya Intermittent cerebral symptoms.
Pada 219 penderita dengan meiiingioma supra tentorial didapatkan gangguan fungsi
serebral yang mendadak intermitten dan sementara dapat beberapa menit atau lebih
dari sehari. Gejala-gejala dapat berapa afasia, kelumpuhan dari muka dan lidah, hemi
plegia, vertigo, buta, ataxia, hallusinasi (olfaktoris) dan kejang-kejang. Setengah dari
kasus-kasus ini gangguan fungsi serebral berulang-ulang, karena terjadi pada usia
lanjut maka seringkali diagnosa membingungkan dengan suatu infark otak atau
insuffuiensia serebrovaskuler, migrain, dan multiple sclerosis. Pada umumnya C.V.A.
dapat dibedakan dengan tumor intrakranial dengan adanya gejala-gejala yang
mendadak dan perlahan-lahan diikuti dengan kemajuan dari gejala-gejala neurologis.
Bermacam-macam gejala neurologis yang paling sering menimbulkan kesalahan
diagnosa.
6) Tanda-tanda yang menyesatkan (False Localizing Signs = FLS)
FLS dari tumor-tumor intrakranial adalah tanda-tanda yang tidak semuanya
berhubungan dengan gangguan fungsi pada tempat tumor tersebut. Biasanya terlihat
sebagai gejala fokal dari tempat-tempat yang jauh dari tumor di mana hal ini dapat
membingungkan untuk menentukan lokalisasi tumor tersehut. Seperti biasanya
diagnosa klinik ditegakkan dari kumpulan/tanda-tanda, tetapi kurangnya pengetahuan
akan FLS menyebabkan kesalahan-kesalahan pada diagnosa, apabila pada kasus-
kasus yang tanda-tandanya tidak jelas. Dari 250 kasus meningioma intrakranial
didapatkan 101 kasus dengan FLS. Diagnosa yang salah karena gejala-gejala yang
tidak jelas disertai adanya FLS. Gejala-gejala yang tidak jelas dapat disebabkan oleh
karena adanya Silent area di mana tumor-tumor itu pada permulaannya tidak
menunjukkan gejala-gejala. Yang termasuk silent area: parasagital anterior, konveksitas
frontal dan intraventrikuler

Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor:


a. Meningioma falx dan parasagittal; nyeri tungkai
b. Meningioma Convexitas; kejang, sakit kepala, deficit neurologis fokal, perubahan
status mental
c. Meningioma Sphenoid; kurangnya sensibilitas wajah, gangguan lapangan pandang,
kebutaan, dan penglihatan ganda.
d. Meningioma Olfactorius; kurangnya kepekaan penciuman, masalah visus.
e. Meningioma fossa posterior; nyeri tajam pada wajah, mati rasa, dan spasme otot-
otot wajah, berkurangnya pendengaran, gangguan menelan, gangguan gaya
berjalan,
f. Meningioma suprasellar; pembengkakan diskus optikus, masalah visus
g. Spinal meningioma ; nyeri punggung, nyeri dada dan lengan
h. Meningioma Intraorbital ; penurunan visus, penonjolan bola mata
i. Meningioma Intraventrikular ; perubahan mental, sakit kepala, pusing

5. Patofisiologi

Seperti banyak kasus neoplasma lainnya, masih banyak hal yang belum diketahui
dari meningioma. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal
dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan
perubahan bentuk. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum
jelas. Kaskade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan
perkembangan edema peritumoral.
Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. Kaskade
eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan perkembangan edema
peritumoral. Dari lokalisasinya Sebagian besar meningioma terletak di daerah
supratentorial. Insidens ini meningkat terutama ada daerah yang mengandung granulatio
Pacchioni. Lokalisasi terbanyak pada daerah parasagital dan yang paling sedikit pada
fossa posterior.
Etiologi tumor ini diduga berhubimgan dengan genetik, terapi radiasi, hormon sex,
infeksi virus dan riwayat cedera kepala. Sekitar 40-80% tumor ini mengalami kehilangan
material genetik dari lengan panjang kromosom 22, pada lokus gen neurofibromatosis 2
(NF2). NF2 merupakan gen supresor tumor pada 22Q12, ditemukan tidak aktif pada
40% meningioma sporadik. Pasien dengan NF2 dan beberapa non-NF2 sindrom
familial yang lain dapat berkembang menjadi meningioma multiple, dan sering terjadi
pada usia muda. Disamping itu, deplesi gen yang lain juga berhubungan dengan
pertumbuhan meningioma.
Terapi radiasi juga dianggap turut berperan dalam genesis meningioma. Bagaimana
peranan radiasi dalani menimbulkan meningioma masih belum jelas. Pasien yang
mendapatkan terapi radiasi dosis rendah untuk tinea kapitis dapat berkembang menjadi
meningioma multipel di tempat yang terkena radiasi pada dekade berikutnya. Radiasi
kranial dosis tinggi dapat menginduksi terjadinya meningioma setelah periode laten yang
pendek.
Meningioma juga berhubungan dengan hormon seks dan seperti halnya faktor
etiologi lainnya mekanisme hormon sex hingga memicu meningioma hingga saat ini
masih menjadi perdebatan. Pada sekitar 2/3 kasus meningioma ditemukan reseptor
progesterone. Tidak hanya progesteron, reseptor hormon lain juga ditemukan pada
tumor ini termasuk estrogen, androgen, dopamine, dan reseptor untuk platelet derived
growth factor. Beberapa reseptor hormon sex diekspressikan oleh meningioma. Dengan
teknik imunohistokimia yang spesifik dan teknik biologi molekuler diketahui bahwa
estrogen diekspresikan dalam konsentrasi yang rendah. Reseptor progesteron dapat
ditemukan dalam sitosol dari meningioma. Reseptor somatostatin juga ditemukan
konsisten pada meningioma.
Pada meningioma multiple, reseptor progesteron lebih tinggi dibandingkan pada
meningioma soliter. Reseptor progesteron yang ditemukan pada meningioma sama
dengan yang ditemukan pada karsinoma mammae. Jacobs dkk (10) melaporkan.
meningioma secara bermakna tidak berhubungan dengan karsinoma mammae, tapi
beberapa penelitian lainnya melaporkan hubungan karsinoma mammae dengan
meningen.
Meningioma merupakan tumor otak yang pertumbuhannya lambat dan tidak
menginvasi otak maupun medulla spinalis. Stimulus hormon merupakan faktor yang
penting dalam pertumbuhan meningioma. Pertumbuhan meningioma dapat menjadi cepat
selama periode peningkatan hormon, fase luteal pada siklus menstruasi dan kehamilan.
6. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosa meningioma dapat ditentukan atas beberapa pemeriksaan sebagai berikut:
1) Elektroensefaiografi (E.E.G.)
Tumor otak memberi EEG abnormal pada 75-85% dari kasus dan 15 - 25% dari
penderita dengan tumor otak mempunyai EEG yang normal. Tumor otak sendiri
tidak memberi aktivitas listrik abnormal. Hanya neuron-neuron yang membuat ini
pada daerah dekat tumor menjadi abnormal sedemikian rupa sehingga
hypersyndironisasi dari pelepasan-pelepasan listrik dari beribu-ribu atau berjuta-
juta sel saraf membentuk gelombang lanibat atau gelombang runcing pada EEG.
Mungkin tumor ini memberi kelainan metabolik dari neuron-neuron didekatnya,
mungkin dengan tekanan langsung, oedema atau raengacau (merusak) innervasi
daerahnya. Meningoma raenunjukkan sedikit abnormalitas pada E.E.G. Pada
kasus-kasus didapatkan 53% dengan focus abnormal. Pada meningioma
intraventriculer enam dari delapan kasus menunjukkan EEG yang abnormal.
2) X ray foto tengkorak
Perubahan-perubahan dari X foto tengkorak pada meningioma 22,5% adalah
normal, 75,5% abnormal. Kelainan radiologis tersebut adalah:
a) Hyperostosis : 25% - 44,1 %
b) Pembesaran dari canalis yang dilalui oleh arteri meningiamedia (foramen
Spinosum): 25%
c) Perkapuran dari tumor : 3% — 20%
d) Kerasakan dari tulang : 1,5% -16,1%
e) Pembuatan specule : 4,3% adalah pembuatan tulang-tulang baru sebagai
tiang yang ramping tegak lurus pada permukaan tulang yang normal.
f) Penebalan tulang yang difus
Hyperostosis dan kalsifikasi tumor terutama Psammomatous merupakan
tanda yang paling penting untuk diagnosa meningioma disamping peningkatan
Vascularisasi dan kerasakan tulang. Hiperostosis adalah salah satu gambaran
mayor dari meningioma pada foto polos. Dinidikasikan untuk tumor pada meninx.
Tampak erosi tulang dan dekstruksi sinus sphenoidales, kalsifikasi dan lesi litik
pada tulang tengkorak. Pembesaran pembuluh darah meninx menggambarkan
dilatasi arteri meninx yang mensuplai darah ke tumor. Kalsifikasi terdapat pada
20-25% kasus dapat bersifat fokal maupun difus .
3) Angiografi
Kelainan pembuluh darah yang paling khas pada meningioma adalah adanya
pembuluh darah yang meraberi darah pada neoplasma oleh cabang-cabang
arteri sistim karotis ekstema. Bila mendapatkan arteri karotis ekstenia yang
memberi darah ke tumor yang letaknya intrakranial maka ini mungkin sekali
neningioma.
Umumnya meningioma merupakan tumor vascular. Dan dapat menimbulkan
gambaran "spoke wheel appearance". Selanjutnya arteri dan kapiler
memperlihatkan gambaran vascular yang homogen dan prominen yang disebut
dengan mother and law phenomenon Meningioma menunjukkan dri-ciri paling
khas sebagai berikut:: (i) Mendapat darah dari sistim karotis ekstema. (ii)
Homogenous akan tetapi sharphy sircumscribed cloud, ya itu adanya tumor cloud
yang homogen dari cairan kontras pada selurah tumor. Batas vaskuler intrinsik
dari meningioma sering jelas sekali dan konfigurasinya berbentuk bulat-bulatan
(lobulated). Dan (iii). Tetap adanya cairan kontras dalam tumor.
Terdapat tetap adanya tumor cloud untuk waktu yang agak lama pada
serialogram. Tumor Stain masih terlihat pada film terakhir ialah delapan sainpai
sembilan detik setelali permulaan dari injeksi cairan kontras. (iii) lebih dapat
dipercaya daripada (ii).
4) Pneumoensefalografi atau Ventrikulografi
Pneumografi dapat menunjukkan paling jelas tumor intraventrikuler dan tumor
yang letaknya dalam, dekat pada ventrikel atau mengadakan invasi pada straktur
di garis tengah (invading midline structures).
5) Brain Scan
Brain scan biasanya kurang cermat untuk diagnosa dari tumor yang tumbuh
lambat dan berasal dari glia. Mungkin tak lebih dari separo menunjukkan
Brainscan yang positlp. Keterbatasan atau kejelekan dari radionucleide brainscan
ini ialali tak dapat memberi petunjuk yang dapat dipercaya mengeiiai jenis atau
maeam nature dari lesi. la hanya menunjukkan suatu daerah dengan uptake
yang abnormal dalam kepala, yang dapat sebagai neoplasma, vaskuler, radang
atau trauma. la tak memberi informasi mengenai status dari otak dan derajad dari
deformitas atau adanya edema otak, dilatasi ventrikel atau tekanan intrakranial
yang tinggi. Dalam hal ini, C.T. scan dari otak lebih superior dibandingkan
dengan isotop brain scan
6) Computerized Tomography Scan (CT scan)
CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak
meningioma. Tampak gambran isodense hingga hiperdense pada foto sebelum
kontras, dan gambaran peningkatan densitas yang homogeny pada foto kontras.
Tumor juga memberikan gambaran komponen cystic dan kalsifikasi pada
beberapa kasus. Udem peritumoral dapat terlihat dengan jelas. Perdarahan dan
cairan intratumoral sampai akumulasi cairan dapat terlihat. Meningioma biasanya
lebih padat dibandingkan dengan otak oleh karena adanya Calcium dalam tumor.
Nilai absorpsi mungkin antara 20-300 Um, dan lesi-lesi itu dengan densitas
sedang, bertambah jelas dengan penyuntikan, kontras walau dengan jumlah
yang sedikit (20 - 40 cc). Bila meningioma dengan densitas sangat mendekati
otak,maka kita dapat salah menerka edema sebagai tumor dan dapat
mendiagnosis salah sebagai glioma. Sesuai dengan laporan BECKER dkk bila
meningioma mengandung banyak calcium, ia sangat padat dan diagnosisnya
jelas. CT Scan dapat menunjukkan ventrikel dan ruangan subarachnoid, juga
massa tumor, sering dapat memberi infonnasi tentang lokalisasi secara
terperinci. Histopatologik, Histopatologi dari meningioma menunjukkan gambaran
yang beraneka ragam. Beberapa sarjana membagi menjadi gambaran yang
sederhana didasarkan jenis yang paling sering didapatkan.
7) Radiologi
Umumnya pada banyak pasien, tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan
radiografi. Foto polos kepala dapat memberikan gambaran kalsifikasi karena ada
meningioma pada dasar tulang kepala dengan bentuk yang konveks.
Meningioma dapat mengakibatkan reaktif hyperostosis yang tidak berhubungan
dengan ukuran tumor. Osteolisis jarang mengakibatkan meningioma yang jinak
dan malignan. Pemeriksaan foto polos kepala sebagai penunjang penyaki
meningioma masih memiliki derajat kepercayaan yang tinggi. Gambaran yang
sering terlihat plak yang hyperostosis, dan bentuk sphenoid, dan pterion.
Kalsifikasi tanpa adanya tumor pada foto polos kepala dapat menunjukkan hasil
false-negatif pada meningioma. Banyak pasien dengan meningioma otak dapat
ditegakkan secara langsung dengan menggunakan CT atau MRI.

7. Penatalaksanaan
a. Operatif
Penatalaksanaan meningioma tergantung dari lokasi dan ukuran tumor itu
sendiri. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan
pertama. Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini
antara lain lokasi tumor, ukuran dan konsistensi, vaskularisasi dan pengaruh
terhadap sel saraf. dan pada kasus rekurensi, riwayat operasi sebelumnya dan
atau radioterapi. Lebih jauh lagi, rencana operasi dan tujuannya berubah
berdasarkan faktor resiko, pola, dan rekurensi tumor. Tindakan operasi tidak
hanya mengangkat selurah tumor tetapi juga termasuk dura, jaringan lunak, dan
tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi.
Klasifikasi penatalaksanaan dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial:
1) Grade I Reseksi total tumor, perlekatan dural dan tulang abnormal
2) Grade II Reseksi total tumor, koagulasi dari perlekatan dura
3) Grade III Reseksi total tumor, tanpa reseksi atau koagulasi dari perlekatan
dura, atau mungkin perluasan ekstradural ( misalnya sinus yang terserang
atau tulang yang hiperostotik)
4) Grade IV Reseksi parsial tumor
5) Grade V Dekompresi sederhana (biopsy)
b. Radioterapi
Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak
dipakai untuk terapi. External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy dilaporkan
efektif untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal, kasus-
kasus rekurensi baik yang didaliului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak,
Pada kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit,
keadaan pasien yang buruk, atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi,
external beam irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya. Teori
terakhir menyatakan terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif
pada kasus meiiingioma yang agresif (atyppical, malignan), tetapi informasi yang
mendukung teori ini belurn banyak dikemukakan. Efektifitas dosis yang lebih
tinggi dari radioterapi harus dengan pertimbangan koraplikasi yang ditimbulkan
terutama pada meningioma. Saraf optikus sangat rentan mengalami kerusakan
akibat radioterapi. Koraplikasi lain yang dapat ditimbulkan berupa insufisiensi
pituitari ataupun nekrosis akibat radioterapi.
c. Radiasi stereotaktik
Penggunaan stereotaktik radioterapi ini semakin banyak dilakukan untuk
meningioma. Sumber energi yang digunakan didapat melalui teknik yang
bervariasi, yang paling sering digunakan adalah sinar foton yang berasal dari Co
gamma (gamma knife) atau linear accelerators (LINAC) dan partikel berat
(proton, ion helium) dari cyclotrons. Semua teknik radioterapi dengan stereotaktik
ini dapat mengurangi kornplikasi, terutama pada lesi dengan diameter kurang
dari 2,5 cm.
Steiner dan koleganya menganalisa pasien meningioma yang diterapi dengan
gamma knife dan diobservasi selama 5 tahun. Mereka menemukan sekitar 88%
pertumbuhan tumor ternyata dapat dikontrol. Baru-baru ini peneliti yang sama
melakukan studi dengan sampel 99 pasien yang diikuti selama 5 hingga 10 tahun
dan didapatkan pengontrolan pertumbuhan tumor sekitar 93 % kasus dengan 61
% massa tumor mengecil. Kejadian defisit neurologis baru pada pasien yang
diterapi dengan stereotaktik tersebut kejadiannya sekitar 5 % .

d. Kemoterapi
Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak
diketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. Kemoterapi
sebagai terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak sedikit sekali
diaplikasikan pada pasien, tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi (baik
intravena atau intraarterial cis-platinum, decarbazine (DTIC) dan adriamycin)
menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (DeMonte dan Yung), walaupun
regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak.
Pemberian hormon antogonis mitogen telah juga dilakukan pada kasus dengan
meningioma. Preparat yang dipakai biasanya tamoxifen (anti estrogen) dan
mifepristone (anti progesteron). Tamoxifen (40 mg/m2 2 kali/hari selama 4 hari
dan dilanjutkan 10 mg 2 kali/hari) telah digunakan oleh kelompok onkolologi
Southwest pada 19 pasien dengan meningioma yang sulit dilakukan reseksi dan
refrakter. Terdapat pertumbuhan tumor pada 10 pasien, stabilisasi sementara
pertumbuhan tumor pada 6 pasien, dan respon minimal atau parsial pada tiga
pasien .