Anda di halaman 1dari 3

WAMENKES: PERLU UPAYA KOLABORASI UNTUK MASALAH

HEPATITIS DAN HIV/AIDS


DIPUBLIKASIKAN PADA : KAMIS, 26 JUNI 2014 13:47:00, DIBACA : 53.935 KALI Jakarta, 26 Juni 2014

Masalah Hepatitis virus tidak bisa kita lepaskan dari masalah HIV/AIDS, mengingat

Indonesia merupakan negara dengan epidemik HIV yang terkonsentrasi pada populasi

berisiko. Upaya keras dalam pengendalian HIV/AIDS akan sia-sia, bila orang dengan

HIV/AIDS (ODHA) yang telah disiapkan pelayanannya dan disiplin mengikuti pengobatan,

namun mereka meninggal karena Hepatitis baik B maupun C.

Demikian sambutan Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, PhD, saat

membuka kegiatan Pertemuan Konsultasi Nasional Pengendalian Hepatitis Indonesia di

Jakarta, Kamis pagi (26/6).

Virus Hepatitis terdiri dari Hepatitis A, B, C, D dan E, dimana Hepatitis A dan E, dapat

ditularkan melalui anus ke mulut atau secara fecal oral, sering timbul sebagai kejadian luar

biasa (KLB) tetapi dapat sembuh dengan baik. Karena penularannya melalui fecal oral

maka pencegahannya melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), akses air bersih dan

kesehatan lingkungan serta pengelolaan makanan yang baik dan benar. Sedangkan

untuk Hepatitis B, C dan D, dapat ditularkan melalui secara parenteral seperti penggunaan

bersama alat-alat pribadi dengan penderita atau melalui hubungan seksual, lalu dapat

menjadi kronis dan kemudian menjadi kanker hati. Untuk Hepatitis B, telah dilakukan upaya

imunisasi pada bayi sejak 1997, sedangkan pada Hepatitis C belum ditemukan vaksinasi,

tetapi penderita dapat disembuhkan.

Hepatitis adalah penyakit yang dapat dicegah dan diobati, ujar Wamenkes.
Di Indonesia, diperkirakan pengidap Hepatitis B dan C berjumlah 28 juta orang. Data

Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi Hepatitis B adalah sebesar 9,4%, sedangkan

prevalensi Hepatitis C sebesar 2,1%.

Saat ini, selain Imunisasi Hepatitis B, upaya pengendalian Hepatitis Virus yang telah

dilaksanakan, yaitu: 1) Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS; 2) Penapisan

darah donor oleh unit transfusi darah PMI; 3) Deteksi dini Hepatitis B pada ibu hamil; 4)

Deteksi dini hepatitis B pada tenaga kesehatan; 5) Pengembangan Surveilans Hepatitis B

dan C bagi kelompok masyarakat berisiko tertetular dan menularkan, yaitu pengguna

narkoba suntik (Penasun), lelaki yang melakukan seks dengan lelaki (LSL), Waria dan wanita

penjaja seks (WPS); serta 6) pengembangan program Perawatan Dukungan Pengobatan

(PDP) Hepatitis B dan C.

Lebih lanjut, Wamenkes menyatakan bahwa upaya-upaya yang telah diinisiasi oleh

Kemenkes tersebut dirasakan masih perlu upaya akselerasi, agar kita bisa menekan laju

penularan, mengurangi angka kesakitan dan kematian, meningkatkan kualitas hidup bagi

yang telah terinfeksi.

Melalui pertemuan ini saya berharap agar para peserta pertemuan dapat mulai

memikirkan, mengembangkan dan memasukan dalam rencana kerja upaya

pengendalian Hepatitis virus sebagai upaya prioritas dapat dilakukan atau dikolaborasikan

dengan program lain, ujar Wamenkes.

Sidang majelis kesehatan sedunia atau World Health Assembly (WHA) tahun 2010, Indonesia
bersama Brazil dan Colombia memprakarsai terbitnya Resolusi WHA 63.18 tentang Seruan

Pengendalian Hepatitis Virus, sebagai Public Health Concern secara global. Sidang WHA

ke-67 pada Mei 2014 diterbitkan resolusi 67.6 yang isinya adalah memperkuat resolusi

sebelumnya dan menyuarakan aksi konkrit dalam pengendalian Hepatitis virus di

masyarakat. Dengan disepakatinya resolusi ini, diharapkan Indonesia akan melakukan aksi

konkrit pada Pengendalian Hepatitis melalui Gerakan Pemerintah Bersama Masyarakat.

http://www.depkes.go.id/article/print/201406300001/wamenkes-perlu-upaya-kolaborasi-untuk-

masalah-hepatitis-dan-hiv-aids.html