Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN

Al Quran turun kepada Rasulullah sebagai pelita yang hidayahnya menyinari


seluruh semeseta alam. Setelah Al Quran turun kepada Nabi, beliau membacakannya
kepada para shahabat, kemudian dikaji. Setiap kali muncul permasalahan, mereka segera
mempelajarinya dan menyakan kepada rasulullah. Rasulullah menjelaskan yang mereka
tanyakan dan butuhkan, karena ia adalah penyampai berita dari Tuhannya. Al Quran
telah menyatu dalam diri rasulullah, sehingga fenomena al Quran hidup benar-benar
terjadi pada periode awal ini. Dalam periode pertama ini, interkasi antara Nabi dan para
shahabat dapat dikatakan interaksi langsung.
Priode Nabi dan shahabat merupakan satu priode, sebab metode penafsiran al-
Quran yang bersumber dari shahabat tidak terdapat perbedaan yang berarti dari
penafsiran Nabi kecuali dari sudut sumber. Kalau tafsir Nabi berasal dari Allah secara
langsung atau lewat Jibril atau dari pribadinya sendiri, sementara penafsiran shahabat
bersumber dari al Quran, Nabi al Hadits, atau ijtihad mereka sendiri. Baru kemudian daa
pengambilan dari ahl kitab. Hanya saja, jika ditinjau dari kualitas, penafsiran Nabi jauh
lebih unggul dan lebih autentik karena beliau langsung menerima ayat al Quran dari
Allah.
A. Definisi Shahabat dan Tafsir
Shahabat menurut bahasa berasal dari kata bahasa arab yaitu ‫ صاحب‬yang
mempunyai arti selalu menemani atau menyertai.1 Sedangkan disini yang dimaksud
adalah shahabat nabi yang mempunyai pengertian seseorang beragama Islam yang
pernah melihat atau bertemu Rasulullah walaupun sesaat dan wafat dalam keadaan
sebagai muslim.2
Tafsir menurut bahasa berasal dari kata bahasa arab yaitu fassara-yufassiru-
tafsiran yang mempunyai arti penjelasan atau uraian.3 Sedangkan menurut istilah, tafsir
menurut M. Hasbi Ash-Shiddieqy adalah menjelaskan makna ayat, urusan, kisah dan
sebab diturunkannya ayat tersebut dengan lafadz yang membuatnya semakin
terang(dipahami).4
Shahabat Nabi memiliki peran penting.dalam hal penafsiran al Quran. Mereka
menjadi salah satu rujukan penting dalam penafsiran. Faktor-faktor yang menjadikan
peran shahabat ini penting sebagai rujukan dalam penafsiran al Quran antara lain;
pertama, para shahabat merupakan saksi hidup masa pewahyuan yang mengetahui
ihwal turunnya suatu ayat. Kedua, shahabat sangat mengetahui dan memahami bahasa

1
Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh al-Bukhari (Kairo: Dar ar-Raiyan, 1988), 5/5.
2
Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis (Ujung Panang:Dian Rakyat, 1985), 29
3
Jurnal tafsir al-qur’an pada masa nabi muhammad saw hingga masa kodifikasi. Pdf. 21
4
Ibid., 22
wahyu. Ketiga, para shahabat memiliki niat dan pemahaman yang baik tentang al
Quran. 5
Pada masa ini, shahabat yang paling banyak menafsirkan diantaranya adalah :
‘Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu
Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair. Selain para sahabt yang sudah disebutkan,
masih banyak para shahabat yang juga menafsirkan Al-Qur’an al-Kariim.6

B. Sumber Penafsiran pada Masa Shahabat Nabi


Sumber penafsiran yang digunakan oleh shahabat nabi ada 5, yaitu:7
1. Alqur’an
Sebagaimana Nabi pernah menafsirkan satu ayat dengan ayat lain, demikian pula
para shahabat beliau. Karena al-Qur’an saling berhubungan. Ketika seseorang
menafsirkan suatu ayat maka harus dilihat ayat yang berhubungan dengan permasalahan
pada ayat tersebut. Sifat keterkaitan dan mengaitkan yang -dilakukan para shahabat-
satu ayat dengan yang lain merupakan ijtihadi (bukan tawqifi. Sebagai contoh ketika
menafsirkan ayat ‫والسقف المرفوع‬, Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu menafsirkan
kata tersebut (al saqf al marfu’) dengan langit, sebagiamana yang telah Allah kalamkan
di ayat lain: َ‫ه ْم ع َْن آ َياتِ َها ُم ْع ِرضُون‬ ً ‫س ْقفًا َمحْ فُو‬
ُ ‫ظا َو‬ َّ ‫و َج َع ْلنَا ال‬.
َ ‫س َما َء‬ َ 8
2. Hadis Nabi
Para shahabat mengambil sumber dari sunnah nabawiyah dalam menafsirkan al
Quran. Mereka kadang mendengar langsung dari Nabi saat menafsirkan suatu ayat,
kadang mereka menyebutkan tanpa menyandarkannya kepada Nabi. Sebagai contoh,
sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibnu Abbas ketika menafsirkan ‫ج َهنَّ َم‬ َ ‫يَ ْو َم نَقُو ُل ِل‬
‫ت َوتَقُو ُل َه ْل ِم ْن َم ِزيد‬ ْ َ َ ‫امت‬
ِ ‫َل‬ ْ ‫ َه ِل‬beliau menafsirkan dengan “maka Allah ta’ala meletakkan
(menginjakkan) kakinya, kemudian neraka Jahannam mengatakan,”cukup, cukup”. 9
Dalam hal ini, Ibnu Abbas menafisrkan ayat tersebut dengan mengutip sabda Nabi tanpa
menyebutkan penyandaran ini kepada Nabi.

3. Bahasa Arab

5
Musaid al Thayyar, Fushul fi Ushul al Tafsir (Riyadl: Dar al Nasyr al Duwaliy, 1993), 30.
6
Departemen Agama RI, Mukaddimah Al-Qur’an dan Tafsirnya. (Jakarta: Departemen Agama RI, 2008).
48
7
Musaid al Thayyar, Fushul fi Ushul al Tafsir, 30, lihat juga Husain Al-Dzahabi. At-Tafsir al-Mufassirun (tt:
Maktabah Mush’ab bin ‘Umar al-Islamiyah, 2004). 1/31-33.
8
Ibid, 31.
9
Ibid, 31.
Al Quran turun dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa yang digunakan para
shahabat. Sehingga para shahabat memahami dan kalam Ilahi tersebut karena turun
ُ ‫َوأ َ ِذ َنتْ ِل َربِ َها َو‬
dengan bahasa mereka. Sebagai contoh, Ibnu Abbas menafsirkan ayat ْ‫حقَّت‬
beliau menafsirkan adzinat dengan kata ‫( سمعت‬mendengar). 10
4. Ijtihad
Pada masa shahabat, ketika seorang shahabat tidak menemukan tafsir atau
penjelasannya di Al-Qur’an maupun al-Hadis maka beliau ber-ijtihad dengan para
shahabat yang lain. Dalam sumber ijtihad ini, terdapat perbedaan pendapat antar
shahabat. Ada yang menyetujui atau memperbolehkan nya, ada pula yang tidak.
Diantara yang menyetujuinya adalah Ibnu Mas’ud, sedangkan yang tidak menyetujuinya
adalah Umar bin Khattab.
Sebagai contoh dari tafsir tersebut adalah riwayat al Bukhari dari Ibn Abbas
radliyallahu anhuma, ketika dihadapkan dua ayat yang zahirnya saling bertentangan;
yaitu kalamullah;‫ها‬ َّ ‫ش ُّد َخ ْلقًا أ َ ِم ال‬
َ ‫س َما ُء بَنَا‬ َ ‫و ْاْل َ ْر‬,
َ َ‫ أَأ َ ْنت ُ ْم أ‬sampai ‫ض بَ ْع َد ذَ ِلكَ َد َحا َها‬ َ dalam
rangkaian ayat tersebut disebutkan penciptaan langit sebelum bumi. Sedangkan pada
ayat ‫ْن‬ َ ‫ قُ ْل أَئِنَّ ُك ْم لَت َ ْكفُ ُرونَ ِبالَّذِي َخلَقَ ْاْل َ ْر‬sampai akhir ayat ‫قَالَتَا أَت َ ْينَا َطائِ ِعين‬,
ِ ‫ض فِي يَ ْو َمي‬
rangkaian ayat ini menjelaskan bahwa penciptaan bumi mendahului penciptaan langit.
Menganggapi hal tersebut, Ibnu Abbas berpendapat, “Allah menciptakan bumi dalam
waktu dua hari, kemudian bersemayam dan menciptakan langit-langit pada dua hari
yang lain. Kemudian Allah menghamparkan bumi, yaitu dengan diciptakannya mata air
dan ditumbuhkannya tetumbuhan....” sampai ucapan beliau “itulah penciptaan bumi
seisinya selama empat hari dan penciptaan langit dalam dua hari saja. “ 11
5. Ahli Kitab
Beberapa shahabat meriwayatkan dan merujuk pada hikayat Ahli kitab dalam
meanfsirkan al Quran. Perlu digarisbawahi bahwa ketika shahabt meriwayatkan dari
ahli kitab bukan berarti merka menerimanya. Contoh dari merujuknya shahabat pada
penafsiran ahli kitab adalah ketika Ibn Abbas bertanya pada Abu al Jild -seorang
Yahudi yang masuk Islam- tentang apa itu al ra’du (‫ )الرعد‬, kemudian dijawab dengan
al rih (angin ribut). 12
Para shahabat terpaksa bertanya kepada Ahli kitab tersebut karena para shahabat
tidak mendapatkan penjelasan yang detail dari Rasulullah SAW, sedangkan para
shahabat ingin mengetahui hal-hal seperti penciptaan langit dan bumi, dan lain-lain.13

10
Musaid al Thayyar, Fushul fi Ushul al Tafsir, 32.
11
Ibid.
12
Ibid.
13
Ibid., 47-48
C. Karakteristik Penafsiran pada Masa Shahabat Nabi
Pada masa ini, yang paling ditekankan oleh para shahabat adalah arti dari lafadz
dan ditambah dengan penjelasan atau pendapat agar mudah dimengerti.14
Karakteristik penafsiran pada masa shahabat, yaitu:
1. Sedikit perbedaan dalam memaknai lafadz al-Qur’an
2. Membatasi penafsiran (menafsirkan dengan ringkasan-ringkasan saja)
3. Penafsirannya hanya sekedar penafsiran global dan penafsiran ijmali
4. Al-Qur’an tidak ditafsirkan semua, melainkan hanya lafadz yang
dianggap sulit dimengerti dan dipahami.
5. Tafsir pada masa ini masih berbentuk hadis, bahkan tafsir menjadi
bagian dari hadis dan menjadi cabang pembahasannya, sehingga tafsir
belum tersusun dalam bentuk tersendiri.
6. Tidak ada penafsiran secara fiqih, madzhab, dan ‘ilmi
7. Tidak ada pembukuan untuk kitab-kitab tafsir.15
D. Hukum Tafsir Shahabiy
Setelah di atas telah dipaparkan sumber beserta karakteristik tafsir shahabat, pada
bab ini akan dijelaskan apakah tafsir shahabat dapat diterima atau tidak.
Syaikh Musaid al Tayyar membagi karakter diterimanya tafsir shahabat menjadi
empat;
1. Tafsir shahabat dihukumi marfu’, seperti asbab al nuzul, kabar-
kabar ghaib, hal ini tentu begantung pada kesahihan riwayat tersebut.
Hal ini disebabkan oleh ketidakadaan ruang bagi para shahabat
untuk berijtihad. 16
Dalam hal penrimaan tafsir berupa kabar-kabar ghaib dari para
shahabat, ada syarat lagi yang harus dipenuhi, yaitu mufassir dari

14
Teungku Muhammad Hasbi Ash-shiddiqie. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
(Semarang: Pustaka Rizki Putra,2009). 183
15
Husein Adz-Dzahabi, al Tafsir wa al Mufassirun, 73.
16
Musaid al Thayyar, Fushul fi Ushul al Tafsir, 32.
kalangan shahabat tersebut bukanlah orang yang terkenal sering
mengambil israiliyyat.
2. Tafsir shahabat yang merujuk pada aspek kebahasaan hukumnya
dapat diterima, karena al Quran saat itu turun dengan bahasa mereka
juga.
3. Tafsir shahabat yang diambil dari ahli kitab, dihukumi sebagai tafsir
israiliyyat yang telah dijelaskan para ulama berbagai
karakteristiknya.
4. Tafsir shahabat yang bersumber dari ijtihad mereka, memiliki tiga
keadaan; pertama, jika ijtihad shahabat saling mencocoki dan
bersesuaian satu dengan lainnya, maka ini dapat dijadikan hujjah.
Kedua, jika berbeda satu dengan yang lain, maka diambil yang rajih
dengan menggunakan perangkat analisis yang dijelaskan pada bab
qawaid tarjih . Ketiga, jika bersumber dari seorang shahabat saja
(bukan sekelompok shahabat) dan tidak diketahui adanya
penentangan dari yang lainnya, maka tafsir tersebut bisa diterima,
leibh-lebih lagi jika ada indikator-indikator penguat pendapat
tersebut semisal ijtihad tafsir tersebut bersumber dari ahli tafsir yang
terkemuka seperti Ibn Abbas, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain
radilyallahu an’hum ajma’in. 17
E. Contoh Tafsir yang Dinisbatkan kepada Shahabat
Pada periode pertama, tafsir Nabawi dan shahabiy belum dibukukan seperti saat
ini. Penjelasan atau tafsir al Quran didapatkan oleh shahabat dari lisan Nabi langsung
(verbal). Penafsiran ayat diriwayatkan secara terpencar terhadap ayat-ayat yang
berbeda-beda, sebagaimana riwayat hadis. Hadis tentang salat tersusun di samping hadis
tentang jihad, hadis waris, hadis tafsir ayat, dan lain sebagainya. Baru kemudian
beberapa ulama mulai menghimpun perkataan-perkataan serta pendapat para shahabat
dalam bidang tafsir dan membukukannya dalam kitab-kitab mereka.

17
Ibid, 33-34.
Ada beberapa shahabat yang terkenal dalam keilmuan tafsirnya, sehingga menjadi
rujukan dalam bidang tafsir. Tersebutlah nama Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay,
dan lain-lain.
Pada makalah ini penulis hanya membahas singkat tentang tafsir dan penafsiran
Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menafsirkan al-Qur’an dengan melengkapi makna serta
pengertiannya. Beliau adalah shahabat Nabi yang mendapat julukan Bahrul Ilm (lautan
Ilmu), dan sederetan predikat yang diberikan kepadanya seperti Habrul Ummah dan
turjumanul qur’an (juru tafsir al-Qur’an). Abdullah bin Abbas juga merupakan salah
seorang shahabat yang banyak menghabiskan hidupnya bersama Rasulullah sejak kecil.
Kedekatan Abdullah bin Abbas dengan Nabi menjadikannya banyak menerima ilmu
pengetahuan, serta tafsir terhadap ayat-ayat al-Qur’an bahkan setelah Rasululah wafat
beliau banyak berguru kepada tokoh-tokoh senior dari kalangan. Nabi pernah berwasiat
kepada Ibnu Abbas dengan mendoakan beliau
‫ اللهم فقه في الدين و علمه تاويله‬. 18

Terkait keberadaan tafsir Ibn Abbas, Tanwir al Miqbas fî Tafsir Ibn Abbas,
sesungguhnya penisbatan kepada Ibn Abbas masih dalam perdebatan. Tafsir tersebut
dihimpun oleh al-Fayruz Abadi dan dinisbatkan kepada Ibn Abbas yang didasarkan
pada riwayat-riwayat yang dinilai lemah, yaitu riwayat Muhammad bin Marwan al-Sudi
yang diterima dari al-Kalbi, Abu Salih, dari Ibn Abbas. Ada yang menganggap
rangkaian sanad ini manipulatif (mawdlu).
Pada dasarnya, buah pikiran Ibn Abbas dalam tafsir banyak yang sampai kepada
kita melalui riwayat yang shahih terutama melalui jalur Ali bin Abi Talhah. Dalam
Tafsir al-Tabari terekam sekitar 1000 riwayat yang melalui jalur ini. Sebagian pakar
menilai riwayat tersebut mengandung kelemahan karena Ali bin Abi Talhah tidak
meriwayatkannya langgsung dari Ibn Abbas. Namun dengan diketahuinya “perantara”
Alî bin Abi Talhah dan Ibn Abbas adalah orang yang tsiqah, yaitu Mujahid (w. 104 H)
dan Ikrimah. Sehingga perlu diketahui bahwa riwayat yang shahih dari Ibn Abbas tidak
harus melalui tafsir Tanwir al-Miqbas fi Tafsir Ibn ‘Abbas, wallau a’lam. 19

18
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Lihat Ahmad bin Hanbal, Musnad al
Imam Ahmad, (Beirut: Muassasah al Risalah, 1421), 4/225.
19
Andi Miswar, Perkembangan Tafsir al Qruan dalam masa Sahabat, Jurnal Rihlah vol. 5, no.2, 2016,
hlm. 4 (148). Lihat juga Abdul Aziz Humaidi, Tafsir Ibn Abbas ma Mawrwiyyatuh fi al Tafsir (Saudi, Dar al
Turats al Islamiy, Tt).
DAFTAR PUSTAKA

Ibnu Hajar, al Asqalani ,Fath al-Bari bi Syarh al-Bukhari, Kairo, Dar al Raiyan, 1988.

Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, Ujung Panang,Dian Rakyat, 1985.

Musaid al Thayyar, Fushul fi Ushul al Tafsir, Riyadl, Dar al Nasyr al Duwaliy, 1993.

Departemen Agama RI, Mukaddimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jakarta, Departemen


Agama RI, 2008.

Husain Al-Dzahabi. At-Tafsir al-Mufassirun, Maktabah Mush’ab bin ‘Umar al-


Islamiyah, 2004.

Teungku Muhammad Hasbi Ash-shiddiqie. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an


dan Tafsir, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009.

Ahmad bin Hanbal, Musnad al Imam Ahmad, Beirut, Muassasah al Risalah, 1421.

Dahlan, Abdul Aziz, Eksiklopedi Hukum Islam, Jakarta, PT intermasa, 2006.

Andi Miswar, Perkembangan Tafsir al Qruan dalam masa Sahabat, Jurnal Rihlah vol.
5, no.2, 2016

Abdul Aziz Humaidi, Tafsir Ibn Abbas ma Mawrwiyyatuh fi al Tafsir, Saudi, Dar al
Turats al Islamiy, Tt.