Anda di halaman 1dari 52

UNIVERSITAS INDONESIA

HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN KEJADIAN KARIES PADA


ANAK GEMUK USIA 3-5 TAHUN

TESIS

INDIRA CHAIRULINA DARA


0806390433

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK
JAKARTA
2012

Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012


UNIVERSITAS INDONESIA

HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN KEJADIAN KARIES PADA


ANAK GEMUK USIA 3-5 TAHUN

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Spesialis dalam Ilmu
Kedokteran Gigi Anak

INDIRA CHAIRULINA DARA


0806390433

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK
JAKARTA
2012

i
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
ii
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
iii
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat,
hidayah dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Penelitian dan penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu
syarat untuk mendapatkan gelar Spesialis dalam bidang Ilmu Kedokteran Gigi
Anak di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.
Selama masa pendidikan, penelitian, dan penulisan tesis ini, penulis tidak
lepas dari bantuan, bimbingan, arahan, koreksi, nasihat serta dukungan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Keluarga tercinta, Papa dan Mama tersayang, dr. Chairulsjah
Sjahruddin, SpOG, MARS dan drg. Sjenni Dahlan, terima kasih sudah
memberikan semangat, dukungan materi maupun non materi, dan doa
yang tiada henti. Kepada suami tercinta, Dody Cahyadi, ST,MT terima
kasih atas kesabaran, bantuan, dukungan, dan pengertiannya. Kepada
semua oom, tante, saudara, terima kasih atas dukungan dan
bantuannya.
2. Dr. Sarworini B. Budiardjo, drg, SpKGA(K), sebagai pembimbing
pertama tesis. Terima kasih atas bimbingannya dalam penelitian dan
penulisan tesis serta selama masa pendidikan.
3. drg. Hendrarlin Soenawan, SpKGA(K), sebagai pembimbing kedua
tesis, Penasihat Akademik, serta Koordinator Pendidikan Spesialis
IKGA FKG UI yang dengan sabarnya memberikan bimbingan,
motivasi dan dorongan kepada penulis hingga dapat menyelesaikan
tesis ini.
4. drg. Ike Siti Indiarti, PhD, SpKGA(K), selaku Ketua Departemen
IKGA FKG UI, yang telah mendukung dalam pembuatan tesis.
5. Prof. Heriandi Sutadi, drg, SpKGA(K), PhD, yang telah memberikan
asupan pemikiran, mendukung serta memberi dorongan semangat dan
nasihat selama pembuatan tesis dan selama masa pendidikan.

iv
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
6. Seluruh staf pengajar IKGA FKG UI: Prof. Retno Hayati, drg,
SpKGA(K), Prof. Dr. Margaretha Suharsini, drg, SpKGA(K), Dr. M.
Fahlevi Rizal, drg, SpKGA(K), drg. Eva Fauziah, SpKGA, serta drg.
Nieka Adhara, SpKGA, atas bimbingan dan pengajaran selama penulis
menjadi PPDGS IKGA FKG UI.
7. Kepala Sekolah serta guru-guru TK Sejahtera VI Bekasi yang telah
memberikan ijin dan membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.
Terima kasih banyak kepada orang tua murid yang telah memberikan
ijin serta anak-anak yang bersedia menjadi subjek penelitian dan
sangat kooperatif.
8. Teman-teman seangkatan, mbak Femmy, terima kasih atas bantuannya
dalam penelitian ini, Helsa, Henny, mbak Nila, mbak Lina, Liana, cici
Vera, serta rekan- rekan PPDGS IKGA, terima kasih atas
kebersamaan, bantuan dan dukungannya.
9. Mbak Tuti, Mas Adde, Mas Sule dan Bu Nah yang sudah sangat
membantu selama ini. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada
seluruh staf Perpustakaan FKG UI Pak Asep, Pak Yanto, dan Pak
Enoh yang telah banyak membantu penulis dalam pengadaan referensi.
10. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhir kata penulis ingin menyampaikan maaf yang sebesar- besarnya
bila ada kesalahan dan kekurangan pada penulisan ini. Semoga penelitian
ini dapat memberikan maanfaat baik di dunia Kedokteran Gigi maupun di
masyarakat luas.
Jakarta, 6 Juli 2012

Penulis

v
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
vi
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
ABSTRAK

Nama : Indira Chairulina Dara


Program Studi : Spesialisasi Ilmu Kedokteran Gigi Anak
Judul : Hubungan Gaya Hidup dan Kejadian Karies pada Anak Gemuk
Usia 3-5 Tahun.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan kejadian
karies pada anak gemuk usia 3-5 tahun. Subjek penelitian adalah anak usia 3-5
tahun sebanyak 34 anak yang terdiri dari 17 anak gemuk dan 17 anak normal.
Disain penelitian adalah deskriptif analitik potong lintang. Pengambilan data
dilakukan dengan pengisian kuesioner. Pemeriksaan klinis untuk memperoleh data
kejadian karies dilakukan dengan kriteria def-t. Hasil penelitian memperlihatkan
adanya hubungan tidak bermakna (p>0,05) antara gaya hidup (pola makan
selingan dan aktivitas fisik) dengan kejadian karies. Dari hasil penelitian ini dapat
disimpulkan adanya hubungan tidak bermakna antara gaya hidup dan kejadian
karies pada anak gemuk.

Kata kunci: anak gemuk, gaya hidup, kejadian karies

ABSTRACT

Name : Indira Chairulina Dara


Study Program : Pediatric Dentistry
Title : The Relationship Between Lifestyle and Caries Incidence in
Overweight Children Age 3-5 Years Old

The purpose of this study was to determine the relationship between lifestyle and
caries incidence in overweight children age 3-5 years old. The subject of this
study were children age 3-5 years old, as many as 34 children consisting of 17
overweight children and 17 normal weight children. Design of this study was a
cross sectioned experiment. Input data was done with questionare. Clinical
examination with the def-t index was used to measure caries incidence. The result
showed no significant result (p>0,05) between lifestyle (in-between meal and
physical activities) and caries incidence. In conclusion, there is no significant
association between lifestyle and caries incidence in overweight children.

Keywords : overweight children, lifestyle, caries incidence

vii Universitas Indonesia


Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI vi
ABSTRAK vii
ABSTRACT vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR LAMPIRAN xii

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang 1
1.2. Pertanyaan Penelitian 2
1.3. Tujuan Penelitian 2
1.4. Manfaat Penelitian 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Gaya Hidup 4
2.2. Kegemukan dan Cara Mengukurnya 6
2.3. Karies Gigi 10
2.4. Kerangka Teori 13

BAB 3. METODE PENELITIAN


3.1. Kerangka Konsep 14
3.2. Hipotesis 14
3.3. Variabel Penelitian 14
3.4. Definisi Operasional 14
3.5. Desain Penelitian 17
3.6. Subyek Penelitian 17
3.7. Kriteria Subyek 17
3.8. Lokasi dan Waktu Penelitian 17
3.9. Besar Sampel 18
3.10. Alur dan Tata Laksana Penelitian 19
3.11. Bahan, Alat dan Cara Penelitian
3.11.1. Bahan 20
3.11.2. Alat 20
3.11.3. Cara Kerja 20
3.12. Analisis Data 21

BAB 4. PEMBAHASAN
4.1. Hasil 22
4.2. Pembahasan 26

viii Universitas Indonesia


Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 30
5.2. Saran 30

DAFTAR REFERENSI 31
LAMPIRAN

ix Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Status Kategori Indeks Massa Tubuh 9


Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel Penelitian 14
Tabel 4.1. Data sebaran subjek penelitian berdasarkan usia 22
Tabel 4.2. Data sebaran subjek penelitian berdasarkan
jenis kelamin serta hubungannya dengan status berat badan 23
Tabel 4.3. Hubungan antara frekuensi makanan selingan,
waktu makanan selingan, aktivitas fisik, kegiatan waktu
luang dengan kejadian karies pada anak gemuk 23
Tabel 4.4. Hubungan antara frekuensi makanan selingan,
waktu makanan selingan, aktivitas fisik, kegiatan waktu
luang dengan kejadian karies pada anak normal 24
Tabel 4.5. Hubungan antara gaya hidup dan kejadian karies
pada anak gemuk dan normal 25

x Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Grafik Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan usia


menurut jenis kelamin untuk usia 2-20 tahun 8
Gambar 2.2. Grafik pertumbuhan KMS anak perempuan (a)
dan laki-laki (b) usia 2-5 tahun 10
Gambar 2.3. Faktor-faktor Resiko Karies 11

xi Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan Lolos Etik


Lampiran 2. Informed Consent
Lampiran 3. Surat Pernyataan Kesediaan Pemeriksaan
Lampiran 4. Lembar Pemeriksaan Gigi
Lampiran 5. Lembar Kuesioner
Lampiran 6. Data Kasar Hasil Penelitian

xii Universitas Indonesia


Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Gaya hidup adalah cara hidup berdasarkan pola perilaku yang dipengaruhi
oleh karakter individual, interaksi sosial, sosial ekonomi dan kondisi lingkungan.
Gaya hidup individu dengan karakteristik pola perilaku tertentu dapat
1
mempengaruhi kesehatan. Gaya hidup sehat adalah segala upaya untuk
menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan
menghindari kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Departemen
Kesehatan menetapkan indikator gaya hidup yaitu kebiasaan merokok/tidak, pola
2
makan, dan aktivitas fisik. Gaya hidup sehat dengan pola makan sehat dan
aktivitas fisik yang cukup dapat mencegah terjadinya kelebihan berat badan dan
diabetes pada anak, selain juga baik untuk perkembangan otot dan tulang,
termasuk kesehatan gigi. 3
Di Indonesia, terutama di kota besar, dengan adanya perubahan gaya hidup
yang menjurus ke Westernisasi dan Sedentary, berakibat pada perubahan pola
makan masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, lemak dan
kolesterol, banyaknya waktu untuk menonton televisi & bermain games, dan
kurangnya aktivitas fisik. 4 Hal tersebut merupakan kebiasaan buruk yang dapat
mengganggu kesehatan, yang menunjukkan gaya hidup tidak sehat. Anak-anak
yang secara fisik tidak aktif dan menghabiskan waktunya dengan menonton
televisi dalam waktu yang lama lebih sering mengkonsumsi minuman manis dan
makanan kecil yang tinggi kadar gula, sehingga dapat meningkatkan resiko karies
dan kegemukan. 5, 6
Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi yang paling umum terjadi
pada anak-anak. Karies dini yang terjadi pada gigi sulung dapat mempengaruhi
kesehatan gigi dan kesehatan umum, serta kualitas hidup anak. 7 Sebuah penelitian
mengatakan anak gemuk usia 2-5 tahun memiliki resiko yang lebih tinggi
mengalami karies pada gigi sulung dibandingkan dengan anak normal. 8
Kelebihan berat badan atau kegemukan telah menjadi masalah kesehatan
diseluruh dunia, bahkan WHO menyatakan bahwa kegemukan merupakan suatu

1
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Universitas Indonesia
Dara, FKGUI, 2012
2

epidemi global, sehingga termasuk dalam masalah kesehatan yang harus segera
ditangani. 4 Kegemukan pada masa anak-anak atau remaja dapat berlanjut hingga
dewasa dan lebih berbahaya dibandingkan yang terjadi pada usia menengah dan
dewasa. 4, 9 Prevalensi anak dengan kelebihan berat badan meningkat dari tahun ke
tahun, baik di negara maju maupun di negara berkembang. 10 Berdasarkan Survei
Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), pada tahun 2000 di Indonesia
diperkirakan 76,7 juta penduduk (17,5%) mengalami kegemukan dan 9,8 juta
penduduk (4,7%) mengalami obesitas. 4
Karies gigi dan kegemukan memiliki dampak negatif pada kualitas hidup
anak dan dapat menetap hingga dewasa. Kedua masalah kesehatan ini berkaitan
dengan faktor gaya hidup seperti pola makan tidak sehat dan kurangnya aktifitas
6
fisik anak. Dengan mengetahui resiko kegemukan pada anak di awal
kehidupannya, maka kita dapat memberikan pelayanan kesehatan dan kesempatan
kepada orang tua untuk mengintervensi kegemukan dan karies. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui hubungan gaya hidup anak yaitu pola makan dan
aktivitas fisiknya dengan kejadian karies pada anak gemuk usia 3-5 tahun.

1.2 Pertanyaan penelitian


Bagaimanakah hubungan gaya hidup dan kejadian karies pada anak gemuk
usia 3-5 tahun ?

1.3 Tujuan penelitian


Mengetahui hubungan gaya hidup dan kejadian karies pada anak gemuk usia
3-5 tahun.

1.4 Manfaat penelitian


1.4.1 Manfaat untuk ilmu pengetahuan
Memberikan informasi di bidang Ilmu Kedokteran Gigi Anak mengenai
gaya hidup yang meliputi pola makan dan aktivitas fisik dengan kejadian
karies pada anak gemuk usia 3-5 tahun.

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
3

1.4.2 Manfaat secara klinis


Mengetahui hubungan gaya hidup dan kejadian karies pada anak gemuk
sehingga dapat dilakukan upaya peningkatan pelayanan kesehatan gigi.

1.4.3 Manfaat untuk masyarakat


Memberi informasi dan meningkatkan kesadaran orang tua mengenai gaya
hidup anak gemuk untuk mengurangi resiko kejadian karies.

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gaya hidup


Menurut Badan Promotion Glossary WHO tahun 1998, gaya hidup adalah
cara hidup berdasarkan pola perilaku yang dipengaruhi oleh karakter individual,
interaksi sosial, sosial ekonomi dan kondisi lingkungan. Gaya hidup individu
dengan karakteristik pola perilaku tertentu dapat mempengaruhi kesehatan. 1 Gaya
hidup sehat adalah segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam
menciptakan hidup yang sehat dan menghindari kebiasaan buruk yang dapat
mengganggu kesehatan. Terdapat beberapa indikator gaya hidup skala Nasional
yang ditetapkan oleh Depkes, yaitu kebiasaan merokok/tidak, pola makan, dan
aktivitas fisik. 2
Kebiasaan makan anak sangat tergantung pada kebiasaan makan keluarga
di rumah. Pola makan yang diajarkan kepada anak pada tahun-tahun pertama
kehidupannya berpengaruh terhadap kebiasaan makan anak pada tahun berikutnya
serta tumbuh kembang mereka. Makanan utama biasanya diberikan tiga kali
sehari, yaitu makan pagi, siang, dan malam, sedangkan makanan selingan dapat
diberikan 2-3 kali sehari. Penelitian telah menunjukkan bahwa makan bersama
keluarga sangat penting dalam pembentukan kebiasaan positif anak, konsumsi
nutrien, dan berat badan. Makanan selingan sebaiknya berupa buah-buahan dan
sayuran. Pada anak usia 3-5 tahun selera makan dan ketertarikannya terhadap
makanan meningkat, sering meminta makanan favorit, ingin membantu
menyiapkan makanan. Anak usia ini juga mulai terpengaruh oleh iklan di televisi,
keluarga, dan teman. 3
Dalam beberapa tahun ini, terdapat perubahan gaya hidup dengan adanya
perkembangan ekonomi. Perubahan ini memiliki pengaruh terhadap kesehatan
dan status nutrisi populasi. Standar kehidupan meningkat, ketersediaan makanan
meningkat dan menjadi lebih bervariasi, dan secara umum, akses ke pelayanan
kesehatan juga meningkat. Namun, ada juga pengaruh negatif dari perubahan ini,
yaitu kebiasaan makan/diet yang tidak baik dan berkurangnya aktivitas fisik. Gaya
hidup yang sering dijumpai didaerah perkotaan misalnya pola makan / konsumsi

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira 4Chairulina Dara, FKGUI, 2012
5

masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, tinggi lemak dan
kolesterol, menonton televisi & bermain games, dan kurangnya aktivitas fisik.
Gaya hidup tersebut berdampak meningkatkan resiko terjadinya kegemukan. 4, 5, 6
Jus buah merupakan sumber yang bagus untuk nutrisi, namun bila terlalu
banyak dikonsumsi juga dapat menyebabkan konsumsi kalori yang berlebihan,
sehingga mengurangi keinginan untuk makan makanan yang lebih bernutrisi dan
dapat menyebabkan karies dini pada anak. Minuman buah dan berbagai minuman
manis memiliki sumber gula yang tinggi, yang berpotensi kariogenik. Konsumsi
minuman ringan berhubungan dengan meningkatnya kalori, berat badan, dan
karies gigi. Beberapa penelitian menunjukkan anak yang sering konsumsi
minuman ringan memiliki kalori 10% lebih banyak dan berpotensi menjadi
kegemukan. Selain mengandung gula, minuman ringan dan jus juga mengandung
asam, seperti asam fosfat dan sitrat, yang dapat mengakibatkan demineralisasi
email bila sering dikonsumsi. 11
Masa kanak-kanak merupakan waktu ideal untuk beraktivitas aktif. Pada
saat inilah mereka menikmati belajar untuk berlari, melompat, memanjat, dan
bermain bola. Anak pra-sekolah membutuhkan setidaknya 60 menit aktivitas fisik
terstruktur dan 60 menit hingga beberapa jam aktivitas fisik tidak terstruktur.
Aktivitas fisik terstruktur adalah permainan dan aktivitas yang diajarkan oleh
orangtua maupun dilakukan bersama orangtua dan anak. Berjalan, berenang,
mengendarai sepeda, senam merupakan aktivitas fisik terstruktur. Sedangkan
aktivitas fisik tidak terstruktur atau bermain aktif yaitu kegiatan yang dilakukan
anak sendiri atau dengan anak-anak lain. Kegiatan ini dilakukan oleh anak tanpa
bantuan langsung dari orangtua. 3
Aktivitas fisik merupakan komponen utama dari pengeluaran energi, yaitu
sekitar 20-50% dari total pengeluaran energi. Anak-anak saat ini cenderung
mengalami penurunan aktivitas karena anak-anak lebih menyukai aktivitas dengan
duduk diam didepan televisi atau komputer dibandingkan melakukan olahraga
secara rutin dan berkesinambungan. Sehingga ketidakseimbangan antara asupan
dan pengeluaran energi tersebut berkontribusi terhadap timbulnya kegemukan
12
pada anak. Meningkatnya waktu menonton televisi mengakibatkan
berkurangnya konsumsi buah dan sayuran, anak lebih banyak mengkonsumsi

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
6

makanan ringan, yang berakibat meningkatnya konsumsi kalori. Resiko karies


juga meningkat karena meningkatnya frekuensi makan dan meningkatnya waktu
makanan berkontak dengan gigi. 11
Pemasaran makanan yang mengarah pada anak berkembang pesat.
Mayoritas makanan yang dipasarkan adalah makanan yang nilai nutrisinya rendah
dan tinggi kalori lemak dan/atau gula. Penelitian menunjukkan anak yang
menonton televisi secara signifikan meningkat konsumsi makanannya setelah
melihat iklan makanan dan keinginan untuk makan makanan manis meningkat
setelah melihat iklan di televisi. 11
Gaya hidup anak dengan pola makan anak yang tinggi kalori, tinggi lemak
dan kolesterol, seringnya menghabiskan waktu dengan menonton televisi &
bermain games, serta kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan kegemukan.
Makanan/minuman manis yang sering dikonsumsi anak berpotensi kariogenik
yang mengakibatkan karies gigi. Anak-anak yang secara fisik tidak aktif dan
menghabiskan waktunya dengan menonton televisi dalam waktu yang lama lebih
sering mengkonsumsi minuman manis dan makanan kecil yang tinggi kadar gula
dan lemak, sehingga dapat meningkatkan resiko karies dan kegemukan. 5, 6

2.2. Kegemukan dan Cara Mengukurnya


Kegemukan adalah suatu kelainan atau penyakit yang ditandai oleh
penimbunan jaringan lemak dalam tubuh secara berlebihan. 13 Ketidakseimbangan
antara makanan yang dimakan dengan energi yang dikeluarkan mengakibatkan
terjadinya kegemukan. Menurut The Report of the Surgeon General, obesitas
disebabkan oleh ketidakseimbangan energi karena memakan terlalu banyak kalori
9
dan jarang berolahraga. Istilah kegemukan diartikan sebagai kondisi kelebihan
berat badan melebihi berat badan normal, sedangkan obesitas adalah kondisi
kelebihan berat badan akibat tertimbunnya lemak yang berlebihan. Kelebihan
energi tersebut dapat disebabkan oleh asupan energi yang tinggi atau keluaran
yang rendah. Asupan energi didapatkan dari konsumsi makanan yang berlebihan,
sedangkan keluaran energi rendah dikarenakan rendahnya metabolisme tubuh,
kurangnya aktivitas fisik, dan efek termogenesis makanan. 14

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
7

Menurut Dietz terdapat 3 periode kritis dalam masa tumbuh kembang anak
dalam kaitannya dengan terjadinya obesitas, yaitu: periode pranatal, terutama
trimester 3 kehamilan, periode adiposity rebound pada usia 6 – 7 tahun dan
periode adolescence. Pada bayi dan anak yang obesitas, sekitar 26,5% akan tetap
obesitas untuk 2 dekade berikutnya dan 80% remaja yang obesitas akan menjadi
dewasa yang obesitas. Menurut Taitz, 50% remaja yang obesitas sudah
mengalami obesitas sejak bayi. Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa
obesitas pada usia 1-2 tahun dengan orang tua normal, sekitar 8% menjadi
obesitas dewasa, sedang obesitas pada usia 10-14 tahun dengan salah satu orang
tuanya obesitas, 79% akan menjadi obesitas dewasa. 4
Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan, prevalensi kegemukan balita
Indonesia mencapai 14%. Survei serupa tahun 2007 menunjukkan, prevalensi
balita gemuk 12,2 %. Prevalensi kegemukan tertinggi ditemukan di Jakarta, yaitu
19,6 %. Namun, penelitian oleh Unit Riset Kedokteran FKUI di empat taman
kanak-kanak dan pendidikan anak usia dini di Jakarta tahun 2011 menunjukkan,
prevalensi kegemukan anak usia 3-6 tahun lebih dari 20 %. Jumlah ini
diperkirakan meningkat dua kali lipat saat balita mencapai usia remaja. 15
Kegemukan merupakan suatu penyakit multifaktorial yang sebagian besar
disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, antara lain
gaya hidup, sosial ekonomi dan nutrisional. Faktor genetik yang mempunyai
peranan kuat adalah parental fatness yaitu anak yang gemuk biasanya berasal dari
orang tua yang gemuk. Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa anak-
anak dari orang tua normal mempunyai peluang 10% menjadi kegemukan.
Peluang tersebut akan meningkat menjadi 40-50% bila salah satu orangtuanya
mengalami kegemukan dan akan meningkat 70-80% bila kedua orangtua
kegemukan. 4
Kegemukan pada masa kanak-kanak disebabkan karena perilaku
makan yang tidak sehat dan kurangnya anak melakukan aktivitas fisik.
Menjamurnya iklan makanan pada media elektronik dan media cetak membuat
anak cenderung konsumtif. 14
Terdapat berbagai metode untuk menilai tingkat kegemukan pada anak
secara efektif. Selain itu, kesederhanaan dalam pengukuran, biaya, kemudahan
penggunaan dan penerimaan subjek juga perlu diperhatikan. Pengukuran secara

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
8

antropometri merupakan pengukuran yang paling umum digunakan dalam


menentukan kegemukan pada anak. 14
Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu cara untuk mendeteksi
masalah berat badan. The Center for Disease Control and Prevention (CDC)
mengembangkan grafik pertumbuhan yang menunjukkan IMT berdasarkan umur
dan jenis kelamin untuk anak dan remaja usia 2-20 tahun. Perhitungan dimulai
dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan anak, kemudian IMT dihitung
dengan cara:

Setelah IMT dihitung hasil yang didapat dimasukkan ke dalam grafik IMT
sesuai dengan usia dan jenis kelamin berdasarkan persentil. Persentil
mengindikasikan posisi angka IMT seorang anak pada usia dan jenis kelamin
yang sama. Grafik pertumbuhan tersebut menunjukkan kategori status yang
digunakan pada anak dan remaja (Gambar 2.1). IMT kurang dari 5 persentil
termasuk dalam kategori kurus, IMT antara 5 – 85 persentil termasuk normal,
IMT 85-95 persentil kategori gemuk, dan IMT lebih dari 95 persentil termasuk
obesitas. Status kategori Indeks Massa Tubuh dapat dilihat pada Tabel 2.1. 14

Gambar 2.1. Grafik Indeks Massa Tubuh (IMT) berdasarkan usia menurut jenis kelamin untuk usia
2-20 tahun. 14

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
9

Tabel 2.1. Status Kategori Indeks Massa Tubuh

Kategori status berat badan Angka persentil


Kurus Kurang dari 5 persentil
Normal 5 – 85 persentil
Gemuk 85-95 persentil
Obesitas Lebih dari 95 persentil

Di Indonesia, untuk memantau pertumbuhan anak digunakan Kartu


Menuju Sehat (KMS). KMS adalah kartu yang memuat grafik pertumbuhan
normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut usia yang
bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balita setiap bulan
dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun. Dengan KMS gangguan pertumbuhan atau
risiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan
pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat. Grafik
pertumbuhan KMS dibuat berdasarkan baku WHO – NCHS yang disesuaikan
dengan situasi Indonesia. KMS yang digunakan di Puskesmas saat ini sesuai
dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.155/Menkes/Per/I/2010, yaitu KMS
yang dibedakan antara KMS anak laki-laki dengan KMS anak perempuan. KMS
untuk anak laki-laki berwarna dasar biru, sedangkan KMS anak perempuan
berwarna dasar merah muda. 16
Grafik pertumbuhan yang optimal adalah apabila dari pencatatan setiap
bulan diperoleh berat badan yang terus meningkat dan tetap berada dalam zona
hijau. Zona kuning menandakan orang tua harus waspada dengan pertumbuhan
balitanya. Zona kuning yang di bawah menunjukkan berat badan anak kurang dari
berat badan rata-rata anak seusianya. Sedangkan zona kuning yang di atas
menunjukkan berat badan anak lebih dari berat badan rata-rata anak seusianya
(Gambar 2.2). 16

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
10

(a) (b)
Gambar 2.2 Grafik pertumbuhan KMS anak perempuan (a) dan laki-laki (b) usia 2-5 tahun. 16

2.3. Karies Gigi


Karies adalah kerusakan lokal pada jaringan gigi yang disebabkan oleh
fermentasi karbohidrat oleh bakteri. Karies merupakan suatu proses patologis
kronis yang terjadi pada permukaan gigi karena kehilangan mineral secara terus
menerus pada permukaan email, dentin maupun sementum yang diakibatkan oleh
hasil produk metabolisme bakteri. Karies merupakan penyakit multifaktorial yang
terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu host,
mikroorganisme, substrat diet terutama karbohidrat yang difermentasi dan waktu.
Selain itu juga ada faktor-faktor eksternal, yaitu usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, tingkat ekonomi, lingkungan, sikap dan perilaku kesehatan gigi,
seperti yang terlihat pada Gambar 2.3. 17, 18

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
11

Gambar 2.3. Faktor-faktor Resiko Karies.18

Salah satu faktor terjadinya karies adalah host yang terdiri dari aliran
saliva, cairan sulkus gigi dan kandungan fluor. Gigi geligi dalam keadaan normal
selalu dibasahi saliva dan hal tersebut penting untuk integritas gigi. Saliva
memiliki faktor antibakterial, kapasitas dapar dan antibodi. Kapasitas dapar
membantu menjaga pH plak agar tetap konstan sehingga dapat menetralkan
lingkungan yang asam pada permukaan gigi. Saliva juga mampu membantu
remineralisasi karies yang masih dini karena banyak mengandung ion kalsium dan
sulfat. Kemampuan saliva akan meningkat dalam melakukan mineralisasi jika
19
terdapat ion fluor. Kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral
selama berlangsungnya proses karies menandakan bahwa proses karies tersebut
terdiri atas periode pengrusakan dan perbaikan secara silih berganti. Karies tidak
akan menghancurkan struktur gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan
dalam bulan atau tahun. 20
Streptococcus Mutans merupakan bakteri yang paling berperan dalam
terjadinya karies. S. mutans bersifat fakultatif anaerob karena dapat tetap tumbuh
dengan ataupun tanpa adanya oksigen. Pada keadaan anaerob dengan kadar 5%
CO2 S. mutans mengalami pertumbuhan yang optimal. S. mutans membuat enzim
glucosyltransferase (GTF) yang dapat menghasilkan sejumlah polisakarida

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
12

ekstraseluler dari sukrosa. Enzim glikosidhidrolase memecah gula dari


glikoprotein yang larut ketika makan. 21, 22
Faktor substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena
membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada
permukaan email. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam
plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi
asam serta bahan lain yang aktif yang menyebabkan timbulnya karies.
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi bakteri mulut dan secara
langsung terlibat dalam penurunan pH. Dibutuhkan waktu tertentu bagi plak dan
karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu
mengakibatkan demineralisasi email. Walaupun demikian, tidak semua
karbohidrat sama derajat kariogeniknya. Karbohidrat yang kompleks misalnya
pati (polisakarida) relatif tidak berbahaya karena tidak dicerna secara sempurna di
dalam mulut, sedangkan karbohidrat dengan berat molekul yang rendah seperti
gula akan meresap ke dalam plak dan dimetabolisme dengan cepat oleh bakteri,
sehingga makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH
plak dengan cepat sampai level yang menyebabkan demineralisasi email.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang banyak mengkonsumsi
karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan pada gigi,
sebaliknya pada orang dengan diet yang banyak mengandung lemak dan protein
hanya sedikit atau sama sekali tidak mempunyai karies gigi. 23
Perubahan gaya hidup sekarang ini menyebabkan anak makan lebih
banyak kalori daripada yang mereka butuhkan. Anak tersebut mengkonsumsi
makanan berkalori tinggi dan memiliki kebiasaan jajan setiap hari. Makanan
24
berkalori tinggi memiliki banyak kandungan karbohidrat dan rendah serat.
Makanan yang sering dipilih dan dikonsumsi anak pada umumnya adalah yang
mengandung karbohidrat olahan yang bersifat melekat pada gigi serta larut
didalam mulut secara perlahan-lahan. Seperti diketahui jenis makanan tersebut
dapat menyebabkan karies gigi pada anak. Makanan yang manis dan lengket
tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan plak, karena aksinya dalam memasok
energi tambahan bagi mikroorganisme plak. 25

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
13

2.4. Kerangka Teori

- Karakter individu Gaya hidup


- Interaksi sosial sehat
- Sosial ekonomi
- Lingkungan ?
Gaya hidup Kejadian
Anak gemuk
tidak sehat karies

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
14

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

Gaya hidup anak gemuk Karies

3.2 Hipotesis
Terdapat hubungan antara gaya hidup anak gemuk usia 3-5 tahun dan
kejadian karies.

3.3 Variabel Penelitian


Variabel : - Gaya hidup anak gemuk
- Karies

3.4 Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian


Variabel Definisi Skala

Gaya hidup anak Gaya hidup anak berdasarkan indikator Skala kategorik
gemuk yang ditetapkan oleh Depkes, yaitu pola
makan dan aktivitas fisik.
 Pola makan anak gemuk :
kebiasaan makan yang dilakukan secara
berulang setiap hari, meliputi makanan
utama dan makanan selingan. Pola makan
yang diteliti adalah frekuensi dan waktu
makan makanan selingan.
Frekuensi makan selingan : berapa kali
dalam sehari anak makan makanan
selingan
- Skor 1 : > 3x makanan selingan/hari
- skor 2 : 0-3x makanan selingan/hari

Waktu makan selingan :


- Skor 1 : tidak teratur yaitu waktu makan
yang dapat dilakukan kapan saja dalam
satu hari.

14 Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
15

- Skor 2: teratur yaitu waktu makan yang


dilakukan sebelum atau sesudah makanan
utama dalam satu hari.

 Aktivitas fisik anak gemuk :


melakukan kegiatan fisik yang
mengeluarkan energi (berenang,
mengendarai sepeda, senam, dll) kurang
dari 1 jam/hari, dan menghabiskan
waktunya dengan kegiatan yang tidak
mengeluarkan energi (menonton televisi
lebih dari 2 jam/hari), lebih sering
mengkonsumsi minuman manis dan
makanan kecil yang tinggi kadar gula dan
lemak, sehingga dapat meningkatkan
resiko karies dan kegemukan. 5, 6
Aktivitas fisik :
Skor 1 : beraktivitas < 1 jam/hari
Skor 2 : beraktivitas 1 jam/lebih /hari

waktu luang yang dihabiskan untuk


menonton tv/komputer :
- Skor 1 : > 2 jam /hari
-Skor 2 : 0- 2 jam /hari

Karies pengalaman karies dalam rongga mulut Skala kategorik


yang ditentukan berdasarkan kriteria
indeks def-t yakni d adalah gigi sulung
yang mengalami karies, e adalah gigi
sulung hilang karena karies, dan f adalah
gigi sulung setelah penambalan. Seluruh
gigi yang ada diperiksa dengan
menggunakan sonde dan kaca mulut. 26

 Mahkota sehat
Mahkota dikatakan sehat bila tidak
ada bukti pernah diobati atau karies
yang telah dirawat atau tidak dirawat.
Kriteria mahkota :
- bercak putih (white spot)
- perubahan warna akibat trauma
- pit dan fisura pada email yang
berwarna kecoklatan tetapi tidak ada
dasar yang lunak dan pada
pemeriksaan menggunakan sonde

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
16

tidak menyangkut
 d (decay) : karies pada mahkota
- Karies pada permukaan pit dan
fissure atau pada permukaan licin
gigi, mempunyai lubang yang jelas,
menyangkut pada pemeriksaan sonde
atau terdeteksi dinding atau lantai
yang lunak. Gigi dengan tambalan
sementara.
- Tambalan dengan lubang pada
mahkota. Dicatat sebagai tambalan
bila ada satu atau lebih tambalan
permanen dan terdapat satu atau lebih
area yang berlubang. Tidak ada
perbedaan antara primer dan
sekunder karies.
 e (extracted) : hilang karena karies
Gigi yang telah dicabut karena karies
dan dicatat sebagai status koronal.
Untuk gigi sulung yang hilang,
kejadian ini hanya digunakan bila
terjadi kehilangan gigi bukan karena
normal eksfoliasi.
 f (filling) : Tambalan tanpa lubang di
mahkota
Bila dijumpai satu atau lebih
tambalan permanen tetapi tidak
dijumpai karies pada mahkota.
Perhitungan def-t dilakukan dengan
menjumlahkan seluruh komponen d,e
dan f.
kejadian karies :
Skor 1 : def-t >5
Skor 2 : def-t 0-5

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
17

3.5 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan metode


potong lintang.

3.6 Subyek Penelitian


Subyek penelitian adalah anak laki-laki dan perempuan usia 3-5 tahun di TK
Sejahtera VI, Bekasi dan dipilih sesuai dengan kriteria subyek.

3.7 Kriteria Subyek


Kriteria inklusi subyek :
1. Anak usia 3-5 tahun dengan periode gigi sulung lengkap.
2. Anak dengan berat badan yang berada pada zona kuning atas grafik
pertumbuhan KMS untuk anak gemuk
3. Anak dengan berat badan yang berada pada zona hijau grafik
pertumbuhan KMS untuk anak normal
4. Anak tanpa penyakit sistemik dan tidak mengkomsumsi obat-obatan.

Kriteria eksklusi :
1. Anak memiliki gangguan tumbuh kembang gigi berupa anomali
jumlah dan bentuk gigi sulung.

3.8 Lokasi dan Waktu


Lokasi penelitian dilakukan di TK Islam Sejahtera VI, Bekasi
Waktu penelitian : Bulan Juni 2012

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
18

3.9 Besar sampel


Pemilihan sampel dilakukan secara konsekutif, yaitu semua subyek yang
datang dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian.
2
n=2 S (Zα + Zβ)
X1-X2
n : besar sampel
Zα : Kesalahan tipe I. Tingkat kemaknaan ditetapkan = 0,05
Sehingga Zα = 1,96
Zβ : Kesalahan tipe II = 1,28
S : simpang baku gabungan = 0,9
X1-X2 : selisih minimal rerata yang dianggap bermakna = 1

2
n1 = n2 = 2 0,9 (1,96 + 1,28)
X1-X2

n = 17,006, dibulatkan menjadi 17.


Jadi besar sampel penelitian untuk masing-masing kelompok adalah 17
anak, dan besar sampel keseluruhan adalah 34 anak.

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
19

3.10 Alur dan Tata Laksana Penelitian

Ethical clearance
Komisi Etik FKG-UI

Izin Kepala Sekolah

Menentukan subjek penelitian

Informed consent

Pengambilan data:
- pengukuran berat badan dan tinggi badan
- pengisian kuesioner
- pemeriksaan kejadian karies

Analisis data

Laporan hasil penelitian

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
20

3.11 Bahan, Alat, dan Cara Penelitian


3.11.1 Bahan :
 Bahan disinfektan
3.11.2 Alat :
 timbangan injak atau “bathroom scale”
 alat ukur tinggi badan microtoise
 kaca mulut
 pinset
 sonde
 ekskavator
 kuesioner
 sarung tangan
 masker

3.11.3 Cara Kerja :


1. Penelitian dilakukan setelah proposal penelitian mendapat izin
persetujuan dari komisi etik FKG UI dan ijin dari kepala sekolah TK
atau playgroup yang terpilih.
2. Informasi mengenai penelitian yang akan dilakukan diberikan kepada
orang tua anak, beserta lembar informed consent.
3. Memberikan lembaran kuesioner pada orang tua yang mengijinkan
anaknya menjadi subyek penelitian. Setelah itu pemeriksaan klinis
dilakukan. Namun bila anak menolak untuk dilakukan pemeriksaan
klinis setelah dilakukan pendekatan, maka pemeriksaan klinis tidak
akan dilakukan.
4. Pemeriksaan klinis berupa pemeriksaan pengukuran berat badan, tinggi
badan dan pemeriksaan karies.
5. Penimbangan berat badan menggunakan timbangan injak atau
“bathroom scale” dan pengukuran tinggi badan mengunakan alat ukur
tinggi badan microtoise. Pada saat ditimbang dan diukur tinggi badan
anak tidak menggunakan alas kaki, jaket dan topi (pakaian minimal).

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
21

6. Cara mengukur tinggi badan pertama menempelkan microtoise pada


dinding lurus, anak berdiri tegak menghadap kedepan dengan tumit
menempel ke dinding, kemudian tentukan tinggi badan anak dengan
cara menurunkan microtoise tepat diatas kepala anak. Dinding dan
lantai yang digunakan untuk mengukur harus rata.
7. Pemeriksaan karies anak dengan menggunakan kaca mulut dan sonde,
dilakukan dengan mencatat keadaan karies dan permukaan gigi yang
terkena. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan kaca mulut di
ruangan terbuka dengan pencahayaan yang baik. Pencatatan dilakukan
pada lembaran pemeriksaan karies.

3.12 Analisis Data


Seluruh data diproses dan dianalisis dengan uji statistik untuk
mengevaluasi hubungan antara gaya hidup dengan kejadian karies pada anak
gemuk. Tingkat kemaknaan yang digunakan adalah p<0,05. Kekuatan
korelasi (r) diklasifikasikan atas: 0,00–0,199 = sangat lemah, 0,20-0,399 =
lemah, 0,40-0,599 = sedang, 0,60-0,799 = kuat, 0,80-1,000 = sangat kuat.

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
22

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


Penelitian dilakukan di TK Islam Sejahtera VI, Bekasi. Pengambilan
sampel dilakukan dengan metode konsekutif yaitu semua subjek yang datang dan
memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian. Subjek penelitian
adalah anak usia 3-5 tahun. Populasi penelitian yang memenuhi kriteria subjek
penelitian sebanyak 34 anak, terdiri dari 17 anak gemuk dan 17 anak normal.
Penelitian dimulai dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan, kemudian
dilihat kategori status berat badannya pada Kartu Menuju Sehat (KMS)
berdasarkan usia dan berat badan anak. Anak dimasukkan dalam kategori gemuk
apabila berat badan anak menurut usia berada pada zona kuning bagian atas pada
grafik KMS, sedangkan anak kategori normal apabila berat badan menurut usia
nya berada pada zona hijau grafik KMS. Pengumpulan data indikator gaya hidup,
yaitu pola makan selingan dan aktivitas fisik dilakukan dengan menggunakan
kuesioner yang terdiri dari frekuensi makan selingan, waktu makan selingan,
aktivitas fisik yang mengeluarkan energi/olahraga, dan aktivitas waktu luang
berupa menonton televisi. Kejadian karies diperiksa secara klinis dengan
menggunakan indeks def-t yang dibagi menjadi kejadian karies rendah dan
kejadian karies tinggi.
Pada tabel 4.1 memperlihatkan sebaran frekuensi subjek penelitian
menurut usia pada kelompok anak gemuk dan kelompok anak normal.

Tabel 4.1 Data sebaran subjek penelitian berdasarkan usia


Usia anak Anak gemuk Anak normal Total %
(th) (n) (n) (N)
3 3 1 4 11,76
4 6 5 11 32,35
5 8 11 19 55,88
Total 17 17 34 100

22 Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
23

Tabel 4.2 Data sebaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin serta
hubungannya dengan status berat badan
Jenis Anak Anak Total Persentase p
kelamin gemuk normal
Laki-laki 9 9 18 52,94% 1,000
Perempuan 8 8 16 47,06%
Total 17 17 34 100%

Dari tabel 4.2 terlihat sebaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin
pada kelompok anak gemuk dan kelompok anak normal. Hubungan antara status
berat badan dengan jenis kelamin tidak bermakna secara statistik (p>0,05). Oleh
karena itu, untuk analisis selanjutnya, jenis kelamin tidak dibedakan.

Tabel 4.3 Hubungan antara frekuensi makanan selingan, waktu makanan selingan,
aktivitas fisik, kegiatan waktu luang dengan kejadian karies pada anak gemuk.
Variabel Kejadian karies Total r p
rendah tinggi
Frekuensi Rendah 9 1 10 0,442 0,116
makanan
Tinggi 4 3 7
selingan
Waktu Teratur 1 0 1 0,077 0,567
makanan
Tidak teratur 12 4 16
selingan
Aktivitas < 1 jam 5 2 7 0,115 0,682
fisik > 1 jam 8 2 10
Menonton < 2 jam 5 1 6 0,135 0,622
tv > 2 jam 8 3 11

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa terdapat kekuatan korelasi sedang tidak


bermakna antara frekuensi makanan selingan dengan karies gigi pada anak gemuk
(r=0,442, p>0,05), serta hubungan sangat lemah tidak bermakna antara waktu
makanan selingan dengan karies gigi pada anak gemuk (r=0,077, p>0,05). Ada
hubungan sangat lemah tidak bermakna antara aktivitas fisik dengan karies gigi
pada anak gemuk (r=0,115, p>0,05), serta terdapat hubungan sangat lemah tidak
bermakna antara kegiatan waktu luang menonton televisi dengan karies gigi pada
anak gemuk (r=0,135, p>0,05).

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
24

Tabel 4.4 Hubungan antara frekuensi makanan selingan, waktu makan selingan,
aktivitas fisik, kegiatan waktu luang dengan kejadian karies pada anak normal
Variabel Kejadian karies Total r p
rendah tinggi
Frekuensi Rendah 7 2 9 0,183 0,490
makanan
Tinggi 5 3 8
selingan
Waktu Teratur 3 2 5 0,150 0,536
makanan
Tidak teratur 9 3 12
selingan
Aktivitas < 1 jam 4 2 6 0,067 0,793
fisik > 1 jam 8 3 11
Menonton < 2 jam 5 3 8 0,183 0,490
tv > 2 jam 7 2 9

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa terdapat hubungan sangat lemah tidak bermakna
antara frekuensi makanan selingan dengan karies gigi pada anak normal (r=0,183,
p>0,05), serta hubungan sangat lemah tidak bermakna`antara waktu makanan
selingan dengan karies gigi pada anak normal (r=0,150, p>0,05). Ada hubungan
sangat lemah tidak bermakna antara aktivitas fisik dengan karies gigi pada anak
normal (r=0,067, p>0,05), serta terdapat hubungan sangat lemah tidak bermakna
antara kegiatan waktu luang menonton televisi dengan karies gigi pada anak normal
(r=0,183, p>0,05).

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
25

Tabel 4.5 Hubungan antara gaya hidup dan kejadian karies pada anak gemuk dan
normal
Variabel Karies rendah Karies tinggi r p
Def-t 0-5 Def-t > 5
Frekuensi 9 1 -0,440 0,466
makan Gemuk
selingan Normal 7 2
rendah
Frekuensi Gemuk 4 3 0,111 0,833
makan
selingan Normal 5 3
tinggi
Waktu Gemuk 12 4 0,000 1,000
makan
selingan Normal 9 3
tidak teratur
Waktu Gemuk 1 0 -1,000 0,439
makan
selingan Normal 3 2
teratur
Aktivitas Gemuk 5 2 -0,111 0,853
fisik < 1 Normal 4 2
jam/hari
Aktivitas Gemuk 8 2 -0,200 0,696
fisik >1 Normal 8 3
jam/hari
Menonton tv Gemuk 8 3 0,135 0,795
> 2 jam/hari Normal 7 2
Menonton tv Gemuk 5 1 -0,500 0,393
0-2 jam/hari Normal 5 3

Pada tabel 4.5 terlihat hubungan tidak bermakna antara variabel gaya
hidup dengan kejadian karies pada anak gemuk dan normal.

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
26

4.2 Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan gaya hidup dan
kejadian karies pada anak gemuk. Alasan dilakukan penelitian ini adalah semakin
meningkatnya populasi anak gemuk apalagi di kota besar seperti Jakarta, yang
disebabkan oleh adanya perubahan pola makan masyarakat yang merujuk pada
pola makan tinggi kalori, lemak dan kolesterol, banyaknya waktu untuk menonton
televisi & bermain games, dan kurangnya aktivitas fisik. Anak-anak yang secara
fisik tidak aktif dan menghabiskan waktunya dengan menonton televisi dalam
waktu yang lama lebih sering mengkonsumsi makanan selingan yang tinggi kadar
gula dan lemak, sehingga dapat meningkatkan resiko karies dan kegemukan. 5, 6
Prevalensi kegemukan balita Indonesia mencapai 14% berdasarkan Riset
Kesehatan Dasar 2010. Prevalensi kegemukan tertinggi ditemukan di Jakarta,
yaitu 19,6 %. Penelitian oleh Unit Riset Kedokteran FKUI di empat taman kanak-
kanak dan pendidikan anak usia dini di Jakarta tahun 2011 menunjukkan,
15
prevalensi kegemukan anak usia 3-6 tahun lebih dari 20 %. Karies gigi
merupakan masalah kesehatan gigi yang paling umum terjadi pada anak-anak,
hampir 76,5% anak - anak di Indonesia menderita karies gigi. 27
Subjek penelitian adalah anak gemuk usia 3-5 tahun dengan periode gigi
sulung, tidak memiliki anomali jumlah dan bentuk gigi. Pada usia 3 tahun pola
makan anak sudah terbentuk, sehingga di usia tersebut anak sudah memiliki pola
makan tetap yang akan menyebabkan karies. 28 Penelitian menunjukkan terdapat
hubungan antara prevalensi karies gigi sulung dan gigi permanen yang nantinya
prevalensi karies gigi sulung akan meningkat 3 kali lipat pada gigi permanen. 17
Dalam menilai tingkat kegemukan pada anak terdapat berbagai metode.
Pengukuran secara antropometri merupakan pengukuran yang paling umum
14
digunakan dalam menentukan kegemukan pada anak. Kriteria gemuk yang
digunakan pada penelitian ini berdasarkan grafik yang ada pada Kartu Menuju
Sehat (KMS). KMS ini memuat grafik pertumbuhan normal anak berdasarkan
indeks antropometri berat badan menurut usia yang bermanfaat untuk mencatat
dan memantau tumbuh kembang balita setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia
16
5 tahun. Berat badan adalah parameter yang memberikan gambaran massa
tubuh. Dalam keadaan normal dan keadaan kesehatan baik, berat badan

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
27

berkembang mengikuti pertambahan usia. Sebaliknya, dalam keadaan abnormal,


terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang
cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Kelebihan pengukuran indeks berat
badan berdasarkan usia antara lain lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh
masyarakat umum, dapat mendeteksi kegemukan, dan dapat digunakan untuk
memantau pertumbuhan. 29 Sebagai contoh, anak usia 5 tahun dengan berat badan
21 kg masuk dalam kategori normal, sedangkan anak usia 3 tahun dengan berat
badan yang sama yaitu 21 kg masuk dalam kategori gemuk. Grafik pertumbuhan
berdasarkan indeks massa tubuh oleh WHO dibuat berdasarkan kondisi anak di
Amerika. Bila digunakan untuk melihat pertumbuhan anak di Indonesia kurang
sesuai karena terdapat perbedaan budaya, pola makan, serta gaya hidup antara
Indonesia dengan Amerika, sehingga nilai rata-rata pertumbuhan normal pun
berbeda. Oleh sebab itu, pada penelitian ini digunakan grafik pertumbuhan yang
terdapat pada KMS karena telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi anak
Indonesia.
Faktor gaya hidup yang diteliti terdiri dari pola makan selingan dan
aktivitas anak. Pola makan selingan yang diteliti terdiri dari frekuensi makan
selingan dan waktu makan selingan. Makan selingan yang beredar di pasaran saat
ini memiliki kadar gula yang tinggi seperti cokelat, es krim, berbagai macam
keripik, sereal, minuman bersoda dan masih banyak lagi. Hal tersebut dapat
menyebabkan karies dan kegemukan seperti disebutkan di beberapa penelitian
5
terdahulu. Aktivitas anak yang diteliti terdiri dari aktivitas fisik yang
mengeluarkan energi serta aktivitas waktu luang berupa menonton televisi.
Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa anak yang banyak meluangkan
waktunya dengan menonton televisi lebih sering mengkonsumsi minuman manis
dan makanan selingan sehingga lebih mudah mengalami kegemukan dan karies
gigi. 6 Mayoritas makanan yang diiklankan/dipasarkan adalah makanan yang nilai
nutrisinya rendah dan tinggi kalori lemak dan/atau gula. Anak yang menonton
televisi secara signifikan meningkat konsumsi makanannya setelah melihat iklan
makanan dan keinginan untuk makan makanan manis meningkat setelah melihat
iklan di televisi. 11

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
28

Frekuensi makanan selingan pada anak gemuk pada penelitian ini tampak
lebih banyak anak mengkonsumsi makanan selingan 0-3 kali sehari (Lampiran 6).
Setelah dilakukan uji statistik terhadap frekuensi makan selingan dan kejadian
karies didapatkan hubungan tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sedang
(p>0,05, r=0,442). Literatur menyebutkan dengan frekuensi makan selingan yang
rendah maka jumlah gula yang dikonsumsi akan semakin rendah sehingga
produksi asam yang dihasilkan bakteri dan perlekatannya pun akan berkurang lalu
akan menurunkan tingkat kejadian karies. 30 Rendahnya frekuensi makan selingan
dapat terjadi dikarenakan tingkat kesadaran orang tua terhadap status berat badan
anak meningkat. Orang tua mulai membatasi frekuensi makan selingan sehingga
berdampak pula pada kejadian karies di anak gemuk. Waktu makan selingan yang
dibagi menjadi waktu makan selingan yang teratur dan tidak teratur. Waktu
makan selingan teratur adalah makanan selingan yang diberikan di antara
makanan utama setiap harinya dan tidak teratur apabila diberikan kapan saja anak
menghendaki. Frekuensi waktu makan selingan pada penelitian ini lebih banyak
anak gemuk dengan waktu makan yang tidak teratur dibandingkan teratur. Setelah
dilakukan uji statistik didapatkan hubungan sangat lemah tidak bermakna (p>0,05
dan r = 0,077).
Aktivitas fisik pada anak gemuk pada penelitian ini tampak lebih banyak
anak beraktivitas fisik lebih dari 1 jam sehari. Ada hubungan sangat lemah tidak
bermakna antara aktivitas fisik dengan karies gigi pada anak gemuk (r=0,115,
p>0,05) Pada penelitian ini tampak lebih banyak anak gemuk melewatkan waktu
luangnya dengan menonton televisi lebih dari 2 jam sehari. Dari hasil uji statistik
terdapat hubungan sangat lemah tidak bermakna antara kegiatan waktu luang
menonton televisi dengan karies gigi pada anak gemuk (r=0,135, p>0,05). Hasil
penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya yang
menyebutkan terdapat hubungan antara aktivitas fisik dan menonton televisi
5, 6
dengan kejadian karies pada anak gemuk. Dari tabel 4.5 terlihat hubungan
tidak bermakna antara variabel gaya hidup dengan kejadian karies pada anak
gemuk dan normal. Hal ini disebabkan oleh karena karies merupakan penyakit
multifaktorial yang terdiri dari faktor internal dan eksternal, yang tidak hanya
disebabkan oleh satu atau dua faktor resiko saja. 17, 18 Makanan yang sering dipilih

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
29

dan dikonsumsi anak pada umumnya adalah yang mengandung karbohidrat


olahan yang bersifat melekat pada gigi serta larut didalam mulut secara perlahan-
lahan. Makanan manis dan lengket tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan
plak yang merupakan faktor resiko terjadinya karies. 25

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
30

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa terdapat hubungan tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sedang antara
frekuensi makan selingan dengan karies gigi pada anak gemuk usia 3-5 tahun, dan
terdapat hubungan sangat lemah tidak bermakna antara waktu makan selingan,
aktivitas fisik, dan kegiatan waktu luang menonton televisi dengan kejadian karies
pada anak gemuk usia 3-5 tahun.

5.2 Saran
Dibutuhkan penelitian lebih lanjut yang meneliti hubungan gaya hidup dan
kejadian karies pada anak kurus. Bagi para orang tua disarankan untuk lebih
berperan serta dalam memperbaiki gaya hidup anak, apabila anak memiliki pola
makan selingan yang banyak mengandung gula sehingga dapat menyebabkan
karies dan aktivitas anak yang lebih sering menonton televisi. Kebersihan gigi dan
mulut anak juga harus dijaga sehingga dapat mengurangi tingkat kejadian karies.

30 Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
31

DAFTAR REFERENSI

1. The WHO Health Promotion Glossary. 1998.


http://www.who.int/healthpromotion/about/HPR%20Glossary%201998.pdf.
Accessed April 29, 2012.
2. Depkes. Perjalanan Menuju Indonesia Sehat 2010. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.2002:12-20.
3. Healthy Eating and Active Living For Your 1-5 Year Old. Available at:
www.health.alberta.ca/documents/HEAL-Brochure-1-5.pdf. Accessed
November 18, 2011.
4. Hidayati S, Irawan R, Hidayat B. Obesitas pada Anak. Ilmu Kesehatan Anak
FK Unair:1-11.
5. Cinar AB, Christensen LB, Hede B. Clustering of Obesity and Dental Caries
with Lifestyle Factors Among Danish Adolescents. Oral Health Prev Dent.
2011;9:123-130.
6. Cinar B, Murtomaa H. Clustering of Obesity and Dental Health with Lifestyle
Factors among Turkish and Finnish Pre-Adolescents. Obesity Facts.
2008;1:196-202.
7. Hong L, dkk. Obesity and Dental Caries in Children Aged 2-6 Years in the
United States: National Health and Nutrition Examination Survey 1999-2002.
American Assoc of Public Health Dent. 2008;68(4):227-233.
8. Hilgers K, dkk. Childhood Obesity and Dental Development. Ped Dent.
2006;28(1):18-22.
9. Karels A, Cooper B. Obesity and Its Role in Oral Health. The Internet J of
Allied Health Sci and Pract. 2007;5(1):1-5.
10. Yussac M, dkk. Prevalensi Obesitas pada Anak Usia 4-6 Tahun dan
Hubungannya dengan Asupan Serta Pola Makan. Maj Kedokt Indon. Februari
2007;57(2):47-53.
11. Palmer C. Dental Caries and Obesity in Children: Different Problems, Related
Causes. Quintessence International. 2005;36(6):457-461.
12. Subardja D, Suzy I, dkk. Hubungan Pola Makan dan Pola Aktivitas Fisik
dengan Obesitas Primer pada Anak. Media Gizi & Keluarga. 2000:123-131.
13. WHO. Obesity: Preventing and Managing The Global Epidemic. Geneva:
WHO Technical Report Series; 2000:894.
14. Lahti-Koski M, Gill T. Defining Childhood Obesity. A Pediatr Adolesc Med.
2004;9:1-19.

Universitas Indonesia
31 Dara, FKGUI, 2012
Hubungan gaya..., Indira Chairulina
32

15. Riset Kesehatan Dasar 2010. Available at:


http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/download/TabelRiskesdas2010.pdf.
Accessed Mei 1, 2012.
16. Departemen Kesehatan RI. Available at: http://www.gizikia.depkes.go.id.
Accessed Mei 2012.
17. Axelsson P, Karlstad. Diagnosis and Risk Prediction of Dental Caries:
Quintessence Books; 2000:1-86.
18. Mount G, Hume W. Preservation and Restoration Tooth Structure. 2nd ed.
Queensland: Knowledge Books & Software; 2005:21-34.
19. Kidd E, Bechal S. The Disease and Its Management. J Essent of Dental
Caries. 1987:155-160.
20. Harris N, Godoy F. Primary Preventive Dentistry. USA: Pearson Prentice
Hall; 2004:45-47.
21. Scachtele C. Dental Caries in Oral Microbiology and Infectious Disease. 2nd
ed. Philadelphia: Decker; 1990:479-515.
22. Newburn E. Cariology. 3rd ed. USA: Quintessence; 1989:82-88.
23. Sondang P, Harmada T. Menuju gigi dan mulut sehat, pencegahan dan
pemeliharaan. Medan: USU Press; 2008:4-6.
24. Misnadiarly. Obesitas sebagai faktor resiko beberapa penyakit. Jakarta:
Pustaka Obor Populer; 2007:7-9.
25. Pinkham J. Pediatric Dentistry - Infancy through adolescence. 2nd ed: WB
Saunders Co; 1994:199-205.
26. WHO. Oral Health Surveys-Basic Methods. 4th ed; 1997:21-59.
27. Depkes. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan RI, Survey Kesehatan Rumah Tangga. Vol 3; 2004:67-71.
28. Proverawati A. Kegemukan dan Gangguan Perilaku Makan pada Remaja.
Nuha Medika. 2010:1-18.
29. Supariasa, dkk. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC;
2002:36-40.
30. Stecksen-Blicks C, Sunnegardh K. Caries Experience and Background Factors
in 4-year-old Children. Caries Res. 2004:149-155.

Universitas Indonesia
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
Kepada Yth :
Bapak/Ibu/Wali .......................................................

Dengan hormat,
Bersama ini saya mohon persetujuan Bapak/Ibu/Wali agar anak
Bapak/Ibu/Wali dapat berpartisipasi sebagai subyek dalam penelitian saya, yang
berjudul :
“HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN KEJADIAN KARIES PADA ANAK
GEMUK 3-5 TAHUN”
Dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisa hubungan antara gaya hidup
dengan kejadian karies pada anak sehingga dapat dilakukan pencegahan dan
perawatan yang tepat.
Dalam penelitian ini akan dilakukan :
1. Pengukuran berat badan dan tinggi badan
2. Pengisian lembar kuesioner oleh orang tua
3. Pemeriksaan jumlah karies pada anak
Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian bersifat aman untuk anak.
Adapun ketidaknyamanan yang akan dialami anak selama prosedur penelitian
adalah anak harus membuka mulut selama beberapa waktu (+ 5 menit). Serta
keuntungan apabila menjadi objek penelitian ini adalah :
1. Anak dan orang tua dapat mengetahui keadaan kesehatan gigi dan mulut
anak sehingga dapat meningkatkan motivasi dan mengetahui cara untuk
memelihara kesehatan gigi dan mulut.
2. Anak dan orang tua dapat mengetahui kategori berat badan anak, sehingga
dapat melakukan pencegahan apabila tidak berada dalam kriteria normal.

Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012


Jika Bapak/Ibu/Wali bersedia, bersama ini saya lampirkan surat kesediaan yang
dapat ditandatangani.
Demikianlah mudah-mudahan keterangan saya diatas dapat dimengerti,
dan atas kesediaannya untuk memberikan izin anak dalam penelitian ini saya
ucapkan terima kasih.

Jakarta, Juni 2012


Hormat saya,

drg. Indira Chairulina

Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012


SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI SUBYEK PENELITIAN

Setelah membaca dan mendengar semua keterangan tentang resiko dan


keuntungan pemeriksaan dan penelitian ini, saya izinkan anak saya untuk turut
berpartisipasi dalam penelitian :

Judul : “HUBUNGAN GAYA HIDUP DAN KEJADIAN KARIES


PADA ANAK GEMUK 3-5 TAHUN”
Atas nama : drg. Indira Chairulina

Saya dengan sadar dan tanpa paksaan bersedia mengizinkan anak saya
berpartisipasi dalam penelitian tersebut di atas.

Jakarta, 2012

( )
Orang tua ananda : ...........................................
Alamat : ...........................................
............................................
No. Telp / Hp : ............................................

Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012


Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012
LEMBAR KUESIONER

Nama anak : ................................................. Tanggal Lahir : ...............................


Alamat rumah: ...........................................................................................................

Petunjuk pengisian : lingkarilah jawaban yang tersedia pada nomor yang


tercetak hitam tebal. Mohon diisi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan
terima kasih atas kerjasamanya.

1. Berapa kali sehari anak ibu makan makanan selingan (permen, coklat, biskuit,
dll)?
1. > 3x 2. 0-3x

2. Kapan anak ibu biasanya makan makanan selingan?


1. Tidak Teratur (apabila waktu makan dilakukan kapan saja dalam satu hari)
2. Teratur (apabila waktu makan makanan selingan dilakukan setelah atau
sebelum makan makanan utama)

3. Berapa lama dalam sehari anak ibu berolahraga / melakukan aktivitas fisik
(berlari, berenang, bermain bola, bermain sepeda, senam,dll) ?
1. < 1 jam 2. 1 jam / lebih

4. Berapa lama waktu yang dihabiskan anak ibu untuk menonton televisi /
bermain komputer / games ?
1. > 2 jam/hari 2. 0-2 jam/hari

Terima kasih atas kerjasamanya


drg. Indira Chairulina

Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012


NO L/P usia BB TB Kategori KMS def-t Karies frekuensi mkn waktu makan aktivitas tv
1 G1 L 4 th 24 118 G 3 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
2 G2 P 5 th 23 117,5 G 4 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh > 2 jam
3 G3 P 4 th 27 122,5 G 7 tinggi 0-3 tdk teratur < 1 jam > 2 jam
4 G4 P 5 th 27 128,5 G 3 rendah 0-3 tdk teratur < 1 jam > 2jam
5 G5 L 5 th 26 139,5 G 6 tinggi >3 tdk teratur 1 jam/lbh > 2 jam
6 G6 P 5 th 27 122,5 G 4 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
7 G7 L 4 th 25 130 G 0 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
8 G8 P 3 th 21 113,5 G 1 rendah >3 teratur < 1 jam > 2 jam
9 G9 P 5 th 26 132 G 0 rendah 0-3 tdk teratur < 1 jam 0-2 jam
10 G10 L 5 th 27 131,5 G 4 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh > 2 jam
11 G11 P 5 th 25 126 G 0 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh > 2 jam
12 G12 P 4 th 24 117 G 5 rendah >3 tdk teratur < 1 jam > 2 jam
13 G13 L 5 th 27 137 G 0 rendah >3 tdk teratur < 1 jam > 2 jam
14 G14 L 4 th 24 128 G 5 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
15 G15 L 4 th 25 120 G 8 tinggi >3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
16 G16 L 3 th 21 110 G 7 tinggi >3 tdk teratur < 1 jam > 2 jam
17 G17 L 3 th 21 120 G 4 rendah >3 tdk teratur 1 jam/lbh > 2 jam
18 N1 P 5 th 18 124,5 N 3 rendah 0-3 tdk teratur < 1 jam > 2 jam
19 N2 P 4 th 15 113 N 2 rendah >3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
20 N3 L 5 th 16 117,5 N 0 rendah >3 teratur < 1 jam > 2 jam
21 N4 L 4 th 16 116 N 7 tinggi >3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
22 N5 P 4 th 16 111 N 8 tinggi 0-3 teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
23 N6 L 5 th 21 126,5 N 2 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam

Hubungan gaya..., Indira Chairulina Dara, FKGUI, 2012


24 N7 P 5 th 15 113 N 10 tinggi 0-3 teratur < 1 jam > 2 jam
25 N8 L 5 th 21 122 N 14 tinggi >3 tdk teratur 1 jam/lbh > 2 jam
26 N9 P 5 th 17 120 N 14 tinggi >3 tdk teratur < 1 jam 0-2 jam
27 N10 L 5 th 16 122 N 2 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
28 N11 L 5 th 16 117,5 N 0 rendah >3 tdk teratur < 1 jam > 2 jam
29 N12 P 5 th 15 112,5 N 0 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh > 2 jam
30 N13 P 5 th 20 123,5 N 5 rendah 0-3 teratur 1 jam/lbh 0-2 jam
31 N14 L 5 th 18 122 N 4 rendah 0-3 teratur 1 jam/lbh > 2 jam
32 N15 L 4 th 15 113 N 0 rendah 0-3 tdk teratur 1 jam/lbh > 2 jam
33 N16 P 4 th 15 112,5 N 2 rendah 0-3 tdk teratur < 1 jam > 2 jam
34 N17 L 3 th 14 108 N 0 rendah >3 tdk teratur 1 jam/lbh 0-2 jam