Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KOMUNIKASI

ETIKA DALAM KOMUNIKASI

Dosen Pembimbing : Hj. Augustina Hendrorini, M.P.S.

Disusun Oleh :

1. Listia Winda Sari P23131016045

2. Nur Khairiyah P23131016055

3. Siti Sarah Sakinah P23131016068

DIII-3B

JURUSAN GIZI

POLTEKKES JAKARTA II

2017
Daftar Isi

Daftar Isi…………………………………………………………………………………….…i

A. Pengertian Etika………………………………………………………………………….....1

B. Pengertian Komunikasi…………………………………...…………………………………1

C. Etika dalam Komunikasi…………………………………………………………………….2

D. Pentingnya Etika dalam Komunikasi………………………………………………………..2

E. Etika dan Etiket dalam Komunikasi…………………………………………………...……5

F. Etika yang Baik dalam Komunikasi…………………………………………………………6

G.Teknik Komunikasi yang Baik………………………………………………………………8

H. Daftar Pustaka………………………………………………………………………………10

i
A. Pengertian Etika

Etika, berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan
(custom). Istilah lain yang identik dengan etika, adalah:

 Susila (Sanskerta), lebih menunjukan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang
lebih baik (su).

 Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti ilmu akhlak.

Pengertian dan definisi etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya
antara lain:

1. Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari hak.

2. Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari kegiatan
manusia.

3. Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual.

4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban

Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nekomacheia, menjelaskan tentang pembahasan


etika sebagai berikut:

1. Terminius Techicus, pengertian etika dalam hal ini adalah etika dipelajari untuk ilmu
pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia

2. Manner dan Custom, membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan (adat)
yang melekat dalam kodrat manusia yang terikat dengan pengertian “baik dan buruk” suatu
tingkah laku atau perbuatan manusia.

B. Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan kegiatan yang sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari,


namun tidaklah mudah memberikan definisi yang dapat diterima semua pihak. Sebagaimana

1
layaknya ilmu sosial lainnya, komunikasi mempunyai banyak definisi sesuai dengan persepsi
ahli-ahli komunikasi yang memberikan batasan pengertian.

Komunikasi ialah suatu proses pengiriman pesan atau simbol-simbol yang mengandung
arti dari seseorang komunikator kepada komunikan dengan tujuan tertentu.

C. Etika Dalam Komunikasi

Sebagai makhluk sosial, tentunya komunikasi tidak lepas dari kehidupan sehari-hari kita.
Dan seperti yang telah diulas sebelumnya, komunikasi sebagai bagian dari kehidupan juga
memiliki etika di dalamnya. Etika komunikasi merupakan salah satu dari etika khusus, karena
membahas bagian tertentu dari kehidupan manusia.

Etika sendiri merupakan nilai dan norma yang berlaku untuk dijadikan pandangan dan
standar manusia dalam bertindak dan bertingkah laku. Dalam kaitannya dengan komunikasi,
etika komunikasi mencakup segala nilai dan norma yang menjadi standar dan acuan manusia
dalam berkomunikasi dengan orang lain. Etika komunikasi menilai mana tindakan komunikasi
yang baik dan buruk berdasarkan standar yang berlaku.

Karena komunikasi merupakan salah satu hal yang krusial dalam kehidupan manusia, maka
penting bagi kita untuk memahami mengenai etika komunikasi. Tanpa adanya etika komunikasi,
dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kesalahpahaman, pertengkaran, perselisihan,
dan lain sebagainya. Selain itu, etika komunikasi yang tidak diketahui dan diterapkan akan
menyebabkan hubungan kita dengan orang lain jadi buruk. Tentunya itu akan berakibat tidak
baik, karena bagaimanapun juga kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan dan
dibutuhkan orang lain.

D. Pentingnya Etika Dalam Komunikasi

Etika komunikasi diperlukan untuk membantu menjernihkan pertimbangan agar bisa


mengambil keputusan yang tepat sehingga menjadi sarana yang efektif dalam pendidikan. Selain
itu juga mampu membuka peluang untuk bisa memperbaiki nasib seseorang atau kelompok.
Seseorang yang memiliki akses informasi akan memudahkannya untuk mendapatkan kekuasaan
atau mempertahankannya. Informasi yang benar menghidarkan salah paham dan menjadi sarana
penting untuk menciptakan perdamaian.
2
Media digunakan untuk menyampaikan dan menciptakan informasi. Walaupun
kebenarannya tidak dijamin karena adanya pertarungan kepentingan dalam hal politik, ekonomi,
atau budaya yang pada akhirnya hak public akan informasi yang dirugikan. Bahkan
pertimbangan pendidikan, pencerahan, analisis kritis, dan hiburan yang sehat diabaikan demi
keuntungan semata yang diakibatkan oleh kuatnya tuntutan pasar sehingga merubah sistem
media(organisasi komunikasi public).

1. Informasi sebagai komoditi dan mimetisme.

Untuk mendapatkan perhatian penuh, diantara media sendiri terjadi persaingan. Seperti
logika simulasi (j. baudillard), orang tidak akan pernah sampai pada kebenaran karena antara
realitas, representasi, hiperrialitas atau tipuan tidak bisa dicek dan dibedakan lagi. Pesaingan
menghalalkan segala cara.

2. Media mengubah integrasi social, reproduksi budaya, dam partisipasi politik.

Media menyebarkan keseluruh tubuh social tidak hanya ide pembebasan, tetapi juga
nilai-nilai hedonis sehingga akhirnya mempengaruhi integrasi social. Integrasi social
menghadapi kendala dalam bentuk individualisme narcisik.

Dalam reproduksi budaya(produksi budaya), tekanannya harus selalu bergerak, selalu


berubah bukan untuk suatu tujuan utopias tertentu, tetapi karena diarahkan oleh efektivitas dan
tuntutan agar bisa bertahan hidup (G. Lipovetsky, 2004: 79). Kultus teknologi mengalahkan
tujuan dan idealism. Maka, dalam media, teknik presentasi sering mengalahkan isi berita atau
pesan yang mau disampaikan. Rasionalisme instrumental sangat mewarnai media massa.

Mc Luhan mengatakan bahwa pesan yang sebenarnya bukan isi yang mengungkapkan
suara dan gambar, tetapi skema yang dikaitkan dengan esensi teknikmedia itu sendiri yang
berupa transisi normal dan diprogram berdasar pada abstraksi. Maksudnya, isi wacana iklan
langsung yang mendorong konsumsi. Iklan menjadi efektif karena memaksa melalui trnsisi
sistematis, berita sehari-hari, peritiwa dengan tontonan, informasi dan iklan.

Dalam iklan, fungsi komunikasi massa iklan bukan berasal dari isinya, bukan tujuan
ekonomi atau psikologi, bukan public, tetapi dari logika medium itu sendiri.

3
3. Dilemma media massa

Idealism media menuntut peran sebagai sarana pendidikan agar pembaca, pemirsa atau
pendengar semakin memiliki sikap kritis, kemandirian, dan kedalaman berpikir; disisi lain,
pragmatisme ekonokmi memaksa media mengadopsi logika mode yang terpatri pada yang
spektakuler, sensasional, superfisial, dan pesan yang beragam.

4. Pentingnya pencitraan

Media mampu menyebarkan ke seluruh tubuh social nilai pembebasan dan kesetaraan
sehingga lebih banyak orang yang menyadari; dilain pihak media juga gencar menyebarkan dan
menawarkan nilai hedonis. mempengaruhi dan membentuk citra bergeser menjadi obsesi media.
Pencitraan mendiskualifikasi kategori kebenaran sehingga tidak bisa lagi dibedakan antara
realitas, representasi, simulasi, kepalsuan, dan hiperrealitas (J. baudrillard, 1981: 17).

J. baudrillard menjelaskan empat fase citra:

a. Representasi dimana citra merupakan cermin suatu realitas

b. Ideology dimana citra menyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas

c. Citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas. Lalu citra bermain menjadi
penampakannya.

d. Citra tidak ada hubugan sama sekali dengan realitas apapun: ia hanya menjadi yang
menyerupai dirinya.

Ada tiga alasan penerapan etika komunikasi semakin mendesak:

1. Media mempunyai kekuasaan dan efek yang dahsyat terhadap public. Padahal media mudah
memanipulasi dan menganilienasi audiens. Dengan demikian etika komunikasi mau
melindungi public yang lemah.

2. Etika komunikasi merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan


berekpresi dan tanggung jawab.

4
3. Mencoba menghindari sedapat mungkin dampak negative dari logika instrumental yang
mana logika ini cenderung mengabaikan nilai dan makna, yang penting mempertahankan
kredibilitas pers di depan public.

E. Etika dan Etiket dalam Kominikasi


1.) Definisi Etika ( Etik )
Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau
adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok
sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan.

2.) Definisi Etiket


Etiket adalah suatu sikap seperti sopan santun atau aturan lainnya yang mengatur
hubungan antara kelompok manusia yang beradab dalam pergaulan.

3.) Perbedaan Etika Dan Etiket Dalam Komunikasi


Etika
a) Selalu berlaku walaupun tidak ada saksi mata.
Contoh : larangan untuk mencuri tetap ada walaupun tidak ada yang melihat kita
mencuri.
b) Bersifat jauh lebih absolut atau mutlak.
Contoh : “Jangan Mencuri” adalah prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
c) Memandang manusia dari segi dalam
Contoh : Walaupun bertutur kata baik, pencuri tetaplah pencuri. Orang yang berpegang
teguh pada etika tidak mungkin munafik.
d) Memberi norma tentang perbuatan itu sendiri.
Contoh : Mengambil barang milik orang lain tanpa izin orang tersebut tidak
diperbolehkan.

Etiket

5
a) Hanya berlaku dalam pergaulan. Etiket tidak berlaku saat tidak ada orang lain atau saksi
mata yang melihat. Contoh : Sendawa di saat makan melakukan perilaku yang dianggap
tidak sopan. Namun, hal itu tidak berlaku jika kita makan sendirian, kemudian sendawa dan
tidak ada orang yang melihat sehingga tidak ada yang beranggapan bahwa kita tidak sopan.
b) Bersifat relatif. Contoh : Yang dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan bisa saja
dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
c) Hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja. Contoh : Banyak penipu dengan maksud
jahat berhasil mengelabui korbannya karena penampilan dan tutur kata mereka yang baik.
d) Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan oleh manusia. Misalnya :
Memberikan sesuatu kepada orang lain dengan menggunakan tangan kanan.

F. Etika yang Baik Dalam Komunikasi

a. Memulai Pembicaraan

Dalam keseharian, tentunya kita pernah bertemu dengan keadaan yang membuat kita harus atau
ingin memulai pembicaraan dengan orang lain. Namun ada hal-hal yang harus diperhatikan,
yaitu:

1. Lihat keadaan calon lawan bicara.

Apakah dia terlihat sedang sibuk atau terburu-buru? Kalau iya, mungkin kita harus mencoba
berbicara lain kali. Karena nanti kita justru akan mengganggu orang itu dan membuatnya tidak
nyaman.

2. Ramah dan sopan.

Sapa lah lawan bicara anda dengan ramah dan sopan, namun tidak terkesan dibuat-buat. Kita bisa
mengajukan pertanyaan basa-basi untuk pembuka seperti apa kabar, mau kemana, dari mana, dan
semacamnya.

3. Jangan hanya bicara, dengarkan juga.

Kebanyakan orang mengasumsikan komunikasi selalu berkaitan dengan bicara, padahal tidak
hanya itu. Mendengarkan juga salah satu bagian dari komunikasi, dan hal ini sangat penting
untuk dilakukan. Ketika kita terlalul sibuk bicara dan tidak memperhatikan apa yang diucapkan
lawan bicara, kita seperti tidak menghargainya.

b. Komunikasi Tatap Muka

Komunikasi tatap muka bisa dibilang komunikasi yang hampir setiap hari kita lakukan. Berikut
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi tatap muka atau langsung:

6
1. Tatap mata lawan bicara.

Hal yang pertama harus dilakukan adalah menatap lawan bicara kita. Jangan sampai kita malah
melihat ke arah yang lain dan membuat lawan bicara terganggu atau merasa tidak diperhatikan.
Jika kesulitan menatap langsung pada mata lawan bicara, kita bisa melihat ke arah garis tengah
antara kedua matanya (yang sejajar dengan hidung).

2. Jaga intonasi dan kecepatan bicara.

Bicaralah dengan suara yang stabil, tidak terlalu pelan atau terlalu tinggi. Keduanya bisa
menyebabkan orang salah mengerti dan tidak paham apa yang kita bicarakan. Selain itu,
bicaralah dengan kecepatan normal supaya dapat disimak dengan baik.

3. Lontarkan pertanyaan.

Sekali lagi, jangan hanya sibuk bicara dan tidak menyimak apa yang dibicarakan lawan bicara
kita. Dengarkanlah baik apa yang dikatakan lawan bicara, dan sahutilah dengan melontarkan
pertanyaan atau pernyataan.

c. Komunikasi Lewat Media

Seiring dengan melesatnya perkembangan teknologi, komunikasi melalui media bisa dibilang
sebagai komunikasi yang paling sering kita lakukan. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan:

1. Perhatikan gaya tulisan dan tanda baca.

Karena komunikasi lewat media kebanyakan mengandalkan tulisan, kita harus lebih berhati-hati
dengan gaya bahasa yang kita tulis. Apakah sudah tepat, atau seperti orang marah? Selain itu,
penggunaan tanda baca juga sangat penting terutama tanda seru. Sebaiknya kita meminimalisir
penggunaan tanda seru atau huruf besar semua, karena cenderung membuat orang berpikir kalau
kita marah.

2. Atur intonasi (jika menelpon).

Menelpon memang terdengar suara, namun mimik dan ekspresi wajah tidak dapat terlihat.
Karena itu kita perlu mengatur intonasi suara kita ketika sedang menelpon. (Baca juga: Teori
Ilmu Komunikasi)

3. Pikirkan apa yang ingin ditulis.

Komunikasi lewat media memungkinkan kita untuk berpikir sedikit lebih lama mengenai apa
yang akan kita komunikasikan. Gunakan kesempatan itu untuk mengkomunikasikan hal-hal
dengan lebih baik dan menyortir kalimat yang tidak patut. Tidak perlu terburu-buru, orang juga
tahu kalau mengetik itu membutuhkan waktu lebih lama daripada bicara langsung. Tapi jangan
juga membiarkan pesan orang tidak dibalas lama, karena itu akan membuat orang bertanya-tanya
dan salah paham.

7
d. Menyambut Tamu

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut tamu:

1. Berpakaian yang rapi dan pantas.

Meskipun berada di rumah sendiri, dalam menyambut tamu kita seharusnya memakai pakaian
yang pantas. Tentu tidak akan enak dilihat tamu jika kita hanya berpakaian daster atau baju yang
kotor.

2. Menyuguhkan minuman.

Terkadang tamu akan bilang tidak usah jika ditawari minuman, namun meski begitu kita perlu
menyediakannya. Bisa jadi si tamu malu atau basa-basi saja. Tidak perlu memaksakan
menyuguhkan yang berlebihan, namun setidaknya minuman yang minimal ada.

3. Sampaikan terima kasih.

Tamu bertandang ke rumah kita dengan menempuh perjalanan dan menyisihkan waktunya untuk
bertemu kita. Karena itu, sampaikanlah ungkapan penghargaan kita pada tamu karena telah
berkunjung.

G. Teknik Komunikasi yang Baik

Sebagai hal yang selalu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi harus dilakukan
dengan baik. Berikut adalah beberapa teknik komunikasi yang baik:

 Bicara dengan jelas.

Komunikasi intinya adalah menyampaikan pesan kepada lawan bicara, dan tugas kita adalah
bagaimana agar pesan tersebut sampai sesuai dengan keinginan kita. Yang paling penting adalah
bicara apa yang kita maksudkan dengan jelas, supaya tidak ada kesalahpahaman. (Baca juga: )

 Mendengarkan dengan baik.

Seperti yang telah diulas sebelumnya, mendengarkan adalah hal yang sangat penting dalam
komunikasi. Tanpa kita berusaha mendengarkan baik, komunikasi yang terjalin tidak akan
efektif. Kita tidak memperhatikan apa yang dibicarakan orang lain dan membuat komunikasi jadi
terhambat.

 Perhatikan lawan bicara.

Kita berkomunikasi dengan lawan bicara, maka kita harus perhatikan lawan bicara kita. Dengan
begitu, lawan bicara merasa dihargai dan komunikasi berjalan lebih lancar. Kalau sudah begitu,
hubungan yang terjalin dengan lawan bicara pun akan terus terjalin dengan baik.

8
 Konfirmasi jika merasa salah paham.

Dalam berkomunikasi, kita tidak dapat terhindar dari adanya kesalahpahaman. Kesalahpahaman
bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya gangguan lingkungan atau ketidakfokusan kita dalam
menyimak. Karena itu, perlu dikonfirmasikan langsung hal yang disalahpahami guna meluruskan
keadaan.

 Perhatikan komunikasi non-verbal.

Seperti yang dibahas sebelumnya, komunikasi bukan hanya soal bicara atau verbal. Ada juga
aspek-aspek komunikasi non-verbal dan justru peranannya jauh lebih besar dibanding
komunikasi verbal. Contoh dari komunikasi non-verbal adalah gestur tubuh, mimik wajah,
penampilan, tanda baca, dan lain sebagainya.

9
Daftar Pustaka

1. Arifin, Anwar. 1988. Ilmu Komunikasi Sebagai Pengantar Ringkas, Rajawali Press. Jakarta
2. Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.
3. dePorter, Bobbi, et.al.2000. Quantum Teaching, Kaifa. Bandung.
4. Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.
5. JOHANSEN, RICHARD. 1996. Etika Komunikasi, Penerbit Rosda, Bandung.
6. Haryatmoko, 2007: 22
7. Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya.

10