Anda di halaman 1dari 14

SUBJECTIVE WELL-BEING PADA PASANGAN YANG MENIKAH

MUDA

PUBLIKASI ILMIAH

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata 1 pada
Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi

Oleh:

DANIS MISWIYAWATI
F100130148

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
i
ii
iii
Subjective Well Being pada Pasangan yang Menikah Muda

Danis Miswiyawati
Rini Lestari
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Miswiyawatidanis17@gmail.com

Abstrak

Individu usia muda sering membandingkan kehidupanya dengan standar


kehidupan individu lain atau membandingkan kehidupannya dengan kehidupan
individu sebelumnya. Penyesuaian pada perbandingan inilah yang nantinya
membawa dampak positif atau negatif dan sejahtera atau tidaknya individu usia
muda dalam menjalankan peran barunya sebagai pasangan dalam suatu
pernikahan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan
mendeskripsikan subjective well-being pada pasangan menikah muda. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 3
pasang suami istri yang menikah muda. Pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah wawancara. Analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah analisis isi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pasangan yang
menikah muda merasakan subjective well-being yang cukup tinggi dalam
pernikahan. Subjective well-being terbentuk dalam diri pasangan muda tersebut
yaitu pasangan muda dapat menerima kondisi yang telah dialaminya dan
bersyukur atas apa yang dialaminya. Secara keseluruhan pasangan muda lebih
sering merasakan afek positif daripada afek negatif. Faktor-faktor yang
mempengaruhi subjective well-being pada pasangan yang menikah muda adalah
optimisme, memiliki hubungan yang positif, dan memiliki cita-cita.

Kata kunci :Subjective well-being, Menikah,PasanganMuda

Abstract

Young individual often compares their life with another standart or to


compare their life with previous living. Adjustments to the comparison is what
will bring a positive or negative impact and prosperous young age whether or not
the individual in carrying out his new role as a partner in a marriage. The purpose
of this study is to determine and describe subjective well-being on a young
married couple. This study used a qualitative approach. Subjects in this study
were 3 pairs of husband and wife who married young. The collections of data used
in this study were interviews. Analysis of the data used in this research is content
analysis. The results of the study illustrate that young married couple who feel
Subjective well-being enough high in marriage. Subjective well-being established
with the young couples that young couples can accept the conditions he has

1
experienced and grateful for what happened. Overall youn couples often fell more
positive affect than negative affect. Factors that influence the subjective well-
being on a young married are optimism, positive relationships, have ideals.

Keyword : Subjective well-being, Married, Young Couples

1. PENDAHULUAN
Masa remaja memiliki tugas perkembangan yang harus dipenuhi. Menjalin
hubungan yang baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik sesama jenis
maupun dengan lawan jenis merupakan salah satu tugas perkembangan
tersebut.Individuyang menikah di usia remaja akan dianggap dan diperlakukan
sebagai orang dewasa seutuhnya, remaja tidak lagi menghadapi tugas
perkembangan remaja namun tugas perkembangan dewasa. Remaja yang menikah
pada usia 18-19 tahun juga akan memasuki dunia orang dewasa dan mengalami
masa remaja yang diperpendek (Fajriyah dan Laksmiwati, 2014).
Pernikahan itu sendiri mengandung makna bahwa pernikahan ialah ikatan
lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan
tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang sejahtera dan kekal
berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa (Hadikusuma, 2007).Meskipun demikian,
tidak semua orang mampu memahami hakikat dan tujuan dari pernikahan yang
seutuhnya yaitu mendapatkan kebahagiaan yang sejati dalam berumah tangga
(Puspitasari, 2006).
Perundang-undangan No. 1 tahun 1974 telah mengatur mengenai batas
usia pernikahan untuk mencegah pernikahan dini. Undang-undang mengenai batas
usia pernikahan yaitu pasal 7 ayat (1) yang berbunyi ‘Perkawinan hanya diizinkan
jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita
sudah mencapai umur 18 (delapan belas) tahun’ (hukumonline.com).
Berdasarkan data BadanPusatStatistik pada tahun 2015, perkawinan usia
anak di Indonesia, khususnya perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun
sebasar 23%. Perkawinan usia anak di Indonesia cenderung lebih tinggi di
wilayah pedesaan dibanding perkotaan (Julianto, 2016). Data menunjukkan
sebanyak 10 remaja pria dan 12 remaja wanita asal Sragen diketahui menikah di

2
bawah umur sepanjang Januari hingga Juni 2016. Faktor hamil di luar nikah
mendominasi alasan remaja asal Bumi Sukowati memilih nikah dini (Duhri, 2016)
Di desa KR terdapat 4 pasangan yang menikah mudayaitudibawah 20
tahun. Keempat pasangan menyatakan bahwa masing masing dari subjek menikah
atas kemauanya sendiri dan tidak ada paksaan dari keluarga atau pihak manapun.
Subjek menyatakan bahwa tidak jarang mengalami ketidakpuasan dan
permasalahan dalam pernikahanya. Subjek menyatakan bahwa belum merasakan
kepuasan yang seutuhnya karena masih sering menghadapi permasalahan dalam
pernikahan dan pemikiranya masih belum dewasa serta kadang masih berpikir
dangkal dalam penyelesaian masalah tersebut. Selain itu, pendapatan atau
keuangan seringkali memicu permasalahan dalam pernikahannya. Subjek juga
menyatakan bahwa kebahagiaannya sebelum menikah dengan sesudah menikah
berbeda karena subjek mengalami permasalahan dalam pernikahannya dan
permasalahan tersebut belum pernah subjek alami saat subjek belum menikah.
Individu yang menikah di usia remaja atau usia muda mengalami masa
remaja yang diperpendek sehingga kurang terpenuhinya tugas perkembangan di
usia remaja dan mengakibatkan pernikahan usia muda rentan terhadap konflik dan
masalah karena belum siap memikul tanggung jawab sepenuhnya sebagai
sepasang suami istri. Hal tersebut membuat pasangan yang menikah muda
membandingkan antara kehidupan sebelum menikah dan sesudah menikah karena
konflik yang dialami setelah menikah tidak pernah pasangan muda alami saat
sebelum menikah, sehingga hal ini membawa pasangan muda sejahtera atau
tidaknya dalam menjalankan peran sebagai pasangan muda dalam pernikahan.
Kesejahteraan tidak didapatkan begitu saja tanpa adanya usaha untuk
mencapainya. Perbedaan kondisi antara sebelum menikah dan sesudah menikah
membuat pasangan yang menikah muda perlu melakukan penyesuaian untuk
mendapatkan kesejahteraan yang sejati dalam pernikahan. Selain itu, peristiwa
yang muncul dalam pernikahan seperti permasalahan atau konflik dan bagaimana
cara menyelesaikan permasalahan tersebut dapat menganggu stabilitas
kesejahteraan dalam pernikahan.

3
Menurut Joshi (2010) Subjective well-being tidak sama dengan
kebahagiaan meskipun istilah yang digunakan sinonim. Subjective well-being
adalah evaluasi individu terhadap kebahagiaan individu. SWB adalah kategori
yang luas dari fenomena yang mencakup respon individu terhadap emosional,
kepuasan domain, dan penilaian secara umum mengenai kepuasan hidup. SWB
terdiri dari dua komponen khas yaitu bagian afektif yang mengacu pada pengaruh
baik afek positif (PA) dan tidak adanya pengaruh negatif (NA) dan bagian
kognitif.
Wilson (dalam Diener dkk, 2005) menyatakan bahwa faktor kepribadian
dan faktor demografis memiliki hubungan dengan subjective well-being.
Seseorang yang muda, sehat, berpendidikan bagus, ekstrovert, memiliki self
esteem tinggi, optimis, religious, telah menikah, memiliki cita-cita, memiliki
semangat kerja, memiliki tingkat kebahagiaan atau subjective well-being yang
lebih tinggi daripada individu yang tidak tergolong pada kriteria diatas.
Subjective well-being atau kebahagiaan cenderung relatif stabil dalam
sepanjang rentang kehidupan seseorang, tetapi peristiwa tertentu yang dialami
individu dapat mengganggu stabilitas tersebut (Docherty, 2007). Permasalahan
yang muncul serta tidak terpenuhinya hak dan kewajiban sebagai suami istri
dalam pernikahan usia muda merupakan suatu peristiwa yang dapat mengganggu
stabilitas subjective well-being atau kesejahteraan subjektif pasangan yang
menikah muda.
Berdasarkan uraian-uraian di atas maka peneliti merumuskan pertanyaan
penelitian yaitu bagaimana subjective well-being pada pasangan yang menikah
muda dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi subjective well-being pada
pasangan yang menikah muda.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di desa KR dan di desa TG.Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan subjective well-being pada
pasangan yang menikah muda. Pengumpulan data menggunakan metode
wawancara.

4
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive
sampling, yaitu informan penelitian dipilih berdasarkan pertimbangan, kriteria
atau ciri-ciri yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.Kriteria informan
penelitian pada penelitian ini yaitu pasangan yang menikah pada usia 11 sampai
20 tahun.Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan yang menikah pada usia 17
sampai 20 tahun.
Tabel Informan Penelitian
Usia
Lama Deskripsi
No Subjek Seka Saat Pekerjaan
menikah subjek
rang Menikah
1 AGR 21 th 19 th Swasta
(laki- (buruh Belum
laki/suami pabrik) mempunyai
EA) anak.
2 EA 21 th 19 th 1 th 1 bln Swasta Keluarga inti
(perempuan (lembaga tinggal
/istri AGR) kursus dengan orang
bahasa tua suami.
korea)
3 EM (laki- 18 th 17 th Wira
Mempunyai 1
laki/suami swasta
anak.
YA) (tukang
Keluarga inti
1,5 th plitur)
tinggal
4 YA 20 th 19 th Swasta
dengan orang
(perempuan (buruh
tua suami
/istri EM) konveksi)
5 RB (laki- 24 th 19 th Swasta
laki/suami (tukang
YN) mebel dan
jual Mempunyai 1
burung) anak.
6 YN 21 th 17 th 4,5 th Wira Keluarga inti
(perempuan Swasta tinggal di
/istri RB) (mende rumahsendiri
sain bunga
pernika
han)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan, rata-rata subjek melakukan
pernikahan di usia muda karena keinginan dari diri subjek sendiri untuk

5
menghindari zina, serta dengan menikah muda maka masih banyak tenaga untuk
merawat anak cucu kelak.
Pasangan yang menikah muda juga menilai bahwa pernikahan saat ini
sudah mendekati pernikahan yang ideal. Hal ini sesuai dengan teori Eddington
dan Shuman (2005) yang menyatakan bahwa individu yang menikah lebih sering
merasa bahagia dibandingkan individu yang belum atau tidak menikah.
Pernikahan menawarkan keuntungan yang lebih besar bagi pria atau wanita dalam
hal emosi positif, namun tidak dalam kepuasan hidup.
Masing-masing subjek masih menyatakan adanya perbandingan antara
pernikahan yang dijalani saat ini dengan pernikahan yang ideal. Hal ini sesuai
dengan pendapat Eddington dan Shuman (2005) yang menyatakan bahwa
pasangan yang menikah muda belum tentu dapat mencapai kepuasan hidup yang
didalamnya mencakup kepuasan hidup secara global yang melibatkan persepsi
seseorang terhadap perbandingan keadaan hidupnya dengan standar unik yang
dimilikinya.
Selama menikah, pasangan yang menikah muda tidak pernah menemui
kendala kesehatan. Hal ini sesuai teori yang dikemukakan oleh Sen (dalam
Haughton dan Khandker 2006) bahwa status kesehatan merupakan indikator dari
karakteristik individu yang memiliki korelasi dengan kebahagiaan individu.
Pasangan yang menikah muda dapat merasakan kepuasan terhadap
keluarganya mulai dari orang tua hingga saudara. Menurut Hadikusuma (2007)
pola perilaku keluarga yang mencerminkan sinkronisasi dan integrasi di antara
anggota keluarga yang juga diindikasikan melalui anggota keluarga merupakan
ciri-ciri dari keharmonisan yang diperoleh dari kepuasan anggota terhadap
keluarga.
Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan yang telah ditekunioleh
pasangan yang menikah muda dapat memenuhi kebutuhan mulai dari kebutuhan
rumah tangga dan kebutuhan anak. Surya (2001) menyatakan bahwa tidak jarang
pria dan wanita yang tercukupi dalam pekerjaan dapat membina rumah tangga
yang harmonis, dengan karir yang dimiliki suami dan istri dapat menunjang

6
kebahagiaan dan kemajuan bagi rumah tangga, karena secara ekonomi dengan
bekerja dapat membantu kelangsungan hidup keluarga secara finansial.
Pasangan yang menikah muda setiap hari merasakan afek positif yang
meliputisenang dapat satu rumah sehingga bertemu setiap hari dengan pasangan,
menghabiskan waktu bersama keluarga dengan cara main dan berkumpul dengan
keluarga untuk menjalin kedekatan, bercanda dan bermanja bersama keluarga,
serta merasa senang karena merasa disayangi oleh pasangan dan mendapat
dukungan dari keluarga.Menurut Duran dan Barlas (2016), individu memiliki
subjective well-being yang tinggi jika individu lebih sering menghadapi
pengalaman yang menyenangkan daripada yang tidak menyenangkan.
Pasangan yang menikah muda juga merasakan afek negatif yang
meliputimerasakan kecemburuan terhadap pasangan, mudah marah-marah, dan
mengamuk. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ratnawati (2014) yang
menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara kematangan emosi dan
keharmonisan keluarga dimana semakin tinggi kematangan emosi maka semakin
tinggi keharmonisan keluarga, dan sebaliknya semakin rendah kematangan emosi
maka semakin rendah keharmonisan keluarga.
Faktor pertama yang mempengaruhi subjective well-being pada pasangan
yang menikah muda adalah optimisme. Menurut Herbyanti (2009) kebahagiaan
merupakan hal yang bisa ditumbuhkan oleh setiap individu dengan salah satu cara
yang bisa dilakukan yaitu optimis terhadap segala hal yang dilakukan.
Faktor kedua yang mempengaruhi subjective well-being pada pasangan
yang menikah muda adalah memiliki hubungan yang positif.Hal ini sesuai dengan
teori Pavot dan Diener (dalam Linely dan Joseph, 2004) bahwa hubungan yang
positif dengan orang lain berkaitan dengan subjective well-being, karena dengan
adanya hubungan yang positif tersebut akan mendapat dukungan sosial dan
kedekatan emosional.
Faktor ketiga yang mempengaruhi subjective well-being pada pasangan
yang menikah muda adalah memiliki cita-cita. Hal ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan Wilson (dalam Diener dkk, 2005) bahwa memiliki cita-cita
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi subjective well-being. Individu

7
yang memiliki cita-cita dalam cara yang positif, akan memiliki kontrol yang baik
terhadap hidupnya, sehingga memiliki impian dan harapan yang positif tentang
masa depan.
4. PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pasangan yang
menikah muda merasakan kesejahteraan yang cukup tinggi dalam pernikahan.
Kepuasan hidup secara umum yang didapat oleh ketiga pasangan muda terlihat
dari penilaian subjek terhadap pernikahan yang sudah harmonis dan sudah
mendekati pernikahan yang ideal, meskipun terkadang masih terjadi konflik
dalam pernikahan. Ketiga pasangan muda juga merasakan kepuasan hidup pada
domain tertentu seperti kesehatan, keluarga, pasangan, pekerjaan dan pendidikan
yang membuat subjek selalu mensyukuri dan menerima apa yang diperolehnya.
Secara keseluruhan pasangan muda lebih sering merasakan afek positif daripada
afek negatif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi subjective well-being pada pasangan yang menikah muda adalah
optimisme, memiliki hubungan yang positif, dan memiliki cita-cita.
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan, maka saran yang
perlu diperhatikan adalah :
Subjek diharapkan mampu berpikir dan bersikap positif terhadap segala
hal yang dialami dalam pernikahan dan selalu menjadi pribadi yang lebih baik dan
bijak dalam menjalani kehidupan pernikahan
Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti tema yang sama
diharapkan untuk lebih memperdalam faktor-faktor yang mempengaruhi
subjective well-being pada pasangan yang menikah muda dan menambah kriteria
subjek penelitian. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah pertemuan dan
menambah durasi wawancara dengan subjek penelitian, karena dalam penelitian
ini peneliti hanya melakukan satu kali pertemuan wawancara yang berdurasi
kurang lebih satu jam.

8
DAFTAR PUSTAKA

Diener, E., Lucas, R. E., & Oishii, R. (2005). The Satisfaction with Life Scale.
Journal of Personality Assesment, 49, 71-75
Docherty, G. (2007). The Effects of Romantic Dissolution on Well Being.
Psychological Bulletin, 127, 276-312
Duhri, M. K. (2016). Sebanyak 22 pasangan di Sragen Melakukan Pernikahan
Dini. Solopos. Diunduh dari http://www.solopos.com/2016/08/07/22-
remaja-sragen-jalani-pernikahan-dini-terbanyak-dipicu-hamil-duluan-
743173
Duran, S., & Barlas, G. U. (2016). Effectiveness of psychoeducation intervention
on subjective well-being and self compassion of individuals with mental
disabilities. International Journal of Research in Medical Sciences, 4(1),
181-188
Eddington, N., & Shuman, R. (2005). Subjective well-being
(Happiness).Continuing Psychology Education:6 Continuing Education
Hours. Diunduh dari http://www.texcpe.com/html/pdf/ca/ca-happiness.pdf
Fajriyah., & Laksmiwati, H. (2014). Subjective Well-Being pada Pasangan yang
Menikah karena Hamil. Character. 03(2), 1-9
Hadikusuma, H. (2007). HukumPerkawinanIndonesia ;MenurutPerundangan,
HukumAdat, &Hukum Agama. Bandung: CV. MandarMaju
Haughton, J., & Khandker, S. (2006). Handbook on Poverty and Inequality.
Washington DC: World Bank
Herbyanti, D. (2009). Kebahagiaan (Happiness) pada Remaja di Daerah Abrasi.
Jurnal Ilmiah Psikologi, 11(2),
Hukumonline. (n.d). Batas UsiaKawinCegahPernikahanDini
:Pengaturanbatasumurperkawinanmemberikepastianhukum.
Diunduhdarihttp://www.hukumonline.com/berita/baca/lt536ced2eafaf5/bat
as-usia-kawin-cegah-pernikahan-dini
Joshi, U. (2010). Subjective well-being by Gender. Journal of Economics and
Behavioral Studies, 1(1), 20-26
Julianto, A. P. (2016). Pernikahan Usia Dini Bisa Hambat Laju Ekonomi.
Kompas. Diunduh dari
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/07/20/153639126/pernikaha
n.usia.dini.bisa.hambat.laju.ekonomi
Linley, P.A., & Joseph, S. (2004). Positive Psychology in Practice. New Jersey:
John Wiley & Sons. Inc
Puspitasari, F. (2006). Perkawinan Usia Muda : Faktor-Faktor Pendorong dan
Dampaknya terhadap Pola Asuh Keluarga (Studi Kasus di Desa
Mandalagiri Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya).Skripsi.
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

9
Ratnawati, P. (2014). Keharmonisan Keluarga antara Suami Istri Ditinjau dari
Kematangan Emosi pada Pernikahan Usia Dini. Jurnal Psikologi
Universitas Semarang. 155-165
Surya, M. (2001). Bina keluarga. Semarang: CV Aneka Ilmu

10