Anda di halaman 1dari 17

Fenomena Gerakan Sosial Digital

(Studi Kasus Petisi Online Perkara Ibu Meliana)

USULAN PENELITIAN
Diajukan Sebagai Salah Satu Untuk Memenuhi Gelar Sarjana
Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Singaperbangsa Karawang

Oleh

FIZAR JULIANSYAH

1610631190066

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di era perkembangan digital yang semakin pesat saat ini telah terjadi sebuah
evolusi pada teknologi media. Pertumbuhan media informasi yang semakin pesat tiap
harinya tentu mendorong juga pada pertumbuhan jumlah pengguna media sosial sendiri.
Pengguna media sosial saat ini terdiri dari berbagai kalangan, dari mulai anak-anak
sekolah dasar (SD) hingga orang tua pun memilikinya. Hal ini tentu bermanfaat positif
apabila digunakan secara bijak, namun apabila digunakan secara negatif maka akan ada
beberapa pihak yang nantinya merasa dirugikan. Selain itu degradasi moral juga
ditakutkan akan turut membuat generasi bangsa ini kehilangan jatidirinya.

Penggunaan media sosial sebagai sarana menyampaikan aspirasi pribadi


merupakan bagian dari partisipasi masyarakat. Pada dasarnya menyampaikan aspirasi
merupakan hak setiap warga negara dalam pilar demokrasi. Menyampaikan aspirasi yang
dimaksud adalah bebas dalam mengeluarkan pendapat, persetujuan, atau bahkan
penolakan pada sebuah keputusan. Namun pada kenyataanya penyampaian aspirasi
masyarakat ini menjadi hal yang kerap dilematis, sehingga tak jarang masyarakat lebih
memilih mengajukan tuntutan langsung ke pengadilan atau melalui petisi daripada
melakukan demonstrasi. Gerakan sosial seperti ini sudah terjadi pada zaman Hindia-
Belanda (sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia). Meskipun petisi-petisi
yang dilayangkan kepada penguasa tersebut tidak selalu dapat berhasil, tetapi aksi ini
menjadi titik yang diperhitungkan dalam pergerakan nasional.

Petisi merupakan sarana dalam menyampaikan aspirasi yang mana dilakukan


secara kolektif, tuntutan dikumpulkan dari sekelompok orang yang memiliki tujuan yang
sama dan kemudian diajukan pada penerima tuntutan. Petisi pada umumnya dibuat oleh
seorang pembuat petisi atau inisiator dengan tujuan untuk mendapat pemahaman yang
sama sehingga dapat meraup lebih banyak dukungan terhadap suatu tuntutan, dukungan
dilakukan melalui sebuah penandatanganan petisi. Lebih banyak tanda tangan didalam
petisi mengindikasikan bahwa usulan atau kritik tersebut mewakili suara atau kepentingan
dari banyak orang.
Di era konvergensi media saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa seiring
bergesernya arus globalisasi telah membawa masyarakat pada tingkatan komunikasi yang
baru bersama dengan hadirnya internet. Kini upaya penyampaian aspirasi pun bisa
dilakukan secara virtual atau via internet. Petisi yang awal mula penyampaian dan
penggalangan dukunganya dilakukan secara langsung, saat ini juga bisa dipergunakan
secara online atau yang disebut dengan petisi online. Petisi online atau e-petition saat ini
menjadi sebuah media baru yang memiliki fungsi dimana masyarakat dapat
menyampaikan aspirasinya secara online dan dapat menggalang dukungan sebanyak
mungkin untuk menciptakan sebuah perubahan dengan membuat sebuah petisi yang
ditulis dan dibagikan secara virtual atau online.

Salah satu media penyedia petisi online terbesar di dunia, yakni Charge.Org.
Change.org diluncurkan pada tahun 2007 dan dioperasikan oleh Change.org, Inc., sebuah
perusahaan bersertifikat B dari Amerika (perusahaan yang didedikasikan untuk dampak
sosial yang positif) yang berpusat di San Fransisco, California. Change.org diprakarsa dan
dikembangkan oleh alumnus Stanford University, Benjamin Michael Rattray pada tahun
2007.

Pada awalnya, Change.org diciptakan sebagai jejaring komunitas local yang


memiliki concern pada masalah-masalah sosial, bebrapa waktu berselang Change.org
merubah fungsi sebagai website berisi artikel-artikel aspirasi, dan kemudian website
tersebut dibangun ulang menjadi wadah petisi online berupa situs resmi dengan cakupan
ranah sosial serta negara yang lebih luas. Change.org bertransformasi menjadi situs petisi
online yang resmi pada 2011 dengan alamat website bernama Change.org.

Dalam pandangan penulis partisipasi masyarakat dalam bentuk petisi online ini
merupakan bagian dari fenomena gerakan sosial. Tulisan ini juga bertujuan untuk
mengkaji fenomena petisi online yang beberapa tahun terakhir ini populer. Sebagai
gambaran singkat terhadap fenomena yang ada, dapat kita lihat dari salah satu kasus yang
terjadi pada Ibu Meiliana yang memprotes volume suara adzan di Tanjungbalai Sumatra
Utara. Kejadian ini menjadi begitu menarik untuk diperhatikan. Pertama, karena kasus ini
sendiri cepat menyebar dan populer yang kemudian menimbulkan pro-kontra sehingga
melahirkan petisi yang menuntut pembebasan Ibu Meliana. Kedua, karena jangkauannya
yang sudah meluas sehingga melahirkan respon dari pemerintah. Dengan pengguna aktif
dari sosial media tersebut dapat kita lihat seberapa cepat pemerintah merespon petisi-
petisi yang bermunculan tersebut.

Fenomena petisi online ini dikaji dengan menggunakan pendekatan kajian


literatur. Penulis mengumpulkan literature dari tulisan internet, gerakan sosial, serta
partisipasi masyarakat. Pada tulisan ini juga dimasukkan pandangan paradoksal soal
penggunaan teknologi internet oleh warga masyarakat dalam memenuhi haknya.

1.2 Identifikasi Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis memberikan identifikasi masalah yang


akan dijadikan fokus penelitian sebagai berikut :

1.2.1 Keefektifan petisi online sebagai gerakan sosial yang baru.


1.2.2 Penyebab pihak Change.org mewacanakan petisi kasus Ibu Meilana.
1.2.3 Cara kerja petisi online dalam mempengaruhi keputusan atau sikap penegak
hukum.

1.3 Rumusan Masalah Penelitian


1.3.1 Bagaimana keefektifan petisi online sebagai bentuk gerakan sosial baru?
1.3.2 Mengapa pihak Change.org mewacanakan petisi “Bebaskan Meiliana” dalam
situsnya?
1.3.3 Bagaimana petisi online ini dapat mempengaruhi putusan atau sikap penegak
hukum juga pemerintah?

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Memberikan informasi tentang keefektifan petisi online dalam gerakan sosial
yang baru.
1.4.2 Memberikan informasi tentang kegunaan petisi online pada situs Change.org.
1.4.3 Memberikan gambaran cara kerja petisi online dalam mempengaruhi putusan atau
sikap dari penegak hukum maupun pemerintahan.
1.5 Manfaat Penelitian

Peneliti mengharapkan agar penelitian yang dilakukan dapat bermanfaat baik secara
teoritis maupun juga secara praktis, yang mana kedua manfaat tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
pijakan dan referensi pada penelitian-penelitian selanjutnya guna mengembangkan
dan menyempurnakan lebih jauh lagi hasil temuannya yang berkaitan dengan gerakan
sosial berbasis digital serta menjadi bahan kajian lebih lanjut.

2. Manfaat Praktis
a. Bagi Masyarakat

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan,


serta kepercayaan terhadap masyarakat luas dalam penggunaan petisi online.
Disamping itu juga, penelitian ini diharapkan mampu mengajak minat masyarakat
dalam berpartisipasi.

b. Bagi Pemerintah

Sebagai bahan masukan bagi pemerintah agar lebih cepat tanggap dalam
menanggapi petisi online yang sedang marak saat ini.

c. Bagi Peneliti

Sebagai sarana pembelajaran untuk memperleh pengetahuan serta menjadi


referensi mengenai keefektifan petisi online.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka bertujuan untuk menjelaskan teori yag relefan dengan masalah
yang diteliti, tinjauan pustaka berisikan tentang data-data sekunder yang peneliti peroleh
dari hasil penelitian pihak lain yang dapat dijadikan asumsi-asumsi yang memungkinkan
terjadinya penalaran untuk menjawab masalah yang diajukan peneliti.

2.1.1 State Of The Art

Berdasarkan studi pustaka, peneliti menemukan beberapa referensi penelitian


terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang sedang peneliti lakukan. Studi penelitian
terdahulu sangat penting sebagai bahan acuan yang membantu penleiti dalam
merumuskan asumsi dasar tentang Fenomena Gerakan Sosial Digital(Studi Kasus Petisi
Online Perkara Ibu Meliana).Berikut adalah beberapa hasil penelitian yang dijadikan
sebagai referensi :

Table 2.1 State Of The Art

No Nama Penulis Judul Penelitian Hasil Penelitian


1. Anang Sugeng Pengaruh media Adanyaa perubahan-perubahan dalam
Cahyono sosial terhadap hubungan sosial (social relationships),
perubahan sosial keseimbangan (equilibrium) hubungan
masyarakat di sosial dan bentuk perubahan pada lembaga
Indonesia. kemasyarakatan didalam suatu
masyarakat, yang mempengaruhi sistem
sosialnya,termasuk didalamnya nilai-nilai,
sikap dan pola perilaku diantara kelompok
dan individu.
2. Arum Nurhasanah Transformasi Berdasarkan hasil penelitian yang telah
gerakan sosial di dilakukan, gerakan sosial mengalami
ruang digital. transformasi pada era 2000-an dimana
sebelumnya gerakan sosial pada
mahasiswa fakultas ilmu sosial dan ilmu
politik UGM lebih menekankan ada
diskusi fisik dan membangun jaringan
dengan mahasiswa diluar UGM dengan
cara pertemuan fisik. Terjadinya
perkembangan teknologi mengubah cara
atau strategi gerakan sosial pada
mahasiswa fakultas ilmu sosial dan ilmu
politik di UGM, mulai dari ranah fisik
menuju ranah digital dengan penggunaan
media online yang sekarang ini marak
digunakan oleh masyarakat luas.
3. I Gusti Agung Ayu Media Sosial Media sosial mampu mendorong
Kade Galuh Sebagai Strategi representasi demokratis karena berhasil
Gerakan Bali Tolak mendorong isu publik menjadi agenda
Reklamasi politik. Keberhasilan ini terjadi ketika
aktivitas media sosial mampu
bertransformasi menjadi aksi nyata.
Sejumlah aksi nyata yang pernah
dilakukan oleh ForBALI antara lain parade
budaya di lapangan Renon, pernyataan
tuntutan pembatalan Perpres
No.51/Thn.2014, rapat banjar diseluruh
desa adat, diskusi hasil kebijakan MP3EI,
hingga pemasangan baliho Tolak
Reklamasi oleh desa adat.
4. Ambar Sari Dewi Gerakan sosial di Hadirnya gerakan gerakan open source ,
dunia maya dengan ciri gerakan ini didasari oleh
sebuah tujuan yang hendak dicapai, ada
ideologi atau keyakinan yang mendasari
perjuangan tersebut, dan gerakan tersebut
terorganisasi dengan baik. Gerakan open
source memiliki tujuan untuk memberikan
kebebasan, khususnya terhadap pengguna
software. Bebas menurut gerakan ini
adalah kebebasan untuk menjalankan
program, memodifikasi, mendistribusi
ulang (re-distribusi) software original
dan/atau software yang telah dimodifikasi
167. Untuk dapat melakukan hal-hal
tersebut, maka akses terhadap source code
adalah syarat utama yang harus dimiliki
seseorang. Inilah inti dari perjuangan
gerakan open source .

2.1.2 Teori Penelitian


1. Teori Power In Movement

Power in movement merupakan teori tentang gerakan sosial


masyarakat yang digagas oleh Sidney Tarrow. Teori power in movement
berusaha menempatkan fakta-fakta sosial sebagai sebuah kontruksi kekuatan
elite pemerintah. Di mana setiap kebijakan yang di ambil memiliki muatan
kepentingan, politik, ekonomi, yang kemudian akan menimbulkan berbagai
macam reaksi sosial.

Power in movement berasumsi bahwa gerakan sosial yang lahir dalam


sebuah sistem sosial masyarakat pada hakikatnya didasarkan atas tujuan, dan
solidaritas bersama dalam interaksi berkelanjutan dengan kelompok elite,
saingan atau musuh dan pemegang otoritas. Teori Power in Movement
melakukan analisis dengan melihat gerakan sosial masyarakat sebagai suatu
upaya melakukan prostes atas kebijakan elite pemerintahan, dan segala sesuatu
disepakati secara sepihak tanpa mengedepankan sosialisasi secara intens
dengan masyarakat.

Dalam Power in Movement (1998), tarrow menegaskan bahwa


gerakan-gerakan sosial adalah bentuk paling modern dari politik perseteruan
(contentious politics), yang terjadi “ketika orang-orang biasa, bersama-sama
menggalang kekuatan dalam konfrontasi kolektif mereka melawan kelompok
elite, pemegang otoritas, dan musuh-musuh politik.”Dalam teorinya, Tarrow
ingin menunjukkan bahwa bahkan orang biasa sekalipun bisa terlibat dalam
gerakan sosial, karena sumber daya yang diperlukan untuk keterlibatan itu bisa
sangat minimal, yakni mulut untuk meneriakkan perlawanan di dalam sebuah
protes.

2. Teori Teori Gerakan Sosial Baru ( New Social Movement Theory)

Teori gerakan sosial baru ini menegaskan bahwa penyebab munculnya


gerakan-gerakan baru ini tak dapat dilepaskan dengan teori Karl Marx yang
mengatakan bahwa “bangunan bawah,” yakni ekonomi sangat
mempengaruhi“bangunan atas” seperti politik, sosial dan budaya. Dengan
perkataan lain, cara produksi kehidupan material akan mempengaruhi proses
kehidupan politik, sosial dan budaya. Bukan kesadaran manusia yang
menentukan keadaaannya,melainkan corak ekonomi yang menentukan
kesadaran mereka. Corak ekonomi kapitalisme dan politik liberal memiliki
kelemahan seperti adanya jurang yang lebar dalam penguasaan politik dan
ekonomi, sehingga adanya realitas orang yang ditindas dan penindas dianggap
hal yang wajar dan alamiah.

Teori gerakan sosial baru menekankan peranan agen atau aktor


perubahan bukan lagi kaum buruh atau petani, melainkan sangat beragam
seperti feminis, ekolog, aktivis perdamaian, aktivis anti-nuklir, aktivis Hak
Asasi Manusia dan pengusung otonomi. Para pelopor teori gerakan sosial baru
yang dimotori para pemikir yang tergabung di dalam Frankfurt School melihat
bahwa munculnya Gerakan Sosial Baru dengan agen atau aktor yang berbeda,
juga isu-isu yang diusung relatif berbeda dengan gerakan petani atau gerakan
buruh.Yang perlu disadari bahwa aktor dari gerakan sosial baru itu berasal dari
basis sosial yang sangat luas dan melampaui kategori sosial seperti
gender,pendidikan, dan kelas. Para aktor gerakan sosial baru ini berjuang
bukan untuk kepentingan kelas, melainkan berjuang demi kemanusiaan. Aktor
gerakan sosial baru umumnya berasal dari kelas menengah.

Claus Offe mengatakan bahwa apa yang membedakan gerakan sosial


baru adalah penolakan mereka pada basis identifikasi diri yang mapan, karena
mereka bukan dalam bahasa politik, “kanan” atau “kiri,” “liberal” atau
“konservatif,” tidak juga dikenali berdasarkan kelas, gender, suku,
umur,lokalitas dan sebagainya. Offe melacak aktor gerakan sosial baru ini
dalam kelas menengah baru, khususnya unsur-unsur kelas menengah ini yang
bekerja dalam profesi pelayanan kemanusiaan, unsur-unsur kelas menengah
lama dan orang- orang yang menempati posisi pinggiran. Dalam kaitan ini
dapat dipahami bilamana Cohen menegaskan bahwa aktor gerakan sosial baru
lebih memusatkan perhatiannya pada politik akar rumput dan menciptakan
asosiasi- asosiasi demokratis yang harisontal dan langsung berhimpun dalam
federasi yang longgar pada level nasional.Menurut Foweraker, teori gerakan
sosial baru ini tidak dapat dilepaskan dari konstituen, nilai, dan bentuk-bentuk
aksi yang diciptakan oleh perubahan struktural di dalam masyarakat modern.
Ini berarti gerakan sosial baru adalah gerakan yang merupakan bentuk respon
baru terhadap keluhan baru (new grievances). Keluhan-keluhan baru dari
masyarakat modern ini seperti masalah lingkungan, persenjataan nuklir, hak-
hak kaum perempuan dan lain-lain.

3. Teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory)

Resource Mobilization Theory (RMT), pertama kali diperkenalkan


oleh Anthony Oberschall. Oberschall mengkritik Mass Society Theory yang
dikembangkan Kornhauser, yang pada waktu itu merupakan perspektif yang
sangat dominan dalam mengkaji gerakan social (social movements). Menurut
Oberschall, mass society theory tidak mampu ketika menjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi dalam gerakan anti-demokrasi, seperti Gerakan Nazi
(Nazism) di Jerman. Resource Mobilization Theory (RMT), memfokuskan
perhatiannya kepada proses-proses sosial yang memungkinkan muncul dan
berhasilnya suatu gerakan. Resource Mobilization Theory lebih banyak
memberikan perhatian terhadap factor-faktor ekonomi dan politik daripada
Mass Society Theory atau Relative Deprivation Theory, serta kurang
memberikan perhatian terhadap sifat-sifat psikologis dari anggota gerakan.
Teori ini juga dibangun tidak didasakan atas asumsi bahwa terdapat motivasi
individu ketika bergabung dalam suatu gerakan, dan adanya keterasingan
individu (individual alienation) adalah dianggap tidak relevan (kurang tepat).
Resource Mobilization Theory berasumsi bahwa dalam suatu
masyarakat dimana muncul ketidakpuasan maka cukup memungkinkan untuk
memunculkan sebuah gerakan sosial.Faktor organisasi dan kepemimpinan
merupakan faktor yang dapat mendorong atau menghambat suatu gerakan
sosial (social movements). Menurut Oberschall dalam Locher (2002), istilah
mobilisasi (mobilization) mengacu kepada proses pembentukan kerumunan,
kelompok, asosiasi, dan organisasi untuk mencapai suatu tujuan kolektif.

4. Teori Perilaku Kolektif (Collective Behavior Theory)

Teori perilaku kolektif ini tidak luput dari akar pemikiran struktural
fungsionalisme dan interaksionisme, di samping pemikiran lainnya. Dalam
perspektif struktural fungsionalisme dan interaksionisme inilah teori perilaku
kolektif ini akan dilihat dari berbagai pemikiran tokoh-tokohnya sesuai
denganakar teori yang mereka anut, atau yang mereka yakini.

Pemikiran interaksionisme merupakan teori dalam sosiologi


yangdikembangkan George Herbert Mead. Karena itu tradisi pemikiran teori
perilakukolektif (collective behaviour) senantiasa dihubungkan dengan aliran
pemikiraninteraksionisme, di samping pemikiran Chicago. Robert E. Park
yang dikenal sebagai “bapak perilaku kolektif” Amerika bersama koleganya,
Ernest W Burgess, menulis buku teks yang berjudul Introduction to the
Science of Sociology. Dalam buku ini terdapat bab khusus yang mengulas
perilaku kolektif. Menurut Park dan Burgess, perilaku kolektif itu adalah
perilaku dari individu yang berada di bawah pengaruh dorongan hati yang
lazim dan kolektif. Dengan kata lain, perilaku kolektif itu merupakan hasil
dari interaksi sosial. Bertolak dari rumusan ini, maka Park dan Burgess
memasukkan kerusuhan sosial (social unrest), gerakan massa (mass
movement), kebangkitan kembali (revival),kerumunan (crowds), perubahan
(reform), revolusi (revolutions) sebagai perilaku kolektif.

Ralph Turner dan Lewis Killian yang juga menganut pemikiran


interaksionisme mengembangkan pula teori perilaku kolektif. Mereka
memandang perilaku kolektif itu sebagai usaha bersama untuk memperbaiki
situasi yang rusak dengan cara membangun kembali secara baik, bukanlah hal
yang irasional. pemikiran Turner dan Killian mengenai gerakan sosial dapat
diinterpretasikan bukanlah sebagai “mahluk yang patuh,” melainkan sebagai
“pencipta perubahan sosial.”

Teori perilaku kolektif juga akan dilihat dari sudut pandang tokoh-
tokoh sosiologi yang menganut struktural fungsionalisme, seperti Talcott
Parson yang membangun teori struktur-fungsional sebagai kombinasi dari
pemikiran Weber dan Durkheim. Bagi Parson, gerakan sosial adalah implikasi
dari peristiwa- peristiwa yang luar biasa. Perubahan sosial yang besar sangat
tergantung pada kemampuan individual, juga reaksi mereka terhadap
perubahan itu sendiri

Salah seorang penganut struktural fungsional yang lain, Neil Smelser,


merumuskan perilaku kolektif dalam lima jenis, yaitu: panik, keranjingan,
permusuhan, gerakan berorientasi pada norma dan gerakan berorientasi pada
nilai. Konsep kuncinya adalah ketegangan struktural (structural strain) yang
menyebabkan munculnya perilaku kolektif. Ketegangan struktural ini
bukanlah induvidu yang mengalami frustrasi atau merasakan ketidakadilan,
melainka adanya gangguan dalam sistem sosial yang tak lagi bekerja secara
harmonis. Dengan demikian, tidak bekerjanya sistem sosial tersebut
mencerminkan adanya kerusakan dari kontrol sosial. Karena itu perilaku
kolektif tersebut merupakan sesuatu yang “mengganggu siklus.”

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa teori perilaku kolektif


memandang gerakan sosial sebagai irrasional dan psiko-patologis, meski ada
yang berpendirian bahwa gerakan sosial dalam perspektif teori perilaku
kolektif itu merupakan bentuk kreativitas. Terlepas dari dua pendirian
penganut teori kolektif mengenai gerakan sosial ini, yang jelas teori perilaku
kolektif ini mengandung kelemahan dalam melukiskan mekanisme
kemunculan dan fungsi gerakan sosial secara sistematis ke arah tahap-tahap
perkembangan masyarakat.

5. Teori Proses Politik (Political Process Theory)


Foweraker mencatat bahwa beberapa tahun belakangan para ahli
gerakan sosial telah berupaya memperbaiki dan memperluas teori mobilisasi
sumber daya atau menerima bentuk-bentuk sintesis antara pendekatan gerakan
sosial baru dan pendekatan mobilisasi sumber daya.
Dengan demikian terlihat bahwa perbedaan penekanan dalam teori
mobilisasi sumber daya dan teori proses politik. Sebagaimana dikemukan Mc
Adam dan kawan-kawan, teori mobilisasi sumber daya memusatkan perhatian
pada peranan sumber daya dan organisasi formal di dalam kemunculan
gerakan. Sedangkan teori proses politik lebih menekankan pentingnya
memperluas peluang politik sebagai tujuan dari aksi kolektif. Ini berarti teori
proses politik dapat melihat perbedaan yang tegas mengenai lingkungan
politik dari gerakan sosial lama yang beroperasi pada masyarakat industri dan
lingkungan politi gerakan sosial baru yang beroperasi pada masyarakat pasca-
industri.
Menurut Muukkonen, teori proses politik (political process theory)
memperlihatkan betapa pentingnya memahami keadaan struktural mengenai
aktivis-aktivis yang potensial maupun dukungan politik atau rintangannya.
Gagasan ini berakar dari pemikiran Ralf Dahrendorf, yang dikenal sebagai
revisionis Marxis dengan karyanya berjudul Class and Class Conflict in
Industrial Society yang terbit pada tahun 1959.
Teori Proses politik tersebut, menurut Della Porta dan Mario Diani,
dapat menjelaskan secara sistematik mengenai lingkungan dan institusi politik
dimana gerakan sosial beroperasi. Teori ini memusatkan perhatiannya pada
hubungan antara lembaga aktor politik dan gerakan protes. Di dalam tatanan
politik yang ada, gerakan sosial senantiasa berkaitan dengan aktor yang
melakukan konsolidasi guna menempatkan posisi gerakannya yang tepat
dalam politik yang ada. Konsep yang sudah berhasil dirumuskan dengan baik
mengenai lingkungan eksternal, hubungan antara pembangunan dan gerakan
sosial adalah konsep struktur kesempatan politik (political opportunity
structure).

Dengan demikian dalam penelitian ini kami menggunakan teori


gerakan sosial baru menurut Foweraker. Teori ini tidak dapat dilepaskan dari
konstituen, nilai, dan bentuk-bentuk aksi yang diciptakan oleh perubahan
struktural di dalam masyarakat modern. Ini berarti gerakan sosial baru adalah
gerakan yang merupakan bentuk respon baru terhadap keluhan baru (new
grievances).
2.2 Kerangka Pemikiran dan Proposisi
2.2.1 Kerangka Pemikiran

Keberadaan Situs Change.org

Menurut Park dan Burness


yang termasuk bagian dari
FENOMENA gerakan sosial yang baru,
Gerakan sosial terjadi bukan
Gerakan Sosial Digital Petisis
hanya karena permasalahan
Online untuk Ibu Merliana
antar kelas. Tetapi juga,
gerakan sosial muncul karena
adanya perilaku kolektif dari
Rumusan masalah: individu yang berada dibawah
pengaruh dorongan hati.
 Keefektifan Petisi Online
Dengan kata lain, gerakan
 Cara kerja petisi online.
sosial juga muncul karena
 Penyebab Change.org
adanya rasa empati individu
mengankat kasus Ibu terhadap seseorang yang tidak
Meliana
teradili.

Hasil Penelitian.

Adanya kepercayaan masyarakat


terhadap situs Change.org dalam
menggalang dukungan lewat
petisi online.

2.2.2 Proposisi

Dari beberapa teori penelitian diatas, teori yang dikemukakan oleh


Frankfurt School dirasa cocok dengan objek penelitian yang kita kerjakan, Frank
mengatakan bahwa gerakan sosial baru terjadi dengan aktor-aktor yang berbeda
juga isu-isu yang semakin luas. Para aktor gerakan sosial baru ini berjuang bukan
untuk kepentingan kelas, melainkan berjuang demi kemanusiaan. Dalam situs
Change.org ini merupakan salah satu tempat dalam gerakan sosial yang
dilatarbelakangi oleh simpati terhadap Ibu Meliana, karena dirasa tidak
memperoleh keadilan.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Pendekatan penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode.
Menurut Hadad Nawari, metode penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur
pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan baik
subjek ataupun objek pelelitian seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain pada saat
sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagainya. Penelitian ini
bermaksud untuk menggambarkan bagaimana fenomena gerakan sosial digital yang
digambarkan lewat situs Change.org mengenai petisi online terhadap ibu Meiliana.
Petisi merupakan sarana dalam menyampaikan aspirasi yang mana dilakukan secara
kolektif, tuntutan dikumpulkan dari sekelompok orang yang memiliki tujuan yang sama
dan kemudian diajukan pada penerima tuntutan. Petisi pada umumnya dibuat oleh
seorang pembuat petisi atau inisiator dengan tujuan untuk mendapat pemahaman yang
sama sehingga dapat meraup lebih banyak dukungan terhadap suatu tuntutan, dukungan
dilakukan melalui sebuah penandatanganan petisi.
Penelitian kualitatif membuat peneliti memiliki peran sebagai instrument primer
pada seluruh proses penelitian sejak pengumpulan data, pengolahan data hingga
penyusunan kesimpulan. Metode ini diambil karena dapat menangkap makna, proses,
dan konteks yang berlaku dalam setting penelitian. Dalam ilmu politik, metode
penelitian kualitatif banyak digunakan karena para partisipan dalam dunia politik tidak
enggan untuk membicarakan aktivitas politiknya (Stocker, 2010). Penekanan pada
penelitian kualitatif juga sesuai dengan strategi penelitian yaitu untuk memahami
pengalaman dan praktik manusia atau actor bukan pembuatan prediksi. Penjelasan
dalam penelitian kualitatif juga berupa pengalaman dan tafsiran atas tindakan bukan
untuk menarik kesimpulan tentar relasi fenomena.

3.2 Objek Penelitian


Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, objek adalah hal, perkara atau orang yang
dibahas, dikaji, diteliti dalam riset sosial. Dengan kata lain objek penelitian adalah
sesuatu yang menjadi fokus dari sebuah penelitian. Menurut Sugiyono (2012) objek
penelitian adalah suatu atribut dari orang, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Berdasarkan pengertian diatas, maka Objek utama penelitian fenomena gerakan sosial
digital petisi online dalam kasus Ibu Meliana adalah apa yang disebut Jurgen Hebernas sebagai
“ruang publik”. Dalam hal ini ruang publik yang dimaksud adalah tempat kegiatan petisi online,
yakni situs Change.org. pada websitenya, dijelaskan bahwa Change.org menjalankan peran
sebagai ruang publik yang digunakan sebagai sarana kegiatan penyampaian aspirasi masyarakat
yang konsisten pada masalah-masalah sosial.

3.3 Jenis Dan Sumber Data

Dalam penelitain ini menggunaan sumber data sekunder. Dimana data yang diperoleh
melalui studi literatur seperti dokumen-dokumen tertulis, studi kepustakaan, dan hasil-hasil
penelitian terkait dengan gerakan sosial.

3.4 Teknik Pengumpulan Data


Untuk pengumpulan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode library
reseach atau studi pustaka. Dengan cara menelusuri, mengumpulkan, dan membahas bahan-
bahan informasi dari test book, yaitu buku bacaan, artikel, makalah, jurnal, majalah/surat
kabar, website dan lain-lain yang berkaitan dengan objek penelitian.

3.5 Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan secara bersamaan


atausimultan dengan pengumpulan data (Creswell, 2010;298). Analisis kualitatif
melibatkan pengklasifikasian benda-benda, orang-orang, dan peristiwa-peristiwa serta
properti lain yang menjadi analogi ketiganya. Pada penelitian ini, data dianalisis melalui
tiga tahap, yaitu : reduksi data, penyajian data, dan penyusunan kesimpulan. Tahapan
tersebut diuraikan dalam penjelasan berikut :

1. Tahap reduksi data terdiri dari pemilihan data, mentransformasikan data mentah
seperti pengetikan transkrip data, memilah, dan menyusun data tersebut dalam
kategori yang berbeda sesuai dengan sumber data.
2. Penyajian data dilakukan dengan menyusun data menjadi kumpulan informasi yang
terorganisir. Data disajikan dalam bentuk narasi.
3. Penyusunan kesimpulan dilakukan melalui proses analisis data. Proses analisis data
dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Interpretasi analisis tersebut juga
perlu dilakukan berulang-ulang sehingga proses reduksi data dapat menghasilkan
ringkasan temuan, klasifikasi data dan cuplikan kasus tersebut.