Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Menurut bentuk dan struktur selnya makhluk hidup dibedakan menjadi
dua yaitu makhluk hidup bersel banyak dan makhluk hidup bersel satu, makhluk
ini tidak dapat terlihat dengan kasat mata manusia, karena panca indra manusia
memiliki kemampuan daya pisah atau daya lihat yang sangat terbatas. Oleh karena
itu, banyak masalah mengenai benda atau organisme yang akan diamati dan
pengamatan itu hanya bisa dilakukan dengan menggunakan suatu alat bantu.
Keterbatasan kemampuan panca indera manusia dalam melakukan pengamatan
terhadap obyek yang sangat halus adalah kemampuan daya pisah (Yudiarti, 2004).
Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu alat bantu yang mampu untuk
meningkatkan kemampuan daya pisah seseorang, sehingga memungkinkan untuk
dapat mengamati obyek yang sangat halus. Mikroskop ialah instrumen yang
paling bermanfaat dan paling banyak digunakan di laboratorium mikroskopi.
Panca indra manusia memiliki kemampuan daya pisah yang terbatas. Melalui
bantuan mikroskop dapat diperoleh perbesaran sehingga memungkinkan untuk
mengamati obyek yang sangat halus yang tidak tampak jika dilihat dengan mata
telanjang. Mikroskop memungkinkan perbesaran kisaran luas sampai ratusan ribu
kali. Perbesaran terbatas oleh daya pisah suatu mikroskop yaitu kemampuannya.
Mikroorganisme merupakan semua makhluk yang berukuran beberapa
mikron atau lebih kecil lagi. Termasuk dalam golongan ini adalah bakteri,
cendawan atau jamur tingkat rendah, ragi yang menurut sistematik masuk
golongan jamur, ganggang, hewan bersel satu atau protozoa, dan virus yang hanya
nampak dengan mikroskop electron. Mikroorganisme umumnya terdapat di mana-
mana, seperti dalam tanah, di lingkungan akuatik, berkisar dari aliran air sampai
lautan, dan atmosfer. Mikroorganisme tersebut mempunyai beberapa peranan
salah satunya mikroorganisme yang hidup di dalam tanah dapat membantu
pembentukan struktur tanah yang mantap, karena mikroorganisme tanah dapat
mengeluarkan (sekresi) zat perekat yang tidak mudah larut dalam air.

1
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk sel dari bawang segar dan bawang yang busuk?
2. Bagaimana bentuk sel dari roti segar dan roti busuk?
3. Apa saja faktor yang menyebabkan pembusukan pada makanan dan buah-
buahan?

1.3. Tujuan
1. Mengetahui bentuk sel dari bawang segar dan bawang yang busuk.
2. Mengetahui bentuk sel dari roti segar dan roti busuk.
3. Mengetahui faktor yang menyebabkan pembusukan pada makanan dan
buah-buahan.

1.4. Manfaat
1. Dapat mengetahui bentuk sel dari bawang segar dan bawang yang busuk.
2. Dapat mengetahui bentuk sel dari roti segar dan roti busuk.
3. Dapat mengetahui faktor yang menyebabkan pembusukan pada makanan
dan buah-buahan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sel Prokariotik dan Eukariotik


Sel prokariotik merupakan sel yang tidak memiliki membran inti. Contoh
sel prokariotik yang ada di alam makhluk uniseluler berupa bakteri (bacteria) dan
sianobakteria (cyanobacteria). Bakteri memiliki ukuran panjang antara 0,15-15
µm. Bagian atau lapisan luar sel terdiri atas dinding sel, kapsula, dan membran
plasma. Kapsula merupakan bagian dari sel yang berlendir di bagian luar yang
berperan sebagai pelindung sel. Bahan pembentuk kapsula sel adalah berupa
senyawa polisakarida. Sel prokariotik umumnya memiliki struktur berupa dinding
sel, membran plasma, sitoplasma, mesosom, ribosom, DNA, dan RNA.

Gambar 2.1. Struktur Sel Prokariotik


(Sumber: Saefudin, 2009)

Sel eukariotik merupakan sel yang memiliki sistem endomembran dan inti
sel memiliki membran. Sistem endomembran merupakan suatu sel yang memiliki
organel-organel bermembran di dalamnya seperti retikulum endoplasma, badan
golgi, lisosom, dan mitokondria. Sel yang tergolong dalam sel eukariotik adalah
sel hewan dan tumbuhan. Struktur sel eukariotok memiliki 3 komponen utama
yaitu membran plasma, sitoplasma, dan organel-organel yang tersebar dalam sel.
Selaput membran sel bersifat selektif permeabel, artinya hanya dapat dilalui
molekul-molekul tertentu seperti glukosa, asam amino, gliserol dan berbagai ion.
Sel prokariot dan eukariot memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

3
Pada sitoplasma terdapat organel-organel yang menyebar dalam cairan
kental yang merupakan koloid, namun tidak homogen yang disebut dengan
matriks. Organel inilah yang menjalankan fungsi kehidupan seperti sintesis bahan,
respirasi (perombakan), penyimpanan, serta reaksi terhadap rangsang. Sebagian
besar proses di dalam sitoplasma diatur secara enzimatik. Sitoplasma merupakan
cairan yang terdapat di dalam sel, kecuali di dalam inti dan organel sel. Khusus
cairan yang terdapat didalam inti sel dinamakan dengan nukleoplasma. Sitoplasma
bersifat koloid, yaitu tidak padat dan tidak cair. Penyusun utama dari sitoplasma
adalah air yang berfungsi sebagai pelarut suatu zat-zat kimia serta sebagai media
terjadinya reaksi kimia sel. Selain dari air di dalamnya terlarut banyak molekul-
molekul kecil, ion dan protein yang terkandung didalam sitoplasma tersebut.

Gambar 2.2. Struktur Sel Eukariotik


(Sumber: Saefudin, 2009)

2.2. Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan


Hewan dan tumbuhan adalah dua jenis klasifikasi makhluk hidup yang
sering djumpai di lingkungan sekitar manusia. Baik hewan maupun tumbuhan
juga memiliki suatu sel-sel penyusunnya seperti makhluk hidup lain. Terdapat
perbedaan sel tumbuhan dan sel hewan yang bisa di amati dari beberapa bagian
dan fungsinya. Struktur hewan dan tumbuhan memang cukup berbeda jauh. Dari
segi fisik, cara bertahan hidup, karakteristik hingga jenis-jenisnya, jelas sekali jika
hewan sangat berbeda dari tumbuhan. Tumbuhan adalah organisme yang dapat
menghasilkan makanan sendiri melalui proses fotosintesis, sementara pada hewan
harus mencari makanan dengan sendiri. Sebagian besar organel-organel sel
sebenarnya dimiliki oleh sel pada hewan maupun sel terdapat pada tumbuhan.

4
Tabel 2.2. Perbedaan Sel Hewan dan Tumbuhan
Organel Sel Hewan Sel Tumbuhan
Dinding sel Tidak ada Ada
Sentriol Ada Tidak ada
Mikrofilamen Ada Tidak ada
Vakuola Tidak ada Ada
Lisosom Ada Tidak ada
Kloroplas Tidak ada Ada
Silia dan flagella Ada Tidak ada
(Sumber: Yudiarti, 2004)

2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri


Bakteri yang sedang tumbuh, jumlah selnya akan meningkat dalam jumlah
yang besar dalam waktu yang sangat singkat dan akibat pertumbuhan tersebut
akan terbentuk suatu koloni, serta pertumbuhan bakteri tersebut dapat diukur atau
dihitung. Berbagai faktor sangat menentukan apakah suatu kelompok mikroba
yang terdapat di dalam suatu lingkungan dapat tumbuh subur, tetap dorman atau
mati. Dalam pertumbuhannya, bakteri memerlukan unsur kimiawi serta kondisi
fisik tertentu. Berikut ini faktor-faktor mempengaruhi pertumbuhan bakteri yaitu:
2.3.1. Suhu
Suhu mempengaruhi laju pertumbuhan dari bakteri, mempengaruhi jumlah
total pertumbuhan, merubah proses-proses metabolik tertentu serta morfologi dari
bentuk luar sel. Kisaran suhu bagi mikroba terbagi 3 tahap yaitu suhu minimum,
suhu maksimum dan suhu optimum. Suhu pertumbuhan optimum adalah suhu
inkubasi yang memungkinkan pertumbuhan tercepat selama periode waktu yang
singkat, yaitu antara 12-24 jam. Berdasarkan suhu inkubasi bakteri ini, bakteri
terkelompok ke dalam psikrofil suhu 0-300°C, mesofil suhu 250-400°C, termofil
fakultatif suhu 250 -550°C dan termofil obligat suhu 450 -750°C.
2.3.2. pH
pH optimum bagi pertumbuhan bakteri berkisar antara 6,5-7,5. Beberapa
spesies bakteri ada yang mempunyai pH minimum 0,5 dan pH maksimumnya 9,5.
Pergeseran pH dalam suatu medium dapat terjadi sedemikian besar, karena akibat

5
adanya senyawa-senyawa asam atau basa selama pertumbuhan. Pergeseran ini
dapat dicegah dengan menggunakan larutan penyangga yang disebut dengan
buffer yaitu kombinasi suatu garam-garam KH2PO4 dan KH2PO4. Garam-garam
anorganik ini diperlukan oleh mikroba untuk keperluan mempertahankan keadaan
koloidal, mempertahankan tekanan osmose dalam sel, memelihara keseimbangan
suatu pH serta sebagai aktivator dari suatu enzim (Sabdaningsih, 2013).
2.3.3. Pencahayaan
Bakteri biasanya tumbuh dalam ruang gelap, walaupun ini bukan suatu
keharusan. Tetapi sinar ultraviolet mematikan suatu bakteri dan dapat digunakan
untuk prosedur sterilisasi. Beberapa bakteri memerlukan persyaratan yang khusus.
Diantaranya adalah, bakteri fotoautotrofik atau fotosintetik, yaitu bakteri dalam
pertumbuhannya harus ada pencahayaan yang masuk kedalam tubuh bakteri.
2.3.4. Waktu
Jika bakteri menemukan kondisi yang cocok, pertumbuhan dan reproduksi
terlaksana. Bakteri berkembang biak dengan membelah diri. Dari satu sel tunggal
menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan dan seterusnya. Dalam
lingkungan dan suhu yang cocok, bakteri membelah diri setiap 20-30 menit.
Dalam kondisi yang bakteri sukai itu, maka dalam 8 jam satu sel bakteri telah
berkembang menjadi 17 juta sel dan menjadi satu milyar dalam 10 jam.
2.3.5. Oksigen
Berdasarkan akan kebutuhan terhadap oksigen, bakteri dapat digolongkan
menjadi bakteri aerob mutlak bakteri yang untuk pertumbuhannya memerlukan
adanya oksigen, misalnya M.tuberculosis, bakteri anaerob fakultatif bakteri yang
dapat tumbuh, baik ada oksigen maupun tanpa adanya oksigen, bakteri anaerob
aerotoleran (bakteri yang tidak mati dengan adanya oksigen), bakteri anaerob
mutlak bakteri yang hidup bila tidak ada oksigen, misalnya Clostridium tetani dan
bakteri mikroaerofilik (bakteri yang dapat hidup bila tekanan oksigennya rendah).
2.3.6. Air
Air atau H2O merupakan bahan yang sangat penting bagi pertumbuhan
bakteri karena 80-90% bakteri tersusun atas air. Tetapi bakteri tidak dapat
menggunakan air yang mengandung zat-zat terlarut dalam konsentrasi tinggi,
seperti gula dan garam. Larutan pekat, misalnya larutan garam 200 mg/liter tidak

6
menunjang pertumbuhan bakteri. Tekanan osmose juga sangat diperlukan untuk
mempertahankan bakteri agar tetap hidup, misal apabila bakteri berada dalam
larutan yang konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi yang ada dalam sel
bakteri, maka akan terjadi keluarnya cairan dari sel bakteri melalui membran
sitoplasma yang disebut dengan plasmolisis. Namun ada beberapa bakteri yang
mempunyai toleransi terhadap lingkungan dengan kadar garam yang sangat tinggi.
Keadaan demikian disebut sebagai extreme halophiles, misalnya dijumpai
pada mikroba yang berada di laut mati di mana mikroba tersebut dapat hidup dan
tumbuh pada lingkungan yang berkadar garam sekitar 30%. Beberapa spesies
bakteri ada yang dapat tumbuh pada lingkungan yang berkadar garam 10-15% dan
disebut Facultative halophiles, misalnya dijumpai pada Vibrio parahaemolyticus.
Umumnya, bakteri untuk pertumbuhannya memerlukan kadar garam hanya 1-2%.
2.3.7. Karbon
Unsur karbon sangat penting bagi pertumbuhan bakteri. Sumber karbon
atau carbon source antara bakteri yang satu dengan bakteri yang lain tidak akan
sama, dan unsur karbon tersebut diperlukan oleh semua makhluk hidup mulai
bakteri sampai dengan manusia. Telah diketahui bahwa berat unsur karbon
merupakan setengah dari berat kering bakteri. Menurut keperluan kuman akan
sumber karbon, maka kuman dibagi menjadi 2 golongan yakni kuman autotrof
yang memenuhi unsur karbonnya dari sumber anorganik. Sebaliknya kuman
heterotrof memenuhi keperluan karbonnya dari sumber bahan organik.
2.3.8. Nitrogen, Sulfur dan Fosfor
Nitrogen, sulfur dan fosfor diperlukan untuk menyusun bagian-bagian sel
misalnya untuk mesintesis protein yang diperlukan nitrogen dan sulfur. Untuk
mensintesis Deoxyribonucleic (DNA) dan Ribonucleic (RNA), sangat diperlukan
nitrogen dan fosfor. Demikian pula, untuk mensintesis Adenosin Trifosfat (ATP).
Seperti diketahui bahwa ATP adalah suatu bahan yang penting dalam sel, yang
berguna untuk persediaan dan transfer energi dalam sel. Nitrogen, sulfur dan
fosfor merupakan 18% berat kering dari sel di mana nitrogen adalah 15% dari
berat kering sel tersebut. Sumber sulfur di alam bisa dalam bentuk ion sulfat atau
berasal dari H2S maupun sulfur yang terdapat dalam asam amino, sedangkan
fosfor diperoleh dari senyawa fosfat. Nitrogen oleh bakteri terutama diperlukan

7
untuk mensintesis asam amino yang selanjutnya digunakan untuk mensintesis
protein, DNA, serta RNA. Nitrogen tersebut diperoleh suatu bakteri, misalnya dari
proses dekomposisi bahan organik atau berasal dari ion ammonium serta dari
senyawa nitrat dan nitrogen yang berada di udara melalui proses fiksasi nitrogen
tergantung dari jenis bakterinya. Bakteri yang dapat menggunakan nitrogen yang
berasal dari udara melalui proses fiksasi nitrogen adalah Cyanobacteria.
2.3.9. Senyawa Logam
Senyawa logam untuk pertumbuhan makhluk hidup diperlukan dalam
jumlah sedikit. Oleh karena itu, pertumbuhan ini disebut dengan trace element.
Termasuk di antaranya yang diperlukan untuk kehidupan bakteri adalah Besi (Fe),
Tembaga (Cu) dan Zink (Zn). Di alam, trace element terdapat pada air tap water
atau bahan-bahan lain dan biasanya sangat melimpah di alam.

2.4. Pengaruh Temperatur dan Pengambilan Nitrogen pada Morfologi Sel


dan Fisiologi Symbiodinium
Symbiodinium sp. merupakan salah satu makhluk hidup yang uniseluler
mikroalga yang memiliki kesamaan dengan koral dan anemon laut. Symbiodinium
sp. memiliki ukuran sebesar 5-6 µm dan bersifat autotrof. Makhluk uniseluler
yang tidak bertulang belakang ini mendapatkan suplai makanan dari koral berupa
nutrisi dan gas karbondioksida (CO2) dari koral tempat mikroalga tersebut tinggal.
Symbiodinium sp. juga mensuplai lebih dari 90% hasil fotosintesis kepada koral
sehingga terjalin simbiosis mutualisme antara Symbiodinium sp. dan koral.
Seiring berjalannya waktu, fenomena pemanasan global ikut mengubah
kondisi lingkungan. Pemanasan global menyebabkan terjadi berbagai fenomena
alam yang merusak ekosistem laut seperti peningkatan emisi gas CO2 dan
kenaikan tinggi pada permukaan laut. Fenomena tersebut dapat menyebabkan
bleaching koral yang menyebabkan kerusakan pada koral bawah laut. Tingkat
nutrisi yang dibutuhkan dan temperatur mikroalga pun ikut terpengaruh karena
adanya pemanasan global sehingga proses fotosintesis seringkali terganggu.
Sebuah penelitian mengatakan, Symbiodinium sp. diuji coba dengan
mengubah variasi temperatur dan pengambilan nitrogen yang biasa digunakan
sebagai nutrisi mikroalga untuk berfotosintesis. Symbiodinium sp. dikultivasi
selama 5 hari. Hal yang ditinjau dari penelitian ini adalah laju pertumbuhan dari

8
Symbiodinium sp. Dalam proses fotosintesis, temperatur memiliki peranan yang
penting bagi Symbiodinium sp. Temperatur dapat mempengaruhi beberapa aspek
dalam mikroalga seperti komposisi kimia dalam mikroalga, penyerapan nutrisi,
dan laju pertumbuhan semua mikroalga. Kebutuhan nutrisi juga memiliki peranan
penting bagi mikroalga supaya dapat melakukan proses fotosintesis.

Gambar 2.3. Symbiodinium sp. Dilihat dari Scanning Electron Microscopy (SEM)
(Sumber: Pasaribu, 2016)

Proses penelitian dilakukan dengan mengubah variasi temperatur air


sebesar 15oC, 25oC, dan 30oC. Hasil pertumbuhan menunjukkan bahwa proses
pertumbuhan Symbiodinium sp. terjadi secara lambat pada temperatur 15oC
sedangkan laju pertumbuhan terjadi paling cepat pada temperatur 30oC. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi. Pertumbuhan mikroalga sebenarnya terjadi
secara ideal pada temperatur 25oC. Pertumbuhan mikroalga tidak dapat terjadi
secara ideal lagi saat temperatur di atas 30oC. Hal tersebut disebabkan karena
termperatur akan menyebabkan heat stress terhadap mikroalga saat melebihi 30oC
sehingga laju pertumbuhan mikroalga tidak terjadi secara ideal (Pasaribu, 2016).
Selain menggunakan variasi temperatur, penelitian ini juga melakukan
pengambilan kadar nitrogen digunakan untuk proses metabolisme Symbiodinium
sp. Pertumbuhan mikroalga tanpa suplai nutrisi yang cukup akan menyebabkan
laju pertumbuhan menjadi lambat dan peningkatan dari produksi lipid dalam
mikroalga. Hasil menunjukkan bahwa semakin lama waktu kultivasi dari sel
mikroalga, maka produksi lipid di dalamnya juga akan ikut semakin bertambah.
Setelah 5 hari, dinding sel Symbiodinium sp. yang ditampung dalam medium
mengalami peningkatan ketebalan yang disebabkan karena terbentuknya lipid.

9
Kadar lipid yang dihasilkan oleh sel mikroalga diuji menggunakan uji
kromatografi. Metode uji kromatografi yang digunakan adalah Thin Layer
Chromatography (TLC). Hasil tersebut nenunjukkan bahwa warna yang
dihasilkan dari uji kromatografi semakin tebal saat lama waktu kultivasi yang
lebih lama baik pada saat temperatur 15°C, 25°C, dan 30°C tanpa nutrisi nitrogen.

Gambar 2.4. Morfologi Symbiodinium sp. pada Suhu 30oC


(Sumber: Pasaribu, 2016)

Gambar 2.5. Morfologi Symbiodinium sp. pada Suhu 25oC


(Sumber: Pasaribu, 2016)

2.5. Morfologi Bawang Merah (Allium Cepa L.)


Bawang merah merupakan salah satu tanaman yang termasuk kedalam
umbian tanah, dan juga tanaman yang memiliki perakaran yang serabut di bagian
pangkal umbi. Tanaman bawang merah ini diduga berasal dari Asia Tenggara
yang menyebar luas keberbagai wilayah dan juga tempat lainnya, bawang merah
ini biasanya digunakan sebagai bumbu atau tambahan masakan yang bertujuan
untuk memberikan cipta rasa khusus dalam masakan tersebut. Secara umumnya,

10
bawang merah ini juga merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan
dan senyawa yang sangat tinggi, sehingga di zaman dahulu hingga sekarang
banyak menggunakan bawang merah ini sebagai bahan herbal dan juga tradisional
untuk menyembuhkan berbagai penyakit serta menyehatkan kesehatan tubuh.

Gambar 2.6. Bawang Merah


(Sumber: Frensisco, 2015)
2.5.1. Akar
Akar adalah bagian pokok di samping batang dan daun bagi tumbuhan
yang tumbuh menuju inti bumi kormus. Akar merupakan organ tumbuhan yang
memiliki fungsi utama yaitu guna menghisap air dan garam mineral dari dalam
tanah. Air dan mineral tersebut digunakan oleh tumbuhan untuk menjadi tumbuh.
Perakaran pada bawang merah ini memiliki perakaran yang sangat dangkal dan
juga bentuknya bercabang memencar, dengan kedalaman mencapai 15-30 cm
didalam tanah serta tumbuh di sekitar umbi dari bawang merah.
2.5.2. Batang
Batang merupakan organ dasar tumbuhan berpembuluh. Batang adalah
sumbu tumbuhan, tempat semua organ lain bertumpu dan tumbuh. Batang bawang
merah memiliki batang sejati disebut diskus, yang memiliki bentuk hampir
menyerupai cakram, tipis dan juga pendek sebagai tempat melekatnya akar dan
juga mata tunas. Struktur batang lebih kompleks daripada akar tumbuhan karena
memiliki ruas dan antar ruas. Di ruas batang akan muncul bunga dan tunas daun.
Sedangkan bagian atas pada diskus ini terdapat batang semu yang tersusun atas
pelepah-pelepah daun dan batang semu yang berada didalam tanah dan juga
berguna untuk menjadi umbi lapis pada tumbuhan bawang merah tersebut.

11
2.5.3. Daun
Daun adalah salah satu organ tanaman yang tumbuh dari ranting, biasanya
berwarna hijau (termasuk klorofil), yang terutama berfungsi sebagai penangkap
energi dari sinar matahari untuk fotosintesis. Daun bawang merah memiliki
bentuk silindris kecil memanjang yang mencapai sekitar 50-70 cm, memiliki
lubang dibagian tengah dan pangkal daun runcing. Daun bawang merah ini
berwarna hijau mudah hingga tua, dan juga letak daun ini melekat pada tangkai
bawang merah yang memiliki ukuran yang tidak terlalu (Frensisco, 2015).

Gambar 2.7. Daun Bawang Merah


(Sumber: Frensisco, 2015)

2.5.4. Bunga
Bunga merupakan modifikasi suatu tunas yang bentuk, warna, dan
susunannya disesuaikan dengan kepentingan untuk tumbuhan. Bunga bawang
merah ini memiliki panjang 30-90 cm, dan memiliki pangkal ujung kuntum bunga
yang menyerupai payung. Selain itu, bunga tanaman ini terdiri dari 5-6 helai daun
bunga bewarna putih, 6 benang sari berwarna hijau hingga kekuningan, serta
memiliki 1 putik dan bakal buah yang berbentuk segitiga. Bunga bawang merah
ini merupakan salah satu bunga sempurna dapat melakukan penyerbukan sendiri.
2.5.5. Buah dan biji
Buah bawang merah berbentuk bulat dengan pangkal ujung tumpul yang
terbungkus dengan biji berjumlah 2-3 butir, selain itu biji ini memiliki bentuk
agak pipih berwarna bening dan juga agak keputihan hingga memiliki warna yang
khas kecoklatan sampai kehitaman. Namun, untuk perbanyakan pada biji bawang
merah ini dapat dilakukan dengan cara generatif atau cara seksual.

12
DAFTAR PUSTAKA

Frensisco, dkk. 2015. Karakterisasi dan Evaluasi Morfologi Bawang Merah Lokal
Samosir (Allium ascalonicum L.) pada Beberapa Aksesi di Kecamatan
Bakti Raja. Jurnal Agroteknologi. 4(1): 1962-1972.
Pasaribu, B., dkk. 2016. The Effect of Temperature and Nitrogen Deprivation on
Cell Morphology and Physiology of Symbiodinium. Oceanologia. 1(58):
272-278.
Sabdaningsih, dkk. 2013. Isolasi dan Karakterisasi Morfologi Koloni Bakteri
Asosiasi Alga Merah (Rhodophyta) dari Perairan Kutuh Bali. Jurnal
Biologi. 2(2): 11-17.
Saefudin. 2009. Struktur dan Fungsi Sel. Makassar: Penerbit Salemba.
Yudiarti, T., E. Widiastuti, dan H. Pratikno. 2004. Buku Ajar Biologi. Semarang:
Universitas Diponegoro.

13