Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir

ketika alat- alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa

nifas berlangsung selama kira- kira 6 minggu (Ambarwati, 2010)

Menurut Prawihardjo (2006), beberapa gangguan nifas dapat muncul,

tergantung dari jenis persalinan dan faktor perorangan lainnya. Gangguan

yang sering muncul pada masa nifas adalah proses laktasi yang umumnya

dialami oleh ibu baru (ibu yang baru memiliki anak untuk pertama kalinya)

dengan berbagai faktor penyebab kadang terdapat gangguan seperti

bendungan ASI.

Air Susu Iibu (ASI) adalah makanan alamiah untuk bayi, ASI

mengandung nutrisi - nutrisi dasar dan elemen dengan jumlah yang sesuai

untuk pertumbuhan bayi yang sehat. Memberikan ASI kepada bayi bukan saja

memberikan kebaikan bagi bayi tapi juga keuntungan bagi ibu. WHO dan

UNICEF menganjurkan agar para ibu memberikan ASI Eksklusif yaitu hanya

memberikan ASI saja tanpa makanan pendamping hingga bayi berusia 6

bulan (Kurniawati, 2009).

Selama masa kehamilan, hormon estrogen dan progesteron

menginduksi perkembangan alveoli dan duktus lactiferus di dalam payudara

serta merangsang produksi kolostrum. Produksi ASI tidak berlangsung

1
sampai masa sesudah kelahiran bayi ketika kadar estrogen menurun.

Penurunan kadar estrogen ini memungkinkan naiknya kadar prolaktin dan

produksi ASI. Produksi prolaktin yang berkesinambungan disebabkan oleh

menyusunya bayi pada payudara ibu (Sulistyawati, 2009).

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, cakupan pemberian ASI di

Indonesia hanya 42 persen. Angka itu di bawah target Organisasi Kesehatan

Dunia, yakni cakupan ASI eksklusif bagi bayi usia 0-6 bulan minimal 50

persen.

Pada data yang diperoleh di BPM Rini Utami pada bulan Januari terdapat

7 orang ibu nifas yang melakukan kunjungan, dan sebanyak 2 orang ibu nifas

yang mengalami bendungan ASI, dan yang lainnya ibu nifas yang normal

tanpa ada masalah selama masa nifas. Sehingga dari data yang penulis peroleh

di BPM Rini Utami penulis tertarik untuk mengangkat kasus yang berjudul

“Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Patologi pada Ny. “N” Umur 17 Tahun

P1A0AH1 Nifas Hari ke- 30 Dengan Bendungan ASI di BPM Rini Utami,

Tibayan, Jatinom, Klaten.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Penulisan laporan ini bertujuan untuk mengetahui asuhan

kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI dengan pendekatan

manajemen varney pada Ny. “N” Umur 22 Tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI

di BPM Rini Utami, Dusun Tibayan, Jatinom, Klaten.

2
2. Tujuan Khusus

Melaksanakan pengkajian data dasar pada ibu nifas dengan

bendungan ASI pada Ny. “N” Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI di BPM Rini Utami, dusun Tibayan, Jatinom, Klaten.

a. Membuat interpretasi data pada ibu nifas dengan bendungan ASI pada

Ny. “N” Umur 17 Tahun P1 A0 AH1 Nifas Hari Ke- 30 Dengan

Bendungan ASI di BPM Rini Utami, dusun Tibayan, Jatinom, Klaten.

b. Merumuskan diagnosa potensial pada ibu nifas dengan bendungan ASI

pada Ny. “N” Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan Bendungan ASI di

BPM Bidan Rini Utami, dusun Tibayan, Jatinom, Klaten.

c. Mengidentifikasi tindakan segera pada ibu nifas dengan bendungan

ASI pada Ny. “N” Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan Bendungan ASI

di BPM Bidan Rini Utami, dusun Tibayan, Jatinom, Klaten.

d. Menyusun rencana tindakan pada ibu nifas dengan bendungan ASI

pada Ny. “N” Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan Bendungan ASI di

BPM Bidan Rini Utami, dusun Tibayan, Jatinom, Klaten..

e. Melaksanakan rencana tindakan pada ibu nifas dengan bendungan ASI

pada Ny. “N” Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan Bendungan ASI di

BPM Rini Utami, dusun Tibayan, Jatinom, Klaten..

f. Mengevaluasi tindakan yang telah dilaksanakan pada ibu nifas dengan

bendungan ASI pada Ny. “N” Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI di BPM Bidan Rini Utami, dusun Tibayan, Jatinom,

Klaten.

3
C. Manfaat

1. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan bagi penulis

mengenai masa nifas serta asuhan masa nifas dengan bendungan ASI.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam mengetahui,

mendeteksi, dan menangani masa nifas dengan bendungan ASI.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Dapat dijadikan dalam menambah bahan bacaan dan wawasan

serta diharapkan menjadi masukan dalam rangka pengembangan ilmu

pengetahuan mengenai masa nifas dengan bendungan ASI.

4. Bagi Institusi Terkait ( Bidan Praktek Swasta)

Dapat menambah informasi, pengalaman, dan masukan pada bidan

sebagai tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan yang tepat pada masa

nifas dengan bendungan ASI.

5. Bagi ibu nifas

Bagi ibu yaitu menambah pengetahuan ibu tentang bendungan ASI

agar dapat memberikan informasi apabila ibu mendapatkan masalah

tentang bendungan ASI pada keluarga ataupun kerabatnya.

D. Pembatasan Kasus

1. Kasus

Sasaran dari kasus ini adalah ibu nifas dengan bendungan ASI pada Ny.

“N” Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan Bendungan ASI

4
2. Tempat

Pengambilan data dalam rangka penyusunan laporan ini dilakukan di BPM

Rini Utami, dusun Tibayan, Jatinom, Klaten.

3. Waktu

Kasus ini diambil pada tanggal 15 Januari 2016.

E. Metode Pengumpulan Data

Adapun metode yang digunakan dalam penyusunn laporan pada masa

nifas dengan bendungan payudara yaitu :

1. Observasi

Jenis pengamatan ini, pengamat mengambil bagian dalam kegiatan yang

telah dilakukan oleh sasaran pengamatan dan pengamat ikut aktif

berpartisipasi dalam aktifitas kontak dengan klien (Notoatmodjo, 2002).

Data yang pengamat dapatkan melalui observasi adalah data obyektif

meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan fisik ibu nifas.

2. Wawancara

Menurut Notoatmodjo (2002), wawancara adalah suatu metode yang

digunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan

keterangan secara lisan dari sasaran penelitian (seseorang yang akan

diteliti) dengan bercakap – cakap berhadapan muka dengan orang tersebut.

Data yang didapatkan dari hasil wawancara yaitu data subyektif meliputi

biodata pasien, alasan datang, keluhan yang dirasakan, riwayat menstruasi,

riwayat perkawinan, riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu, riwayat

5
kehamilan sekarang, riwayat kesehatan, pola pemenuhan kebutuhan

sehari- hari serta data psikologis dan pengetahuan pasien.

3. Telaah Dokumen

Telaah dokumen yaitu teknk penumpulan data dari melihat rekam medik

klien serta riwayat klien untuk mendapatkan catatan – catatan yang

berhubungan dengan pengobatan, pemeriksaan penunjang serta penyakit

pasien yang berhubungan dengan kasus (Notoatmodjo, 2002). Data yang

didapatkan melalui telaah dokumen yaitu melihat dari catatan medik

pasien seperti dalam buku KIA ibu untuk melihat catatan perkembangan

kesehatan ibu dan janin.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Medis

1. Pengertian Nifas

a. Definisi

Masa nifas disebut sebagai masa post partum atau puerperium

adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas

dari rahim, sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya

kembali oragan-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang

mengalami perubahan (Prawirohardjo, 2006).

Menurut Manuaba (2010), nifas adalah puerpurium berlangsung

selama 6 Minggu sampai 48 hari merupakan waktu yang diperlukan

untuk pulihnya kembali alat kandungan pada keadaan normal.

b. Periode Nifas

Periode nifas menurut Prawirohardjo (2006) meliputi :

1) Puerperium Dini / Early Puerperium

Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-

jalan. Ibu dalam keadaan bersih dan boleh bekerja (setelah 40 hari).

2) Puerperium Intermedial

Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8

minggu.

7
3) Remote Puerperium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama

bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi,

bisa berminggu-minggu, bulanan, tahunan.

c. Fisiologi Nifas

Perubahan-perubahan yang normal terjadi pada masa nifas menurut

Manuaba (2010), adalah :

1) Involusi

Involusi merupakan perubahan sebagai proses kembalinya alat

kandungan dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai

keadaan seperti sebelum hamil.

a) Involusi Rahim

Setelah bayi lahir, Tinggi Fundus Uteri (TFU) ± 3 jari

bawah pusat. Setelah 6 Minggu dicapai lagi ukuran normal.

Involusi disebabkan oleh autolisis (Sulistyawati, 2009).

TFU dan berat uterus menurut masa involusi :

INVOLUSI TFU BERAT UTERUS

Bayi lahir Setinggi Pusat 1000 gram

Uri/ Plasenta Lahir 2 jari bawah pusat 750 gram

1 minggu Pertengahan pusat 500 gram

simpisis

2 minggu Tidak teraba di atas 350 gram

simpisis

8
6 minggu Bertambah kecil 50 gram

8 minggu Sebesar normal 30 gram

Involusi ini terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih

kecil karena cytoplasmanya yang berlebihan di buang.

Involusi disebabkan oleh proses autolysis, pada zat protein

dinding rahim dipecah, diabsorbsi dan kemudian dibuang

dengan air kencing, sebagai buktinya kadar nitrogen dalam air

kencing sangat tinggi.

Pelepasan plasenta dari selaput janin dan dinding rahim

terjadi pada stratum spongiosum bagian atas. Setelah 2-3 hari

tampak bahwa lapisan atas dan stratum spongiosum yang

tinggal menjadi nekrosis, sedangkan lapisan bawahnya yang

berhubungan dengan lapisan otot terpelihara dengan baik.

Bagian yang nekrosis dikeluarkan dengan lochea,

sedangkan lapisan yang tetap sehat menghasilkan endometrium

yang baru. Epitel baru terjadi dengan proliferasi sel-sel

kelenjar, sedangkan stroma baru dibentuk dari jaringan ikat

diantara kelenjar-kelenjar epitelisasi siap dalam 10 hari, kecuali

pada tempat plasenta dimana epitelisasi memakan waktu 3

minggu.

b) Involusi tempat Plasenta

Bekas implantasi plasenta merupakan tempat dengan

permukaan kasar, tidak rata, dan kira-kira sebesar telapak

9
tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu

kedua hanya sebesar 3-4 cm dan terakhir nifas 1-2 cm. Luka

bekas plasenta tidak meninggalkan parut waktu sembuh

c) Perubahan pembuluh darah rahim

Setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah

yang banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam masa nifas.

d) Cerviks

Cerviks agak menganga, seperti corong berwarna merah

kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat

perlukaan kecil setelah bayi lahir. Setelah 2 jam dapat dilalui 2-

3 jari. Setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.

e) Ligamen-ligamen

Ligamen fasia dan diafragma pelvis berangsur menjadi ciut

dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh

kebelakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamen rotundum

menjadi kendor.

f) Dinding perut dan peritonium

Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang

begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.

g) Saluran Kencing

Sulit kencing karena sfingter uretra ditekan oleh kepala

janin dan spasme oleh iritasi musculus sfingter ani selama

10
persalinan, juga oleh karena adanya oedem kandung kemih

yang terjadi selama persalinan.

2) Proses involusi terjadi karena adanya :

a) Autolisis

Zat protein dinding rahim dipecah, diabsorbsi dan

kemudian dibuang dengan urine.

b) Aktivitas otot-otot

Otot- otot uterus berkontraksi segera postpartum.

Pembuluh-pembuluh darah yang berada diantara anyaman-

anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan

menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan.

c) Ischemia (Local anemia)

Kekurangan darah pada uterus, disebabkan akibat

pengurangan aliran darah yang pergi ke uterus di dalam masa

hamil, sehingga jaringan otot-otot uterus mengalami atrofi

kembali ke ukuran semula.

3) Lochea

Menurut Suherni (2008), lochea adalah cairan sekret yang

berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lochea yang

terdapat pada masa nifas yaitu:

a) Lochea Rubra

11
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel

decidua, verniks kaseosa, lanugo dan mekonium, selama 2 hari

pasca persalinan.

b) Lochea Sanguinolenta

Berwarna merah, coklat kekuningan berisi darah dan lendir,hari

3-7 pasca persalinan.

c) Lochea Serosa

Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari 7-14

pasca persalinan.

d) Lochea Alba

Cairan putih setelah 2 minggu.

e) Lochea Purulenta

Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.

f) Locheaostasis

Lochea tidak lancar keluar.

2. ASI Eksklusif

a. Pengertian ASI Ekskusif

Menurut Suherni (2008), ASI Eksklusif adalah pemberian ASI

saja tanpa tambahan makanan atau minuman apapun sampai bayi

berumur 6 Bulan (susu formula, jeruk, madu, air teh, bubur, biskuit,

pisang dll).

12
b. Manfaat Pemberian ASI

Menurut Suhermi (2008), manfaat pemberian ASI yaitu:

1) Bagi bayi

Pemberian ASI dapat membantu bayi memulai kehidupannya

dengan baik. Kolostrum merupakan susu pertama yang keluar yang

mengandung antibody yang kuat untuk mencegah infeksi dan

membuat bayi menjadi kuat. Penting bagi bayi untuk meminum

ASI dalam jam pertama sesudah lahir, kemudian setidaknya setiap

2-3 jam. ASI mengandung campuran berbagai bahan makanan

yang tepat bagi bayi dan mudah dicerna oleh bayi.

2) Bagi ibu

a) Pemberian ASI membantu ibu untuk memulihkan diri dari

proses persalinannya. Pemberian ASI selama beberapa hari

pertama membuat rahim berkontraksi dengan cepat dan

memperlambat perdarahan (hisapan pada putting susu

merangsang dikeluarkannya hormon oksitosin alami yang akan

membantu kontraksi rahim).

b) Wanita yang menyusui bayinya akan lebih cepat pulih/turun

berat badannya dari berat badan yang bertambah selama

kehamilan.

c) Ibu yang menyusui, yang menstrusinya belum muncul kembali

akan kecil kemungkinannya untuk menjadi hamil (kadar

prolaktin yang tinggi akan menekan hormon FSH dan ovulasi).

13
d) Pemberian ASI adalah cara terbaik bagi ibu untuk

mencurahkan kasih sayangnya kepada buah hatinya.

3) Bagi semua orang

a) ASI selalu bersih dan bebas hama yang dapat menyebabkan

infeksi

b) Pemberian ASI tidak memerlukan persiapan khusus

c) ASI selalu tersedia dan gratis

d) Ibu menyusui yang siklus menstruasinya belum pulih kembali

akan memperoleh perlindungan sepenuhnya dari kemungkinan

hamil.

c. Cara Memperbanyak ASI

Menurut Sulistyawati (2009), ada beberapa cara memperbanyak ASI

yaitu:

1) Menyusui bayi setiap 2 jam siang dan malam hari dengan lama

menyusui 10-15 menit disetiap payudara

2) Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerak dan

duduklah selama menyusui

3) Pastikan bayi menyusui dalam posisi menempel yang baik dan

dengarkan suara menelan yang aktif

4) Susui bayi ditempat yang tenang dan nyaman dan minumlah setiap

kali habis menyusui.

5) Tidurlah bersebelahan dengan bayi

6) Ibu harus meningkatkan istirahat dan minum

14
7) Petugas kesehatan harus mengamati ibu yang menyusui bayinya

dan mengoreksi setiap kali terdapat masalah pada posisi

penempelan.

d. Tanda Bayi Cukup ASI

Tanda bayi cukup ASI menurut Sulistyawati (2009):

a) Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam sehari dan warnanya jernih

sampai kuning muda

b) Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan

c) Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun, dan tidur

cukup. Bayi setidaknya menyusui 10-12 kali dalam 24 jam.

d) Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui

e) Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI, setiap kali bayi mulai

menyusu

f) Bayi bertambah berat badannya

3. Cara Merawat Payudara

a. Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama bagian putting

susu.

b. Menggunakan BH yang menyokong payudara.

c. Apabila putting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang keluar

disekitar putting setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap

dilakukan dimulai dari putting susu yang tidak lecet.

d. Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI

dikeluarkan dan diminumkan menggunakan sendok

15
e. Untuk menghilangkan nyeri, ibu dapat minum Paracetamol tablet

setiap 4-6 jam.

f. Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI maka ibu dapat

melakukan :

1) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan

hangat selama 5 menit

2) Urut payudara dari arah pangkal keputing atau gunakan sisir untuk

mengurut payudara dengan arah “Z” menuju puting

3) Keluarkan ASI sebagian dari payudara.

4. Cara Menyusui Yang Benar

Cara menyusui yang benar menurut Sulistyawati (2009):

a. Posisi ibu dan bayi yang benar

1) Berbaring miring

Posisi ini adalah posisi yang baik untuk pemberian ASI yang

pertama kali atau bila ibu merasakan lelah atau nyeri. Ini biasanya

dilakukan pada ibu menyusui yang melahirkan melalui operasi

sesar. Yang harus diwaspadai dari tehnik ini adalah pertahankan

jalan nafas bayi agar tidak tertutup oleh payudara ibu.

2) Duduk

Untuk posisi menyusui dengan duduk, ibu harus memilih posisi

yang paling nyaman.

16
b. Proses perlekatan bayi dengan ibu

Untuk mendapatkan perlekatan maksimal, penting untuk

memberikan topangan atau sandaran pada punggung ibu dalam

posisinya tegak lurus terhadap pengakuannya. Posisi berbaring miring

atau duduk (punggung dan kaki ditopang), akan membantu bentuk

payudaranya dan memberikan ruang untuk menggerakkan bayinya ke

posisi yang lebih baik.

Langkah-langkah dalam perlekatan atau menyusui yang benar adalah:

1) Keluarkan ASI sedikit untuk membersihkan putting susu sebelum

menyusui.

2) Pegang payudara dengan C hold di belakang areola

3) Hidung bayi dan putting susu ibu berhadapan

4) Sentuh pipi atau bibir bayi untuk merangsang rooting refleks

5) Tunggu sampai mulut terbuka lebar dan lidah menjulur

6) Dekatkan bayi ke ibu dan arahkan putting susu keatas menyusui

langit mulut bayi

7) Puting susu, areola, dan sebagian besar gudang ASI tertangkap

oleh mulut bayi

8) Posisi mulut dengan pelekatan yang benar

9) Jika bayi sudah dirasa cukup kenyang maka hentikan proses

menyusui dengan memasukkan kelingking ke dalam mulut bayi

menyusuri langit-langit mulut bayi

17
10) Kadang bayi akan tertidur sendiri sebelum proses menyusui

diakhiri (Menunjukkan bayi menetek dengan puas).

C. Tanda – tanda perlekatan pada bayi menyusu yang benar adalah :

1) Tampak areola masuk sebanyak mungkin. Areola bagian atas lebih

banyak terlihat.

2) Mulut terbuka lebar.

3) Bibir atas dan bawah terputar keluar.

4) Dagu bayi menempel pada payudara.

5) Gudang ASI termasuk dalam jaringan yang masuk

6) Jaringan payudara merenggang sehingga membentuk “Dot” yang

panjang.

5. Bendungan ASI

a. Definisi

Bendungan ASI adalah Sumbatan pada saluran ASI atau sumbatan

yang terjadi pada kelenjar payudara yang tidak dikosongkon secara

sempurna (Sulistyawati, 2009).

Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan

progesterone turun dalam 2-3 hari. Dengan demikian, faktor dari

hipotalamus yang menghalangi keluarnya prolaktin waktu hamil sangat

dipengaruhi oleh estrogen tidak dikeluarkan lagi dan terjadi sekresi

prolaktin oleh hipofisis. Pada permulaan nifas, apabila bayi belum

menyusu dengan baik, atau kemudian kelenjar-kelenjar tidak

18
dikosongkan dengan sempurna, maka akan menyebabkan terjadinya

pembendungan air susu (Sulistyawati, 2009).

b. Faktor predisposisi

Faktor predisposisi terjadinya bendungan payudara menurut

Prawirohadjo (2006) yaitu:

1) Kelainan puting susu ibu, misalnya : puting susu datar, puting susu

terbenam dan cekung

2) Teknik menyusui yang digunakan ibu kurang tepat

3) Kelainan pada bayi, misalnya bayi dengan labioplatoskisis

c. Patofisiologi

1) Payudara penuh karena berisi ASI merupakan suatu yang

fisiologis. Payudara penuh tersebut dapat pulih dengan cara

mengeluarkan ASI tersebut. Proses pengeluaran ini diperlukan

refleks yang dapat menyebabkan kontraksi sel-sel miopitelial yang

mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut.

dimana refleks ini akan timbul jika bayi menyusu. Apabila ASI

tersebut tidak dikeluarkan maka dapat menjadi bendungan

(Prawirohardjo, 2006).

2) Pada bendungan ASI, payudara terisi penuh dengan ASI.

Pengeluaran ASI terhalang oleh penyempitan duktus laktiferi

karena terjadinya pembesaran pada vena serta pembuluh limfe,

sehingga aliran susu menjadi terhambat dan menyebabkan Mamma

19
panas, Nyeri, putting susu menjadi datar dan hal ini menyukarkan

bayi untuk menyusu (Prawirohardjo, 2006).

d. Tanda dan Gejala

Menurut Sulistyawati (2009), ada beberapa tanda dan gejala dari

bendungan ASI yaitu :

1) Payudara bengkak, panas dan keras

2) Nyeri bila ditekan

3) terjadinya peningkatan suhu tubuh yang berkisar 380C-390C.

e. Penatalaksanaan Medis

Menurut (Manuaba, 2010) ada beberapa cara yang dapat dilakukan

untuk meringankan bendungan ASI tersebut :

1) Bila ibu menyusui

a) Susukan bayi sesering mungkin

b) Kedua payudara disusukan

c) kompres hangat pada payudara sebelum disusukan

d) Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan menyusui

e) Sangga payudara

f) Kompres dingin pada payudara diantara waktu menyusui

g) Bila diperlukan berikan paracetamol 500mg per oral setiap 4

jam

h) Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi hasilnya

2) Bila ibu tidak menyusui

20
a) Sangga payudara

b) Kompres dingin pada payudara untuk mengurangi

pembengkakan dan rasa sakit

c) Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4

jam

d) Jangan dipijat atau memakai kompres hangat pada payudara

B. Tinjauan Asuhan Kebidanan (Manajemen Varney)

Manajemen kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak tepat

secra logis tentang asuhan yang diberikan, yang dalam prakteknya bidan harus

berfikir, tidak pragmatis untk menjamin keamanan dan kepuasan klien sebagai

hasil (Pusdiknakes, 2003).

Menurut Varney (2007) manajemen asuhan kebidanan ada 7 lngkah yaitu :

1. Langkah I : Pengkajian ( Pengumpulan Data Dasar)

Pengumpulan data adalah melakukan pengkajian dengan

mengumpulkan semua data yang dibutuhkan ntuk mengevaluasi keadaan

ibu. Pada tahap ini semua data dasar dan informasi yang akurat dan

lengkap tentang klien dikumpulkan. Diagnosa kebidanan adalah diagnosis

ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan dirumuskan secara

spesifik. Pengkajian yang dilakukan terhadap Ny. N umur 17 tahun

P1A0AH1 dengan bendungan ASI di BPM Bidan Rini Utami, Tibayan,

Jatinom, Klaten :

21
a. Identitas pasien

1) Nama

2) Umur

3) Agama

4) Suku /bangsa

5) Pendidikan

6) Pekerjaan

7) Alamat

8) Nomor telepon

b. Data Subyektif pasien

1) Alasan kunjungan

2) Keluhan utama

3) Riwayat menstruasi

4) Riwayat perkawinan

5) Riwayat obstetri

6) Riwayat kontrasepsi yang digunakan

7) Riwayat persalinan

8) Keadaan bayi baru lahir

9) Riwayat post partum

10) Riwayat kesehatan

11) Kebiasaan yang mengganggu kesehatan

12) Pengetahuan ibu tentang nifas (perawatan ibu, bayi, dan laktasi)

c. Data obyektif pasien

22
1) Pemeriksaan umum

2) Pemeriksaan fisik

3) Pemeriksaan penunjang

4) Data penunjang

2. Langkah II : Interpretasi Data

Pada langkah ini dilakukan identifikasi berdasarkan masalah atau

diagnosa berdasarkan interpretasi yang benar atau data – data yang telah

dikumpulkan. Diagnosa masalah dan kebutuhan bergantung pada

pengkajian terhadap ibu. Diagnosa masalah dan kebutuhan bergantung

pada pengkajian terhadap ibu. Diagnosa yang dilakukan pada Ny. N umur

17 tahun P1A0AH1 dengan bendungan ASI di BPM Bidan Rini Utami,

Tibayan, Jatinom, Klaten meliputi:

a. Diagnosa Kebidanan yang meliputi data dasar subyektif dan data dasar

obyektif

b. Masalah kebidanan

3. Langkah III : Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial

Mengidentifikasi diagnosa yang mungkin terjadi berdasarkan

masalah yang sudah diitentifikasi dan merencanakan antisipasi segera.

Langkah ini penting untuk melakukan asuhan secara aman.

4. Langkah IV : Identifikasi dan Menetapkan Tindakan Segera

Antisipasi tindakan segera dibuat berdasarkan hasil identifikasi

pada diagnosa potensial. Langkah ini perlu ditetapkan segera oleh bidan,

23
dokter, atau konsultasi dan ditangani bersama dengan anggota tim

kesehatan bersama yang lainnya yang sesuai dengan kondisi pasien.

5. Langkah V : Perencanaan

Langkah ini direncanakan secara menyeluruh sesuai dengan asuhan

yang ditentukan aleh hasil kajian sebelumnya. Rencana asuhan

menyeluruh tidak hanya meliputi yang sudah teridentifikasi tetapi juga di

dapat dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut tentang

apa yang akan terjadi berikutnya. Setiap rencana asuhan harus disetujui

oleh kedua belah pihak sehingga asuhan yang diberikan dapat efektif

karena sebagian dari asuhan akan dilaksanakan pasien.

6. Langkah VI : Implementasi atau Perencanaan

Melaksanakan atau mengarahkan rencana asuhan dan antisipasi

secara efisien dan aman dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan ibu.

Bidan tidak melaksanakan asuhan sendiri, tetapi dia tetap memiliki

tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.

7. Langkah VII : Evaluasi

Mengevaluasi atau mengulangi kembali proses manajemen dengan

benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum

efektif. Langkah – langkah proses manajemen asuhan ini merupakan

pengkajian yang memperjelas proses berpikir yang mempengaruhi

tindakan serta berorientasi pada proses klinis.

24
C. Aspek Hukum

1. Kepmenkes RI No. 369/MENKES/SK/III/2007

Kompetensi ke-5 : Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan

menyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.

2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

161/MENKES/PER/2010

Dalam peraturan MENKES nomor 161/MENKES/PER/2010 yang

didalamnya membahas tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan.

Pada BAB III Penyelenggaraan praktik yaitu pasal 10 yang membahas

mengenai :

1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf a

diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa

nifas, masa menyusui, dan masa antara dua kehamilan.

2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

a. Pelayanan konseling pada masa pra hamil

b. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

c. Pelayanan persalinan normal

d. Pelayanan ibu nifas normal

e. Pelayanan ibu menyusui dan

f.Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan

3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat 2

berwenang untuk :.

a. Episiotomi

25
b. Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II dengan perujukan

c. Penanganan kegawat daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

d. Pemberian tablet Fe pada ibu hamil

e. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

f. Fasilitas/bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu ibu

eksklusif

g. Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan post

partum

h. Penyuluhan dan konseling

i. Bimbingan pada kelompok ibn hamil

j. pemberian surat keterangan kematian dan

k. pemberian surat keterangan cuti bersalin

26
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN NIFAS PATOLOGI PADA NY “N” UMUR 17


TAHUN P1 A0 Ah1 NIFAS HARI KE- 30 DENGAN BENDUNGAN ASI
DI BPM RINI UTAMI
KLATEN

I. PENGKAJIAN Tanggal : 15 Januari 2016, Jam 15.00 WIB

A. IDENTITAS

Istri Suami

Nama : Ny. N Tn. T

Umur : 17 Tahun 22 Tahun

Agama : Islam Islam

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Jawa/Indonesia

Pendidikan : SMP SMA

Pekerjaan : IRT Buruh

Alamat : Tibayan, Jatinom. Klaten. Jatinom, Klaten

No. Telp :-

B. DATA SUBYEKTIF

1. Alasan Datang

Ibu mengatakan ingin memeriksakan keadaannya

27
2. Keluhan Utama

Ibu mengatakan payudaranya nyeri, tegang, pengeluaran ASI tidak

lancar.

3. Riwayat Menstruasi

Menarche : 13 Tahun Siklus : 30 Hari

Lama : 6 -7 Hari Teratur : Teratur

Sifat Darah : Cair Keluhan : Tidak ada

4. Riwayat Perkawinan

Status Pernikahan : Sah/Kawin

Lama : 1 Tahun

Menikah ke : Pertama

Usia Menikah pertama kali : 16 Tahun

5. Riwayat Obstetrik : PI A0 AHI

Persalinan Nifas
Hamil
Jenis Kmpl Kmpl
Ke- Tgl UK Pnolong JK BB Lktasi
Prslinan ks ks

1. 15-12-2015 38+5 SC Dokter - Laki- 3200 + -


mgg laki

6. Riwayat Kontrasepsi yang digunakan


Ibu mengatakan belum pernah menggunakan jenis KB apapun. Ibu

berencana menggunakan KB suntik 3 bulan.

7. Riwayat Persalinan

Tanggal/Jam : 15 Desember/ Jam : 12.00 WIB

Tempat persalinan : RSI Klaten

28
Jenis persalinan : SC

Penolong : Dokter

Komplikasi : Tidak ada

8. Keadaan bayi baru lahir

Lahir tanggal/jam : 15 Desember/Jam : 12.00 WIB

Masa Gestasi : 38+5 Minggu

Jenis Kelamin : Laki- laki

BB/PB lahir : 3200 gram/ 48 cm

Pola Nutrisi

Frek. menyusu : 6x/ hari

Durasi : 15 menit

Keluhan : ASI kurang lancar

Pola eliminasi

BAK : 5x/hari

Konsistensi : cair

Warna : kuning jernih

Bau : khas urin

BAB : 2x /hari

Konsistensi : lembek

Warna : kuning

Bau : khas feces

9. Riwayat Post Partum

29
Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari

a. Pola nutrisi

Makan

Frekuensi : 3x /hari Pantangan : Tidak ada

Jenis : Nasi, Lauk, Sayur Keluhan : Tidak ada

Porsi : 1 piring sedang

Minum

Frekuensi : 6-7x/hari Pantangan : Tidak ada

Jenis : Air putih, Teh Keluhan : Tidak ada

Porsi :1 Gelas

b. Pola Eliminasi

BAB

Frekuensi : 1x/hari Konsistensi : Lembek

Warna : Kuning Keluhan : Tidak ada

BAK

Frekuensi : 4-5x/hari Konsistensi : Cair

Warna : Kuning jernih Keluhan : Tidak ada

c. Pola Istirahat

Tidur siang

Lama : 1 jam/hari Keluhan : Tidak ada

Tidur malam

Lama : 6 jam/hari Keluhan : Tidak ada

d. Pola Aktivitas (Terkait kegiatan fisik, perawatan bayi, dan diri)

30
1) Ibu mengatakan hanya melakukan kegiatan rumah tangga dan

tidak pernah berolahraga

2) Ibu mengatakan yang merawat bayinya adalah dirinya sendiri

dan dibantu oleh keluarga

3) Ibu mengatakan merawat dirinya sendiri

e. Pengalaman menyusui

ibu mengatakan baru meyusui pada kelahiran anak pertamanya

sekarang.

f. Kebiasaan menyusui

Posisi : Duduk, baring.

Durasi : 15 menit

Keluhan : ASI tidak lancar

10. Riwayat Kesehatan

a. Penyakit yang pernah/sedang diderita (Menular, menurun,

menahun)

Ibu mengatakan tidak pernah dan tidak sedang menderita

penyakit menular (HIV/AIDS, hepatitis, TBC), menurun (DM,

jantung, hipertensi, asma), menahun (paru-paru, ginjal, jantung)

b. Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga (menular,

menurun, dan menahun)

Ibu mengatakan baik dari keluarganya maupun keluarga suami

tidak pernah dan tidak sedang menderita penyakit menular

31
(HIV/AIDS, hepatitis, TBC), menurun (DM, jantung, hipertensi,

asma), dan menahun (paru-paru, ginjal, jantung)

c. Riwayat Operasi

Ibu mengatakan pernah menjalani operasi pada tanggal 15

Januari 2015.

d. Riwayat alergi obat

Ibu mengatakan tidak pernah alergi obat apapun

e. Riwayat keturunan kembar

Ibu mengatakan baik dari keluarganya maupun suami tidak ada

yang mempunyai keturunan kembar

11. Kebiasaan yang mengganggu kesehatan (Merokok, minum jamu,

minuman beralkohol)

a. Ibu mengatakan tidak pernah merokok

b. Ibu mengatakan tidak minum jamu

c. Ibu mengatakan tidak pernah minum-minuman beralkohol

12. Pengetahuan ibu (Perawatan ibu, bayi, dan laktasi)

a. Ibu mengatakan sudah tahu tentang perawatan ibu selama masa

nifas.

b. Ibu mengatakan sudah tahu tentang perawatan bayi.

c. Ibu mengatakan belum paham posisi dan tehnik menyusui yang

baik dan benar.

32
C. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan umum

Keadaan Umum : Pucat

Kesadaran : Kompos mentis

Status Emosional : Cemas

Tanda Vital

Tekanan darah : 110 /70 mmHg Nadi : 80x/menit

Pernafasan : 20x /menit Suhu : 37,8oc

Berat Badan : 55 kg Tinggi badan : 150 cm

2. Pemeriksaan fisik

Kepala : Mesocepal, tidak ada massa, tidak nyeri tekan.

Rambut : Hitam, kulit kepala bersih, tidak ada ketombe,

rambut ikal, rambut tidak rontok.

Muka : Oval, Bersih, tidak jerawatan

Mata : Simetris, sklera putih bersih, conjungtiva

pucat, tidak ada secret, tidak ada strabismus

Hidung : Bersih, tidak ada secret, tidak polip

Mulut : Bibir tidak pecah-pecah, tidak ada luka, tidak

ada sariawan, gusi tidak berdarah, gigi bersih,

gigi tidak berlubang, dan tidak ada karies gigi.

Telinga : Simetris, bersih, tidak ada serumen,

pendengaran bagus

33
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, parotis,

dan limfe, tidak ada pembengkakan vena

jugularis

Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada, nafas

teratur.

Payudara : Simetris, puting susu datar, payudara bengkak,

dan panas pengeluaran ASI kurang lancar,

tidak ada benjolan pada payudara

Abdomen : Ada luka bekas operasi, TFU: tidak teraba

Ekstremitas atas : Simetris, gerakan aktif, jari-jari lengkap, kuku

merah muda,

Ekstremitas bawah : Simetris, gerakan aktif, jari-jari lengkap, kuku

merah muda

Genetalia Luar : Tidak ada bekas jahitan perineum, tidak ada

pembengkakan, tidak ada varises, tidak ada

pembesaran kelenjar bartolini

Lokhea : Alba

Anus : Tidak hemoroid

3. Pemeriksaan penunjang

Tidak dilakukan

34
II. INTERPRETASI DATA

A. Diagnosa Kebidanan

Seorang ibu Ny. N umur 17 Tahun PIA0AhI nifas hari ke- 30 dengan

bendungan ASI

Data dasar

Data dasar subyektif :

1. Ibu mengatakan umur 17 tahun

2. Ibu mengatakan ini persalinannya yang pertama

3. Ibu mengatakan tidak pernah mengalami keguguran

4. Ibu mengatakan payudaranya nyeri, tegang.

5. Ibu mengatakan pengeluaran ASI kurang lancar.

6. Ibu mengatakan bayinya susah menyusu

Data dasar obyektif :

1. KU : Pucat

2. Kesadaran : kompos mentis

3. Payudara : Puting susu datar, payudara tegang dan

pengeluaran ASI kurang lancar.

4. Abdomen : Ada luka bekas operasi, TFU: tidak teraba.

5. Genetalia : Tidak ada bekas jahitan perineum , tidak ada

pembengkakan, tidak ada varises, tidak ada pembesaran kelenjar

bartolini, lochea alba.

B. Masalah

Ibu merasa cemas

35
Dasar : ibu merasa payudaranya nyeri dan tegang sehingga ibu tidak

menyusui bayinya.

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA /MASALAH POTENSIAL

Potensial mastitis.

IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA

Kompres hangat dan kompres dingin

V. PERENCANAAN Tgl : 15-01- 2016, Jam : 15.05 WIB

1. Lakukan pendekatan secara terapeutik

Rasional : Ibu dapat diajak kerjasama sehingga asuhan kebidanan

dapat tercapai.

2. Observasi TTV

Rasional: Untuk mengetahui keadaan umum ibu.

3. Jelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan.

Rasional : Dengan menjelaskan hasil pemeriksaaan pada ibu maka

ibu dapat mengetahui keadaanya saat ini.

4. Anjurkan kepada ibu agar sesering mungkin menyusui bayinya.

Rasional : Dengan menyusui sesering mungkin maka akan

mengurangi penumpukan ASI pada payudara.

5. Ajari ibu perawatan payudara masa nifas

Rasinal : Untuk melancarkan peredaran darah

6. Ajari ibu tehnik menyusui yang benar

36
Rasional : Dengan mengajari tehnik menyusui yang benar kepada ibu

maka ibu dapat mengetahui tehnik menyusui yang benar sehingga

tidak terjadi lecet pada puting susu ibu.

7. Beritahu ibu untuk makan-makanan yang bergizi

Rasional : Makanan bergizi dapat menambah produksi ASI bagi ibu.

8. Beri terapi obat paracetamol 500 mg 3x 1 tablet

Rasional : Pemberian parasetamol 500 mg untuk mengurangi rasa

nyeri dan menurunkan panas.

VI. PELAKSANAAN Tgl : 15-01-2016, Jam : 15.10 WIB

1. Melakukan pendekatan terapeutik pada klien dengan memberi salam

dengan ramah dan menanyakan keluhan.

2. Mengobservasi TTV yaitu:

TD : 100/60 mmHg, Nadi : 80x/m

Pernafasan : 20x/m, Suhu : 36,70c,

3. Memberitahu kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa saat ini

ibu mengalami bendungan ASI disebabkan oleh pengeluaran ASI

yang tidak lancar,

4. Menganjurkan kepada ibu agar sesering mungkin menyusui bayinya

setiap 2 jam.

5. Mengajarkan ibu cara perawatan payudara yaitu :

a. Mencuci kedua tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan,

b. Membasahi kedua telapak tangan dengan baby oil,

c. Menempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara

37
d. Melakukan pengurutan pertama : kedua telapak tangan diletakkan

diantara kedua payudara, diurut keatas, kesamping, kebawah

menyangga payudara dilakukan 15- 20x. Teruskan pengurutan

kebawah, samping, melintang, lalu kedepan.

e. Melakukan pengurutan kedua tangan kiri menyangga payudara

kiri, 4 jari tangan kanan membuat gerakan memutar sambil

menekan mulai dari pangkal ke puting secara bergantian dengan

payudara kanan.

f. Melakukan pengurutan ketiga; tangan kanan mengurut payudara

dari atas keatah puting, bergantian dengan satunya, mengompres

payudara dengan washlap yang telah dibasahi air hangat selama 2

menit lalu gantian dengan waslap yang telah dibawahi air dingin.

6. Mengajari ibu tehnik menyusui yang benar yaitu :

a. Cuci kedua tangan dengan menggunakan air yang bersih dan

mengalir,

b. Duduk dengan santai rileks dengan kaki menapak pada lantai,

posisikan bayi dengan kepala bayi berada dilipatan siku ibu,

punggung ditopang oleh lengan bawah, bokong ditopang dengan

telapak tangan, dan pastikan posisi bayi tegak dan mulut bayi

tepat berada pada putting ibu, perut bayi menempel pada perut

ibu,

c. Kemudian memeras sedikit ASI dan mengoleskan ke putting susu

dan daerah sekitar areola

38
d. Berikan rangsangan pada bayi ibu disekitar pipi atau mulut bayi,

setelah bayi membuka mulut kemudian segera dekatkan bayi ke

putting ibu, pastikan seluruh areola masuk ke dalam mulut bayi

dan rasakan hisapan bayi

e. Setelah bayi puas menyusu kemudian lepaskan hisapan bayi

dengan cara memasukkan jari kelingking pada sudut mulut bayi

dan ibu jari menekan dagu bayi setelah bayi melepas hisapannya,

kemudian sendawakan.

7. Memberitahu ibu untuk makan-makanan yang bergizi banyak makan

sayur-sayuran, buah-buahan, agar produksi ASI juga lancar.

8. Memberikan obat Paracetamol 3x 1 tablet

VII. EVALUASI Tgl : 15-01-2016, Jam : 15.20 WIB

1. Ibu menyampaikan keluhannya yaitu payudaranya terasa nyeri dan

tegang.

2. Ibu sudah mengetahui hasil TTV dan keadaannya saat ini.

3. Ibu sudah mengerti mengetahui sakitnya saat ini yaitu bendungan

ASI.

4. Ibu bersedia untuk menyusui sesering mungkin (setiap 2 jam)

5. Ibu sudah mengerti dan bersedia melakukan perawatan payudara

6. Ibu sudah mengerti dan mau melakukan tehnik menyusui yang benar

7. Ibu bersedia mengkonsumsi makanan yang bergizi

8. Ibu bersedia meminum obat paracetamol 3x sehari

39
BAB IV

PEMBAHASAN

Bab ini merupakan pembahasan “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Ny. “N” umur

17 tahun Dengan Bendungan ASI di BPM “Bidan Rini Utami.” yaitu

membandingkan antara penatalaksanaan asuhan kebidanan yang telah diberikan di

lahan dengan teori yang ada. Penulis telah melakukan manajemen kebidanan

sesuai dengan 7 langkah varney yaitu:

A. Pengkajian

Penulis melaksanakan pengumpulan data secara mandiri baik subyektif

maupun obyektif. Pada kasus didapatkan data subyektif pada tanggal 15

Januari 2016 pukul 15.00 WIB ibu nifas dengan bendungan ASI Pada

anamnesa ibu mengatakan bahwa ini adalah anak pertamanya dan mengeluh

payudaranya nyeri, tegang dan pengeluaran ASInya belum lancar, dan ibu

mengatakan pada waktu sebelum hamil, selama hamil maupun setelah

melahirkan ini tidak pernah menderita penyakit menular (Hepatitis, TBC,

HIV/AIDS, PMS, dan lain-lain), dan tidak pernah menderita penyakit

menurun (Hipertensi, Jantung, DM, Asma, dan lain-lain).

Data obyektif yang didapat adalah: Keadaan umum : baik, Kesadaran

:kompos mentis, Tekanan Darah :110/70 mmHg, penafasan : 20 x/menit, nadi

: 80x /menit, suhu : 37,80c. hasil pemeriksaan fisik pada payudara didapatkan

puting susu datar, payudara nyeri dan tegang, dan tidak ada benjolan atau

massa pada payudara. Hal ini sesuai dengan teori teori yang menyatakan

40
bahwa ibu yang mengalami bendungan ASI akan mengalami gejala Payudara

bengkak, tegang, nyeri bila ditekan, terjadinya peningkatan suhu tubuh yang

berkisar 380C-390C (Manuaba 2010).

Berdasarkan kasus pada Ny. N umur 17 tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI di BPM Rini Utami, Tibayan, Jatinom, Klaten. penulis telah

melakukan pengkajian sesuai dengan teori manajemen Varney (2007) yaitu

tentang identitas pasien, data subyektif dan data obyektif. Pada data obyektif,

pemeriksaan penunjang tidak dilakukan karena pasien hanya memeriksakan

keadaanya di BPM. Pada kasus ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan

praktek karena informasi yang dibutuhkan telah sesuai dengan teori yang ada

yaitu teori Varney (2007).

B. Interpretasi Data

Pada teori langkah kedua ini didapat pengkajian data dasar yang

disimpulkan kemudian diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan menjadi

diagnosa kebidan dan diagnosa masalah

1. Diagnosa kebidanan

Pada kasus ini ditegakkan diagnosa kebidanan yaitu Ny. N umur 17

tahun P1A0AH1 dengan bendungan ASI di BPM Bidan Rini Utami,

Tibayan, Jatinom, Klaten. Hal ini didapatkan dari data subyektif yang

didapatkan dari pengkajian data dasar kepada ibu dan data obyektif

didapatkan dari hasil pemeriksaan pada payudara yaitu payudara terlihat

tegang dan bengkak.

41
2. Diagnosa masalah

Dalam kasus ini diagnosa masalah yang muncul pada masa nifas

dengan bendungan ASI adalah payudara ibu bengkak dan nyeri.

Berdasarkan hal di atas, interpretasi data yang penulis lakukan pada

pada Ny. N umur 17 tahun P1A0AH1 dengan Bendungan ASI di BPM

Bidan Rini Utami, Tibayan, Jatinom, Klaten, telah sesuai dengan teori

interpretasi data pada teori Varney (2007) yaitu tentang diagnosa

kebidanan dan diagnosa masalah. Dari kasus ini didapatkan tidak ada

kesenjangan antara teori Varney dan praktek dimana tanda dan gejala dari

bendungan payudara adalah payudara terasa bengkak, dan nyeri.

C. Identifikasi Diagnosa Potensial

Pada kasus ini terdapat diagnosa masalah potensial yang telah penulis

lakukan yaitu pada Ny. N umur 17 tahun P1A0AH1 dengan Bendungan ASI

di BPM Rini Utami, yaitu berpotensial terjadi mastitis. Ini sesuai dengan teori

yang menyatakan bahwa ibu nifas yang mengeluh bengkak dan nyeri satu

tempat pada payudara, warna merah pada seluruh payudara, payudara keras,

sakit dan temperatur suhu meningkat akan mengalami mastitis (Suherni,

2008). Pada identifikasi diagnosa potensial tidak ada kesenjangan antara

praktik dengan teori.

D. Identifikasi Antisipasi Tindakan Segera

Dalam kasus pada Ny. N umur 17 tahun P1A0AH1 dengan Bendungan

ASI di BPM Rini Utami, Tibayan, Jatinom, Klaten, tindakan antisipasi sangat

penting untuk dilakukan agar diagnosa potensial tidak terjadi. Pada kasus ini

42
antisipasi yang dilakukan adalah melakukan kompres hangat dan kompres

dingin. Pada kasus ini tidak ada kesenjangan antara praktik dan teori yang ada.

Penulis telah melakukan antsipasi tindakan segera sesuai dengan teori Varney

(2007) dan Suhermi (2008).

E. Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan di BPM dalam memeriksakan asuhan nifas

pada bendungan ASI yaitu:

1. Lakukan pendekatan terapeutik kepada ibu

2. Observasi TTV

3. Jelaskan pada ibu tentang hasil pemeriksaan

4. Anjurkan ibu untuk menyusui sesering mungkin

5. Beritahu ibu cara perawatan payudara

6. Ajari ibu tehnik menyusui yang benar

7. Beritahu ibu untuk makan-makanan yang bergizi

8. Memberikan obat paracetamol 3 x 1 tablet

Pada kasus Berdasarkan kasus Ny. N umur 17 tahun Dengan Bendungan

ASI di BPM Bidan Rini Utami, penulis telah melakukan perencanaan sesuai

dengan teori manajemen Varney (2007), yaitu merencanakan secara

menyeluruh sesuai dengan asuhan yang ditentukan oleh kajian sebelumnya.

Perencanaan yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan ibu nifas dengan

bendungan ASI karena telah didasarkan dan didukung dengan data – data yang

telah ada sesuai dengan teori Suhermi (2008). Pada kasus ini tidak terjadi

penyimpangan antara teori manajemen Varney (2007) dan praktek di lahan.

43
F. Pelaksanaan

Pada kasus Ny. N umur 17 tahun Dengan Bendungan ASI di BPM Bidan

Rini Utami, Tibayan, Jatinom, Klaten telah dilakukan pelaksanaan asuhan

kebidanan sesuai dengan manajemen Varney (2007) dan Manuaba (2010),

dimana pelaksanaan diberikan sesuai dengan perencanaan tindakan. Dalam

pemberian asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI, penulis

telah melaksanakan tindakan kebidanan sesuai rencana yang telah dibuat

yaitu:

1. Melakukan pendekatan secara terapeutik dengan memberi salam dan

menanyakan keluhan

2. Mengobservasi TTV ibu untuk mengetahui keadaan umum ibu yaitu:

TD : 110/70 mmHg, Pernafasan : 20x/m, Nadi : 80x/m, Suhu : 37,80c,

3. Menjelaskan kepada ibu tentang hasil pemeriksaan, payudara bengkak,

putting susu datar dan ASI tidak lancar dan ibu mengalami bendungan ASI

4. Menganjurkan ibu untuk menyusui sesering mungkin (setiap 2 jam)

5. Mengajari ibu cara melakukan perawatan payudara yaitu :

a. Mencuci kedua tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

b. Membasahi kedua telapak tangan dengan baby oil.

c. Menempatkan kedua telapak tangan diantara kedua payudara.

d. Melakukan pengurutan pertama : kedua telapak tangan diletakkan

diantara kedua payudara, diurut keatas, kesamping, kebawah

menyangga payudara dilakukan 15- 20x. Teruskan pengurutan

kebawah, samping, melintang, lalu kedepan.

44
e. Melakukan pengurutan kedua tangan kiri menyangga payudara kiri, 4

jari tangan kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai

dari pangkal ke puting secara bergantian dengan payudara kanan.

f. Melakukan pengurutan ketiga; tangan kanan mengurut payudara dari

atas keatah puting, bergantian dengan satunya,

g. Mengompres payudara dengan washlap yang telah dibasahi air hangat

selama 2 menit lalu gantian dengan waslap yang telah dibawahi air

dingin.

6. Mengajari ibu tehnik menyusui yang benar adalah

a. Cuci kedua tangan dengan menggunakan air yang bersih dan mengalir,

b. Duduk dengan santai rileks dengan kaki menapak pada lantai, posisikan

bayi dengan kepala bayi berada dilipatan siku ibu, punggung ditopang

oleh lengan bawah, bokong ditopang dengan telapak tangan, dan

pastikan posisi bayi tegak dan mulut bayi tepat berada pada putting ibu,

perut bayi menempel pada perut ibu,

c. Kemudian memeras sedikit ASI dan mengoleskan ke putting susu dan

daerah sekitar areola

d. Berikan rangsangan pada bayi ibu disekitar pipi atau mulut bayi, setelah

bayi membuka mulut kemudian segera dekatkan bayi ke putting ibu,

pastikan seluruh areola masuk ke dalam mulut bayi dan rasakan hisapan

bayi

e. Setelah bayi puas menyusu kemudian lepaskan hisapan bayi dengan

cara memasukkan jari kelingking pada sudut mulut bayi dan ibu jari

45
menekan dagu bayi setelah bayi melepas hisapannya, kemudian

sendawakan.

7. Memberitahu ibu untuk makan-makanan yang bergizi banyak makan

sayur-sayuran, buah-buahan, perbanyak makan protein, minum air putih

yang banyak serta istirahat yang cukup agar produksi ASI juga lancar.

8. Memberikan obat paracetamol 3x 1 tablet untuk menurunkan panas

G. Evaluasi

Dari pengkajian hingga pelaksanaan yang telah dilakukan pada tanggal 15

Januari 2016 pada Ny. N umur 17 tahun Dengan Bendungan ASI di BPM

Bidan Rini Utami, tidak ada penyimpangan antara teori dan praktek menurut

Prawirohardjo (2006), maka diperoleh evaluasi yaitu:

1. Ibu menyampaikan semua keluhannya

2. Ibu sudah mengetahui hasil TTV dan keadaannya saat ini.

3. Ibu sudah mengerti tentang keadaannya saaat ini.

4. Ibu bersedia untuk menyusui sesering mungkin ( setiap 2 jam)

5. Ibu bersedia untuk melakukan perawatan payudara

6. sudah mengerti dan mau melakukan tehnik menyusui yang benar.

7. Ibu bersedia untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi.

8. Ibu bersedia mengkonsumsi obat yang diberikan yaitu paracetamol 3x

sehari

46
BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan ”Asuhan Kebidanan Ibu Nifas pada Ny. N Umur 17

Tahun P1A0AH1 Dengan Bendungan ASI Pada Tanggal 15 Januari 2016

di BPM Bidan Rini Utami.” telah dilakukan sesuai teori manajemen

Varney (2007) yang meliputi:

1. Pengkajian

Dari data subyektif Ny. N Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI di BPM Bidan Rini Utami, Tibayan, Jatinom, Klaten

mengatakan Ibu mengatakan payudaranya nyeri, tegang, pengeluaran

ASI tidak lancar. Pada pengkajian data obyektif pada Ny. N

didapatkan Tekanan darah : 110/70 mmHg, Nadi: 80x/menit,

Pernafasan: 20x/menit, Suhu : 37,8oc. pada pemeriksaan fisik puting

susu datar, payudara bengkak dan kemerahan, ASI belum lancar

keluar, tidak ada benjolan pada payudara

2. Interpretasi data

Interpretasi data pada Ny. N Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI di BPM Bidan Rini Utami dengan bendungan ASI

hari ke-3 dari hasil pengkajian data yang diperoleh baik dari data

subjektif maupun data objektif, maka dapat ditarik diagnosa kebidanan

47
yaitu seorang ibu Ny. N usia 17 tahun P1A0AH1 dengan bendungan

ASI. Diagnosa masalah yaitu gangguan kecemasan

3. Pada kasus ibu nifas Ny. N Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI di BPM Rini Utami, Tibaya, Jatinom, Klaten.

4. Antisipasi tindakan segera yang dilakukan pada ibu nifas Ny. N Umur

17 Tahun P1A0AH1 Dengan Bendungan ASI Hari ke-3 di Bidan Rini

Utami, Tibayan, Jatinom, Klaten adalah kompres hangat dan dingin

5. Pada kasus ibu nifas Ny. N Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI di Bidan Rini Utami, Tibayan, Jatinom, Klaten

perencanaan yang disusun adalah lakukan pendekatan tetapeutik,

observasi TTV dan KU, beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan,

beitahu ibu cara perawatan payudara, ajari ibu tehnik menyusui yang

benar, beritahu ibu makan-makanan yang bergizi, beri terapi obat

paracetamol per 3x 1 tablet

6. Pada pelaksanaan pada ibu nifas Ny. N Umur 17 Tahun P1A0AH1

Dengan Bendungan ASI di BPM Rini Utami adalah melakukan

pendekatan terapeutik, mengobservasi TTV da KU, memberitahu ibu

tentang hasil pemeriksaan, memberitahu ibu cara perawatan payudara,

mengajari ibu tehnik menyusui yang benar, memberitahu ibu makan-

makanan yang bergizi, memberi terapi obat paracetamol 3x 1 tablet.

7. Pada evaluasi ibu nifas Ny. N Umur 17 Tahun P1A0AH1 Dengan

Bendungan ASI di BPM Rini Utami, Jatinom, Klaten semua asuhan

yang telah dilakukan pada ibu nifas dengan bendungan ASI. Klien

48
dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya dan klien mengerti

semua penjelasan bidan, dibuktikan dengan klien dapat mengulang

kembali apa yang telah dijelaskan bidan.

B. Saran

Dari hasil studi kasus ada beberapa saran yang penulis ajukan dan

penulis mengharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan yaitu:

1. Bagi Bidan

Menerangkan manajemen varney dalam memberikan asuhan

kebidanan pada ibu nifas khususnya dengan bendungan ASI.

2. Bagi BPM Rini Utami

BPM hendaknya selalu mengarah pada manajemen varney dalam

memberikan asuhan kebidanan serta mempunyai kontribusi dalam

membuat solusi yang berkaitan dengan diagnosa pasien sehingga

meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Menambah sumber bacaan di perpustakaan yang berkaitan dengan

asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI Diharapkan

semua institusi pendidikan dapat mempersiapkan tenaga kesehatan

yang kompeten dalam memberikan pelayanan kesehatan pada

nantinya.

49