Anda di halaman 1dari 12

No Kelompok ∑ Koloni Bakteri Efektivitas

Perlakuan 10-1 / 10-2 10-2 / 10-3 10-2 / 10-3


(1) (2)
1 Kontrol 5 78 5
2 Handsanitizer 11 15 159 0 ; 80,76 % ; 0
3 Sabun batang 1 11 1 80 % ; 86 % ; 80 %
4 Handwash 24 6 1 0 ; 92, 3 % ; 80 %
5 Betadine 0 8 1 0 ; 89 % ; 80 %
6 Handrub 93 4 58 -;74 %; -

1. Kelompok kontrol
Pada praktikum tersebut kami hanya menggunakan air kran yang
bersumber dari PDAM sebagai bahan sterilisasi tangan. Berdasarkan data
yang diperoleh dari praktikum yang telah dilaksanakan, menunjukkan
bahwa tingkat validasi data kurang sesuai dengan teori Seharusnya dengan
pengenceran yang lebih besar menggunakan larutan fisiologi NaCl koloni
koloni bakteri yang ditemukan juga lebih sedikit. Pada hasil praktikum
menunjukkan hasil koloni bakteri pada pengenceran pertama dan kedua
berturut-turut adalah 5, 78 dan 5. Faktor yang memungkinkan terjadinya
hal tersebut diantaranya :
a. Membuka cawan petri terlalu lebar ketika penanaman sampel
yang berisi koloni bakteri sehingga memungkinkan
mikroorganisme yang ada di udara ikut serta masuk ke cawan
petri.
b. Drugalsky yang terlalu panas saat proses sterilisasi sehingga saat
digunakan untuk meratakan sampel di cawan petri justru
mematikan kolonibakteri tersebut.
c. Arah pembukaan medium yang berlawanan dengan arah
sirkulasi udara ataupun angina angin.
d. Kurangnya tingkat sterilitas pada tiap tahapan prosedur kerjanya
misalnya terlalu jauh dengan api bunsen saat memasukkan
sampel yang berisi koloni bakteri kedalam cawan petri.
Menurut Arifiani dkk (2007) sumber energi yang terpenting di dunia
ini adalah air. Ketersediaan air yang cukup secara kuantitas, kualitas, dan
kontinuitas sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia. Pemenuhan
kebutuhan air minum dan air bersih di Indonesia diperoleh melalui air sumur
dan air yang berasal dari PDAM. Untuk air minum, maka air sumur atau air
PDAM tersebut dimasak terlebih dahulu akan tetapi untuk air bersih, air
sumur atau air PDAM bisa langsung dikonsumsi (Kusdiyanto dkk, 2007).
Pengertian air bersih menurut Permenkes RI No
416/Menkes/IX/1990 adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-
hari dan dapat diminum setelah dimasak. Pengertian air minum menurut
Kepmenkes RI No 907/MENKES/SK/VII/2002 adalah air yang melalui
proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat
kesehatan (bakteriologis, kimiawi, radioaktif, dan fisik) dan dapat langsung
diminum. Air baku adalah air yang digunakan sebagai sumber atau bahan
baku dalam penyediaan air bersih. Sumber air baku yang dapat digunakan
untuk penyediaan air bersih yaitu air hujan, air permukaan (air sungai, air
danau atau rawa), air tanah (air tanah dangkal, air tanah dalam dan mata air)
Arifiani dkk (2007).
Standar kualitas air bersih yang ada di Indonesia saat ini
menggunakan Permenkes RI No 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat -
Syarat dan Pengawasan Kualitas Air dan PP RI No.82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, sedangkan
standar kualitas air minum menggunakan Kepmenkes RI No.
907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat – Syarat dan Pengawasan
Kualitas Air Minum Arifiani dkk (2007).
Pada praktikum ini kami lebih mengacu pada penggunaan air bersih
atau tanpa proses pengolahan karena air kran yang digunakan pada
praktikum ini hanya sebatas digunakan untuk sterilisasi tangan probandus.
Berdasarkan penelitian Andhika dkk (2013) menunjukkan bahwa air PDAM
sebelum dilakukan pengolahan mengandung bakteri E. Coli dan Chlor.
Adanya kandungan bakteri E.coli dalam air dapat menimbulkan gangguan
pada manusia terutama penyakit yang berhubungan dengan air antara lain :
diare, filariasis, dysentri, malaria dan lain – lain. Maka dari itu kandungan
bakeri E.coli yang disyaratkan haruslah 0 / 100ml sampel air.
Chlor adalah zat kimia yang sering dipakai karena harganya murah,
dan masih mempunyai daya desinfektan sampai beberapa jam setelah
pembubuhan. Kadar sisa chlor sesudah pengolahan yang dibutuhkan dalam
air dalah 0,2 mg /l angka ini merupakan margin of safety (nilai batas
keamanan) pada air untuk membunuh kuman patogen yang mengontaminasi
pada saat penyimpanan dan pendistribusian air (Andhika dkk, 2013).
Air tidak boleh mengandung sesuatu bibit penyakit. Penyakit –
penyakit yang sering menular dengan perantaraan air adalah penyakit yang
tergolong dalam ”water born diseases” yaitu : chlolera, typhus abdominalis,
dysentri basiler dan dysentri amuba, heaptitis infektiosa, poliomyelitis
anterior acuta dan penyakit karena cacing. Oleh karena itu sebagai tenaga
medis kita harus menerapkan Hand Hygiene. Ada bebarapa metode yang
biasa digunakan untuk Hand Hygiene diantaranya menggunakan
handsanitizer, sabun antiseptik, handwashing dan handrub (Wuriyatmi,
2016).
Hand hygiene merupakan salah satu upaya dalam mengatasi infeksi
Nosokomial karena tangan merupakan media transmisi patogen tersering di
dunia medis. Infeksi nosokomial menurut World Health Organization
(WHO) adalah infeksi yang tampak pada pasien ketika dirawat di rumah
sakit paling tidak selama 72 jam dan pasien tersebut tidak menunjukkan
gejala infeksi saat masuk rumah sakit. Infeksi nosokomial yang
dimaksudkan ini termasuk juga adanya tanda-tanda infeksi setelah pasien
keluar dari rumah sakit (Ducel dkk., 2002).
Infeksi nosokomial sampai saat ini merupakan salah satu penyebab
meningkatnya angka kematian (mortality) dan angka kesakitan (morbidity)
di rumah sakit, sehingga dapat menjadi masalah kesehatan baru, baik di
negara berkembang maupun di negara maju. Angka kejadian infeksi
nosokomial yang tercatat di beberapa negara adalah 3.3%-9.2%, dapat
diartikan bahwa besar kemungkinan penderita yang dirawat di rumah sakit
dapat tertular infeksi nosokomial (Darmadi, 2008).
2. Handsanitizer
Pada praktikum tersebut kami menggunakan merk “Antis” sebagai
bahan sterilisasi tangan. Berdasarkan data yang diperoleh dari praktikum
yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa tingkat validasi data kurang
sesuai dengan teori. Seharusnya dengan pengenceran yang lebih besar
menggunakan larutan fisiologi NaCl koloni koloni bakteri yang ditemukan
juga lebih sedikit. Pada hasil praktikum menunjukkan hasil koloni bakteri
pada pengenceran pertama dan kedua berturut-turut adalah 11, 15 dan 159.
Faktor yang memungkinkan terjadinya hal tersebut diantaranya :
a. Membuka cawan petri terlalu lebar ketika penanaman sampel
yang berisi koloni bakteri sehingga memungkinkan
mikroorganisme yang ada di udara ikut serta masuk ke cawan
petri.
b. Drugalsky yang terlalu panas saat proses sterilisasi sehingga saat
digunakan untuk meratakan sampel di cawan petri justru
mematikan kolonibakteri tersebut.
c. Arah pembukaan medium yang berlawanan dengan arah
sirkulasi udara ataupun angina angin.
d. Kurangnya tingkat sterilitas pada tiap tahapan prosedur kerjanya
misalnya terlalu jauh dengan api bunsen saat memasukkan
sampel yang berisi koloni bakteri kedalam cawan petri.

Secara umum Handsanitizer adalah produk pembersih tangan dalam


bentuk gel yang mengandung zat antiseptik yang digunakan untuk mencuci
tangan tanpa harus membilasnya dengan air (Depkes RI, 2008).
Penggunaannya lebih efektif membunuh flora residen dan flora transien
daripada mencuci tangan dengan sabun antiseptik atau dengan sabun biasa
dan air (Depkes RI, 2008). Menurut food and drug administration (FDA)
hand sanitizer dapat menghilangkan kuman kurang dari 30 detik.
3. Sabun batang
Berdasarkan data yang diperoleh dari praktikum yang telah
dilaksanakan, menunjukkan bahwa tingkat validasi data kurang sesuai
dengan teori. Seharusnya dengan pengenceran yang lebih besar
menggunakan larutan fisiologi NaCl koloni koloni bakteri yang ditemukan
lebih sedikit. Pada hasil praktikum menunjukkan hasil koloni bakteri pada
pengenceran pertama dan kedua berturut-turut adalah 1, 11 dan 1. Faktor
yang memungkinkan terjadinya hal tersebut diantaranya :
a. Membuka cawan petri terlalu lebar ketika penanaman sampel
yang berisi koloni bakteri sehingga memungkinkan
mikroorganisme yang ada di udara ikut serta masuk ke cawan
petri.
b. Drugalsky yang terlalu panas saat proses sterilisasi sehingga saat
digunakan untuk meratakan sampel di cawan petri justru
mematikan kolonibakteri tersebut.
c. Arah pembukaan medium yang berlawanan dengan arah
sirkulasi udara ataupun angina angin.
d. Kurangnya tingkat sterilitas pada tiap tahapan prosedur kerjanya
misalnya terlalu jauh dengan api bunsen saat memasukkan
sampel yang berisi koloni bakteri kedalam cawan petri.
Pada praktikum tersebut kami menggunakan sabun batang bermerk
“Dettol” sebagai bahan sterilisasi tangan. Sabun tersebut termasuk salah
satu jenis sabun antiseptik yang dapat membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan yang hidup seperti pada
permukaan kulit dan membran mukosa (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Kandungan dalam sabun antiseptik menurut Paul dkk (2003) adalah sebagai
berikut :
Bahan Komposisi (%)
Surfaktan 35-70
Polisorbat 10-30
Triklosan 0.2-2
Pewangi 1-3
Air 40-80
Menurut WHO, triklosan efektif dipakai dengan kadar 0,2-2%
karena kadar itu triklosan memiliki efek antimikroba dengan mekanisme
menghambat enoyl ACP-reductase essential enzymes yang berguna sebagai
sintesis asam lemak bakteri. Triklosan memiliki sifat bakteriostatik,
sporostatik, dan bakterisidal. Triklosan lebih efektif terhadap bakteri gram
positif dibandingkan gram negatif, hampir tidak memiliki efek bakteri gram
negatif seperti Pseudomonas aeruginosa. (Kim dkk, 2015).
Penelitian yang dilakukan oleh Mwambate dan Lyombe (2011)
dengan cara membiakkan bakteri Pseudomonas aeroginosa,
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli di dalam cawan petri yang
berisi sabun cair cuci tangan menunjukkan bahwa sabun cair cuci tangan
memiliki daya hambat terhadap bakteri-bakteri tersebut. Penelitian lain
yang dilakukan oleh Burton dkk pada tahun 2010 membuktikan bahwa
jumlah bakteri pada telapak tangan yang dicuci menggunakan sabun lebih
sedikit dibandingkan dengan jumlah bakteri yang ditemukan pada tangan
yang dicuci tanpa sabun.
Agar mencapai hasil yang paling efektif, penggunaan triklosan pada
sabun cair antiseptik diimbangi dengan polisorbat 20. Penggunaan
polisorbat 20 bertujuan untuk membantu melarutkan triklosan karena
triklosan merupakan bahan yang tidak larut air (Paul dkk, 2003).
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu cara paling efektif
untuk mencegah penyakit diare dan ISPA, yang keduanya menjadi
penyebab utama kematian anak-anak. Setiap tahun, sebanyak 3,5 juta anak-
anak diseluruh dunia meninggal sebelum mencapai umur lima tahun karena
penyakit diare dan ISPA. Mencuci tangan dengan sabun juga dapat
mencegah infeksi kulit, mata, cacing yang tinggal dalam usus, SARS, dan
flu burung (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Berdasarkan penelitian Cordita (2017) mencuci tangan
menggunakan sabun cair antiseptik lebih efektif daripada mencuci tangan
menggunakan hand sanitizer dalam menurunkan jumlah angka kuman.
Efektivitas mencuci tangan menggunakan hand sanitizer terhadap
penurunan jumlah angka kuman sebesar 60%. Efektivitas mencuci tangan
menggunakan sabun cair antiseptik terhadap penurunan jumlah angka
kuman sebesar 73%.
4. Handwash
Berdasarkan data yang diperoleh dari praktikum yang telah
dilaksanakan, menunjukkan bahwa tingkat validasi data pada bahan
sterilisasi handwash yang paling sesuai dengan teori yaitu dengan
pengenceran yang lebih besar menggunakan larutan fisiologi NaCl, koloni
bakteri yang ditemukan lebih sedikit. Pada hasil praktikum menunjukkan
hasil koloni bakteri pada pengenceran pertama dan kedua berturut-turut
adalah 24, 6 dan 1.
Pada praktikum tersebut kami menggunakan sabun cair bermerk
“Dettol” sebagai bahan sterilisasi tangan. Pada dasarnya kandungan sabun
cair dan sabun batang antiseptik adalah sama. Sabun antiseptik memiliki
kemampuan membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme
pada jaringan yang hidup seperti pada permukaan kulit dan membran
mukosa (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras
(hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan
sabun lunak (soft soap). Sabun dibuat dengan dua cara yaitu pertama
proses saponifikasi dan proses netralisasi. Reaksi proses saponifikasi
yaitu :

Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan


yaitu gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara
trigliserida dengan alkali (Ophardt, 2003 dalam Alvera 2012). Proses
yang kedua yaitu proses netralisasi terjadi antara reaksi asam lemak
bebas dengan alkali. Pada proses ini tidak menghasilkan gliserol,
melainkan menghasilkan air. Reaksinya sebagai berikut :

R-COOH + KOH  R-COO- K + H2O


(Asam Karboksilat) (Alkali) (Garam) (Air)
Sifat utama dari bahan dasar sabun harus dapat menurunkan
tegangan permukaan. Bahan yang dapat menurunkan tegangan
permukaan pada air secara efektif disebut surface active agents atau
surfaktan. Surfaktan mempunyai fungsi penting dalam proses
membersihkan, seperti menghilangkan bau dan membentuk emulsi, serta
mengikat kotoran dalam bentuk suspensi sehingga kotoran tersebut
dapat dibuang (Kamikaze, 2002).
Triclosan merupakan salah satu komponen penting yang ada
didalam sabun padat ataupun cair dan menjadi salah satu antibakteri
yang banyak digunakan karena efektif terhadap berbagai bakteri gram
positif dan gram negatif, dapat ditoleransi dengan baik dan jarang
menimbulkan reaksi alergi (Paul, 2007). Triclosan merupakan salah satu
zat antibakteri yang banyak digunakan karena efektif menghambat
hingga membunuh berbagai bakteri gram positif dan gram negatif.
Triclosan banyak digunakan sebagai zat aktif antibakteri pada
berbagai macam obat luka luar, sabun mandi hingga sabun cuci tangan
(Alvera, 2012). Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM), maksimal penggunaan triclosan dalam sediaan kosmetik yaitu
0,3 %.

5. Betadine
6. Handrub
Berdasarkan data yang diperoleh dari praktikum yang telah
dilaksanakan, menunjukkan bahwa tingkat validasi data kurang sesuai
dengan teori. Seharusnya dengan pengenceran yang lebih besar
menggunakan larutan fisiologi NaCl koloni koloni bakteri yang ditemukan
lebih sedikit. Pada hasil praktikum menunjukkan hasil koloni bakteri pada
pengenceran pertama dan kedua berturut-turut adalah 93, 4 dan 58. Faktor
yang memungkinkan terjadinya hal tersebut diantaranya :
a. Membuka cawan petri terlalu lebar ketika penanaman sampel
yang berisi koloni bakteri sehingga memungkinkan
mikroorganisme yang ada di udara ikut serta masuk ke cawan
petri.
b. Drugalsky yang terlalu panas saat proses sterilisasi sehingga saat
digunakan untuk meratakan sampel di cawan petri justru
mematikan kolonibakteri tersebut.
c. Arah pembukaan medium yang berlawanan dengan arah
sirkulasi udara ataupun angina angin.
d. Kurangnya tingkat sterilitas pada tiap tahapan prosedur kerjanya
misalnya terlalu jauh dengan api bunsen saat memasukkan
sampel yang berisi koloni bakteri kedalam cawan petri.
Pada praktikum tersebut kami menggunakan handrub sebagai bahan
sterilisasi tangan. Handrub Aseptic Gel merupakan cairan antiseptic
pembersih tangan tanpa bilas sekaligus desinfektan dalam bentuk cairan gel
yang berbahan dasar alkohol. Kandungan dari produk ini adalah 70% Ethyl
Alcohol, Deionize Water, Carbomer, TEA, PEG 40 dan Colour, Sedangkan
Handrub Formula RW yang dibuat adalah merupakan cairan antiseptic yang
mengandung mengandung etanol 80%, gliserol 1,45%, hydrogen peroksida
( H2O2)0,125% (Wuriyatmi dkk, 2016).
Handrub merupakan salah satu bahan sterilisasi tangan yang tidak
membutuhkan air bersih, sabun serta tisu dan dapat digunakan langsung di
tempat kerja. World Health Organization (WHO) 2009 merekomendasikan
dua jenis formulasi handrub sebagai cairan pencuci tangan alternatif jika
cairan pencuci tangan komersial sulit didapatkan ataupun terlalu mahal.
Formulasi pertama memiliki komposisi yang terdiri dari ethanol, glycerol
dan hydrogen peroxide.
Sedangkan formulasi kedua terdiri dari isopropyl alkohol,
glycerol,dan hydrogen peroxide. Formula ini memiliki spektrum luas
aktivitas antimikroba dengan risiko minimal terhadap resistensi. Efektivitas
antimikroba cairan pencuci tangan formula WHO telah lolos uji European
Standards (EN). Penggunaan handrub berbasis alkohol tidak menimbulkan
risiko dengan menghilangkan mikroorganisme yang secara alami ada di
kulit. Tubuh dengan cepat mengeluarkan flora resident dari folikel rambut
namun, alkohol juga mungkin memiliki efek negatif pada fungsi kulit
(Girou dkk, 2002).
Tindakan handrub merupakan perlakukan yang efektif dalam
menekan jumlah koloni mikroorganisme di tangan dan salah satu intervensi
kesehatan yang murah dalam mengurangi risiko penularan penyakit.
Penelitian lebih lanjut yang dikaitkan dengan pola kepekaan terhadap
antibiotik mikroorganisme tersebut dan memperluas jangkaun tidak hanya
pada kelompok resiko tinggi dapat dilakukan untuk memberikan gambaran
lebih jelas tentang pola mikroorganisme yang ada dalam lingkungan rumah
sakit, khususnya yang terdapat pada tangan petugas kesehatan sehingga
dapat dilakukan intervensi yang lebih terarah dalam program pencegahan
infeksi di rumah sakit (Girou dkk, 2002).
DAPUS

Alvera, R., 2012, Optimasi Penggunaan Madu Pada Sabun, Universitas Nusa
Bangsa.
Andhika, D.J.D., Trijoko, Hanani, Y., 2013, Kadar Sisa Chlor dan Kandungan
Bakteri E.Coli Perusahaan Air Minum Tirta Moedal Semarang Sebelum dan
Sesudah Pengolahan, Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2 (2) : 1-10.

Arifiani, Fajri, N.,Hadiwidodo, Mochtar, 2007, Evaluasi Desain Instalasi


Pengolahan Air PDAM Ibu Kota Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten,
Jurnal Presipitasi, 3 (2) : 78 – 85.

Cordita, R.N., 2017, Perbandingan Efektivitas Mencuci Tangan Menggunakan


Hand Sanitizer Dengan Sabun Antiseptik Pada Tenaga Kesehatan Di Icu
Rsud Dr. H. Abdul Moeloek, Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas
Lampung, Bandar Lampung.

Darmadi, 2008, Infeksi Nosokomial: Problematika Dan Pengendaliannya, Penerbit


Salemba Medika, Jakarta.

Ducel, G., Fabry, J., Nicolle, L., 2002, Prevention of hospital-acquired infections
World Health Organization A practical guide 2nd ed, World Health
Organization Department of Communicable Disease, Surveillance and
Response, Geneva.

Girou, E., dkk, 2002, Effeciacy of Handrubbing with an Alkohol Based Solution
versus Standard Handwashing with Antiseptic Soap: randomized clinical
trial, BMJ, 325.

Kamikaze, D, 2002, Studi Awal Pembuatan Sabun Menggunakan Campuran


Lemak Abdemen Sapi dan Curd Susu Afkir, Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Perilaku Mencuci Tangan
Pakai Sabun di Indonesia, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan
RI, Jakarta.
Kim, S.A., Moon, H., Lee, K., Rhee, S.M., 2015, Bactericidal Effects of Triclosan
in Soap Both In Vitro and In Vivo, J Antimicrob Chemother, 10(1093):1–8.

Kusdiyanto, Agung, R.,2007, Air PDAM dan Air Sulingan Dalam Konsumsi Air
di Kota Surakarta, Jurnal Ekonomi Pembangunan, 8 (1): 28 – 35.
Mwambete, K.D., Lyombe, F., 2011, Antimicrobial Activity of Medicated Soaps
Commonly Used by Dar Es Salaam Residents in Tanzania, Indian Journal of
Pharmaceutical Sciences, 73(1): 92-8.
Ophardt, 2003 dalam Raisa, Alvera, 2012, Optimasi Penggunaan Madu Pada
Sabun, Universitas Nusa Bangsa.
Paul, L., Rozsa, G., Rozsa, T., 2003, Liquid Foaming Soap Compositions, United
States Patent.
Paul, L., 2007, Pengaruh Alergi dari Triclosan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
World Health Organization, 2009, WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health
Care: a Sumary, Diakses 7 Januari 2016 available at http://whqlibdoc.who.
int/publications/2009/9789241597906_eng.pdf.
Wuriyatmi, R., Rudijanto, H., Cahyono, T., 2016, Perbandingan Efektifitas
Handrub Aseptic Gel dan Formula RW Terhadap Penurunan Angka Kuman
pada Tangan di Rsud Ajibarang Tahun 2016, Keslingmas, 35 (1) : 278-396.