Anda di halaman 1dari 4

Analisis Five Force Model Michael Porter pada kasus Industri Farmasi.

1. Persaing Industri.
Dalam persaingan dikenal beberapa pasar, diantaranya Pasar Monopoli, Pasar
Oligopoli dan Pasar persaingan sempurna. Berdasarkan kasus tersebut telah
disimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan farmasi termasuk dalam pasar oligopoli.
Pasar oligopoli adalah salah satu bentuk pasar persaingan tidak sempurna, dimana
hanya terdapat beberapa produsen atau penjual dengan banyak pembeli di
pasar. Dapat dilihat pada industri farmasi bahwa pemain industri farmasi tidak terlalu
banyak bahkan dapat dikatakan sedikit dibandingkan dengan jumlah konsumen
produk-produk farmasi. Selain jumlah produsen yang sedikit, pemasok bahan baku
farmasi juga sangat minimal mengingat bahan-bahan yang diperlukan terbilang
langka.

Terdapat beberapa penjual di pasar (umumnya kurang dari 10) dengan banyak
pembeli di pasar
Barang yang diperjualbelikan relatif homogen namun terdiferensiasi. Contohnya
adalah Obat , dalam industri farmasi dikenal dengan dua jenis obat yaitu OTC dan
Etikal. Variasi obat OTC seperti (Obat sakit kepala dengan komposisi yang berbeda-
beda, obat sakit kepala untuk usia dewasa (Bodrex dewasa)) atau anak (Bodrexin
anak). Variasi obat Etikal seperti
Penjual di pasar oligopoli memiliki kemampuan dalam menentukan harga karena
adanya perbedaan dari masing-masing produk yang ditawarkan
Masing-masing penjual bersaing sangat ketat dengan penjual lainnya. Persaingan
terutama melalui promosi besar-besaran serta perang harga. Perang harga yang
dimaksud terjadi ketika suatu perusahaan bermaksud untuk menurunkan harga agar
memperoleh pangsa pasar yang lebih besar, namun diikuti dengan penurunan harga
oleh perusahaan lain sehingga pada akhirnya pangsa pasar yang diperoleh oleh
masing-masing perusahaan adalah tetap, namun dengan harga jual yang lebih
rendah. Produsen baru dapat memasuki pasar oligopoli ini walau sulit..
Dibutuhkan modal yang besar untuk dapat bersaing dalam pasar oligopoli. Terutama
ketika perusahaan yang sudah lama kemudian menurunkan harga besar-besaran
(predatory pricing) sehingga membuat perusahaan baru sulit bertahan

1
Sistem harga yang kaku
Karena sifatnya yang hanya terdiri dari beberapa perusahaan, perilaku satu
perusahaan menjadi sangat terasa pengaruhnya bagi perusahaan lain, sehingga
menimbulkan ketergantungan dari masing-masing strategi atau tindakan yang diambil.
Ketergantungan terutama terjadi dalam penetapan harga, dimana penetapan harga
yang dilakukan oleh satu perusahaan akan segera diikuti oleh perusahaan lain,
sehingga pada akhirnya memunculkan kekakuan harga di tingkat tertentu pada pasar
oligopoli.

2. Posisi konsumen dalam industri farmasi


Semakin banyak jumlah pesaing suatu perusahaan, maka konsumen akan memiliki
bargaining power yang lebih kuat dan menurunkan tingkat keuntungan perusahaan
tersebut. Sebaliknya, apabila jumlah pemain dalam suatu industri relatif sedikit, maka
posisi tawar konsumen akan melemah. Secara tidak langsung industri memaksakan
konsumen untuk membeli suatu produk dengan sedikit perbandingan dengan produk
lain. Konsumen tidak memiliki kekuatan untuk menguasai industri farmasi karena
jumlah produsen yang lebih sedikit dibandingkan permintaan.

3. Hambatan masuk industri farmasi


Dalam memasuki industry farmasi, perusahaan harus menghadapi berbagai
hambatan diantaranya tingginya tingkat impor bahan baku farmasi yang cukup tinggi
mencapai 90%. Selain itu kebutuhan modal yang tinggi untuk memulai usaha baru
dengan persaingan antar perusahaan farmasi yang sudah lebih dulu berdiri,
perusahaan baru harus melakukan strategi pemasaran yang lebih kuat dan hal ini
membutuhkan modal yang tidak sedikit.

Dalam memasuki industry farmasi, perusahaan harus menghadapi berbagai


hambatan. Dilihat dari M Power berikut adalah hambatan yang mungkin dihadapi oleh
pendatang baru:
a) Man
Untuk memasuki industri farmasi maka dibutuhkan banyak tenaga-tenaga ahli.
Karena untuk membuat sebuah produk farmasi tidak boleh main-main sehingga
tenaga yang dibutuhkan haruslah benar-benar memiliki kualifikasi yang mumpuni.

2
Selain tenaga pembuat atau peracik utama produk farmasi tenaga produksi yang
lain pun harus memiliki kualifikasi yang bagus dalam bidang farmasi.
b) Material
Dari segi bahan baku, industri farmasi juga tidak sembarang bisa mendapatkan
pemasok bahan baku yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Sampai saat ini para pemain industri farmasi masih banyak menggunakan
bahanbaku yang bersal dari luar negeri dibanding bahan baku dari dalam negeri.
Sekitar 90% bahan baku produk farmasi harus didatangkan dari China dan India.
Hal ini cukup menjadi hambatan yang besar bagi calon pemain baru untuk
memasuki industri farmasi.
c) Machine
Industri farmasi membutuhkan mesin-mesin khusus untuk menunjang produksi
obat-obatan. Tak sedikit mesin-mesin untuk produksi obat itu yang sulit ditemukan
dipasaran. Bahkan beberapa mesin harus diciptakan khusus dan sesuai dengan
kebutuhan perusahaan farmasi tersebut. Padahal mesin merupakan elemen
penting dalam proses produksi, karena tingkat kesulitan inilah membuat industri
farmasi tidak mudah di jangkau oleh pemain-pemain baru.
d) Method
Dalam pelaksanaan produksi dalam industri farmasi dibutuhkan metode atau
prosedur yang sangat matang dan teliti. Dan prosedur tersebut tidak mudah dibuat.
Serta harus mengikuti prosedur dari regulasi yang telah ditetapkan oleh
pemerintah.
e) Money
Produsen baru dapat memasuki pasar oligopoli ini walau sulit. Dibutuhkan modal
yang besar untuk dapat bersaing dalam pasar oligopoli. Terutama ketika
perusahaan yang sudah lama kemudian menurunkan harga besar-besaran
(predatory pricing) sehingga membuat perusahaan baru sulit bertahan.

4. Posisi pemasok dalam industry farmasi di Indonesia


Bahan baku farmasi Indonesia 90% masih impor yaitu dari China dan India,hal
tersebut dikarenakan tidak mudah untuk mengembangkan bahan baku obat butuh
senyawa-aenyawa kimia yang secara spek harus sintetis dan speknya spek obat
(Siswanto,Kepala Badan Penelitian dan pengembangan Kesehatan).

3
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan tawar menawar
pemasok perusahaan Farmasi di Indonesia tinggi disebabkan karena dalam hal ini
Industri Farmasi Indonesia 90% bahan baku masih impor dari China dan india.
Walaupun perusahaan Farmasi didominasi pemasok dari Luar Negeri, namun
perusahaan Farmasi di Indonesia yang masih tergolong sedikit dan tidak sebanding
dengan banyaknya penduduk Indonesia,sehingga mampu mempengaruhi harga dan
kualitas, sehingga perusahaan Farmasi tidak akan mengalami rendahnya profit
margin.

5. Barang substitusi obat OTC dan Etikal


Secara garis besar barang substitusi untuk obat-obatan OTC dan Etikal adalah obat-
obatan tradisional. Obat-obat tradisional tersebut terdiri dari Jamu,obat herbal
terstandar, dan fitofarmaka. Obat herbal terstandar termasuk dalam barang substitusi
obat OTC, seperti tolak angin, bintang toedjoe. Sedangkan obat fitofarmaka
merupakan barang substitusi dari obat etikal.
Jamu yang notabene sebagai barang substitusi obat OTC dan Etikal posisi
persaingannya lemah dalam indusi farmasi karena jamu belum terstandar dan belum
dibuktikan secara ilmiah. Selama ini jamu digunakan hanya berdasarkan keyakinan
dari turun temurun.
Jadi dapat disimpulkan bahwa adanya jamu sebagai barang substusi obat-obat OTC
dan Etikal tidak berpengaruh kuat terhadap persaingan industri farmasi.