Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara


berkembang termasuk di Indonesia, dan merupakan salah satu penyebab
kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama anak usia di bawah 5
tahun.1 Berdasarkan data WHO (2013), setiap tahunnya, terdapat 1,7 milyar
kasus diare dan menyebabkan kematian 760,000 anak usia di bawah 5 tahun.
Diare yang disebabkan oleh infeksi, telah menyebar luas terutama pada
negara berkembang. Di negara negara berkembang, anak dibawah 3 tahun
rata rata mengalami 3 episode diare setiap tahunnya.2 Berdasarkan hasil
Riskesdas 2007, diare merupakan penyebab kematian bayi terbanyak di
Indonesia yaitu 42%.3
Berdasarkan Riskesdas 2013, insiden diare balita di Indonesia adalah
6,7 persen. Cakupan penemuan dan penanganan diare di Provinsi Jawa
Tengah tahun 2013 sebesar 51,32%, lebih tinggi dibanding tahun 2012
(42,66%).4
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui cara
mendiagnosis dan mengelola pasien diare akut tanpa dehidrasi dengan
observasi vomitus secara komprehensif dan holistik berdasarkan data yang
diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang serta
kepustakaan.

1.3 Manfaat
Penulisan laporan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai media
belajar agar dapat mendiagnosis dan mengelola pasien dengan tepat dan
komprehensif, serta mengetahui prognosis penyakit.

1
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas
Identitas Penderita
Nama : An. IY
Umur : 8 bulan 27 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Grand Village, Kebonbatur, Demak
Agama : Kristen
No. CM : C9667594
Bangsal : Parkit
Tanggal Masuk : 30 Juli 2018

Identitas Orangtua
Nama Ayah : Tn. Heri Nama Ibu : Ny. Ika A
Umur : 32 tahun Umur : 29 tahun
Pekerjaan : Pegawai swasta Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SLTA Pendidikan : SLTA

2.2 Data Dasar


Anamnesis
Data didapatkan dari alloanamnesis dengan ibu pasien di bangsal Parkit pada
tanggal 30 Juli 2018 pukul 20.00 WIB dan dilengkapi dengan data dari rekam
medis.
Keluhan Utama : BAB cair
Riwayat Penyakit Sekarang
± 3 hari SMRS anak dikeluhkan BAB cair, warna kekuningan, 3-4x dalam
24 jam, menyemprot (+).sebanyak ¼ gelas belimbing, lendir (-), darah (-),
ampas (-). Kemudian anak dibawa ke IGD RSDK, dan diberi obat oralit dan
zink untuk rawat jalan.

2
± 2 jam SMRS anak masih dikeluhkan BAB 4-5x dalam 24 jam,
konsistensi cair warna kekuningan. Menyemprot (+), sebanyak ¼ gelas
belimbing, lendir (-), darah (-), ampas (-). Mata cowong (-), pasien tidak
tampak kehausan dan lemas. Kemudian pasien dibawa ke IGD RSDK.
Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat diare disangkal
2. Riwayat alergi disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

 Riwayat diare dan muntah oleh keluarga yang tinggal bersama pasien
disangkal

Pedigree (pohon keluarga)

Gambar 1. Pohon Keluarga

Riwayat Sosial Ekonomi


Anak merupakan anak pertama dari orang tuanya. Anak tinggal
bersama ibu,dan Ayah. Ayah bekerja sebagai pegawai swasta dengan
penghasilan ± Rp 3.000.000/bulan. Ibu tidak bekerja dan hanya sebagai ibu
rumah tangga. Biaya pengobatan menggunakan pembiayaan mandiri.

3
Kriteria Sosial Ekonomi menurut BPS (Badan Pusat Statistik)
1. Luas lantai bangunan :
a.< 8 m2 per kapita
b. > 8 m2 per kapita
(skor: 1)
2. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terluas :

a.Bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/ tembok tanpa diplester


b.Semen/ keramik/ kayu berkualitas tinggi
(skor : 1)
3. Jenis dinding bangunan tempat tinggal terluas :
a.Bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah
b.Tembok/ kayu berkualitas tinggi
(skor : 1)
4. Fasilitas untuk buang air besar :
a.Bersama/ umum/ lainnya
b.Sendiri
(skor: 1)
5. Sumber air minum :
a.Sumur atau mata air tak terlindungi/ sungai/ air hujan
b.Air kemasan/ledeng/pompa/sumur atau mata air terlindungi
(skor : 1)
6. Sumber penerangan utama :
a.Bukan listrik
b.Listrik (PLN/non PLN)
(skor : 1)
7. Jenis bahan bakar untuk memasak sehari-hari :
a.Kayu/ arang/ minyak tanah
b.Gas/ listrik
(skor : 1)
8. Berapa kali dalam seminggu rumah tangga membeli
daging/susu/ayam :
a.Tidak pernah membeli/ satu kali

4
b.Dua kali atau lebih
(skor :1)
9. Berapa kali sehari biasanya rumah tangga makan :
a.Satu kali/ dua kali
b.Tiga kali atau lebih
(skor :1)
10. Berapa stel pakaian baru dalam setahun biasanya dibeli oleh/ untuk
setiap/ sebagian besar anggota keluarga :
a.Tidak pernah membeli/satu kali
b.Lebih dari satu kali
(skor :0)
11. Apabila ada anggota keluarga yang sakit apakah mampu berobat ke
Puskesmas atau Poliklinik :
a. Tidak
b.Ya
(skor : 1)
12. Lapangan pekerjaan utama kepala rumah tangga :
a.Tidak bekerja/ pertanian padi/ palawija
b.Perkebunan/ peternakan/ perikanan/ industri/ perdagangan/
angkutan/ jasa lainnya
(skor :1)
13. Pendidikan tertinggi yang ditamatkan kepala keluarga :
a.SD/ MI ke bawah/ SLTP
b.SLTA ke atas
(skor :1)
14. Apakah keluarga memiliki barang-barang berikut yang masing-
masing bernilai paling sedikit Rp 500.000,- :
a. Tidak ada
b. Tabungan/ emas/ TV berwarna/ ternak/ sepeda motor/ kulkas
(skor : 1)
Jumlah skor: 14

5
Kriteria BPS: jumlah skor <10 = miskin, jumlah skor ≥ 10 = tidak miskin.
Keluarga ini termasuk dalam keluarga tidak miskin menurut kriteria BPS.
Kesimpulan : Keluarga tidak miskin menurut BPS

2.3 Data Khusus


Riwayat Perinatal
 Riwayat Prenatal: Perawatan antenatal di bidan > 4 kali, sudah
dilakukan imunisasi TT, konsumsi vitamin dan tablet Fe, riwayat
minum jamu dan obat-obatan lain disangkal. Tidak ada riwayat
diabetes mellitus dan hipertensi. Tidak ada riwayat perdarahan saat
kehamilan, riwayat infeksi, riwayat kejang, riwayat ruam. Tidak ada
riwayat merokok dan minum alkohol selama kehamilan.
 Riwayat Natal : Lahir bayi laki-laki dari ibu G1P0A0 saat usia 28
tahun, usia kehamilan cukup bulan 37 minggu, lahir secara spontan di
Puskesmas dengan bantuan bidan, lahir langsung menangis. Berat bayi
lahir 2500 gram, panjang lahir 46cm, riwayat kuning dan biru
disangkal.
 Riwayat Postnatal: anak rutin diperiksakan ke dokter dan dikatakan
gizi baik.
 Riwayat kontrasepsi: Ibu belum pernah menggunakan KB.

Riwayat Imunisasi Dasar dan Ulang


BCG : 1 x (1 bulan, scar +)
DPT : 3 x (2, 3, 4 bulan)
HiB : 3 x (2, 3, 4 bulan)
Polio : 4 x (0, 2, 3, 4 bulan)
Hepatitis B : 4 x (0, 2, 3, 4 bulan)
Campak :-
Kesan : Imunisasi dasar sesuai usia, booster (-)

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak


Pertumbuhan :

6
 Berat badan lahir : 2500 gram
 Panjang badan lahir : 46 cm
 Berat badan bulan lalu : 7 kilogram
 Berat badan sekarang : 8,6 kilogram
 Panjang badan sekarang : 70 cm
 Lingkar Kepala : 46 cm
 LILA : 12 cm
Berdasarkan status anthropometri dengan WHO Anthro (sesuai usia
kronologi bulan)
WAZ : -0,27 HAZ : -0,78
WHZ : 0,25 BMI : 0,26

Kesan Cross sectional: Gizi baik, perawakan normal, mesosefal

Kurva WAZ

7
Kurva HAZ

Kurva WHZ

8
Kurva BMI

9
Perkembangan :
Milestones perkembangan anak
a. Gerak kasar
Senyum : usia 2 bulan
Mengangkat kepala : usia 3 bulan
Miring : usia 3 bulan
Tengkurap : usia 4 bulan
Duduk : usia 8 bulan

b. Bahasa
Tertawa : usia 4 bulan
Mengoceh : usia 7 bulan
Satu suku kata(‘ma..ma’) : usia 8 bulan

c. Personal sosial
Tersenyum responsif : usia 2 bulan
Memasukkan makanan ke mulut : usia 6 bulan

d. Gerak halus
Meraih mainan : usia 5 bulan
Memegang benda di kedua tangan : usia 7 bulan

Kesan: Perkembangan anak sesuai usia

Kuesioner KPSP 9 bulan:


1. Pada posisi bayi telentang, pegang kedua tangannya lalu tarik perlahan-
lahan ke posisi clucluk. Dapatkah bayi mempertahankan lehernya secara
kaku seperti gambar di sebelah kiri ?

10
Jawaban: YA

2. Pernahkah anda melihat bayi memindahkan mainan atau kue kering dari
satu tangan ke tangan yang lain? Benda? Benda panjang seperti sendok
atau kerincingan bertangkai tidak ikut dinilai.
Jawaban: YA
3. Tarik perhatian bayi dengan memperlihatkan selendang, sapu tangan atau
serbet, kemudian jatuhkan ke lantai. Apakah bayi mencoba mencarinya?
Misalnya mencari di bawah meja atau di belakang kursi?
Jawaban: TIDAK
4. Apakah bayi dapat memungut dua benda seperti mainan/kue kering, dan
masing-masing tangan memegang satu benda pada saat yang sama? Jawab
TIDAK bila bayi tidak pernah melakukan perbuatan ini.
Jawaban: YA
5. Jika anda mengangkat bayi melalui ketiaknya ke posisi berdiri, dapatkah ia
menyangga sebagian berat badan dengan kedua kakinya? Jawab YA bila ia
mencoba berdiri dan sebagian berat badan tertumpu pada kedua kakinya.
Jawaban: YA
6. Dapatkah bayi memungut dengan tangannya benda-benda kecil seperti
kismis, kacang?kacangan, potongan biskuit, dengan gerakan miring atau
menggerapai seperti gambar ?
Jawaban: YA
7. Tanpa disangga oleh bantal, kursi atau dinding, dapatkah bayi duduk
sendiri selama 60 detik?
Jawaban: YA
8. Apakah bayi dapat makan kue kering sendiri?
Jawaban: YA
9. Pada waktu bayi bermain sendiri dan anda diam-diam datang berdiri di
belakangnya, apakah ia menengok ke belakang seperti mendengar

11
kedatangan anda? Suara keras tidak ikut dihitung. Jawab YA hanya jika
anda melihat reaksinya terhadap suara yang perlahan atau bisikan.
Jawaban: YA
10. Letakkan suatu mainan yang dinginkannya di luar jangkauan bayi, apakah
ia mencoba mendapatkannya dengan mengulurkan lengan atau badannya?
Jawaban: YA

Kesimpulan: jawaban Ya: 9, Skor KPSP 9  Perkembangan anak sesuai


usia
.
Riwayat Makan dan Minum
 0-6 bulan : minum ASI
 6 bulan – sekarang : ASI dan bubur tim
Kesan: ASI eksklusif kualitas dan kuantitas cukup

12
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 30 Juli 2018 pukul 20.00 WIB di ruang
Bangsal Parkit RSUP Dr. Kariadi. Seorang bayi laki-laki, 8 bulan 27 hari,
BB: 8,6 kg , PB: 70 cm.
Keadaan umum : baik, tidak tampak rewel
Kesadaran : Composmentis, GCS E4M6V5
Tanda vital
Nadi : 120 xper menit, regular, isi dan tegangan cukup
RR : 36 x per menit, reguler
Temperatur : 36.8°C (axilla)
SpO2 : 99%

Kepala
Kepala : 46 cm, ubun-ubun tidak cekung
Mata :Cekung (-/-), konjungtiva palpebral anemis(-/-)
,mata cowong(-/-), sclera ikterik(-/-)
Hidung : discharge (-), nafas cuping (-)
Telinga : discharge (-/-)
Bibir : sianosis (-), mukosa bibir kering (-)
Mulut : gusi berdarah (-), sianosis (-),bibir berdarah (-),
bibir pucat (-), oral thrush (-)
Tonsil : T1/T1 tidak hiperemis tidak ada granulasi
Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-/-)
Kulit : sianosis (-), anemis (-), turgor kembali cepat

13
Thoraks
Paru-paru
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis,retraksi (-)
Palpasi : stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi :Suara dasar: vesikuler (+/+), suara tambahan:Ronkhi
basah halus nyaring -/- | -/-, Hantaran -/- | -/- minimal,
Wheezing -|-

+ + + + + + + +
Vesikuler Vesikuler
Vesikuler

Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis teraba di sela iga IV 2 cm medial linea
medioclavicula dextra, tidak melebar, tidak kuat angkat,
thrill (-)
Perkusi : Batas kanan : SIC IV 2 cm linea midclavicula dextra
Batas kiri : SIC II Linea Parasternal sinistra
Auskultasi : bunyi jantung I-II normal, bising (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : cembung, venektasi (-)
Auskultasi : bising usus (+), normal, borborigmi (+)
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : timpani, pekak sisi (-) normal, pekak alih(-)

14
Ekstremitas
Superior Inferior
Edema -/- -/-
Sianosis -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Capillary refill time <2” <2”

Anus : hiperemis (-), diaper rash (-)

15
Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Laboratorium
Tabel 1. Pemeriksaan Hematologi (30/07/2018)

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Keterangan


Hemoglobin 11,9 g/dL 9,5 – 12,50
Hematokrit 36,2 % 36 – 44
Eritrosit 4,77 106/uL 3,9 – 5,5
MCH 24,9 Pg 24,0 – 34,0
MCV 75,9 fL 83 – 110 L
MCHC 32,9 g/dL 29,0 – 36,0
Leukosit 4,6 103/uL 3,6 – 11
Trombosit 306 103/uL 150 – 400
RDW 13,1 % 11,6 – 14,8
MPV 9,5 Fl 4,0 – 11,0

Tabel 6. Pemeriksaan kimia klinik


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal Keterangan
Glukosa 82 mg/dL 80-160
Ureum 17 mg/dL 15-39
Kreatinin 0,2 mg/dL 0,6-1,30
Calcium 2,2 mmol/dL 2,12-2,52 L
Elektrolit:
Natrium 138 mmol/dL 136-145
Kalium 3,9 mmol/dL 2,5-5,1
Chlorida 100 mmol/dL 98 - 107

16
2.4 Daftar Masalah
Tabel 8. Daftar Masalah

No Masalah Tanggal No Masalah Tanggal


Aktif Pasif
1 BAB cair 30/07/2018

2.5 Diagnosis
2.5.1 Diagnosis Banding
 Diare akut tanpa tanda dehidrasi
dd/ Osmotik
dd/ rotavirus
dd/ Sekretorik
dd/infeksi bakteri

2.5.2 Diagnosis Kerja

 Diare akut tanpa tanda dehidrasi


 Gizi baik, perawakan normal

2.6 Rencana Pemecahan Masalah (Initial Plan)


1. Diare akut tanpa tanda dehidrasi
Ip Dx : S :-
O : Feses rutin
Ip Rx : Inf. KN3B 480/20/5 tpm
Peroral : Oralit 50 - 100 ml setiap diare
Zinc 20 mg /hari
IpMx : Evaluasi keadaan umum, tanda vital, tanda dehidrasi, balans
cairan, volume dan konsistensi diare, akseptibilitas diet.

17
IpEx : - Menjelaskan kepada orang tua mengenai kondisi anak dan
kemungkinan penyebab diare pada anak
- Menjelaskan kepada orang tua bahwa anak perlu diberikan
oralit untuk tujuan rehidrasi pada anak dan diminumkan sedikit
demi sedikit namun sering. Jika anak muntah, tunggu 10 menit,
kemudian berikan lagi lebih lambat.
- Menjelaskan pada ibu perlunya menjaga kebersihan diri dan
alat-alat makan/minum dengan cara cuci tangan sebelum
membuat susu dan menggunakan alat-alat makan/minum yang
sudah dicuci bersih atau direbus dahulu.
- Selama dirawat di bangsal ataupun di rumah, bila anak buang
air besar harus segera dibersihkan dengan air dan ganti dengan
celana / popok yang bersih, bila tinja mengotori perlak segera
bersihkan dan ganti dengan perlak yang bersih.
- Menjelaskan kepada ibu mengenai cara membersihkan botol
susu yaitu membersihkan seluruh bagian botol susu dengan air
yang mengalir. Menggunakan sikat dan sabun akan membantu
menghilangkan sisa – sisa susu di dalam botol. Setelah bersih
dari sisa susu, rendam botol di dalam air yang mendidih (<100oc)
selama 15 menit. Setelah diangkat, tiriskan dan keringkan
dengan menggunakan handuk bersih. Sebaiknya anak memiliki
lebih dari dua botol susu.
- Menjelaskan kepada ibu mengenai tanda-tanda dehidrasi seperti
rewel, kehausan, mata cekung, menangis tidak keluar air mata,
bibir kering. Bila anak diare disertai muntah berulang, anak
tampak kehausan sebaiknya segera dibawa ke Rumah Sakit atau
poliklinik terdekat (penting bila setelah pulang dari RSDK anak
sakit lagi )

18
- Menjelaskan kepada ibu bahwa tablet zinc harus dikonsumsi
hingga 10-14 hari meskipun diare sudah sembuh.

19
Catatan Kemajuan
Tabel 2. Catatan kemajuan

Hari/ Keadaan Klinis Program Terapi /


Tanggal Tindakan
31/07/18 S: BAB cair 3x/ 24 jam, ampas (+), lendir (-), P:
darah (-), muntah (-), demam (-) - Infus KAEN 3B
O: KU sadar, tanda dehidrasi (-) 480/20/7 tpm
HR: 112x/ menit t: 36,5oc makro
RR: 22x/ menit nadi reguler isi cukup p.o
Mata: anemis(-/-) cowong(-/-) air mata(+/+) - zinc 20 mg/24 jam
Hidung: napas cuping (-/-) - oralit 50-100 mL
Mulut: mukosa bibir lembab (-/-) bila diare
Thoraks: simetris, retraksi (-/-)
- Cor: BJ I/II normal, bising (-/-) Program
- Pulmo: SD vesikuler (+/+) hantaran (-/-) - Evaluasi keadaan
Abdomen: datar, BU (+) normal, supel, umum, tanda-
hepar dan lien tidak teraba tanda vital, tanda
Ekstremitas: akral hangat (+/+)/(+/+) dehidrasi
Lab feses rutin 31/07/2018
- Bau asam
- Warna kekuningan, konsistensi lembek
- Lemak (+)
- Karbohidrat (+)
- Leukosit 0,1/LPB
- Bakteri (+)
A: - Diare akut tanpa tanda dehidrasi
- Obs. Vomitus tanpa tanda dehidrasi
- Gizi baik perawakan normal

20
01/08/18 S: BAB cair 3x/ 24 jam, ampas (+), lendir (-), P:
darah (-), muntah (-), demam (-) - Infus KAEN 3B
O: KU baik, sadar, tanda dehidrasi (-) 480/20/7 tpm makro
HR: 112x/ menit t: 36,7oc p.o
RR: 22x/ menit nadi reguler isi cukup - zinc 20 mg/24 jam
Mata: anemis(-/-) cowong(-/-) air mata(+/+) - oralit 50-100 mL
A: - Diare akut tanpa tanda dehidrasi bila diare
- Obs. Vomitus tanpa tanda dehidrasi
- Gizi baik perawakan normal Program
- Evaluasi keadaan
umum, tanda-
tanda vital, tanda
- dehidrasi

02/08/18 S: BAB cair 2x/ 24 jam, lembek, lendir (-), P:


darah (-), muntah (-), demam (-) - Infus KAEN 3B
O: KU sadar, tanda dehidrasi (-) 480/20/7 tpm makro
HR: 102x/ menit t: 36,4oc p.o
RR: 24x/ menit nadi reguler isi cukup - zinc 20 mg/24 jam
Mata: anemis(-/-) cowong(-/-) air mata(+/+) - oralit 50-100 mL
Hidung: napas cuping (-/-) bila diare
Mulut: mukosa bibir lembab (-/-)
Thoraks: simetris, retraksi (-/-) Program : usul rawat
- Cor: BJ I/II normal, bising (-/-) jalan
- Pulmo: SD vesikuler (+/+) hantaran (-/-)
Abdomen: datar, BU (+) normal, supel,
hepar dan lien tidak teraba

21
Ekstremitas: akral hangat (+/+)/(+/+)
A: - Diare akut tanpa tanda dehidrasi
- Obs. Vomitus tanpa tanda dehidrasi
- Gizi baik perawakan normal

Prognosis
Ad vitam : ad bonam
Ad sanam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam

22
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Diare
3.1.1 Definisi
Diare didefinisikan sebagai peningkatan dari jumlah tinja dan penurunan
konsistensi tinja dari lembek cair sampai cair, dengan atau tanpa darah dan atau
tanpa lendir di dalam tinja , dimana manifestasi klinik yang utama adalah kehilangan
air dan elektrolit melalui saluran cerna. Untuk keperluan diagnosis, secara
epidemiologis dalam masyarakat, diare didefinisikan sebagai berak lembek cair
sampai cair 3-5 kali perhari (Seminar Rehidrasi Nasional, 1982).3 Berdasarkan
waktunya, diare dibagi menjadi diare akut dan diare kronik. Diare kronik adalah diare
yang melanjut hingga 2 minggu atau lebih.1,2
Diare juga dibagi berdasarkan durasinya yaitu diare akut, diare persisten dan
diare kronik. Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali
perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan
darah yang berlangsung kurang dari 14 hari.7,8,9 Pada bayi yang minum ASI biasanya
buang air besar lebih dari 3-4 kali sehari, namun, selama berat badan bayi meningkat
normal hal ini tidak tergolong diare, namun merupakan intoleransi laktosa sementara
akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna. Sedangkan untuk bayi yang
minum ASI secara ekslusif, definisi diare yang praktis adalah meningkatnya frekuensi
buang air besar atau konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya abnormal atau
tidak seperti biasanya. Bahkan, kadang – kadang, pada anak dengan buang air besar
kurang dari 3 kali perhari, tetapi konsistensinya cair sudah dapat disebut diare.1
Diare persisten biasanya merupakan kelanjutan dari diare akut dengan atau
tanpa disertai darah yang berlangsung selama 14 hari atau lebih. Terdapat definisi
diare persisten yang lain yaitu episode diare yang diperkirakan penyebabnya adalah
infeksi dan mulainya sebagai diare akut tetapi berakhir lebih dari 14 hari, serta
kondisi ini menyebabkan malnutrisi dan berisiko tinggi menyebabkan kematian.9

23
Diare persisten berbeda dengan diare kronik, diare kronik adalah diare yang
berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi non infeksi, sedangkan untuk diare
persisten etiologinya berasal dari infeksi.1

3.1.2 Etiologi
Diare dapat disebabkan oleh infeksi maupun non infeksi. Penyebab infeksi
utama timbulnya diare umumnya adalah golongan virus, bakteri dan parasit.1,7 Untuk
diare cair akut, penyebab utama dari diare adalah rotavirus. Rotavirus diperkirakan
sebagai penyebab diare cair akut pada 20-80% anak di dunia. Selain itu, virus ini
telah menyebabkan kematian pada 440.000 anak dengan diare per tahunnya di dunia.8
Baik di negara maju dan negara berkembang, rotavirus merupakan penyebab diare
terbanyak pada balita. Suatu penelitian oleh Soenarto (2009) di 6 provinsi di
Indonesia, 60% kasus diare akut pada balita yang di rawat inap disebabkan oleh
rotavirus.11
Berbeda dengan diare cair akut yang umumnya disebabkan oleh rotavirus,
diare akut berdarah pada anak biasanya merupakan pertanda masuknya bakteri invasif
yang serius pada usus besar. Di Indonesia, penyebab utama diare akut berdarah
adalah Shigella, Salmonella, Campylobacter jejuni, Eschericia coli, dan Entamoeba
hystolitica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentri, Shigela
flexneri, Salmonella dan enteroinvasive E. coli. 8
Penyebab diare non infeksi antara lain: kesulitan makan; defek anatomis (
penyakit Hirscprung, Short bowel syndrome, atrofi mikrovili, striktur); malabsorbsi
(defisiensi disakaridase, malabsorbsi glukosa-galaktosa, penyakit celiac);
Endokrinopati (thyrotoksitosis, penyakit addison, sindroma adrenogenital); keracunan
makanan (logam berat, mushrooms); neoplasma dan penyebab lainnya seperti infeksi
non gastrointestinal, alergi susu sapi, penyakit chron, defisiensi imun, colitis ulseratif,
gangguan motilitas usus, pellagra.8

24
3.1.3 Patogenesis dan Mekanisme
Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang
menyebabkan diare pada manusia secara selektif menginfeksi dan menghancurkan
sel-sel ujung-ujung villus pada usus halus. Hal ini menyebabkan fungsi absorbsi usus
halus terganggu. Sel-sel epitel usus halus yang rusak diganti oleh enterosit yang baru,
berbentuk kuboid yang belum matang sehingga fungsinya belum baik. Villus
mengalami atrofi sehingga tidak dapat mengabsorbsi cairan dan makanan dengan
baik. Selanjutnya, cairan dan makanan yang tidak terserap/tercerna akan
meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan terjadi hiperperistaltik usus sehingga
cairan beserta makanan yang tidak terserap keluar usus melalui anus, menyebabkan
terjadinya diare osmotik.10
Pada usus halus, enterosit villus sebelah atas adalah sel-sel yang
terdiferensiasi, yang mempunyai fungsi pencernaan seperti hidrolisis disakarida dan
fungsi penyerapan seperti transport air dan elektrolit melalui pengangkut bersama
(kotransporter) glukosa dan asam amino. Enterosit kripta merupakan sel yang tidak
terdiferensiasi, yang tidak mempunyai enzim hidrofilik tepi bersilia dan merupakan
pensekresi (sekretor) air dan elektrolit.10
Dengan demikian infeksi virus selektif sel-sel ujung villus usus pada diare
rotavirus menyebabkan ketidakseimbangan rasio penyerapan cairan usus terhadap
sekresi dan malabsorbsi karbohidrat kompleks terutama laktosa.10
Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan
dengan pengaturan transport ion dalam sel-sel usus cAMP, cGMP dan Ca dependen.
Patogenesis terjadinya diare oleh Salmonella, shigella, E. Coli agak berbeda dengan
patogenesis diare oleh virus, tetapi prinsipnya hampir sama. Bedanya bakteri ini dapat
menembus (invasi) sel mukosa usus halus sehingga dapat menyebabkan reaksi
sistemik.10
Pembagian diare berdasarkan patofisiologi terbagi atas diare osmotik
,sekretorik, dan eksudatif (inflammatorik). Diare osmotik berkaitan erat dengan
kegagalan vili usus untuk mengabsorbsi terutama makanan dari intraluminal. Secara

25
fisiologis, villi usus berfungsi untuk absorpsi serta memproduski enzim disakaridase.
Gangguan fungsi pada villi usus akan menyebabkan malabsorpsi serta gangguan
dalam pemecahan karbohidrat kompleks akibatnya karbohidrat yang masih berbentuk
molekul besar memiliki osmolaritas tinggi dan menyebabkan penarikan cairan dari
intersisial. Karbohidrat yang gagal dipecah selanjutnya akan diurai oleh bakteri
menjadi asam dan gas sehingga pada klinis akan didapatkan feses berbau asam dan
menyemprot serta dapat ditemukan ekskoriasi pada anus akibat asam.
Diare sekretorik memiliki manifestasi kerusakan yang terjadi pada villi usus
dan ke lapisan yang lebih dalam yakni kripte. Enterosit kripte merupakan sel yang
tidak terdiferensiasi dan merupakan sekretor air dan alektrolit. Kripte yang rusak akan
meningkatkan produksi air dan lendir. Diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya
sekresi air dan elektrolit dari usus, menurunnya absorpsi. Yang khas pada diare ini
yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare
tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum.
Diare eksudatif adalah diare yang diakibatkan oleh karena adanya suatu
proses inflamasi, Inflamasi yang terjadi akan mengakibatkan kerusakan pada mukosa
baik usus halus dan usus besar. Kerusakan ini akan ditandai dengan adanya tanda-
tanda inflamasi dan akan terlihat jelas dengan adanya gambaran feses disertai dengan
darah dan lendir. Inflamasi sendiri dapat terjadi akibat infeksi bakteri ataupun non
infeksi seperti gluten sensitive enteropaty atau inflammatory bowel disease.

3.1.4 Diagnosis
Dalam menentukan diagnosis, maka gejala-gejala klinik dari penyakit diare
dapat dibagi menjadi empat aspek8, yaitu :
a. Muntah dan BAB
Muntah dan BAB merupakan gejala utama gastroenteritis yang dapat
menimbulkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Muntah akan
menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan tubuh secara oral, keadaan ini
akan mempercepat dehidrasi. Pada diare penting sekali diketahui secara anamnesis

26
dan pemeriksaan tentang kualitas dan kuantitas tinja, diantaranya: konsistensi,
warna, disertai darah dan atau lendir, bau, berbuih, jumlah, disertai nyemprot, dan
frekuensinya.
Pada kasus ini, diagnosis diare didapatkan dari anamnesis berupa adanya
peningkatan frekuensi BAB dari biasanya (4-5x/24jam), kekuningan, dan
konsistensi feses cair. Hal ini sesuai dengan gejala gastroenteritis, dimana terjadi
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga dapat menyebabkan diare
maupun muntah.
b. Aspek etiologi
Etiologi pada diare terdiri dari beberapa faktor eksternal (makanan dan
higiene) dan faktor internal (konstitusi dan infeksi enteral)12,13
 Faktor eksternal
Faktor etiologi diare akut dapat berasal dari faktor makanan seperti
perubahan susunan makanan yang mendadak, makanan busuk, atau makanan
yang tidak sesuai umur bayi yang memiliki osmolaritas terlalu tinggi atau
banyak serat.
 Faktor internal
 Faktor konstitusi yaitu kondisi saluran cerna yang dijumpai pada keadaan
intoleransi laktosa, malabsorbsi lemak dan intoleransi protein. Malabsorbsi
merupakan gangguan transportasi mukosa yang abnormal yang disebabkan
oleh satu atau lebih substansi spesifik yang akan menyebabkan ekskresi
feses dari nutrisi yang dicerna. Malabsorbsi dapat terjadi pada penyakit
gangguan empedu dan gangguan usus (seperti kerusakan mukosa usus,
gangguan motilitas usus, perubahan ekologi bakteri usus, tindakan post
operatif usus). Di samping itu malabsorbsi dapat terjadi karena gangguan
metabolisme kongenital, malnutrisi, defisiensi imunitas dan faktor emosi.12,13
Pada faktor konstitusi diare biasanya berlangsung sejak bayi lahir.
 Faktor Infeksi enteral yang terdiri dari:

27
• Rotavirus
Virus ini berkembang dalam vili usus halus dan menyebabkan
kerusakan sel epitel serta pemendekan vili. Hal ini mengakibatkan
gangguan absorbsi dan peningkatan sekresi cairan maka terjadi
diare.Infeksi virus juga bisa menyebabkan kekurangan enzim
dissakaridase untuk menyerap laktosa sehingga terjadi diare dengan
tanda intoleransi laktosa seperti bau asam, nyemprot karena adanya CO2
dan ekskoriasi pada anusnya.
Pada kasus ini, diagnosis etiologi diare didapatkan dari anamnesis
berupa adanya peningkatan frekuensi BAB dari biasanya (4-5x/24jam),
kekuningan, menyemprot (+). Dan ditegakkan dari pemeriksaan
penunjang berupa cek feses rutin, dengan hasil warna kekuningan, bau
asam, karbohidrat (+). Hal ini sesuai dengan teori etiologi diare akut
oleh rotavirus.
• Bakteri
Penempelan di mukosa usus menyebabkan perubahan epitel usus
sehingga terjadi gangguan absorbsi dan meningkatnya sekresi cairan.
Adanya toksin yang dihasilkan oleh kuman menyebabkan peningkatan
sekresi. Bakteri yang menyebabkan invasi ke mukosa seperti shigella,
C. Jejuni, E coli enteroinvasif dan salmonella dapat mengakibatkan
adanya diare berdarah.
• Protozoa
Invasi protozoa (amoeba) ke daerah mukosa colon ini mengakibatkan
terbentuknya mikro abses dan ulkus pada colon. Dengan demikian akan
menimbulkan rangsang sekresi cairan dengan perdarahan dan lendir bila
defekasi.
c. Aspek dehidrasi
Dehidrasi terjadi bila cairan yang keluar lebih banyak dari cairan yang
masuk.Hal ini disebabkan oleh berak yang berlebihan, muntah, dan penguapan

28
karena demam.Pengeluaran cairan sangat dipengaruhi oleh jumlah, frekuensi,
dan komposisi elektrolit tinja penderita. Dehidrasi adalah keadaan akibat diare
yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan penurunan volume darah
(hipovolemia), kolaps kardiovaskuler, dan kematian bila tidak diterapi dengan
tepat.
Dehidrasi terjadi bila cairan yang keluar lebih banyak dari cairan yang
masuk. Untuk mempermudah penilaian klinis, maka derajat dehidrasi dibagi
menjadi 3 menurut UKK Gastrohepatologi IDAI 2009, yaitu : tanpa tanda
dehidrasi, dehidrasi tidak berat, dehidrasi berat.8 Untuk menilai derajat
dehidrasi dapat menggunakan skor Maurice King, kriteria WHO, maupun
Depkes. Berikut ini tabel derajat dehidrasi dinilai berdasarkan kriteria WHO
1992 dan menurut UKK gastrohepatologi IDAI 2009

Tabel. Gejala dehidrasi menurut kriteria WHO:


Gejala Tanpa Tanda Dehidrasi Dehidrasi Berat
Dehidrasi Ringan-Sedang
Keadaan Baik, Sadar * Gelisah, Rewel * Lesu, Lunglai,
Umum Atau Tidak Sadar
Mata Normal Cekung Sangat Cekung
Dan Kering
Air Mata Ada Berkurang / Tidak Ada
Tidak Ada
Mulut & Basah Kering Sangat Kering
Lidah
Rasa Haus Minum Baik, Tidak * Haus, Ingin * Malas Minum,
Haus Minum Banyak Tidak Bisa
Minum
Turgor Kembali Cepat * Kembali * Kembali Sangat

29
Gejala Tanpa Tanda Dehidrasi Dehidrasi Berat
Dehidrasi Ringan-Sedang
Lambat Lambat

Penilaian untuk dehidrasi ringan-sedang atau berat adalah bila ditemukan satu
tanda. * ditambah satu atau lebih tanda lainnya.

Tabel. Kriteria dehidrasi menurut UKK gastrohepatologi IDAI 2009

Dehidrasi Tidak
Kategori Tanpa Dehidrasi Dehidrasi Berat
Berat
Tanda Dua atau lebih Dua atau lebih Dua atau lebih dari
dan dari tanda berikut dari tanda berikut tanda berikut ini:
Gejala ini: ini: Letargi atau
Tidak ada tanda Gelisah penurunan
gejala yang cukup Mata cowong kesadaran
untuk Kehausan atau Mata cowong
mengelompokkan sangat haus Tidak bisa minum
dalam dehidrasi Cubitan kulit atau malas minum
berar atau tak kembali dengan Cubitan kulit perut
berat lambat kembali dengan
sangat lambat (≥ 2
detik)
Rencana
Rencana Terapi A Rencana Terapi B Rencana Terapi C
Terapi

Pada kasus ini, diagnosis diare tanpa tanda dehidrasi didapatkan dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik berupa keadaan umum baik, tidak adanya mata
cekung, mukosa tidak kering, terdapat air mata, mulut dan lidah basah, tampak

30
kehausan, turgor kembali dengan cepat, dan tidak ada penurunan frekuensi BAK.
Hal ini sesuai dengan kriteria diare tanpa tanda dehidrasi.

d. Aspek komplikasi dehidrasi


Akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi
komplikasi karena dehidrasi antara lain: hipokalemi, syok, gagal ginjal dan
malnutrisi. Gejala hipokalemi adalah kelemahan otot secara umum, aritmia
jantung, dan ileus paralitik. Komplikasi tersebut biasanya terjadi pada
dehidrasi berat.13

3.1.5 Pemeriksaan Penunjang Diare Akut


a. Pemeriksaan feses
Pemeriksaan dan tes yang dapat dilakukan pada feses meliputi
pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, mikrobiologi, dan kimia. Feses untuk
pemeriksaan sebaiknya berasal dari defekasi spontan yang dikumpulkan pagi
hari sebelum sarapan atau dapat juga feses sewaktu dan harus segera diperiksa
dalam 2-3 jam setelah defekasi (feses segar).
Pemeriksaan makroskopi feses: Perhatikan warna, bau, konsistensi,
adanya darah, lendir, nanah, cacing.
• Warna: tinja normal berwarna kuning coklat/coklat muda/coklat tua.
Warna tinja yang dibiarkan pada udara menjadi lebih tua karena
terbentuknya lebih banyak urobilin dari urobilinogen yang dieksresikan
lewat usus. Selain urobilin yang normal ada, warna tinja dipengaruhi oleh
jenis makanan, kelainan dalam saluran cerna, dan oleh obat-obat yang
diberikan.
• Bau: Bau normal disebabkan oleh indol, skatol, dan asam butirat. Bau
busuk disebabkan proses pembusukan protein yang tidak dicerna oleh
bakteri, bau asam menunjukkan pembentukan gas dan fermentasi

31
karbohidrat yang tidak dicerna atau diabsorbsi sempurna/lemak yang
tidak diabsorbsi.
• Bentuk dan Konsistensi: Feses normal berbentuk sosis dan agak lunak.
Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan pada
konstipasi didapat tinja dengan konsistensi keras.
• Lendir: Pada feses normal tidak ada lendir. Bila terdapat lendir berarti ada
iritasi atau radang dinding usus. Jika lendir hanya ditemukan dibagian
luar feses, lokasi iritasi mungkin usus besar, jika bercampur dengan feses
mungkin iritasi berasal dari usus halus.
• Darah: Feses normal tidak mengandung darah. Jika terdapat darah,
perhatikan apakah darah itu segar (merah muda), coklat atau hitam dan
apakah bercampur atau hanya dibagian luar feses saja. Perdarahan yang
terjadi di bagian proksimal saluran cerna menyebabkan feses berwarna
hitam. Jumlah darah yang banyak mungkin disebabkan oleh ulkus, varises
esofagus, karsinoma atau hemoroid.
• Cacing: cacing normal tidak terlihat
Pemeriksaan mikroskopis feses: Sediaan hendaknya tipis, agar unsur-
unsur jelas terlihat dan dapat dikenal.
• Sel epitel: Beberapa sel epitel yang berasal dari dinding usus bagian distal
dapat ditemukan dalam keadaan normal. Jika sel epitel berasal dari bagian
yang lebih proksimal, sel-sel itu sebagian atau seluruhnya rusak. Jumlah
sel epitel bertambah banyak kalau ada peradangan dinding usus.
• Makrofag: Sel- sel berinti satu memiliki daya fagositosis; dalam
plasmanya sering dilihat sel-sel lain (leukosit, eritrosit) atau benda-benda
lain.
• Leukosit: Lebih jelas terlihat kalau feses dicampur dengan beberapa tetes
larutan asam acetat 10%. Kalau hanya dilihat beberapa dalam seluruh
sediaan, tidak ada artinya. Jumlah leukosit meningkat pada disentri
basiler, kolitis ulserosa, dan peradangan lain. Evaluasi laboratorium

32
pasien tersangka diare infeksi dimulai dari pemeriksaan feses adanya
leukosit. Kotoran biasanya tidak mengandung leukosit, jika ada itu
dianggap sebagai penanda inflamasi kolon baik infeksi maupun non
infeksi. Karena netrofil akan berubah, sampel harus diperiksa sesegera
mungkin. Sensitifitas lekosit feses terhadap inflamasi patogen
(Salmonella, Shigella dan Campylobacter) yang dideteksi dengan kultur
feses bervariasi dari 45% - 95% tergantung dari jenis patogennya.
• Eritrosit: Hanya dilihat kalau lesi mempunyai lokalisasi dalam kolon,
rektum atau anus. Keadaan ini selalu bersifat patologis. Kristal-kristal:
Pada umumnya tidak banyak artinya. Dalam feses normal mungkin
terlihat kristal tripelfosfat dan kalsium oksalat. Kristal Charcot-Leyden
biasanya ditemukan pada kelainan ulseratif usus, kristal hematoidin dapat
ditemukan pada perdarahan usus.
• Sisa makanan: Sebagian besar berasal dari makanan daun-daunan dan
sebagian lagi dari makanan yang berasal dari hewan, seperti serat otot,
serat elastik, dan lain-lain.
b. Laktoferin
Penanda yang lebih stabil untuk inflamasi intestinal adalah laktoferin.
Laktoferin adalah glikoprotein bersalut besi yang dilepaskan netrofil,
keberadaannya dalam feses menunjukkan inflamasi kolon. Positip palsu
dapat terjadi pada bayi yang minum ASI. Pada suatu studi, laktoferin
feses, dideteksi dengan menggunakan uji agglutinasi lateks yang tersedia
secara komersial, sensitifitas 83 – 93 % dan spesifisitas 61 – 100 %
terhadap pasien dengan Salmonella,Campilobakter, atau Shigella spp,
yang dideteksi dengan biakan kotoran.
c. Kultur feses
Biakan kotoran harus dilakukan setiap pasien tersangka atau menderita
diare inflammasi berdasarkan klinis dan epidemiologis, test lekosit feses
atau latoferin positip, atau keduanya. Pasien dengan diare berdarah yang

33
nyata harus dilakukan kultur feses. Pasien dengan diare berat, demam,
nyeri abdomen, atau kehilangan cairan harus diperiksa kimia darah,
natrium, kalium, klorida, ureum, kreatinin, analisa gas darah dan
pemeriksaan darah lengkap.
d. Radiologis
Pemeriksaan radiologis seperti sigmoidoskopi, kolonoskopi dan
lainnya biasanya tidak membantu untuk evaluasi diare akut infeksi.

Pada kasus ini telah dilakukan cek feses rutin dan didapatkan hasil, bau
asam, warna kekuningan, konsistensi lembek, karbohidrat (+), leukosit
0,1/LPB, bakteri (+). Hal ini sesuai dengan etiologi diare oleh karena
rotavirus, dimana virus berkembang dalam vili usus halus dan menyebabkan
kerusakan sel epitel serta pemendekan vili sehingga mengakibatkan gangguan
absorbsi dan peningkatan sekresi cairan maka terjadi diare. Infeksi virus juga
bisa menyebabkan kekurangan enzim dissakaridase untuk menyerap laktosa
sehingga terjadi diare dengan tanda intoleransi laktosa seperti bau asam, dan
menyemprot.

3.1.6 Penatalaksanaan Diare


Penderita diare akut dehidrasi tidak berat dirawat inap bila disertai dengan
muntah berak yang frekuen dan voluminous sehingga diperkirakan keadaan dehidrasi
akan bertambah berat.1 Terdapat Lima Lintas (Lima Langkah Tuntaskan Diare),
yaitu:14
 Rehidrasi
 Dukungan nutrisi
 Suplementasi Zinc
 Antibiotik selektif
 Edukasi orang tua

34
1) Rehidrasi
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah
ion kalsium, natrium, klorida,dan bikarbonat. Semua komplikasi diare akut dapat
disebabkan oleh karena kehilangan air dan elektrolit melalui tinja. Kehilangan
sejumlah air dan elektrolit akanbertambah jika ada muntah, dan kehilangan air juga
meningkat bila ada panas. Kehilangan ini menyebabkan dehidrasi karena kehilangan
air dan natrium khlorida, terjadi asidosis karena kehilangan bikarbonat, dan
kekurangan kalium.
Mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari memberi cairan
rumah tangga yang dianjurkan seperti air tajin, kuah sayur atau air sup. Bila terjadi
dehidrasi anak harus segera dibawa ke petugas kesehatan untuk mendapatkan
pengobatan yang tepat dan cepat yaitu dengan oralit.
2) Dukungan Nutrisi
Makanan harus tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama
pada waktu anak sehat untuk pengganti nutrisi yang hilang agar status gizinya tidak
menurun menjadi gizi buruk, mencegah terjadi uremia akibat protein tubuh terpaksa
diuraikan. Adanya perbaikan nafsu makan dapat menandakan fase kesembuhan.
3) Suplementasi Zinc
Dosis zinc yang dianjurkan adalan 10 mg/hari (1/2 tablet) untuk anak berumur
<6 bulan, dan 20 mg/hari (1 tablet) untuk anak ≥6 bulan. Tablet zinc diberikan selama
10-14 hari berturut-turut terbukti mengurangi lama dan beratnya diare, mencegah
berulangnya diare selama 2-3 bulan. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu makan
anak. Diare dapat menurunkan kadar zinc dalam plasma darah bayi dan anak.
Defisiensi zinc dapat menurunkan absorbsi air dan elektrolit. Pemberian rutin
suplementasi zinc pada pasien anak selain menurunkan frekuensi diare juga
menurunkan jumlah cairan yang terbuang akibat diare. Pemberian zinc pada diare
juga dapat mempertahankan keutuhan epitel usus, karena zinc berperan sebagai faktor
transkripsi, sehingga transkripsi dalam sel usus dapat terjaga.
4) Antibiotik Selektif

35
Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare cair akut kecuali dengan indikasi
yaitu pada diare dengan lendir darah dan kolera.Pengobatan kausal dengan antibiotika
harus dengan indikasi yang jelas, karena penggunaan secara bebas dapat
menyebabkan resistensi. Pemberian antibiotik yang tidak rasional justru
memperpanjang lamanya diare karena mengganggu keseimbangan flora usus dan
clostridium difficile yang akan tumbuh dan sulit disembuhkan. Pemberian antibiotik
yang tidak rasional juga menambah biaya pengobatan yang tidak perlu.
5) Edukasi Orang Tua

Keluarga, terutama ibu penderita mendapatkan pengarahan tentang diare,


tanda-tanda dehidrasi, pencegahan diare serta pemberian nutrisi pada penderita
selama perawatan, ibu diikutsertakan untuk merawat anaknya dan mengetahui cara
pembuatan cairan rehidrasi oral agar ibu dapat membuat sendiri di rumah. Ibu
diharapkan dapat memberikan pertolongan pertama di rumah apabila anak menderita
diare.Misalnya dengan memberikan oralit atau larutan gula garam. Bila tidak ada
perubahan atau memburuk, diharapkan cepat dibawa ke sarana kesehatan terdekat.
Menyarankan kepada orang tua untuk membawa anaknya berobat segera apabila anak
mengalami diare dengan demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan dan minum
sedikit atau anak menjadi malas makan dan minum, anak merasa sangat haus, diare
makin sering dan gejala diare tidak membaik dalam 3 hari. Selain itu disarankan
menjaga kebersihan, cuci tangan setelah buang air kecil/besar dan sebelum makan, air
minum dimasak, persiapan alat makan dan minum yang bersih, pengolahan makanan
yang bersih mengingat sumber penularannya melalui fekal oral.

Rencana pengobatan diare dibagi menjadi tiga (3) berdasarkan derajat


dehidrasi yang dialami oleh balita.13

36
Rencana Terapi A

Rencana terapi A diberikan pada pasien diare tanpa tanda dehidrasi


Menggunakan cara ini untuk mengajari ibu saat:
1. Meneruskan mengobati anak diare di rumah
2. Memberikan terapi awal bila terkena diare
Rencana terapi A dilakukan dengan menerangkan 5 langkah terapi diare di
rumah, yaitu:
1) Beri cairan lebih banyak dari biasanya
• Teruskan ASI lebih sering dan lebih lama
• Anak yang mendapat ASI eksklusif, beri ORALIT atau air matang sebagai
tambahan
• Anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, beri susu yang biasa diminum
dan ORALIT atau cairan rumah tangga sebagai tambahan (kuah sayur, air
tajin, air matang, dsb)
• Beri ORALIT sampai diare berhenti. Bila muntah, tunggu 10 menit dan
dilanjutkan sedikit demi sedikit
o Umur < 1 tahun diberi 50-100 ml setiap kali BAB
o Umur > 1 tahun diberi 100-200 ml setiap kali BAB
• Anak harus diberi 6 bungkus ORALIT (200 ml) di rumah bila:
o Telah diobati dengan Rencana Terapi B atau C
o Tidak dapat kembali kepada petugas kesehatan jika diare
memburuk

• Ketentuan memberikan oralit:


o Memberikan ibu 2 bungkus oralit formula baru.
o Melarutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang
untuk persediaan 24 jam.

37
o Memberikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar,
dengan ketentuan sebagai berikut:
 Anak < 2 tahun: memberikan 50-100 ml tiap kali buang air
besar
 Anak > 2 tahun: memberikan 100-200 ml tiap kali buang
air besar
• Jika dalam waktu 24 jam persediaan larutan oralit masih tersisa, maka sisa
larutan itu harus dibuang.
• Ajari ibu cara memberikan oralit:
o Memberikan satu sendok teh tiap 1-2 menit untuk anak < 2 tahun.
o Memberikan beberapa teguk dari gelas untuk anak yang lebih
besar.
o Apabila anak muntah, menunggu 10 menit, kemudian memberikan
cairan lebih lama (misalkan satu sendok tiap 2-3 menit).
o Apabila diare berlanjut setelah oralit habis, beritahu ibu untuk
memberikan cairan lain seperti dijelaskan pada cara pertama atau
kembali kepada petugas kesehatan untuk mendapatkan tambahan
oralit.
2) Berikan obat zinc
Beri ZINC 10 hari berturut-turut walaupun diare sudah berhenti. Dapat
diberikan dengan cara dikunyah atau dilarutkan dalam 1 sendok air matang
atau ASI
• Umur < 6 bulan diberi 10 mg (1/2 tablet) per hari
• Umur > 6 bulan diberi 20 mg (1 tablet) per hari
3) Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi
Beri makan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak
sehat. Tambahkan 1-2 sendok teh minyak sayur setiap porsi makan. Beri
makanan kaya Kalium seperti buah segar, pisang, air kelapa hijau. Beri
makan lebih sering dari biasanya dengan porsi lebih kecil (setiap 3-4

38
jam). Setelah diare berhenti, beri makanan yang sama dan makanan
tambahan selama 2 minggu
4) Antibiotik hanya diberikan sesuai indikasi. Misal: disenteri, kolera dll
5) Nasihati ibu/pengasuh untuk membawa anak kembali ke petugas
kesehatan bila berak cair lebih sering, muntah berulang, sangat haus,
makan dan minum sangat sedikit, timbul demam, berak berdarah, dan
diare tidak membaik dalam 3 hari.

Pada kasus ini pasien mendapatkan Rencana Terapi A, yaitu terapi yang di
berikan pada diare akut tanpa tanda dehidrasi. Diagnosis diare akut didapatkan dari
anamnesis berupa adanya peningkatan frekuensi BAB dari biasanya (4-5x/24 jam)
dan konsistensi feses cair. Sedangkan diagnosis diare tanpa dehidrasi ditegakkan dari
pemeriksaan fisik yaitu tidak ditemukanya tanda-tanda dehidrasi pada pasien, seperti
mata cowong, mukosa kering, turgor kembali lambat dan frekuensi serta jumlah BAK
menurun.

Rencana Terapi B
Penderita diare dehidrasi ringan-sedang harus dirawat di sarana kesehatan
dan segera diberikan terapi rehidrasi oral dengan oralit. Rencana terapi B diberikan
pada pasien yang diare dengan dehidrasi tidak berat atau dehidrasi ringan-
sedang.Pada dehidrasi tidak berat, cairan rehidrasi oral diberikan dengan
pemantauan yang dilakukan di Pojok Upaya Rehidrasi Oral selama 4-6 jam.
Mengukur jumlah rehidrasi oral yang akan diberikan selama 4 jam pertama.

39
Tabel. Jumlah cairan rehidrasi oral 4-6 jam pertama
> 4 bulan 4-12 bulan 12 bulan – 2 2-5
Umur
tahun tahun
Berat < 6 kg 6 - < 10 kg 10 - < 12 kg 12-19 kg
Badan
200-400 400-700 700-900 900-
Dalam ml
1400
Jika anak minta minum lagi, dapat berikan kembali.
1. Menunjukkan kepada orang tua bagaimana cara memberikan rehidrasi oral
- Memberikan minum sedikit demi sedikit
- Jika anak muntah, menunggu 10 menit lalu melanjutkan kembali rehidrasi
oral pelan-pelan
- Melanjutkan ASI kapanpun anak meminta
2. Setelah 4 jam:
- Menilai ulang derajat dehidrasi anak
- Menentukan tatalaksana yang tepat untuk melanjutkan terapi
- Mulai memberi makan anak di klinik
3. Bila ibu harus pulang sebelum selesai rencana terapi B:
- Menunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di
rumah
- Memberikan oralit untuk rehidrasi selama 2 hari lagi seperti dijelaskan
dalam Rencana Terapi A
- Menjelaskan 4 cara dalam Rencana Terapi A untuk mengobati anak di
rumah:
a. Memberikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya
b. Memberi tablet zinc
c. Memberi anak makanan untuk mencegah kurang gizi

40
d. Memberi tahu kapan anak harus dibawa kembali kepada petugas
kesehatan

Rencana Terapi C
Pasien diare dengan tanda dehidrasi berat harus dirawat di puskesmas maupun
sarana kesehatan lainnya seperti rumah sakit. Pengobatan terbaik adalah dengan
terapi rehidrasi parenteral. Rencana terapi C diberikan pada pasien yang mengalami
diare dengan tanda dehidrasi berat. Berikut adalah bagan tatalaksana rencana terapi C.

Gambar 9. Rencana terapi C

41
3.1.6 Keterkaitan dengan kasus
Pada kasus ini, pasien bayi laki-laki usia 8 bulan mengalami BAB cair
dengan keluhan dari ibu yaitu konsistensi yang lebih cair daripada biasanya
sebanyak 4-5x/hari tanpa adanya lendir dan darah diklasifikasikan sebagai
diare cair akut. Prevalensi diare cair akut banyak terjadi pada anak usia 0-4
tahun seperti pada pasien ini. Faktor risiko terjadinya diare cair akut pada
pasien ini adalah higienitas dari keluarga dan pasien. Tidak adanya klinis
darah maupun lendir pada feses anak menunjukan bahwa diare ini bukanlah
disebabkan akibat adanya infeksi bakteri pada usus. Maka dari itu diagnosis
disentri dapat dihapuskan. Rotavirus diperkirakan sebagai penyebab diare cair
akut pada 20-80% anak di dunia. Baik di negara maju dan negara
berkembang, rotavirus merupakan penyebab diare terbanyak pada balita.
Sehingga jika dikaitkan antara teori dan kasus ini maka anak dapat
digolongkan menderita diare cair akut dengan etiologi virus.
Sedangkan pada pemeriksaan fisik, tidak didapatkan tanda-tanda
dehidrasi seperti seperti gelisah/rewel, mata cekung, turgor melambat.
Sehingga didapatkan diagnosis kerja Diare Akut Tanpa Tanda Dehidrasi. Oleh
karena itu tatalaksana sesuai dengan 5 lintas tatalaksana dehidrasi yaitu
rehidrasi sesuai rencana terapi A. Dukungan nutrisi, suplemen zinc,
antibiotika selektif yang pada kasus ini tidak dibutuhkan, dan edukasi orang
tua.

42
BAB IV
RINGKASAN

Seorang bayi laki-laki berusia 8 bulan dibawa ke IGD RSDK dengan keluhan
utama diare selama 3 hari yang lalu, pasien sudah mendapat obat untuk rawat jalan.
Namun 3 hari kemudian Ibu pasien mengeluhkan bahwa pasien tidak kunjung
membaik.  2 jam SMRS pasien dikeluhkan masih diare sebanyak 4-5x/24 jam.warna
kekuningan, konsistensi lembek, darah (-), lendir (-). Kemudian pasien dibawa ke
IGD RSDK untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan anak dengan berat badan 8,6 kg dan
panjang badan 70 cm. Keadaan umum anak sadar, baik, tanpa adanya tanda dehidrasi.
Tanda-tanda vital Nadi: 120x/menit reguler, isi dan tegangan cukup; RR: 236x /
menit ; suhu: 36,8°C axilla. Hasil pemeriksaan darah tidak didapatkan tanda tanda
adanya inflamasi. Hasil pemeriksaan feses rutin didapatkan hasil feses bau asam,
warna kekuningan, konsistensi lembek, dengan adanya karbohidrat (+), lemak (+),
bakteri (+).
Saat anak diperiksa di bangsal parkit, anak tidak demam, tidak ada tanda
dehidrasi, BAB 5x/hari dengan konsistensi lembek warna kuning, dengan keadaan
umum baik, tanda vital dalam batas normal, tidak ada tanda dehidrasi.

43
DAFTAR PUSTAKA

1. Subagyo B. Santoso N. Diare akut. Juffrie M, Soenarto SS, Oswari H, ArieI S,


Rosalina I, Sri Mulyani N, editors Buku ajar gastroenterologi hepatologi Jakarta:
Badan Penerbit IDAI. 2010.
2. WHO. Diarrhoeal disease : Fact Sheets 2013 [cited 2017]. Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/ fs330/en/.
3. Balitbang Kemenkes RI. 2007 Riset Kesehatan Dasar ; RISKESDAS. Jakarta :
Balitbang Kemenkes RI 2007.
4. Balitbang Kemenkes RI. 2013 Riset Kesehatan Dasar ; RISKESDAS. Jakarta :
Balitbang Kemenkes RI 2013
5. Coulston AM, Rock CL, Monsen ER, King Janet(Ed.). Nutrition in the Prevention
and Treatment of Disease. USA: Academic Press; 2003.303
6. Suraatmaja, Sudaryat. Kapita Selekta Gastroenterologi. Jakarta:Sagung Seto.
2007
7. Aditama, Tjandra Yoga, 2011, Buku Saku Lintas Diare, Dapertement Kesehatan
RI, Jakarta.
8. Juffrie, M, et al., 2009. Diare persisten In: modul pelatihan Diare. Edisi Pertama.
UKKGastro-Hepatologi IDAI pp.29-31.
9. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris N, Gandaputra E, Harmoniati E.
Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Ed. 2009;1:250-55.
10. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. Buku Ajar Ilmu kesehatan Anak. Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro; 2011
11. Soenarto Y, Aman AT, Bakri A, Waluya H, Firmansyah A, Kadim M, et al.
Burden of severe rotavirus diarrhea in Indonesia. Journal of Infectious Diseases.
2009;200(Supplement 1):S188-S94.
12. Andrianto, P.1995. Penatalaksaan dan Pencegahan Diare Akut, Edisi II, 21-
32,EGC, Jakarta.

44
13. Widaya IW, Gandi. Konsistensi Pelaksanaan Serta Morbiditas Dan Mortalitas
Diare di Era Otonomi Dan Krisis. Dalam : Kongres Nasional II BKGAI.
Bandung: BKGAI,2003: 45-54

45