Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kehamilan ektopik merupakan terjadinya implantasi konsepsi selain di cavum uteri.1


Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba dan peristiwa
ini disebut sebagai kehamilan ektopik terganggu (KET). Sebagian besar kehamilan
ektopik berlokasi di tuba fallopi (90-95%) dengan 70-80% di ampula. Sangat jarang
terjadi di ovarium, cavum abdominal, canalis servikalis, dan intraligamenter.2
Tiga dekade terakhir di banyak negara menunjukkan peningkatan dari kejadian
kehamilan ektopik. Insidensi kehamilan ektopik bervariasi dari 1:300 hingga 1: 150 dari
kelahiran. Insidensi ini meningkat sejak 1970 dan diperkirakan terjadi 2% dari seluruh
kehamilan.3 Kemungkinan penyebab peningkatan insidensi ini akibat peningkatan
prevalensi penyakit menular seksual, penggunaan alat kontrasepsi intrauterin, sterilisasi
tuba, operasi rekonstruksi tuba.1
Kehamilan ektopik adalah salah satu penyebab utama kematian ibu pada trimester
pertama dan mengancam kesuburan pada pasien.Kehamilan ini sering dikatakan sebagai
suatu akut abdomen yang sulit dibedakan karena presentasi klinis yang luas. Trias klasik
diagnosis KET adalah ammenore, perdarahan pervaginam dan nyeri perut bagian
bawah.1
Kehamilan ektopik awalnya asimtomatik, hingga pada akhirnya terjadi gejala
hemperitoneum sampai syok. Diagnosis yang terlambat pada pasien KET dan tatalaksana
yang salah menyebabkan kehamilan ektopik akan berlanjut menjadi kehamilan ektopik
terganggu. Mortalitas pada kehamilan ini diakibatkan luruhnya hasil konsepsi dan
menyebabkan perdarahan masif. Penyebab kematian pada kasus kehamilan ektopik
adalah syok, gagal ginjal akut, koagulopati intravaskular diseminata, emboli paru, sepsis,
dan kegagalan banyak organ. 1