Anda di halaman 1dari 6

GOLONGAN ANTIBIOTIKA

1. Antibiotika Golongan Aminoglikosid

Antibiotika golongan aminoglikosid bekerja dengan menghambat sintesis protein


dari bakteri. Aminoglikosid merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula
amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa. Aminoglikosid merupakan
produk streptomises atau fungus lainnya. Seperti Streptomyces griseus untuk Streptomisin,
Streptomyses fradiae untuk Neomisin, Streptomyces kanamyceticus untuk Kanamisin,
Streptomyces tenebrarius untuk Tobramisin, Micromomospora purpures untuk Gentamisin
dan Asilasi kanamisin A untuk Amikasin. Aminoglikosid dari sejarahnya digunakan untuk
bakteri gram negatif. Aminoglikosid pertama yang ditemukan adalah Streptomisin.
Antibiotika lain untuk bakteri gram negatif adalah golongan Sefalosporin generasi 3 yang
lebih aman, akan tetapi karena harganya masih mahal banyak dipakai golongan
Aminoglikosid. Aktivitas bakteri Aminoglikosid dari Gentamisin, Tobramisin, Kanamisin,
Netilmisin dan Amikasin terutama tertuju pada basil gram negatif yang aerobic (yang hidup
dengan oksigen). Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan
Streptomisin secara kronik misalnya pada terapi Tuberkulosis atau endokarditis bakterial
subakut. Resistensi terhadap Streptomisin dapat cepat terjadi, sedangkan resistensi terhadap
Aminoglikosid lainnya terjadi lebih berangsur-angsur.

2. Antibiotika Golongan Sefalosforin

Bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim


autolisis pada dinding sel bakteri. Sefalosporin termasuk golongan antibiotika betalaktam.
Seperti antibiotik betalaktam lain, mekanisme kerja antimikroba Sefalosporin ialah dengan
menghambat sintesis dinding sel mikroba. Yang dihambat adalah reaksi transpeptidase tahap
ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Sefalosporin yang aktif terhadap
kuman gram positif diantaranya sefalotin, sefaleksin, sefazolin, serta sefradin. Kelompok
yang aktif terhadap kuman gram negative seperti sefaklor, sefamandol, mokasalatam,
sefotaksim, dan sefoksitin.

3. Antibiotika Golongan Kloramfenikol

Bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri yangdiisolasikan pertama


kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Kloramfenikol mempunyai daya
antimikroba yang kuat maka penggunaan Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada
tahun 1950 diketahui bahwa Kloramfenikol dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.
Efek antimikroba dalam Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein
kuman. Yang dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator
untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman. Efek toksis
Kloramfenikol pada sel mamalia terutama terlihat pada sistem hemopoetik/darah dan diduga
berhubungan dengan mekanisme kerja Kloramfenikol. Kloramfenikol digunakan untuk
mengatasi H.influenzae dan S. thypi karena bersifat toksit terhadap sumsum tulang.

4. Antibiotika Golongan Makrolida

Bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.Antibiotika golongan


Makrolida mempunyai persamaan yaitu terdapatnya cincin lakton yang besarnya dalam
rumus molekulnya. Golongan Makrolida menghambat sintesis protein kuman dengan jalan
berikatan secara reversibel dengan ribosom, dan bersifat bakteriostatik atau bakterisid
tergantung dari jenis kuman dan kadar obat Makrolida. Sekarang ini antibiotika Makrolida
yang beredar di pasaran obat Indonesia adalah Eritomisin, Spiramisin, Roksitromisin,
Klaritromisin dan Azithromisin. Eritromisin banyak digunakan untuk menyembuhkan
penyakit legionnaires dan infeksi pneumonia atipik.

5. Antibiotika Golongan Penisilin

Bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan. Penisilin merupakan kelompok


antibiotika Beta Laktam yang telah lama dikenal. Penisilin yang digunakan dalam
pengobatan terbagi dalam Penisilin alam dan Penisilin semisintetik. Penisilin semisintetik
diperoleh dengan cara mengubah struktur kimia Penisilin alam atau dengan cara sintesis dari
inti Penisilin.

a. Aktivitas dan Mekanisme Kerja Penisilin

Penisilin menghambat pembentukan mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis


dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif, Penisilin akan menghasilkan efek
bakterisid (membunuh kuman) pada mikroba yang sedang aktif membelah. Mikroba dalam
keadaan metabolik tidak aktif (tidak membelah) praktis tidak dipengaruhi oleh Penisilin,
kalaupun ada pengaruhnya hanya bakteriostatik (menghambat perkembangan).

b. Efek Samping Penisilin

1) Reaksi hipersensitif, mulai ruam dan gatal sampai serum sickness dan reaksi alergi
sistemik yang serius

2) Nyeri tenggorokan atau lidah, lidah terasa berbulu lembut, muntah, diare

3) Mudah marah, halusinasi, kejang

6. Antibiotika Golongan Beta Laktam

Bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada
dinding sel bakteri.
7. Antibiotika Golongan Kuinolon

Bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim topoisomerase yang bersifat
esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri. Asam Nalidiksat adalah prototip
antibiotika golongan Kuinolon lama yang dipasarkan sekitar tahun 1960. Penggunaan obat
Kuinolon lama ini terbatas sebagai antiseptik saluran kemih saja. Pada awal tahun 1980,
diperkenalkan golongan Kuinolon baru dengan atom Fluor pada cincin Kuinolon ( karena itu
dinamakan juga Fluorokuinolon ). Perubahan struktur ini secara dramatis meningkatkan daya
bakterinya, memperlebar spektrum antibakteri, memperbaiki penyerapannya di saluran cerna,
serta memperpanjang masa kerja obat.

Golongan Kuinolon ini digunakan untuk infeksi sistemik. Yang termasuk golongan ini antara
lain adalah Spirofloksasin, Ofloksasin, Moksifloksasin, Levofloksasin, Pefloksasin,
Norfloksasin, Sparfloksasin, Lornefloksasin, Flerofloksasin dan Gatifloksasin.

a. Mekanisme Kerja Kuinolon

Pada saat perkembangbiakan kuman ada yang namanya replikasi dan transkripsi
dimana terjadi pemisahan double helix dari DNA kuman menjadi 2 utas DNA. Pemisahan ini
akan selalu menyebabkan puntiran berlebihan pada double helix DNA sebelum titik pisah.
Hambatan mekanik ini dapat diatasi kuman dengan bantuan enzim DNA girase. Peranan
antibiotika golongan Kuinolon menghambat kerja enzim DNA girase pada kuman dan
bersifat bakterisidal, sehingga kuman mati.

8. Antibiotika Golongan Tetrasiklin

Bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri. Tetrasiklin pertama kali
ditemukan oleh Lloyd Conover. Tetrasiklin merupakan antibiotika yang memberi harapan
dan sudah terbukti menjadi salah satu penemuan antibiotika penting. Antibiotika golongan
tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah Klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces
aureofaciens. Kemudian ditemukan Oksitetrasiklin dari Streptomyces rimosus. Tetrasiklin
sendiri dibuat secara semisintetik dari Klortetrasiklin, tetapi juga dapat diperoleh dari spesies
Streptomyces lain.

a. Mekanisme Kerja Tetrasiklin

Golongan Tetrasiklin termasuk antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan bekerja


dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Golongan Tetrasiklin menghambat sintesis
protein bakteri pada ribosomnya. Paling sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotika
Tetrasiklin ke dalam ribosom bakteri gram negatif; pertama yang disebut difusi pasif melalui
kanal hidrofilik, kedua ialah sistem transportasi aktif. Setelah antibiotika Tetrasiklin masuk
ke dalam ribosom bakteri, maka antibiotika Tetrasiklin berikatan dengan ribosom dan
menghalangi masuknya komplek tRNA-asam amino pada lokasi asam amino, sehingga
bakteri tidak dapat berkembang biak.

Pada umumnya efek antimikroba golongan Tetrasiklin, namun terdapat perbedaan


kuantitatif dari aktivitas masing-masing derivat terhadap kuman tertentu. Hanya mikroba
yang cepat membelah yang dipengaruhi antibiotika Tetrasiklin.

9. Kombinasi Antimikroba

Karena kerja dari dua antimikroba Trimetropim dan Sulfametoksazol dalam


menghambat reaksi enzimatik obligat berurutan sehingga kombinasi antimikroba ini
memberikan efek sinergi. Kombinasi ini lebih dikenal dengan nama Kotrimoksazol.

Aktivitas kombinasi antimikroba Kotrimoksazol berdasarkan atas kerjanya pada dua


tahap yang berurutan dalam reaksi enzimatik untuk membentuk asam tetrahidrofolat.
Sulfometoksazol menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat dan
trimetropim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari asam dihidrofolat menjadi
tetrahidrofolat. Trimetropim menghambat enzim Dihidrofolat reduktase mikroba secara
sangat selektif. Hal ini penting, karena enzim tersebut juga terdapat pada sel manusia.

10. Antibiotika Golongan Lain

Antiobiotika golongan lain yang ada di Indonesia adalah klindamisin, metronidazol,


colistin, tinidazol, fosfomycin, teicoplanin, vancomycin dan linezolid.

a. Klindamisin

Digunakan untuk infeksi bakteri anaerob. Seperti infeksi pada saluran nafas, septikemia, dan
peritonitis. Untuk pasien yang sensitif terhadap penisilin Klindamisin juga dapat digunkan
untuk infeksi bakteri aerobik. Klindamisin juga dapat digunakan untuk infeksi pada tulang
yang disebabkan staphylococcus aureus. Sediaan topikalnya dalam bentuk Klindamisin
posfat digunkan untuk jerawat yang parah.

Klindamisin efektif untuk infeksi yang disebabkan mikroba sebagai berikut:

- Bakteri aerobik gram positif seperti golongan Staphylococus dan Streptococus


(pneumococcus)

- Bakteri anaerobik gram negatif termasuk golongan Batericoides dan Fusobacterium

b. Metronidazol

Metronidazol efektif untuk bakteri anaerob dan protozoa yang sensitif karena beberapa
organisme memiliki kemampuan untuk mengurangi bentuk aktif metronidazol di dalam
selnya. Secara sistemik metronidazol digunakan untuk infeksi anaerobik, trikomonasis,
amubiasis, lambiasis dan amubiasis hati.

c. Colistin

Colistin digunakan dalam bentuk sulfat atau kompleks sulfomethyl, colistimetate. Tablet
Colistin sulfat digunakan untuk mengobati infeksi usus atau untuk menekan flora di kolon.
Colistin sulfat juga digunakan dalam bentuk krim kulit, bubuk dan tetes mata. Colistimethat
digunakan untuk sedian parenteral dan dalam bentuk aerosol untuk pengobatan infeksi paru-
paru.

d. Tinidazol

Tinidazol merupakan kelompok antibiotika azol. Mekanisme kerjanya dengan cara masuk ke
dalam sel mikroba dan berikatan dengan DNA. Dengan cara ini mikroba tidak dapat
berkembang biak. Tinidazol adalah antibiotika khusus yang digunakan untuk menghentikan
penyebaran bakteri anaerob. Bakteri ini biasanya menginfeksi lambung, tulang, otak dan
paru-paru.

e. Teicoplanin

Teicoplanin merupakan kelompok antibiotika dari glikopeptida. Bakteri memiliki dinding sel
luar yang dipertahankan oleh molekul peptidoglikan. Dinding sel sangat vital untuk
mempertahankan pada lingkungan normal di dalam tubuh di mana bakteri hidup. Teicoplanin
bekerja dengan mengunci formasi dari peptidoglikan. Dengan cara tersebut dinding bakteri
menjadi lemah sehingga bakteri mati. Teicoplanin digunakan untuk infeksi serius pada hati
dan darah. Teicoplanin tidak dapat diserap di lambung sehingga hanya diberikan dengan cara
infus atau injeksi.

f. Vancomycin

Vancomycin bekerja dengan membunuh atau menghentikan perkembangan bakteri.


Vancomycin digunakan untuk mengobati infeksi pada beberapa bagian tubuh. Kadangkala
digabung dengan antibiotika lain. Vancomycin juga digunakan untuk penderita dengan
gangguan hati atau prosthetic (artificial) hati yang alergi dengan penisilin. Dengan kondisi
khusus, antibiotika ini juga dapat digunakan untuk mencegah endocarditis pada pasien yang
telah melakukan operasi gigi atau operasi saluran nafas atas (hidung atau tenggorokan).

Vancomycin diberikan dalam bentuk injeksi untuk infeksi serius kalau obat lain tidak
berguna. Walaupun demikian, obat ini dapat menimbulkan beberapa efek samping yang
serius, termasuk merusak pendengaran dan ginjal. Efek samping ini akan sering terjadi pada
pasien yang berumur lanjut.
g. Linezolid

Linezolid digunakan untuk mengobati infeksi termasuk pneumonia,infeksi saluran kemih dan
infeksi pada kulit dan darah. Linezolid termasuk golongan antibiotika oxazolidinon.Cara
kerja dengan menghentikan perkembang biakan bakteri.

11. Golongan Linkosamid

Golongan ini kadang digunakan sebagai pelengkap dalam mengatasi kuman yang tahan
terhadap penisilin.

12. Golongan Polipeptida

Golongan polipeptida dikenal aktif terhadap bakteri gram negative seperti pseudomonas.
Golongan ini diantaranya terdiri dari polimiksin, A, B, C, D, E.

13. Golongan Antimikobakterium

Banyak digunakan untuk melawan mikobakterium. Diantaranya yang termasuk dalam


golongan ini adalah etambutol, dapson, streptomisin, INH, dan rifampisin, yang dikenal
untuk menyembuhkan TBC dan penyakit lepra.