Anda di halaman 1dari 17

HUKUM DAN ISLAM

DOSEN PENGAMPU:
Drs. Ramli, M.A

OLEH:
SILVIA FAUZIAH NASUTION ( Nim. 6173510025 )
CINDI CHAIRANI LUBIS (Nim. 6173510005 )
IKOR C 2017

ILMU KEOLAHRAGAAN
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIMED
2019

KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan
makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat
dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai Agama telah berkembang selama empat
belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran
dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis
hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain
berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis
hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Hukum
Islam, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi,
dan berita.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa. Kami sadar bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen
pembimbing kami meminta masukannya demi perbaikan makalah di masa yang akan datang
dan mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

Medan, Februari 2019

Penyusun Kelompok 3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pada dasarnya manusia meskipun berbeda jenis, suku bangsa dan ras, di
hadapan Allah dan muka hakim semuanya sama. Sebagai orang Islam yang
taat, kita tidak hanya menerapkan syariat agama pada kehidupan sehari-hari
kita, tapi kita juga harus mengetahui, mencermati, dan menerapkan agama di
dalam lingkup hukum.
Dalam kesempatan ini, kami menulis makalah ini dengan alasan agar
para pembaca dapat mengenal lebih dalam apa itu hukum Islam.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, rumusan masalahnya
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana menumbuhkembangkan kesadaran untuk taat hukum?
2. Bagaimana peran agama dalam perumusan dan penegakkan hukum yang
adil?

1.3.Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai adalah:
1. mengetahui bagaimana cara menumbuhkembangkan kesadaran untuk taat
pada hukum.
2. Mengetahui pengertian dan maksud dari hukum Islam tersebut.
3. Mengidentifikasi hubungan antara hukum Allah serta fungsing dalam
kehidupan sehari-hari.
4. Mengidentifikasi peran agama dalam perumusan hukum.
5. Mempelajari cara agama mengajarkan keadilan dan fungsi profetik agama
dalam hukum.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Konsep Hukum Dalam Islam


Hukum (peraturan/norma) adalah suatu hal yang mengatur tingkah
laku manusia dalam suatu masyarakat, baik peraturan tingkah laku
manusia dalam suatu masyarakat, baik peraturan atau norma itu berupa
kenyataan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat maupun
peraturan atau norma yang dibuat dengan cara tertentu dan ditegakkan
oleh penguasa.
Hukum Islam adalah hukum-hukum yang diadakan oleh Allah
untuk umat-Nya yang dibawa oleh seorang Nabi, baik hukum yang
berhubungan dengan kepercayaan (aqidah) maupun hukum-hukum yang
berhubungan dengan amaliyah (perbuatan).
Dengan adanya Hukum dalam Islam berarti ada batasan-batasan
yang harus dipatuhi dalam kehidupan. Kerena tidak bisa dibayangkan jika
hukum, seseorang akan semaunya melakukan sesuatu perbuatan termasuk
perbuatan maksiat.
Hukum Islam dibagi ke dalam dua bagian :
 Bidang Ibadah (ibadah mahdah)
Ibadah mahdah adalah tata cara beribadah yang wajib dilakukan
seorang muslim dalam berhubungan dengan Allah seperti shalat, puasa,
zakat, dan haji.
 Bidang Mu’amalah ( ibadah ghairu mahdah )
Mu’amalah adalah ketetapan Allah yang langsung berhubungan
dengan kehidupan sosial manusia, yang sifatnya terbuka untuk
dikembangkan melalui ijtiad manusia yang memenuhi syarat untuk
melakukan usaha itu.
Dengan adanya hukum ibadah mahdah dan muamalah ini jika diamalakan
oleh manusia akan dapat terpelihara Agama, jiwa, dan akalnya.
2.2. Sumber Hukum Islam
Pembahasan sumber-sumber syariat Islam, termasuk masalah
pokok (ushul) karena dari sumber-sumber itulah terpancar seluruh
hukum/syariat Islam. Oleh karenanya untuk menetapkan sumber syariat
Islam harus berdasarkan ketetapan yang qath’i (pasti) kebenarannya,
bukan sesuatu yang bersifat dugaan (dzanni). Berikut sumber hukum
islam :
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan melalui perantaraan
malaikat Jibril kepada Rasulullah saw dengan menggunakan bahasa Arab
disertai kebenaran agar dijadikan hujjah(argumentasi) dalam hal
pengakuannya sebagai rasul dan agar dijadikan sebagai pedoman hukum
bagi seluruh ummat manusia, di samping merupakan amal ibadah bagi yang
membacanya. Sebagaimana dalam ayat 105 surat An-Nisa

Al-Qur’an diriwayatkan dengan cara tawatur (mutawatir) yang artinya


diriwayatkan oleh orang sangat banyak semenjak dari generasi shahabat
ke generasinya selanjutnya secara berjamaah. Jadi apa yang diriwayatkan
oleh orang per orang tidak dapat dikatakan sebagai Al-Qur’an. Orang-
orang yang memusuhi Al-Qur’an dan membenci Islam telah berkali-kali
mencoba menggugat nilai keasliannya. Akan tetapi realitas sejarah dan
pembuktian ilmiah telah menolak segala bentuk tuduhan yang mereka
lontarkan. Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan ciptaan manusia, bukan
karangan Muhammad saw ataupun saduran dari kitab-kitab sebelumnya.
Al-Qur’an tetap menjadi mu’jizat sekaligus sebagai bukti keabadian dan
keabsahan risalah Islam sepanjang masa dan sebagai sumber segala
sumber hukum bagi setiap bentuk kehidupan manusia di dunia.
2. As-Sunnah
Sunnah adalah perkataan, perbuatan dan taqrir (ketetapan /
persetujuan / diamnya) Rasulullah saw terhadap sesuatu hal/perbuatan
seorang shahabat yang diketahuinya. Sunnah merupakan sumber syariat
Islam yang nilai kebenarannya sama dengan Al-Qur’an karena
sebenarnya Sunnah juga berasal dari wahyu. Berikut ini sebagaimana
yang terdapat pada surat Al-hasyr ayat 7

3. Al-Ijtihad
Al-Ijtihad sebagai sumber hukum Islam yang ketiga berdasar pada
QS. 4 : 59

yang berisi perintah kepada orang-orang yang beriman agar patuh, taat
kepada ketentuan-ketentuan Rasul (sunah/hadits) serta taat mengikuti
ketentuan-ketentuan Ulil Amri (Ijtihad).Berikut ini potongan surat yang
menjelaskan tentang ijtihad
Al-Ijtihad yaitu berusaha dengan keras untuk menetapkan hukum
suatu persoalan yang tidak ditegaskan secara langsung oleh Al-Qur’an
dan atau Hadits dengan cara istinbath (menggali kesesuaiannya pada Al-
Qur’an dan ataupun Hadits) oleh ulama-ulama yang ahli setelah wafatnya
Rasulullah.Ijtihad dapat dilakukan dengan menggunakan Ijma’, Qiyas,
Istihsan, Istishab, Mashalah Mursalah, ‘Urf (tradisi). Syarat Mujtahid:

 
 Umum: Islam, baligh dan berakal


Pokok: mengetahui  al-Qur’an, sunnah, maqasid syar’iyah dan
 qawaid al- fiqhiyah

Penting: menguasai bahasa Arab, ushul fiqh dan logika, 
mengetahui
khilafiyah dan masalah-masalah yang sudah diijma’kan.

2.3. Tujuan Hukum Islam


1.) Menjaga agama (hifdz ad-din). Agama wahyu diturunkan Allah SWT
melalui malaikat sejak Nabi Adam As sampai kepada Nabi Muhammad
SAW untuk disampaikan kepada umat manusia. Namun demikian,
dalam penyampaiannya tidak boleh ada paksaan. Sebab merupakan hak
manusia untuk memilih atau tidak memilik agama dan keyakinannya
itu.
2.) Menjaga jiwa (hifdz an-nafs). Hak hidup sangat dijamin dan dijunjung
tinggi dalam Islam. Karenanya, ada hukum qishos yang membunuh
orang yang telah membunuh orang lain, kecuali keluarganya
memaafkan dan membayar denda. Untuk bisa hidup, maka manusia
harus mampu mencukupi sandang, pangan dan papan, sehingga dapat
hidup layak dan berkesinambungan.
3.) Menjaga akal (hifdz al aql). Hal yang membedakan manusia dengan
binatang adalah akalnya. Tanpa akal maka manusia sama saja dengan
binatang. Akal harus dijaga dengan sebaik-baiknya supaya tetap sehat
dan kuat. Akal yang sehat terletak pada jiwa sehat. Karena itu, hal-hal
yang dapat merusak dan menghilangkan akal wajib dihindari, seperti
minuman keras, narkoba, perjudian, dan lain-lain.
4.) Menjaga keturunan (hifdzan nasb). Salah satu kebahagian hidup
adalah manakalah memiliki keturuan dari hasil perkawinan legal / sah,
baik secara hukum agama maupun hukum negara, sehingga menjadi
keturunan yang indah dipandang mata (qurrota a’yun). Sebab ia akan
menjadi generasi penerus, dan yang akan mendoakan kedua orang
tuanya setelah wafat.

5.) Menjaga harta (hifdzalmaal). Harta yang kita miliki, sesungguhnya


adalah milik Allah, karena itu hanyalah titipan saja. Namun demikian,
kita wajib untuk menjaganya agar tidak hilang atau rusak, apalagi
sampai menimbulkan kemudharatan. Bahkan, kalau harta kita
dirampok, kemudian melakukan perlawanan dan sampai terbunuh,
maka matinya syahid. Maka wajib bagi kita untuk memperhatikan dari
mana harta itu diperoleh dan menggunakannya dengan baik dan benar
sehingga memberikan manfaat bagi orang lain.
Tujuan hukum Islam secara umum adalah untuk mencegah
kerusakan pada manusia dan mendatangkan maslahah bagi mereka,
mengarahkan kepada kebenaran untuk mencapai kebahagiaan hidup
dunia dan akhirat, dengan perantara segala yang bermanfaat serta
menolak yang medarat atau tidak berguna bagi kehidupan manusia.
2.4. Menumbuhkan Kesadaran Untuk Taat Hukum
Menurut ahli ushul fiqih, hukum Islam adalah ketentuan Allah
yang berkaitan dengan perbuatan yang mukallaf yang mengandung
suatu tuntunan, pilihan atau yang menjadikan sesuatu sebab, syarat,
atau penghalang bagi adanya sesuatu yang lain.
Menurut ahli fiqih, hukum syari’i (Islam) adalah akibat yang
timbul dari perbuatan orang yang mendapat beban Allah SWT., dan ini
dibagi menjadi 2 bagian: Hukum taklifi, dan Hukum wad’i
a. Hukum Taklifi
Hukum Taklifi adalah ketentuan Allah yang mengandung
ketentuan untuk dikerjakan oleh mukallaf atau ditinggalkannya atau
yang mengandung pilihan antara dikerjakan dan ditinggalkan. Hukum
Taklifi dibagi menjadi 5 macam:
1) Ijab, adalah ketentuan Allah yang menuntut untuk dilakukan suatu
perbuatan dengan tuntutan pasti, disebut wajib.
2) Nadb, adalah ketetntuan Allah yang menuntut agar dilakukan suatu
perbuatan dengan tuntutan yang tidak harus dikerjakan. Sedangkan
kerjaan yang dikerjakan secara sukarela disebut sunah.
3) Tahrim, adalah ketentuan Allah yang menuntut untuk ditinggalkan
suatu perbuatan dengan tuntutan tegas. Perbuatan yang dituntut
untuk ditinggalkan disebut haram.
4) Karahah, adalah ketentuan untuk meninggalkan suatu perbuatan
dengan tidak tegas untuk ditinggalkannya, sedangkan perbuatan
yang dituntut untuk ditinggalkannya dusebut makruh
5) Ibahah, adalah ketentuan Allah yang mengandung hak pilihan orang
mukallaf antara mengerjakan dan meninggalkannya. Pekerjaan yang
diperkenankan untuk dikerjakan dan ditinggalkan disebut mubah
b. Hukum Wad’i
Hukum Wad’i adalah ktentuan Allah yang mengandung pengertian
bahwa terjadinya sesuatu itu sebab, syarat, atau penghalang sesuatu.
Misalnya:
1) Sebab sesuatu, menjalankan sholat menjadi sebab kewajiban
wudhu.
2) Syarat sesuatu, kesanggupan mengadakan perjalanan ke
Baitullah menjadi syarat wajibnya menunaikan haji.
3) Penghalang sesuatu, berbeda agama menjadi penghalang harta
pusaka-mempusakai.
Kesimpulannya, hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan
oleh Allah melalui wahyu-Nya yang kini terdapat dalam Al-Qur’an dan
dipertegas oleh Nabi Muhammad melalui sunah-Nya yang kini
terhimpun dengan baik dalam hadist.

2.5. Konstribusi Umat Islam dalam Perumusan Hukum


Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bebeas dan merdeka,
karena inggin memperkuat kedudukan pribadinya untuk memenuhi
keinginan dan kegemarannya, mereka tidak sanggup menghadapi
tantangan alam untuk menyatukan diri dengan sodara sesama manusia
dan menyatakan usahanya dengan orang lain.Untuk mengatasi itu tidak
ada cara lain.
Ada 3 program yang harus dicermati dan difahami, yaitu:
1. Terwujudnya masyrakat yang agamis, berperadaban luhur, berbasis
hati nurani yang diilhami dan disinari firman ajaran agama Allah.
2. Terhindarnya perilaku radikal , ekstrim, tidak toleran, dan eksklusif
dalam kehidupan beragama.
3. Terbinanaya masyarakat yang dapat menghayati, mengamalkan
ajaraj-ajaran agama dengan sebenarnya, mengutamakan persamaan,
menghargai HAM dan menghormati perbedaan melalui
internalisasi ajaran agama.
Aspek kehidupan sosial keadaanya selalu berubah-ubah mengikuti
perubahan waktu, tempat ,keadaan, maka syariat atau hukum yang
merupakan salah satu aspek sosial dengan sendirinya antara kehidupan
sosial dengan hukum mempunyai aspek yang saling mempengaruhi,
maka kita akan mendapatkan sebab perbedaan diantara berbagai hukum
karena perbedaan waktu dan tempat dan adanya bermacam- macam
hukum yang diwarnai oleh faktor kebangsaan dan faktor khusus dan
sifatnya tradisional.
Sistem hukum yang mewarnai hukum nasional kita di Indonesia
selama ini dasarnya terbentuk atau dipengaruhi oleh tiga pilar subsistem
hukum yaitu sistem hukum barat, hukum adat dan sistem hukum Islam,
yang masing-masing menjadi sub-sistem hukum dalam sistem hukum
Indonesia. Sistem Hukum Barat merupakan warisan penjajah kolonial
Belanda yang selama 350 tahun menjajah Indonesia. Penjajahan
tersebut sangat berpengaruh padasistem hukum nasional kita.
Sementara Sistem Hukum
Adat bersendikan atas dasar-dasar alam pikiran bangsa Indonesia,
dan untuk dapat sadar akan sistem hukum adat orang harus menyelami
dasar-dasar alam pikiran yang hidup di dalam masyarakat Indonesia.
Kemudian sistem Hukum Islam, yang merupakan sistem hukum yang
bersumber pada kitab suci AIquran dan yang dijelaskan oleh Nabi
Muhammad dengan hadis/sunnah-Nya serta dikonkretkan oleh para
mujtahid dengan ijtihadnya.

1. UUD 1945
Hukum Islam dalam bentuk peraturan khusus yang berlaku bagi
umat Islam misalnya adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989
tentang Pengadilan Agama dan keberadaan Kompilasi Hukum Islam
(KHI) yang penyebarluasannya dilakukan berdasarkan Inpres No. 1
Tahun 1991. Sedangkan Hukum Islam dalam hukum nasional yang
berlaku umum misalnya ada pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1960 tentang Pokok-Pokok Agraria khususnya yang mengatur tentang
perwakafan tanah, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang
Kesejahteraan Anak, dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak.
Undang-undang yang berlaku saat ini seperti, UU Perkawinan, UU
Peradilan Agama, UU Penyelenggaraan Ibadah Haji, UU Pengelolaan
Zakat, dan UU Otonomi Khusus Nanggroe Aceh Darussalam serta
beberapa undangundang lainnya yang langsung maupun tidak langsung
memuat hukum Islam seperti UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang
perbankan yang mengakui keberadaan Bank Syari’ah dengan prinsip
syari’ahnya, atau UU NO. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama yang
semakin memperluas kewenangannya, dan UU Nomor 21 Tahun 2008
tentang Perbankan Syariah.

2. Undang-undang Perkawinan
Dalam ikatan perkawinan sebagai salah satu bentuk perjanjian
(suci) antara seorang pria dengan seorang wanita, yang mempunyai
segi-segi perdata, berlaku beberapa asas, diantaranya adalah :
a. Kesukarelaan,
b. Persetujuan kedua belah pihak,
c. Kebebasan memilh,
d. Kemitraan suami-istri,
e. Untuk selama-lamanya,
f. Monogami terbuka.

3. Undang-undang Peradilan Agama


Peradilan adalah proses pemberian keadilan di suatu lembaga yang
disebut pengadilan. Pengadilan adalah lembaga atau badan yang
bertugas menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan setiap
perkara yang diajukan kepadanya. Peradilan Agama adalah proses
pemberian keadilan berdasarkan hukum agama Islam kepada orang-
orang Islam yang dilakukan di Pengadilan Agama dan Pengadilan
Tinggi Agama.
Untuk menegakkan hukum islam yang berlaku secara yuridis
formal dalam negara republik indonesia, pada tanggal 8 desember 1988
presiden Republik Indonesia menyampaikan rancangan undang-undang
peradilan agama kepada dewan perwakilan rakyat untuk di bicarakan
dan di setujui sebagai undang-undang menggantikan semua peraturan
perundang-undangan tentang peradilan agama yang tidak sesuai lagi
dengan undang-undang dasar 1945 dan undang-undang tentang pokok-
pokok kekuasaan kehakiman 1970.
Pada hari kamis tanggal 14 desember 1989, rancangan undang-
undang peradilan agama itu di setujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat
menjadi Undang-Undang Republik Indonesia. Pada tanggal 29
desember 1989, oleh presiden republik Indonesia dalam lembaran
negara nomor 49 tahun 1989. Pemeluk agama Islam yang telah menjadi
bagian penduduk indonesia, dengan undang-undang itu di beri
kesempatan untuk menaati hukum Islam yang menjadi bagian mutlak
ajaran agamanya, sesuai dengan jiwa pasal 29 undang-undang dasar
1945 terutama ayat 2-nya. Undang-undang peradilan agama yang telah
di sahkan dan di undang-undang kan itu terdiri atas VII bab dan 108
pasal dengan sistematika dan garis besar isinya sebagai berikut :
1. Bab I : memuat kententuan umum tentang pengertian, kedudukan,
tempat kedudukan dan pembinaan pengadilan dalam lingkungan
peradilan agama.
2. Bab II : mengatur susunan pengadilan agama dan pengadilan tinggi
agama.
3. Bab III : mengatur kekuasaan pengadilan dalam lingkungan
peradilan agama.
4. Bab IV : mengatur tentang hukum acara.
5. Bab V : menyebut ketentuan-ketentuan lain mengenai administrasi
pengadilan, pembagian tugas para hakim dan panitera dalam
melaksanakan tugas nya masing-masing.
6. Bab VI : mengenai ketentuan peralihan.
7. Bab VII : tentang ketentuan penutup.
Dengan disahkannya undang-undang peradilan agama ini,
perubahan penting dan mendasar telah terjadi dalam lingkungan
peradilan agama. Diantaranya sebagai berikut :
 Peradilan agama telah menjadi peradilan mandiri, kedudukannya
benar-benar telah sejajar dan sederajat dengan peradilan umum,
peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara.

 Nama, susunan, wewenang (kekuasaan) dan hukum acaranya telah
sama dan seragam di seluruh indonesia. Terciptanya unifikasi hukum
acara peradilan agama itu akan memudahkan terwujudnya ketertiban
dan kepastian hukum yang berintikan keadilan dalam lingkungan
peradilan agama.

 Perlindungan terhadap wanita lebih di tingkatkan dengan jalan,
antara lain, memberikan hak yang sama kepada istri dalam berproses
dan membela kepentingannya di muka peradilan agama.

 Lebih memantapkan upaya penggalian berbagai asas dan kaidah
hukum islam sebagai salah satu bahan baku dalam penyusunan dan
pembinaan hukum nasional melalui yurisprudensi.

4. Undang-undang Pengelolaan Zakat
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggaI 23 September 1999
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 No. 164, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3885).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hukum Islam ialah ketentuan Allah yang berkaitan dengan perbuatan
orang mukallaf yang mengandung suatu tuntutan, pilihan, sebab, syarat,
atau penghalang bagi adanya sesuatu yang lain.
Syariat Islam menyamaratakan hukum dan keadilan antara sesama umat
Islam.Islam mengerahkan kekuatan manusia kepada tujuan besar, yaitu
kepentingan masyarakat dengan memanfaatkan segala bentuk kebajikan
yang disumbangkan setiap individu.
3.2. Saran
1. Kami menyarankan agar pembaca dapat mengetahui lebih dalam
tentang makalah yang kami sajikan.
2. Kami menyarankan agar pembaca bisa menambah wawasan
dengan menerapkan ajaran Islam didalam lingkup hukum.
Daftar Pustaka

http://femimelinda.blogspot.com/2017/03/makalah-agama-islam-tentang-hukum-
islam.html
http://3x05.blogspot.com/2009/09/normal-0-false-false-false.html
file:///D:/Kuliah/Agama/Ecko%20File_%20Menumbuhkan%20Kesadaran%20Un
tuk%20Taat%20Terhadap%20Allah%20SWT.pd
http://parepai.blogspot.com/2014/10/materi-iii-konsep-hukum-dalam-islam.html
https://uliyasiwi.wordpress.com/2011/10/11/makalah-pendidikan-agama-islam/