Anda di halaman 1dari 4

dan irit?

puiposu

PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL

Pemeriksaan Kaku Kuduk

Pemeriksaan ini biasanya positif pada pasien dengan meningitis. Tangan pemeriksa diletakkan di bawah
kepala pasien yang berbaring kemudian dilakukan fleksi pada kepala sampai dagu menyentuh dada.
Tangan pemeriksa satunya diletakkan di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan. Bila ada
tahanan atau dagu tidak dapat mencapai dada maka dapat disimpulkan hasil pemeriksaan ini positif.
Pada pasien dengan penurunan kesadaP e m ran, pemeriksaan lebih baik dilakukan pada saat ada
ekspirasi karena pada saat inspirasi biasanya dipar dapatkan sedikit tahanan sehingga dapat menimsuc'
bulkan salah tafsir. ser Pemeriksaan ini juga dapat positif pada keek adaan-keadaan seperti miositis otot,
abses retroiu faringeal, dan artritis servikal. Cara membedakan d'

kaku kuduk dari keadaan-keadaan tersebut adaK lah dengan melakukan rotasi dan ekstensi kepala. Pada
kaku kuduk rotasi dan ekstensi kepala dapat dilakukan dengan mudah tanpa tahanan, sedangkan pada
keadaan lainnya dapat terganggu/ada

Tes

tahanan.

Tes Lasegue

Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien dalam kea' daan berbaring dan kedua tungkai lurus
(ekstensi)Sahh satu tungkai kemudian difleksikan dan tung" kai yang lain tetap dalam keadaan ekstensi.
Bila didapatkan rasa nyeri dan tahanan sebemm menCapai sudut 70“, maka dapat disimpulkan
pemeriksaan ini positif. Pada pasien dengan usia di atas 60 tahun diambil patokan sudut 60".
Pemeriksaan ini positif pada keadaan iritasi meningeai, ischialgia dan iritasi pleksus lumbosakral (hernia
nukleus pulposuslHNP).
Tes Kernig

Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien dalam keadaan berbaring dan dilakukan Heksi pada sendi panggul
salah satu tungkai sampai membentuk sudut 900 dan kemudian dilakukan fleksi pada sendi lutut.
Tungkai lainnya tetap dalam keadaan ekstensi. Bila ditemukan nyeri dan tahanan sebelum mencapai
sudut 135() antara tungkai bawah dan tungkai atas, dapat dikatakan pemeriksaan Kernig ini positif.
Pemeriksaan Kernig yang positif dapat ditemukan pada keadaan meningitisliritasi meningeal, ischialgia
dan HNP lumbosakrai. Yang membedakan dengan meningitis adalah pemeriksaan Kernig biasanya positif
bilateral pada menin. . ' .. . .. da HNP bisa uniiaterai tergan

nn

PEMERIKSAAN SARAF KRANIAL

Nervus I (Olfaktorius)

Pemeriksaan nervus ! biasanya memerlukan bahan_bahan yang merangsang penciuman seperti kopi,
teh, jeruk atau zat yang berbau lainnya. iangan menggunakan zat yang dapat merangsang mukosa hidung
seperti alkohol, amoniak, cuka,

sebab hal ini akan merangsang Nervus V. Sebeium memulai pemeriksaan, kita perlu memastikan ter

lebih dahulu bahwa lubang hidung tidak mengalami sumbatan atau kelainan seperti ingus atau polip. Zat
yang akan digunakan untuk mengetes didekatkan ke hidung pasien dan diminta untuk menciumnya. Tiap
lubang hidung diperiksa satu per satu dengan cara menutup lubang yang tidak

diperiksa dengan tangan. Gangguan-gangguan yang melibatkan saraf


otak pertama adalah: ' Anosmia. Hilangnya sensasi penciuman yang

dapat disebabkan oleh keiainan-keiainan: agenesis traktus olfaktorius (cacat bawaan), gangguan mukosa
olfaktorius (rinitis, tumor hidung), robekan fila oifaktoria akibat fraktur lamina kribosa, destruksi buibus
dan traktus

olfaktorius akibat adanya kontusio kontrakup, trauma regio orbita, infeksi sekitarnya sea perti sinusitis
ethmoid, osteitis, dan inflamasi meningen, tumor fosa kranial anterior seperti meningioma fosa
ethmoid / olfactory groove (yang menampilkan trias: anosmia, sindroma Foster Kennedy, dan gangguan
personal lobus orbital), adenoma pituitari (yang meluas ke rostral).

Hiperosmia. Merupakan sensasi penciuman akut yang berlebihan. Keadaan ini dapat dijumpai pada
kasus-kasus histeria, kadangkadang pada kasus adiksi kokain.

Parosmia. Merupakan abnormalitas penciuman di mana seseorang salah persepsi terhadap sesuatu yang
ia cium. Parosmia dapat terjadi pada kasus-kasus skizofrenia, Iesi-Iesi girus unsinatus, dan histeria.

Kakosmia. Timbulnya bau-bau tak enak yang biasanya merupakan akibat dekomposisi jadngan.

Halusinasi olfaktorius/ Phantosmia. Merupakan halusinasi penciuman yang dapat terjadi pada penderita-
penderita psikosis, epilepsi, uncinate hts akibat lesi unkus dan hipokampus.

Nervus Il (Optikus)

Pemeriksaan nervus Il meliputi ketajaman penglihatan (Visus), lapangan pandang, dan keadaan papil
optik. Ketaiaman penglihatan diperiksa dengan membandingkan ketajaman penglihatan pasien dengan
pemeriksa. Ketajaman penglihatan pemeriksa haruslah normal, atau pemeriksa telah mengkoreksi visus-
nya dengan kacamata. Pasien diminta mengenali objek yang letaknya jauh (seperti jam dinding, dan
pasien diminta menyebutkan pukul berapa), serta membaca huruf yang ada
di buku. Bila ketajaman mata pasien sama dengan ' pemeriksa, maka ketajaman penglihatan pasien
dianggap normal. Selain itu, ketajaman penglihatan juga dapat diperiksa dengan menggunakan Snellen
Chart. GambarSnellen ini adalah huruf atau gambaryang disusun makin ke bawah makin kecil. Barisan
paling bawah memiliki huruf-huruf yang paling kecil yang oleh mata normal dibaca pada jarak 6 meter.
Bila pasien dapat membaca sampai baris paling bawah, maka visus-nya 6/6 atau normal. Bila tidak bisa
membaca sampai baris paling bawah, maka pasien akan dinilai sampai barisan mana yang dapat
dibacanya, misalnya 6/30. Ini berarti bahwa huruf yang seharusnya dapat dibaca dari jarak 30 meter
hanya dapat dibaca pada jarak 6 meter. Pada kasus berkurangnya visus perlu dibedakan apakah
disebabkan oleh kelainan saraf atau kelainan pada mata (oftalmologik) pasien sendiri, seperti kelainan
refraksi. Pada kelainan refraksi, pemeriksaan menggunakan kertas berlubang kecil (pinhole test) dapat
memperbaiki penglihatan pasien, sedangkan pada kelainan saraf tidak ada perbaikan tajam penglihatan.
Pada pasien yang sangat buruk ketajaman penglihatannya, maka pasien diperiksa dengan menggerakan
tangan kita di depan matanya. Bila kemampuannya hanya dapat membedakan adanya gerakan, maka
visusnya adalah 1/3oo.]ika pasien hanya mampu membedakan antara gelap dan terang, maka visusnya
adalah 1/ tak terhingga.

Pemeriksaan lapangan pandang merupakan salah satu pemeriksaan penting pada nervus kedua. Di sini
kita menentukan batas perifer dari penglihatan, yaitu batas sampai mana benda dapat dilihat, jika mata
dihksasi pada satu titik. Lapangan pandang yang normal mempunyai bentuk tertentu, dan tidak sama ke
semua jurusan, misalnya ke lateral kita dapat melihat sampai sudut 90 -1000 dari titik fiksasi, ke medial
60“, ke atas 50 600 dan ke bawah 60 -750. Pemeriksaan lapang

pandan g dapat menggunakan tes konfrontasi atau kampimeter.