Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Wanita Usia Subur adalah wanita dimana ia mengalami kesuburan

(fertilitas) dan dapat mengalami kehamilan dan persalinan yang aman

yaitu usia 20 – 40 tahun (Ester, 2009). Selain itu BKKBN (2010)

memberikan penjelasan mengenai wanita usia subur, yaitu wanita yang

berumur 15 – 49 tahun baik yang berstatus kawin maupun yang belum

kawin atau janda.


Menurut WHO hampir seluruh wanita dan remaja pernah

mengalami keputihan, 60% pada remaja dan 40% pada wanita usia subur

(WUS). Sedangkan menurut penelitian di Indonesia, wanita yang pernah

mengalami keputihan sebanyak 75%, mengalami keputihan minimal satu

kali dalam seumur hidupnya dengan 50% pada remaja dan 25% pada

WUS. Ini berbeda tajam dengan negara lain yang hanya 25% saja dan

penelitian di Jawa Timur menunjukkan 75% remaja menderita keputihan

minimal satu kali seumur hidup, bisa mengalami keputihan sebanyak dua

kali atau lebih (Moki, 2007).


Sedangkan keputihan sendiri adalah nama gejala yang diberikan

kepada cairan yang dikeluarkan dari alat genital yang tidak berupa darah

(Sarwono, 2012). Dan keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi

merupakan manifestasi gejala dari hampir semua penyakit kandungan

(Manuaba, 2012). Selain itu Sarwono (2012) juga menjabarkan bahwa

keputihan ada 2 jenis, yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan

tidak normal (patologis). Keputihan normal dapat terjadi pada bayi baru

1
2

lahir, waktu di sekitar menarche, wanita dewasa saat dirangsang sebelum

dan sewaktu koitus, waktu di sekitar ovulasi, dan wanita dengan penyaki

menahun. Sedangkan penyebab paling penting dari keputihan patologi

ialah infeksi. Di sini cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya

agak kekuningan sampai hijau, sering kali lebih kental dan berbau.
Data dari Puskesmas Sananwetan kota Blitar, pada bulan

November 2014 didapatkan 60% dari 25 WUS yang melakukan

pemeriksaan keputihan di laboratorium Puskesmas Sananwetan

mengalami keputihan patologi. Demikian pula pada bulan Desember 2014

dari 24 WUS yang mengalami keputihan dan melakukan pemeriksaan ke

Puskesmas Sananwetan didapatkan 62,5% mengalami keputihan patologi.

Dan pada bulan Januari 2015 dari 25 WUS yang melakukan pemeriksaan

keputihan di Puskesmas Sananwetan didapatkan 60% nya positif

mengalami keputihan patologi. Dari data tersebut dapat disimpulkan

bahwa masih tingginya angka kejadian keputihan patologi di kota Blitar,

khususnya di kecamatan Sananwetan kota Blitar.


Penyebab paling penting pada keputihan patologi ialah infeksi

(Sarwono, 2012). Selain itu Manuaba (2012) juga menyebutkan bahwa

penyebab keputihan adalah dikarenakan keganasan dan adanya benda

asing dalam saluran reproduksi. Untuk menegakkan infeksi misalnya oleh

trikomonas, kandida albikan, bakteri, dan spesifik diperlukan pemeriksaan

laboratorium serta pap smear untuk kemungkinan keganasan.


Selain penyebab di atas, keputihan patologi dapat dipicu oleh hal

lain, seperti cara cebok yang salah, stres berlebihan, kondisi vagina

lembab, penggunaan cairan pembersih vagina, penggunaan celana dalam

yang tidak menyerap keringat, dan selalu menggunakan panty liner.


3

Sehingga hal tersebut memicu infeksi, jamur, bakteri, dan parasit sebagai

penyebab langsung dari keputihan patologi sendiri.


Sedangkan keputihan sendiri merupakan gejala dari suatu penyakit,

apabila keputihan tidak diobati akan berdampak pada terjadinya hal yang

membahayakan seperti kemandulan, kehamilan di luar kandungan yang

dipicu oleh penyumbatan pada saluran tuba, bahkan bisa menyebabkan

kanker serviks (Iskandar dalam Prasetyowati, 2012).


Dampak jangka panjang dari keputihan akan terjadi pada saat

menopause dan akan munculnya akibat benda asing, kotoran, atau benda

lain saat berhubungan seksual, dimana sel vagina mengalami hambatan

dalam pematangan sel akibat tidak adanya hormone esterogen sehingga

vagina menjadi kering mengakibatkan timbulnya rasa gatal, bau yang tidak

sedap, dan amis yang disebabkan jamur, bakteri, dan kuman lainnya

(Iswiati, 2009).
Keputihan merupakan gejala dari suatu penyakit, apabila keputihan

tidak diobati akan terjadi hal yang membahayakan seperti kemandulan,

kehamilan di luar kandungan yang dipicu oleh penyumbatan pada saluran

tuba, bahkan bisa menyebabkan kanker serviks (Iskandar dalam

Prasetyowati, 2012).
Telah disebutkan bahwa keputihan merupakan salah satu kondisi

paling umum untuk wanita mencari perawatan medis. Wanita dengan

keluhan akan berusaha melakukan terapi dengan menggunakan obat yang

salah (Rees. M., 2008). Sehingga disini diperlukannya terapi pada

keputihan harus disesuaikan dengan etiologinya (Ramayanti, 2012).


Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk memelajari

gambaran faktor yang memengaruhi keputihan patologi pada wanita usia

subur di Puskesmas Sananwetan Kota Blitar Tahun 2015.


4

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana

gambaran faktor yang memengaruhi keputihan patologi pada wanita usia

subur di Puskesmas Sananwetan Kota Blitar tahun 2015.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui gambaran faktor yang memengaruhi keputihan

patologi pada wanita usia subur di Puskesmas Sananwetan Kota Blitar

Tahun 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi faktor cara cebok dalam memengaruhi kejadian

keputihan patologi di Puskesmas Sananwetan Kota Blitar tahun 2015.


2. Mengidentifikasi faktor stres dalam memengaruhi keputihan patologi

di Puskesmas Sananwetan Kota Blitar tahun 2015.


3. Mengidentifikasi faktor penggunaan cairan pembersih vagina dalam

memengaruhi keputihan patologi di Puskesmas Sananwetan Kota

Blitar tahun 2015.


4. Mengidentifikasi faktor penggunaan celana dalam ketat dalam

memengaruhi keputihan patologi di Puskesmas Sananwetan Kota Blitar

tahun 2015.
5. Mengidentifikasi faktor penggunaan panty liner dalam memengaruhi

keputihan patologi di Puskesmas Sananwetan Kota Blitar tahun 2015.


6. Menganalisis gambaran faktor yang memengaruhi kejadian keputihan

patologi pada wanita usia subur di Puskesmas Sananwetan tahun 2015.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis
5

Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan dan memerluas

kajian ilmu kebidanan khususnya yang berhubungan dengan kesehatan

wanita usia subur.


1.4.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Responden
Hasil penelitian ini dapat memberikan kepada responden mengenai

keputihan patologi pada wanita usia subur.


2. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan tambahan teori dan keilmuwan di

institusi pendidikan mengenai keputihan patologi yang terjadi pada

wanita usia subur.


3. Bagi Pelayanan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai info perbaikan pelayanan

terutama pada wanita usia subur yang mengalami keputihan.


4. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman teori dan praktek

sebagai tenaga kesehatan mengenai keputihan patologi yang terjadi pada

wanita usia subur. Selain itu hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai

data dasar untuk penelitian selanjutnya.