Anda di halaman 1dari 2

Karena jika seandainya kenyataan bahwa terjatuh dalam maksiat dengan memakan

perkara tersebut itu haram, maka ia yang haram. Bahkan seluruh maksiat bisa
berarti telah berlepas diri. Jika ternyata merusak hati, seperti dengan memandang
halal, maka ia telah diberi ganjaran yang haram, mendengar yang haram. Jika
karena meninggalkannya untuk maksud seseorang melihat sesuatu yang haram, Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat
semacam itu. Karena asalnya, perkara maka rusaklah hatinya. Jika seseorang
Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.
tersebut ada sisi bahaya dan sisi bolehnya.” mendengar yang haram seperti mendengar Pimpinan Pesantren Darush Sholihin dan Pengasuh Rumaysho.Com
(Fath Al-Bari, 4:291) nyanyian dan alat musik, maka rusaklah
hatinya. Hendaklah kita melakukan sebab
Ketujuh: Para ulama katakan bahwa hati Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah #06
supaya baik hati kita. Namun baiknya hati
adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota
tetap di tangan Allah. Lihat Al-Minhah
badan), sedangkan anggota badan adalah
junuduhu (tentaranya). Lihat Jaami’ Al-
‘Ulum wa Al-Hikam, 1:210.
Ar-Rabbaniyah fii Syarh Al-Arba’in An-
Nawawiyyah, hlm. 110. Hati-Hati dengan Syubhat
Semoga Allah terus memberikan
Kedelapan: Para ulama mengungkapkan
baiknya hati dengan istilah yang berbeda
ketakwaan kepada kita. dan Jaga Hati
sebagai berikut: Referensi:
َ ُ َّ َ َ َ َ َ
1. Yang dimaksud baiknya hati adalah 1. Al-Minhah Ar-Rabbaniyah fii Syarh Al-Arba’in
‫هللا َعل ْي ِه‬ ‫ َ ِس ْع ُ ُت َر ُس ْول هللاِ صل‬: ‫هللا َع نْ ُ� َما قال‬ ُ � َ ‫َع ْن أ ب ي� َع ْب ِد هللاِ ُّالن ْع َمان ْب ِ ن� َب ِش ْي ٍ� َر ِ ن ي‬
َ َ ٌ َ َ ْ ُ ٌ ْ ُ َ ُ َ‫َّ َ َ َ َ ّ نٌ َ َّ َ َ َ َ ّ نٌ َ َ ْ ن‬ ُ ُ َّ ِ َ
‫ات ال َي ْع ُل ُه َّن‬
An-Nawawiyyah. Cetakan pertama, Tahun 1429

�‫ ِإن الالل ب ِي� و ِإن الرام َب ِي� وبي�ما أمور مشت ِب‬: ‫آل َو َس َل َيق ْول‬
rasa takut kepada Allah dan siksa- H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-
ِِ‫و‬
Nya. Fauzan. Penerbit Darul ‘Ashimah,
ُّ ‫ن‬ َ َ َ َ ُّ َ َّ َ ‫الن ن‬ َّ ‫َكث ْ ٌ� م َن‬
‫ات‬ ِ �َ ُ‫ات فق ِد ْاست ْب َ�أ ِل َ ِد ْي ِن ِه َو ِع ْر ِض َِه َو َم ْن َوق َع ِ ي� الش ب‬ ِ �َ ُ‫اس َ� ِن ات ق� الش ب‬ ِ ‫ي‬
َ ْ َ َ ْ َ َّ َ ِ َ َ ‫َ َِ َ ن‬
2. Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari. Cetakan
2. Yang dimaksud adalah niat yang ikhlas keempat, Tahun 1432 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani.
ً َ ّ ُ َّ َّ ْ َ َ ْ َ ْ ُ ْ ُ َ
‫ك م ِل ٍك ِح‬ ‫الم يو ِشك أن �تع ِفي ِه أال وإن ِل‬ ِ ‫َوقع ِ ي� الر ِام كلر ِاع �ع حول‬
َ َ ُ ُّ ُ ُ َ ِ َ َ ِ ُ َِ ْ َ ُ َ ‫َ َ ي ُ ُي َ َ َ َّ ن َ َ ُ ْ َ ً َ ي‬
karena Allah, ia tidak melangkahkan Penerbit Dar Thiybah.
dirinya dalam ibadah melainkan 3. Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam. Cetakan kesepuluh,
‫السد كه و ِإذا‬ ‫الس ِد مضغة ِإذا صلحت صلح ب‬ ‫ح هللاِ م ِارمه أال و ِإن ِ ي� َ ب‬ َ ِ ‫أ َال َوإ َّن‬
dengan niat taqorrub kepada Allah,
َ َ َ َ ُ ُّ ُ ُ َ َ َ َ َ ْ َ َ َ ِ
ُ ‫ َر َو ُاه‬- ‫الق ْل ُب‬
Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq:
dan ia tidak meninggalkan maksiat Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis.
Penerbit Muassasah Ar-Risalah. ٌ‫الب َخ ِاري َو ُم ْس ِل‬ ‫السد كه أال و ِ يه‬ ‫فسدت فسد ب‬
melainkan untuk mencari ridha Allah.
4. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah fi Al-Ahadits Ash-
3. Yang dimaksud adalah rasa cinta Shahihah An-Nabawiyah. Cetakan kedelapan, Tahun Dari Abu ‘Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa
1423 H. Al-Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied. Penerbit
kepada Allah, juga cinta pada wali Dar Ibnu Hazm. ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Allah dan mencintai ketaatan.
5. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar. “Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya
Kesembilan: Rusaknya hati adalah Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Syaikh Dr.
Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri. Penerbit Dar Kunuz
terdapat perkara syubhat--yang masih samar--yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.
dengan terjerumus pada perkara syubhat, Isybiliya. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan
agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, maka
ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan
* Peringatan: Harap buletin ini disimpan di tempat yang layak karena berisi ayat ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap
Al-Quran dan Hadits Nabi g raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-
perkara yang diharamkan-Nya. Ingatlah di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika
CV. Rumaysho ia baik, maka seluruh jasad akan ikut baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan ikut
Pesantren Darush Sholihin, Dusun Warak, RT. 08, RW. 02, Desa Girisekar, Kecamatan
Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55872.
rusak. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati (jantung).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Informasi:
085200171222
Website:
Rumaysho.Com | RemajaIslam.Com | Ruwaifi.Com
[HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599]
4. Yang tidak terdapat dalil boleh, juga Ketiga: Kesamaran (perkara syubhat) Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 106.

* Peringatan: Harap buletin ini disimpan di tempat yang layak karena berisi ayat Al-Quran dan Hadits Nabi g
Faedah Hadits
tidak terdapat dalil larangan, maka bisa saja terjadi pada perselisihan ulama.
Kelima: Hadits ini menunjukkan bahwa
Pertama: Ada tiga hukum yang ini kembali ke kaedah hukum asal. Hal ini ditinjau dari keadaan orang awam.
jika seseorang bermudah-mudahan dan
disebutkan dalam hadits di atas, yaitu (1) Hukum asal ibadah adalah haram. Namun kaedah syar’iyah yang wajib bagi
seenaknya saja memilih yang ia suka
halal, (2) haram, dan (3) syubhat. Sedangkan dalam masalah adat orang awam untuk mengamalkannya
padahal perkara tersebut masih samar
dan muamalah adalah halal dan ketika menghadapi perselisihan
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah hukumnya, maka ia bisa jadi terjerumus
boleh. (Lihat Syarh Al-Arba’in An- para ulama setelah ia meneliti dan
mengatakan, “Hukum itu dibagi menjadi dalam keharaman.
Nawawiyyah Al-Mukhtashar karya mengkaji adalah ia kuatkan pendapat-
tiga macam dan pembagian seperti ini Ibnu Daqiq Al-‘Ied mengatakan bahwa
Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri, pendapat yang ada sesuai dengan ilmu
benar. Karena sesuatu bisa jadi ada dalil orang yang terjerumus dalam syubhat bisa
hlm. 64) dan kewara’an, juga ia bisa memilih
tegas yang menunjukkan adanya perintah terjatuh pada yang haram dilihat dari dua
pendapat yang dipilih oleh mayoritas
Kedua: Kebanyakan orang tidak
dan ancaman keras jika ditinggalkan. Ada
ulama. Karena pendapat kebanyakan sisi: (1) barangsiapa yang tidak bertakwa
juga sesuatu yang terdapat dalil untuk mengetahui perkara syubhat karena Nabi
ulama itu lebih dekat karena seperti pada Allah lalu ia mudah-mudahan
meninggalkan dan terdapat ancaman jika shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan
syari’at. Dan perkataan orang yang lebih memilih suatu yang masih syubhat
dilakukan. Ada juga sesuatu yang tidak‘kebanyakan orang tidak mengetahui perkara
berilmu itu lebih dekat pada kebenaran (samar), itu bisa mengantarkannya pada
tersebut’. Perkaran syubhat ini sering
ada dalil tegas apakah halal atau haram.
karena bisa dinilai sebagai syari’at. Begitu yang haram, (2) kebanyakan orang yang
Yang pertama adalah perkara halal yang ditemukan oleh para ulama dalam bab jual
pula perkataan ulama yang lebih wara’ terjatuh dalam syubhat, gelaplah hatinya
telah jelas dalilnya. Yang kedua adalahbeli karena perkara tersebut dalam jual
(mempunyai sikap kehati-hatian), itu karena hilang dari dirinya cahaya ilmu
beli amatlah banyak. Perkara ini juga ada
perkara haram yang telah jelas dalilnya.
lebih baik diikuti karena serupa dengan dan cahaya sifat wara’, jadinya ia terjatuh
Makna dari bagian hadits “halal itu sangkut pautnya dengan nikah, buruan,
syari’at.“ Lihat penjelasan beliau dalam dalam keharaman dalam keadaan ia tidak
penyembelihan, makanan, minuman dan
jelas”, yang dimaksud adalah tidak butuh
Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al- tahu. Bisa jadi ia berdosa karena sikapnya
banyak penjelasan dan setiap orang selain itu. Sebagian ulama sampai-sampai
Mukhtashar karya Syaikh Sa’ad bin Nashir yang selalu meremehkan. Lihat Syarh Al-
sudah memahaminya. Yang ketiga adalah melarang penggunaan kata halal dan hal hal
Asy-Syatsri, hal. 65. Arba’in An-Nawawiyyah, penjelasan Ibnu
perkara syubhat yang tidak diketahui haram secara mutlak kecuali pada perkara 2 3 Daqiq Al ‘Ied, hlm. 49.
yang benar-benar ada dalil tegas yang
apakah halal atau haram.” (Fath Al-Bari, Intinya, kalau orang awam tidak bisa
4: 291). tidak butuh penafsiran lagi. Jika dikatakan menguatkan pendapat ketika menghadapi Namun catatan yang perlu diperhatikan,
kebanyakan orang tidak mengetahuinya, perselisihan ulama, maka hendaknya ia sebagian orang mengatakan bahwa
Sedangkan masalah (problem) dibagi selama masih ada khilaf (perselisihan
maka ini menunjukkan bahwa sebagian tinggalkan perkara yang masih samar
menjadi empat macam: ulama), maka engkau boleh memilih
dari mereka ada yang tahu. Demikian tersebut. Jika ia sudah yakin setelah
1. Yang memiliki dalil bolehnya, maka kami ringkaskan dari perkataan Ibnu menimbang-nimbang dan melihat dalil, pendapat mana saja yang engkau suka.
boleh diamalkan dalil bolehnya. Hajar dalam Fath Al-Bari, 4:291. maka ia pilih pendapat yang ia yakini. Kami katakan, “Tidak demikian”. Khilaf
ulama tidak menjadikan kita seenaknya
2. Yang memiliki dalil pengharaman, Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri Keempat: Ada dua manfaat meninggalkan
saja memilih pendapat yang kita suka.
maka dijauhi demi mengamalkan hafizahullah mengatakan, “Perkara perkara syubhat. Disebutkan dalam
Namun hendaknya kita pilih mana
dalil larangan. yang syubhat (samar) itu muncul hadits, “Barangsiapa yang menghindarkan
yang halal atau haram yang kita yakini.
3. Yang terdapat dalil boleh dan karena beberapa sebab, bisa jadi diri dari perkara syubhat, maka ia telah
Karena jika sikap kita semacam tadi, dapat
haramnya sekaligus. Maka inilah karena kebodohan, atau tidak adanya menyelamatkan agama dan kehormatannya.”
membuat kita terjatuh dalam keharaman.
masalah mutasyabih (yang masih penelusuran lebih jauh mengenai dalil Dari dua faedah ini, Syaikh Shalih Al-
Lihat Al-Minhah Ar-Rabbaniyah fii Syarh
s a m a r ) . M e n u r u t m a yo r i t a s syar’i, begitu pula bisa jadi karena tidak Fauzan hafizahullah mengatakan, “Dari
Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 107.
ulama, yang dimenangkan adalah mau merujuk pada perkataan ulama yang sini menunjukkan bahwa janganlah kita
pengharamannya. kokoh ilmunya.” (Syarh Al-Arba’in An- tergesa-gesa sampai jelas suatu perkara.” Keenam: Jika perkaranya syubhat
Nawawiyyah Al-Mukhtashar, hlm. 63) Lihat Al-Minhah Ar-Rabbaniyah fii Syarh (samar), maka sepatutnya ditinggalkan.