Anda di halaman 1dari 38

Daftar Isi

BAB I ...................................................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 2
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................................. 2
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 3
1.3 Tujuan dan Manfaat Praktikum..................................................................................................... 3
1.4 Waktu dan Lokasi Pratikum.......................................................................................................... 4
BAB II..................................................................................................................................................... 5
PEMERIKSAAN KARAKTERISTIK AGREGAT HALUS ................................................................. 5
2.1 Pengujian Berat Jenis Agregat Halus ............................................................................................ 5
2.2 Pengujian Berat Satuan Lepas Agregat Halus .............................................................................. 9
2.3 Pengujian Berat Satuan Padat Agregat Halus ....................................................................... 11
2.4 Pengujian Kandungan Lumpur Agregat Halus ..................................................................... 13
2.5 Pengujian Gradasi Agregat Halus ......................................................................................... 16
BAB III ................................................................................................................................................. 19
PEMERIKSAAN KARAKTERISTKIK AGREGAT KASAR ............................................................ 19
3.1 Pengujian Berat Jenis Agregat Kasar .......................................................................................... 19
3.2 Pengujian Berat Satuan Lepas Agregat Kasar ............................................................................ 22
3.3 Pengujian Satuan Padat Agregat Kasar ....................................................................................... 25
3.4 Pengujian Gradasi Agregat Kasar ............................................................................................... 27
BAB IV ................................................................................................................................................. 30
MIX DESIGN BETON ......................................................................................................................... 30
4.1 Rancangan Campuran Beton....................................................................................................... 30
4.2 Pengujian Kuat Tekan ................................................................................................................. 35
BAB V .................................................................................................................................................. 38
PENUTUP ............................................................................................................................................ 38
5.1 Kesimpulan ................................................................................................................................. 38

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 1


BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pekerjaan teknik sipil dikenal 2 (dua) jenis pekerjaan kontruksi yaitu
kontruksi berat dan kontruksi ringan.Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak lepas dari
kebutuhan akan material atau bahan-bahan tertentu dalam pelaksanaannya.Sehingga
suatu kontruksi bangunan yang kuat dan utuh sesuai dengan yang diharapkan.
Beton yaitu suatu campuran yang berisi pasir, krikil/ batu pecah/ agregat lain yang
dicampurkan menjadi satu dengan suatu pasta yang terbuat dari semen dan air yang
membentuk suatu masa yang sangat mirip seperti batu sehingga dapat digunakan untuk
membuat pondasi, balok, plat cangkang, plat lantai,dll.Dengan melakukan analisa bahan
maka dalam hal pembuatan beton harus lebih teliti dengan berbagai macam material-
material yang digunakan dalam pembuatan tersebut,dikarenakan apabila suatu material
dalam beton itu tidak bagus,maka hasil dari beton tersebut tidak akan mencapai pada
hasil yang diinginkan.Sehingga dengan diadakannya analisa bahan terhadap material
yang akan digunakan untuk pembuatan beton,maka hasil dapat diperoleh dengan baik.
Namun,walaupun sudah mendapatkan mutu yang baik beton juga memiliki kekurangan
dan kelebihan dalam penggunaannya,inilah kelebihan dan kekurangan beton.
 Kelebihan beton:
a. Dapat dibentuk sesuai keinginan,
b. Mampu memikul beban tekan yang berat,
c. Tahan terhadap temperatur tinggi,
d. Biaya pemeliharaan rendah / kecil.
 Kekurangan beton:
a. Pelaksanaan pekerjaan memerlukan ketelitian yang tinggi,
b. Berat,
c. Daya pantul suara besar,
d. Membutuhkan cetakan sebagai alat pembentuk,
e. Tidak memiliki kekuatan tarik.

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 2


1.2 Rumusan Masalah
Adapun batasan masalah dalam praktikum ini adalah :
a. Bagaimana menentukan beratjenis agregat halus,berat satuan lepas agregat
halus,berat satuan padat agregat halus,kandungan lumpur pada agregat halus,dan
gradasi agregat halus?
b. Bagaimana menentukan beratjenis agregat kasar,berat satuan lepas agregat
kasar,berat satuan padat agregat kasar,dan gradasi agregat kasar?
c. Bagaimana cara mambuat campuran beton mutu k-275?

1.3 Tujuan dan Manfaat Praktikum


1.3.1. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah:
a. Mencari sifat fisik agregat halus yang baik untuk pengujian beton dengan
menentukan berat jenis agregat halus,berat satuan lepas agregat halus,berat
satuan padat agregat halus,kandungan lumpur pada agregat halus,dan gradasi
agregat halus,
b. Mencari sifat fisik agregat kasaryang baik untuk pengujian beton dengan
menentukan berat jenis agregat kasar,berat satuan lepas agregat kasar,berat
satuan padat agregat kasar,dan gradasi agregat kasar,
c. Menentukan material yang cocok untuk membuat beton mutu k-275.
1.3.2. Manfaat Praktikum
Dengan adanya praktikum teknologi bahan (pengujian beton) ini,diharapkan
para mahasiswa fakultas teknik sipil dapat:
a. Dapat mengetahui sifat fisik agregat halus yang baik untuk membuat beton
mutu k-275,
b. Dapat mengetahui sifat fisik agregat kasar yang baik untuk membuat beton
mutu k-275,
c. Dapat mengetahui jumlah campuran material yang baik untuk membuat
beton mutu k-275.

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 3


1.4 Waktu dan Lokasi Pratikum
Praktikum beton ini dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu dari tanggal 8
Desember 2018 sampai dengan 9 Desember 2018,pada pukul 09.30 – 14.30
WIB dan 09.00 – 10.30 WIB yang bertempat di Laboratorium Universitas Islam
Al-Azhar Mataram.

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 4


BAB II

PEMERIKSAAN KARAKTERISTIK AGREGAT HALUS

2.1 Pengujian Berat Jenis Agregat Halus


2.1.1. Pengertian
Berat jenis adalah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling
yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu
tertentu.Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD) yaitu perbandingan antara
berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama
dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
2.1.2. Maksud dan Tujuan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan berat jenis (bulk),berat jenis
kering muka (SSD),dan penyerapan dari agregat halus.
2.1.3. Alat dan Bahan
 Alat :
 Ayakan no.4

 Piknometer

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 5


 Timbangan Elektrik

 Desikator

 Bahan :
 Pasir

 Air Aquades

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 6


2.1.4. Langkah Kerja
a. Menimbang 2 (dua) piknometer kosong dengan timbangan elektrik,
b. Memasukkan pasir kedalam piknometer sampai terisi setengah dari
piknometer,kemudian menimbangnya,
c. Tambahkan air aquades sampai penuh kedalam piknometer dan pasir yang
sudah ditimbang,
d. Sebelum menimbangnya,goyangkan terlebih dahulu piknometer yang sudah
terisi air aquades dan pasir,ini dilakukan untuk menghilangkan gelembung
udara yang ada dalam piknometer.Namun jika kurang yakin dengan cara
menggoyangkannya,maka bisa dilakukan dengan cara merebusnya untuk
menghilangkan gelembung udara yang ada,
e. Jika sudah mendidih,masukkan piknometer kedalam alat desikator untuk
mendinginkannya,
f. Setelah dingin,timbang piknometer yang sudah diisi pasir dan air dengan
timbangan elektrik,
g. Buang isi piknometer dan cuci sampai bersih,
h. Isi piknometer dengan air aquades sampai terisi penuh,kemudian
menimbangnya dengan timbangan elektrik.
2.1.5. Hasil Perhitungan

PENGUJIAN BERAT JENIS AGREGAT HALUS

Uraian Berat (gr) Berat (gr)

Berat Piknometer + Pasir SSD 136,5 122,4


Berat Piknometer 54,6 41,1
Berat Pasir SSD (B) 81,9 81,3
Berat Piknometer + Pasir SSD + Air ( C ) 217 216,4
Berat Piknometer + Air (D) 135,1 123,1
Berat Jenis 6545 6474

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 7


 Berat Piknometer 1 + Pasir SSD = Berat Piknometer 1 + Berat Pasir SSD
= 54,6 + 81,9
= 136,5 gr

 Berat Piknometer 2 + Pasir SSD = Berat Piknometer 2 + Berat Pasir SSD


= 41,1 + 81,3
= 122,4 gr

 Berat air 1 = 135,1 - Berat Piknometer 1

=135,1 - 54,6

= 80,5

 Berat air 2 = 135,1 - Berat Piknometer 2

=135,1 - 41,1

= 94

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 8


2.2 Pengujian Berat Satuan Lepas Agregat Halus
2.2.1. Pengertian
Berat satuan lepas agregat halus atau disebut juga sebagai berat isi agregat halus
adalah rasio antara berat agregat dan isi atau volume agregat halus dalam satuan
lepas (tidak dipadatkan).
2.2.2. Maksud dan Tujuan
Tujuan percobaan pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat isi dan
rongga udara dalam agregat halus.Berat isi adalah perbandingan berat dengan isi.
2.2.3. Alat dan Bahan
 Alat :
 Ember

 Timbangan (neraca)

 Mold

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 9


 Bahan :
 Pasir

2.2.4. Langkah Kerja


a. Siapkan 1 ember pasir,
b. Timbang mold kosong dengan timbangan (neraca),
c. Masukkan pasir kedalam mold,
d. Kemudian ratakan pasir tanpa dipadatkan,
e. Setelah itu,timbang mold yang sudah diisi dengan pasir dengan timbangan
(neraca).
2.2.5. Hasil Perhitungan

BERAT SATUAN LEPAS AGREGAT HALUS

Berat Mould + Pasir (gr) 9536


Berat Mould (gr) 5034
Berat Pasir (gr) 4502
Volume Mould (cm3) 2826
Berat Isi (gr/cm3) 1,6

 Berat Mould + Pasir = Berat Mould + Berat Pasir


= 5034 + 4502

= 9536 gr

 Volume Mould = ¼ πd2t


= ¼ × 3,14 × 152 × 16
= 2826 cm3
 Berat Isi = Berat Pasir / Volume Mould
= 4502 / 2826
= 1,6gr/cm3

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 10


2.3 Pengujian Berat Satuan Padat Agregat Halus
2.3.1 Pengertian

Berat satuan padat agregat halus atau disebut juga sebagai berat isi agregat
halus adalah rasio antara berat agregat dan isi atau volume agregat halus saat
dipadatkan.

2.3.2Maksud dan Tujuan

Tujuan percobaan pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat isi dan
rongga udara dalam agregat halus.Berat isi adalah perbandingan berat dengan
isi.
2.3.3 Alat dan Bahan
 Alat :
 Ember

 Timbangan (neraca)

 Mold

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 11


 Bahan :
 Pasir

2.3.4Langkah Kerja

a. Siapkan 1 ember pasir,


b. Timbang mold kosong dengan timbangan (neraca),
c. Masukkan pasir kedalam mold,
d. Kemudian ratakan dan padatkan pasir menggunakan alat press atau
digoyangkan sampai padat.Bila pasir berkurang,maka tambahkan pasir lagi
kemudian tumbuk atau goyangkan lagi sampai padat dan mold terisi penuh,
e. Setelah itu,timbang mold yang sudah diisi dengan pasir dengan timbangan
(neraca).
2.3.4 Hasil

BERAT SATUAN PADAT AGREGAT HALUS

Berat Mould + Pasir (gr) 10208

Berat Mould (gr) 5034


Berat Pasir (gr) 5174
Volume Mould (cm3) 2826
Berat Isi (gr/cm3) 1,8

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 12


 Berat Mould + Pasir = Berat Mould + Berat Pasir
= 5034 +5174
= 10208 gr
 Volume Mould = ¼ πd2t
= ¼ × 3,14 × 152 × 16
= 2826 cm3

 Berat Isi = Berat Pasir / Volume Mould


= 5174 / 2826
= 1,8gr/cm3

2.4 Pengujian Kandungan Lumpur Agregat Halus


2.4.1Pengertian

Kandungan lumpur agregat halus adalah kandungan lumpur yang terdapat pada
agregat halus.Pasir yang dapat digunakan untuk bahan bangunan,jika
kandungan lumpur didalamnya tidak lebih dari 5 %.

2.4.2Maksud dan Tujuan

Tujuan dari pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan lumpur


yang ada pada agregat halus yang digunakan untuk membuat beton dengan mutu
yang baik.

2.4.3Alat dan Bahan

 Alat :
 Gelas ukur besar (1000 ml)

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 13


 Timbangan elektronik

 Cawan besar

 Oven

 Bahan :
 Pasir

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 14


 Air

2.4.4Langkah Kerja

a. Menimbang cawan dengan timbangan elektrik,


b. Timbang 500 gram pasir tanpa di ayak menggunakan cawan menggunakan
timbangan elektrik,
c. Masukkan pasir kedalam gelas ukur,
d. Masukkan air kedalam gelas ukur sambil digoyangkan sampai kadar lumpur
pada pasir tersebut habis,
e. Masukkan pasir kedalam cawan,kemudian oven dengan suhu 105 – 110
selama 16 – 24 jam,
f. Keluarkan pasir dalam oven,kemudian menimbangnya dengan timbangan
elektrik.

2.4.5Hasil Perhitungan

PENGUJIAN KADAR LUMPUR

Uraian Berat (gr)

Tanah Kering Awal 338

Tanah Kering Setelah Dicuci 300

Kadar Lumpur 38

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 15


2.5 Pengujian Gradasi Agregat Halus
2.5.1Pengertian

Gradasi agregat halus adalah distribusi dari variasi ukuran butiran agregat
halus.Gradasi agregat sangat berpengaruh pada besarnya rongga dalam
campuran dan menentukan kemudahan dalam pekerjaan serta stabilitas
campuran.Gradasi agregat ditentukan dengan cara analisa saringan.Ukuran
saringan menyatakan ukuran bukan jaringan kawat dan nomor saringan
menyatakan banyaknya bukan jaringan kawat per inchi persegi dari saringan
tersebut.

2.5.2Maksud dan Tujuan

Tujuan dari percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan gradasi pembagian


butir agregat halus dengan menggunakan ayakan/saringan.

2.5.3Alat dan Bahan

 Alat :
 Timbangan (neraca)

 Ayakan no. 10 ; 4,8 ; 2,4 ; 1,2 ; 0,6 ; 0,3 ; 0,15.

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 16


 Bahan :
 Pasir

2.5.4Langkah Kerja

a. Siapkan 1000 gram pasir,timbang menggunakan timbangan (neraca).


b. Ayak menggunakan ayakan no. 8 ; 4 ; 2 ; 1 ; 0,5 ; 0,25 ; 0,15.

2.5.5Hasil perhitungan

PENGUJIAN GRADASI AGREGAT HALUS

Lubang
Berat Jumlah Berat Persen Persen
Ayakan
Tertinggal (gr) Tertinggal (gr) Tertahan (%) Lewat (%)
(mm)
8 5,8 5,8 1,16 98,84
4 48,1 53,9 10,78 89,22
2 47,3 101,2 20,24 79,76
1 90,2 191,4 38,28 61,72
0,5 96,8 288,2 57,64 42,36
0,25 132,3 420,5 84,1 15,9

0,15 62,8 483,3 96,66 3,34

Sisa 16,3

Jumlah 499,6

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 17


Kurva Gradasi Agregat Halus
120

100
Persen lolos % 80

60

40

20

0
0 2 4 6 8 10
Nomor Ayakan

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 18


BAB III

PEMERIKSAAN KARAKTERISTKIK AGREGAT KASAR

3.1 Pengujian Berat Jenis Agregat Kasar


3.1.1. Pengertian
Berat jenis adalah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling
yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD) yaitu perbandingan antara berat
agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan
isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
3.1.2. Maksud dan Tujuan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan berat jenis (bulk),berat jenis
kering muka (SSD),dan penyerapan dari agregat kasar.
3.1.3. Alat dan Bahan
 Alat :
 Wadah

 Keranjang

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 19


 Timbangan (neraca)

 Bahan :
 Kerikil

 Air

3.1.4. Langkah Kerja


a. Menimbang keranjang menggunakan timbangan (neraca),
b. Masukkan kerikil kering kedalam keranjang yang sudah ditimbang tadi
sampai hampir penuh,kemudian menimbangnya dengan timbangan (neraca),
c. Setelah itu isilah wadah dengan air sampai penuh dan letakkan dibawah
timbangan (neraca),
d. Menimbang kerikil bersama keranjangnya kedalam wadah yang elah diisi
dengan air,

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 20


e. Setela ditimbang,tuangkan kedalam loyang besar untuk dikeringkan dengan
kain lap,
f. Setelah kerikil sudah kering muka timbanglah kerikil untuk mengetahui
berat jenuh kering muka.
3.1.5. Hasil penghitungan

PENGUJIAN BERAT JENIS AGREGAT KASAR

Uraian Berat (g)


Berat Wadah + Kerikil (A) 4710
Berat Wadah 274
Berat Kerikil 4436
Berat Wadah + Kerikil Dalam Air ( C ) 2900
Berat Wadah + Kerikil SSD (B) 4730
Berat Jenis 2,6
Berat Jenis SSD 2,6
Absorsi 0,45 %

 Berat Wadah + Kerikil = 274 + 4436


= 4710 g
 Berat kerikil dalam wadah = (B) - (C)
= 4730 – 2900
= 1830 g
 Berat Jenis = (A) / Berat kerikil dalam wadah = 4710/ 1830
= 2,6 g
 Berat Jenis SSD = (B) / Berat kerikil dalam wadah
= 4730 / 1830
= 2,6 g
 Kerikil SSD = (B) - Berat Wadah
= 4730 – 274
= 4456 g
 Absorsi = Kerikil SSD - Berat Kerikil / Berat Kerikil × 100 %
= 4456 – 4436 / 4436 × 100 %
= 0,45 %

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 21


3.2 Pengujian Berat Satuan Lepas Agregat Kasar
3.2.1. Pengertian
Berat satuan lepas agregat kasar atau disebut juga sebagai berat isi agregat kasar
adalah rasio antara berat agregat dan isi atau volume agregat kasar dalam satuan
lepas (tidak dipadatkan).
3.2.2. Maksud dan Tujuan
Tujuan percobaan pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat isi dan
rongga udara dalam agregat kasar.Berat isi adalah perbandingan berat dengan
isi.
3.2.3. Alat dan Bahan
 Alat :
 Ember

 Timbangan (neraca)

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 22


 Mold

 Bahan :
 Kerikil

3.2.4. Langkah Kerja


a. Siapkan 1 ember kerikil,
b. Timbang mold kosong dengan timbangan (neraca),
c. Masukkan kerikil kedalam mold,
d. Kemudian ratakan kerikil tanpa dipadatkan,
e. Setelah itu,timbang mold yang sudah diisi dengan kerikil dengan timbangan
(neraca).

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 23


3.2.5. Hasil perhitungan

PENGUJIAN SATUAN LEPAS AGREGAT KASAR

Berat Mould + Kerikil (gr) 8990


Berat Mould (gr) 5034
Berat Kerikil (gr) 3956
Volume Mould (cm3) 2826
Berat Isi (gr/cm3) 1,4

 Berat Mould + Kerikil = Berat Mould + Berat Kerikil

= 5034 + 3956

= 8990 gr

 Volume Mould = ¼ πd2t


= ¼ × 3,14 × 152 × 16
= 2826 cm3

 Berat Isi = Berat Kerikil / Volume Mould


= 3956 / 2826
= 1,4 gr/cm3

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 24


3.3 Pengujian Satuan Padat Agregat Kasar
3.3.1. Pengertian
Berat satuan padat agregat kasar atau disebut juga sebagai berat isi agregat kasar
adalah rasio antara berat agregat dan isi atau volume agregat kasar saat
dipadatkan.
3.3.2. Maksud dan Tujuan
Tujuan percobaan pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat isi dan
rongga udara dalam agregat kasar.Berat isi adalah perbandingan berat dengan
isi.
3.3.3. Alat dan Bahan
 Alat :
 Ember

 Timbangan (neraca)

 Mold

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 25


 Bahan :
 Kerikil

3.3.4. Langkah kerja


a. Siapkan 1 ember kerikil,
b. Timbang mold kosong dengan timbangan (neraca),
c. Masukkan kerikil kedalam mold,
d. Kemudian ratakan dan padatkan kerikil menggunakan alat press atau
digoyangkan sampai padat.Bila kerikil berkurang,maka tambahkan kerikil
lagi kemudian tumbuk atau goyangkan lagi sampai padat dan mold terisi
penuh,
e. Setelah itu,timbang mold yang sudah diisi dengan kerikil dengan timbangan
(neraca).
f.
3.3.5. Hasil Perhitungan

PENGUJIAN SATUAN PADAT AGREGAT KASAR

Berat Mould + Kerikil (gr) 9415

Berat Mould (gr) 5034


Berat Kerikil (gr) 4381
Volume Mould (cm3) 2826
Berat Isi (gr/cm3) 1,6

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 26


 Berat Mould + Kerikil = Berat Mould + Berat Kerikil
= 5034 + 4381
= 9415 gr

 Volume Mould = ¼ πd2t


= ¼ × 3,14 × 152 × 16
= 2826 cm3

 Berat Isi = Berat Kerikil / Volume Mould


= 4381 / 2826
= 1,6 gr/cm3

3.4 Pengujian Gradasi Agregat Kasar


3.4.1. Pengertian
Gradasi agregat kasar adalah distribusi dari variasi ukuran butiran agregat
kasar.Gradasi agregat sangat berpengaruh pada besarnya rongga dalam
campuran dan menentukan kemudahan dalam pekerjaan serta stabilitas
campuran.Gradasi agregat ditentukan dengan cara analisa saringan.Ukuran
saringan menyatakan ukuran bukan jaringan kawat dan nomor saringan
menyatakan banyaknya bukan jaringan kawat per inchi persegi dari saringan
tersebut.
3.4.2. Maksud dan Tujuan
Tujuan dari percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan gradasi pembagian
butir agregat kasar dengan menggunakan ayakan/saringan.
3.4.3. Alat dan Bahan
 Alat :
 Timbangan (neraca)

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 27


 Ayakan

 Bahan :
 Kerikil

3.4.4. Langkah Kerja


c. Siapkan kerikil,timbang menggunakan timbangan (neraca).
d. Ayak menggunakan ayakan no. 44,4 ; 25,4 ; 18 ; 15,8 ; 12,7 ; 9,5 ; 6,3.

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 28


3.4.5. Hasil perhitungan

PENGUJIAN GRADASI AGREGAT KASAR

Berat
Lubang Jumlah Berat Persen Persen
Tertinggal
Ayakan (mm) Tertinggal (gr) Tertahan (%) Lewat (%)
(gr)
44,4 0 0 0 0
25,4 415 415 9,22 90,78
18 975 1390 30,89 69,11
15,8 1251 2641 58,69 41,31
12,7 1215 3856 85,69 14,31
9,5 350 4206 93,47 6,53

6,3 250 4456 99,02 0,98

Sisa 44

Jumlah 4456

Kurva Gradasi Agregat Kasar


100
90
80
Persen Lolos %

70
60
50
40
30
20
10
0
0 5 10 15 20 25 30
Nomor Ayakan

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 29


BAB IV

MIX DESIGN BETON

4.1 Rancangan Campuran Beton


4.1.1. Pengertian
Rancangan campuran beton adalah rencana atau penghitungan banyaknya
material yang akan digunakan dalam pembuatan beton untuk mendapatkan mutu
yang baik.
4.1.2. Maksud dan Tujuan
Tujuan rancangan beton ini dimaksudkan untuk menyederhanakan variasi
komposisi campuran yang dilakukan dalam percobaannya,agar mendapatkan
kualitas beton yang baik dan sesuai dengan yang sudah direncanakan.
4.1.3. Alat dan Bahan
 Alat :
 Timbangan (neraca)

 Molen listrik

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 30


 Ember

 Mold

 Loyang tempat menumpah campuran beton

 Sendok cekung
 Tongkat pemadat

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 31


 Kerucut terpancung

 Palu karet

 Bahan :
 Air

 Pasir

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 32


 Kerikil

 Semen

4.1.4. Langkah Kerja


a. Siapkan air,pasir,kerikil dan semen sesuai dengan hitungan yang didapat dari
perhitungan diatas,
b. Timbang semen,pasir dan kerikil menggunakan timbangan (neraca),
c. Masukkan semen,pasir,kerikil dan air kedalam mesin molen listrik,biarkan
mesin mengaduk sampai semua material tercampur rata,
d. Setelah tercampur rata stop putaran molen dan tuangkan campuran tadi ke
wadah(loyang) yang sudah disediakan,
e. Masukkan campuran kedalam merucut terpancung sambil di tusuk dengan
tongkat pemadat agar tidak terjadi celah didalamnya,
f. Setelah padat,angkat kerucut terpancung maka akan terlihat hasil campuran
betonnya,

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 33


g. Setelah campuran beton memenuhi syarat uji slumpyang telah ditetapkan
kemudian campuran beton tersebut dituangkan kedalam silinder sambal
dipadatkan dengan tongkat penumbuk,
h. Setelah selesai pemadatan,ketuk sisi pada silinder perlahan – lahan dengan
menggunakan palu karet sampai tidak ada terlihat gelembung udara pada
permukaan serta rongga-rongga bekas tusukan,
i. Ratakan permukaan silinder dengan mistar perata,
j. Campuran dalam silinder dibiarkan sampai kering (24 jam).

K-300 (26,4
Mpa) Perbandingan campuran = 1 : 1,5 : 2,5

FAS Air Semen Pasir Kerikil


(liter) (kg) (kg) (kg)
0,5 2,5 5 7,5 12,5

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 34


4.2 Pengujian Kuat Tekan
4.2.1. Pengertian
Pegujian kuat tekan adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui
sejauh mana beton tersebut mampu menerima beban maksimum sampai beton
tersebut hancur.
4.2.2. Maksud dan Tujuan
Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk mengetahui sejauh mana beton
tersebut mampu menerima beban maksimum sampai beton tersebut
hancur.Pengujian kuat tekan beton dengan menggunakan alat Universal Testing
Machine (UTM) dengan kapasitas 100 ton, seadangkan pengujian dilakukan
dengan mengikuti spesifikasi SK. SNI. M – 10 – 1991 – 03.
4.2.3. Alat dan Bahan
 Alat :
 Alat pres / alat uji kuat tekan

 Bahan :
 Beton

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 35


4.2.4. Langkah Kerja
a. Benda uji yang telah direndam diangkat dari bak perendam kemudian
bersihkan dari kotoran yang menempel pada benda uji dengan kain lembab
kemudian disimpan di tempat terbuka dan kering,
b. Benda uji yang telah kering diletakkan pada alas mesin uji tekan, usahakan
bagian permukaan benda uji bersentuhan langsung dengan piston penekan
adalah yang paling rata dan tegak lurus terhadap alas pada mesin uji tekan.
Kemiringan benda uji tidak boleh melebihi 0,5o terhadap sumbu vertical,
c. Tekan benda uji secara perlahan-lahan dengan memberikan beban aksial
pada benda uji tersebut sampai runtuh atau hancur. Penekanan beban
dilakukan dengan konstan berkisar antara 2 s/d 4 kg/cm2 per detik. Nilai
beban maksimum saat awal benda uji hancur adalah merupakan batas harga
minimum yang paling aman dan harga tersebut merupakan nilai target kuat
tekan.
 Hasil
Diketahui :
 Kaliberasi alat = 1,65
 P1 => 1a = 120 KN
1b = 110 KN
1c = 130 KN
 Berat => 1a = 12,5 kg
1b = 11,5 kg
1c = 11,7 kg
 Rumus : 𝜎 = P / A
 A = ¼ πd2
= ¼ × 3.14 × 152
= 176,6
 𝜎=P/A
 𝜎 1a = 120 / 176,6 × 10
= 6,795 Mpa × 1,65
= 11,21 Mpa
 𝜎 1b = 110 / 176,6 × 10

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 36


= 6,229 Mpa × 1,65
= 10,28 Mpa

 𝜎 1c = 130 / 176,6 × 10
= 7,36 Mpa × 1,65
= 12,14 Mpa

 Rata – rata 𝜎 = 11,21 + 10,28 + 12,14 / 3


= 11,21 Mpa

 Factor konversi :
d. 3 hari = 0,56
e. 7 hari = 0,76
f. 14 hari = 0,86
g. 21 hari = 0,96
h. 28 hari = 1

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 37


BAB V

PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Beton yaitu suatu campuran yang berisi pasir, krikil/ batu pecah/ agregat lain yang
dicampurkan menjadi satu dengan suatu pasta yang terbuat dari semen dan air yang
membentuk suatu masa yang sangat mirip seperti batu sehingga dapat digunakan untuk
membuat pondasi, balok, plat cangkang, plat lantai,dll. Dengan melakukan analisa
bahan maka dalam hal pembuatan beton harus lebih teliti dengan berbagai macam
material-material yang digunakan dalam pembuatan tersebut,dikarenakan apabila suatu
material dalam beton itu tidak bagus,maka hasil dari beton tersebut tidak akan mencapai
pada hasil yang diinginkan.Sehingga dengan diadakannya analisa bahan terhadap
material yang akan digunakan untuk pembuatan beton,maka hasil dapat diperoleh
dengan baik.
Kelebihan dan kekurangan beton:
 Kelebihan beton:
a. Dapat dibentuk sesuai keinginan,
b. Mampu memikul beban tekan yang berat,
c. Tahan terhadap temperatur tinggi,
d. Biaya pemeliharaan rendah / kecil.
 Kekurangan beton:
a. Pelaksanaan pekerjaan memerlukan ketelitian yang tinggi,
b. Berat,
c. Daya pantul suara besar,
d. Membutuhkan cetakan sebagai alat pembentuk,
e. Tidak memiliki kekuatan tarik.

Fakultas Teknik Sipil Universitas Islam Al-Azhar Page 38