Anda di halaman 1dari 22

1.

Definisi
Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri,
cacing, protozoa, jamur, ricketsia, atau virus (Soemarmo,2010) Ensefalitis adalah radang
jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri, cacing, protozoa, jamur, ricketsia, atau
virus (Mansjoer, 2000).
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai system saraf pusat (SSP) yang
disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang non purulen. Penyebab tersering
dari ensefalitis adalah virus, kemudian herpes simpleks, arbovirus, dan jarang disebabkan
oleh enterovirus, gondongan, dan adenovirus. Ensefalitis bias juga terjadi pada pasca
infeksi campak, influenza, varisella, dan pascavaksinasi Pertusis (Muttaqin, 2008)
Ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi virus. Terkadang
ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari
penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri).
Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic
meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem
kekebalan tubuhnya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap
tengkorak dan menyebabkan kematian

2. Anatomi Fisiologi
3. Thalamus
adalah massa sel saraf besar yang berbentuk telor,terletak pada substansia
alba.Thalamus berfungsi sebagai stasiun relay dan integrasi dari medulla spinalis ke
korteks serebri dan bagian lain dari otak.
4. Hypotalamus
terletak dibawah thalamus,berfungsi dalam mempertahankan hoemostasis seperti
pengaturan suhu tubuh,rasa haus,lapar,respon system saraf outonom dan kontro terhadap
sekresi hormone dalam kelenjar pituitari.
Epithalamus
dipercaya berperan dalam pertumbuhan fisik dan perkembangan seksual
Batang otak
otak terdiri atas otak tengah(mesencephalon),pons dan medulla oblongata.Batang otak
berfungsi pengaturan reflex untuk fungsi vital tubuh.
Otak tengah
mempunyai fungsi utama sebagai relay stimulus pergerakan otot dari dan ke
otak.Misalnya kontrol reflex pergerakan mata akibat adanya nerves cranial III dan IV.
pons
menghubungkan otak tengah dengan medulla oblongata,berfungsi sebagai pusat
-pusat reflex pernapasan dan mempengaruhi tingkat karbondioksida,aktivitas vasomotor.
Medulaoblongata mengandung pusat reflex
pernafasan,bersin,menelan,batuk,muntah,sekresi saliva dan vasokontriksi.Sraf kranial
IX,X,XII keluar dari medulla oblongata.Pada batang otak terdapat juga sistem retikularis
yaitu sistem sel saraf dan serat
penghubungnya dalam otak yang menghubungkan semua traktus
ascendens dan decendens dengan semua bagian la
in dari system saraf pusat.sistem ini berfungsi sebagai integrator seluruh sisem saraf
seperti terlihat dalam tidur,kesadaran,regulasi suhu,respirasi dan metabolisme.
Cerebelum
Cerebelum besarnya kira-kira seperempat dari cerebrum.Antara cerebellum dan cerebrum
dibatasi oleh tentorium serebri
.Fungsi utama cerebellum adalah koordinasi aktivitas muscular,control tonus
otot,mempertahankan postur dan keseimbangan.
Jaringan saraf
:
Neuron (sel saraf) merupakan unit anatomis dan fungsional system persarafan.
Bagian
-bagian dari neuron:
Badan sel (inti sel terdapat di dalamnya
),Dendrit : mengha
ntarkan impuls
menuju badan sel dan Akson : menghantarkan impuls keluar dar
i badan
sel.
Klarifikasi neuron
:
Berdasarkan bentuk :
A. Neuron unipolar.
Terdapat satu tonjolan yang bercabang dua dekat dengan badan sel, satu cabang menuju
parifer dan cabang lain menuju SSP (neuron sensorik saraf spinal)
B. Neuron bipolar.
Mempunyai dua tonjolan, 1 akson dan 1 dendrit.
C. Neuron multipolar.
Terdapat beberapa dendrit dan 1 akson yang dapat bercabang cabang banyak sekali.
Sebagian besar terdapat arganela sel pada neuron terdapat pada sitoplasma badan sel.
Fungsi Neuron
:
1. Menghantarkan impuls saraf keseluruh tubuh ( somatik dan viseral ) 1
impuls neuron bersifat listrik di sepanjang neuron dan bersifat kimia diantara neuron (
celah sinap/cleft sinaptik) zat kimia yang disintesis neuron dan di simpan dalam vesikel
ujung akson disebut neurotransmiter
yang dapat menyalurk
an impuls ;
Contoh neuro transmiter :
Asetikolin
Noref
ine
prin
,Dopamin,Serotonin,Gama aminobutira (GABA)
.
Asuhan Keperawatan Pada..., AGUSMAN PURNOMO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP,
2010
2. Sel penyokong ( neuroglia pada SSP dan sel schwann pada SST ) ada 4
neuroglia :
- mempertahankan potensial bioelektrik.
- digodendrosit : menghasilkan mielin pada SSP yang merupakan selubung
neuron.
3. Mielin
- Komplek protein lemak berwarna putih yang menutupi tonjolan saraf (neuron).
- Menghalangi aliran ion Na dan K melintasi membran neural.
- Darah yang tidak bermielin disebut nodus ranvier.
- Transmisi impuls pada saraf berm
ielin lebih cepat dari pada yang tak bermielin,
karena adanya loncatan impuls dari satu nodus ke nodus lainnya ( konduksi
saltatorik ).
Lima bagian utama otak : telensefalon (endbrain), diensefalon (interbrain),
mesensefalon (midbrain), metensefalon (afterbrain), mielensefalon
(marrowbrain).
1. Telensefalon (endbrain) a hamisfer serebri, kortek serebri, sistem limbik
( bangsal ganglia, hipokanpus anigdala ).
2. Diensefalon ( interbrain) epitalamus, talamus, subtalamus, hipotalamus.
3. Mesensefalon ( midbrain ) kolikulus superior, kolikulus inferior,
substansia nigra.
Asuhan Keperawatan Pada..., AGUSMAN PURNOMO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP,
2010
4. Metensefalon ( afterbrain ) pons, sereblum.
5. Mielensefalon ( marrowbrain ) medula oblongata.
Pembagian sistem saraf secara anatomi
:
SSP.
Pembagian saraf tepi berdasarkan fungsinya SEL
APUT OTAK DAN
MEDULA SPINALIS.
Duramater ;
- merupakan lapisan terluar dari meningen.
- ruang diantara tengkorak dan duramater di sebut epidural.
Arachnoid ;
- merupakan lapisan tengah meningen, terletak diantara lap duramater dan
piamater.
- ruang diantara lap duramater dan archnoid di sebut epidural.
- ruang diantara lap arachnoid dan piamater di sebut sub arachnoid.
- cairan otak ( CSF ) berada didalam ruang sub arachnoid.
Piamater
;
Merupakan lapisan terdalam dari maningen yang berhubungan langsung
dengan korteks serebri suplay darah otak. Otak mendapat suplay darah dari
Asuhan Keperawatan Pada..., AGUSMAN PURNOMO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP,
2010
2 arteri bes
ar, yaitu:
1. Arteri karotis in
terna
2. Arteri vertebra basiler
Fisiologi Sistem Saraf
Saraf Otak
Susunan saraf terdapat pada bagian kepala yang ke luar dari otak dan melewati lubang
yang terdapat pada tulang tengkorak, berhubungan erat dengan otot panca indra mata,
telinga, hidung, lidah, dan kulit. Di dalam kepala ada dua syaraf kranial. Beberapa di
antaranya adalah serabut campuran gabungan saraf motorik dan saraf sensorik tetapi ada
yang terdiri dari saraf motorik saja atau hanya sensorik saja (mis. Alat-alat panca indra).
Saraf kepala terdiri dari :
1.Nervus olfaktorius
. Sifatnya sensorik menyerupai hidung, membawa rangsangan aroma (bau-bauan) dari
rongga hidung ke otak. Saraf pembau yang keluar dari otak di bawah dahi, disebut lobus
olfaktorius. Kemudian saraf ini melalui lubang yang ada di dalam tulang tapis akan menuju
rongga hidung selanjutnya menuju sel-sel panca indra.
2.Nervus optikus
. Sifatnya sensoris, mensarafi bola mata, membawa rangsangan penglihatan ke otak.
Serabut mata yang serabut-serabut sarafnya keluar dari bukit IV dan pusat-pusat di dekat
serabut-serabut tersebut, memiliki tangkai otak dan membentuk saluran optik dan bertemu
di tangkai hipofise serta membentang sebagai saraf mata, serabut tersebut tidak
semuanya bersilang. Sebagian serabut saraf terletak di sebelah sisi serabut yang berasal
dari saluran optik. Oleh sebab itu serabut saraf yang datang dari sebelah kanan retina
tiap-tiap mata terdapat di dalam optik kanan begitu pula sebaliknya retina kiri tiap-tiap
mata terdapat di sebelah kiri.
3.Nervus okulomotoris.
Saraf ini bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital (otot penggerak bola mata). Di dalam
saraf ini terkandung serabut-serabut sarag otonom (parasimpatis). Saraf penggerak mata
keluar dari sebelah tangkai otak dan menuju ke lekuk mata yang berfungsi mengangkat
kelopak mata atas, selain itu mempersarafi otot miring atas mata dan otot lurus sisi mata.
4.Nervus troklearis
. Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Saraf pemutar mata yang pusatnya terletak
di belakang pusat saraf penggerak mata dan saraf penggerak mata masuk ke dalam lekuk
mata menuju orbital miring atas mata.
5.Nervus trigeminus
. Sifatnya majemuk (sensoris motoris), saraf ini mempunyai tiga buah cabang. Fungsinya
sebagai saraf kembar tiga, saraf ini merupakan saraf otak terbesar yang mempunyai dua
buah akar saraf besar yang mengandung serabut saraf penggerak. Dan di ujung tulang
belakang yang terkecil mengandung serabut saraf penggerak. Di ujung tulang karang
bagian perasa membetuk sebuah ganglion yang dinamakan simpul saraf serta
meninggalkan rongga tengkorak .
6.Nervus Abdusen.
Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Fungsnya sebagai saraf penggoyang sisi
mata karena saraf ini keluar di sebelah bawah jembatan pontis menembus selaput otak
sela tursika. Sesudah sampai di lekuk mata lalu menuju ke otot lurus sisi mata.
7.Nervus fasialis
. Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris), serabutserabut motorisnya mensarafi otot-otot
lidah dan selaput lendir rongga mulut. Di dalam saraf ini terdapat serabut-serabut saraf
otonom (parasimpatis) untuk wajah dan kulit kepala. Fungsinya sebagai mimik wajah dan
menghantarkan rasa pengecap. Saraf ini keluar di sebelah belakang dan beriringan
dengan saraf pendengar.
8.Nervus auditorius
. Sifatnya sensoris, mensarafi alat pendengar, membawa rangsangan dari pendengaran
dan dari telinga ke otak. Fungsinya sebagai saraf pendengar. Saraf ini mempunyai dua
buah kumpulan serabut saraf yaitu rumah keong (koklea), disebut akar tengah adalah
saraf untuk mendengar dan pintu halaman (vestibulum), disebut akar tengah adalah saraf
untuk keseimbangan,
9.Nervus glosofaringeus
. Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris), ia mensarafi faring, tonsil, dan lidah. Saraf ini
dapat membawa rangsangan citarasa ke otak. Di dalamnya mengandung saraf-saraf
otonom. Fungsinya sebagai saraf lidah tekak karena saraf ini melewati lorong di antara
tulang belakang dan karang. Terdapat dua buah simpul saraf yang di atas sekali
dinamakan ganglion jugularis atau ganglion atas dan yang di bawah dinamakan ganglion
petrosum atau ganglion bawah. Saraf ini (saraf lidah tekak) berhubungan dengan nervus-
nervus fasialis dan saraf simpatis ranting 11 untuk ruang faring dan tekak.
10.Nervus vagus
. Sifatnya majemuk (sensoris dan motoris), mengandung serabut-serabut saraf motorik,
sensorik dan parasimpatis faring, laring, paruparu, esofagus, gaster intestinum minor, kelenjar-
kelenjar pencernaan dalam abdomen dan lain-lain. Fungsinya sebagai saraf perasa. Saraf ini
kelaur dari sumsum penyambung dan terdapat di bawah saraf lidah tekak.
11.Nervus asesorius
. Sifatnya motoris dan mensarafi muskulus sternokleido-mastoid dan muskulus trapezius.
Fungsinya sebagai saraf tambahan. Terbagi atas dua bagian, bagian yang berasal dari otak
dan bagian yang berasal dari sumsum tulang belakang.
12.Nervus hipoglosus
. Sifatnya motoris dan mensyarafi otot-otot
lidah. Fungsinya sebagai syaraf lidah. Syaraf ini terdapatdalam sumsum penyambung,
akhirnya bersatu dan melewati lubang yang terdapat di sisi foramen oksipital. Syaraf ini juga
memberikan ranting-ranting pada otot yang melekat pada tulang lidah dan otot lidah.
(Syaefuddin, 2006).
Sistem saraf tepi
terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf
sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom
mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran
pencernaan, dan sekresi keringat.
1. Sistem Saraf Sadar
Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf kranial), yaitu saraf-saraf yang keluar dari
otak, dan saraf sumsum tulang belakang, yaitu saraf-saraf yang keluar dari sumsum tulang
belakang. Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri dari:
1.Tiga pasang sarafsensori, yaitu saraf nomor 1, 2, dan 8
2.lima pasang saraf motor, yaitu saraf nomor 3, 4, 6, 11, dan 12
3.empat pasang saraf gabungan sensori dan motor, yaitu saraf nomor 5, 7, 9,
dan 10.
Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali nervus vagus yang melewati
leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga perut. Nervus vagus membentuk bagian
saraf otonom. Oleh karena daerah jangkauannya sangat luas maka nervus vagus disebut
saraf pengembara dan sekaligus merupakan saraf otak yang paling penting. Saraf sumsum
tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan.
Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12
pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan satu pasang
saraf ekor. Beberapa urat saraf bersatu membentuk jaringan urat saraf yang disebut pleksus.
Ada 3 buah pleksus yaitu sebagai berikut.
a.Pleksus cervicalis merupakan gabungan urat saraf leher yang mempengaruhi bagian leher,
bahu, dan diafragma.
B Pleksus brachialis mempengaruhi bagian tangan.
c. Pleksus Jumbo sakralis yang mempengaruhi bagian pinggul dan kaki.
2. Saraf Otonom
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum
tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa
jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk
ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan
yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion.Sistem saraf otonom dapat
dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara
saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai
ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang
sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatik mempunyai
urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu. Fungsi
sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Sistem saraf
parasimpatik terdiri dari keseluruhan "nervus vagus" bersama cabang-cabangnya ditambah
dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung (biologijaka)
5. Etiologi

Bakteri penyebab ensefalitis adalah staphylococcus aureus, streptokous, E. Coli, M.


tuberculosa dan T. Paliidum. Tiga bakteri yang pertama merupakan penyebab ensefalitis
bacterial akut yang menimbulkan pernanahan pada korteks serebri sehingga terbentuk
abses serebri. Ensefalitis bakterial akut sering disebut ensefalitis supuratif akut (Mansjoer,
2000) Sedangkan menurutRiyadi (2010) menyebutkan penyebab terjadinya ensefalitis
yaitu:
a.Berupa bakteri (LDH serum meningkat)
b.Virus
c.Jamur

6. Tanda Dan Gejala

Secara umum, gejala berupa trias ensefalitis yang terdiri dari demam, kejang, dan
kesadaran menurun. Suhu badan meningkat, fotofobia, sakit kepala, muntah letargi,
kadang disertai kaku kuduk jika mengenai meningen (Muttaqin, 2008). Pada ensefalitis
supuratif akut yang berkembang menjadi abses serebri, akan timbul gejala-gejala sesuai
dengan proses patologis yang terjadi di otak. Gejala-gejala tersebut adalah infeksi umum,
tanda-tanda meningkatnya tekanan intracranial yaitu nyeri kepala yang kronik, muntah,
penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun. Pada pemeriksaan mungkin
terdapatedema papil. Tanda-tanda deficit neurologis tergantung pada lokasi dan luas
abses (Mansjoer, 2000).
Meskipun penyebabnya berbeda, gejala klinis ensefalitis lebih kurang sama dan khas
sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnostik. Secara umum gejala berupa ensefalitis
yang terdiri dari demam, kejang dan kesadaran menurun.
Setelah masa inkubasi kurang lebih 5-10 hari akan terjadi kenaikan suhu yang
mendadak, seringkali terjadi hiperpireksia, nyeri kepala pada anak besar, menjerit pada anak
kecil. Ditemukan tanda perangsangan SSP (koma, stupor, letargi), kaku kuduk, peningkatan
reflek tendon, tremor, kelemahan otot dan kadang-kadang kelumpuhan.
Manifestasi klinik ensefalitis bakterial, pada permulaan terdapat gejala yang tidak khas
seperti infeksi umum, kemudian timbul tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial yaitu
nyeri kepala, muntah-muntah, nafsu makan tidak ada, demam, penglihatan kabur, kejang
umum atau fokal dan kesadaran menurun. Gejala defisit nervi kranialis, hemiparesis, refleks
tendon meningkat, kaku kuduk, afasia, hemianopia, nistagmus dan ataksia.
Penyebab kelainan neurologis (defisit neurologis) adalah invasi dan perusakan
langsung pada jaringan otak oleh virus yang sedang berkembang biak; reaksi jaringan saraf
terhadap antigen virus yang akan berakibat demielinisasi, kerusakan vaskular, dan
paravaskular; dan karena reaksi aktivasi virus neurotropik yang bersifat laten.
Pada ensefalitis viral gejala-gejala awal nyeri kepala ringan, demam, gejala infeksi
saluran nafas atas atau gastrointestinal selama beberapa hari kemudian muncul tanda-tanda
radang SSP seperti kaku kuduk, tanda kernig positif, gelisah, lemah dan sukar tidur. Defisit
neurologik yang timbul bergantung pada tempat kerusakan. Selanjutnya kesadaran mulai
menurun sampai koma, dapat terjadi kejang fokal atau umum, hemiparesis, gangguan
koordinasi, kelainan kepribadian, disorientasi, gangguan bicara dan gangguan mental.
Temuan-temuan klinis pada ensefalitis ditentukan oleh:
a. Berat dan lokalisasi anatomis susunan saraf yang terlihat
b. Patogenesitas agen yang menyerang
c. Kekebalan dan mekanisme reaktif lain penderita

7. Komplikasi

Gejala sisa maupun komplikasi karena ensefalitis dapat melibatkan :


a. Encephalitis juga dapat terjadi sebagai komplikasi campak, gondongan(mumps) atau
cacar.
b. Susunan saraf pusat dapat mengenai kecerdasan, motoris, psikiatris, epileptik,
penglihatan dan pendengaran
c. Sistem kardiovaskuler, intraokuler, paru, hati dan sistem lain dapat terlibat secara
menetap
d. Defisit neurologik (paresis/paralisis, pergerakan koreoatetoid), hidrosefalus maupun
gangguan mental sering terjadi.
e. Komplikasi pada bayi biasanya berupa :
- Hidrosefalus
- Epilepsi
- Retardasi mental karena kerusakan SSP berat

8. Patofisiologi

9. Pemeriksaan Penunjang

Gambaran cairan serebrospinal dapat dipertimbangkan meskipun tidak begitu


membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 50-200 dengan dominasi limfasit. Kadar
protein kadang-kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal.
b. Gambaran EEG memperlihatkan proses inflamasi difus (aktifitas lambat bilateral).Bila
terdapat tanda klinis flokal yang ditunjang dengan gambaran EEG atau CT scan dapat
dilakukan biopal otak di daerah yang bersangkutan. Bila tidak ada tanda klinis flokal,
biopsy dapat dilakukan pada daerah lobus temporalis yang biasanya menjadi predileksi
virus Herpes Simplex.
. Lumbal pungsi (pemeriksaan CSS)
a. Cairan warna jernih
b. Glukosa normal
c. Leukosit meningkat
d. Tekanan Intra Kranial meningkat
2. Protein agak meningkat
3. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urin
a. Sukar oleh karena uremia berlangsung singkat
b. Dapat membantu mengidentifikasikan daerah pusat infeksi dan penyebab infeksi
4. CT Scan/ MRI
Membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak ventrikel, hematom,
daerah cerebral, hemoragic, atau tumor.

10. Penatalaksanaan Medis

Penderita baru dengan kemungkinan ensefalitis harus dirawat inap sampai menghilangnya
gejala-gejala neurologik. Tujuan penatalaksanaan adalah mempertahankan fungsi organ
dengan mengusahakan jalan nafas tetap terbuka, pemberian makanan enteral atau
parenteral, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dan koreksi gangguan asam basa
darah (Arif, 2000). Tata laksana yang dikerjakan sebagai berikut :
a. Mengatasi kejang adalah tindakan vital, karena kejang pada ensefalitis biasanya
berat. Pemberian Fenobarbital 5-8 mg/kgBB/24 jam. Jika kejang sering terjadi, perlu
diberikan Diazepam (0,1-0,2 mg/kgBB) IV, dalam bentuk infus selama 3 menit.
b. Memperbaiki homeostatis, dengan infus cairan D5 - 1/2 S atau D5 - 1/4 S (tergantung
umur) dan pemberian oksigen.
c. Mengurangi edema serebri serta mengurangi akibat yang ditimbulkan oleh anoksia
serebri dengan Deksametason 0,15-1,0 mg/kgBB/hari i.v dibagi dalam 3 dosis.
d. Menurunkan tekanan intrakranial yang meninggi dengan Manitol diberikan intravena
dengan dosis 1,5-2,0 g/kgBB selama 30-60 menit. Pemberian dapat diulang setiap 8-12
jam. Dapat juga dengan Gliserol, melalui pipa nasogastrik, 0,5-1,0 ml/kgbb diencerkan
dengan dua bagian sari jeruk. Bahan ini tidak toksik dan dapat diulangi setiap 6 jam untuk
waktu lama.

11. Konsep Asuhan Keperawatan Sesuai Kasus

Pengkajian
a. Identitas
Ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur.
b. Keluhan utama
Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
c. Riwayat penyakit sekarang
Mula-mula anak rewel , gelisah , muntah-muntah , panas badan meningkat kurang lebih 1-
4 hari, sakit kepala.
d. Riwayat penyakit dahulu
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit
Herpes, penyakit infeksi pada hidung, telinga dan tenggorokan.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh: Herpes
dll. Bakteri contoh: Staphylococcus Aureus, Streptococcus, E, Coli, dll.
f. Imunisasi
Kapan terakhir diberi imunisasi DTP
g. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

1) Kebiasaan
Sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur , kebiasaan buang air besar di WC,
lingkungan penduduk yang berdesakan (daerah kumuh)
2) Status Ekonomi
Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.
3) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Menyepelekan anak yang sakit ,tanpa pengobatan yang semPemenuhan Nutrisi
4) Pola Eliminasi
Kebiasaan Defekasi sehari-hari. Biasanya pada pasien Ensefalitis karena pasien tidak
dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstipasi.
5) Pola tidur dan istirahat
Biasanya pola tidur dan istirahat pada pasien Ensefalitis biasanya tidak dapat
dievaluasi karena pasien sering mengalami apatis sampai koma.
6) Pola Aktivitas
a) Aktivitas sehari-hari : klien biasanya terjadi gangguan karena bx Ensefalitis dengan
gizi buruk mengalami kelemahan.
b) Kebutuhan gerak dan latihan : bila terjadi kelemahan maka latihan gerak dilakukan
latihan positif. Upaya pergerakan sendi : bila terjadi atropi otot pada px gizi buruk maka
dilakukan latihan pasif sesuai ROM Kekuatan otot berkurang karena px Ensefalitisdengan
gizi buruk. Kesulitan yang dihadapi bila terjadi komplikasi ke jantung ,ginjal, mudah
terInfeksi berat, aktifitas togosit turun, Hb turun, punurunan kadar albumin serum,
gangguan pertumbuhan
7) Pola Hubungan Dengan Peran
Interaksi dengan keluarga / orang lain biasanya pada klien dengan Ensefalitis
kurang karena kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma.
2. Diagnosa keperawatan
a. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.
b. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
c. Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum.
d. Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
e. Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM
Terbatas.
f. Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
muntah.
g. Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan
susunan saraf pusat.
h. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
i. Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.
j. Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.
3. Perencanaan Keperawatan
a. Dx 1 : Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi endogen
Intervensi:
1) Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau
pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung.
R/. menurunkan resiko px terkena infeksi sekunder . mengontrol penyebaran Sumber
infeksi, mencegah pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.
2) Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.
R/. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan Meningkosamia .
3) Berikan antibiotika sesuai indikasi
R/. Obat yang dipilih tergantung tipe infeksi dan sensitivitas individu.
b. Dx 2 : Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.
Tujuan : mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi
sensorik/motorik. Mendemonstrasikan TTV stabil. Melaporkan tak adanya/menurunkan
sakit kepala.
Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai
indikasi setelah dilakukan pungsi lumbal
R/. Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya resiko herniasi batang
otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.
2) Pantau/catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan
normalnya, seperti GCS.
R/. Pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial
peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran/luasnya
dan perkembangan dari kerusakan serebral
3) Pantau tanda vital, seperti tekanan darah. Catat serangan dari/hipertensi sistolik yang
terus-menerus dan tekanan nadi yang melebar
R/. Normalnya, autoregulasi mampu mempertahankan aliran darah serebral dengan
konstan sebagai dampak adanya fluktuasi pada tekanan darah sistemik. Kehilangan
fungsi autoregulasi mungkin mengikuti kerusakan vaskuler serebral local atau difus yang
menimbulkan peningkatan TIK. Fenomena ini dapat ditunjukkan oleh peningkatan TD
sistemik yang bersamaan dengan tekanan darah diastolic(tekanan darah yang melebar)
4) Anjurkan keluarga untuk berbicara dengan pasien jika diperlukan
R/. Mendengarkan suara yang menyenangkan dari orang terdekat/keluarga tampaknya
menimbulkan pengaruh trelaksasi pada beberapa pasien dan mungkin akan dapat
menurunkan TIK.
5) Berikan obat sesuai indikasi, seperti : steroid : deksametason, metilprednison(medrol)
R/. Dapat menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema
serebral, dapat juga menurunkan risiko terjadinya”fenomena rebound” ketika
menggunakan manitol.
c. Dx 3 : Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum
Tujuan : Tidak terjadi trauma
Kriteria hasil : Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain
Intervensi :
1) Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan,penghalang tempat tidur
tetapn terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas tetap bebas.
R/. Melindungi px jika terjadi kejang , pengganjal mulut agak lidah tidak tergigit. Catatan:
memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut relaksasi.
2) Pertahankan tirah baring dalam fase akut.
R/. Menurunkan resiko terjatuh / trauma saat terjadi vertigo.
3) Kolaborasi.
Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dsb.
R/. Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang.
4) Abservasi tanda-tanda vital
R/. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat dilakukan tindakan lanjutan.
d. Dx 4 : Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.
Tujuan: Melaporkan nyeri hilang/terkontrol ditandai dengan : menunjukkan postur rileks
dan mampu istirahat/tidur dengan tepat
Intervensi :
1) Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai dengan indikasi
R/. Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitifitas pada cahaya dan
meningkatkan istirahat/rileksasi
2) Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin diatas mata
R/. Meningkat kan vasokonstriksi, menumpulkan resepsi sensorik yang selanjutnya akan
menurunkan nyeri
3) Tingkat tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang penting
R/. Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri
4) Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman sperti kepala agak tinggi sedikit pada
meningitis
R/. Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut
5) Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan masase otot daerah leher
dan bahu.
R/. Dapat membatu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri
atau rasa tidak nyaman tersebut.
6) Berikan analgetik seperti asetaminofen, kodein
R/. Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat, catatan : narkotik mungkin
merupakan kotra indikasi sehingga menimbulkan ketidakakuratan dalam pemeriksaaan
neurologis
e. Dx 5 : Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM
terbatas.
Tujuan : mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal yang
ditunjukkan oleh tidak terdapatnya kontraktur, footdrop. Mempertahankan/meningkatkan
kekuatan dan fungsi umum. Mempertahankan integritas kulit, fungsi kandung kemih dan
usus.
Intervensi :
1) Kaji derajat imobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan (0-4)
R/. Pasien mampu mandiri(nilai 0), atau memerlukan bantuan peralatan yang minimal(nilai
1); memerlukan bantuan sedang/dengan pengawasan/diajarkan(nilai 2); memerlukan
bantuan/peralatan yang terus-menerus dan alat khusus(nilai 3); tergantung secara total
pada pemberi asuhan(nilai 4).
2) Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena tekanan.
Ubah posisi pasien secara teratur dan buat sedikit perubahan posisi antara waktu
perubahan posisi tersebut.
R/. Perubahan posisi yang teratur menyebabkan penyebaran terhadap berat badan dan
meningkatkan sirkulasi pada seluruh bagian tubuh. Jika ada paralysis atau keterbatasan
kognitif, pasien harus diubah posisinya secara teratur dan posisi dari daerah yang sakit
hanya dalam jangka waktu yang sangat terbatas.
3) Berikan/Bantu untuk melakukan rentang gerak
R/. Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/posisi normal ekstremitas dan
menurunkan terjadinya vena yang statis.
4) Berikan matras udara/air, terapi kinetic sesuai dengan kebutuhan.
R/. Menyeinbangkan tekanan jaringan, meningkatkan sirkulasi, dan membantu
meningkatkan arus balik vena untuk menurunkan risiko terjadinya trauma jaringan.
f. Dx6: Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual muntah.
Tujuan : klien akan menunjukkan pemenuhan nutrisi adekuat dengan Kriteria : BB dalam
batas normal, nafsu makan baik/meningkat, tidak ditemukan defisiensi nutrisi
Intervensi :
1) Kaji riwayat nutrisi, makanan yang disukai’
R/. Mengidentifikasi defisiensi serta pemberian intervensI
2) Kaji antropometri setiap hari
R/. Perubahan antropometri mengindikasikan perubahan status nutrisi
3) Berikan intake makanan TKTP, mineral atau vitamin
R/. Diet TKTP mineral dan vitamin dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi klien
4) Tingkatkan frekuensi makan. Berikan diet halus, rendah serat. Hindari makan
pedas/terlalu asam
R/. Bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi klien
5) Berikan anti jamur/pencuci mulut, anestetik jika diperlukan
R/. Stomatitis biasanya ada pada PEM, untuk meningkatkan penyembuhan jaringan mulut
dan memudahkan masukan diet
6) Berikan suplemen nutrisi, misalnya ensure bila diindikasikan
R/. Meningkatkan masukan protein dan kalori
g. Dx 7 : Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d
kerusakan susunan saraf pusat.
h. Dx`8 : Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.
i. Dx 9 : Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi
turun.
j. Dx 10 : Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang
Tujuan :Tidak terjadi kontraktur
Kriteria hasil : Tidak terjadi kekakuan sendi dan dapat menggerakkan anggota tubuh
Intervensi
1) Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik, terjadi
kekacauan sendi.
R/ . Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti dan mau membantu program
perawatan.
2) Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap
R/ Melatih melemaskan otot-otot, mencegah kontraktor.
3) Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam
R/ Dengan melakukan perubahan posisi diharapkan peR/usi ke jaringan lancar,
meningkatkan daya pertahanan tubuh .
4) Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam
R/ Dengan melakukan observasi dapat melakukan deteksi dini bila ada kelainan dapat
dilakukan inteR/ensi segera
5) Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai Indikasi
R/ Diberi dilantin / valium ,bila terjadi kejang spastik ulang
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan
kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan
kesehatan klien.
5. Evaluasi
Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan
obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai
atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan
analisa masalah selanjutnya.
6. Penkes
Pengendalian vektor penyakit sulit dilakukan. Penyemprotan dengan insektisida dilakukan
apabila terjadi epidemi, namun demikian penyemprotan hanya bersifat mengurangi
populasi vektor, tidak menghilangkan sama sekali. Vaksin inaktif menggunakan
formaldehyde sebagai bahan inaktifan pernah digunakan untuk mengimmunisasi kuda
terhadap virus EEE, WEE, dan VEE.
Dalam jumlah terbatas, immunisasi juga dapat dilakukan terhadap para pekerja
laboratorium. Pencegahan terhadap virus VEE pernah dilakukan dengan menggunakan
vaksin aktif (live-attenuated vaccine) yang dikenal sebagai TC-83. Vaksin tersebut
digunakan untuk mengimmunisasi tentara dan digunakan pada jutaan kuda sewaktu
terjadi wabah VEE pada kumn waktu 1969 — 1971. Vaksin aktif ini cukup aman diberikan
pada kuda yang sedang bunting.

12. Pathway
13. Daftar Pustaka