Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori


II.1.1 Transfer Massa
Perpindahan massa terjadi pada komponen dalam campuran berpindah dalam
fase yang sama atau dari fase satu ke fase yang lain karena adanya perbedaan
konsentrasi. Perpindahan massa dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari,
sebagai contoh, sedikit gula dimasukkan kedalam secangkir kopi pada akhirnya akan
larut dengan sendirinya dan mendifusi ke seluruh bagian larutan (Welasih, 2006).
Banyak proses pemurnian yang menyangkut perpindahan massa. Contohnya
dalam proses uranium, larutan garam uranium diekstraksi dengan pelarut organik.
Distilasi pemisahan alkohol dari air juga menyangkut perpindahan massa. Pemisahan
SO2 dari “flue gas” dilakukan dengan adsorpsi dalam pelarut dasar (Geankoplis, 1997).
Beberapa penelitian mengenai perpindahan massa liquid – solid dalam packed
bed menggunakan proses pelarutan asam benzoat dalam air, hal ini disebabkan
kelarutan asam benzoat yang kecil menghasilkan fluks massa yang kecil. Adapun
sistem pelarutan yang juga dipakai misalnya naphthalene dalam air dan asam stearat
dalam air. Operasi perpindahan massa dapat diklasifikasikan sebagai berikut, kontak
langsung dua fase yang tak dapat bercampur kategori ini hampir meliputi semua
proses perpindahan massa yang sangat penting yaitu sistem dua fase, beberapa
komponen pada kesetimbangan kecuali beberapa komposisi fasenya yang berbeda,
misalnya uap kesetimbangan kecuali beberapa larutan garam encer yang tidak
mengandung garam dan konsentrasi yang cukup didalam liquid. Begitu pula solid
yang berkesetimbangan kontak dengan larutan garam baik murni atau garam
tergantung pada komposisi eutektis liquid yang terjadi (Treybal, 1981).

II.1.2 Absorpsi
Absorpsi adalah operasi pemisahan solut dari fase gas ke fase cair, yaitu
dengan mengontakkan gas yang berisi solut dengan pelarut cair atau solvent atau
absorben yang tidak menguap. Absorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu
campuran gas dengan cara pengikatan bahan tersebut pada permukaan absorben cair
yang diikuti dengan pelarutan. Kelarutan gas yang akan diserap dapat disebabkan
hanya oleh gaya-gaya fisik atau pada absorpsi fisik atau selain gaya tersebut juga oleh
ikatan kimia atau pada absorpsi kimia (Redjeki, 2013).
Dalam proses absorpsi, zat yang diserap masuk ke bagian dalam zat penyerap.
Misalnya peristiwa pelarutan atau gas ke dalam zat cair atau zat padat, difusi atau zat
cair ke dalam zat padat, warna yang diserap oleh suatu benda atau warna absorpsi,
penyerapan sinar bias oleh suatu zat pada peristiwa bias kembar atau absorpsi
selektif dan penyerapan energi oleh electron didalam satuan atom atau spectrum
absorpsi. Sedangkan pengertian absorpsimetri adalah metode analisis untuk
menentukan komposisi suatu zat dengan mengukur cahaya yang diserap bahan itu.

II-1
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas
Misalnya, dengan mengetahui frekuensi warna cahaya yang diserap, dapat ditentukan
jenis zat penyerap (Taylor, 2013).
Difusi adalah proses pergerakan zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi
rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien
konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas secara
merata atau mencapai keadaan setimbang dimana perpindahan molekul tetap terjadi
walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi (Isyafie, 2011).

II.1.3 Macam-macam Absorpsi


Menurut Taylor (2013), pada absorpsi sendiri ada dua macam proses yaitu :
a. Absorpsi fisik
Absorpsi fisik merupakan absorpsi dimana gas terlarut dalam cairan penyerap
tidak disertai dengan reaksi kimia. Contoh absorpsi ini adalah absorpsi gas H2S
dengan air, metanol, propilen, dan karbonat. Penyerapan terjadi karena adanya
interaksi fisik, difusi gas ke dalam air, atau pelarutan gas ke fase cair.
Dari absorpsi fisik ada beberapa teori untuk menyatakan model
mekanismenya, yaitu :
1. Teori model film
Dalam teori ini Whitman menyatakan bahwa kesetimbangan diasumsikan
terjadi pada permukaan batas (interface) antara fase gas dan cairan sehingga
tahanan perpindahan massa pada kedua fase ditambahkan untuk
memperoleh tahanan keseluruhan. Model ini menggambarkan tentang adanya
lapisan difusi. Perpindahan massa yang terjadi ditentukan oleh konsentrasi
dan jarak perpindahan massa, yaitu ketebalan film tersebut.
2. Teori penetrasi
Teori penetrasi ini dikemukakan oleh Higbie. Teori menyatakan
mekanisme perpindahan massa melalui kontak antara dua fasa, yaitu fasa gas
dan fasa liquid. Dalam pernyataannya, Higbie menekankan agar waktu kontak
lebih lama.
3. Teori Danckwerts
Teori ini digunakan dalam keadaan khusus di mana dianggap massa difusivitas
pusaran berlangsung dalam waktu yang bervariasi dan dianggap laju
perpindahan massa tidak tergantung dari waktu perpindahan unsur dalam
fase cairan tindak pada keadaan stagnan. Sehingga perpindahan massa yang
terjadi di interface merupakan harga dari jumlah zat yang terabsorpsi. Jadi
dianggap bahwa perpindahan unsur secara tindak fase cairan menuju
interface tidak akan mempengaruhi kecepatan perpindahan massanya.
b. Absorpsi kimia
Absorpsi kimia merupakan absorpsi dimana gas terlarut didalam larutan
penyerap disertai dengan adanya reaksi kimia. Contoh absorpsi ini adalah absorpsi
dengan adanya larutan MEA, NaOH, K2CO3, dan sebagainya. Aplikasi dari absorpsi
kimia dapat dijumpai pada proses penyerapan gas CO2 pada pabrik amoniak.
Penggunaan absorpsi kimia pada fase kering sering digunakan untuk mengeluarkan
II-2
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas
zat terlarut secara lebih sempurna dari campuran gasnya. Keuntungan absorpsi kimia
adalah meningkatnya koefisien perpindahan massa gas, sebagian dari perubahan ini
disebabkan makin besarnya luas efektif permukaan. Absorpsi kimia dapat juga
berlangsung di daerah yang hampir stagnan disamping penangkapan dinamik.

II.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Absorpsi


Hal-hal menurut Primasto (2015) yang mempengaruhi dalam proses absorpsi:
a. Luas Permukaan Kontak
Semakin besar permukaan gas dan pelarut yang kontak, maka laju absorpsi
yang terjadi juga akan semakin besar. Hal ini dikarenakan, permukaan kontak
yang semakin luas akan meningkatkan peluang gas untuk berdifusi ke pelarut.
b. Laju Alir Fluida
Jika laju alir fluida semakin kecil, maka waktu kontak antara gas dengan
pelarut akan semakin lama. Dengan demikian, akan meningkatkan jumlah gas
yang berdifusi.
c. Tekanan Operasi
Peningkatan tekanan akan meningkatkan efisiensi pemisahan.
d. Temperatur Komponen Terlarut dan Pelarut
Temperatur pelarut hanya sedikit berpengaruh terhadap laju absorpsi.

II.1.5 Penerapan Absorpsi dalam industri


Tujuan Absorpsi dalam dunia Industri menurut Redjeki (2013) adalah
meningkatkan nilai guna dari suatu zat dengan cara merubah fasenya Contoh :
Formalin yang berfase cair berasal dari formaldehid yang berfase gas atau formalin
adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40% dapat
dihasilkan melalui proses absorpsi. Formaldehid sebagai gas input dimasukkan ke
dalam reaktor, dimana di dalam air formaldehid akan mengalami proses polimerisasi.
Output dari reaktor yang berupa gas yang mempunyai suhu 1820C didinginkan pada
kondensor hingga suhu 550C, dimasukkan ke dalam absorber. Keluaran dari absorber
pada tingkat I mengandung larutan formalin dengan kadar formaldehid sekitar 37 –
40%. Bagian terbesar laiinnya terdiri dari metanol, air, dan formaldehid dikondensasi
di bawah air pendingin bagian dari menara, dan hampir semua removal dari sisa
metanol dan formaldehid dari gas terjadi dibagian atas absorber dengan counter
current contact dengan air proses.

II.1.6 Kolom absorpsi


Alat proses absorpsi dinamakan absorber, dan bagian paling penting dalam
absorber adalah kolom absorpsi. Kolom absorpsi dalah suatu kolom atau tabung
tempat terjadinya proses pengabsorpsi atau penyerapan atau penggumpalan dari zat
yang dilewatkan di kolom atau tabung tersebut. Proses ini dilakukan dengan
melewatkan zat yang terkontaminasi oleh komponen lain dan zat tersebut dilewatkan
ke kolom ini dimana terdapat fase cair dari komponen tersebut struktur kolom
absorpsi adalah sebagai berikut (Redjeki,2013).
II-3
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas

Gambar II.1 Bagan kolom absorpsi

Bagian a : Spray untuk megubah gas input menjadi fase cair.


Bagian b : out put gas keluar
Bagian c : in put pelarut masuk
Bagian d : out put pelarut dan gas terserap keluar
Bagian e : tempat pencampuran pelarut dan umpan
Bagian f : Packed tower untuk memperluas permukaan sentuh
sehingga mudah untuk diabsorpsi Commented [L1]:
Commented [L2]: Sitasi mana ? kalau redjeki berarti
II.1.7 Prinsip Kerja Kolom Absorpsi menurut

Menurut Redjeki (2013), prinsip kerja kolom absorpsi adalah sebagai berikut :
a. Kolom absorpsi adalah sebuah kolom, dimana ada zat yang berbeda fase Commented [L3]: LURUSIN ANGKA 7 YA
mengalir berlawanan arah yang dapat menyebabkan komponen kimia ditransfer dari
satu fase cairan ke fase lainnya, terjadi hampir pada setiap reaktor kimia. Proses ini
dapat berupa absorpsi gas, destilasi,pelarutan yang terjadi pada semua reaksi kimia.
b. Campuran gas yang merupakan keluaran dari reaktor diumpankan kebawah Commented [L4]: IN JUGA
menara absorber. Didalam absorber terjadi kontak antar dua fasa yaitu fasa gas dan
fasa cair mengakibatkan perpindahan massa difusional dalam umpan gas dari bawah
menara ke dalam pelarut air sprayer yang diumpankan dari bagian atas menara.
Peristiwa absorpsi ini terjadi pada sebuah kolom yang berisi packing atau plate
dengan tingkat sesuai kebutuhan.

II.1.8 Jenis-Jenis Kolom Absorpsi


Menurut Samsudin (2015) kolom absorpsi pun terdapat beberapa jenis,
diantaranya adalah :
a. Tray Tower
Berbentuk seperti rak-rak yang tersusun. Tiap tray akan terjadi proses
transfer massa. Pemilihan tray tower dipengaruhi oleh kecepatan gas. Efisiensi
pemisahan akan tinggi bila kecepatan gas yang mengalir juga tinggi.
Di dalam Menara Absorber Bertalam atau tray absorber, berlangsung
operasi perpindahan massa secara kontak multi-tahap atau bertahap-jamak

II-4
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas
antara gas dan cairan. Dalam setiap tray atau talam tersebut, cairan atau yang
berperan sebagai absorben dikondisikan ke dalam suatu sistem kontak
intensif dengan gas yang mengandung absorbat atau absorptif sehingga
tercapai keadaan keseimbangan, yang berarti terjadi sau tahap yang ideal pada
talam tersebut. Pada tahap yang ideal tersebut, komposisi rata-rata cairan
yang meninggalkan talam berada dalam kesetimbangan dengan jumlah cairan
yang meninggalkan talam tersebut. Langkah yang terutama dan terpenting
dalam perancangan menara absorber Bertalam adalah penentuan atau
perhitungan jumlah talam atau number of trays. Skematis menara talam
dimaksud disajikan pada gambar II.6 di bawah ini. Cairan masuk dari atas
kolom atau liquid in sedangkan gas diumpankan dari bawah atau Gas in
(Setijo,2015).

Jumlah dari TAHAP Commented [L5]: Fontnya dikecilkan maksimal kotknya


Efisiensi Tahap = lurus sm paragraf
Jumlah dari TAHAP sesungguhnya (nyata)
.……… (Persamaan 1)

Gambar II.2 Skematis Absorber Bertalam-jamak dengan Sistem Aliran Gas dan Cairannya
Parameter-parameter di bawah ini harus diketahui dalam penentuan atau
perhitungan jumlah tahap, yaitu:
1. Laju Gas Umpan atau simbol: Gs.
2. Konsentrasi gas pada masukan inlet, YN +1 dan keluaran outlet, Y1 dari
menara absorpsi.
3. Laju Cairan Minimum atau simbol: Lmin sedangkan Laju Cairan Aktual atau
simbol: Ls dapat ditentukan antara 1,2 – 2 kali dari Lmin.
4. Data Kesetimbangan yang diperlukan untuk konstruksi Kurva Kesetimbangan.
Setelah semua data atau parameter di atas diketahui, maka Jumlah Tahap Teoretis
dapat diperoleh, baik secara grafis ataupun melalui persamaan aljabar (Setijo,2015).

II-5
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas

Gambar II.3 Tray Tower

b. Packed Tower
Dalam tower atau menara ini berisi packing, liquid didistribusi di atas
packing dan mengalir ke bawah membentuk lapisan tipis di permukaan
packing. Kedua fasa, liquid & gas akan teraduk sempurna. Tower/kolom
berpacking ini digunakan bila perpindahan massa dikendalikan oleh kedua
tahanan baik gas maupun liquid.

Gambar II.4 Packed Tower


c. Spray Tower
Cairan masuk dispraykan dan jatuh karena gravitasi, aliran gas naik
berlawanan arah. Nozzle atau lubang spray berfungsi untuk memperkecil
ukuran liquid. Spray Tower digunakan untuk perpindahan massa gas-gas yang
sangat mudah larut dimana tahanan fasa gas yang menjadi kendali dalam
fenomena ini.

II-6
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas

Gambar II.5 Spray Tower

d. Bubble Tower
Bubble Tower pada prinsipnya merupakan kebalikan dari spray tower.
Dalam tower ini gas terdispersi kedalam fasa liquid membentuk gelembung
kecil. Gelembung yang kecil ini menjadikan kontak antar fasa menjadi besar.
Bubble Tower digunakan bila laju perpindahan massa dikendalikan oleh
tahanan fasa gas.

Gambar II.6 Bubble Tower

II.1.9 Absorben
Menurut Redjeki (2013), Absorben atau pelarut adalah cairan yang dapat
melarutkan bahan yang akan diabsorpsi pada permukaannya, baik secara fisik
maupun secara reaksi kimia. Absorben sering juga disebut sebagai cairan pencuci.
Syarat-syarat absorben atau pelarut adalah :
a. Pelarut minimum
b. Volatility yang rendah yaitu meningkatkan recovery reacto dan menurunkan
loses pelarut.
c. Stabil yaitu mengurangi kebutuhan penggantian pelarut
d. Tidak korosif yaitu mengurangi perawatan dan penggunaan alat anti korosi
e. Viskositas rendah yaitu menurunkan pressure drop dan kebutuhan pompa,
menaikkan aliran massa. Commented [L6]: Poin abcdnya lurus angka 9 aja 
f. Tidak berbusa bila berkontak dengan gas yaitu mengurangi ukuran alat.
g. Tidak beracun dan nonflammable atau safety.
h. Kelayakan proses yaitu mengurangi cost, menurunkan kebutuhan untuk
external source.

II-7
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas
II.1.10 Pengolahan Pelarut Dalam Kolom Absorber Commented [L7]: KNP SUBBAB SEBANYAK INI
Menurut Redjeki (2013) proses pengolahan kembali pelarut dalam proses
kolom absorber adalah sebagai berikut :
a. Konfigurasi absorber akan berbeda dan disesuaikan dengan sifat alami dari
pelarut yang digunakan
b. Aspek Thermodynamic (suhu dekomposisi dari pelarut), Volalitas pelarut,dan
aspek kimia atau fisika seperti korosivitas, viskositas, toxisitas, juga termasuk
biaya, semuanya akan diperhitungkan ketika memilih pelarut untuk spesifik
sesuai dengan proses yang akan dilakukan.
c. Ketika volalitas pelarut sangat rendah, contohnya pelarut tidak muncul pada
aliran gas, proses untuk meregenerasinya cukup sederhana yakni dengan
memanaskannya.

II.1.11Neraca Massa Absorbsi


Neraca massa yang berlaku pada kolom absorber adalah sebagai berikut :

Commented [L8]: Ndk keliahatan gambarnya . dibuat


manual di word

Gambar II.7 Skema neraca massa pada kolom isian

Neraca massa umum :

L out x out + G out y out = L in x in + G in y in


……..(Persamaan 2)

Dimana :
G in = Laju alir molar inlet gas
G out = Laju alir molar outlet gas
L in = Laju alir molar inlet liquid
L out = Laju alir molar outlet liquid
x = Fraksi mol gas terlarut dalam liquid murni
y = Fraksi mol gas terlarut dalam inert gas

II-8
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas

II.2 Jurnal Aplikasi Industri


Proses Absorpsi Gas CO2 di Departemen Produksi I PT PETROKIMIA GRESIK
Emmaza Kharisma dan Enggustira Alfebrian
2013
Proses penyerapan CO2 dikerjakan di absorber dengan melewatkan gas pada
larutan benfield. Gas CO2 harus dihilangkan untuk mencegah pencemaran katalis
converter. Pemisahan sejumlah besar CO2 dari raw synthesis gas dilakukan dengan
absorpsi secara counter current dengan larutan benfield. Larutan benfield adalah
larutan yang terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut: potassium karbonat
25-30% berat, diethanolamine 3-5% berat, corrossion inhibitor (vanadium pentaoxide)
0,5-0,6% berat dan air sebagai pelarut. Proses penyerapan CO2 dikerjakan di
absorber, DEA menyerap sisa CO2 mengatur target operasi 0,06-0,1% CO2 pada gas
II-9
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019
Laboratorium
Peralatan Perpindahan Massa dan Panas
yang keluar di CO2 absorber. V2O5 membentuk lapisan pelindung pada dinding dalam
absorber dan dapat menurunkan korosi pada pipa-pipa, vessel-vessel dan pompa-
pompa. Gas masuk CO2 absorber lalu naik keatas melewati dua bed terbawah. Gas
tersebut kontak dengan larutan semi lean benfield yang sudah teregenerasi sebagian,
dan pada kontak pertama ini sebagian besar CO2 terserap oleh larutan. Aliran gas
yang sebagian besar CO2 sudah terserap akan terus naik ke atas melalui bed paling
atas dan disini terjadi kontak dengan larutan lean solution benfield yang turun
kebawah. Pada kontak kedua ini sebagian besar CO2 sisa terserap, dan gas keluar CO2
absorber pada 70oC dan masuk ke absorber KO Drum. Larutan dikeluarkan dari KO
Drum secara blow down manual dan dikirim ke tangki pengumpulan dan dijadikan
chemical waste. Setelah terjadi kontak dengan raw synthesis gas CO2 absorber maka
larutan benfield yang kaya CO2 tersebut terkumpul dibagian bottom CO2 absorber.
Temperatur rich solution benfield pada bottom CO2 absorber diharapkan 116oC.
Larutan tersebut lalu ditarik dan dilewatkan kedalam hydraulic turbine dimana
larutan yang kaya CO2 itu diregenerasi sebagian oleh ekspansi tekanan yang lebih
rendah. Kemudian larutan yang kaya CO2 dialirkan kedalam stripper feed flash drum
untuk menghilangkan CH4, H2, dan hidrokarbon lainnya. Gas-gas yang diserap
tersebut mengalir kedalam fuel gas system.
CO2 absorber adalah tower yang berpacking dengan tiga bed metallic packing
dari carbon steel dan stainless steel yang digunakan untuk memberikan kontak
dengan baik antara raw synthesis gas dengan larutan benfield. Dibagian atas terdapat
sparger dari lean solution benfield, diantara top bed dan middle bed terdapat sparger
untuk semi lean solution benfiled, sedangkan sparger dari gas inlet terletak dibagian
bawah bed bottom. Terdapat demister pad pada bagian atas absorber yang
dipergunakan untuk menangkap butiran air yang terikut gas keluar tower. KO Drum
berfungsi untuk memisahkan larutan benfield yang terikut aliran gas.
Hasil keluaran raw synthesis gas yang menuju KO Drum tadi mempunyai
komposisi sebagai berikut: H2 = 73,59%, N2 = 25,30%, CO = 0,37%, CO2 = 0,06%, CH4
= 0,36%, Ar = 0,32%. Hasil dari proses absorpsi adalah larutan yang kaya CO 2 atau
larutan rich solution Benfield yang tidak terdapat atau tidak mengandung gas-gas
seperti CH4, H2, dan hidrokarbon lainnya. Lalu, tahap selanjutnya adalah larutan yang
kaya CO2 atau rich solution Benfield masuk ke CO2 stripper dengan temperatur 1070C.

II-10
Departemen Teknik Kimia Industri
FV- ITS 2019