Anda di halaman 1dari 125

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG GIZI DENGAN

STATUS GIZI REMAJA DI SMAN 6 TANGERANG SELATAN

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat


untuk memperoleh gelar
Sarjana Keperawatan

Oleh:

EKA SEPTIANTI

11151016

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA

TAHUN 2019
SKRIPSI

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI


REMAJA DI SMAN 6 TANGERANG SELATAN

Dibuat untuk memenuhi persyaratan penyelesaian


tugas akhir pada Program Studi S1 Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Oleh:

EKA SEPTIANTI

11151016

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA

TAHUN 2019
LEMBAR PERSETUJUAN

Penelitian dengan judul:

Hubungan Pengetahuan Tentang Gizi dengan Status Gizi Remaja Di SMAN 6


Tangerang Selatan

Laporan hasil penelitian ini telah diperiksa, disetujui

dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji

Program Studi S1 Keperawatan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA

Jakarta, Februari 2019

Menyetujui,
Pembimbing Skripsi,

(Muhammad Ali, SKM, M.Kep)

Mengetahui,

Kepala Prodi S1 Keperawatan

(Wasijati, S.Kp, M.Si., M.Kep)

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan hasil penelitian ini dengan judul “Hubungan Pengetahuan Tentang Gizi
dengan Status Gizi Remaja Di SMAN 6 Tangerang Selatan” telah diujikan dan
dinyatakan dapat dilanjutkan pada tahap sidang skripsi dalam uji sidang dihadapan
tim penguji pada tanggal Februari 2019

Pembimbing Skripsi

(Muhammad Ali, SKM, M.Kep)

Penguji I

(Ns. Hanik Rohmah I, M.Kep, Sp.Mat)

Penguji II

(Widiyo Weni Wigati, SKM, MARS)

ii
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA
PROGRAM S1 KEPERAWATAN

Riset, Januari 2019

EKA SEPTIANTI

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI


REMAJA DI SMAN 6 TANGERANG SELATAN TAHUN 2019

VII + 72 Halaman + 12 Tabel + 2 Skema + 10 Lampiran

ABSTRAK

Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat gizi. Status gizi dibedakan menjadi status gizi kurang, status gizi
normal, dan status gizi lebih. Kekurangan dan kelebihan gizi dapat berdampak buruk
terhadap kesehatan dan kualitas hidup manusia. Oleh karena itu, dalam mengatasi
masalah gizi diperlukan pemahaman dalam memilih makanan yang baik untuk
dikonsumsi. Pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dalam
pemilihan makanan yang berpengaruh pada keadaan gizi individu. Semakin tinggi
pengetahuan gizi seseorang diharapkan semakin baik pula keadaan gizinya. Desain
penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional. Instrument penelitian ini menggunakan kuesioner, timbangan dan stature
meter. Jumlah populasi 368 orang dan jumlah sampel 87 orang. Pengambilan sampel
menggunakan Proporsionate stratisfied random sampling dan menggunakan uji
statistik Chi-Square. Hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan yang signifikan
antara pengetahuan tentang gizi dengan status gizi remaja (P value = 0,005 < α 0,05).
Hasil penelitian ini disarankan bagi perawat komunitas untuk memberikan
pendidikan tentang gizi.

Kata Kunci: Status Gizi, Pengetahuan Tentang Gizi, Remaja

Daftar Pustaka 72 (2007-2018)

iii
SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :

Nama : Eka Septianti

NIM : 11151016

Mahasiswa S1 Keperawatan / Angkatan : S1 Keperawatan Reguler / VIII

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan kegiatan plagiat dalam penulisan Laporan
Penelitian Mata Ajar Riset Keperawatan saya yang berjudul :

“HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI


REMAJA DI SMAN 6 TANGERANG SELATAN”

Apabila suatu saat nanti terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan
menerima sangsi yang telah di tetapkan.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Jakarta, Februari 2019

Yang Membuat Pernyataan

Materai 6000

( Eka Septianti )

iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA (STIKes


PERTAMEDIKA), saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Eka Septianti
NPM : 11151016
Program Studi : S1 Keperawatan
Institusi : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA
Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA Hak Bebas Royalti Noneksklusif
(Non-Exclusive Royalty Free Right) atas Skripsi saya yang berjudul:
“HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI
REMAJA DI SMAN 6 TANGERANG SELATAN”
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklusif STIKes PERTAMEDIKA berhak menyimpan, mengalih
media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (Database), merawat dan
memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Jakarta
Pada tanggal : Februari 2019
Yang Menyatakan,

Eka Septianti

v
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah
melimpahkan Rahmat dan Karunianya sehingga peneliti dapat menyelesaikan
penelitian yang berjudul “Hubungan Pengetahuan Tentang Gizi dengan Status Gizi
Remaja Di SMAN 6 Tangerang Selatan”.

Penelitian ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir mata ajar Skripsi pada
Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA.
Peneliti menyadari banyak pihak yang turut membantu sejak awal penyusunan
sampai selesainya penelitian ini. Pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan
ucapan terima kasih kepada

1. Dr. Dany Amrul Ichdan, SE, MSc selaku Direktur Utama PERTAMEDIKA/IHC
dan Pembina Yayasan Pendidikan PERTAMEDIKA
2. Asep Saefudin, SH, MM, CHRP, CHRA, M.Kes selaku Ketua Pengurus
Yayasan Pendidikan PERTAMEDIKA
3. Muhammad Ali, SKM, M.Kep selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
PERTAMEDIKA
4. Dr. Lenny Rosbi Rimbun, S.Kp., M.Si., M.Kep, selaku Wakil Ketua I Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA
5. Sri Sumartini, SE, MM, selaku Wakil Ketua II Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
PERTAMEDIKA
6. Maryati, S.Sos., MARS, selaku Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
PERTAMEDIKA
7. Wasijati, S.Kp, M.Si., M.Kep selaku Kepala Program Studi S1 Keperawatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA
8. Muhammad Ali, SKM, M.Kep selaku Pembimbing Skripsi dan Penguji I yang
dengan kesabaran dan kebaikkannya telah membimbing penulis selama proses
penelitian ini.
9. Ns. Hanik Rohmah II, M.Kep, Sp.Mat. selaku penguji I sidang hasil akhir yang
telah bersedia menjadi penguji.

vi
10. Widiyo Weni Wigati, SKM, MARS. selaku penguji III sidang hasil akhir yang
telah bersedia menjadi penguji.
11. Ns. Dewi Susanti, S.Kep selaku Pembimbing Akademik yang selalu mensupport
peneliti selama proses penelitian
12. Kepala Sekolah SMAN 6 Tangerang Selatan yang telah mengizinkan saya
melakukan penelitian ini di SMAN 6 Tangerang Selatan.
13. Orang tua, Adik, Nenek, dan Kakek saya yang selalu mendukung dan
mendoakan saya dalam melakukan penelitian ini, sehingga proses penelitian ini
dapat selesai sesuai dengan waktunya
14. Teman teman angkatan VIII Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan PERTAMEDIKA
15. Terimakasih kepada sahabat tercinta Rizky Asy Syahid, Feni Setyowati, Vira
Nabilla, Fitria Widiastuti, Dewi Oktaviani, Chandra Ayu Wijaya, dan Risha
Indah Dewi yang telah mendukung penulis selama penelitian.
16. Terimakasih kepada Cabe Squad 21++ tersayang Dewi Nawang, Ela Rosiana,
Martha Carolins, Dewi Anggraeni, Ayu Fajarningsih, Larasati Kusuma D, Hana
Hairunnisa, Tiara Azizah, dan Sarah Nurul P yang selalu ada, selalu mendukung
dan membantu penulis selama penelitian.
17. Teman-teman satu kelompok skripsi Ade Indriani, Anindhya Indah C, dan
Aryani Anggraeni yang sama-sama berjuang, mensupport dan memberikan
bantuannya dalam melakukan penelitian ini, sehingga laporan penelitian ini
dapat selesai sesuai dengan waktunya.
18. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang turut
berpartisipasi sehingga selesainya penelitian ini
Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan penelitian ini banyak sekali
kekurangannya, sehingga saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan
demi perbaikan penulisan dan penyusunan hasil penelitian dimasa mendatang.

Jakarta, Februari 2019

Peneliti

vii
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN.......................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................................... ii

ABSTRAK .................................................................................................................. iii

SURAT PERNYATAAN............................................................................................ iv

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR


UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS .................................................................... v

KATA PENGANTAR ................................................................................................ vi

DAFTAR ISI ............................................................................................................... ix

DAFTAR TABEL ....................................................................................................... xi

DAFTAR SKEMA ..................................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. xiii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 6

C. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori dan Konsep Terkait.................................................................................. 8

B. Penelitian Terkait ............................................................................................ 37

C. Kerangka Teori................................................................................................ 40

BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep ............................................................................................ 41

B. Hipotesis.......................................................................................................... 42

C. Definisi Operasional........................................................................................ 43

BAB IV METODE PENELITIAN

ix
A. Desain Penelitian ............................................................................................. 47

B. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ....................................... 47

C. Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................................... 50

D. Etika Penelitian ............................................................................................... 51

E. Alat Pengumpulan Data/Instrumen Penelitian ................................................ 52

F. Prosedur Pengumpulan Data ........................................................................... 56

G. Teknik Pengolahan Data ................................................................................. 57

H. Analisa Data .................................................................................................... 58

BAB V HASIL PENELITIAN

A. Hasil Univariat ................................................................................................ 61

B. Hasil Bivariat .................................................................................................. 64

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Interprestasi dan Diskusi Hasil........................................................................ 65

B. Keterbatasan Peneliti ....................................................................................... 71

BAB VII PENUTUP

A. Simpulan ......................................................................................................... 72

B. Saran ................................................................................................................ 72

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

xi
DAFTAR SKEMA

xii
DAFTAR LAMPIRAN

xiii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pembangunan yang sedang di galakkan pemerintah bertjuan untuk
membangun manusia seutuhnya dan membangun masyarakat Indonesia
seluruhnya sehingga bangsa Indonesia menjadi subjek dan objek
pembangunan. Membangun manusia seutuhnya berarti menjamin adanya
peningkatan taraf hidup rakyat dari seluruh lapisan masyarakat dan golongan.
Peningkatan taraf hidup tersebut tercermin dari pemenuhan kebutuhan pokok,
yaitu pangan, sandang, pemukiman, kesehatan dan pendidikan. Kemajuan
usaha pemenuhan kebutuhan pokok merupakan tolak ukur pencapaian
pembangunan. Keadaan gizi masyarakat menjadi cerminan kualitatif dari
pemenuhan kebutuhan pokok akan pangan (Cakrawati, 2012).

Saat ini, kondisi gizi dunia menunjukkan dua kondisi yang ekstrem. Mulai
dari kelaparan sampai pola makan yang mengikuti gaya hidup yang rendah
serat dan tinggi kalori, serta kondisi kurus dan pendek sampai kegemukan.
Hal ini akan menghambat laju pembangunan, karena status gizi suatu
masyarakat berperan penting terhadap kualitas sumber daya manusia, dan
daya saing bangsa (Cakrawati, 2012).

Laporan Unicef pada tahun 2012 menunjukkan bahwa di 11 dari 64 negara,


lebih dari seperempat gadis remaja memiliki berat badan kurang, dan di 21
dari 41 negara, lebih dari sepertiga gadis remaja mengalami anemia. Selain
itu permasalahan tidak hanya terletak pada masalah gizi kurang, kelebihan
gizi juga dapat mengganggu perkembangan remaja. Berdasarkan data yang di
peroleh dari WHO jumlah anak-anak dan remaja yang kegemukan (usia lima
hingga 19 tahun) di seluruh dunia telah meningkat sepuluh kali lipat dalam
empat dekade terakhir. Tingkat obesitas pada anak-anak dan remaja dunia
meningkat dari kurang dari 1% (setara dengan lima juta anak perempuan dan

1
2

enam juta anak laki-laki) pada tahun 1975 menjadi hampir 6% pada anak
perempuan (50 juta) dan hampir 8% pada anak laki-laki (74 juta) pada tahun
2016. Jika digabungkan, jumlah orang berusia lima hingga 19 tahun yang
kegemukan meningkat lebih dari sepuluh kali lipat secara global, dari 11 juta
pada tahun 1975 menjadi 124 juta pada tahun 2016. Angka ini meningkat
menjadi 213 juta kelebihan berat badan pada tahun 2016 tetapi turun di
bawah ambang batas untuk obesitas.

Masalah gizi merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Kekurangan gizi


belum dapat diselesaikan, prevalensi masalah gizi lebih dan obesitas mulai
meningkat, khususnya pada kelompok sosial ekonomi menengah ke atas di
perkotaan. Saat ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda. Hal ini sangat
merisaukan karena mengancam kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang
sangat diperlukan dimasa mendatang (Depkes RI, 2010). Masalah gizi ganda
(double malnutrition), yaitu masalah gizi kurang yang mengakibatkan anak-
anak stunting atau pendek dan kurus; dan gizi lebih yang meningkatkan risiko
penyebab terjadinya PTM (Penyakit Tidak Menular). Celakanya, berdasarkan
data Kementerian Kesehatan 2015, PTM semakin meningkat yaitu sekitar 57
persen.

Data hasil RISKESDAS 2013 (Kemenkes 2014) menunjukkan rata-rata


kecukupan konsumsi energi penduduk umur 13-15 tahun (usia pra remaja)
sebanyak 54.5% mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan yang
mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal sebanyak 38.1%. Rata-
rata kecukupan konsumsi energi penduduk umur 16-18 tahun (usia remaja)
sebanyak 54.5%% di bawah kebutuhan minimal dan kecukupan konsumsi
protein di bawah kebutuhan minimal sebanyak 35.6%. Berdasarkan data dari
buku saku pemantauan status gizi tahun 2017, status gizi remaja puteri usia
12-18 tahun berdasarkan IMT/U di Indonesia tingkat provinsi tahun 2017,
Provinsi Banten mencapai: sangat kurus (1,5%), kurus (3,7%), normal
(70,9%), gemuk (20,9%) dan obesitas (3,0%). Sedangkan berdasarkan indeks
3

TB/U remaja puteri di Indonesia 2017, tepatnya di Provinsi Banten mencapai:


pendek (28,0%) dan sangat pendek (8,2%).
Menurut WHO, definisi remaja adalah suatu masa dimana individu
berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat ini ia mencapai kematangan seksual, individu
mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak kanak
menjadi dewasa, terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang
penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Sarwono, 2011). Remaja
mengalami banyak perubahan baik secara emosi, tubuh, minat, pola perilaku
dan juga penuh dengan masalah-masalah pada masa remaja (Hurlock, 2011).
Remaja menghadapi banyak permasalahan negatif mengenai kesehatan dan
gizi mereka karena remaja termasuk kelompok yang rentan mengalami
permasalahan gizi, terutama remaja putri.

Usia remaja, yaitu 10-18 tahun, merupakan tahap tumbuh kembang yang luar
biasa secara fisiologis, psikologis, dan sosial. Kemudian di usia remaja
merupakan periode rentang gizi karena berbagai sebab. Pertama, remaja
memerluan zat gizi yang lebih tinggi karena peningkatan pertumbuhan fisik
dan perkembangan yang dramatis itu. Kedua, perubahan gaya hidup dan
kebiasaan makan remaja mempengaruhi baik asupan maupun kebutuhan
gizinya. Ketiga, remaja yang mempunyai kebutuhan gizi khusus, yaitu remaja
yang aktif dalam kegiatan olah raga, menderita penyakit kronis, sedang
hamil, melakukan diet secara berlebihan, pecandu alkohol atau obat terlarang
(Almatsier, 2012).

Kelompok ini merupakan usia peralihan dari remaja ke dewasa, kelompok ini
umumnya berada di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.
Periode ini merupakan periode kritis dalam pertumbuhan fisik, psikis dan
perilakunya. Banyak kondisi fisik yang mengalami perubahan dalam menuju
kematangannya. Mereka telah survive dari penyakit dimasa anak-anak dan
masalah kesehatan yang dialami saat ini lebih berkaitan dengan proses menua
jauh di masa depan (Gizi dalam Daur Kehidupan, 2017).
4

Ketua Umum Persagi Pangan Indonesia, Hardinsyah, mengemukakan baik


masyarakat mampu maupun tidak mampu di Indonesia memiliki pengetahuan
tentang gizi seimbang yang masih kurang. Sehingga saat pemenuhan gizi
seimbang tak tercapai, masyarakat yang mampu juga bisa mengalami
kekurangan ataupun kelebihan gizi (Windhi, 2016). Hal ini menunjukan
betapa pentingnya pengetahuan tentang gizi yang harus dimiliki setiap
individu.

Pengetahuan gizi adalah kemampuan seseorang untuk mengingat kembali


kandungan gizi makanan serta kegunaan zat gizi tersebut dalam tubuh.
Pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam
pemilihan makanan yang akhirnya akan berpengaruh pada keadaan gizi
individu. Semakin tinggi pengetahuan gizi seseorang diharapkan semakin
baik pula keadaan gizinya (KEMENKES RI, 2013).

Zat gizi (nutrien) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan
memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan. Makanan
setelah dikonsumsi mengalami proses pencernaan. Bahan makanan diuraikan
menjadi zat gizi atau nutrien. Zat tersebut selanjutnya diserap melalui dinding
usus dan masuk kedalam cairan tubuh (Almatsier, 2012). Semua zat gizi yang
masuk ke tubuh akan menentukan status gizi seseorang.

Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat gizi. Apabila zat gizi dikonsumsi dalam jumlah yang cukup
maka kesehatan dapat terjaga, mampu melakukan aktivitas fisik dengan
optimal, dan membantu mencegah terjadinya penyakit. Sebaliknya bila zat
gizi dikonsumsi dalam jumlah terlalu banyak atau sedikit, maka tubuh akan
beradaptasi untuk mencapai keadaan homeostatik sehingga fungsi fisiologis
dapat terganggu. Status gizi dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu status gizi
kurang, status gizi normal, dan status gizi lebih (Almatsier, 2010). Penentuan
5

status gizi remaja dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya
dengan menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT).

Indeks massa tubuh menurut Umur (IMT/U) adalah nilai yang diambil dari
perhitungan antara berat badan (BB), tinggi badan (TB) dan umur seseorang
(Supariasa, 2012). Menurut Kemenkes RI (2010) dalam Kurniawati (2017)
mengatakan IMT direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk
menentukan status gizi remaja, BB dan TB dapat digunakan untuk menilai
status gizi dengan IMT yang terkait dengan umurnya, karena dengan
perubahan umur terjadi perubahan komposisi tubuh. Adriyani (2012)
membuktikan status gizi berdasarkan indikator IMT/U lebih dipengaruhi oleh
ketersediaan pangan yang baik bagi kesehatan dalam keluarga dan kondisi
fisik remaja yang tidak menderita sakit, serta dipengaruhi oleh asupan zat gizi
(karbohidrat, lemak dan protein). Karbohidrat, lemak dan protein merupakan
zat gizi yang mengandung energi terbesar bagi tubuh dengan asupan gizi
seimbang akan membantu memelihara status gizi yang normal.

Secara garis besar, remaja putra membutuhkan lebih banyak energi daripada
remaja putri. Pada usia 16 tahun remaja putra membutuhkan sekitar 3.470
kkal perhari, dan menurun menjadi 2.900 pada usia 16-19 tahun. Kebutuhan
remaja putri memuncak pada usia 12 tahun (2.550 kkal), kemudian menurun
menjadi 2.200 kkal pada usia 18 tahun (Arisman, 2009). Masalah gizi yang
terjadi pada remaja karena kebutuhan energi tidak terpenuhi dapat
menyebabkan Kurang Energi Kronis (KEK) / Kurus, selain itu dampak yang
terjadi karena status gizi yang buruk pada remaja umumnya dapat
mengakibatkan anemia, obesitas dan stunting.

Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Adelina (2016) dengan judul
“Hubungan Citra Tubuh, Aktivitas Fisik, dan Pengetahuan Gizi Seimbang
dengan Status Gizi Remaja Putri di SMK Adhikawacana Surabaya” dengan
nilai p value = 0,000 < α(0,05). Pada remaja responden dengan pengetahuan
gizi seimbang yang cukup sebanyak 19 responden dan responden dengan
6

pengetahuan gizi seimbang yang masih kurang sebanyak 15 responden. Hal


ini menunjukan masih ada remaja yang kurang atau bahkan tidak mengetahui
bagaimana asupan gizi yang baik untuk pemenuhan kebutuhan tubuh.

Gizi yang baik sangat bagus dalam membantu pertumbuhan dan


perkembangan remaja. Gizi yang baik juga sangat dibutuhkan untuk
menunjang remaja dalam beraktivitas. Di jaman modern saat ini banyak
sekali restoran fast food yang menjadi tempat nongkrong anak remaja dan
pemilihan makanan yang sembarangan dengan pemikiran “asal kenyang”
dapat mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan remaja.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Oktober


melalui pengukuran dan wawancara pada 15 orang remaja di SMAN 6
Tangerang Selatan didapatkan data terdapat 6 remaja dengan status gizi
kurus, 1 remaja sangat kurus, 2 remaja obesitas dan 6 remaja dengan status
gizi normal. Setelah ditanya mengenai gizi yang baik, 7 dari mereka telah
memahami dan 8 kurang memahami tentang gizi yang baik.

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan


penelitian dengan judul “Hubungan Pengetahuan Tentang Gizi Dengan Status
Gizi Remaja di SMAN 6 Tangerang Selatan”

B. Rumusan Masalah
Pengetahuan gizi adalah kemampuan seseorang untuk mengingat kembali
kandungan gizi makanan serta kegunaan zat gizi tersebut dalam tubuh.
Semakin tinggi pengetahuan gizi seseorang diharapkan semakin baik pula
keadaan gizinya (KEMENKES RI, 2013). Status gizi dibedakan menjadi tiga
kategori, yaitu status gizi kurang, status gizi normal, dan status gizi lebih
(Almatsier, 2010).
7

Berdasarkan data dari buku saku pemantauan status gizi tahun 2017, status
gizi remaja puteri usia 12-18 tahun berdasarkan IMT/U di Indonesia tingkat
provinsi tahun 2017, Provinsi Banten mencapai: sangat kurus (1,5%), kurus
(3,7%), normal (70,9%), gemuk (20,9%) dan obesitas (3,0%).

Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada 15 orang remaja di SMAN
6 Tangerang Selatan didapatkan data terdapat 9 remaja memiliki masalah gizi
dan 6 remaja dengan status gizi normal. Setelah ditanya mengenai gizi yang
baik, 7 dari mereka telah memahami dan 8 kurang memahami tentang gizi
yang baik.

Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan masalah dari penelitian adalah


“Apakah terdapat Hubungan Pengetahuan Tentang Gizi Dengan Status Gizi
Remaja di SMAN 6 Tangerang Selatan?”

C. Tujuan Penelitian
Tujuan umum dan tujuan khusus dari penelitian ini yaitu :

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang gizi dengan
status gizi remaja di SMAN 6 Tangerang Selatan tahun 2018.

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik responden (Usia, Jenis Kelamin dan
Aktivitas)
b. Mengetahui status gizi melalui pengukuran IMT/U responden di
SMAN 6 Tangerang Selatan
c. Mengetahui pengetahuan responden mengenai gizi di SMAN 6
Tangerang Selatan
d. Mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi dengan status gizi
remaja di SMAN 6 Tangerang Selatan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori dan Konsep Terkait


1. Konsep Status Gizi
a. Pengertian Status Gizi
Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat gizi. Apabila zat gizi dikonsumsi
dalam jumlah yang cukup maka kesehatan dapat terjaga, mampu
melakukan aktivitas fisik dengan optimal, dan membantu mencegah
terjadinya penyakit. Sebaliknya bila zat gizi dikonsumsi dalam
jumlah terlalu banyak atau sedikit, maka tubuh akan beradaptasi
untuk mencapai keadaan homeostatik sehingga fungsi fisiologis
dapat terganggu (Waloya, 2013).

Status gizi adalah keadaan kesehatan yang berhubungan dengan


penggunaan makanan oleh tubuh. Status gizi dibedakan menjadi tiga
kategori, yaitu status gizi kurang, status gizi normal, dan status gizi
lebih (Almatsier, 2010).

b. Klasifikasi Status Gizi


Status gizi remaja menurut Cakrawati (2012) dibagi menjadi tiga
kelompok, yaitu gizi baik, gizi kurang, dan gizi lebih.
1) Gizi baik apabila asupan gzi seimbang dengan kebutuhan
gizinya.
2) Gizi kurang merupakan keadaan tidak sehat (patologis) yang
timbul karena tidak cukup makan atau konsumsi energi dan
protein kurang selama jangka waktu tertentu.

8
9

3) Gizi lebih merupakan keadaan patologis (tidak sehat) yang


disebabkan kebanyakan makan. Kegemukan (obesitas)
merupakan tanda pertama yang dapat dilihat dari keadaan gizi
lebih.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Remaja


Berbagai faktor yang memicu terjadinya masalah gizi pada usia
remaja antara lain adalah:
1) Kebiasaan makan yang buruk
Kebiasaan makan yang buruk yang berpangkal pada kebiasaan
makan keluarga yang juga tidak baik sudah tertanam sejak kecil
akan terus terjadi pada usia remaja. Mereka makan seadanya
tanpa mengetahui kebutuhan akan berbagai zat gizi dan dampak
tidak dipenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut terhadap kesehatan
mereka (Amelia, 2008).
2) Pemahaman gizi yang keliru
Tubuh yang langsing sering menjadi idaman bagi para remaja
terutama wanita remaja. Hal itu sering menjadi penyebab
masalah, karena untuk memelihara kelangsingan tubuh mereka
menerapkan pengaturan pembatasan makanan secara keliru,
sehingga kebutuhan gizi mereka tak terpenuhi. Hanya makan
sekali sehari atau makan makanan seadanya, tidak makan nasi
merupakan penerapan prinsip pemeliharaan gizi yang keliru dan
mendorong terjadinya gangguan gizi (Bani, 2010).
3) Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu
Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu saja
menyebabkan kebutuhan gizi tak terpenuhi. Keadaan seperti itu
biasanya terkait dengan “mode” yang tengah marak dikalangan
remaja. Ditahun 1960 an misalnya remaja-remaja di Amerika
Serikat sangat menggandrungi makanan berupa hotdog dan
minuman coca-cola. Kebiasaan ini kemudian menjalar ke remaja-
10

remaja diberbagai negara lain termasuk di Indonesia (Destayanti,


2011).
4) Promosi yang berlebihan melalui media massa
Usia remaja merupakan usia dimana mereka sangat tertarik pada
hal-hal baru. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh pengusaha
makanan untuk mempromosikan produk mereka dengan cara
yang sangat mempengaruhi remaja. Padahal, produk makanan
tersebut bukanlah makanan yang sehat bila dikonsumsi dalam
jumlah yang berlebihan (Hidayati, 2010). Hidayati (2010) juga
menyatakan bahwa masuknya produk-produk makanan baru yang
berasal dari negara lain secara bebas mempengaruhi kebiasaan
makan para remaja. Jenis-jenis makanan siap santap (fast food)
yang berasal dari negara barat seperti hotdog, pizza, hamburger,
fried chicken dan french fries, berbagai jenis makanan berupa
junk food sering dianggap sebagai lambang kehidupan modern
oleh para remaja. Padahal berbagai jenis fast food tersebut
mengandung kadar lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi
disamping kadar garam. Zat-zat gizi itu memicu terjadinya
berbagai penyakit kardiovaskuler pada usia muda.
5) Konsumsi makanan
Pada dasarnya intake makanan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan
faktor yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, dapat
berupa emosi/kejiwaan yang memiliki sifat kebiasaan. Sementara
itu, faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar manusia,
seperti ketersediaan bahan pangan yang ada dialam sekitar serta
kondisi sosial ekonomi yang mempengaruhi tingkat daya beli
manusia terhadap bahan pangan (Ipa, 2010)
6) Pendidikan dan pengetahuan
Masalah gizi dapat timbul karena ketidaktahuan atau kurang
informasi tentang gizi yang memadai. Pendidikan sangat
11

diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah


gizi (Imtihanti, 2012).
7) Sosial ekonomi
Faktor yang berpengaruh dalam menentukan status kesehatan
seseorang adalah tingkat sosial ekonomi, dalam hal ini adalah
daya beli keluarga. Keluarga dengan pendapatan terbatas
kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan zat
gizi dalam tubuhnya. Pendapatan merupakan faktor yang paling
menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak
pendapatan berarti semakin baik makanan yang diperoleh (Hadi,
2010).
8) Aktifitas fisik
Aktifitas fisik atau disebut juga aktifitas eksternal adalah sesuatu
yang menggunakan tenaga atau energi untuk melakukan berbagai
kegiatan fisik, seperti berjalan, berlari, berolahraga, dan lain-lain.
Setiap kegiatan fisik membutuhkan energi yang berbeda menurut
lamanya intensitas dan sifat kerja otot. Latihan fisik dapat
meningkatkan kemampuan fungsional kardiovaskular dan
menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung yang diperlukan
pada setiap penurunan aktifitas fisik seseorang (Huriyati, 2009).
9) Jenis Kelamin
Menurut Dr Marudut, MPS dari Bidang Penelitian dan
Pengembangan Gizi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI),
(2017) kebutuhan gizi anak laki-laki dan perempuan menjelang
remaja berbeda karena terkait usia dan ukuran tubuh. Anak laki-
laki memiliki kebutuhan gizi yang lebih besar dibandingkan anak
perempuan. Karena anak laki-laki memiliki postur tubuh yang
lebih besar dan metabolisme yang lebih tinggi dibandingan
dengan anak perempuan.
12

d. Penilaian Status Gizi


Penentuan status gizi remaja dapat dilakukan dengan beberapa cara
salah satunya dengan menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT).
Pengukuran ini cocok untuk remaja karena remaja masih dalam
masa pertumbuhan (Almatsier, 2010).
1) Pengukuran Antropometri
Menurut Supriasa (2012) antropometri adalah ukuran tubuh
manusia. Antropometri dalam gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
tubuh dari berbagai macam tingkat umur dan tingkat gizi.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri
Penilaian Status Gizi Remaja, diketahui bahwa penilaian status
gizi remaja didasarkan pada Indeks IMT/U (Kemenkes, 2010).
2) Parameter Antropometri
Parameter antrorpometri merupakan dasar dari penilaian status
gizi. Penilaian status gizi pada remaja dapat dilakukan secara
antropometri dengan menggunakan indeks BB/TB2 yang
dikenal dengan Indeks Massa Tubuh menurut umur (BMI for
age) yang kemudian dinilai dengan ambang batas (Z-score)
(Kemenkes, 2011).
Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:
IMT = Berat Badan (kg)
Tinggi Badan (m2)
IMT menurut umur ini telah direkomendasikan sebagai dasar
indikator antropometri terbaik untuk remaja yang kurus dan
gemuk. Indeks IMT menurut umur ini memiliki kelebihan yaitu
tidak memerlukan informasi tentang usia kronologis karena
bagaimanapun indeks BB/TB akan berubah sesuai perubahan
umur. Indikator ini juga telah divalidasi sebagai indikator lemak
tubuh total dan memberikan data dengan kualitas yang tinggi
13

dan berkesinambungan dengan indikator yang


direkomendasikan untuk dewasa (Kemenkes, 2011).
Tabel 2.1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Usia 5 -18
Tahun
Indeks Kategori Status Gizi Ambang Batas (Z-Score)

Indeks Massa Sangat Kurus < -3 SD

Tubuh Menurut Kurus -3 SD sampai dengan < -2 SD

Umur (IMT/U) Normal -2 SD sampai dengan 1 SD

Anak Usia 5-18 Gemuk >1 SD sampai dengan 2 SD

Tahun Obesitas >2 SD

Sumber: Kemenkes RI, 2011

2. Konsep Remaja
a. Pengertian Remaja
Menurut WHO yang dikutip Sarwono (2011), definisi remaja adalah
suatu masa dimana, individu berkembang dari saat pertama kali ia
menunjukkan tandatanda seksual sekundernya sampai saat ini ia
mencapai kematangan seksual, individu mengalami perkembangan
psikologis dan pola identifikasi dari kanakkanak menjadi dewasa,
terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh
kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak


dan masa dewasa yang dimulai pada saat terjadinya kematangan
seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun,
yaitu menjelang masa dewasa muda. Pada masa ini terjadi kecepatan
pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial
(Soetjiningsih, 2010).
14

Remaja mengalami perubahan banyak perubahan baik secara emosi,


tubuh, minat, pola perilaku dan juga penuh dengan masalah-masalah
pada masa remaja (Hurlock, 2011).

b. Ciri- ciri Remaja


Berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja sangat perlu menganl
perkembangan remaja serta cirri-cirinya. Berdasarkan sifat atau cirri
perkembangannya, masa (tentang waktu) remaja ada tiga tahap, yaitu:
1) Masa Remaja awal (10-12) ditandai dengan tampak dan memang
merasa lebih dekat dengan teman awalnya, tampak dan merasa
ingin bebas, tampak dan memang lebih banyak memperhatikan
keadaan tubuhnya dan mulai berpikir yang dikhayalkan.
2) Masa Remaja tengah (16-19 tahun) ditandai dengan tampak dan
merasa ingin mencari identias diri, ada keinginan untuk berkencan
atau ketertarikan pada lawan jenis, timbul perasaan cinta yang
mendalam, kemampuan berpikir (berkhayal), makin berkembang,
berkhayan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual.
3) Masa Remaja Akhir (16-19 tahun) ditandai dengan nampak disaat
pengungkapan kebebasan diri.

c. Aspek-Aspek Perkembangan Remaja


1) Perkembangan Fisik
Dalam perkembangan remaja, perubahan yang tampak jelas
adalah perubahan fisik. Tubuh berkembang pesat sehingga
mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai dengan
berkembangnya kapasitas reproduktif. Dalam perkembangan
seksualitas remaja, ditandai dengan ciri-ciri seks primer dan ciri-
ciri seks sekunder.
a) Hormon-hormon seksual
Dalam perkembangan hormon – hormon seksual remaja,
ditandai dengan ciri-ciri yaitu ciri-ciri seks rpimer dan
sekunder.
15

(1) Ciri-Ciri Seks Primer


Pada masa remaja primer ditandai dengan sangat
cepatnya pertumbuhan testis yaitu pada tahun pertama
dan kedua, kemudian tumbuh secara lebih lambat, dan
mencapai ukuran matangnya pada usia 20 tahun. Lalu
penis mulai bertambah panjang, pembuluh mani dan
kelenjar prostat semakin membesar. Matangnya organ-
organ seks tersebut memungkinkan remaja pria (sekitar
14-15 tahun) mengalami “mimpi basah”. Pada remaja
wanita, kematangan organ-organ seksnya ditandai
dengan tumbuhnya rahim vagina dan ovarium secara
cepat pada masa sekitar 11-15 tahun untuk pertama
kalinya mengalami “menarche” (menstruaasi pertama).
Menstruasi awal sering disetai dengan sakit kepala,
sakit punggung dan kadang-kadang kejang serta merasa
lelah, depresi dan mudah tersinggung (Ali,
2010).
(2) Ciri-Ciri Seks Sekunder
Pada remaja putra ditandai dengan tumbuhnya rambut
pubik atau bulu kopak di sekitar kemaluan dan ketiak,
terjadi perubahan suara, tumbuh kumis dan tumbuh
gondok laki atau jakun, sedangkan pada remaja putri
ditandai dengan tumbuh rambut pubik atau bulu
disekitar kemaluan dan ketiak, bertambah besar buah
dada dan bertambah besarnya pinggul (Ali, 2010).
2) Pubertas
Pada masa ini telah tercapai kematangan seksual yaitu sistem
reproduksi telah mampu membuat sel-sel kelamin (gamet).
Hal ini dipengaruhi oleh produksi hormon kelamin dan
kelenjar hipofisis (Arisman, 2009).
16

3) Perkembangan Psikis
a) Aspek Intelektual
Perkembangan intelektual (kognitif) pada remaja bermula
pada umur 11 atau 12 tahun. Remaja tidak lagi terikat
pada realitas fisik yang konkrit, remaja mulai mampu
berhadapan dengan aspek-aspek yang hipotesis dan
abstrak dari realitas. Bagaimana dunia ini tersusun tidak
lagi dilihat sebagai satu-satunya alternatif yang mungkin
terjadi, misalnya aturan-aturan dari orang tua, status
remaja dalam kelompok sebayanya dan aturan-aturan yang
diberlakukan padanya tidak lagi dipandang sebagai hal-hal
yang mungkin berubah. Kemampuan-kemampuan berpikir
yang baru ini memungkinkan individu untuk berpikir
secara abstrak, hipotesis dan kontrafaktual, yang nantinya
akan memberikan peluang pada individu untuk
mengimajinasikan kemungkinan lain untuk segala hal
(Sarwono, 2011).
b) Aspek Sosial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan
dalam hubungan sosial atau proses belajar untuk
menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok,
moral dan tradisi. Meleburkan diri menjadi satu kesatuan
dan saling berkomunikasi dan bekerja sama. Aspek ini
meliputi kepercayaan akan diri sendiri, berpandangan
objektif, keberanian menghadapi orang lain, dan lain-lain.
Perkembangan sosial pada masa remaja berkembang
kemampuan untuk memahami orang lain sebagai individu
yang unik, baik menyangkut sifat-sifat pribadi, minat,
nilai-nilai atau perasaan sehingga mendorong remaja
untuk bersosialisasi lebih akrab dengan lingkungan sebaya
atau lingkungan masyarakat baik melalui persahabatan
atau percintaan. Pada masa ini, berkembang sikap
17

cenderung menyerah atau mengikuti opini, pendapat, nilai,


kebiasaan, kegemaran, dan keinginan orang lain. Ada
lingkungan sosial remaja (teman sebaya) yang
menampilkan sikap dan perilaku yang dapat
dipertanggung jawabkan misalnya taat beribadah, berbudi
pekerti luhur, dan lain-lain, tapi ada juga beberapa remaja
yang terpengaruh perilaku tidak bertanggung jawab teman
sebayanya, seperti mencuri, free sex, narkotik, miras, dan
lain-lain. Remaja diharapkan memiliki penyesuaian sosial
yang tepat dalam arti kemampuan untuk mereaksi secara
tepat terhadap realitas sosial, situasi dan relasi baik di
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (Sarwono,
2011).

3. Konsep Pengetahuan Umum


a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata,
hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu
pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat
dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.
Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra
pendengaran yaitu telinga dan indra penglihatan yaitu mata
(Notoatmodjo, 2012).

Menurut Notoatmodjo (2012), pengetahuan merupakan hasil dari


tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap
suatu objek tertentu. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2011),
pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses
pembelajaran. Proses belajar ini dipengaruhi berbagai faktor dari
dalam, seperti motivasi dan faktor luar berupa sarana informasi yang
tersedia, serta keadaan sosial budaya. Pengetahuan adalah informasi
18

atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang (Agus,


2013).

b. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan yang dicakup dalam
domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya, pada tingkatan ini reccal (mengingat
kembali) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsang yang diterima. Oleh sebab itu tingkatan
ini adalah yang paling rendah.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan
dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar tentang
objek yang dilakukan dengan menjelaskan, menyebutkan contoh
dan lain-lain.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan
kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai
aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip
dan sebagainya dalam kontak atau situasi yang lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan suatu materi
atau objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih didalam
suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu
sama lain, kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan
kata kerja dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.
19

5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis ini suatu
kemampuan untuk menyusun, dapat merencanakan, meringkas,
menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakuksan
penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian-penilaian
itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Dari teori tingkat pengetahuan diatas dapat disimpulkan bahwa
pengetahauan memiliki 6 tingkatan pengetahuan dimana tingkat
pengetahuan tersebut diantaranya tingkat pertama tahu setelah
mendapatkan pengetahuan, tingkat kedua memahami
pengetahuan yang didapatkan, tingkat ketiga dapat
mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari,
tingkat keempat mampu menjabarkan suatu materi atau
menganalisis, tingkat kelima dapat mensintesis atau menunjukan
kemampuan untuk meringkas suatu materi, dan tingkat
pengetahuan yang keenam seseorang mempunyai kemampuan
untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi.

c. Jenis Pengetahuan
Pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dalam konteks
kesehatan sangat beraneka ragam. Pengetahuan merupakan bagian
perilaku kesehatan. Jenis pengetahuan diantaranya sebagai berikut:
1) Pengetahuan implisit
Pengetahuan implisit adalan pengetahuan yang masih tertanam
dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor
yang tidak bersifat nyata, seperti keyakinan pribadi, persfektif,
dan prinsip. Biasanya pengalaman seseorang sulit untuk
20

ditransfer ke orang lain baik secara tertulis ataupun lisan.


Pengetahuan implisit sering kali berisi kebiasaan dan budaya
bahkan bisa tidak disadari. Contoh seseorang mengetahui
tentang bahaya merokok bagi kesehatan, namun ternyata ia
merokok.
2) Pengetahuan eksplisit
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah
didokumentasikan atau tersimpan dalam wujud nyata, bisa
dalam wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata
dideskripsikan dalam tindakan-tindakan yang berhubungan
dengan kesehatan. Contoh seseorang yang telah mengetahui
bahaya merokok bagi kesehatan dan ia tidak merokok (Agus,
2013).

d. Cara Memperoleh Pengetahuan


Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang
berasal dari berbagai macam sumber, misalnya: media massa, media
elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat
dekat dan sebagainya.

Menurut Notoatmodjo (2012) dari berbagai macam cara yang telah


di gunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang
sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua yakni:
1) Cara tradisional atau non ilmiah
Cara tradisional terdiri dari empat cara yaitu :
a) Trial and Error
Cara ini dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan
mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu bila
seseorang menghadapi persoalan atau masalah, upaya yang
dilakukan hanya dengan mencoba-coba saja. Cara coba-coba
ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut
21

tidak berhasil maka di coba kemungkinan yang lain sampai


berhasil. Oleh karena itu cara ini disebut dengan metode Trial
(coba) dan Error (gagal atau salah atau metode coba salah
adalah coba-coba).
b) Kekuasaaan atau otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali
kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang, penalaran,
dan tradisi-tradisi yang dilakukan itu baik atau tidak.
Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional
saja, melainkan juga terjadi pada masyarakat modern.
Kebiasaan-kebiasaan ini seolah-olah diterima dari sumbernya
berbagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan ini
dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal
maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan
sebagainya.
c) Berdasarkan pengalaman pribadi
Adapun pepatah mengatakan “Pengalaman adalah guru
terbaik“. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman
itu merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman itu
merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan.
d) Jalan pikiran
Sejalan perkembangan kebudayaan umat kebudayaan umat
manusia cara berpikir umat manusia pun ikut berkembang.
Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya
dalam memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, dalam
memperoleh kebenaran pengetahuan manusia telah
menjalankan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun
deduksi. Induksi dan deduksi pada dasarnya adalah cara
melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui
pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan.
22

2) Cara modern atau cara ilmiah


Cara baru memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih
sistematis, logis dan ilmiah yang disebut metode ilmiah.
Kemudian metode berfikir induktif bahwa dalam memperoleh
kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung,
membuat catatan terhadap semua fakta sehubungan dengan objek
yang diamati (Notoatmodjo, 2012).

e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan, sebagai berikut:
1) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah (baik
formal maupun nonformal), berlangsung seumur hidup.
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan
mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidian seseorang
semakin mudah orang tersebut menerima informasi. Dengan
pendidikan tinggi, maka seseorang akan semakin cenderung
untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari
media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat mengenai kesehatan.
Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan
formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan
nonformal. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek juga
mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif.
Kedua aspek inilah akhirnya akan menentukan sikap seseorang
terhadap objek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari objek
yang diketahui, maka akan menumbuhkan sikap makin positif
terhadap objek tersebut.
23

2) Informasi/media massa
Informasi adalah adalah suatu yang dapat diketahui, namun ada
pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan.
Selain itu, informasi juga dapat didefinisikan sebagai suatu
teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan,
memanipulasi, mengumumkan, menganalisis dan menyebarkan
informasi dengan tujuan tertentu (Undang-Undang Teknologi
Informasi). Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan
formal maupun nonformal dapat memberikan pengaruh jangka
pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan
atau peningkatan pengetahuan. Berkembangnya teknologi akan
menyediakan bermacam-macam media massa yang dapat
mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.
Sehingga sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa
seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan
kepercayaan orang. Penyampaian informasi sebagai tugas
pokoknya, media massa juga membawa pesan-pesan yang berisi
sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya
informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan
kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal
tersebut.
3) Pekerjaan
Seseorang yang bekerja di sektor formal memiliki akses yang
lebih baik, terhadap berbagai informasi, termasuk kesehatan
(Notoatmodjo, 2012).
4) Sosial, budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang biasa dilakukan orang-orang tidak
melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.
Dengan demikian, seseorang akan bertambah pengetahuannya
walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan
menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk
24

kegiatan tertentu sehingga status sosial ekonomi ini akan


mempengaruhi pengetahuan seseorang.
5) Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu,
baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan
berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan kedalam
individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi
karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak, yang akan
direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.
6) Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara
mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam
memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman
belajar dalam bekerja yang dikembangkan akan memberikan
pengetahuan dan keterampilan profesional, serta dapat
mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang
merupakan manisfestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah
dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerja.
7) Usia
Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya
tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan
lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial,
serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya
menyesuaikan diri menuju usia tua. Kemampuan intelektual,
pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan hampir
tidak ada penurunan pada usia ini. Dua sikap tradisional
mengenai jalannya perkembangan selama hidup adalah sebagai
berikut:
25

a) Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi


yang dijumpai semakin banyak hal yang dikerjakan
sehingga menambah pengetahuan.
b) Tidak dapat mengajarkan kepandaian baru kepada orang
yang sudah tua karena telah mengalami kemunduran baik
fisik maupun mental. Dapat diperkirakan IQ akan menurun
sejalan dengan bertambahnya usia, khususnya pada
beberapa kemampuan yang lain, seperti kosa kata dan
pengetahuan umum. Beberapa teori berpendapat ternyata IQ
seseorang akan menurun cukup cepat sejalan dengan
bertambahnya usia (Agus, 2013).

f. Proses Terjadinya Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2011) pengetahuan mengungkapkan bahwa
sebelum orang mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut
terjadi proses sebagai berikut:
1) Kesadaran (Awareness), dimana orang tersebut menyadari
dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulasi
(obyek).
2) Merasa (Interest), tertarik terhadap stimulasi atau obyek tersebut
disini sikap obyek mulai timbul.
3) Menimbang-nimbang (Evaluation), terhadap baik dan tidaknya
stimulasi tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap responden
sudah lebih baik lagi.
4) Mencoba (Trial), dimana subyek mulai mencoba melakukan
sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki.
5) Adaption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulasi.

g. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran dapat dilakukan dengan cara wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek
26

penelitian atau responden. Dalam mengukur pengetahuan harus


diperhatikan rumusan kalimat pertanyaan menurut tahapan
pengetahuan (Agus, 2013).

Skala ini menggunakan data kuantitatif yang berbentuk angka-angka


yang menggunakan alternatif jawaban serta menggunakan
peningkatan yaitu kolom menunjukkan letak ini maka sebagai
konsekuensinya setiap centangan pada kolom jawaban menunjukkan
nilai tertentu. Dengan demikian analisa data dilakukan dengan
mencermati banyaknya centangan dalam setiap kolom yang berbeda
nilainya lalu mengalihkan frekuensi pada masing-masing kolom
yang bersangkutan.

Prosedur berskala atau (scaling) yaitu penentu pemberian angka atau


skor yang harus diberikan pada setiap kategori respon perskalaan.
Skor yang sering digunakan untuk mempermudah dalam
mengategorikan jenjang/ peringkat dalam penelitian biasanya
dituliskan dalam persentase. Misalnya, pengetahuan: baik = 76 –
100%; cukup = 56 – 75%; dan kurang < 56% (Nursalam, 2008).

Menurut Skinner (2007) didalam buku Agus (2013) pengukuran


tingkat pengetahuan dilakukan bila seseorang mampu menjawab
mengenai materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka
dikatakan seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut.
Sekumpulan jawaban yang diberikan tersebut dinamakan
pengetahuan.

4. Konsep Pengetahuan Gizi


a. Pengertian Pengetahuan Gizi
Pengetahuan gizi adalah ilmu yang mempelajari semua hal tentang
gizi. Pengetahuan untuk memilih makanan yang patut dikonsumsi
atau tidak, perlu dimiliki oleh setiap individu. Pengetahuan gizi
27

dapat dipengaruhi beberapa hal, salah satunya adalah pendidikan


mengenai gizi (Anjani, 2012).

Pengetahuan gizi adalah kemampuan seseorang untuk mengingat


kembali kandungan gizi makanan serta kegunaan zat gizi tersebut
dalam tubuh. Pengetahuan gizi ini mencakup proses kognitif yang
dibutuhkan untuk menggabungkan informasi gizi dengan perilaku
makan, agar struktur pengetahuan yang baik tentang gizi dan
kesehatan dapat dikembangkan (Emilia, E., 2008).

Pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku


dalam pemilihan makanan yang akhirnya akan berpengaruh pada
keadaan gizi individu. Semakin tinggi pengetahuan gizi seseorang
diharapkan semakin baik pula keadaan gizinya (KEMENKES RI,
2013).

Pengetahuan Gizi Seimbang (PGS) sangat penting untuk


menyiapkan pola hidup sehat dalam menghadapi “beban ganda
masalah gizi”, yaitu kekurangan dan kelebihan gizi yang terjadi
bersama-sama. Kekurangan dan kelebihan gizi dapat berdampak
buruk terhadap kesehatan dan kualitas hidup manusia. Kekurangan
gizi berhubungan erat dengan lambatnya pertumbuhan tubuh
(terutama pada anak), daya tahan tubuh yang rendah sehingga mudah
sakit, kurangnya tingkat inteligensi (kecerdasan), dan produktivitas
yang rendah (Kurniasih, 2010).

b. Pentingnya Pengetahuan Gizi


Pentingnya pengetahuan gizi terhadap konsumsi didasari atas tiga
hal, yaitu (Departemen gizi dan kesehatan masyarakat FKM UI,
2014):
1. Status gizi yang cukup sangat penting bagi kesehatan dan
kesejahteraan.
28

2. Setiap orang akan memiliki gizi yang cukup, apabila makanan


yang dikonsumsi mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan.
3. Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang berguna sehingga
penduduk dapat belajar mengolah dan menkonsumsi pangan
dengan baik sehingga terjadi perbaikan gizi.

Selama masa remaja, perubahan tubuh dapat mempengaruhi


kebutuhan nutrisi mereka. Selain itu, perkembangan fisik dan
psikososial dapat mempengaruhi pilihan makanan mereka. Remaja
mengalami peningkatan kemandirian dan teman sebaya mereka
mudah mempengaruhinya, yang menyebabkan remaja lebih sulit
merencanakan makanan yang sehat.

c. Pengertian Gizi
Zat gizi (nutrien) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan
memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan.
Makanan setelah dikonsumsi mengalami proses pencernaan. Bahan
makanan diuraikan menjadi zat gizi atau nutrien. Zat tersebut
selanjutnya diserap melalui dinding usus dan masuk kedalam cairan
tubuh (Almatsier, 2012).

d. Fungsi Zat Gizi


Menurut Cakrawati (2012) fungsi zat gizi secara umum adalah
sebagai sumber energi, zat pembangun dan pengatur. Fungsi
tersebut dapat terpenuhi dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari
mencakup nasi, ikan, daging, telur, susu, sayuran, buah, gula,
margarin, dan lain sebagainya. Setiap kelompok gizi memiliki
fungsi masing-masing, seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral,
vitamin, dan juga air. Seratpun kini menjadi komponen yang
penting dalam komposisi diet makanan sehari-hari. Berikut fungsi
dari zat-zat gizi yang terdapat dalam makanan :
29

1) Karbohidrat
Karbohidrat dalam makanan dapat berbentuk pati seperti yang
terdapat dalam sereal atau pun gula seperti yang terkandung
dalam buah-buahan. Fungsi utama dari karbohidrat adalah
menyediakan energi yang dibutuhkan tubuh. Kelebihan
karbohidrat, disimpan sebagai glikogen atau diubah menjadi
lemak yang siap diubah kembali menjadi energi ketika tubuh
membutuhkannya. Selain itu fungsi karbohidrat di dalam tubuh
adalah:
a) Melindungi protein agar tidak dibakar sebagai penghasil
energi. Bila karbohidrat yang dikonsumsi tidak mencukupi
untuk kebutuhan energy tubuh dan jika tidak cukup
terdapat lemak di dalam makanan atau cadangan lemak
yang disimpan di dalam tubuh, maka protein akan
menggantikan fungsi karbohidrat.
b) Membantu metabolisme lemak dan protein dengan
demikian dapat mecegah terjadinya ketosis dan
pemecahan protein yang berlebihan.
c) Di dalam hepar berfungsi untuk detoksifikasi zat-zat
toksik tertentu.
d) Beberapa karbohidrat mempunyai fungsi khusus di dalam
tubuh. Laktosa berfungsi membantu penyerapan kalsium.
Ribosa merupakan komponen yang penting dalam asam
nukleat.
e) Beberapa golongan karbohidrat yang tidak dapat dicerna,
mengandung serat (dietary fiber) seperti agar-agar berguna
untuk pencernaan, memperlancar defekasi.
2) Lemak
Lemak dalam makanan dapat berbentuk minyak seperti yang
ditemukan dalam biji-bijian, mentega ataupun berbentuk lemak
seperti terdapat dalam daging. Lemak berperan dalam
penyediaan energi, melarutkan vitamin larut dalam lemak, juga
30

sumber asam-asam lemak esensial. Selain itu, lemak berperan


dalam pembentukan membrane sel, agen pengemulsi, isolator
panas tubuh, melindungi organ tubuh dan bersama protein
sebagai alat angkut dalam metabolisme. Kelebihan lemak
disimpan dalam tubuh yang akan diubah menjadi energi bila
dibutuhkan oleh tubuh.
3) Protein
Protein dalam makanan dapat berupa kasein yang ada dalam
susu, atau albumin dalam telur, globulin dalam kacang-
kacangan dan gluten dalam gandum. Fungsi utama dalam
prodein adalah membentuk jaringan baru dan memperbaiki
jaringan yang rusak dalam tubuh. Protein pun berperan dalam
sintesis enzim, hormon, antibodi juga sebagai penyedia energi,
mengatur keseimbangan air dalam tubuh, memelihara
netralitas tubuh, mengangkut zat-zat gizi. Kelebihan protein
diubah menjadi karbohidrat dan lemak yang disimpan dalam
tubuh.
4) Mineral
Kalsium, fosfor, besi, iodin, merupakan sebagian mineral yang
ditemukan dalam bahan pangan dalam bentuk komposisi
organic dan anorganik. Mineral dibutuhkan dalam
pembentukan tubuh seperti pembentukan tulang, gigi, dan
struktur jaringan. Mineral juga berperan dalam pengaturan
proses metabolisme dalam tubuh seperti kontraksi otot,
stimulus saraf dan lain-lain.
5) Vitamin
Vitamin yang ada dalam makanan terdiri atas vitamin larut
lemak seperti vitamin A, D, E, K dan juga vitamin larut dalam
air seperti vitamin B dan C. Vitamin berperan sebagai pengatur
pada proses metabolisme dalam tubuh.
31

6) Air
Air diperoleh dari makanan yang dikonsumsi dan sebagian
besar dari air yang diminum. Air adalah bagian penting dalam
struktur tubuh dan jumlahnya sekitar 60% dari berat tubuh. Air
berperan sebagai pelarut material zat gizi dan juga
pembuangan ampas makanan.
Semua orang membutuhkan energy untuk beraktivitas, tetapi
jenis dan banyaknya aktivitas, perbedaan usia, kondisi tubuh
dan sebagainya akan mempengaruhi kuantitas zat gizi yang
diperlukan tubuh.

e. Makanan yang Tidak Baik Dikonsumsi


Makanan cepat saji atau yang biasa disebut dengan junk food
merupakan salah satu contoh makanan instan yang tidak
menyehatkan bagi tubuh. Salah satu dampak dari terlalu banyak
mengonsumsi junk food adalah obesitas. Berikut ini adalah jenis
makanan yang sebaiknya dihindari:
1) Daging babi
Daging babi atau biasa disebut dengan bacon yang merupakan
salah satu makanan favorit di Amerika Serikat ini ternyata
berbahaya bagi tubuh karena mengandung nitrat dan nitrit. Dua
kandungan tersebut ternyata sangat erat kaitannya dengan
kanker dan penyakit darah. Selain itu bacon juga memiliki
kadar lemak jenuh dan tak jenuh sebesar kadar kandungan
sodiumnya yaitu 150 miligram per iris.
2) Permen dan manisan
Permen atau menisan memiliki kadar gula yang tinggi
sehingga dapat menyebabkan kerusakan gigi, menaikkan berat
badan hingga diabetes bila terlalu banyak mengonsumsinya.
Jadi sebaiknya dibatasi dalam pengonsumsi permen atau
manisan sebanyak 1 atau 2 buah permen sehari untuk anak-
32

anak maupun orang dewasa untuk menurunkan resiko yang


mungkin ditimbulkan.
3) Produk susu
Sebagian besar menganggap bahwa produk-produk yang
terbuat dari susu seperti keju, yogurt dan mentega adalah
sesuatu yang baik dikonsumsi oleh tubuh. Namun tidak
demikian bila kadar pengonsumsian terlalu berlebihan. Efek
yang ditimbulkan bermacam-macam, seperti perut kembung,
mual, dan gangguan saluran pencernaan.
4) Gorengan
Yang dimaksud dengan gorengan di sini adalah jenis makanan
apapun yang proses memasaknya dengan cara digoreng.
Banyak resiko yang ditimbulkan oleh makanan yang digoreng,
antara lain penyakit jantung, diabetes, gastroenteritis, obesitas,
memperlambat tingkat metabolisme, dll. Gorengan mungkin
favorit bagi semua orang tapi juga beresiko tinggi bila
dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang.
5) Makanan cepat saji (fast food)
Meskipun banyak yang sudah memahami bahaya dan resiko
dari makanan cepat saji, masih banyak yang menjadikan jenis
makanan ini menjadi santapan sehari-hari. Salah satu efek
utama dari mengonsumsi makanan cepat saji adalah obesitas
yang selalu menyebabkan penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Selain itu juga menyebabkan luka pada dinding lambung
dalam saluran pencernaan.
6) Cokelat
Coklat memang dianggap sebagai makanan yang memberikan
efek positif bagi tubuh yang mengonsumsinya. Namun,
ternyata tidak itu saja. Coklat juga dapat memberikan resiko
bagi kesehatan kita. Satu bar coklat susu yang memiliki 1,55
ons atau 44 gram, mengandung 235 kalori, 13 gram lemak, dan
221 gram gula. Satu ons coklat biasa mengandung 156 kalori,
33

9 gram lemak dan 13 gram gula. Kandungan-kandungan


tersebut dapat beresiko obesitas dan gagal jantung bagi
konsumen. Selain itu juga dapat menimbulkan resiko diabetes
dan gigi berlubang.
7) Minuman bersoda
Minuman bersoda bisa ataupun diet coke sama-sama
berbahaya bagi tubuh bila dikonsumsi berlebihan. Banyak
yang menganggap bahwa diet coke dapat menjadi alternatif
minuman bagi yang sedang melakukan diet, namun itu salah.
Sebuah studi yang memakan waktu hingga sebelas tahun
lamanya, Harvard mengadakan eksperimen yang menunjukkan
seorang wanita yang minum diet coke mengalami peningkatan
dua kali lipat dalam penurunan fungsi ginjal. Selain itu, ada
peningkatan 34% pada sindrom metabolik, peningkatan lemak
perut dan kolesterol menyebabkan resiko gagal jantung.
Minuman bersoda juga cenderung mengikis enamel gigi Anda
dan membuatnya cepat rusak.
8) Sayur kalengan
Meskipun sayuran adalah salah satu makanan paling
menyehatkan bagi tubuh, tapi tidak demikian dengan sayur
kalengan. Hal itu dikarenakan Bisphenol A yang merupakan
senyawa organik yang digunakan untuk membuat berbagai
plastik dan ditemukan di sebagian besar produk makanan
kalengan. Bisphenol A dapat melindungi kaleng dari korosi
logam dan bakteri tapi juga dapat mengganggu perkembangan
saraf pada janin, gangguan endokrin, penyakit jantung dan
kanker. Makanan kaleng juga menimbulkan risiko natrium
tinggi, terutama pada diet rendah garam.
9) Keripik kentang
Keripik kentang yang menjadi camilan favorit semua orang
ternyata juga memiliki resiko bagi kesehatan konsumennya.
Efek yang ditimbulkan oleh keripik kentang adalah naiknya
34

berat badan, karena satu ons keripik kentang polos


mengandung setidaknya 150 kalori. Selain itu, keripik juga
sangat rendah gizi dan memiliki kandungan natriumnya dapat
menyebabkan resiko penyakit jantung seperti tekanan darah
tinggi, dll. Terakhir, kandungan lemak yang tinggi dalam
keripik kentang juga menyebabkan kolesterol tinggi.
10) Pop corn panggang
Camilan yang satu ini memang camilan favorit sebagai teman
untuk nonton film. Tapi, ternyata popcorn juga beresiko untuk
kesehatan. Laporan dari BPOM bahwa terdapat perasa
mentega palsu ditemukan pada popcorn. Selain itu dilaporkan
juga bahwa wadah popcorn yang digunakan di microwive juga
memiliki lapisan bahan yang rusak ketika dipanaskan. Kedua
hal tersebut dapat meningkatkan resiko penyakit paru-paru dan
jantung. Maka dari itu, konsumen popcorn disarankan untuk
membuat popcorn menggunakan kompor dan membumbuinya
dengan minyak zaitun saja agar lebih aman bagi kesehatan.
(artikel merdeka.com, 2018)

f. Kebutuhan Gizi Remaja


Kebutuhan gizi remaja relatif besar, karena masih mengalami
pertumbuhan. Selain itu, remaja umumnya melakukan aktivitas
fisik lebih tinggi dibanding usia lainnya, sehingga diperlukan zat
gizi yang lebih banyak.
1) Energi
Faktor yang perlu diperhatikan untuk menentukan kebutuhan
energi remaja adalah aktivitas fisik, seperti olahraga yang
diikuti, baik dalam kegiatan di sekolah maupun diluar sekolah.
Widyakarya Nasional Pangan Gizi VI (WKNPG VI)
menganjurkan angka kecukupan gizi (AKG) energi untuk
remaja dan dewasa muda perempuan 2000-2200 kkal,
sedangkan untuk laki-laki antara 2400-2800 kkal setiap hari.
35

AKG energi ini dianjurkan sekitar 60% berasal dari sumber


karbohidrat yaitu: beras, terigu dan hasil olahannya (mie,
spagetti, makaroni), umbi-umbian (ubi jalar, singkong),
jagung, gula dan lain-lain.
2) Protein
Kebutuhan protein juga meningkat pada masa remaja, karena
proses pertumbuhannya yang sedang terjadi. Kecukupan
protein bagi remaja adalah1,5-2,0 gr/kg BB/hari. AKG protein
remaja dan dewasa muda adalah 48-62 gr per hari untuk
perempuan dan 55-66 gr per hari untuk laki-laki
3) Kalsium
Kalsium dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan gigi yang
kuat. Pada masa pertumbuhan, apalagi pada masa growth
spurt, Kalsium adalah zat gizi yang penting untuk diperhatikan.
AKG kalsium untuk remaja dan dewasa muda adalah 600-700
mg per hari untuk perempuan dan 500-700 mg untuk laki-laki.
Sumber kalsium yang paling baik adalah susu dan hasil
olahannya. Sumber kalsium lainnya ikan, kacang-kacangan,
sayuran hijau dan lain-lain.
4) Besi
Kebutuhan zat besi pada remaja juga meningkat karena
terjadinya pertumbuhan cepat. Kebutuhan besi pada remaja
laki-laki meningkat karena ekspansi volume darah dan
peningkatan konsentrasi hemoglobin (Hb). Setelah dewasa,
kebutuhan besi menurun. Pada perempuan, kebutuhan yang
tinggi akan besi terutama disebabkan kehilangan zat besi
selama menstruasi. Hal ini mengakibatkan perempuan lebih
rawan terhadap anemia besi dibandingkan laki-laki.
Perempuan dengan konsumsi besi yang kurang atau mereka
dengan kehilangan besi yang meningkatkan, akan mengalami
anemia gizi besi. Sebaliknya defisiensi besi mungkin
merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan pada masa
36

remaja, mengakibatkan tingginya kebutuhan mereka akan zat


besi.
5) Seng (Zinc)
Seng diperlukan untuk pertumbuhan serta kematangan seksual
remaja, terutama untuk remaja laki-laki. AKG seng adalah 15
mg per hari untuk remaja dan dewasa muda perempuan dan
laki-laki.

g. Angka Kecukupan Gizi


Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau
Recommended Daily Allowances (RDA) menurut Almatsier
(2011) adalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang
berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi
kebutuhan hampir semua orang sehat. Angka kecukupan gizi
berbeda dengan angka kebutuhan gizi (dietary requirements).
Angka kebutuhan gizi adalah banyaknya zat-zat gizi minimal
yang dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan status gizi
adekuat. AKG yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat
badan untuk masing-masing kelompok umur, gender, aktivitas
fisik, dan kondisi fisiologis tertentu seperti kehamilan dan
menyusui.

h. Pilar Gizi Seimbang


Terdapat 4 (empat) pilar gizi seimbang, yaitu (Kemenkes RI,
2014):
1) Konsumsi aneka ragam makanan
Makanan yang dikonsumsi harus mengandung semua jenis zat
gizi yang dibutuhkan tubuh, porsi yang seimbang, dalam
jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara
teratur. Selain itu, minum air putih yang cukup karena penting
untuk metabolisme tubuh dan pencegahan dehidrasi.
37

2) Membiasakan perilaku hidup bersih


Prinsip kesehatan yang menjadi dasar pelaksanaan program
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah mencegah
lebih baik daripada mengobati. PHBS sendiri adalah semua
perilaku secara sadar yang dilakukan oleh seseorang agar
terhindar dari penyakit serta ikut serta dalam kegiatan di
masyarakat yang berhubungan dengan masalah kesehatan.
3) Melakukan aktivitas fisik
Aktivitas fisik dilakukan untuk menyeimbangkan antara zat
gizi yang masuk dan keluar dari dalam tubuh.
4) Memantau berat badan secara teratur untuk mempertahankan
berat badan normal
Indikator yang digunakan untuk mengukur keseimbangan zat
gizi orang dewasa dikenal dengan sebutan Indeks Massa
Tubuh (IMT). Pengukuran IMT perlu dilakukan secara teratur
agar terlihat apakah terjadi penyimpangan atau tidak.

B. Penelitian Terkait
Beberapa penelitian terkait dengan pengetahuan dan status gizi pada remaja
sebagai berikut :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Adelina Elsa Damayanti (2016) dengan
judul “Hubungan Citra Tubuh, Aktivitas Fisik, dan Pengetahuan Gizi
Seimbang dengan Status Gizi Remaja Putri di SMK Adhikawacana
Surabaya” menyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan
dengan status gizi remaja di SMK Adhikawacana Surabaya 2016
dengan nilai p value = 0,000 < α(0,05). Penelitian ini merupakan
penelitian observasional dengan menggunakan studi cross-sectional.
Populasi penelitian sebanyak 255 siswi. Sampel diambil sebanyak 72
siswi dengan menggunakan simple random sampling. Instrumennya
menggunakan kuesioner dan timbangan.
38

2. Penelitian yang dilakukan oleh Patricia Renata dan Anna Maria


Dewajanti (2017) dengan judul “Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Tentang Gizi Seimbang dengan Status Gizi Siswa Kelas IV dan
V di Sekolah Dasar Tarakanita Gading Serpong” menyatakan bahwa ada
hubungan antara pengetahuan dengan status gizi. Dengan nilai p value =
0,032 < α(0,05). Metode penelitian menggunakan studi analitik, dengan
desain penelitian kros-seksional. Sampel yang diperoleh sebanyak 89
siswa dengan menggunakan total sampling, dan instrumen yang
digunakan adalah kuesioner.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Mayang Fadillah, Asmar Yulastri, dan
Lucy Fridayati (2016) dengan judul “Hubungan Pengetahuan dengan
Kecukupan Gizi Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Konsentrasi Tata Boga” menyatakan bahwa ada hubungan antara
pengetahuan dengan kecukupan gizi. Dengan nilai p value = 0.000 <
α(0,05). Penelitian ini bersifat korelasional dengan populasi 182 orang
dan sampel sebanyak 28 orang yang diambil tengan teknik proportional
random sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket tertutup
multiple choice, kuesioner dan formulir food recall.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Rika Susanti, Ganis Indriati, dan Wasisto
Utomo (2014) dengan judul “Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu
Tentang Gizi Anak dengan Status Gizi Pada Anak Usia 1-3 Tahun”
menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara variabel
pengetahuan terhadap variabel status gizi balita 1-3 tahun (p value < α
0,05). Desain penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi
dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 98
responden dengan metode cluster sampling. Instrument yang digunakan
adalah kuesioner.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Agnes Grace Florence (2017) dengan
judul ” Hubungan Pengetahuan Gizi, Pola Konsumsi terhadap Status Gizi
pada Mahasiswa TPB di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut
Teknologi Bandung” menyatakan bahwa ada hubungan antara
pengetahuan gizi dengan status gizi pada mahasiswa TPB di Sekolah
39

Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung dengan X2 hitung


35,045 > X2 tabel 30,98. Jenis penelitian yang digunakan adalah
penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang
diambil sebanyak 360 mahasiswa. Pengambilan sampel menggunakan
teknik purposive sampling sehingga diperoleh 79 sampel. Instrumen yang
digunakan berupa kuesioner pengetahuan gizi dan Food Frequency
Questionnaire (FFQ).
40

C. Kerangka Teori

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi


Status Gizi:

1. Kebiasaan makan yang buruk


2. Pemahaman gizi yang keliru
3. Kesukaan yang berlebihan terhadap
makanan tertentu

Pentingnya Pengetahuan 4. Promosi yang berlebihan melalui

Gizi: media massa

1. Status gizi yang cukup 5. Konsumsi makanan

sangat penting bagi 6. Pendidikan dan pengetahuan

kesehatan dan 7. Sosial ekonomi

kesejahteraan. 8. Aktifitas fisik

2. Setiap orang akan memiliki 9. Jenis Kelamin

gizi yang cukup, apabila


makanan yang dikonsumsi
mampu menyediakan zat
Pengetahuan Tentang Gizi
gizi yang diperlukan.
3. Ilmu gizi memberikan
fakta-fakta yang berguna Status Gizi

sehingga penduduk dapat


Gizi Baik
belajar mengolah dan
Klasifikasi
menkonsumsi pangan
Status Gizi Gizi Kurang
dengan baik sehingga
terjadi perbaikan gizi.
Gizi Lebih
Skema 2.1 kerangka teori

Sumber: (Departemen gizi dan kesehatan masyarakat FKM UI, 2014), (Amelia,
2008), (Bani, 2010), (Destayanti, 2011), (Hidayati, 2010), (Ipa, 2010), (Imtihanti,
2012), (Hadi, 2010), (Huriyati, 2009)
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN
DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep (conseptual framework) adalah suatu uraian dan visualisasi
hubungan atau kaitan antara konsep yang satu terhadap konsep yang lainnya
atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang
ingin diteliti (Notoatmodjo, 2012).

Menurut Dharma (2011), variabel penelitian dikembangkan dari konsep/teori


dan hasil penelitian dikenal beberapa jenis variabel berdasarkan hubungan
sebab-akibat antara variabel-variabel tersebut antara lain variabel bebas
(independent variable) dan variabel terikat (dependent variable). Pada
penelitian ini peneliti mengelompokkan variabel menjadi 2 yaitu variabel
bebas (independent variable) dan variable terikat (dependent variable).
Berikut ini jenis variabel berdasarkan hubungan fungsional atau perannya :
1. Variabel bebas (Independent variabel) yaitu karakteristik dari subjek
yang dengan keberadaannya menyebabkan perubahan pada variabel
lainnya (Dharma, 2011). Variabel independent dalam penelitian ini
adalah pengetahuan tentang gizi
2. Variabel terikat (Dependent Variabel)
Variabel terikat (dependent variabel) adalah variabel akibat atau variabel
yang akan berubah akibat pengaruh atau perubahan yang terjadi pada
variabel independent (Dharma, 2011) Variabel terikat pada penelitian ini
adalah status gizi remaja.

41
42

Hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen


digambarkan seperti pada skema 3.1

Skema 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Variable Independen Variable Dependen

Pengetahuan gizi Status Gizi Remaja:

1. Gizi baik
2. Gizi kurang
3. Gizi lebih

Karakteristik:

1. Usia
2. Jenis Kelamin
3. Aktivitas Fisik

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

B. Hipotesis
Menurut Dharma (2011), hipotesa berfungsi untuk menentukan ke arah
pembuktian, artinya hipotesis ini merupakan pernyataan yang harus
dibuktikan. Hipotesis alternatif (Ha) adalah pernyataan tentang prediksi hasil
penelitian berupa hubungan antar variabel yang diteliti sedangkan hipotesis
no (Ho) adalah pernyataan hipotesis yang digunakan untuk kepentingan uji
stastistik terhadap data hasil penelitian. Dengan melihat rumusan masalah,
maka dapat ditetapkan hipotesis dalam penelitian ini yaitu

Hipotesis dalam suatu penelitian berarti jawaban sementara penelitian,


patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan
43

dalam penelitian tersebut. Setelah melalui pembuktian dari hasil penelitain


makan hipotesis tersebut dapat benar atau salah, dapat diterima atau ditolak.
Biasanya hipotesis terdiri dari pernytaan terhadap ada atau tidak adanya
hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas (independent variable)
dan variable terikat (dependent variable) (Notoadmodjo, 2012)
1. Hipotesis Nol (Ho)
Tidak ada hubungan pengetahuan tentang gizi dengan status gizi remaja
di SMAN 6 Tangerang Selatan
2. Hipotesis Alternative (Ha)
Ada hubungan pengetahuan tentang gizi dengan status gizi remaja di
SMAN 6 Tangerang Selatan.

C. Definisi Operasional
Definisi operasional penting agar pengukuran variabel atas pengumpulan data
konsisten antara sumber data (responden) dengan responden yang lain,
didalamnya akan menjelaskan mengenai cara atau metode, pengukuran, hasil
ukur, serta skala ukur yang digunakan (Notoatmodjo, 2012)
44

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Definisi Cara
No Variabel Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur

Karakteristik
1.
Responden

a. Usia Usia adalah Mengisi Kuesioner 0. Masa Nominal


rentang waktu Kuesioner remaja
dari seseorang Awal =12 -
itu lahir sampai 1 6 tahun.
penelitian ini 1. Masa
dilakukan. remaja
Akhir =17 -
25 tahun.
(depkes RI,
2009)

b. Jenis Kelamin Jenis kelamin Mengisi Kuesioner 0. Perempua Nominal


adalah Kuesioner 1. Laki-laki
perbedaan
antara
perempuan dan
laki-laki.

c. Aktivitas Fisik aktivitas fisik Mengisi Kuesioner 0. Berat: Bila Ordinal


ialah gerakan Kuesioner jumlah
tubuh yang aktivitas
memerlukan fisik > 300
energi. menit dalam
1 minggu.
1. Ringan:
Bila jumlah
aktivitas
fisik < 150
menit dalam
1 minggu.
2. Sedang:
Bila jumlah
45

aktifitas
fisik 150 –
300 menit
dalam 1
minggu.

(Riskesdas,
2013)

Variabel
2.
Independen

Pengetahuan gizi Pengetahuan Mengisi Kuesioner Hasil ukur Nominal


gizi adalah Kuesioner dikategorikan
pengetahuan dengan berdasarkan cut
tentang mengguna of point by
pemahaman kan median yaitu:
dalam memilih multiple
0. Kurang baik
makanan yang choice
bila skor <
baik
18
dikonsumsi atau
1. Baik bila
tidak baik
skor ≥ 18
dikonsumsi
dalam
pemenuhan
status gizi.

Variabel
3.
Dependen

Status Gizi Status gizi Pengukura Timbangan 0. Kurang: Ordinal


merupakan n TB, BB, dan Stature
(a. Sangat
ukuran IMT/U Meter
Kurus = < -
keberhasilan dan Z-
3 SD
seseorang score
b. Kurus: -
dalam
3 SD
pemenuhan
sampai
nutrisi yang
dengan
dibutuhkan
<-2 SD)
tubuh.
46

1. Lebih:
(a. Gemuk:
>1 SD
sampai
dengan 2
SD)
b. Obesitas
= >2 SD)

2. Normal = -2
SD sampai
dengan 1
SD

(Kemenkes
RI, 2011)
BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah rancangan penelitian yang terdiri atas beberapa
komponen yang menyatu satu sama lain untuk memperoleh data dan/atau
fakta dalam rangka menjawab pertanyaan atau masalah penelitian (Lapau,
2012). Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif yang
dilakukan dengan pendekatan korelasi (hubungan) dengan rancangan cross
sectional.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain


cross sectional. Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian yang
mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko efek, dengan cara
pendekatan, observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada satu waktu
(Notoatmojo, 2010).

B. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa/i kelas X SMAN 6 Tangerang
Selatan yang akan diteliti berjumlah 368 orang.

2. Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa/i kelas X
SMAN 6 Tangerang Selatan.

Rumus Sampel:

N
n=
1 + N(d)2

47
48

Keterangan :
N = Populasi
n = Sampel
d = Tingkat kepercayaan yang diinginkan 5%-10% (0.05-0,1)

n = 368
1 + 368(0,1)2

n = 368

1 + 3.68

n = 368

4.68

n = 78,6

Untuk mengantisipasi hilangnya unit eksperimen maka dilakukan


korelasi dengan :
𝑛
𝑛′ =
(1 − 𝑓)
78,6
𝑛′ =
(1 − 0.1)
= 87,3

f = Proporsi unit eksperimen yang hilang atau mengundurkan diri atau


drop out
Untuk menantisipasi tingkat kesalahan dalam pengisian kuesioner dan
lembar kuesioner tidak kembali maka peneliti menambahkan 10%. Dari
hasil penghitungan diatas didapatkan hasil 87,3 maka dibulatkan menjadi
87 Responden.
49

Kriteria dalam pengambilan sampel sebagai berikut:


a. Kriteria inklusi :
Adalah kriteria yang harus dimiliki oleh individu dalam populasi
untuk dapat dijadikan sampel dalam penelitian (Dharma, 2011). Pada
penelitian ini, kriteria inklusinya yaitu:
1) Siswa/i kelas X SMAN 6 Tangerang Selatan
2) Dalam tahap perkembangan remaja awal
3) Bersedia menjadi responden
4) Hadir pada saat penelitian dilakukan.
5) Tidak dalam masa melakukan diet.
b. Kriteria ekslusi
Adalah kriteria yang tidak boleh dimiliki oleh sampel yang akan
digunakan untuk penelitian (Dharma, 2011). Kriteria eksklusi pada
penelitian ini yaitu:
1) Siswa/I bukan kelas X SMAN 6 Tangerang Selatan
2) Tidak bersedia menjadi responden
3) Tidak hadir saat penelitian dilakukan

3. Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel digolongkan menjadi dua yaitu probability
sampling dan non probability sampling. Pada penelitian ini menggunakan
probability sampling, dengan teknik Proporsionate stratisfied random
sampling. Proporsionate Stratisfied random sampling adalah strata atau
kedudukan seseorang di masyarakat (Nursalam, 2008). Menurut Sabri &
Hastono (2014), stratisfied random sampling adalah teknik pengambilan
sampel dengan memperhatikan tingkatan (strata) dalam populasi.

Rumus Teknik Proportionate Stratified Random Sampling:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠


𝑛= 𝑥 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑆𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠
50

Tabel 4.1
Hasil Perhitungan Jumlah Sampel per Kelas X
SMAN 6 Tangerang Selatan
Kelas Jumlah Siswa/i Perhitungan ∑ Sampel
X.IPA 1 37 37 9
𝑥87 = 8,7
368

X.IPA 2 36 36 9
𝑥87 = 8,5
368

X.IPA 3 38 38 9
𝑥87 = 8,9
368

X.IPA 4 36 36 8
𝑥87 = 8,5
368

X.IPA 5 36 36 8
𝑥87 = 8,5
368

X.IPS 1 38 38 9
𝑥87 = 8,9
368

X.IPS 2 36 36 8
𝑥87 = 8,5
368

X.IPS 3 37 37 9
𝑥87 = 8,7
368

X.IPS 4 37 37 9
𝑥87 = 8,7
368

X.IPS 5 37 37 9
𝑥87 = 8,7
368

Total 368 87 87

C. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMAN 6 Tangerang Selatan.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian yang terdiri dari penyusanan proposal, pelaksanaan atau
pengumpulan data dan penyusunan laporan dilaksanakan pada bulan
September 2018-Januari 2019.
51

D. Etika Penelitian
Secara umum terdapat empat prinsip utama dalam etik penelitian
keperawatan, yaitu (Notoadmodjo, 2012):

1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)


Dalam penelitian ini hak asasi responden dijunjung tinggi. Responden
mempunyai kebebasan untuk berpartisipasi atau tidak dalam penelitian,
setelah mendapatkan penjelasan mengenai tujuan dan prosedur penelitian.
Responden diberi kesempatan untuk memberikan persetujuan atau
menolak berpartisipasi dalam penelitian berdasarkan keputusannya sendiri
tanpa dipengaruhi oleh pihak manapun.
2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek (respect for privacy and
confidentiality)
Dalam penelitian ini peneliti menjamin kerahasiaan informasi responden
dan kelompok data tertentu yang dilaporkan sebagai hasil penelitian
dengan menjamin kerahasiaan indentitas responden. Peneliti tidak
meminta responden untuk mengisi nama pada lembar pengisian
kuesioner, sebagai gantinya peneliti menggunakan inisial responden.
3. Menghormati keadilan dan inklusivitas (respect for justice inclusiveness)
Prinsip penelitian ini adalah keterbukaan yang berarti penelitian dilakukan
secara jujur, tepat, cermat, hati-hati dan dilakukan secara professional.
Sedangkan prinsip keadilan yang berarti bahwa penelitian memberikan
keuntungan dan beban secara merata sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan subjek.
4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing
harm and benefits)
Penelitian ini mempertimbangkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
responden dan populasi dimana hasil penelitian akan diterapkan
(beneficience). Kemudian meminimalisir resiko atau dampak yang
merugikan bagi responden (nonmaleficience).
52

E. Alat Pengumpulan Data/Instrumen Penelitian


1. Alat pengumpulan data atau instrumen penelitian
Alat pengumpulan data atau instrumen penelitian adalah suatu alat yang
digunakan oleh peneliti untuk mengobservasi, mengukur atau menilai
suatu fenomena. Data yang diperoleh dari suatu pengukuran kemudian
dianalisis dan dijadikan sebagai bukti (evidence) dari suatu penelitian
(Dharma, 2011).
a. Instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur status gizi
menggunakan timbangan dan stature meter untuk mengetahui berat
badan dan tinggi badan.
b. Instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui
pengetahuan gizi remaja menggunakan lembar kuesioner yang terdiri
dari 9 pertanyaan karakteristik responden, 9 pertanyaan tentang
aktifitas fisik dan 17 pertanyaan tentang pengetahuan gizi yang
sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh Mardatillah pada tahun
2008.

2. Uji Coba Instrumen Penelitian


Uji coba instrument perlu dilakukan untuk mengetahui kehandalan
instrument sebagai alat pengumpul data. Instrument yang akan digunakan
dalam penelitian ini akan dilakukan uji coba di SMAN 8 Tangerang
Selatan karena memiliki karakteristik yang sama dengan SMAN 6
Tangerang Selatan. Besar responden yang akan diuji sebanyak 30
responden.

a. Uji Validitas
Valid menunjukkan bahwa instrumen mengukur apa yang
seharusnya diukur atau menunjukkan ketepatan dalam pengukuran.
Untuk mendapatkan nilai validnya maka dilakukan uji validitas pada
intrumen (Dharma, 2011)
Uji validitas mengggunakan Koefisien Korelasi Pearson Monent,
yang dihitung dengan rumus
53

𝑛(∑ 𝑋𝑌) − (∑ 𝑋)( ∑ 𝑌)


𝑟=
√[𝑛 ∑ 𝑋 2 − (∑ 𝑋)2 ][𝑛 ∑ 𝑌 2 − (∑ 𝑌)2 ]
Keterangan:
r : Koefisien korelasi
n : Jumlah subjek atau sampel
X : Nilai variabel bebas
Y : Nilai variabel terikat
Keputusan Uji:
Bila rhitung lebih besar dari rlabel artinya variabel valid
Bila rhitung lebih kecil dari rlabel artimya variabel tidak valid

Setelah melakukan pengumpulan data untuk menghindari kesalahan


dalam menginterprestasikan pertanyaan dalam kuesioner dan
memperoleh data yang valid, terlebih dahulu kuesioner di uji coba
kepada 30 orang responden yang memiliki kriteria atau karakteristik
yang sama dan tidak mengikutsertakan kembali pada sampel
penelitian. Kuesioner dikatakan valid jika hasil r hitung nya ≥ 0,361
dengan taraf signifikan 5% (0,05). Uji validitas instrument penelitian
dilakukan dengan menggunakan rumus Pearson Monent, dengan
hasil sebagai berikut:
54

Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Kuesioner di SMAN 8 Tangerang


Selatan Tahun 2019
No. Pertanyaan Nilai Uji
r hasil r tabel Cronbach alfa Validitas
1 P1 0,471 0,361 0,846 Valid
2 P2 0,634 0,361 0,835 Valid
3 P3 0,471 0,361 0,846 Valid
4 P4 0, 394 0,361 0,851 Valid
5 P5 0,551 0,361 0,841 Valid
6 P6 0,192 0,361 0,822 Tidak Valid
7 P7 0,174 0,361 0,820 Tidak Valid
8 P8 0,885 0,361 0,818 Valid
9 P9 0,174 0,361 0,820 Tidak Valid
10 P10 0,471 0,361 0,846 Valid
11 P11 0,627 0,361 0,839 Valid
12 P12 0,471 0,361 0,846 Valid
13 P13 0,471 0,361 0,846 Valid
14 P14 0,060 0,361 0,829 Tidak Valid
15 P15 0,394 0,361 0,851 Valid
16 P16 0,394 0,361 0,851 Valid
17 P17 0,520 0,361 0,844 Valid

Tabel 4.2 menyatakan hasil item soal kuesioner pengetahuan yang


tidak valid tidak digunakan dalam penelitian dan item soal yang
valid tetap menggunakan dalam penelitian sehingga kuesioner terdiri
dari 13 pertanyaan untuk pengetahuan dan 4 pertanyaan yang tidak
valid telah digugurkan.

b. Uji Reliabilitas
Reliabel menunjukkan bahwa instrumen mampu menghasilkan
pengukuran yang konsisten jika digunakan untuk mengukur berulang
55

kali. Untuk mendapatkan nilai relibel, maka dilakukan uji reliabilitas


(Dharma, 2011).

Pada penelitian ini menggunakan uji Cornbach’s Alpha :


𝑘 ∑ 𝜎𝑏2
𝑟=[ ] [1. 2 ]
(𝑘 − 1) 𝜎𝑡
Keterangan :
r : Koefisien reliabilitas instrument
k : Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
∑ 𝜎𝑏2 : Total varians butir
𝜎𝑡2 : total varians

Menurut Dharma (2011), kriteria suatu instrument penelitian


dikatakan reliable dengan menggunakan teknik ini untuk uji
reliabilitas antar observer diinterpretasikan sebagai berikut :
Rendah : 0,00 – 0,40
Sedang : 0,41 – 0,59
Baik : 0,60 – 0,74
Sangat Baik : 0,75 – 1,00

Berdasarkan hasil uji realibilitas menggunakan Alpha Cornbach


terhadap kuesioner pengetahuan, didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner di SMAN 8 Tangerang
Selatan Tahun 2019
Variabel ∑ ∑ Validitas Reliabilitas
Pertanyaan Pertanyaan
Sebelum Setelah Uji
Uji Coba Coba
Pengetahuan 17 13 0,060- 0,818-0,851
0,885
56

Tabel 4.3 menyatakan hasil uji realibilitas angket yang diujicobakan


diperoleh nilai alpha > 0,6 maka instrumen tersebut reliabel dan
dapat digunakan sebagai alat pengumpulan data karena r hasil > r
tabel.

F. Prosedur Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan setelah peneliti mengikut prosedur
pengumpulan data sebagai berikut:
1. Prosedur Administratif
a. Mengajukan izin penelitian data awal kepada ketua di STIKes
PERTAMEDIKA
b. Menyerahkan surat ijin penelitian dari ketua STIKes
PERTAMEDIKA kepada Kepala Sekolah SMAN 6 Tangerang
Selatan.
c. Setelah mendapat surat penelitian peneliti melakukan penelitian
2. Prosedur Teknis
a. Peneliti menjelaskan tujuan dan prosedur penelitian kepada Kepala
Sekolah SMAN 6 Tangerang Selatan.
b. Peneliti mengidentifikasi beberapa responden yang akan dijadikan
sampel berdasarkan kriteria inklusi.
c. Peneliti mengumpulkan siswa/i dalam aula dan menjelaskan tujuan
dan prosedur penelitian kepada siswi
d. Bagi siswi yang bersedia, diberikan lembar pesetujuan untuk dibaca
dan ditanda tangani.
e. Setelah responden setuju, peneliti memberikan kuesioner dan
menjelaskan cara pengisiannya.
f. Dalam memberikan kuesioner peneliti dibantu oleh asisten peneliti.
Asisten peneliti membantu menjelaskan cara pengisiannya kepada
responden.
g. Peneliti melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan dengan
dibantu asisten peneliti.
57

h. Peneliti memberikan waktu kepada responden untuk mengisi


kuesioner.
i. Setelah responden selesai mengisi kuesioner, responden
mengumpulkan kuesioner yang telah diisi kepada peneliti atau
asisten peneliti.
j. Setelah mengumpulkan kuesioner peneliti mengecek kelengkapan
data responden.

G. Teknik Pengolahan Data


Setelah dilakukan pengumpulan data, kemudian data diolah dengan
menggunakan komputer melalui beberapa tahap dengan langkah-langkah
pengolahan data sebagai berikut, (Notoadmodjo, 2012).:
1. Editing (Penyuntingan Data)
Data hasil kuesioner yang sudah diisi dikumpulkan, lalu diperiksa
kelengkapannya. Dari semua hasil kuesioner, responden menjawab
pertanyaan dengan lengkap, sehingga tidak ada kuesioner yang
dikeluarkan.
2. Coding (Pengkodean Data)
Data yang telah diperiksa dari bentuk kalimat atau huruf diubah menjadi
data angka atau bilangan.
3. Processing atau Data Entry (Memasukkan Data)
Data atau jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang sudah
ditotal nilainya dimasukkan ke dalam program olah data.
4. Cleaning (Pembersihan Data)
Selanjutnya hasil data yang sudah dimasukkan dilihat kembali untuk
melihat kemungkinan-kemungkinan terjadinya kesalahan. Setelah semua
sudah dilakukan dan sudah dipastikan tidak ada kesalahan, proses
selanjutnya adalah analisa data.
58

H. Analisa Data
1. Uji Normalitas
Uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi sebuah data
mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi data dengan
bentuk lonceng. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti
distribusi normal (Santoso, 2010).

Pada penelitian ini menggunakan uji Skewness. Uji Skewness yaitu


membagi nilai swekness dengan nilai standard eror. Metode kedua
dilakukan dengan nilai standart eror kurtosis. Menurut Ghozali (2013),
dengan uji skewness dapat mengetahui kemencengan data, dimana data
yang normal akan menyerupai bentuk lonceng. Kemungkinan yang ada
adalah menceng ke kiri, jika nilai Zskewness positif dan diatas 1,96 atau
menceng kanan jika Zkewness bernilai negative dan dibawah 1,96. Nilai
berdistribusi normal berada diantara nilai -2 (1,96) sampai dengan +2
(1,96).

Tabel 4.4 Distribusi Hasil Uji Coba Instrumen Normalitas Kuesioner


Pengetahuan Tentang Gizi di SMAN 6 Tangerang Selatan
Nilai Standar Error
Variable Hasil Keterangan
Skewness Skewness

Distribusi
Pengetahuan -0,916 0,258 -3,550
tidak normal
tentang gizi

Tabel 4.4 menyatakan bahwa hasil uji normalitas data terhadap kuesioner
pengetahuan tentang gizi didapatkan hasil -3,550. Berdasarkan hasil
tersebut data untuk kuesioner pengetahuan tentang gizi berdistribusi tidak
normal, sehingga menggunakan cut of point by median.

2. Analisa Univariat
Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisa ini tergantung dari
59

jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean, median, dan
standar deviasi. Dalam analisa univariat menghasilkan distribusi
frekuensi dan persentase dari tiap variabel yang diteliti (Notoatmodjo,
2012).
Rumus Distribusi Frekuensi:
𝑓
𝑃= 𝑥 100%
𝑛
Keterangan :
P : Proporsi
f : Frekuensi kategori
n : Jumlah sampel

3. Analisa Bivariat
Setelah dilakukan analisa univariat, pada hasil akan diketahui
karakteristik atau distribusi setiap variabel dan dapat dialnjutkan dengan
analisa bivariat. Analisa bivariat adalah analisis yang dilakukan terhadap
dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo,
2012). Pada penelitian ini, analisa bivariat dilakukan dengan uji statistik
Chi-Square (x2) pada α = 0.05.
Rumus perhitungan Chi-Square adalah :

2
𝛴 (𝑂 − 𝐸 2 )
𝑋 =
𝐸
Keterangan :
X2 : Chi-Square
O : Frekuensi hasil observasi
E : Frekuensi yang diharapkan

𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑥 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚


E=
𝑛

Σ : Penjumlahan
df : Derajat bebas (degree of freedom)
𝑑𝑓 = (𝑘 − 1)( 𝑏 − 1)
60

Confidence interval yang digunakan adalah 95%.


Pvalue < α (0,05) Ho ditolak artinya tidak ada hubungan
Pvalue > α (0,05) Ho diterima artinya ada hubungan
BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Hasil Univariat
Analisis univariat dalam penelitian ini akan melihat distribusi frekuensi dari
usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, Indeks Masa Tubuh berdasarkan Umur
(IMT/U), pengetahuan dan status gizi.
1. Distribusi Frekuensi Usia
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Usia Responden di SMAN 6 Tangerang Selatan
Tahun 2019
n=87
Usia Frequency Percentase
Remaja Awal 87 100,0
(12-16 Tahun)
Remaja Akhir 0 0
(>16 Tahun)
Total 87 100,0

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa usia responden di SMAN 6 Tangerang


Selatan Tahun 2019 tergolong dalam usia remaja awal yaitu sebanyak 87
responden (100%).

2. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin


Table 5.2
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden di SMAN 6 Tangerang
Selatan Tahun 2019
n=87
Jenis Kelamin Frekuensi Presentase
Perempuan 51 58,6
Laki- Laki 36 41,4
Total 87 100,0

61
62

Tabel 5.2 menunjukkan bahwa Jenis Kelamin responden di SMAN 6


Tangerang Selatan Tahun 2019 yang berjenis kelamin perempuan
sebanyak 51 responden (58,6%) dan yang berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 36 responden (41,4%).

3. Distribusi Frekuensi Aktivitas


Table 5.3
Distribusi Frekuensi Aktifitas Fisik Responden di SMAN 6 Tangerang
Selatan Tahun 2019
n=87
Aktivitas Frequency Percentase
Berat 6 6.9
Ringan 22 25.3
Sedang 59 67.8
Total 87 100.0

Tabel 5.3 menunjukkan bahwa Aktivitas responden di SMAN 6 Tangerang


Selatan Tahun 2019 yang beraktivitas fisik sedang sebanyak 59 responden
(67,8%) dan yang beraktivitas fisik ringan sebanyak 22 responden
(25,3%).

4. Distribusi Frekuensi Indeks Masa Tubuh berdasarkan Umur (IMT/U)


Table 5.4
Distribusi Frekuensi Indeks Masa Tubuh berdasarkan Umur (IMT/U)
Responden di SMAN 6 Tangerang Selatan Tahun 2019
n=87
Variabel Mean Standar Deviasi Min-Max
IMT/U 20,9 4,2519 14,0-33,3

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa rata-rata IMT/U responden di SMAN 6


Tangerang Selatan Tahun 2019 adalah 20,9 dengan standar deviasi 4,2519.
IMT/U terendah adalah 14,0 dan IMT/U tertinggi adalah 33,3.
63

5. Distribusi Frekuensi Status Gizi


Table 5.5
Distribusi Frekuensi Status Gizi Responden di SMAN 6 Tangerang
Selatan Tahun 2019
n=87
Variabel Frequency Percentase
Kurus 5 5.7
Gemuk 22 25.3
Normal 60 69.0
Total 87 100.0

Tabel 5.5 menunjukkan bahwa Status Gizi responden di SMAN 6


Tangerang Selatan Tahun 2019 yang memiliki status gizi normal sebanyak
60 responden (69,0%) dan yang memiliki status gizi gemuk sebanyak 22
responden (25,3%).

6. Distribusi Frekuensi Pengetahuan


Table 5.6
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di SMAN 6 Tangerang
Selatan Tahun 2019
n=87
Pengetahuan Frequency Percentase
Kurang 34 39,1
Baik 53 60,9
Total 87 100.0

Tabel 5.6 menunjukkan bahwa Pengetahuan responden di SMAN 6


Tangerang Selatan Tahun 2019 responden dengan pengetahuan baik yaitu
sebanyak 53 responden (60,9%) dan responden dengan pengetahuan
kurang sebanyak 34 responden (39,1%).
64

B. Hasil Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk menguji hubungan antara variabel
independen yaitu pengetahuan dengan variabel dependen yaitu status gizi.
Untuk menentukan hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen digunakan uji statistic chi-square dengan level of significance 5%.
Dengan ketentuan sebagai berikut : hubungan dikatakan bermakna jika p
value < 0,005 dan tidak bermakna jika p value > 0,005.
Table 5.7
Hubungan Pengetahuan Tentang Gizi dengan Status Gizi Remaja di
SMAN 6 Tangerang Selatan Tahun 2019
n=87

Status Gizi
Jumlah
Pengetahuan Normal Lebih Kurang % P Value
N
N % N % N %

Baik 53 100 0 0 0 0 53 100,0 0,005

Kurang 7 20,6 22 64,7 5 14,7 34 100,0

Total 60 69,0 22 25,3 5 5,7 87 100,0

Tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 53 responden yang memiliki pengetahuan


baik dengan status gizi normal yaitu sebanyak 53 responden (100%).
Sedangkan dari 34 responden yang memiliki pengetahuan kurang dengan
status gizi lebih sebanyak 22 responden (64,7%). Hasil uji statistik didapatkan
nilai p value = 0,005 (< α 0,05) sehingga H0 ditolak. Ada hubungan yang
bermakna antara pengetahuan tentang gizi dengan status gizi remaja.
BAB VI
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

A. Interprestasi dan Diskusi Hasil


1. Hasil Analisa Univariat
a. Usia
Hasil penelitian distribusi frekuensi usia responden di SMAN 6
Tangerang Selatan semua responden merupakan golongan usia
remaja awal (12-16 Tahun) yaitu sebanyak 87 responden (100%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan


oleh Diza Liane Sahputri (2015) yang berjudul hubungan antara
status gizi dan gambaran tubuh remaja putri di SMAN 3 Cimahi,
responden yang digunakan dalam penelitian tersebut sebanyak 198
responden. Hasil penelitian tersebut mayoritas berusia 16 tahun
sebanyak 92 responden (46,5%).

Usia remaja, yaitu 10-18 tahun, merupakan tahap tumbuh kembang


yang luar biasa secara fisiologis, psikologis, dan sosial. Kemudian di
usia remaja merupakan periode rentang gizi karena berbagai sebab.
Pertama, remaja memerluan zat gizi yang lebih tinggi karena
peningkatan pertumbuhan fisik dan perkembangan yang dramatis itu.
Kedua, perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan remaja
mempengaruhi baik asupan maupun kebutuhan gizinya. Ketiga,
remaja yang mempunyai kebutuhan gizi khusus, yaitu remaja yang
aktif dalam kegiatan olah raga, menderita penyakit kronis, sedang
hamil, melakukan diet secara berlebihan, pecandu alkohol atau obat
terlarang (Almatsier, 2012).

Menurut analisa peneliti saat dilakukan penelitian responden yang


diteliti hanya kelas X dengan rentan usia 14-16 tahun sebanyak 87

65
66

responden (100%). Menurut Depkes RI, (2009) usia remaja awal


berkisar dari usia 12-16 tahun.

b. Jenis Kelamin
Hasil penelitian distribusi frekuensi jenis kelamin responden di
SMAN 6 Tangerang Selatan menyatakan bahwa responden
terbanyak adalah responden yang berjenis kelamin perempuan
sebanyak 51 responden (58,6%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan


oleh Dhayu Dwi Erpridawati (2012) yang berjudul hubungan
pengetahuan tentang gizi dengan status gizi siswa SMP di
Kecamatan Kerjo Kabupaten Karanganyar, responden yang
digunakan dalam penelitian tersebut sebanyak 180 responden. Hasil
penelitian tersebut didapatkan responden paling banyak berjenis
kelamin perempuan yaitu sebanyak 94 responden (52,2%).

Menurut Dr Marudut, MPS dari Bidang Penelitian dan


Pengembangan Gizi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI),
(2017) kebutuhan gizi anak laki-laki dan perempuan menjelang
remaja berbeda karena terkait usia dan ukuran tubuh. Widyakarya
Nasional Pangan Gizi VI (WKNPG VI) menganjurkan angka
kecukupan gizi (AKG) energi untuk remaja dan dewasa muda
perempuan 2000-2200 kkal, sedangkan untuk laki-laki antara 2400-
2800 kkal setiap hari.

Menurut analisa peneliti saat dilakukan penelitian mayoritas


responden berjenis kelamin perempuan dengan jumlah responden
sebanyak 51 responden (58,6%). Hal ini dikarenakan perempuan
lebih memperhatikan bentuk tubuhnya dibandingkan laki-laki.
67

c. Aktivitas
Hasil penelitian distribusi frekuensi aktivitas responden di SMAN 6
Tangerang Selatan terbanyak adalah responden dengan aktivitas fisik
sedang yaitu sebanyak 59 responden (67,8%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan


oleh Putu Lina Paramitha Dewi dan Apoina Kartini (2017) yang
berjudul hubungan pengetahuan gizi, aktivitas fisik, asupan energi
dan asupan lemak dengan kejadian obesitas pada remaja SMP.
Responden yang digunakan dalam penelitian tersebut sebanyak 60
responden, dari 60 responden tersebut paling banyak responden yang
beraktivitas sedang yaitu sebanyak 53 responden (88,3%).

Menurut Huriyati (2009) aktifitas fisik atau disebut juga aktifitas


eksternal adalah sesuatu yang menggunakan tenaga atau energi
untuk melakukan berbagai kegiatan fisik, seperti berjalan, berlari,
berolahraga, dan lain-lain. Setiap kegiatan fisik membutuhkan energi
yang berbeda menurut lamanya intensitas dan sifat kerja otot.
Latihan fisik dapat meningkatkan kemampuan fungsional
kardiovaskular dan menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung
yang diperlukan pada setiap penurunan aktifitas fisik seseorang.

Menurut analisa peneliti responden terbanyak adalah responden yang


beraktivitas sedang yaitu sebanyak 51 responden (58,6%).
dikarenakan saat dilakukan penelitian aktivitas responden di sekolah
hanya sekedar mengobrol, belajar dan bermain gadget.

d. Indeks Masa Tubuh berdasarkan Umur (IMT/U)


Hasil Penelitian Distribusi frekuensi IMT/U rata-rata responden di
SMAN 6 Tangerang Selatan adalah 20,9 dengan standar deviasi
4,2519. IMT/U terendah 14,0 dan tertinggi 33,3.
68

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan


oleh Reny Soraya (2017) yang berjudul gambaran status gizi remaja
putri berdasarkan status IMT di SMA Islam 1 Sleman Yogyakarta.
Responden yang digunakan dalam penelitian tersebut sebanyak 60
responden dengan hasil IMT terendah <17,0 dan tertinggi >27,0.

Menurut Supariasa (2010), indeks massa tubuh menurut Umur


(IMT/U) adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara berat
badan (BB), tinggi badan (TB) dan umur seseorang. Menurut
Kemenkes RI (2010) dalam Kurniawati (2017), mengatakan IMT
direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan
status gizi remaja, BB dan TB dapat digunakan untuk menilai status
gizi dengan IMT yang terkait dengan umurnya, karena dengan
perubahan umur terjadi perubahan komposisi tubuh.

Menurut analisa peneliti responden memiliki IMT yang bervariasi,


mulai dari berat badan sangat kurang dengan hasil IMT terendah
yaitu 14,0 sampai berat badan berlebih dengan hasil IMT tertinggi
yaitu 33,3.

e. Status Gizi
Hasil penelitian distribusi frekuensi meunujukkan bahwa
pengetahuan gizi responden di SMAN 6 Tangerang Selatan
responden terbanyak adalah responden yang memiliki status gizi
normal yaitu sebanyak 60 responden (69,0%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan


oleh Muhammad Abdul Karim (2017) yang berjudul hubungan
asupan makanan, aktivitas fisik, dengan status gizi peserta didik
kelas VII SMPN 5 Seleman, responden yang digunakan dalam
penelitian tersebut sebanyak 60 responden. Hasil penelitian tersebut
69

menunjukan bahwa status gizi terbanyak adalah status gizi normal


dengan jumlah responden sebanyak 52 responden (86,67%).

Menurut Waloya (2010), status gizi merupakan keadaan tubuh


sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi. Apabila
zat gizi dikonsumsi dalam jumlah yang cukup maka kesehatan dapat
terjaga, mampu melakukan aktivitas fisik dengan optimal, dan
membantu mencegah terjadinya penyakit. Sebaliknya bila zat gizi
dikonsumsi dalam jumlah terlalu banyak atau sedikit, maka tubuh
akan beradaptasi untuk mencapai keadaan homeostatik sehingga
fungsi fisiologis dapat terganggu.

Menurut analisa peneliti responden terbanyak memiliki status gizi


normal sebanyak 60 responden (69,0%). Hal ini dikarenakan
responden berada di tahap perkembangan remaja awal, dimana
mereka mulai memperhatikan bentuk tubuh mereka dan memerlukan
energi dalam beraktivitas.

f. Pengetahuan
Hasil penelitian distribusi frekuensi meunujukkan bahwa
pengetahuan gizi responden di SMAN 6 Tangerang Selatan
terbanyak responden dengan pengetahuan baik yaitu sebanyak 53
responden (60,9%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan


oleh Dhayu Dwi Erpridawati (2012) yang berjudul hubungan
pengetahuan tentang gizi dengan status gizi siswa SMP di
Kecamatan Kerjo Kabupaten Karanganyar, responden yang
digunakan dalam penelitian tersebut sebanyak 180 responden. Hasil
penelitian tersebut didapatkan responden paling banyak
berpengetahuan baik yaitu sebanyak 153 responden (85%).
70

Menurut Anjani (2012), pengetahuan gizi adalah ilmu yang


mempelajari semua hal tentang gizi. Pengetahuan untuk memilih
makanan yang patut dikonsumsi atau tidak, perlu dimiliki oleh setiap
individu. Pengetahuan gizi dapat dipengaruhi beberapa hal, salah
satunya adalah pendidikan mengenai gizi.

Menurut analisa peneliti responden paling banyak berpengetahuan


baik yaitu sebanyak sebanyak 53 responden (60,9%). Hal ini
dikarenakan di jaman modern saat ini sudah banyak media yang
mendukung responden dalam menggali informasi mengenai gizi.
Selain itu, informasi mengenai gizi juga didapatkan dari pelajaran
keterampilan di sekolah berupa keterampilan dalam pengolahan
makanan yang mengajarkan pengolahan menu sehat dan baik
dikonsumsi bagi tubuh.

2. Hasil Analisis Bivariat


a. Hubungan Pengetahuan Tentang Gizi dengan Status Gizi
Dari hasil uji statistic didapatkan p value = 0,005 (< α 0,05) sehingga
H0 ditolak, ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang
gizi dengan status gizi remaja.

Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian dari Adelina Elsa Damayanti
(2016) dengan judul Hubungan Citra Tubuh, Aktivitas Fisik, dan
Pengetahuan Gizi Seimbang dengan Status Gizi Remaja Putri
didapatkan hasil p-value sebesar 0,000 < 0,05 (alpha) sehingga dapat
disimpulkan bahwa H0 ditolak yang artinya terdapat hubungan yang
signifikan antara pengetahuan tentang gizi seimbang dan status gizi
remaja.

Hal ini dibuktikan sesuai dengan teori bahwa pengetahuan gizi


seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan
makanan yang akhirnya akan berpengaruh pada keadaan gizi individu.
71

Semakin tinggi pengetahuan gizi seseorang diharapkan semakin baik


pula keadaan gizinya (KEMENKES RI, 2013).

Menurut analisa peneliti responden di SMAN 6 Tangerang Selatan


terbanyak memiliki pengetahuan yang baik hal ini dibuktikan dengan
status gizi responden di SMAN 6 Tangerang Selatan yang terbanyak
berstatus gizi normal.

B. Keterbatasan Peneliti
1. Keterbatasan Instrumen Penelitian
a. Instrument penelitian ini adalah kuesioner, instrument yang digunakan
belum ada yang baku untuk pengumpulan seluruh variabel sehingga
instrument kuesioner ini disusun berdasarkan pengembangan dari
teori-teori yang berkaitan, seingga tidak mampu menggambarkan
dasar teori secara keseluruhan. Kuesioner dalam penelitian ini
mengalami perubahan dari skala likert menjadi multiple choice.
b. Kuesioner yang masih kurang dikarenakan hanya dilakukan satu kali
uji validitas karena ini merupakan penelitian pertama yang dilakukan
oleh peneliti. Penelitian ini untuk mengukur hubungan pengetahuan
tentang gizi dengan status gizi remaja.
c. Timbangan dan stature meter yang masih digunakan secara manual
dan penghitungan IMT dan Z-Score masih menggunakan
penghitungan manual dikarenakan belum ada tabel baku untuk Z-
Score dan IMT/U usia 5-18 taahun.
BAB VII
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan pengetahuan
tentang gizi dengan status gizi remaja di SMAN 6 Tangerang Selatan Tahun
2019, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa :
1. Mayoritas responden berusia 15 tahun dengan jumlah responden
sebanyak 76 responden (87,4%).
2. Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan dengan jumlah
responden sebanyak 51 responden (58,6%).
3. Mayoritas responden beraktivitas fisik sedang dengan jumlah responden
sebanyak 59 responden (67,8%).
4. Gambaran IMT/U responden berkisar antara 14,0-33,3
5. Mayoritas responden memiliki status gizi yang normal, yaitu sebanyak 60
responden (69,0%).
6. Mayoritas responden berpengetahuan baik, yaitu sebanyak 53 responden
(60,9%).
7. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang gizi dengan
status gizi remaja di SMAN 6 Tangerang Selatan dengan nilai p value =
0,005.

B. Saran
1. Bagi Profesi Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan agar dapat meningkatkan status gizi dan
mengurangi masalah gizi dengan memberikan informasi terkait dengan
gizi yang baik.
2. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan agar dapat menjadi bahan pustaka untuk
memperluas wawasan bagi perawat untuk mengurangi masalah gizi.

72
73

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai hubungan
pengetahuan tentang gizi dengan status gizi remaja dengan area
penelitian lebih luas dan jumlah sampel yang lebih besar serta
memperdalam kualitas pertanyaan kuesioner sehingga hasil yang
diperoleh akan lebih akurat sehingga dapat dilakukan upaya peningkatan
status gizi remaja.
DAFTAR PUSTAKA

Adriyani, M., & Wirjatmadi B,. (2012), Peran Gizi dalam Siklus Kehidupan,
Prenamedia Group, Jakarta.

Aji, A. S. (2018). Lap Fisio 4.5 Aktifitas Fisik. Diakses pada 23 November 2018
pada https://id.scribd.com/document/368591025/lap-fisio-4-5-aktivitas-fisik-
docx

Agus, R. & Budiman. (2013). Kapita Selekta Kuesioner Pengetahuan dan Sikap
Dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika

Ali, M., (2010). Psikologi remaja. Bandung: Bumi Aksara.

Almatsier, S., (2011). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.

____________. (2011). Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT.


Gramedia Pustaka Utama

____________. (2012). Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. PT Gramedia


Pustaka Utama.

Amelia, F., (2008). Konsumsi pangan, pengetahuan gizi, aktivitas fisik, dan status
gizi pada remaja di Kota Sungai Penuh Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi.
Skripsi. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Anjani, R. P., & Apoina K. (2012). Perbedaan Pengetahuan Gizi, Sikap dan Asupan
Zat Gizi pada Dewasa Awal (Mahasiswi LPP Graha Wisata dan Sastra
Inggris Universitas Diponegoro Semarang. Skripsi Universitas Diponegoro.
Dalam Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013,
Halaman 312-320. Diakses 20 Oktober 2018 pada http://ejournal-
sl.undip.ac.id/index.php/jnc

Anonim. (2014). 10 Jenis Makanan yang Berbahaya Bagi Kesehatan. diakses 4


Desember 2018 pada https://www.merdeka.com/ireporters/sehat/10-jenis-
makanan-yang-berbahaya-bagi-kesehatan.html
Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta. (pengetahuan)

Arisman, P., (2009). Psikologi remaja : dimensi-dimensi perekembangan. Bandung:


CV. Mandala Maju

___________ .(2009). Gizi Dalam Daur Kehidupan : Buku Ajar Ilmu Gizi. Edisi
Kedua. Jakarta : EGC.

___________. (2014). Gizi dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta:
EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. (2013).


Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Balitbang Kemenkes RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS). Balitbang


Kemenkes RI. Jakarta

Bani, A., (2010). Studi tentang persepsi mahasiswa tentang tubuh ideal dan
hubungannya dengan upaya pencapaiannya. Skripsi. Intitut Pertanian Bogor.
Diakses 27 Oktober 2018 pada http://ipb.go.id/admin/41056387.pdf

Cakrawati, D, & Mustika NH. (2012). Bahan Pangan, Gizi, dan Kesehatan.
Bandung: Alfabeta Bandung.

Damayanti, A. E. (2016). Hubungan Citra Tubuh, Aktivitas Fisik, dan Pengetahuan


Gizi Seimbang dengan Status Gizi Remaja Putri di SMK Adhikawacana
Surabaya diakses 17 Oktober 2018 pada
http://repository.unair.ac.id/46573/14/FKM.%20344-16%20Dam%20h.pdf

Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI. (2014). Gizi dan Kesehatan
Masyarakat Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Pelaksanaan Program


Perbaikan Gizi Kabupaten/Kota: Jakarta.
Depkes, Poltekes. (2010). Kesehatan Remaja Problem Dan Solusinya. Jakarta : PT
Salemba Medik.

Depkes RI. (2009). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depertemen Republik


Indonesia.

Destayanti, P., (2011). Perception of body shape with adolescents nutrition status in
Surabaya. Tesis. Surabaya: Universitas Airlangga.

Dharma, K.K. (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan-Panduan Melaksanakan


dan Menerapkan Hasl Penelitian. Jakarta: Trans Infomedia.

Dhayu D. E. (2012). Hubungan Pengetahuan Tentang Gizi Dengan Status Gizi Siswa
SMP Di Kecamatan Kerjo Kabupaten Karanganyar. Diakses 17 Januati 2019
pada http://eprints.ums.ac.id/22551/9/NASKAH_PUBLIKASI.pdf

Diza L. S. (2015). Hubungan Antara Status Gizi Dan Gambaran Tubuh Remaja
Putri Di SMAN 3 Cimahi. Diakses 17 Januari 2019 pada
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/28934/1/Diza%20L
iane%20Sahputri-fkik.pdf

Emilia, E., (2008). Pengembangan Alat Ukur Pengetahuan, Sikap dan Praktek pada
Gizi Remaja. Diakses 20 Oktober 2018. http://repository.ipb.ac.id/

Fadillah, M., Asmar Y., & Lucy F. (2016). Hubungan Pengetahuan dengan
Kecukupan Gizi Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Konsentrasi
Tata Boga. Diakses 17 Oktober 2018 pada
http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/6338

Florence, A. G. (2017). Hubungan Pengetahuan Gizi, Pola Konsumsi terhadap


Status Gizi pada Mahasiswa TPB di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut
Teknologi Bandung. Bandung. Diakses 4 Desember 2018 pada
http://repository.unpas.ac.id/29841/

Hadi, S., (2010). Beban ganda masalah gizi dan implikasinya terhadap
perkembangan remaja. Diakses 27 Oktober 2018 pada
www.unpad.ac.id/index.php/mgmi/article/view/440.
Herbold, N, & Sari E. (2012). Buku Saku Nutrisi. Jakarta: EGC

Hidayati., (2010). Faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas pada siswi SMK
Negeri 01 Medan tahun 2010. Diakses 27 Oktober 2018 pada
http://repository.hnm.ac.id/handle/123456789

Huriyati, S., (2009). Aktivitas fisik remaja SMP di Kabupaten Bantul serta
hubungannya dengan kejadian obesitas. Jurnal Gizi Klinik Indonesia,
Volume 1 No. 2. November 2009. Diakses 27 Oktober 2018 pada
http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod.pdf.

Hurlock, E. B. (2011). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang


Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Imtihani, T. R., (2012). Hubungan pengetahuan, uang saku, motivasi, promosi, dan
peer group dengan frekuensi konsumsi makanan cepat saji pada remaja putri.
Tesis. Semarang: Universitas Diponegara.

Ipa., (2010). Perbedaan pola makan obesitas dengan non obesitas. Diakses 27
Oktober 2018 pada http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/41096372.pdf.

Kemenkes RI. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 41


Tahun 2014 Tentang Pedoman Umum Gizi Seimbang. Diakses pada 20
Oktober 2018 pada http://gizi.depkes.go.id.

Kementerian Kesehatan (ID). (2013). Riskesdas 2013. Badan Peneliti dan


Pengembangan Kesehatan. Departemen Kesehatan : Republik Indonesia
2008.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Standar antropometri penilaian


status gizi anak. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan
Anak.

Kurniasih, D, dkk. (2010). Sehat dan bugar berkat gizi seimbang. Jakarta: Kompas
Gramedia

Kurniati, P. (2017). Gambaran Status Gizi Remaja Putri Berdasarkan IMT/U di


SMAN 1 Minggir Sleman. Yogyakarta. Diakses 4 Desember 2018 di
http://repository.unjaya.ac.id/2331/1/PUTRY%20KURNIAWATI%20%2811
14022%29nonfull.pdf

Lapau, B. (2012). Metode Penelitian Kesehatan (Metode Ilmiah Penulisan Skripsi


Tesis, dan Disertasi). Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Mardatillah. (2008). Hubungan Konsumsi Fast Food, Aktivitas Fisik Dan Faktor
Lain Dengan Gizi Lebih Pada Remaja SMU Sudirman di Jakarta Timur.
Diakses 20 November 2018 pada
https://media.neliti.com/media/publications/18843-ID-hubungan-kebiasaan-
konsumsi-fast-food-aktivitas-fisik-pola-konsumsi-karakteristi.pdf

Muhammad A. K. (2017). Hubungan Asupan Makanan, Aktivitas Fisik, Dengan


Status Gizi Peserta Didik Kelas VII SMPN 5 Seleman. Diakses 17 Januari
2019 pada http://eprints.uny.ac.id/52957/1/Skripsi.pdf

Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta

_____________. (2012). Promosi kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:


Rineka cipta

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.


Jakarta: Salemba Medika.

Proverawati, A. (2010). Ilmu Gizi Untuk Keperawatan & Gizi Kesehatan.


Yogyakarta: PT Muha Medika.

Puti A. Y. (2017). Jelang Remaja, Kebutuhan Gizi Anak Laki-laki dan Perempuan
Berbeda. Diakses 18 Januari 2019 pada https://health.detik.com/anak-dan-
remaja/d-3407194/jelang-remaja-kebutuhan-gizi-anak-laki-laki-dan-
perempuan-berbeda

Putu L. P. D. dan Apoina K. (2017). Hubungan Pengetahuan Gizi, Aktivitas Fisik,


Asupan Energi Dan Asupan Lemak Dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja
SMP. Diakses 17 Januari 2019 pada
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/article/view/16918
Renata, P. & Anna M. D. (2017). Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Tentang Gizi Seimbang dengan Status Gizi Siswa Kelas IV dan V di Sekolah
Dasar Tarakanita Gading Serpong. Diakses pada 17 Oktober 2018 pada
http://ejournal.ukrida.ac.id/ojs/index.php/Ked/article/view/1460

Reny S. (2017). Gambaran Status Gizi Remaja Putri Berdasarkan Status IMT Di
SMA Islam 1 Sleman Yogyakarta. Diakses 17 Januari 2019 pada
http://repository.unjaya.ac.id/2364/2/RENY%20SORAYA%20%281114135
%29nonfull.pdf

Sabri, L., & Hastono, S. P. (2014). Statistik Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers.

Sarwono. S.W. (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soetjiningsih, (2010). Buku Ajar Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya.


Jakarta: CV. Sagung Set

Supariasa, (2012). Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

__________. (2013). Penelitian Status Gizi (Edisi Revisi). Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Susanti, R., Ganis I., & Wasisto U. (2014). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu
Tentang Gizi Anak dengan Status Gizi Pada Anak Usia 1-3 Tahun.
Pekanbaru. Diakses pada 4 Desember 2018 pada PDF https://media.neliti.com

Waloya T, Rimbawan, & Andarwulan N. (2013). Hubungan antara konsumsi


pangan dan aktivitas fisik dengan kadar kolesterol darah pria dan wanita
dewasa di Bogor. Jurnal Gizi dan Pangan., 8(1): 9—16.

Widyastuti, Y. (2009). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya.

Windhi. 2016. Masyarakat Indonesia Masih Kurang Pengetahuan Gizi Seimbang.


diakses 16 Oktober 2018 pada
http://www.centroone.com/News/Detail/2016/2/6/7040/masyarak at-
indonesia-masih-kurang-pengetahuan-gizi-seimbang-
https://www.bmj.com/content/357/bmj.j1309 diakses pada 20 November 2018

http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/11/GIZI-
DALAM-DAUR-KEHIDUPAN-FINAL-SC.pdf diakses pada 16 Oktober
2018

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/133/jtptunimus-gdl-dhianperma-6613-3-
babii.pdf diakses pada 3 November 2018

https://karyatulisilmiah.com/pengertian-jenis-kelamin/ diakses pada 3 November


2018

https://kliksma.com/2014/12/pengertian-genetika.html diakses pada 3 November


2018

https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/17/03/16/omweur335-indonesia-
alami-masalah-gizi-ganda diakses pada 18 November 2018

http://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-aktivitas-fisik/ diakses pada 3


November 2018

http://www.depkes.go.id/article/view/18051600005/kenali-masalah-gizi-yang-
ancam-remaja-indonesia.html diakses pada 16 Oktober 2018

http://www.kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Buku-
Saku-Nasional-PSG-2017_975.pdf diakses pada 16 Oktober 2018

http://www.who.int/news-room/detail/11-10-2017-tenfold-increase-in-childhood-
and-adolescent-obesity-in-four-decades-new-study-by-imperial-college-
london-and-who diakses pada 20 November 2018
LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Responden yang saya hormati,


Saya yang bertanda tangan dibawah ini

Nama : Eka Septianti


NIM : 11151016

Adalah mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan STIKes Pertamedika, yang akan


melakukan penelitian tentang “Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Status Gizi
Remaja di SMAN 6 Tangerang Selatan.”

Dengan ini saya mohon kepada saudara untuk bersedia menandatangani lembar
persetujuan untuk menjadi responden dan menjawab pertanyaan penelitian sesuai
dengan petunjuk yang ada. Jawaban responden akan dijaga kerahasiaannya dan
hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

Atas bantuan dan partisipasinya, saya ucapkan terima kasih.

Jakarta, Januari 2019


Hormat Saya,

(Eka Septianti)
Lampiran 7

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama Responden :

Setelah membaca dan mendapatkan penjelasan serta jawaban terhadap pertanyaan


yang saya ajukan mengenai penelitian ini, saya memahami tujuan penelitian ini
untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Status Gizi Remaja di SMAN
6 Tangerang Selatan. Saya mengerti bahwa peneliti akan menghargai dan
menjunjung tinggi hak-hak saya sebagai responden dan saya menyadari penelitian ini
tidak berdampak negatif bagi saya.

Dengan ditandatangani surat persetujuan ini, maka saya menyatakan untuk


berpartisipasi dalam penelitian ini.

Jakarta, Januari 2019

Peneliti, yang menyatakan

(Eka Septianti) (………………….)


Lampiran 8

KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN GIZI


DENGAN STATUS GIZI REMAJA DI SMAN 6 TANGERANG SELATAN

A. Tujuan
Kuesioner ini dibuat untuk mengetahui apakah ada hubungan pengetahuan
tentang gizi dengan status gizi remaja di SMAN 6 Tangerang Selatan.

B. Petunjuk Pengisian
Responden diharapkan:
1. Membaca pertanyaan dengan teliti
2. Menjawab setiap pertanyaan yang tersedia dengan memberikan tanda ()
atau jawaban tertulis pada tempat yang disediakan,
3. Menjawab pertanyaan sesuai pengetahuan responden.
4. Menanyakan kepada peneliti jika ada pertanyaan yang kurang jelas.
5. Mengumpulkan kembali kepada peneliti jika pertanyaan telah diisi dengan
lengkap.
Kode Responden :
Tanggal Penelitian: …………………

C. Karakteristik Responden
1. Nama (inisial) : ……………………………………………………..
2. Tanggal Lahir : …………………………………………….
3. Usia : ………………………………………………………..
4. Jenis Kelamin : ……………………………………………..
5. Jenis Aktivitas : ( ) Ringan ( ) Sedang ( ) Berat (diisi peneliti)
6. Sedang melakukan diet : ( ) Ya ( ) Tidak
7. Tinggi badan : ....................................... cm
8. Berat badan : .......................................... kg
9. IMT/U : ................................................................... (diisi peneliti)
D. Aktivitas Fisik
Berikut adalah tabel Klasifikasi Intensitas Aktifitas Fisik.
Keterangan: Pilihlah kegiatan mana yang anda lakukan dengan melingkari
nomor yang tersedia sesuai dengan jenis kegiatan
(Rendah/Sedang/Berat).

RENDAH SEDANG BERAT


< 3,0 METs 3,0-6,0 METs >6,0 METs
BERJALAN BERJALAN BERJALAN,
1. Berjalan biasa, < 1. Berjalan langkah JOGGING, LARI
3 mil/jam sedang atau cepat 3- 1. Jogging atau lari
2. Berjalan di 4,5 mil/jam 2. Skipping
rumah/halaman 2. Berjalan ke 3. Mendaki bukit
3. Melihat-lihat di kampus/tempat kerja 4. Mendaki gunung
pertokoan 3. Berjalan dengan 5. Panjat tebing
4. Berjalan tanpa anjing
tujuan 4. Berjalan saat istirahat
kerja
5. Berjalan turun tangga
6. Gerak Jalan
7. Bersepatu Roda

BERSEPEDA BERSEPEDA BERSEPEDA


Bersepeda < 5 1. Bersepeda 5-9 mil/jam 1. Bersepeda > 10
mil/jam 2. Bersepeda dengan mil/ jam
sedikit mendaki 2. Bersepeda pada
ketinggian curam

AKTIVITAS DI AKTIVITAS DI AKTIVITAS DI


RUMAH & RUMAH & TEMPAT RUMAH &
TEMPAT KERJA KERJA TEMPAT KERJA
1. Mencuci piring 1. Mencuci motor, 1. Menyekop sesuatu
2. Merapikan mobil yang berat
tempat tidur Membersihkan 2. Menggali selokan
3. Menyiapkan garasi, kaca 3. Mengangkut
makanan 2. Menyapu lantai sesuatu yang berat
4. Berkebun 3. Menggali tanah,
5. Memangkas mencangkul
dahan 4. Menyiangi rumput
6. Menyiangi sambil berdiri atau
rumput sambil membungkuk
duduk. 5. Menanam pohon
7. Menabur benih 6. Memangkas ranting,
pohon
8. Duduk bermain 7. Mengangkut
video game ranting/kayu.
9. Duduk sambil
membaca,
menulis,
mewarnai, atau
menggambar
10. Duduk
menggunakan
computer
AKTIVITAS WAKTU AKTIVITAS
AKTIVITAS LUANG & WAKTU LUANG &
WAKTU LUANG OLAHRAGA OLAHRAGA
& OLAHRAGA 1. Yoga, senam aerobic 1. Senam aerobik
1. Latihan (low impact) (high impact)
peregangan 2. Latihan fisik di air 2. Push up, Pull up
dengan (aerobik/kalistenik) 3. Circuit training
pemanasan 3. Bermain tenis meja (latihan beban)
ringan untuk pertandingan 4. Bermain bola
2. Bermain tenis 4. Bulutangkis, bowling, tangan secara tim
meja untuk memukulbola kriket 5. Bertanding futsal,
rekreasi 5. Berenang untuk sepak bola
3. Bermain lempar rekreasi 6. Berenang dengan
tangkap bola 6. Bermain voli untuk putaran teratur
4. Berenang rekreasi 7. Bermain tennis
mengambang 7. Berkuda tunggal
5. Duduk 8. Bermain musik
memancing dengan berdiri atau
6. Bermain Kmusik berjalan (marching
dengan duduk band)
u

Kuesioner Aktivitas Fisik RISKESDAS (2013)


Berikut adalah pertanyaan aktivitas fisik yang berkaitan dengan pekerjaan,
aktivitas di rumah, aktivitas di waktu senggang dan transportasi.
Keterangan: Isilah pertanyaan berikut sesuai dengan kegiatan yang anda
pilih/lakukan di tabel atas.
1. Apakah anda biasa melakukan aktivitas fisik berat, yang dilakukan terus
menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali melakukannya?
Jawab : a. Ya

b. Tidak  dilanjutkan ke nomor 4


2. Biasanya berapa hari dalam seminggu, anda melakukan aktivitas fisik berat
tersebut?
Jawab : .................hari
3. Biasanya pada hari ketika anda melakukan aktivitas fisik berat, berapa
total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut ?
Jawab : .................menit
4. Apakah anda biasa melakukan aktivitas fisik sedang, yang dilakukan
terus menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kali melakukannya?
Jawab : a. Ya

b.Tidak  dilanjutkan ke nomor 7

5. Biasanya berapa hari dalam seminggu, anda melakukan aktivitas fisik


sedang tersebut?
Jawab : .................hari
6. Biasanya pada hari ketika anda melakukan aktivitas fisik sedang, berapa total
waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut ?
Jawab : .................menit

7. Apakah anda biasa melakukan aktivitas fisik ringan, yang dilakukan terus
menerus paling sedikit selama 10 menit setiap kalinya?
Jawab : a. Ya
b. Tidak
8. Biasanya berapa hari dalam seminggu, anda melakukan aktivitas fisik ringan
tersebut?

Jawab : .................hari
9. Biasanya pada hari ketika anda melakukan aktivitas fisik ringan, berapa
total waktu yang digunakan untuk melakukan seluruh kegiatan tersebut ?
Jawab : .................menit
Panduan Analisis Kuesioner Tingkat Aktivitas Fisik
1. Penghitungan aktivitas fisik
Cara penghitungan tingkat aktivitas fisik adalah dengan menghitung jumlah
aktivitas fisik yang tercantum dalam kuesioner dalam waktu 1 minggu.

2. Pembobotan aktivitas fisik


Pembobotan dilakukan sebagai berikut :
a. Aktivitas fisik yang termasuk dalam aktivitas fisik berat diberi bobot 4,
ini berarti durasi melakukan aktivitas fisik tersebut (dalam menit)
dikalikan 4.
b. Aktivitas fisik yang termasuk dalam aktivitas fisik sedang diberi bobot
2, ini berarti durasi melakukan aktivitas fisik tersebut (dalam menit)
dikalikan 2.
c. Aktivitas fisik yang termasuk dalam aktivitas fisik ringan diberi bobot
1, ini berarti durasi melakukan aktivitas fisik tersebut (dalam menit)
dikalikan 1.

3. Klasifikasi aktivitas fisik


Jumlah aktivitas fisik dalam 1 minggu dihitung dalam menit dan selanjutnya
diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Tingkat aktivitas fisik rendah
Bila jumlah aktivitas fisik yang meningkatkan kesehatan < 150 menit
dalam 1 minggu.
b. Tingkat aktivitas fisik sedang
Bila jumlah aktivitas fisik yang meningkatkan kesehatan 150 – 300 menit
dalam 1 minggu.
c. Tingkat aktivitas fisik rendah
Bila jumlah aktivitas fisik yang meningkatan kesehatan > 300 menit
dalam 1 minggu
2. Kuesioner Bouchard
a. Responden mengisi diari yang telah diberikan berdasarkan aktivitas
fisik yang dilakukan selama 24 jam pada dua hari kerja dan satu hari
libur.
b. Pemeriksa melakukan analisis diari tingakat aktivitas fisik.

Keterangan:
Bobot aktivitas fisik = aktivitas fisik berat diberi bobot 4
aktivitas fisik sedang diberi bobot 2
aktivitas fisik ringan diberi bobot 1
Frekuensi aktivitas fisik = jumlah hari dalam satu minggu yang
digunakan untuk aktivitas fisik
Durasi aktivitas fisik = lama waktu yng digunakan untuk
melaukan aktivitas fisik (menit)
E. Pengetahuan Gizi
Beri tanda silang (X) pada pilihan jawaban yang Anda anggap paling benar.

No. Pertanyaan
Berikut ini adalah kelompok zat gizi yang diperlukan oleh tubuh
kita :
a. Karbohidrat, lemak
1
b. Karbohidrat, lemak, protein
c. Karbohidrat, lemak, protein, vitamin
d. Karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral
Apakah guna makanan bagi tubuh kita ?
a. sebagai zat tenaga, zat pembangun, zat pengatur

2 b. Sebagai zat tenaga, zat pengatur


c. Sebagai zat pembangun
d. Untuk mengenyangkan perut
Manakah dari zat-zat gizi berikut yang berfungsi untuk
pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh ?
a. Lemak
3
b. Protein
c. Karbohidrat
d. Tidak tahu
Berikut ini adalah susunan menu yang bergizi seimbang yaitu :
a. Nasi, ikan, tahu, sayur sop, jeruk

4 b. Roti dan susu


c. Nasi, perkedel kentang, ayam goreng
d. Tidak tahu
Makanan yang banyak mengandung serat :
a. daging

5 b. telur
c. buah dan sayur
d. tidak tahu
Contoh pangan yang mengandung karbohidrat adalah :
6
a. Ubi, kentang, ikan
b. Nasi, singkong, jagung
c. Daging, telur, susu
d. Tidak tahu
Buah-buahan dan sayuran merupakan bahan makanan yang
mengandung zat gizi?
a. Protein
7
b. Vitamin dan Mineral
c. Lemak
d. Tidak Tahu
Contoh pangan yang tinggi lemak adalah….
a. Susu, ikan, putih telur

8 b. Kuning telur, susu, mentega


c. Mentega, putih telur, ikan
d. Tidak tahu
Makanan apa yang bisa menyebabkan kegemukan ?
a. Sayuran

9 b. Fast Food (Mc Donals, KFC, French Fries)


c. Buah-buahan
d. Tahu dan Tempe
Penyebab seseorang menjadi gemuk yaitu karena kelebihan ?
a. Protein dan Vitamin

10 b. Karbohidrat dan lemak


c. Vitamin dan Mineral
d. Serat (sayuran dan buah-buahan)
Menurut anda, pada umumnya makanan fast food (pizza, fried
chicken, hamburger, dll) mengandung zat gizi ?
a. Serat dan Vitamin
11
b. Serat dan Lemak
c. Karbohidrat dan lemak
d. Vitamin dan Mineral
Konsumsi energi yang berlebih akan disimpan dalam bentuk?
12
a. Tenaga
b. Lemak
c. Energi
d. Tidak tahu
Penyakit yang diakibatkan oleh gizi lebih/kegemukan ?
a. Anemia
b. Beri-beri
13
c. Kegemukan dan penyakit Degeneratif (hipertensi jantung
koroner, dll)
d. Tidak tahu
Faktor penyebab terjadinya gizi lebih/kegemukan adalah…
a. Banyak minum obat-obatan

14 b. Aktifitas fisik (olah raga) secara teratur


c. Konsumsi makanan yang berlebihan
d. Tidak tahu
Gangguan kegemukan dapat terjadi pada ?
a. Balita, remaja

15 b. Remaja, dewasa
c. Balita, remaja, dewasa
d. Tidak tahu
Menu yang baik untuk mengurangi berat badan adalah…
a. Rendah kalori dan tinggi lemak
16 b. Rendah kalori dan gizi seimbang
c. Rendah kalori dan protein
d. Tidak tahu
Cara mencegah gizi lebih/kegemukan yang efektif adalah dengan
cara :
a. Mengatur pola makan dan olah raga
17
b. Mengatur jadwal istirahat
c. Minum Jamu
d. Tidak tahu
Sumber: (Mardatilah, 2008)
Lampiran 8

HASIL UJI VALIDITAS

Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


Reliability Statistics
N %
Cronbach's
Cases Valid 30 100.0
Alpha N of Items
Excludeda 0 .0
.818 17
Total 30 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Item Statistics

Mean Std. Deviation N

P1 3.93 .254 30
P2 2.87 .346 30
P3 .93 .254 30
P4 2.90 .305 30
P5 .93 .254 30
P6 .93 .254 30
P7 .97 .183 30
P8 .93 .254 30
P9 .97 .183 30
P10 .93 .254 30
P11 .97 .183 30
P12 .93 .254 30
P13 .93 .254 30
P14 .93 .254 30
P15 .93 .254 30
P16 .93 .254 30
P17 .97 .183 30
Item-Total Statistics

Scale
Scale Mean Variance if Corrected Cronbach's
if Item Item Item-Total Alpha if Item
Deleted Deleted Correlation Deleted

P1 18.97 4.102 .398 .809


P2 20.03 3.413 .817 .775
P3 21.97 4.102 .398 .809
P4 20.00 4.000 .396 .810
P5 21.97 4.033 .469 .805
P6 21.97 4.309 .192 .822
P7 21.93 4.409 .174 .820
P8 21.97 3.757 .767 .786
P9 21.93 4.409 .174 .820
P10 21.97 4.033 .469 .805
P11 21.93 4.133 .551 .803
P12 21.97 4.102 .398 .809
P13 21.97 4.102 .398 .809
P14 21.97 4.447 .060 .829
P15 21.97 4.102 .398 .809
P16 21.97 4.033 .469 .805
P17 21.93 4.202 .455 .808

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

22.90 4.576 2.139 17


Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


Reliability Statistics
N %
Cronbach's
Cases Valid 30 100.0
Alpha N of Items
Excludeda 0 .0
.809 16
Total 30 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Item-Total Statistics
Item Statistics
Scale Scale Cronbach's
Mean Std. Deviation N
Mean if Variance if Corrected Alpha if
P1 3.93 .254 30
Item Item Item-Total Item
P2 2.87 .346 30
Deleted Deleted Correlation Deleted
P3 .93 .254 30
P1 18.03 3.620 .433 .797
P4 2.93 .254 30
P2 19.10 3.059 .764 .766
P5 .93 .254 30
P3 21.03 3.620 .433 .797
P7 .93 .254 30
P4 19.03 3.689 .359 .802
P8 .93 .254 30
P5 21.03 3.551 .510 .792
P9 .97 .183 30
P7 21.03 4.033 .005 .825
P10 .93 .254 30
P8 21.03 3.275 .831 .768
P11 .97 .183 30
P9 21.00 4.000 .094 .815
P12 .93 .254 30
P10 21.03 3.620 .433 .797
P13 .93 .254 30
P11 21.00 3.655 .593 .790
P14 .93 .254 30
P12 21.03 3.620 .433 .797
P15 .93 .254 30
P13 21.03 3.620 .433 .797
P16 .93 .254 30
P14 21.03 4.033 .005 .825
P17 .97 .183 30
P15 21.03 3.689 .359 .802
P16 21.03 3.620 .433 .797
P17 21.00 3.724 .489 .796

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

21.97 4.102 2.025 16


Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


Reliability Statistics
N %
Cronbach's
Cases Valid 30 100.0
Alpha N of Items
Excludeda 0 .0
.825 15
Total 30 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Item-Total Statistics
Item Statistics
Scale Scale Cronbach's
Mean Std. Deviation N
Mean if Variance if Corrected Alpha if
P1 3.93 .254 30
Item Item Item-Total Item
P2 2.87 .346 30
Deleted Deleted Correlation Deleted
P3 .93 .254 30
P1 17.10 3.541 .448 .814
P4 2.93 .254 30
P2 18.17 3.040 .725 .791
P5 .93 .254 30
P3 20.10 3.541 .448 .814
P8 .93 .254 30
P4 18.10 3.610 .372 .819
P9 .97 .183 30
P5 20.10 3.472 .525 .809
P10 .93 .254 30
P8 20.10 3.197 .851 .786
P11 .97 .183 30
P9 20.07 3.995 .006 .836
P12 .93 .254 30
P10 20.10 3.541 .448 .814
P13 .93 .254 30
P11 20.07 3.582 .605 .808
P14 .93 .254 30
P12 20.10 3.541 .448 .814
P15 .93 .254 30
P13 20.10 3.541 .448 .814
P16 .93 .254 30
P14 20.10 3.955 .014 .842
P17 .97 .183 30
P15 20.10 3.610 .372 .819
P16 20.10 3.541 .448 .814
P17 20.07 3.651 .501 .813

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

21.03 4.033 2.008 15


Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary Reliability Statistics


N % Cronbach's
Cases Valid 30 100.0 Alpha N of Items
Excludeda 0 .0 .836 14
Total 30 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Item-Total Statistics
Item Statistics
Scale Scale Cronbach's
Mean Std. Deviation N
Mean if Variance if Corrected Alpha if
P1 3.93 .254 30
Item Item Item-Total Item
P2 2.87 .346 30
Deleted Deleted Correlation Deleted
P3 .93 .254 30
P1 16.13 3.499 .455 .826
P4 2.93 .254 30
P2 17.20 3.062 .673 .809
P5 .93 .254 30
P3 19.13 3.499 .455 .826
P8 .93 .254 30
P4 17.13 3.568 .379 .831
P10 .93 .254 30
P5 19.13 3.430 .533 .821
P11 .97 .183 30
P8 19.13 3.154 .862 .798
P12 .93 .254 30
P10 19.13 3.499 .455 .826
P13 .93 .254 30
P11 19.10 3.541 .612 .820
P14 .93 .254 30
P12 19.13 3.499 .455 .826
P15 .93 .254 30
P13 19.13 3.499 .455 .826
P16 .93 .254 30
P14 19.13 3.913 .018 .854
P17 .97 .183 30
P15 19.13 3.568 .379 .831
P16 19.13 3.499 .455 .826
P17 19.10 3.610 .507 .825

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

20.07 3.995 1.999 14


Reliability

Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary

N % Reliability Statistics

Cases Valid 30 100.0 Cronbach's

Excludeda 0 .0 Alpha N of Items

Total 30 100.0 .854 13

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Item-Total Statistics
Item Statistics
Scale Scale Cronbach's
Mean Std. Deviation N
Mean if Variance if Corrected Alpha if
P1 3.93 .254 30
Item Item Item-Total Item
P2 2.87 .346 30
Deleted Deleted Correlation Deleted
P3 .93 .254 30
P1 15.20 3.407 .471 .846
P4 2.93 .254 30
P2 16.27 3.030 .634 .835
P5 .93 .254 30
P3 18.20 3.407 .471 .846
P8 .93 .254 30
P4 16.20 3.476 .394 .851
P10 .93 .254 30
P5 18.20 3.338 .551 .841
P11 .97 .183 30
P8 18.20 3.062 .885 .818
P12 .93 .254 30
P10 18.20 3.407 .471 .846
P13 .93 .254 30
P11 18.17 3.454 .627 .839
P15 .93 .254 30
P12 18.20 3.407 .471 .846
P16 .93 .254 30
P13 18.20 3.407 .471 .846
P17 .97 .183 30
P15 18.20 3.476 .394 .851
P16 18.20 3.476 .394 .851
P17 18.17 3.523 .520 .844

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

19.13 3.913 1.978 13


Lampiran 9

HASIL PENELITIAN

UJI NORMALITAS

Statistics
TOTAL

N Valid 87

Missing 0
Mean 16.61
Median 18.00
Std. Deviation 2.899
Skewness -.916
Std. Error of Skewness .258
Kurtosis -.420
Std. Error of Kurtosis .511
Minimum 9
Maximum 20

TOTAL

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 9 2 2.3 2.3 2.3

11 3 3.4 3.4 5.7

12 5 5.7 5.7 11.5

13 10 11.5 11.5 23.0

14 3 3.4 3.4 26.4

15 5 5.7 5.7 32.2

16 4 4.6 4.6 36.8

17 2 2.3 2.3 39.1

18 21 24.1 24.1 63.2

19 29 33.3 33.3 96.6

20 3 3.4 3.4 100.0

Total 87 100.0 100.0


HASIL UJI UNIVARIAT

Distribusi frekuensi usia


USIA

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 14 5 5.7 5.7 5.7

15 76 87.4 87.4 93.1

16 6 6.9 6.9 100.0

Total 87 100.0 100.0

Distribusi frekuensi jenis kelamin


JK

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 0 51 58.6 58.6 58.6

1 36 41.4 41.4 100.0

Total 87 100.0 100.0


Distribusi frekuensi IMT/U
IMT/U

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 14.0 1 1.1 1.1 1.1

15.0 2 2.3 2.3 3.4

15.3 1 1.1 1.1 4.6

15.4 2 2.3 2.3 6.9

15.5 1 1.1 1.1 8.0

15.6 1 1.1 1.1 9.2

16.0 2 2.3 2.3 11.5

16.2 1 1.1 1.1 12.6

16.3 1 1.1 1.1 13.8

16.5 1 1.1 1.1 14.9

16.6 1 1.1 1.1 16.1

16.7 1 1.1 1.1 17.2

16.8 1 1.1 1.1 18.4

16.9 1 1.1 1.1 19.5

17.0 2 2.3 2.3 21.8

17.4 1 1.1 1.1 23.0

17.5 1 1.1 1.1 24.1

17.6 2 2.3 2.3 26.4

17.7 1 1.1 1.1 27.6

17.8 1 1.1 1.1 28.7

17.9 1 1.1 1.1 29.9

18.0 1 1.1 1.1 31.0

18.1 3 3.4 3.4 34.5

18.2 2 2.3 2.3 36.8

18.4 1 1.1 1.1 37.9

18.6 1 1.1 1.1 39.1

18.8 2 2.3 2.3 41.4

19.0 1 1.1 1.1 42.5

19.3 1 1.1 1.1 43.7

19.6 1 1.1 1.1 44.8

20.0 1 1.1 1.1 46.0

20.3 2 2.3 2.3 48.3

20.4 1 1.1 1.1 49.4


20.5 1 1.1 1.1 50.6

20.7 1 1.1 1.1 51.7

20.8 2 2.3 2.3 54.0

21.0 2 2.3 2.3 56.3

21.1 1 1.1 1.1 57.5

21.2 1 1.1 1.1 58.6

21.4 1 1.1 1.1 59.8

21.6 2 2.3 2.3 62.1

21.7 1 1.1 1.1 63.2

22.0 2 2.3 2.3 65.5

22.5 1 1.1 1.1 66.7

22.7 1 1.1 1.1 67.8

22.9 1 1.1 1.1 69.0

23.2 1 1.1 1.1 70.1

23.5 1 1.1 1.1 71.3

23.7 2 2.3 2.3 73.6

23.9 1 1.1 1.1 74.7

24.0 1 1.1 1.1 75.9

24.4 2 2.3 2.3 78.2

24.6 2 2.3 2.3 80.5

24.8 1 1.1 1.1 81.6

25.0 1 1.1 1.1 82.8

25.2 1 1.1 1.1 83.9

25.4 1 1.1 1.1 85.1

25.7 1 1.1 1.1 86.2

25.9 1 1.1 1.1 87.4

26.1 1 1.1 1.1 88.5

26.2 1 1.1 1.1 89.7

26.5 1 1.1 1.1 90.8

26.7 1 1.1 1.1 92.0

27.4 2 2.3 2.3 94.3

28.2 1 1.1 1.1 95.4

30.3 1 1.1 1.1 96.6

30.8 2 2.3 2.3 98.9

33.3 1 1.1 1.1 100.0

Total 87 100.0 100.0


Distribusi frekuensi status gizi

STATUS GIZI

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid KURANG 5 5.7 5.7 5.7

LEBIH 22 25.3 25.3 31.0

NORMAL 60 69.0 69.0 100.0

Total 87 100.0 100.0

Distribusi frekuensi pengetahuan

Pengetahuan

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid kurang 34 39.1 39.1 39.1

baik 53 60.9 60.9 100.0

Total 87 100.0 100.0


HASIL UJI BIVARIAT

Crosstabs

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

pengetahuan * STATUS
87 100.0% 0 0.0% 87 100.0%
GIZI

pengetahuan * STATUS GIZI Crosstabulation

STATUS GIZI

KURANG LEBIH NORMAL Total

pengetahuan kurang Count 5 22 7 34

Expected Count 2.0 8.6 23.4 34.0

% within pengetahuan 14.7% 64.7% 20.6% 100.0%

baik Count 0 0 53 53

Expected Count 3.0 13.4 36.6 53.0

% within pengetahuan 0.0% 0.0% 100.0% 100.0%


Total Count 5 22 60 87

Expected Count 5.0 22.0 60.0 87.0

% within pengetahuan 5.7% 25.3% 69.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig. Point


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided) Probability

Pearson Chi-Square 61.028a 2 .000 .000


Likelihood Ratio 73.197 2 .000 .000
Fisher's Exact Test 66.872 .000
Linear-by-Linear Association 52.196b 1 .000 .000 .000 .000
N of Valid Cases 87

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.95.
b. The standardized statistic is 7.225.
Risk Estimate

Value

Odds Ratio for pengetahuan


a
(kurang / baik)

a. Risk Estimate statistics cannot be


computed. They are only computed for a
2*2 table without empty cells.

Case Processing Summary

pengetahuan Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent

STATUS GIZI kurang 34 100.0% 0 0.0% 34 100.0%

baik 53 100.0% 0 0.0% 53 100.0%

Descriptivesa

pengetahuan Statistic Std. Error

STATUS GIZI kurang Mean 1.06 .103

95% Confidence Interval for Lower Bound .85


Mean Upper Bound 1.27

5% Trimmed Mean 1.07

Median 1.00

Variance .360

Std. Deviation .600

Minimum 0

Maximum 2

Range 2

Interquartile Range 0

Skewness -.015 .403

Kurtosis .009 .788

a. STATUS GIZI is constant when pengetahuan = baik. It has been omitted.


Lampiran 10

RIWAYAT HIDUP

Nama : Eka Septianti

Tempat/Tgl.lahir : Tangerang, 5 September 1997

Alamat : Jl. Kemiri VIII RT 02 RW 04 No. 2

Kel. Pondok Cabe Kec.Pamulang

Kota Tangerang Selatan

Riwayat Pendidikan : 1) TK Miftahul Diniyah Lulus tahun 2003


2) SDN Pondok Cabe Udik I Lulus Tahun 2009
3) SMPN 2 Kota Tangerang Selatan Lulus Tahun
2012
4) SMK Al-Ma’mun Education Center Lulus tahun
2015
5) Sedang menempuh Program Studi S1
Keperawatan STIKes Pertamedika sejak tahun
2015 sampai sekarang.