Anda di halaman 1dari 2

Tahun ini hari raya umat Islam Maulid Nabi Muhammad dan umat Kristen Natal jatuh hampir

bersamaan
yakni pada tanggal 24 Desember dan 25 Desember.

Bagi sejumlah pemuda di Cirebon momen ini digunakan untuk saling bantu membantu agar perayaan
kedua hari raya tersebut berjalan dengan lancar.

Sugianto, seorang anggota dari organisasi masyarakat bernama Pelita (Pemuda Lintas Agama)
mengatakan dirinya dan beberapa pemuda anggota lainnya membantu perayaan Maulid Nabi di sebuah
universitas di Cirebon, meski bukan penganut agama Islam.

"Dalam membantu itu kita menyiapkan segala sesuatunya, baik angkut-angkut kursi, soundsystem
(sistem suara), perlengkapan lain seperti dekorasi, lalu dalam hal ini juga kita berbagi tugas soal
parkiran," kata Sugianto.

Di lain pihak, pemuda yang beragama Islam juga membantu umat Kristen mempersiapkan acara untuk
Natal.

"Udah dua hari ini bantu-bantu, nyiapin persiapan Natal. Itu bentuk dari kegiatan sosial karena Pelita kan
orientasinya menjaga kerukunan umat beragama, di bidang sosialnya, bukan teologinya," ucap Haryono
yang juga tergabung dalam Pelita.

Gereja dan masjid berdampingan

Natal tahun ini juga kebetulan jatuh pada hari Jumat. Oleh karena itu, Gereja Immanuel di Malang akan
melakukan perayaan hari Natal pada pukul 08.00 - 10.30 WIB untuk tidak mengganggu jalannya Salat
Jumat.

Gereja tersebut berada dekat dengan sebuah masjid, yakni Masjid Agung Jami yang juga mengadakan
pengajian Maulid Nabi pada Kamis (24/12) malam, bertepatan dengan misa malam Natal.

Sejumlah pemuda dari organisasi pemuda lintas agama menyiapkan perayaan Natal.
"Kemarin kami kordinasi, sifatnya sama-sama kita mengatur keamanan, sama-sama kita mengatur parkir.
Parkir kita kan bersama yah," kata Emmawati Baule, pendeta dan ketua di GPIB Immanuel Malang.

Menurut KH Zainuddin A Muhith, ketua umum takmir Masjid Agung Jami Malang, masjidnya dan Gereja
Immanuel selama ini memang selalu saling toleransi dan bekerja sama.

"Misalnya, pihak-pihak gereja mengajak pada suatu saat di ulang tahunnya untuk kerja bakti tentang
keindahan kota, ngecat jalan, kami menyediakan tenaga, antara lain. Itu kan menunjukkan kebersamaan
kita," kata Zainuddin.

'Sudah seharusnya'

Sebenarnya sikap dan tindakan saling menghormati antar umat beragama di Indonesia masih banyak
lagi, namun hal tersebut jarang terdengar.

Hal ini menurut Anick Hamim Tohari, seorang aktivis pluralisme yang pernah bekerja di Jaringan Islam
Liberal, disebabkan oleh banyak hal.

Beberapa di antaranya karena sifat mudah lupa dan acuh.

"Meskipun itu (sikap saling menghormati) itu tindakan yang wajar dan sudah seharusnya dilakukan di
Indonesia, tapi dalam kondisi di mana intoleransi meningkat tajam, kampanye ini (saling menghormati)
harus terus-menurus dilakukan," kata Anick.

Anick pun mengimbau agar semua pemeluk agama saling mendukung dan mencegah adanya kasus-
kasus intoleransi.