Anda di halaman 1dari 16

PENDAHULUAN

Kegiatan penyuluhan merupakan aktivitas dari suatu kegiatan proses

pembelajaran, maka keberhasilannya akan sangat bergantung pula kepada sejauh

mana proses pembelajaran tersebut dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya

(Yunasaf dan Tasripin, 2012). Hal ini didukung dengan pendapat Repli dkk.

(2017) yang menyatakan bahwa dalam proses pemberdayaan petani peternak

diperlukan adanya penyuluh yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan

kepetani peternak melalui kegiatan penyuluhan.

Persepsi petani peternak terhadap peran seorang penyuluh juga sangat

menentukan dalam pengambilan keputusan dalam adopsi inovasi sehingga dapat

terjadinya perubahan perilaku dari petani peternak itu sendiri (Repli, 2017). Hal

ini diperkuat dengan perndapat Kusrini (2017) yang menyatakan bahwa persepsi

yang baik (positif) akan membentuk sikap yang baik pula, sebaliknya persepsi

yang kurang baik (negatif) akan membentuk sikap yang negatif pula terhadap

peranan penyuluh

. Peran penyuluh dalam memfasilitasi kegiatan pembelajaran peternak

dapat dilihat dalam perannya sebagai pendidik dan fasilitator (Yunasaf dan

Tasripin, 2012). Hal ini dibuktikan dengan penelitian Repli (2017) yang

menyatakan bahwa penyuluh sebagai edukator yaitu penyuluh memberikan

informasi yang berkaitan dengan usahatani petani. Penyuluh sangat diharapkan,

supaya ada perubahan sikap dari yang tidak mau menjadi mau, adanya perubahan

pengetahuan dari yang tidak tahu menjadi tahu dan dari yang tahu menjadi lebih

tahu. Dengan diketahuinya Hal inilah yang menjadi dasar ditulisnya makalah yang

dengan judul Persepsi Peternak Sapi tentang Peran Penyuluh.

1
PERMASALAHAN

Beberapa peternakan di Indonesia tergolong masih dalam skala kecil. Hal

ini terjadi karena beberapa peternak masih menggunakan sistem beternak secara

tradisional dan kurangnya pengetahuan dari peternak itu sendiri. Peran penyuluh

sangat dibutuhkan dalam kasus ini, tapi dalam beberapa kasus ada peternak yang

telah mendapatkan penyuluhan dan masih belum bisa membuat peternak berdaya.

Tanggapan peternakan terhadap penyuluh dalam melaksanakan perannya akan

dibahas dalam makalah ini.

2
PEMBAHASAN

Gambaran Umum Peran Penyuluh

Kegiatan penyuluhan, adalah merupakan aktivitas dari suatu kegiatan

proses pembelajaran, maka keberhasilannya akan sangat bergantung pula kepada

sejauh mana proses pembelajaran tersebut dapat berlangsung dengan sebaik-

baiknya. Di sinilah peran penyuluh sebagai seorang yang diberi tanggungjawab di

dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran bagi peternak berperan penting. Hal

ini dikarenakan penyuluh harus dapat menumbuhkan motivasi pada peternak

untuk mau dan terlibat di dalam kegiatan pembelajaran tersebut (Yunusaf dan

Tasripin, 2011).

Menurut Alim (2010), peran penyuluh terletak pada kemampuan

mendorong dan melatih petani/peternak sasaran. Selain itu, berusaha untuk

mengetahui apa yang dibutuhkan dan apa yang memuaskan sasaran dari

pelayanan yang diberikannya. Untuk itu, seorang penyuluh perlu memiliki

pengetahuan dan keterampilan yang dapat diandalkan serta motivasi yang tinggi.

Keperilakuan seorang penyuluh dalam upaya meningkatkan pembangunan

pertanian adalah pelaksanaan kewajiban yang lurus, daya juang (achievement

motivation) harus tinggi, dan keterampilan harus tinggi. Selanjutnya dikatakan

bahwa kompetensi standar penyuluh pertanian di masa sekarang dan yang akan

datang seyogyanya meliputi empat ranah sebagai berikut:

1) Kemampuan kognisi yakni kemampuan mengetahui, menjelaskan,

menerapkan, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi konsep

pemberdayaan masyarakat dan pendekatan partisipatif sesuai dengan content

dan conteks pembangunan pertanian;

3
2) Kemampuan afeksi, yakni kemampuan menerima, meminati, menyukai,

mencintai, berpartisipasi, berintegrasi, mengorganisasikan nilai dan berkarakter

dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai penyuluh pertanian yang

partisipatif;

3) Kemampuan psikomotorik, yakni kemampuan/keterampilan untuk menerapkan

teknik-teknik kepemanduan partisipasif secara terampil dan taat azas

4) Kemampuan spiritual, yakni kemampuan untuk memiliki semangat, etos kerja,

keyakinan, jiwa kejuangan, keimanan, ketawakkalan dan pengabdian yang

tulus terhadap pekerjaan, tugas dan fungsinya.

Yunasaf dan Taspirin (2011) mengatakan bahwa keberhasilan

pembangunan peternakan akan sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia

peternak sebagai pelaku utama dari kegiatan peternakan itu sendiri. Saat ini

kegiatan peternakan di Indonesia sebagian besar masih merupakan usaha

peternakan berskala kecil atau usaha ternak rakyat.

Peran Penyuluh sebagai Edukator

Kemampuan penyuluh dalam meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan petani dalam mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi,

penyuluh membimbing dan melatih petani keterampilan teknis, melalui

pembagian benih sebelum semai dengan menggunakan larutan air garam, cara

pengendalian hama penyakit. penyuluh memiliki berbagai informasi pengetahuan

teknis yang dibutuhkan petani yang mencakup teknologi, penyuluh memberi

masukan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, serta bertukar gagasan

berdasarkan pengetahuan dan pengalaman Sairi (2015).

4
Menurut Yunasaf dan Tasripin (2012), peran sebagai pendidik yaitu peran

penyuluh dalam memberikan pengetahuan, keterampilan dan cara-cara beternak

yang lebih baik kepada peternak, yang menjadi indikatornya adalah sebagai

berikut:

1. Kemampuan penguasaan materi

Petani peternak akan mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan dan

informasi tidak akan salah sasaran jika penyuluh menguasai materi apa yang

akan disampaikan.

2. Cara penyampaian materi

Bahasa yang baik dan sesuai dengan apa yang dipahami oleh petani

peternak akan mempermudah penerimaan materi yang disampaikan oleh

penyuluh.

3. Penguasaan prinsip-prinsip belajar

Petani peternak dapat menerima pembelajaran dengan nyaman dan tenang

dengan adanya penguasaan prinsip-prinsip belajar. Pembelajaran juga dapat

diterima oleh setiap orang karena pembelajaran berjalan sesuai tempo tiap

orang.

4. Pemberian motivasi

Petani peternak dapat lebih giat untuk belajar maupun untuk bekerja jika

ada suatu dorongan dari dalam diri sendiri ataupun dari luar. Motivasi dapat

berupa pemberian informasi tentang kebutuhan tiap individu maupun hasil

yang akan dicapai.

Menurut Fiqih (2014), untuk mengetahui tingkat peran penyuluh pertanian

sebagai motivator dapat dilihat dari kontribusi yang telah diberikan penyuluh

5
pertanian kepada petani dalam upaya memberikan dorongan serta semangat untuk

berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kelompok tani

Peran Penyuluh sebagai Fasilitator

Penyuluh sebagai fasilitator merupakan tugas penyuluh untuk membantu

kelompok dalam menyusun rencana untuk mencapai tujuan tanpa harus terlibat

dalam kelompok tersebut. Mardikanto (2009) mengatakan bahwa fasilitator

bertugas untuk memberikan fasilitas atau dampingan yang bersifat melayani

kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan kliennya.

Menurut Faqih (2014), beberapa ciri-ciri sikap yang harus dimiliki seorang

fasilitator antara lain: saling belajar dan saling menghargai, bersikap sederajat dan

akrab, mendengarkan dan tidak mendominasi, tidak menggurui, tidak memihak

dan tidak mengkritik secara formal, bersikap terbuka dan rendah hati, bersikap

positif, selalu melakukan kontak mata dengan peserta, memperhatiakan peserta

yang paling diam, kreatif dan adil. Sebagai fasilitator, penyuluh bertanggung

jawab untuk menyediakan lingkungan belajar yang memadai, efektif, serta

kemudahan lain yang akan mempermudah berlangsungnya suatu proses yang

aktif.

Sebagai seorang fasilitator penyuluh harus mampu mendengarkan aspirasi

dan memberikan dukungan kepada peternak serta upaya mendekatkan sumber-

sumber informasi kepada peternak sehingga mempermudah dalam proses

penerimaan inovasi baru, dan pada akhirnya mudah untuk diterapkan (Winaryanto

dkk., 2017).

6
Peran Penyuluh sebagai Motivator

Motivator adalah orang yang memiliki profesi atau pencaharian dari

memberikan motivasi kepada orang lain. Kemampuan penyuluh dalam

memotivasi dapat ditempuh dengan dorongan, tarikan, libatkan dan rangsang

(Putra, 2012).

Peran sebagai seorang motivator yang seharusnya dilakukan oleh penyuluh

adalah memotivasi petani untuk selalu semangat dalam menjalankan

usahataninya, mendorong mereka untuk aktif dalam organisasi seperti kelompok

tani atau gabungan kelompok tani (Narso dkk., 2012).

Menurut Darmaluddin dkk. (2012), indikator yang digunakan untuk

menilai kemampuan peranan penyuluhan pertanian sebagai motivator yaitu,

penyuluh pertanian sebagai pengembang kepemimpinan, sebagai pembimbing

petani dan sebagai penasehat. Sedangkan kriteria yang digunakan adalah sebagai

berikut: kriteria baik yaitu petani menilai bahwa penyuluhan pertanian mampu

melaksanakan tugas-tugasnya sebagai motivator secara optimal, kriteria cukup

yaitu petani menilai bahwa peranan penyuluh sebagaimotivator kurangmampu

malaksanakannya secara optimal, kriteria tidak baik yaitu petani menilai bahwa

peranan penyuluh sebagai motivator sudah cukup baik.

Kriteria yang digunakan untuk menilai peran penyuluh pertanian sebagai

seorang motivator yaitu kriteria baik adalah petani menilai bahwa penyuuh

pertanian mampu melaksanakan tugas-tugasnya sebagai motivator secara optimal,

kriteria cukup adalah petani menilai bahwa peran penyuluh sebagai motivator

kurang mampu melaksanakannya secara optimal, dan kriteria tidak baik yaitu

7
petani menilai bahwa peran penyuluh motivator sudah cukup baik (Darmaludin

dkk., 2012).

Peran Penyuluh Sebagai Komunikator

Menurut Sairi (2015), penyuluh memberikan informasi yang disampaikan

mudah dimengerti petani, penyuluh mampu memposisikan diri sebagai bagian

dari kelompok ketika berbicara atau berdiskusi dengan kelompok, Informasi dan

teknologi tersebut bisa disampaikan secara langsung maupun tidak langsung

dengan menggunakan media penyuluhan. Berbagai media penyuluhan dapat

digunakan untuk mengemas informasi dan teknologi yang akan disampaikan

kepada sasaran sebagai pengguna teknologi seperti: media cetak, media audio

visual, media berupa obyek fisik atau benda nyata.

Peran penyuluh sebagai komunikator yaitu penyuluh pertanian berperan

dalam mengelola komunikasi inovasi, peran dalam memandu sistem jaringan,

peran dalam memanfaatkan media komunikasi, peran dalam komunikasi tatap

muka, dan peran dalam membangun kemitraan (Narso dkk., 2012).

Menurut Langit dkk. (2016), seorang komunikator selain berperan di

dalam menyampaikan pesan juga bertugas menyusun strategi yang efektif supaya

mampu mempengaruhi audiens. Komunikator harus memiliki kemampuan di

dalam menyebar pesan, memanipulasi pesan, memilih media, dan menganalisis

audiens. Hal tersebut diperlukan supaya pesan yang disampaikan tepat pada

sasaran. Fungsi komunikator di dalam penyuluhan adalah merencanakan proses

komunikasi yang sesuai dengan program yang dijalankan.

8
Peran Penyuluh Sebagai Mediator

Peran penyuluh sebagai mediator dalam kinerja kelompok merupakan

tugas yang dapat diharapkan dapat dijalankan oleh penyuluh dalam memberikan

informasi dan menghubungkan petani dengan sumber informasi untuk mengatasi

masalah yang dihadapi. Adapun peran penyuluh sebagai mediator dapat diukur

dari indikator frekuensi pemberian informasi, kejelasan dalam penyampaian

informasi dan menghubungkan sumber informasi dengan petani (Faqih, 2014).

Menurut Sairi (2015), kemampuan penyuluh menjembatani kelompok

dalam bimbingan teknis dengan pemerintah maupun non-pemerintah, petugas

penyuluh membantu menjembatani penyelesaian konflik yang terjadi dalam

kelompok atau dengan pihak luar, proses mediasi sangat tergantung pada lakon

yang dimainkan oleh pihak yang terlibat dalam penyelesaian perselisihan tersebut,

di mana pihak yang terlibat langsung adalah mediator dan para pihak yang

berselisih itu sendiri. Mediator sebagai negosiator harus memiliki keterampilan

dalam mengelola konflik, melakukan pemecahan masalah secara kreatif melalui

kekuatan komunikasi dan analisis. Penyuluh diberikan pelatihan singkat

bagaimana mengontrol marah dan emosi dalam proses penyelesaian masalah yang

di hadapi petani, penyuluh membantu dalam mengumpulkan masalah-masalah

dalam masyarakat untuk bahan penyusunan program penyuluhan pertanian kepada

petani.

Penyuluh sebagai mediator dalam menjembatani bimbingan teknis,

penyelesaian konflik, mengelola konflik, menganalisis pemecahan masalah,

mengontrol emosi dalam penyelesaian masalah, dan mengumpulkan berbagai

masalah dalam kelompok belum optimal (Repli dkk, 2017).

9
Persepsi Peternak terhadap Peran Penyuluh

Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Repli dkk. (2017) tentang

analisis mengenai persepsi peternak terhadap peran penyuluh, maka didapatkan

bahwa hasil persepsi peternak terhadap peran penyuluh sebagian besar responden

menilai baik. Adapun penilaian peternak dengan kategori baik rincian dari

persentase tertinggi ke terendah adalah 100% untuk peran penyuluh sebagai

komunikator, 96,67% peran penyuluh sebagai fasilitator, 93,33% peran penyuluh

sebagia edukator, dan 83,33% untuk peran penyuluh sebagai motivator. Namun

demikian, penilaian peternak dengan katergori cukup baik adalah 83,33% untuk

peran penyuluh sebagai mediator. Persepsi tersebut dapat diliat pada Tabel 1.

Tabel 1. Persepsi Peternak Sapi terhadap Peran Penyuluh


Kategori Nilai (%)
Aspek Peran
No. Sangat Baika Baika Cukup Baika
Penyuluh
Tinggib Sedangb Rendahb
6,67a 93,33a
1 Sebagai Edukatorab 20,00b
23,33b 56,67b

3,33a 96,67a
2 Sebagai Fasilitatorab 33,33b
16,67b 50,00b

16,67a 83,33a
3 Sebagai Motivator ab 23,33b
20,00b 56,57b

4 Sebagai Komunikatora - 100a -


5 Sebagai Mediatora - 16,67a 83,33a
Sumber: a = Repli dkk. (2017)
b = Yunasaf dan Tasripin (2012)

Menurut penelitian yang dilakukan Yunasaf dan Tasripin (2012) tentang

peran penyuluh dalam memfasilitasi proses belajar peternak sapi perah, maka

didapatkan bahwa hasil persepsi peternak terhadap peran penyuluh sebagian besar

responden menilai sedang. Adapun penilaian peternak dengan kategori baik

rincian dari persentase tertinggi ke terendah adalah 56,67% untuk peran penyuluh

10
sebagai edukator, 56,67% untuk peran penyuluh sebagai motivator dan 50,00%

untuk peran penyuluh sebagai Fasilitator

Menurut Faqih (2014), peran penyuluh sebagai mediator dalam kinerja

kelompok merupakan tugas yang dapat diharapkan dapat dijalankan oleh

penyuluh dalam memberikan informasi dan menghubungkan petani dengan

sumber informasi untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Adapun peran

penyuluh sebagai mediator dapat diukur dari indikator frekuensi pemberian

informasi, kejelasan dalam penyampaian informasi dan menghubungkan sumber

informasi dengan petani.

Peran penyuluh sebagai edukator pada Repli dkk. (2012) mendapat

penilaian 93,33 % untuk kategori baik, hal ini berbeda dengan Yunasaf dan

Tasripin (2012) yang mendapatkan penilaian sebesar 56,67 % untuk kategori

sedang. Hal menunjukkan bahwa tidak semua penyuluh bisa menyampaikan

informasi secara merata ke seluruh peternak, sesuai dengan pendapat Hariyanti

(2013) yang menyatakan bahwa kualitas informasi mempengaruhi persepsi petani.

Hal ini berarti persepsi petani terhadap penyuluh secara tidak langsung

dipengaruhi oleh kualitas informasi yang diterima oleh petani, sehingga semakin

baik perseptual petani terhadap kualitas informasi yang diterima oleh petani maka

semakin baik juga persepsi petani terhadap penyuluh.

Peran penyuluh sebagai fasilitator pada Repli dkk. (2012) mendapat

penilaian 96,67 % untuk kategori baik, hal ini berbeda dengan Yunasaf dan

Tasripin (2012) yang mendapatkan penilaian 50,00 % untuk kategori cukup. Hal

ini menunjukkan bahwa tidak semua penyuluh bisa menyediakan kebutuhan

petani peternak. Hal ini sejalan dengan pendapat Tjitropranoto (2003), penyuluh

11
yang diharapkan saat ini tidak cukup hanya sebagai penyedia atau penyampai

informasi semata, tetapi lebih diperlukan sebagai motivator, dinamisator dan

fasilitator.

Peran penyuluh sebagai motivator pada Repli dkk. (2012) mendapatkan

penilaian 83,33 % untuk kategori baik, hal ini berbeda dengan Yunasaf dan

Tasripin yang mendapatkan penilaian 56,67% untuk kategori sedang. Hal ini

menunjukkan bawah tidak semua penyuluh belum mampu untuk menumbuhkan

dorongan belajar kepada petani peternak. Hal ini diperkuat dengan pendapat Repli

dkk. (2017), peran penyuluh sebagai seorang yang diberi tanggungjawab di dalam

melaksanakan kegiatan pembelajaran bagi peternak berperan penting. Hal ini

dikarenakan penyuluh harus dapat menumbuhkan motivasi pada peternak untuk

mau dan terlibat di dalam kegiatan pembelajaran tersebut.

Peran penyuluh sebagai komunikator pada Repli dkk. (2012) mendapatkan

penilaian 100 % pada kategori baik. Hal ini sesusai dengan penelitian narso dkk.

(2012) yang mendapatkan kategori tinggi dengan skor 2,69. Hal ini menunjukkan

bahwa penyuluh telah mampu memahami perilaku peternak sehingga dapat

menyampaikan informasi secara tepat, hal ini diperkuat oleh pendapat Langit dkk.

(2016) Sebagai komunikator, petugas penyuluh harus mampu memahami perilaku

audiens mereka. Hal ini penting karena berpengaruh terhadap keberhasilan dari

penyuluhan yang dilakukan. Attribution theory, membantu di dalam memahami

perilaku audiens.

Penyuluh yang berperan baik dalam kegiatan penyuluhan akan

mengantarkan petani peternak untuk menyukseskan pembangunan peternakan di

Indonesia dengan memberdayakan petani peternak. Hal ini sesuai dengan

12
pendapat Yunasaf dan Tasripin (2012), yang menyatakan bahwa keberhasilan

pembangunan peternakan akan sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia

peternak sebagai pelaku utama dari kegiatan peternakan itu sendiri. Saat ini

kegiatan peternakan di Indonesia sebagian besar masih merupakan usaha

peternakan berskala kecil atau usaha ternak rakyat. Oleh karenanya tantangan

terbesar untuk mencapai keberhasilan pembangunan peternakan tersebut adalah

bagaimana mendorong dan menumbuhkembangkan agar peternak menjadi lebih

berkualitas atau berdaya.

13
PENUTUP

Kesimpulan

Dari makalah yang telah dibuat mengenai persepsi peternak terhadap peran

penyuluh dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi peternak menilai baik dan

sedang untuk peran penyuluh sebagai edukator, fasilitator, motivator, dan

komunikator, tetapi peternak menilai cukup untuk peran penyuluh sebagai

mediator.

Saran

Sebaiknya setiap penyuluh mampu meningkatkan perannya sebagai

edukator, fasilitator, motivator, komunikator dan yang terpenting sebagai mediator

pada saat proses penyuluhan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Alim, S. 2010. Bahan Ajar Penyuluhan Pertanian (Peternakan). Laboratorium


Sosiologi dan Penyuluhan. Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.
Bandung.
Darmaludin, S. Suwasono dan R. E. Muljawan. 2012. Peranan penyuluh pertanian
dalam penguatan usahatani bawang daun di Kecamatan Sukapura Kabupaten
Probolinggo. Jurnal Buana Sains. 12 (1): 71-80.

Faqih, A. 2014. Peranan penyuluh pertanian lapangan (PPL) dalam kegiatan


pemberdayaan kelompok tani terhadap kinerja kelompok tani. Jurnal Agrijati.
26 (1): 41-60.
Hariyanti, E. 2013. Persepsi petani terhadap program gerakan peningkatan
produksi pangan berbasis korporasi (GP3K) di Desa Jati Kecamatan Jaten
Kabupaten Karanganyar. Surakarta.
Kusrini, N. 2017. Persepsi masyarakat terhadap peranan penyuluh di Kelurahan
paguyaman Kec. Kota Tengah Kota Gorontalo. Jurnal Perbal. 5 (2): 1-12.
Langit, R.A.S., W. Muktiyo, P. Utari. (2016). Penyuluh sebagai komunikator
program keluarga berencana. Jurnal IKON Prodi D3 Komunikasi Massa.
2(4): 31 – 41.
Mardikanto, T. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. Sebelas Maret University
Press, Surakarta.
Narso, S. A. Saleh, P. S. Asngari. dan P. Muljono. 2012. Persepsi penyuluh
pertanian lapang tentang perannya dalam penyuluhan pertanian padi di
Provinsi Banten. Jurnal Penyuluhan. 8 (1): 92-102.
Repli, T., B.F.J. Sondakh, A. A. Sajow, J. Lainawa. 2017. Analisis persepsi petani
peternak sapi potong terhadap peran penyuluh di Kecamatan Sangkub
Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Jurnal Zootek. 37(2): 513-525.
Sairi, A. 2015. Peran petugas penyuluh pertanian dalam mengembangkan
budidaya padi di Desa Sumber Sari Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai
Kartanegara. eJournal Ilmu Komunikasi. 3 (2): 150-164.

Tjitropranoto, P. 2003. Penyuluhan Pertanian Masa Kini dan Masa Depan dalam
Membentuk Pola Perilaku Manusia. IPB Press. Bogor.
Winaryanto, S., U. Yunasaf, R. Ana, H. Imam, D. Tidi, W. Rachmat, R. Denny.
2017. Respon Peternak Terhadap Peran Penyuluh Dalam Penerapan Pelatihan
Teknoogi Permintax Sebagai Suplementasi Ransum Berbasis Bahan Pakan
Lokal. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Agribisnis. Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung.

15
Yunasaf, U. dam D. S. Tasripin. 2012. Peran Penyuluh dalam Proses Pembelajaran
Peternak Sapi Perah di KSU Tandangsari Sumedang. Jurnal Ilmu Ternak.
12(1): 41 – 46.

16