Anda di halaman 1dari 5

[ LAPORAN KASUS ]

MANAGEMENT OF SCABIES PATIENT WITH SECONDARY


INFECTION IN 7 YEARS OLD BOYS
Rizqa Atina Mira Hamzah
Faculty of Medicine, Universitas Lampung

Abstract
Scabies is a skin disease caused by Sarcoptes scabiei mites infection. Progression of the disease is also influenced by low socio-
economic circumstances, poor level hygiene, lack of knowledge, and also diagnosis and treatment errors. internal and external
factors identification of patient relating to personal hygiene behavior. This study is a case report, primary data obtained through
anamnesis (autoanamnesis and alloanamnesis), physical examination, and laboratory tests in Puskesmas. Home visits, completing
the family data, psychosocial, and also environment. Assessment based on early holistic diagnostic, process, and end of study by
quantitative and qualitative. A boy, 7 years old, has a habit of sharing clothes and towels, and living in a dirty home environment.
Based on the theory, case of scabies with secondary infection is a problem on hygine and healthy living behavior. Family medicine
has an important role in scabies patient management with secondary infection and need parents role to solve problems and modify
family habits. [J Agromed Unila 2014; 1(2):151-155]

Keywords: family medicine care, personal hygiene, scabies

Abstrak
Skabies merupakan penyakit kulit akibat infeksi tungau Sarcoptes scabie. Perkembangan penyakit ini juga dipengaruhi oleh
keadaan sosial ekonomi yang rendah, tingkat higiene yang buruk, kurangnya pengetahuan, dan kesalahan dalam diagnosis serta
penatalaksanaan. Dilakukan identifikasi faktor internal dan eksternal pada pasien yang berkaitan dengan perilaku kebersihan
pribadi. Studi ini bersifat laporan kasus. Data primer diperoleh melalui anamnesis (autoanamnesis dan alloanamnesis),
pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium di Puskesmas. Kunjungan rumah, melengkapi data keluarga, psikososial, dan lingkungan.
Penilaian berdasarkan diagnosis holistik awal, proses, dan akhir studi secara kuantitatif dan kualitatif. Anak laki-laki, usia 7 tahun,
memiliki kebiasaan memakai pakaian dan handuk yang berganti-gatian dengan saudaranya, serta memiliki lingkungan rumah yang
kotor. Berdasarkan teori, kasus skabies dengan infeksi sekunder merupakan permasalahan pada perilaku hidup bersih dan sehat.
Kedokteran keluarga memiliki peran penting dalam proses penatalaksanaan skabies dengan infeksi sekunder serta membutuhkan
peranan orangtua untuk menyelesaikan masalah dan kebiasaan keluarga. [J Agromed Unila 2014; 1(2):151-155]

Kata kunci: kebersihan pribadi, pelayanan kedokteran keluarga, skabies

...
Korespondensi: Rizqa Atina Mira Hamzah | rizqaamh@yahoo.com

Pendahuluan
Skabies merupakan penyakit kulit tidak saja di daerah terpencil, tetapi juga di
akibat infestasi tungau Sarcoptes scabiei. kota-kota besar bahkan di Jakarta. Kondisi kota
Penyakit yang mempengaruhi semua jenis ras di Jakarta yang padat merupakan faktor
dunia tersebut ditemukan hampir pada semua pendukung perkembangan skabies. Berdasarkan
negara di seluruh dunia dengan angka prevalensi pengumpulan data Kelompok Studi Dermatologi
1,2
yang bervariasi. Di beberapa negara Anak Indonesia (KSDAI) tahun 2001, dari 9
berkembang prevalensinya dilaporkan 6-27% rumah sakit di 7 kota besar di Indonesia, jumlah
populasi umum dan insidensi tertinggi pada penderita skabies terbanyak didapatkan Jakarta
1 6
anak usia sekolah dan remaja. Perkembangan yaitu 335 kasus di 3 rumah sakit.
penyakit ini juga dipengaruhi oleh keadaan Pelayanan kesehatan primer
sosial ekonomi yang rendah, tingkat higiene memegang peranan penting pada penyakit
yang buruk, kurangnya pengetahuan akan skabies dalam hal penegakan diagnosis pertama
penyakit skabies, dan kesalahan dalam diagnosis kali, terapi yang tepat, dan edukasi komunitas
3,4
serta penatalaksanaan. dalam pencegahan penyakit dan menularnya
Menurut Departemen Kesehatan RI, penyakit ke komunitas, karena penyakit ini
prevalensi skabies di puskesmas seluruh mudah sekali menular terutama pada
5 8
indonesia adalah 4,6% hingga 12,95%. Di pemukiman yang padat. Transmisi atau
Indonesia, penyakit ini masih menjadi masalah, perpindahan antar penderita dapat berlangsung
Rizqa Atina Mira Hamzah | Management of Scabies Patient with Secondary Infection

melalui kontak kulit langsung yang erat dari mencuci tangannya ataupun mandi
orang ke orang. Hal tersebut dapat terjadi bila membersihkan badan. Kebiasaan mencuci
hidup dan tidur bersama, misalnya anak-anak tangan dan kaki hanya dilakukan saat pasien
yang mendapat infestasi tungau dari ibunya, akan tidur di malam hari.
hidup dalam satu asrama, atau para perawat. Ibu pasien mengatakan anaknya ini sulit
Selain itu perpindahan tungau juga dapat terjadi untuk diminta mandi sore hari. Pasien memiliki
melalui kontak tidak langsung, yaitu melalui kebiasan jarang mengkonsumsi nasi karena lebih
pakaian atau alat mandi yang digunakan senang jajan dan jarang berolahraga kecuali
1,8,9
bersama. pada jam olahraga di sekolah. Pemakaian
selimut, bantal dan sprei kasur jarang dicuci dan
Kasus dijemur. Baik ayah, ibu, dan kakak sering
Anak A, laki-laki usia 7 tahun, datang ke bergantian tempat tidur kerena An. A dan An. R
Puskesmas Rawat Inap Kota Karang Bandar seringkali tidak berani tidur sendirian. Ibu pasien
Lampung, diantar oleh ibunya dengan keluhan jarang menyetrika pakaian sehabis dicuci hanya
bruntus-bruntus yang terasa gatal pada sela jari pakaian seragam sekolah serta pakaian untuk
kedua tangan, telapak tangan, perut, dan dada. bepergian yang rajin disetrika oleh ibu.
Keluhan ini dirasakan sejak 3 hari sebelum Sekeluarga memiliki kebiasaan gemar
pasien berobat ke klinik setempat, awalnya menggantung pakaian kotor dan handuk di
bruntus kemerahan sebesar ujung jarum pentul sembarang tempat. Riwayat pasien mengalami
dirasakan berawal dari sela jari tangan kanan penyakit yang sama sebelumnya dibenarkan
kemudian semakin banyak dan meluas ke sela oleh ibunya. Riwayat asma dan penyakit alergi
jari tangan kiri, punggung ke kedua tangan, disangkal.
telapak tangan, dada, perut. Keluhan gatal Pasien pernah menderita keluhan
dirasakan semakin hebat terutama pada malam seperti ini sebelumnya ±1 tahun yang lalu. Tidak
hari dan menyebabkan pasien sering terbangun ada riwayat alergi terhadap makanan, obat-
hampir setiap malam. Rasa gatal yang dirasakan obatan, dan debu.
membuat pasien menggaruk kulit hingga timbul Adik-adik pasien (anggota keluarga)
luka akibat garukan dan beberapa luka menderita keluhan yang sama seperti pasien.
bernanah, sehingga selain bruntus–bruntus yang Riwayat keluarga hipertensi maupun diabetes
timbul tersebut pada jari pasien terdapat lepuh mellitus tidak didapatkan. Kebiasaan keluarga
yang berisi nanah. Untuk mengurangi keluhan, ayah pasien merokok.
ibu pasien biasanya menaburi tubuh pasien Tatalaksana non farmakologi dengan
dengan bedak bayi. Pasien juga mengalami memberikan edukasi kepada pasien dan
demam. keluarga mengenai penyebab penyakit pasien,
Saat pertama kali gatal tersebut penularan, siklus hidup, menjaga kebersihan diri
muncul, pasien tidak digigit oleh serangga. dan lingkungan, serta pemakaian obat secara
Namun saat timbul keluhan gatal, pasien baik dan benar. Terapi farmakologi Salep 2-4
demam. Keluhan batuk pilek dan sakit menelan digunakan minimal 3 hari berturut-turut pada
disangkal. Sebelumnya pasien pernah berobat malam, di seluruh tubuh kecuali wajah,
ke perawat sekitar lingkungan tapi keluhan tidak amoxicillin tab 3x250 mg, chlorpheniramine
berkurang. Hal ini dikarenakan jika ingin ke (CTM) tab 3x2 mg
puskesmas pasien harus menaiki kendaraan
umum dan dilanjutkan berjalan kaki. Pembahasan
Pasien tinggal bersama orang tuanya di Berdasarkan anamnesis pasien datang
rumah, 5 orang saudara dan nenek. Rumah ke Puskesmas Rawat Inap Kota Karang Bandar
berukuran 10x8 meter berdinding bata plester Lampung, diantar oleh ibunya dengan keluhan
sebagian di cat, lantai semen dengan jumlah bruntus-bruntus yang terasa gatal pada sela jari
kamar tiga, satu kamar mandi, 1 dapur dan 1 kedua tangan, telapak telapak tangan, perut,
ruang keluarga pada bagian depan. Riwayat dan dada. Skabies pada pasien merupakan
orang sekitar yang mengalami keluhan yang riwayat penyakit yang sudah diderita sejak 7 hari
sama dibenarkan oleh ibu pasien, yakni sepupu yang lalu dan diketahui dari anamnesis bahwa
dan adik-adik pasien yang sering diajak bermain. pasien tidak rutin mengoleskan obat antiskabies.
Pasien memiliki kebiasaan suka bermain dengan Skabies adalah penyakit zoonosis yang
teman-temannya di lingkungan sekitar rumah menyerang kulit, mudah menular dari manusia
pasien. Setelah lelah bermain pasien jarang ke manusia, dari hewan ke manusia atau

J Agromed Unila | Volume 1 Nomor 2 | September 2014 | 152


Rizqa Atina Mira Hamzah | Management of Scabies Patient with Secondary Infection

sebaliknya, dapat mengenai semua ras yang kurangnya menjaga higenitas menjadi salah satu
11,15
disebabkan oleh tungau (kutu atau mite) faktor pasien terkena skabies.
Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Banyak sekali obat-obatan yang
9,11,12
Arachnida. tersedia di pasaran. Namun, ada beberapa
Skabies adalah kutu yang transparan, syarat yang harus dipenuhi antara lain; tidak
berbentuk oval, pungggungnya cembung, berbau, efektif terhadap semua stadium kutu
perutnya rata, dan tidak bermata. Skabies (telur, larva maupun kutu dewasa), tidak
mudah menyebar baik secara langsung atau menimbulkan iritasi kulit, juga mudah diperoleh
16
melalui sentuhan langsung dengan penderita dan murah harganya.
maupun secara tak langsung melalui baju, Obat-obat sistemik yang digunakan
seprai, handuk, bantal, air, atau sisir yang antara lain adalah antihistamin klasik sedatif
pernah digunakan penderita dan belum ringan untuk mengurangi gatal, misalnya
dibersihkan dan masih terdapat tungau klorfeniramin maleat 0.35 mg/kg BB 3xsehari.
sarcoptesnya. Skabies hanya dapat diberantas antibiotik bila ditemukan infeksi sekunder
16-18
dengan memutus rantai penularan dan memberi misalnya ampisilin, amoksisilin, eritromisin.
9,10,12
obat yang tepat. Obatan-obatan topikal yang dapat
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, digunakan antara lain salep 2–4, biasanya dalam
manifestasi klinik dan pemeriksaan penunjang bentuk salep atau krim. Kekurangannya, obat ini
ditemukan 3 dari 4 kriteria sebagai berikut: menimbulkan bau tak sedap (belerang),
Gatal malam hari, terdapat pada sekelompok mengotori pakaian, tidak efektif membunuh
orang (lebih dari satu), predileksi dan morfologis stadium telur, dan penggunaannya harus lebih
17,19
khas dan ditemukan tungau S. scabies (ICD-10 dari 3 hari berturut-turut. Emulsi benzil-
B86). benzoat 20–25%, efektif terhadap semua
Pada pasien ini gatal pada malam hari, stadium, diberikan setiap malam selama 3 hari
terdapat pada sekelompok orang (lebih dari berturut-turut. Kekurangannya, dapat
16,17
satu), dan predileksi dan morfologis khas menimbulkan iritasi kulit. Gamexan 1%,
sehingga pasien ini sudah memenuhi kriteria termasuk obat pilihan karena efektif terhadap
9,11,12
penyakit skabies. semua stadium kutu, mudah digunakan, serta
Tempat predileksi sela jari tangan, jarang menimbulkan iritasi kulit, namun tidak
pergelangan tangan, ketiak, sekitar pusar, paha dianjurkan bagi wanita hamil maupun anak
bagian dalam, genitalia pria, dan pantat. dibawah usia 6 tahun, karena bersifat toksik
Efloresensi/sifat dari lesi akibat skabie adalah terhadap susunan saraf pusat. Pemakaian
wujud kelainan kulit pada skabies dapat berupa gamexan 1% cukup satu kali dioleskan seluruh
papula dan vesikel miliar sampai lentikular tubuh, dapat diulang satu minggu kemudian bila
10,12,13
disertai ekskoriasi (scratch mark). Jika belum sembuh, menurut penelitian pemberian
terjadi infeksi sekunder tampak pustula gamexan 1% angka kesembuhan 63,1 % pada 2
13
lentikular. Lesi yang khas adalah terowongan minggu pemberian, yang meningkat menjadi
(kanalikulus) miliar, tampak berasal dari salah 84,2 % pada 4 minggu. Krotamiton 10%,
satu papula atau vesikel, panjang kira-kira 1 cm, termasuk obat pilihan karena selain memiliki
berwarna putih abu-abu. Akhir atau ujung efek antiskabies, juga bersifat anti gatal.
kanalikuli adalah tempat persembunyian dan Permetrin 5%, efektifitasnya seperti Gamexan,
bertelur Sarcoptes scabiei betina. Tungau betina namun tidak terlalu toksik. Penggunaan
bertelur 3-5 telur/hari. Sesudah 3-4 hari telur Permetrin 5% cukup sekali, namun harganya
19
menetas menjadi larva, dalam 3-5 hari menjadi relatif mahal. Pengobatan dengan permetrin
nimfa, selanjutnya menjadi tungau dewasa. 2,5% krim dengan interval 1 minggu efektif pada
Tungau dewasa jantan mati di atas permukaan 65,8% dan meningkat pada pemakaian minggu
16,18-21
kulit sesudah mengadakan kopulasi, sedang kedua sebesar 89,5%.
yang betina membuat terowongan baru, Selain menggunakan obat-obatan
9,10.14
bertelur dan mati sesudah 2-3 minggu. (kuratif), yang tidak kalah penting untuk
Sedangkan penularan dapat langsung diperhatikan adalah upaya promotif dan
maupun tidak langsung memalui pakaian, preventif yaitu dengan peningkatan kebersihan
tempat tidur, alat-alat tidur, handuk dan lain- diri dan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan
lain. Biasanya pada daerah kumuh dan padat dengan cara mencuci bersih baik pakaian,
dengan kebersihan dan higiene yang buruk akan seprai, sarung bantal dan guling, handuk, dan
mempermudah penularan. Kebiasan pasien karpet, bahkan sebagian ahli menganjurkan

J Agromed Unila | Volume 1 Nomor 2 | September 2014 | 153


Rizqa Atina Mira Hamzah | Management of Scabies Patient with Secondary Infection

merebus handuk, seprai, maupun baju penderita selama 8-10 jam selama 3 hari. Antibiotik
skabies, kemudian menjemurnya hingga amoxicilin 3x250 mg, parasetamol syr 3x1 cth
5,9,15
kering. sehari bila perlu, serta CTM 3x1 mg/kg BB/hari
20,23
Upaya preventif lainnya adalah tab, terutama malam hari. Kepada pasien
menghindari pemakaian baju, handuk, seprai dan keluarga pun dianjurkan untuk kontrol rutin
secara bersama-sama, serta mengobati seluruh selama masih ada gejala, seperti gatal-gatal
anggota keluarga atau masyarakat yang ataupun demam.
terinfeksi untuk memutuskan rantai penularan. Kemudian dari rencana intervensi
Menghindari kontak dengan orang yang untuk meningkatkan pengetahuan dan prilaku
didiagnosis atau terkena skabies pun dapat hidup sehat diberikan pula informasi kepada
menurunkan angka penularan. pasien dan keluarga mengenai penyakit skabies,
Menghilangkan faktor predisposisi, dari penyebab, keparahan hingga kemungkinan
antara lain dengan penyuluhan mengenai komplikasi apabila tidak ditangani secara
higiene perorangan dan lingkungan. teratur. Membina kebiasaan diri berperilaku
Membersihkan lingkungan sekitar tempat secara sehat, membiasakan mencuci tangan
tinggal dan menerapkan standar rumah sehat sebelum makan atau sesudah beraktivitas.
sehingga diharapkan mampu menekan Edukasikan mengenai pentingnya rumah sehat
pertumbuhan kutu penyebab penyakit. dan perilaku hidup sehat, serta untuk
Pemantauan terhadap penderita skabies dapat memeriksakan diri dan keluarga apabila ada
dilakukan dengan dianjurkan kontrol 1 minggu anggota keluarga yang terkena skabies.
kemudian, bila ada lesi baru, obat topikal dapat Edukasi dilakukan berfokus pada
diulang kembali agar pengobatan benar-benar keluarga, berupa pengetahuan kepada orang tua
tuntas. pasien mengenai pentingnya mendidik anak
Dalam penatalaksanaannya seorang untuk menerapkan dan berperilaku sesuai
dokter perlu memperhatikan pasien seutuhnya, dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS)
tidak hanya tanda dan gejala penyakit namun dalam kehidupan sehari-hari. (Misalnya selalu
juga psikologisnya. Pembinaan keluarga yang mengajarkan dan mengingatkan anak mencuci
dilakukan pada kasus ini tidak hanya mengenai tangan dan membersihkan diri setelah bermain,
penyakit pasien, tetapi juga mengenai masalah- mandi dua kali sehari menggunakan sabun, serta
masalah lainnya seperti fungsi psikosoial mengganti pakaian yang telah kotor). Kemudian
keluarga dan perilaku kesehatan keluarga. informasi tentang gizi untuk meningkatkan
Dalam hal ini, kebersihan rumah dan pola hidup imunitas pasien dengan makan makanan yang
pasien dan keluarga sehingga menyebabkan bergizi, olahraga, dan istirahat yang cukup.
penyebaran penyakit skabies yang tak kunjung Selain itu memberikan pengobatan kepada
22
sembuh. anggota keluarga yang terkena agar penyakit
Rencana intervensi yang dilakukan tidak menular lagi kepada anggota keluarga
yaitu meningkatkan personal care dengan upaya yang belum terkena, yaitu memberikan
preventif dan promotif berupa edukasi untuk pengobatan kepada Tn. T, Ny. I, Ny. Y, An. A, An.
meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan, R, dan An. I. Membiasakan membuka jendela
menghindari kontak sementara dengan orang dan pintu ruangan dan kamar untuk menjaga
lain yang terkena skabies hingga dinyatakan pencahayaan dan sirkulasi udara yang cukup.
sembuh; tidak memakai benda-benda seperti Menjemur kasur, bantal dan sering mengganti
baju, handuk, bersama-sama; menghindari sprei semua tempat tidur dan merendamnya
kebiasaan menggantung pakaian di sembarang terlebih dahulu dengan air panas. Ajarkan agar
tempat; mengupayakan menyetrika pakaian; selalu membiasakan diri mencuci tangan setelah
membiasakan membuka jendela dan pintu melakukan aktivitas dan sebelum makan
ruangan dan kamar untuk pencahayaan dan Selain berfokus kepada keluarga,
sirkulasi udara yang cukup; menjemur kasur, dilakukan pula edukasi yang berfokus pada
bantal dan sering mengganti sprei semua masyarakat untuk meningkatkan kebersihan
tempat tidur dan merendamnya terlebih dahulu lingkungan rumah sekitarnya. Menghindari
dengan air panas; melakukan pengobatan kontak sementar dengan orang lain yang
23 15,24
kepada anggota keluarga yang terkena skabies. terkena skabies.
Selain upaya pencegahan, dilakukan Adapun hasil intervensi yang telah
juga upaya pengobatan dengan memberikan dilakukan dievaluasi, pada tanggal 22 maret
farmakoterapi berupa salep 2-4 yang diberikan 2014, didapatkan keadaan umum pasien baik,

J Agromed Unila | Volume 1 Nomor 2 | September 2014 | 154


Rizqa Atina Mira Hamzah | Management of Scabies Patient with Secondary Infection

keluhan gatal berkurang dan lesi sudah 9. Ma’rufi I, Keman S, Notobroto HB. Faktor sanitasi
lingkungan yang berperan terhadap prevalensi penyakit
sebagaian sembuh. Kekhawatiran pasien
scabies : studi pada santri di pondok pesantren
berkurang tapi harapan belum tercapai kabupaten lamongan. Jurnal Kesehatan Lingkungan.
maksimal dengan masih ditemukan lesi. 2005; 2(1):11-8.
Untuk meningkatkan keteraturan 10. Fathy FM, El-Kasah F, El-Ahwal AM. Clinical and
parasitological study on scabies in Sirte, Libya. J Egyptian
pasien menggunakan obat salep, diberikan
Soc Parasitology. 2010; 40:707-31.
leaflet tentang pengobatan penyakit skabies. 11. Effendi, Evita H. Skabies. Jakarta: Departemen Ilmu
Pasien dan keluarga juga disarankan untuk Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM; 2010.
melakukan kontrol pengobatan ke puskesmas 12. Siregar RS. Atlas berwarna saripati penyakit kulit. Edisi
ke-2. Jakarta: EGC; 2005.
sehingga dapat dilihat dan dievaluasi kembali.
13. Mansyur M, Wibowo AR, Maria A, Munandar A, Bdillah
Selain itu pasien juga diminta untuk mengajak A, Ramadora AF. Pendekatan kedokteran keluarga pada
keluarga pasien lainnya yang belum sembuh. penatalaksanaan skabies anak usia pra sekolah. Jakarta:
Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FK UI; 2006.
14. Levi A, Mumcuoglu KY, Ingber A, Enk CD. Assessment of
Simpulan
Sarcoptes scabiei viability in vivo by reflectance confocal
Diagnosis skabies dan intervensi yang microscopy. Lasers in Med Scien. 2011; 26:291-2.
dilakukan pada kasus ini disesuaikan dengan 15. Listiawan, Yulianto. Hubungan antara kejadian skabies
telah beberapa literatur. Terdapat beberapa dengan tingkat higiene perorangan, sanitasi lingkungan
dan sarana pelayanan kesehatan pada santri smp kelas 1
faktor internal maupun eksternal yang memicu
pondok pesantren Tebuireng. Medan: USU; 2010.
terjadinya skabies yang ditemukan dan hal ini 16. Mansjoer, Arif. kapita selekta kedokteran. Jakarta:
telah dinyatakan oleh beberapa teori yang Media Aesculapius; 2001.
menjadi sumber acuan. Penatalaksanaan skabies 17. Goldust M, Rezaee E, Raghifar R. a double blind study of
the effectiveness of sertaconazole 2% cream vs.
terdiri dari edukasi mengenai penyebab
Metronidazole 1% gel in the treatment of seborrheic
penyakit, penularan, kebersihan lingkungan dan dermatitis. Ann Parasitol. 2013; 59(4):173-7.
diri sendiri serta cara pemakaian obat dan 18. Goldust M, Golforoushan F, Rezaee E. Treatment of
intervensi farmakologis semua anggota keluarga solar lentigines with trichloroacetic acid 40% vs.
cryotherapy. Euro J Derm. 2011; 21:426-7.
yang terkena. Tanpa adanya perubahan perilaku
19. Goldust M, Rezaee E, Masoudnia S, Raghifar R. Clinical
berupa pola hidup bersih dan sehat serta study of sertaconazole 2% cream vs. hydrocortisone 1%
mengobati seluruh anggota keluarga yang sakit, cream in the treatment of seborrheic dermatitis. Ann
skabies akan sulit dihentikan dan berulang. Parasitol. 2013; 59(3):119-23.
20. Goldust M, Babae NS, Rezaee E, Raghifar R. Comparison
of the efficacy of topical 1% lindane vs 5% permethrin in
Daftar Pustaka scabies: a randomized, double-blind study. Indian J
1. Goldust M, Rezaee E, Raghifar R, Hemayat S. Treatment Dermatol Venereol Leprol. 2006; 72(1):33-6.
of scabies: the topical ivermectin vs permethrin 2.5% 21. Bachewar NP, Thawani VR, Mali SN, Gharpur KJ,
cream. Ann Parasitol. 2013; 59(2):79-84 Shingade VP, Dakhale GN. Comparison of safety,
2. Goldust M, Rezaee E, Raghifar R. Comparison of oral efficacy, and cost effectiveness of benzyl benzoate,
ivermectin versus crotamiton 10% cream in the permethrin, and ivermectin in patients of scabies. Indian
treatment of scabies. J Toxi Cutaneous Ocular J Pharm. 2009; 41:9-14.
Toxicology. 2013; 2(2):112-7. 22. Rani A. MIMS Indonesia. Jakarta: CMP Medica Asia;
3. Schultz MW, Gomez M, Hansen RC, Mills J, Menter A, 2007.
Rodgers H, et al. Comparative of 5% permethrin cream 23. Strong M, Johnstone P. Interventions for treating
and 1% lindane lotion for treatment of scabies. Arch scabies (review). New York: JohnWiley & Sons; 2010.
Dermatol. 1990; 126(2):167-70. 24. Klaus W, Johnson R. Fitzpatrick’s color atlas & synopsis
4. Razi A, Golforoushan F, Bahrami A, Nejad SB, Goldust M. of clinical dermatology. Edisi ke-6; 2009.
Evaluating of dermal symptoms in hypothyroidism and
hyperthyroidism. Pakistan J Bio Scie. 2013; 16:541-4.
5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman
pengobatan dasar di puskesmas 2007. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2012.
6. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit
Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 1999.
7. Terada Y, Murayama N, Ikemura H, Morita T, Nagata M.
Sarcoptes scabiei var. canis refractory to ivermectin
treatment in two dogs. Veterinary Derm. 2010; 21:608-
12.
8. Hong MY, Lee CC, Chuang MC, Chao SC, Tsai MC, Chi CH.
Factors related to missed diagnosis of incidental scabies
infestations in patients admitted through the
emergency department to inpatient services. Academic
Emerg Med. 2010; 17:958-64.

J Agromed Unila | Volume 1 Nomor 2 | September 2014 | 155